Anda di halaman 1dari 56

KIMIA

Dra Harlia Msi


KIMIA F.MIPA UNTAN
2018
Termodinamika
 Termodinamika adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari transformasi dari pelbagai
bentuk energi, pembatasan-pembatasan dalam
transformasi ini serta penggunaannya
 Termodinamika didasarkan atas dua postulat
pokok yang dikenal sebagai hukum pertama
dan hukum kedua.
1. Hukum pertama menyangkut masalah pertukaran
energi,
2. Hukum kedua membahas arah dari pertukaran
tersebut
Defenisi

Termodinamika kimia merupakan cabang


kimia yang menangani hubungan kalor,
kerja dan bentuk lain dari energi dengan
reaksi kimia atau perubahan fisik dalam
batasan hukum-hukum termodinamika
A. KONSEP-KONSEP DASAR TERMODINAMIKA

1. Sistem dan Lingkungan


Sistem adalah sejumlah zat atau campuran zat-
zat yang dipelajari sifat-sifat dan perilakunya.
Segala sesuatu di luar sistem disebut
lingkungan.
Suatu sistem terpisah dari lingkungannya
dengan batas-batas tertentu yang dapat nyata
atau tidak nyata
• Antara sistem dan lingkungan dapat terjadi
pertukaran energi dan materi.
• Berdasarkan pertukaran ini dapat dibedakan tiga
jenis sistem, yaitu sistem tersekat, sistem tertutup,
dan sistem terbuka.
2. Keadaan sistem dan Fungsi keadaan
Keadaan sistem ditentukan oleh sejumlah
parameter atau variabel, misalnya suhu, tekanan,
volume, massa dan konsentrasi.
Variabel sistem dapat bersifat
– intensif, artinya tidak bergantung pada ukuran sistem
(tekanan, suhu, massa jenis, dan sebagai-nya), atau
– ekstensif yang berarti bergantung pada ukuran sistem
(massa, volume, energi, entropi, dan sebagainya).
Fungsi keadaan adalah setiap besaran atau variabel
yang hanya bergantung pada keadaan sistem dan
tidak bergantung pada bagaimana keadaan sistem itu
tercapai, misalnya suhu, tekanan, volume, energi
dalam, entropi, dan lain-lain.
Beberapa proses yang dapat terjadi pada sistem
sesuai dengan keadaan adalah proses isotermal,
proses isokhorik, isobarik dan proses adiabatik.
3. Proses pada sistem
• Proses isotermal yaitu proses yang berlangsung
pada suhu tetap, semua kalor yang diberikan
kepada sistem diubah menjadi kerja.

• Proses isobarik yaitu proses yang berlangsung


pada tekanan tetap, semua kalor yang diberikan
kepada sistem diubah menjadi kerja.
• Proses isovolum atau isokhorik yaitu proses yang
tidak mengalami perubahan volume, semua kalor
yang masuk sistem disimpan sebagai energi dalam.
• Proses adiabatik yaitu proses yang tidak menyerap
atau melepaskan kalor, dan semua energi digunakan
untuk menghasilkan kerja
 Yang menjadi kajian utama termodinamika
adalah sistem setimbang.
 Suatu sistem disebut ada dalam keadaan
setimbang bila harga semua variabel
termodinamikanya tidak berubah dengan waktu,
dan didalam sistem tak ada aliran-aliran energi
maupun zat.
1. Proses Isobarik ( tekanan tetap )

A. Usaha yang dilakukan oleh sistem terhadap


lingkungan (V2 > V1).
W = p ( V2 – V1)

W positif ( + ) 1 2

V1 V2 V
2. Proses Isokhorik (volum tetap )
W=0 Karena V2 = V1
o Perhatikan gambar p
p2

p1

V1 = V 2 V
3. Proses Isotermal ( suhu tetap )
Dari persamaan : pV = nRT
diperoleh :
nRT
p
V
Sehingga usaha yang dilakukan sistem
(gas) dirumuskan :
V2 V2
nRT
W   pdV
V1
W
V1
V
dV

V2

 nRT ln V V12


dV
W  nRT 
V

V1
V

W  nRT ln V2  ln V1 

 V2 
W  nRT ln  
 V1 
• Perhatikan gambar :
p

V1 V2 V
Contoh soal 4

 Suhu tiga mol suatu gas ideal 373 K. Berapa


besar usaha yang dilakukan gas dalam
pemuaian secara isotermal untuk mencapai
empat kali volum awalnya ?
Penyelesaian
 Diket : n = 3 mol , T = 373 K , V2 = 4V1
R = 8,31 J/mol
 Ditanya : W

 V2   4V1 
 Jawab : W  nRT ln    3x8,31x373 ln  
 V1   V1 
W  3x8,31x373x ln 4

W  12890,999 J
4. Proses Adiabatis
adalah : suatu proses keadaan gas di mana tidak ada
kalor yang masuk ke dalam atau keluar dari sistem ( Q
=0)
Perhatikan gambar
Silinder logam

Bahan pengisolasi
Grafik p – V pada proses Adibatik

p2

kurva adiabatik

T1

p1 T2
V1 V2
Contoh proses adiabatis:
 Pemuaian gas dalam mesin diesel
 Pemuaian gas dalam sistem pendingin
 Langkah kompresi dalam mesin pendingin
Usaha dalam proses adiabatik secara matematis
di rumuskan :

p1V1  p2V2 atauT1V1 1  T2V2 1


Cp
dengan 
Cv
Contoh soal 5
• Suatu gas ideal monoatomik  = 5/3 dimampatkan secara
adiabatik dan volumnya berkurang dengan faktor pengali
dua. Tentukan faktor pengali bertambahnya tekanan.
Diket  = 5/3 , V1 = 2V2 atau V2 = (1/2)V1
Ditanya : p2

Jawab : p1v1 γ = p2 v2 γ
γ 5/3
V1 2V2
p2 = p1 —— = p1 ——
V2 V2

p2 = p1 (2) 1,67 = 3,18 p 1


Hukum Termodinamika
 Hukum ke Nol termodinamika
– Jika ada lebih dari dua sistem yang saling setimbang,
tentu ada keterkaitan antara harga variabel sistem-sistem
yang terlibat. Bagi sistem-sistem semacam itu, disebut
dalam kesetimbangan termal satu dengan yang lain,
berlaku suatu hukum yang kemudian dikenal sebagai
Hukum ku Nol Termodinamika, yang menyatakan :
“Jika ada dua sistem, masing masing setimbang dengan
suatu sistem ketiga, maka kedua sistem harus setimbang
satu dengan yang lain”.

A⇌B
B⇌ C A⇌C
A. Hukum Pertama Termodinamika
o Hukum ini merupakan pernyataan ulang dari hukum
kekekalan energi, yang menyatakan bahwa :
o “ energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain
namun energi tidak dapat diciptakan ataupun
dimusnahkan”.
o Hukum pertama termodinamika menyatakan
hubungan antara kalor (q), kerja (w) dan perubahan
energi dalam (∆U), yang menerangkan bahwa energi
sistem tersekat adalah tetap.
o Hukum pertama termodinamika dapat dinyatakan
dengan persamaan berikut:
q = ∆U – W
q, ∆U, dan W dalam satuan joule atau kalori
Contoh soal 6
Suatu sistem menyerap 1500 J kalor dari
lingkungannya dan melakukan 2200 J usaha pada
lingkungannya. Tentukan perubahan energi dalam
sistem. Naik atau turunkah suhu sistem?
Diket : Q = 1500 J , W = 2200 J
Ditanya : U

Jawab : U = Q – W
= 1500 – 2200
= - 700 J
Karena energi dalam sistem bernilai negatif maka suhu
sistem menurun (T2  T1)
Hukum pertama termodinamika menunjukkan
bahwa energi dalam tidak dapat diukur tapi dapat
diukur dari nilai kalor dan kerja. Kalor dapat diukur
dengan percobaan dan kerja. Kerja dihitung melalui
volume dan tekanan yang melawan perubahan itu.

Kalor dan Kerja

Kalor dan kerja adalah dua konsep penting dalam


termodinamika. Oleh karena itu pengertian tentang
kedua konsep ini harus dipahami dengan baik.
a. Kalor, q,
didefinisikan sebagai energi yang dipindahkan melalui
batas-batas sistem sebagai akibat langsung dari
perbedaan temperatur antara sistem dan
lingkungannya.
 energi yang berpindah dari sistem ke lingkungan atau
sebaliknya karena perbedaan suhu, yaitu dari suhu
tinggi ke suhu yang lebih rendah. Perpindahan kalor
akan berlangsung hingga suhu di antara keduanya
menjadi sama.
 Jumlah kalor dinyatakan dalam satuan kalori (kal)
atau Joule (J).
1 kal = 4,184 J
 Sistem menerima kalor, q positif (+)
 Sistem membebaskan kalor, q negatif (-)
 Kalor (q) bukan merupakan fungsi keadaan karena
besarnya tergantung pada proses.
b. Kerja, w, adalah energi yang bukan kalor, yang
dipertukarkan antara sistem dan lingkungannya
dalam suatu perubahan keadaan.
Perpindahan energi antara sistem dengan lingkungan,
diluar bentuk kalor disebut kerja. Satuan kerja adalah
liter-atm, sehingga 1 L atm = 101,32 J
– Menurut perjanjian, w dihitung positip, bila
lingkungan melakukan kerja terhadap sistem
(misalnya pada proses pemampatan gas), dan
negatip bila sistem melakukan kerja terhadap
lingkungan (misalnya bila gas memuai terhadap
tekanan atmosfir).
• Kerja memiliki berbagai bentuk seperti :
– kerja ekspansi,
– kerja listrik,
– kerja mekanik,
– kerja permukaan, dan sebagainya
• Salah satu bentuk kerja yang penting adalah kerja
yang berhubungan dengan perubahan volume sistem
yang disebut kerja ekspansi
x
Bila Penghisap bergerak
sepanjang jarak dx terhadap
tekanan luar p, maka kerja yang
dilakukan oleh gas adalah :
Kerja = gaya x jarak

δw = – p A dx 1
Gambar 1. Proses ekspansi gas dalam
sebuah silinder
dimana A dx merupakan perubahan volume dV, sehingga :
δw = – p dV 2

Tanda minus dalam persamaan (1) adalah sesuai dengan


perjanjian bahwa kerja yang dilakukan oleh gas dihitung negatip.
Kerja yang dilakukan oleh gas bila volume berubah dan V1 ke
V2 dapat mengintegrasikan persamaan (2), sehingga diperoleh
persamaan berikut ini
δw = – P ∆V 3
Untuk perubahan yang berlangsung secara reversibel, akan berlaku:
V2
Wrev = – ∫ P dV 4
V1
• Dengan p adalah tekanan gas. Harga integral ini dapat
dihitung bila persamaan keadaan dari gas yang
bersangkutan diketahui. Misalnya untuk gas ideal
pada temperatur tetap,
V2
• wrev = – ∫ P dV
V1
• PV = nRT

wrev = – nRT ln (V2/V1) 6


B. Perumusan Hukum Pertama Termodinamika
• Keseluruhan energi potensial dan energi kinetik zat-zat
yang terdapat dalam suatu sistem, disebut energi
dalam, U.
• Energi dalam merupakan fungsi keadaan karena
besarnya hanya bergantung pada keadaan sistem.
• Bila dalam suatu perubahan sistem menyerap sejumlah
(kecil) kalor, δq, dan melakukan kerja (kecil), δw,
maka sistem akan mengalami perubahan energi dalam,
dU, sebesar
dU = δq + δw 7
• untuk perubahan yang besar pada suatu sistem dari
keadaan 1 (energi dalam U1) ke keadaan 2 (energi
dalam U2), maka akan terjadi perubahan energi
dalam (∆U), sebesar
8
∆U = U2 – U1 …………..
sehingga diperoleh
U2 – U1 = q + w ……… 9
∆U = q + w …….. 10
• Persamaan (10) merupakan bentuk matematik dari
hukum pertama termodinamika
• Menurut ungkapan ini, energi suatu sistem dapat
berubah melalui kalor dan kerja.
• Bila kerja yang dilakukan oleh sistem hanya terbatas
pada kerja ekspansi (misalnya pada kebanyakan
reaksi kimia), maka persamaan (10) dapat diubah
menjadi
dU = δq – p dV ..……… 11
pada volume tetap, dV = 0, maka
dU = δq .…….. 12
atau untuk perubahan besar,
∆U = q ……… 13
• Menurut persamaan (13)
– perubahan energi dalam adalah kalor yang diserap
oleh sistem bila proses berlangsung pada volume
tetap.
1. Fungsi Entalpi dan Perubahan Entalpi

• Kebanyakan reaksi-reaksi kimia dilakukan pada tekanan tetap


yang sama dengan tekanan atmosfir.
• Dalam hal ini, bila pada persamaan (11) dU = δq – p dV
diintegrasikan (dimana p ialah tekanan sistem) akan diperoleh
U2 – U1 = q – p(V2 – V1) ……… 14
dan karena p1 = p2 = p,
(U2 + p2V2) – (U1 + p1V1) = q …… 15
oleh karena U, p dan V adalah fungsi keadaan, maka (U + pV)
juga merupakan fungsi keadaan. Fungsi ini disebut entalpi, H,
H=U+pV .
• Jadi, menurut persamaan (15),
H2 – H 1 = q
∆H = q …… 16
Kapasitas kalor suatu sistem didefinisikan sebagai jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan temperatur sistem sebanyak s
δq
C = ─ ………………………………………………………………………………….(17)
dT

• Berdasarkan hasil ini dapat dikatakan bahwa, kalor yang


dipertukarkan antara sistem dan lingkungan pada tekanan
tetap besarnya sama dengan perubahan entalpi sistem.
• Mengingat entalpi, H merupakan fungsi keadaan, maka
perubahan entalpi, ∆H, hanya bergantung pada keadaan
awal dan keadaan akhir sistem.
• Pada reaksi-reaksi kimia, ∆H adalah kalor reaksi pada
tekanan tetap
Kapasitas Kalor
• Kapasitas kalor suatu sistem didefinisikan sebagai jumlah
kalor yang diperlukan untuk menaikkan temperatur
sistem sebanyak satu derajat.
• Secara matematik diungkapkan,
dq
C = —— 17
dT
Karena δq hanya bergantung pada jalannya perubahan,
maka sistem mempunyai banyak harga-harga untuk
kapasitas kalor.
Dua diantaranya yang paling penting, yaitu kapasitas
kalor pada volume tetap (Cv) dan pada tekanan tetap
(Cp).
• Kapasitas kalor adalah banyaknya energi kalor
yang dibutuhkan untuk mengikatkan suhu zat 1oC.
kapasitas kalor tentu saja tergantung pada jumlah
zat.
• Kapasitas kalor spesifik dapat disederhanakan,
kalor jenis adalah banyaknya energi kalor yang
dibutuhkan untuk meningkatkan suhu 1 gram zat
sebesar 1oC.
• Kalor jenis molar adalah banyaknya energi kalor
yang dibutuhkan untuk meningkatkan suhu 1 mol
zat sebesar 1oC.
Apabila kerja yang dapat dilakukan oleh sistem terbatas pada
kerja ekspansi, maka δq = dU + pdV,
sehingga persamaan (17) dapat diubah menjadi,
dU + p dV
C= ——— ……… 18
dT
C.dT = dU + p dV
Pada volume tetap, C = Cv dan dV = 0, maka,
CV.dT = dU …… 19

Kapasitas kalor pada tekanan tetap dapat diturunkan sebagai


berikut
dq p dU + p dV
Cp = —— = ———— dq p dH
dT dT Cp = —— = —— 20
dT dT p
Pada p tetap, dH = dU + pdV
Jadi, kapasitas kalor pada tekanan tetap adalah
sama dengan penambahan entalpi sistem
perderajat kenaikan temperatur pada tekanan
tetap.
• Pada p tetap,
dH = dU + pdV
dan ﴾ ∂H/∂T ﴿p = ﴾ ∂U/∂T ﴿p + p ﴾ ∂V/∂T ﴿p , sehingga
 Cp dT = dU + p dV
 Cp dT = Cv dT + p dV
• Pada umumnya kapasitas kalor merupakan fungsi dan
temperatur, fungsi ini biasanya dinyatakan secara
empiris sebagai
Cp = a + bT + cT2 ………… 21
dengan a, b, c adalah tetapan.
C. Aplikasi Hukum Pertama Pada Reaksi Kimia
(TERMOKIMIA)

• Termokimia mempelajari efek panas yang terjadi baik


dalam perubahan secara kimia (reaksi kimia) maupun secera
fisika (proses penguapan, peleburan, dsb.).
• Efek panas dapat bersifat eksoterm, yaitu bila terjadi
pelepasan kalor, dan endoterm, bila proses disertai dengan
penyerapan kalor.
• Jum!ah kalor yang bersangkutan dalam suatu reaksi
bergantung pada jenis dan jumlah zat-zat yang béreaksi,
pada keadaan fisik zat-zat pereaksi dan hasil reaksi, pada
temperatur dan pada tekanan (terutama pada reaksi gas).
• Oleh karena itu kalor reaksi dari suatu reaksi hendaknya
dinyatakan bersama-sama dengan persamaan reaksinya,
dimana kondisi-kondisi reaksi tertera dengan jelas.
1. KALOR REAKSI pada Volume Tetap dan pada Tekanan Tetap

• Dalam termokimia ada dua kondisi khusus yang penting,


yaitu volume tetap dan tekanan tetap,
• oleh karena pada kedua kondisi ini kalor reaksi dapat
dikaitkan dengan fungsi-fungsi termodinamika tertentu.
• Bila reaksi dikerjakan pada volume tetap (misalnya dalam
kalorimeter bom), maka kalor reaksinya sama dengan
perubahan energi dalam sistem, qp = ∆U, qv = ∆H.
Hubungan antara kedua besaran ini dapat diturunkan
sebagai berikut
H= U+pV
dH =dU + d(pV) atau ∆H = ∆U + ∆(pV) ……..22
• Bila semua zat-zat pereaksi dan hasil reaksi sebagai
cairan atau padatan , maka harga ∆(pV) sangat kecil
(kecuali bila tekanan sangat tinggi) dibandingkan
terhadap ∆H atau ∆U sehingga dapat diabaikan, dalam hal
ini ∆H ≈ ∆U.
• Dalam reaksi yang menyangkut gas, harga ∆(pV)
bergantung pada perubahan jumlah mol gas yang terjadi
dalam reaksi.
• Dengan pengandaian gas bersifat ideal, ∆(pV) = ∆n(RT),
sehingga persamaan (22) menjadi;
∆H = ∆U + ∆n(RT) (T tetap) 23
• dimana ∆n = jumlah mol gas hasil reaksi –jumlah mol gas
pereaksi.
• Persamaan ini berlaku apabila sistem hanya dapat
melakukan kerja volume.
2. Penentuan KALOR REAKSI Secara Eksperimen ( Kalorimetri)
• Hanya reaksi-reaksi berkesudahan yang berlangsung dengan cepat
dapat ditentukan kalor reaksinya secara eksperimen, seperti reaksi
pembakaran, reaksi penetralan dan reaksi pelarutan.
• Penentuan ini biasanya menyangkut pengukuran perubahan suhu
dari larutan atau dari air dalam kalorimeter.

3. Perhitungan KLOR REAKSI


Reaksi kimia kebanyakan dikerjakan pada tekanan tetap, sehingga
pada perhitungan ini hanya diperhatikan entalpi reaksi,
∆H.Perhitungan kalor reaksi ini dapat dilaksanakan dengan cara;
1) Perhitungan dengan menggunakan Hukum Hess.
2) Perhitungan dan data Entalpi Pembentukan Standar.
3) Perkiraan Entalpi Reaksi dan data Energi Ikatan.
4. KEBERGANTUNGAN ENTLPI REAKSI PADA
TEMPERATUR

• Pada umumnya entapi reaksi merupakan fungsi dari


temperatur dan tekanan.
• Karena pengaruh tekanan cukup rumit, maka disini
hanya akan diturunkan pengaruh temperatur pada
∆H.
Perhatikan reaksi,
v1 A1 + v2 A2 → v3 A3 + v4 A4
Perubahan entalpi reaksi diberikan oleh,
∆H = Hhasil reaksi — Hpereaksi

∆H = ∑ vi Hi 24
• Perubahan ∆H dengan temperatur diperoleh dengan cara
mendeferensialkan persamaan (24) terhadap temperatur
pada tekanan tetap,
[∂(∆H)/∂T ]p = ∆Cp 25
Persamaan ini dikenal sebagai persamaan Kirchhoff.
Persamaan (25) dapat diintegrasi apabila Cp, sebagai
fungsi temperatur diketahui.
Kalau Cp, dapat dianggap tetap antara T1 dan T2,
misalnya kalau perbedaan antara kedua temperatur ini
tidak besar, maka integrasi dan persamaan (25)
menghasilkan,

∆H2 – ∆H1 = ∆H (T2 – T1) 26


• Kalau Cp dianggap tidak tetap, maka

∆H2 – ∆H1 = ∆Cp dT 27

• untuk dapat memudahkan perhitungan ∆H pada pelbagai


temperatur, pada tekanan tetap, sebaiknya terlebih dahulu
ditentukan ∆H = f(T).
• Hal ini dapat dilakukan dengan,

∆HT = ∫∆Cp dT + I 28

dengan I ialah tetapan integrasi.


• Jika perubahan temperatur sangat kecil, dT, maka perubahan entalpi
zat tersebut adalah Cp dT. Oleh karena itu, untuk perubahan
temperatur dari T1 ke T2, entalpi zat berubah dari H(T1) menjadi :
RANGKUMAN

• Termodinamika merupakan ilmu yang mengkaji


hubungan energi dari segala bentuk, bersifat mendasar
untuk semua ilmu.
• Daerah termodinamika kimia ialah hubungan energi jenis-
jenis tertentu dengan sistem kimia.
• Hukum pertama termodinamika adalah suatu pernyataan
hukum pelestarian energi.
• Energi total suatu sistem adalah energi dalamnya, suatu
fungsi keadaan.
• Suatu perubahan energi dalam, ∆U, dilaksanakan dengan
transfer kalor ataupun perlakuan kerja.
• Termokimia menangani pengukuran dan penafsiran
perubahan kalor yang menyertai proses kimia.
Kebanyakan pengukuran semacam itu dilakukan dengan
sebuah kalorimeter.
TERMOKIMIA
PENENTUAN KALOR
metode Kalorimetri
REAKSI
2 metode

Kalorimetri pembakaran 2

Unsur/senyawa Kalorimetri reaksi


+
O2 (pembakaran)

Penentuan kalor reaksi


Kalori apa saja selain reaksi
Energi meter Pembakaran .
Parameter Pengukuran Termokimia
Perubahan kalor reaksi selama proses berlangsung pada
tekanan konstan disebut perubahan entalpi ( ΔH )

1. Keadaan standar
Entalpi Standar
2. Hukum Hess
Energi Dissosiasi Ikatan 3. Entalpi pembentukan
standar
Entalpi Pengionan

Entalpi Afinitas Elektron

Entalpi Kristal Ion Siklus Born - Haber


PERSAMAAN TERMOKIMIA
Reaksi kimia yang disertai dengan perubahan panas

Contoh:
C(s) + O2 (g) → CO2 (g) 393,52 kJ dibebaskan (1)
N2(g) + 2O2 (g) → 2NO2 (g) 66,4 kJ diserap (2)
H2(g) + ½O2(g) → H2O (l) 285,83 kJ dibebaskan (3)

Persamaan di atas ditafsirkan sbb :

Untuk reaksi (1) menunjukkan bahwa bila 1 mol (12,0 g)


karbon padat bersenyawa dengan 1 mol ( 32,0 g )
oksigen untuk membentuk 1 mol (44,0 g) karbon
dioksida gas, dibebaskan kalor sebanyak 393,52 kJ ke
sekitarnya.
Persamaan di atas ditafsirkan sbb :
Untuk reaksi (2) menunjukan bahwa 1mol (28,0g)
nitrogen gas bereaksi dg 2mol (64,0 g) oksigen gas untuk
menghasilkan 2mol ( 92,0 g) nitrogen dioksida Dengan
menyerap 66,4 kJ dari sekitarnya

Catatan ;
•Reaksi yang membebaskan kalor adalah reaksi eksoterm
•Reaksi yang menyerap kalor adalah reaksi endoterm
•Perubahan kalor dalam reaksi disebut perubahan entalpi
•Entalpi berasal dari bahasa Yunani yaitu
enthalpein = menghangatkan
C(s) + O2 (g) → CO2(g) ∆H = - 393,52 kJ
N2(g) + 2O2 (g) → 2NO2(g) ∆H = + 66.4 kJ

H2(g) + ½O2(g) → H2O(l) ∆H = - 285,83 kJ

x2

2H2(g) + O2(g) → 2H2O(l) ∆H = - 571,66 kJ

∆H = ∑ H produk – ∑ H pereaksi
Entalpi standar
• Entalpi standar adalah entalpi pada keadaan
standar yaitu :
zat murni pada 1atm , untuk gas adalah gas ideal
pada tekanan parsial 1atm
• Lambang ∆Hro, merujuk pada ∆H suatu reaksi
dimana pereaksi dan produk pada keadaan
standar pada suatu temperatur yang ditetapkan
(umumnya pada 250C)
• Contoh : H2(g) + ½O2(g) → H2O(l)
• ∆Hro = - 285,83 kJ
HUKUM HESS
• Untuk suatu reaksi kesluruhan tertentu
perubahan entalpi selalu sama
• tak peduli apakah reaksi itu dilaksanakan
secara langsung ataupun
• secara tak langsung dan lewat tahap-tahap
yang berlainan.
Daur Born-Haber

- ∆H ea
X –(g) X(g)

M+(g)
M(g)
∆H ion
∆Ha,n
∆Hxtal
∆Ha.m

- ∆Hf
MX(s) M(s) + ½X2 (g,l or s)
SOAL-SOAL LATIHAN

Petunjuk: pilih salah satu jawaban yang benar

1. Bagi suatu sistem pada volume tetap, ∆U sama dengan


A. ∆H C. ∆H + w E. q+w
B. q D. P∆V
2. Jika gas ideal dimuaikan ke dalam ruang hampa, maka besaran
yang mempunyai nilai nol ialah
A. w C. ∆U E. ∆S
B. q D. ∆H
3. Jika suatu proses berlangsung dalam sistem tersekat, maka yang
tidak benar adalah
A. ∆U =0 C. w = 0 E. ∆H = 0
B. q = 0 D. ∆S = 0
4. Diketahui:
HCl (aq) + NaOH (aq) → NaCI (aq) + H20 (l), ∆H = – 56 kJ Jika 10 cm3
larutan HCl 0,25 M direaksikan dengan 20 cm3 larutan NaOH
0,15M, maka kalor yang dihasilkan ialah
A. 56 J C. 3x 56 J D. 2,5 x 5,6 J E. 0,5 x 56 J
B. 5,5x56J D. 2,5 x 5,6 J
5. Jika kalor penguapan air ialah, ∆Hv= + 10,73 kkal/mol dan kalor
pembekuan air ialah, ∆Hf = – 1,44 kkal/mol, maka kalor sublimasi
es, ∆Hs, dalam kkal/mol, adalah
A. ‒ 12,17 C. + 1,44 E. +12,17
B. ‒ 9,30 D. + 9,30
6. Sebanyak 2 x 1029 atom karbon bereaksi dengan hidrogen
menghasilkan etuna
2 C (s) + H2 (g) → C2H2 (g), ∆H = + 54 kJ. Kalor yang diserap
dalam reaksi ini ialah
A. 9 kJ C. 27 kJ E. 54 kJ
B. 10 kJ D. 36 kJ
7. Pembakaran satu mol dengan oksigen dalam kalorimeter bom
(volume tetap),
memberikan kalor sebanyak 393 kJ. Bagi reaksi ini
A. ∆H = – 393 kJ C. q = +393kJ E. U = + 393 kJ
B. ∆U = – 393 kJ D. H = + 393 kJ
8. Dalam suatu proses sistem menyerap kalor 5100 J dan
melakukan kerja 2800 J. Maka energi dalam sistem ialah
A. 5100J C. 7900 J E.‒2300J
B. 2300 J D.–7900J
9. Untuk menaikkan suhu satu mol gas ideal (C = 3 kal/K.mol) dan
25 °C hingga
125 °C pada volume tetap, diperlukan kalor sebanyak
A. 100 kal C. 300 kal E. 600 kal
B. 200 kal D. 450 kal
10. Suatu proses akan disertai dengan ∆U = 0, jika
A. Proses tersebut berlangsung isoterm
B. Pada proses tersebut kalor yang dilepaskan sama dengan kerja
yang dilakukan oleh sistem.
C. Proses tersebut berlangsung dalam sistem tersekat
D. Proses tersebut berlangsung adiabatik
E. Pada proses tersebut entalpi sistem tidak berubah
• Kunci Jawaban
1.B 2.A 3.E 4.D 5.E 6.A 7.B 8.B 9.C 10.C