Anda di halaman 1dari 26

GANGGUAN MUSKULOSKELETAL

AKIBAT KERJA

Tutor : dr. Merlita Herbani


Oleh : KELOMPOK 5
Latar Belakang
• Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
• Ergonomi merupakan salah satu bagian
kesehatan kerja, yang menitik beratkan
penyesuaian pekerjaan dengan kondisi
tubuh manusia agar tercipta kondisi yang
nyaman.
Rumusan Masalah
• Apa sajakah contoh gangguan muskuloskeletal yang sering terjadi akibat
kerja?
• Faktor apa saja yang dapat menyebabkan gangguan muskuloskletal?

• Bagaimana manifestasi klinis pada gangguan muskuloskeletal?

• Bagaimana patofisiologi gangguan muskuloskeletal?

• Bagaimana alur diagnosa gangguan muskuloskeletal?

• Apa saja komplikasi dari gangguan muskuloskletal?

• Bagaimana penanganan pada gangguan muskuloskeletal?

• Bagaimana prognosa kedepannya pada gangguan muskuloskeletal?


Tujuan
• Dapat mengetahui dan memahami contoh gangguan muskuloskeletal yang sering
terjadi akibat kerja
• Dapat mengetahui dan memahami faktor apa saja yang dapat menyebabkan
gangguan muskuloskletal
• Dapat mengetahui dan memahami manifestasi klinis pada gangguan muskuloskeletal
• Dapat mengetahui dan memahami patofisiologi gangguan muskuloskeletal
• Dapat mengetahui dan memahami alur diagnosa gangguan muskuloskeletal
• Dapat mengetahui dan memahami komplikasi dari gangguan muskuloskletal
• Dapat mengetahui dan memahami penanganan pada gangguan muskuloskeletal
• Dapat mengetahui dan memahami prognosa kedepannya pada gangguan
muskuloskeletal
Manfaat
• Mengetahui faktor resiko yang terjadi pada
para pekerja terutama gangguan
muskuloskeletal akibat pekerjaan, sehingga
mengetahui cara pencegahan sejak dini
ataupun pengobatannya agar tidak terjadi
hal yang fatal
• Meningkatkan kesadaran para pekerja akan
pentingnya K3
Keluhan sistem muskuloskeletal adalah keluhan
pada bagian-bagian otot rangka yang dirasakan
oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan
sampai sangat sakit
Gangguan muskuloskeletal yang
sering terjadi akibat kerja :
• LOW BACK PAIN
• CARPAL TURNEL
• TENDINITIS
Low Back Pain
Nyeri di daerah lumbosakral dan sakroiliaka.
Dapat berupa inflamasi, nyeri radikuler atau
keduanya.
Epidemiologi: Terjadi 60% pada orang dengan
kebiasaan menarik, mendorong dan
mengangkat beban berat.
Etiologi:
- Proses degeneratif, traumatik, inflamasi,
keganasan genetik.
NPB

Akibat Proses Proses Akibat Kelainan


Trauma Degeneratif Inflamasi Neoplasma Konggenital

Artritis
Lumbosakral • Spondilosis termasuk Terdapat
•Tumor
strain dan • HNP penyakit penambahan
benigna
pembebanan • Stenosis autoimun jumlah
• Tumor
berkepanjang Spinal yang segmen
maligna
an. Dan bisa menyerang lumbal
terjadi fraktur persendian menjadi 6
kompresi tulang akibat tulang yang
sinovitis. mulanya 5
Patofisiologi NPB
Reseptor Terjadi pengeluaran
nyeri: Di kornu dorsalis mediator inflamasi
- Kimia medula spinalis sehingga
- Mekanik memproses menimbulkan
- Termal sensorie persepsi nyeri.

Penekanan hanya terjadi


pada selaput pembungkus
saraf yang kaya nosiseptor Iritasi neuropatik
pada serabut Nyeri
dari nervinevorum yang
menimbulkan nyeri saraf
inflamasi
Mekanisme nyeri ini
Terjadi perubahan menyebabkan mencegah
biomolekuler di mana pergerakan sehingga
terjadi akumulasi saluran proses penyembuhan dapat
ion Na dan ion lain. terjadi
Tanda dan gejala NPB:
 Cara berjalan pincang, diseret, kaku

 Perilaku penderita konsisten dengan keluhan nyerinya

 Nyeri yang timbul hampir pada semua pergerakan daerah lumbal

Komplikasi:
• Disabilitas

• Kerusakan saraf

• Depresei

• Berat badan yang meningkat


Tatalaksana
Farmakologi:
• Asetaminofen 1000-4000 mg/ hari
• Anti inflamasi non steroid (Ibuproefen, Advil, Nuprin, Motrin)
400 mg/ 8 jam
• Carisoprodol, Cyclobenzaprine, Diazepam 5-10 mg / 6 jam.

Non farmakologi:
• LBP Akut : imobilisasi, pengaturan berat badan, masase, traksi
tulang belakang, alat bantu (korset & tongkat)
• LBP kronis : psikologik, modulasi nyeri, latihan kondisi otot,
rehabilitasi medik, pengaturan berat badan posisi tubuh dan
aktivitas.
Carpal Tunnel Syndrome
Neuropati tekanan atau cerutan terhadap nervus
medianus di dalam terowongan karpal pada pergelangan
tangan, tepatnya di bawah fleksor retinakulum.
Epidemiologi: 40% terjadi pada orang aktivitas kerja
mengulek.
Tanda dan gejala:
– Keluhan mati rasa kesemutan,
– Nyeri tangan dan lengan
– Disfungsi otot
Faktor Penyebab:
Herediter
Trauma
Pekerjaan
Infeksi
Metabolik
Endokrin
Neoplasma
Penyakit kolagen vaskular
Degeneratif
Inflamasi
Alur Diagnosa:
Tatalaksana:
Terapi langsung terhadap CTS :
Terapi konservatif
• Istirahatkan pergelangan tangan
• Obat anti inflamasi non steroid
• Pemasangan bidai
• Nerve Gliding
• Injeksi steroid
• Vitamin B6 (piridoksin).
• Fisioterapi
Terapi operatif
• Operasi hanya dilakukan pada kasus yang
tidak mengalami perbaikan dengan terapi
konservatif atau bila terjadi gangguan sensorik
yang berat atau adanya atrofi otot-otot thenar.
 Tidak terjadi perbaikan setelah operasi :
Kesalahan penegakan diagnosa, kerusakan
total nervus, terjadi CTS baru akibat edema
pasca operasi.
Pecegahan Kekambuhan :
• Mengurangi posisi kaku pada pergelangan tangan,
gerakan repetitif, getaran peralatan tangan pada saat
bekerja.
• Desain peralatan kerja supaya tangan dalam posisi
natural saat kerja.
• Modifikasi tata ruang kerja untuk memudahkan variasi
gerakan.
• Mengubah metode kerja untuk sesekali istirahat pendek
serta mengupayakan rotasi kerja.
• Meningkatkan pengetahuan pekerja tentang gejala-
gejala dini CTS sehingga pekerja dapat mengenali
gejala-gejala CTS lebih dini.
Tendinitis
Peradangan yang terjadi pada tendon

Epidemiologi: 30% terjadi pada orang dengan


aktivitas kerja memetik (abduksi), orang menuruni
bukit dengan beban berat.
Sering terjadi pada:
Siku, Pergelangan kaki, Bahu, Panggul, Lutut, Jari,
dan Pergelangan tangan.
Etiologi:
• Trauma
• Penggunaan yang berlebih
• Penurunan elastisitas karena proses penuaan
Ada beberapa trauma kecil yang berulang dapat menyebabkan
tendinitis, seperti:
• Posisi tubuh yang tidak baik selama bekerja misalnya,
penggunaan komputer, memotong, menebang, menggergaji,
mengecat dalam waktu lama dan lain-lain.
• Mengemudi dalam waktu lama.
• Menggunakan punggung tangan , terutama dalam permainan
tennis.
• Mengenakan sepatu tidak nyaman selma olaraga.
Patofisiologi:
• Kerusakan otot karena trauma langsung
maupun tidak langsung yang
menyebabkan otot tertarik pada posisi
yang salah sehingga menyebabkan
kontraksi berlebihan atau ketika terjadi
kontraksi otot belum siap sehingga terjadi
peradangan pada tendon.
Alur Diagnosa:
Inspeksi:
•Deformitas (+)
•Mempertahankan gerakan pada satu posisi → menahan rasa
sakit

Palpasi:
•Suhu lokalis → panas menandakan ada inflamasi
•Benjolan
•Nyeri tekan (+)
•Nyeri tumpul pada tendon achiles → tendinitis achiles

Pemeriksaan tambahan didapatkan:


•Tes manuver Hawkin: fleksi lengan 90º dan rotasi internal pada
sendi bahu. Nyeri (+) → tendinitis manset rotator.
•Tes speed: tahanan siku lurus dan lengan bawah bersupinasi →
Nyeri (+) → tendinitis bicipital.
•Tesyer gason test: supinasi melawan tahanan pada lengan bawah
dan siku ditekuk → Nyeri (+) → tendinitis bicipital.
Tatalaksana:
Untuk mengurangi peradangan dan gejala-gejala
yang ditimbulkan.
Farmakologi:
• Obat-obatan golongan antiinflamasi non steroid
(NSAID)
Non farmakologi:
• Istirahat untuk mengurangi peradangan
• Kompres dingin 10-15 menit 2-3 kali sehari
• Terapi fisik untuk peregangan
• Operasi dilakukan bila terjadi putusnya tendon.
Pencegahan:
• Melakukan pemanasan sebelum melakukan
aktivitas olahraga.
• Meningkatkan intesitas latihan sedikit demi sedikit.
• Menghindari berada dalam 1 posisi dalam waktu
lama, usahakan untuk merubah posisi setiap 20-
40 menit.
• Berhenti melakukan aktivitas yang menimbulkan
nyeri.
Kesimpulan
• Perlunya pemahaman dan pengertian masyarakat
mengenai (K3), dapat mungurangi adanya efek yang
tidak diharapkan yang dapat diakibatkan oleh pekerjaan
yang dilakukan, dengan memahami prosedur yang baik
dan benar hal-hal seperti kecelakaan kerja, penyakit
hubungan kerja, dan penyakit akibat kerja.
• Ergonomis yang sesuai saat bekerja, dan yang lebih
penting adanya waktu jeda yang digunakan untuk
mengistirahatkan tubuh. Selain itu, perlu diperhatikan
untuk penanganan yang segera saat telah timbul gejala
yang dirasa tidak menguntungkan.
“TERIMAKASIH”