Anda di halaman 1dari 18

RESPIRATORY DISTRESS

SYNDROME
JESICA ANGEL - 1710211128
DEFINISI
◦ Hyaline Membrane Disease: Penyakit pernafasan akut yang diakibatkan oleh defisiensi
surfaktan pada neonatus preterm, yaitu neonatus yang lahir pada umur kehamilan
kurang dari 37 minggu.
◦ Respiratory distress syndrome (RDS) of the newborn disebut juga Hyaline Membrane
Disease, karena pada penyakit ini sering ditemukan membran hialin yang melapisi
alveolus
◦ Defisiensi Surfaktan menyebabkan tegangan permukaan alveolus tinggi, sehingga
saat akhir ekspirasi paru akan mudah kolaps. Pada bayi prematur yang belum
diproduksi cukup surfaktan, mereka tidak bisa membuka paru-paru mereka
sepenuhnya untuk bernafas karena paru mengalami atelektasis
ETIOLOGI
◦ Idiopatik, kelainan yang terjadi dianggap karena faktor pertumbuhan atau karena
pematangan paru yang belum sempurna akibat defisiensi surfaktan.
EPIDEMIOLOGI
◦ - Salah satu penyebab terbanyak morbiditas dan mortalitas pada neonatus premature
- Bayi yg lahir sebelum usia kehamilan 28 minggu memiliki peluang 60 % terkena RDS -
Laki-Laki : Perempuan => 2 : 1
FAKTOR RESIKO
- Ras Kaukasia
- Jenis Kelamin => banyak pada laki-laki
- Riwayat Saudara sekandung mengalami RDS – Lahir secara casesar
- Perinatal Asfiksia => keadaan di mana tubuh atau bagian tubuh kekurangan oksigen
yang terjadi pada bayi yang baru lahir
- Bayi dengan PDA (Patent Ductus Arteriosus)
- Ibu mengalami diabetes atau hypothiroidism
- Stress dingin => kondisi yg dapat menekan produksi surfaktan
- Genetik => mutase pada gen yang mengkode protein surfaktan
MANIFESTASI KLINIS
- Biasanya muncul beberapa menit sesudah lahir, namun baru diketahui beberapa jam
menetap atau bertambah parah selama 48-96 jam pertama
- pernafasan menjadi cepat dan dangkal (>60x/menit)
- Takipneu
- Retraksi intercostal, subcostal, dan pernafasan cuping hidung
- Sianosis meningkat diudara ruangan
- Grunting (napas merintih) => mendengkur atau merintih saat bayi ekspirasi yang
menunjukkan bahwa glotis telah menutup aliran udara dari paru, biasanya untuk
mencegah kolaps paru
- Hipotensi, hipotermia, sianosis meningkat, lemah, pucat, gruting berkurang => jika tidak
terapi dengan baik dan RDS memburuk
- Apneu dan pernafsan irregular => muncul saat bayi Lelah dan perlu intervensi segera
- Suara nafas normal atau hilang dengan kualitas tubular yang kasar
- inspirasi dalam dapat terdengar ronkhi basah halus,terutama pada basis paru posterior
DIAGNOSIS
Anamnesis
◦ Pada anamnesis harus diatanyakan gejala dan faktor risikonya meliputi: usia kehamilan
yang preterm, ibu diabetes mellitus, seksio cesar, partus presipitatus setelah
perdarahan antepartum, asfiksia pada masa perinatal dan adanya riwayat
sebelumnya ibu yang melahirkan bayi dengan RDS
Pemeriksaan Fisik
◦ Gejala biasanya dijumpai dalam 24 jam pertama kehidupan dan dapat menetap
atau menjadi progresif dalam 48-96 jam.
◦ Sianosis pada udara kamar, napas cuping hidung, takipnea, merintih dan retraksi
dinding dada.
◦ Derajat beratnya distress nafas dapat dinilai dengan menggunakan skor Silverman-
Anderson dan skor Downes. Skor Silverman-Anderson lebih sesuai digunakan untuk bayi
prematur yang menderita.
DIAGNOSIS
Pemeriksaan penunjang
AGD (Analisis gas darah)
PaO2 menurun, PaCO2 meningkat
 ditemukan hipoksemia, dan pada keadaan lanjut ditemukan hipoksemia progresif,
hipercapnea dan asidosis metabolik yang bervariasi
Radiologi (foto toraks posisi AP dan lateral secara serial)
Gambaran yang khas berupa pola retikulogranular yang seragam, yang disebut
dengan ground glass appearance, disertai dengan air bronchogram.
Hypoaerasi
DIAGNOSIS
Tes kematangan Paru
A. Tes Biokimia => Amniosentesis
◦ Mengukur konsentrasi lesitin dibanding sphingomyelin dari cairan amnion
◦ Jumlah fosfolipid dalam cairan amnion dapat menilai produksi surfaktan, sebagai tolok
ukur kematangan paru
◦ L/S untuk kehamilan normal saat gestasi 20 minggu adalah < 0.5 dan meningkat
secara bertahap, pada usia gestasi 35 minggu Rasio L/S = 2
◦ Hasil:
L:S = 2:1 paru sudah matur, hanya 2% bayi dalam kondisi ini yang akan menderita RDS
L:S = 1,5-1,9 : 1→ 50% bayi akan menderita RDS
L:S = <1,5 : 1→ 73% bayi akan menderita RDS
DIAGNOSIS
B. Tes Biofisika => Shaketest
◦ Dengan mengocok aspirat lambung, jika tak ada gelembung, risiko tinggi untuk terjadinya RDS
(60 %)
◦ Cara Shake test: Aspirat lambung diambil melalui nasogastrik tube pada neonatus sebanyak
0,5 ml. Lalu tambahkan 1 ml alkohol 95% dan 0,5 ml NaCl 0,9%, dicampur di dalam tabung 4 ml,
kemudian dikocok selama 15 detik dan didiamkan selama 15 menit.
