Anda di halaman 1dari 39

• Reaksi alergi multisystem berat yang timbul mendadak

setelah kontak dengan allergen

• Sensitisasi → klasik

• Tanpa sensisitasi → anafilaktoid


• Lifetime prevalence (Global) → 1-2%

• Insidensi (AS) → 58,9/100000


Idiopatik Makanan

Obat
Serangga
Sekresi mukus 
Tonus otot polos bronkus 
Edema

Respiratory distress

Tonus vaskular 
Capillary leakage

Shock
Beberapa menit setelah
paparan sistemik
• Diagnosis anafilaksis ditegakkan secara klinis:

Penggunaan obat Gigitan binatang

Makanan Transfusi

• Pada reaksi sitemik ringan dan sedang diagnosis bandingnya


adalah urtikaria dan angioedema.
• Pada pasien dengan reaksi anafilaksis biasanya dijumpai

keluhan 2 organ atau lebih setelah terpapar dengan alergen


tertentu.

• Terdapat 3 kriteria gejala berdasarkan American Academy

of Allergy, Asthma and Immunology


 Kriteria pertama: onset akut penyakit
(menit-jam)
 kulit, jaringan mukosa atau kedua-duanya
(bintik-bintik kemerahan pada seluruh tubuh,
pruritus, kemerahan, pembengkakan bibir,
lidah, uvula)
 respiratory compromise (dyspnea,
bronkospasme, stridor, wheezing, penurunan
PEF, hipoksemia)
 penurunan TD
 gejala yang berkaitan dengan disfungsi
organ sasaran (hipotonia,
sinkop, inkontinensia)
 Kriteria kedua: >2 gejala yang terjadi secara
mendadak setelah terpapar alergen yang
spesifik pada pasien (menit-jam)
 kulit, jaringan mukosa atau kedua-duanya
(bintik-bintik kemerahan pada seluruh tubuh,
pruritus, kemerahan, pembengkakkan bibir,
lidah, uvula)
 respiratory compromise (dyspnea,
bronkospasme, stridor, wheezing, penurunan
PEF, hipoksemia)
 penurunan TD
 gejala yang berkaitan dengan disfungsi organ
sasaran (hipotonia, sinkop, inkontinensia)
 Kriteria ketiga: terjadi penurunan TD
setelah terpapar pada alergen yang
diketahui beberapa menit hingga jam
(syok anafilaktik).
 Pada bayi dan anak-anak, tekanan darah
sistolik yang rendah (spesifik umur) atau
penurunan darah sistolik lebih dari 30%.
1. Onset tiba-tiba dan progresif cepat dari
gejala
 Pasien terlihat baik atau tidak baik
 Kebanyakan reaksi terjadi dalam beberapa
menit, jarang reaksi terjadi lebih lambat
dari onset
 Onset reaksi anfilaksis tergantung tipe
trigger. Trigger intravena akan lebih cepat
onsetnya daripada sengatan, dan cenderung
disebabkan lebih cepat onsetnya dari
trigger ingesti oral.
 Pasien biasanya cemas dan dapat
mengalami “sense of impending doom”
2. Life-threatening Airway and/or
Breathing and/or Circulation Problems

 Airway Problem :
 Pembengkakan jalan nafas, sulit bernafas
dan menelan dan merasa tenggorokan
tertutup.
 Suara parau
 Stridor, tingginya suara inspirasi (saluran
nafas atas obstruksi)
 Breathing Problems :
 Nafas pendek, frekuensi↑
 Wheezing
 Pasien menjadi lelah
 Kebingungan karena hipoksia
 Sianosis, biasanya pada late sign
 Henti napas

 Circulation Problems:
 Tanda syok, pucat, berkeringat.
 Takikardi
 Hipotensi, merasa ingin jatuh (dizziness), kolaps
 Penurunan tingkat kesadaran atau kehilangan kesadaran
 Anafilaksi dapat menyebabkan MI
 Cardiac arrest
3. Perubahan Kulit dan/atau Mukosa
 Dapat berlangsung halus atau secara dramatis.
 Mungkin hanya perubahan kulit, mukosa, atau
keduanya
 Mungkin eritema setengahnya atau general,
rash.
 Mungkin urtikaria muncul di mana saja pada
tubuh, berwarna pucat, merah muda, atau
merah dan mungkin menunjukkan seperti
sengatan.
 Angioedema mungkin seperti urtikaria tetapi
termasuk pada jaringan lebih dalam sering
pada kelopak mata dan bibir, kadang pada
mulut dan tenggorokan.
 Pemeriksaan laboratorium jarang diperlukan
untuk membantu menentukan diagnosis pada
reaksi anafilaktik.
 Hitung eosinofil darah tepi dapat normal atau
meningkat, demikian halnya dengan IgE total
sering kali menunjukkan nilai normal.
 IgE spesifik dengan
RAST (radioimmunosorbent test) atau ELISA
(Enzyme Linked Immunosorbent Assay test ),
namun memerlukan biaya yang mahal.
 Pasien tidak boleh mengkonsumsi antihistamin
minimal 3 hari untuk antihistamin generasi 1 dan
minimal 1 minggu untuk antihistamin generasi 2.
 Uji tusuk kulit dilakukan di volar lengan bawah
atau bagian punggung (jika didapatkan lesi kulit
luas di lengan bawah atau lengan terlalu kecil).
 Batasan usia terendah untuk uji tusuk kulit adalah
4 bulan.
 Bila uji kulit positif, kemungkinan alergi sebesar
< 50% (nilai duga positif < 50%), sedangkan bila
uji kulit negatif berarti alergi yang diperantarai
IgE dapat disingkirkan karena nilai duga negatif
sebesar > 95%.
 Uji IgE RAST positif mempunyai korelasi yang baik
dengan uji kulit, tidak didapatkan perbedaan
bermakna sensitivitas dan spesifitas antara uji tusuk
kulit dengan uji IgE RAST.
 Uji ini dilakukan apabila uji tusuk kulit tidak dapat
dilakukan antara lain karena adanya lesi adanya lesi
kulit yang luas di daerah pemeriksaan dan bila
penderita tidak bisa lepas minum obat antihistamin.
 Bila hasil pemeriksaan kadar serum IgE spesifik > 5
kIU/L pada anak usia ≤ 2 tahun atau > 15 kIU/L pada
anak usia > 2 tahun maka hasil ini mempunyai nilai
duga positif 53%, nilai duga negatif 95%, sensitivitas
57%, dan spesifisitas 94%.
 Double Blind Placebo Controlled Food Challenge
(DBPCFC) merupakan uji baku emas untuk
menegakkan diagnosis alergi makanan.
 Uji ini dilakukan berdasarkan riwayat alergi makanan,
dan hasil positif uji tusuk kulit atau uji RAST.
 Uji ini memerlukan waktu dan biaya. Jika gejala alergi
menghilang setelah dilakukan diet eliminasi selama
2-4 minggu, maka dilanjutkan dengan uji provokasi
yang dilakukan di bawah pengawasan dokter dan
dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas resusitasi
yang lengkap.
 Uji tusuk kulit dan uji RAST negatif akan mengurangi
reaksi akut berat pada saat uji provokasi.
 Gambaran klinis yang tidak spesifik dari anafilaksis
mengakibatkan reaksi tersebut sulit dibedakan dengan
penyakit lainnya yang memiliki gejala yang sama.
 Hal ini terjadi karena anafilaksis mempengaruhi seluruh
sistem organ pada tubuh manusia sebagai akibat
pelepasan berbagai macam mediator dari sel mast dan
basofil, dimana masing-masing mediator tersebut memiliki
afinitas yang berbeda pada setiap reseptor pada sistem
organ.
 Pada reaksi sitemik ringan dan sedang diagnosis
bandingnya adalah diagnosis banding urtikaria dan
angioedema, yaitu sengatan serangga multipel dan
angioedema herediter. Pada sengatan serangga, terlihat
titik ditengah bentol.
 Pada angioedema herediter, terdapat edema subkutan atau
submukosa periodik disertai rasa sakit dan terkadang
disertai edema laring, disertai keluhan sama pada
keluarga.
Reaksi vasovagal Carcinoid syndrome
MI akut Chinese restaurant syndrome
Reaksi hipoglikemik Asma bronkiale
Reaksi histeris Rhinitis alergika
 Mengidentifikasi dan menghentikan kontak dengan
alergen yang diduga menyebabkan reaksi anafilaksis
 Segera baringkan penderita pada alas yang keras

 Kaki diangkat lebih tinggi dari kepala


untuk meningkatkan aliran darah balik vena, dalam
usaha memperbaiki curah jantung dan menaikkan
tekanan darah.
 Penilaian ABC

 Apabila anafilaksis terjadi karena suntikan pada


ekstrimitas atau sengatan/gigitan hewan berbisa
maka dipasang turniket proksimal dari daerah
suntikan atau tempat gigitan tersebut. Setiap 10 menit
turniket ini dilonggarkan selama 1-2 menit.
 Adrenalin
 Onset cepat setelah pemberian IM.
 Pada pasien dalam keadaan syok, absorbsi IM > sc.
 Dosis dapat diulang beberapa kali setiap 5-15 menit, sampai TD dan
nadi menunjukkan perbaikan.
 Larutan adrenalin (epinefrin) 0,01 mg/kgBB, maksium 0,3 mg
diberikan IM atau sc pada lengan atas atau paha.
 Bila anafilaksis terjadi karena suntikan, berikan suntikan adrenalin
kedua 0,1-0,3 mL sc pada daerah suntikan untuk mengurangi
absorbsi antigen.
 Dosis adrenalin pertama dapat diulangi dengan jarak waktu 5 menit
bila diperlukan.
 Jika terdapat syok atau kolaps vaskuler atau tidak berespon dengan
medikasi IM, dapat diberikan adrenalin 0,01-0,05 mg/kgBB IV dengan
kecepatan lambat (1-2 menit) serta dapat diulang dalam 5-10 menit.
 Adrenalin IV hanya pada saat syok (mengancam nyawa) ataupun
selama anestesia.
 Pada saat pasien tampak sangat kesakitan serta kemampuan sirkulasi
dan absorbsi injeksi IM yang benar-benar diragukan, adrenalin
mungkin diberikan dalam injeksi IV lambat.
 Difenhidramin
 Menghambat proses vasodilatasi dan peningkatan
permeabilitas vaskular , tetapi BUKAN merupakan
pengganti adrenalin.
 Diberikan IV (kecepatan lambat 5-10 menit), IM,
atau oral (1-2 mg/kgBB) sampai 50 mg sebagai
dosis tunggal, tergantung beratnya reaksi.
 Obat ini dapat diteruskan secara oral setiap 6 jam
selama 24 jam untuk mencegah reaksi berulang,
terutama pada urtikaria dan angioedema.
 Jika penderita tidak berspon dengan tindakan
tersebut, maka perlu dilakukan perawatan intensif.
 Aminofilin
 Pada bronkospasme menetap, diberikan aminofilin
IV 4-7 mg/kgBB dalam cairan IV (dekstrosa 5%)
dengan jumlah paling sedikit sama.
 Diberikan IV lambat (15-20 menit).
 Tergantung dari tingkat bronkospasme, aminofilin
dapat diteruskan melalui infus dengan kecepatan
0,2-1,2 mg/kgBB atau 4-5 mg/kgBB IV selama 20-30
menit setiap 6 jam.
 Pilihan yang lain adalah bronkodilator aerosol
(terbutalin, salbutamol).
 Larutan salbutamol atau agonis β2 yang lain
sebanyak 0,25 cc-0,5 cc dalam 2-4 ml NaCl 0,99%
melalui nebulisasi.
 Vasopresor
 Bila cairan IV saja tidak dapat mengontrol tekanan
darah, berikan metaraminol bitartrat (Aramine)
0,01 mg/kgBB (max 5 mg) sebagai injeksi tunggal
secara lambat dengan monitor aritmia jantung, bila
terjadi aritmia jantung, pengobatan dihentikan
segera.
 Dosis ini dapat diulangi, untuk menjaga TD.
 Dapat juga diberikan vasopresor lain seperti
levaterenol bitartrat (Levophed) 1 mg (1 mL)
dalam 250 ml cairan IV dengan kecepatan 0,5
ml/menit atau dopamin (Intropine) yang diberikan
bersama infus, dengan kecepatan 0,3-1,2
mg/kgBB/jam.
 Kortikosteroid
 Kortikosteroid digunakan untuk menurunkan
respon keradangan, kortikosteroid tidak banyak
membantu pada tata laksana akut anafilaksis dan
hanya digunakan pada reaksi sedang hingga berat
untuk memperpendek episode anafilaksis atau
mencegah anafilaksis berulang.
 Kortikosteroid juga berguna untuk mencegah
gejala lama yang rekuren.
 Mula-mula diberikan Hidrokortison IV 7-10 mg
/KgBB, dilanjutkan dengan 5 mg/kgBB/6 jam, atau
Deksametason 2-6 mg/kgBB.
 Pengobatan dihentikan sesudah 2-3 hari.
Observasi
 Penderita syok anafilaktik sebaiknya TIDAK
dikirim ke rumah sakit, karena dapat meninggal
dalam perjalanan.
 Jika terpaksa dilakukan, maka penanganan
penderita di tempat kejadian harus seoptimal
mungkin sesuai dengan fasilitas yang tersedia dan
transportasi penderita harus dikawal oleh dokter.
 Posisi harus tetap dalam posisi telentang dengan
kaki lebih tinggi dari jantung.
 Jika syok sudah teratasi, penderita jangan cepat-
cepat dipulangkan, observasi selama 24 jam /2
jam sampai fungsi tubuh membaik.
Hal-hal yang perlu diobservasi:
• Keluhan
• Klinis (KU, kesadaran, TTV, UO)
• AGD
• EKG
• Komplikasi (edema laring, gagal nafas, syok dan cardiac arrest)
 Pencegahan merupakan langkah terpenting dalam
penetalaksanaan syok anafilaktik terutama yang
disebabkan oleh obat-obatan.
 Melakukan anamnesis riwayat alergi penderita
dengan cermat akan sangat membantu menentukan
etiologi dan faktor risiko anafilaksis.
 Individu yang mempunyai riwayat penyakit asma dan
orang yang mempunyai riwayat alergi terhadap
banyak obat, mempunyai resiko lebih tinggi
terhadap kemungkinan terjadinya syok anafilaktik.
 Melakukan skin test bila perlu juga penting, namun
perlu diperhatian bahwa tes kulit negatif pada
umumnya penderita dapat mentoleransi pemberian
obat-obat tersebut, tetapi tidak berarti pasti
penderita tidak akan mengalami reaksi anafilaksis.
 Orang dengan tes kulit negatif dan mempunyai
riwayat alergi positif mempunyai kemungkinan reaksi
sebesar 1-3% dibandingkan dengan kemungkinan
terjadinya reaksi 60%, bila tes kulit positif.
 Dalam pemberian obat juga harus berhati-hati,
encerkan obat bila pemberian dengan jalur subkutan,
intradermal, IM, ataupun IV dan observasi selama
pemberian.
 Pemberian obat harus benar-benar atas indikasi yang
kuat dan tepat.
 Hindari obat-obat yang sering menyebabkan syok
anafilaktik.
 Catat obat penderita pada status yang menyebabkan
alergi.
 Jelaskan kepada penderita supaya menghindari
makanan atau obat yang menyebabkan alergi.
 Hal yang paling utama adalah harus selalu tersedia
obat penawar untuk mengantisipasi reaksi anfilaksis
serta adanya alat-alat bantu resusitasi kegawatan.