◦ Cara membaca hasil:
Positif gelembung >2/3→paru janin sudah matur
Intermediate gelembung 1/3 – 2/3
Negative gelembung <2/3→resiko terjadi RDS 20 %
Tidak ada gelembung, resiko terjadi RDS 60 %→Neonatus imatur
DIAGNOSIS
Echocardiografi
Untuk mengetahui apakah RDS disertai PDA (Patent Ductus Arteriosus) dan menentukan
arah dan derajat pirau yang menyertai.
Histopatologi
◦ Dilatasi pada bronkus teminalis dan bronkus respiratorius dan duktus alveolus dilapisi membran
hyalin. Membran terdiri dari sel-sel lapisan alveolar nekrotik, konstituen cairan amnion dan fibrin.
◦ Atelektasis yang luas yang disertai dengan pelebaran pembuluh kapiler dan getah bening
antar alveolar.
TATA LAKSANA
Memberikan lingkungan yang optimal. Suhu tubuh bayi harus selalu diusahakan agar tetap
dalam batas normal (36,5 – 37C) dengan meletakkan bayi di dalam inkubator. Humiditas
ruangan juga harus adekuat (70 – 80%).
 Terapi O2: Nasal kanul atau head box, dengan kelembaban dan konsentrasi yang cukup untuk
mempertahankan tekanan O2 arteri antara 50 – 70 mmHg (distres pernafasan ringan).
 CPAP (Countinous Positive Airway Pressure)
CPAP yaitu alat/metode untuk mempertahankan tekanan positif saluran pernafasan untuk
mencegah kolaps paru pada akhir ekspirasi selama pernapasan spontan dan pada bayi prematur.
Indikasi: PaO2 tidak dapat dipertahankan diatas 50 mmHg pada konsentrasi oksigen inspirasi 60%
atau lebih.
 Ventilator Mekanik
Untuk bayi dengan RDS berat atau komplikasiyang menimbulkan apneu persisten. Indikasi rasional
untuk penggunaan ventilator adalah:
• pH darah arteri <7,2
• pCO2 darah arteri 60mmHg atau lebih
• pO2 darah arteri 50mmHg atau kurang pada konsentrasi oksigen 70 – 100% dan tekanan CPAP 6 – 10
cm H2O
• Apneu persisten
TATA LAKSANA
Terapi Cairan Dan Nutrisi
Pada 36-48 jam pertama diberikan glukosa 10% dengan kecepatan 65-100 ml/kgBB/24
jam. Selanjutnya harus ditambahkan elektrolit dan volume cairan ditingkatkan secara
berangsur sampai 120-150 ml/KgBB/24 jam. Diberikan secara parenteral.
Antibiotik
Fungsinya untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. Dimulai dengan spektrum luas,
biasanya dimulai dengan ampisilin 50mg/kgBB IV setiap 12 jam dan
gentamisin3mg/kgBB untuk bayi dengan berat lahir < 2 kg.
Surfaktan Eksogen
Bayi yang lahir kurang dari 32 minggu kehamilan harus diberi surfaktan saat lahir bila ia
memerlukan intubasi. Terapi biasa dimulai 24 jam pertama kehidupan, melalui ETT tiap
12 jam untuk total 4 dosis. Surfaktan sintetik tidak mengandung protein.
PENCEGAHAN
◦ Tindakan preventif: mencegah terjadinya prematuritas, menghindari tindakan seksio
sesar yang tidak diindikasikan.
◦ Korticosteroid diberikan secara IM pada wanita hamil yang kadar lecithin pada cairan
amnionnya menunjukan imaturitas paru-paru (perbandingan Lechitin : sphingomyelin =
<1.5), dan bagi yang direncanakan akan melahirkan 1 minggu kemudian.
◦ Kortikosteroid yang bisa digunakan adalah Injeksi betametason intramuskular 12 mg 1x
sehari selama 2 hari atau injeksi deksametason intramuskular sehari 2 kali selama dua
hari.
◦ Pemberian kortikosteroid antenatal menurunkan kematian bayi sebesar 30%,
menurunkan kejadian RDS sebesar 50%.
KOMPLIKASI
◦ Bronchopulmonary dysplasia (BPD): perkembangan abnormal dari paru-paru pada
bayi prematur akibat toksisitas terapi oksigen dengan konsentrasi tinggi dan
pemakaian ventilator dalam jangka panjang.
◦ Retinopathy of Prematurity (ROP): kelainan pada mata akibat immature pembuluh
darah mata dan biasanya terjadi pada bayi-bayi premature.
◦ Necrotizing Enterocolitis (NEC): infeksi bakteri pada dinding usus dan pembengkakan
pada GI Tract yang terjadi pada neonatus prematur.
PROGNOSIS
◦ RDS bersifat self-limiting (gejala membaik 60-72 jam) jadi tujuan terapi adalah untuk
meminimalkan kelainan fisiologis. Penanganan sebaiknya dilakukan di NICU. Prognosis
dari bayi yang menderita RDS sangat tergantung pada berat badan lahir bayi seperti
terlihat pada tabel: