Anda di halaman 1dari 52

KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL

DAN SPIRITUSL
Kelompok 4
Nama kelompok
1. Adelia Dwi L.R (131611133005)
2. Nabila Hanin L (131611133011)
3. Listya Ernissa (131611133017)
4. Arinda Naimatuz (131611133024)
5. Angga Kresna Pranata (131611133030)
6. Elin Nur Annisa (131611133037)
7. Kusnul Oktania (131611133043)
8. Mudrika Novita sari (131611133050)
Konsep Psikososial dan Spiritual

Menurut Depkes (2010), psikososial adalah setiap


perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat
psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh
timbal balik. Masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang
mempunyai pengaruh timbal balik, sebagai akibat
terjadinya perubahan sosial dan atau gejolak sosial dalam
masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa.
Masalah-masalah dalam psikososial
Menurut NANDA (2012) masalah-masalah psikososial adalah :
 Berduka
 Keputusasaan
 Ansietas
 Ketidakberdayaan
 Risiko penyimpangan perilaku sehat
 Gangguan citra tubuh
 Koping keluarga tidak efektif
 Sindroma post trauma
 Penampilan peran tida efektif
 Harga Diri Rendah situasional
Kecemasan

 Ansietas (kecemasan) adalah perasaan takut yang tidak jelas dan


tidak didukung oleh situasi. Tidak ada objek yang dapat
diidentifikasi sebagai stimulus ansietas (Videbeck, 2008).
Kecemasan merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh rasa
khawatir disertai dengan gejala somatik yang menandakan suatu
kegiatan yang berlebihan. Kecemasan merupakan gejala yang umum
tetapi non spesifik yang sering merupakan suatu fungsi emosi
(Kaplan & Sadock, 1998).
Penyebab
Menurut Elina R.R (2009), menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
kecemasan adalah :
 Faktor fisika
Kelemahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu sehingga memudahkan
timbulnya kecemasan.
 Trauma atau konflik
Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi individu, dalam arti
bahwa pengalaman-pengalaman emosional atau konflik mental yang terjadi pada
individu akan memudahkan timbulnya gejala-gejala kecemasan.
 Lingkungan awal yang tidak baik.
Lingkungan adalah faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi kecemasan
individu, jika faktor tersebut kurang baik maka akan menghalangi pembentukan
kepribadian sehingga muncul gejala-gejala kecemasan.
Tanda dan gejala kecemasan
Keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang saat mengalami
kecemasan secara umum menurut Hawari (2004), antara lain adalah
sebagai berikut:
 1. Gejala psikologis: pernyataan cemas/ khawatir, firasat buruk,
takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung, merasa tegang,
tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
 2. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
 3. Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
 4. Gejala somatic: rasa sakit pada otot dan tulang, berdebar-debar,
sesak nafas, gangguan pencernaan, sakit kepala, gangguan
perkemihan, tangan terasa dingin dan lembab, dan lain sebagainya.
Kecemasan Pada Pasien dan Keluarga
di ICU
Pasien dan anggota keluarga menjalani pengalaman berbeda dalam
menderita gangguan emosional selama tinggal dan setelah keluar ICU.
Kecemasan, depresi dan gangguan stress pasca trauma lebih tinggi
anggota keluarga daripada pasien, dan bisa bertahan sampai tiga bulan,
sementara pada pasien gejala menurun. Selamat dari ICU mungkin
mengalami tekanan psikologis untuk waktu yang lama, baisanya pasien
dan anggota keluarga menderita gejala kecemasan, depresi dan stress
pasca trauma, Fumis, dkk, 2015 (dalam Sugimin 2017).
Konsep Stress Pada Pasien ICU

Stress merupakan istilah yang digunakan dalam ilmu fisiologi


dan neuroendokrinologi untuk merujuk faktor-faktor yang
menyebabkan ketidak-seimbangan pada organisme shingga
mengancam homeostasis tubuh. Stresor bisa saja merupakan akibat
dari trauma fisik, gangguan mechanism perubahan kimia, atau fator
emosional.
Respon Metabolik terhadap Stres

Fase Ebb dan Fase Flow

Metabolisme Protein dan Glukosa

Respon Cairan dan Elektrolit


Respon Hormonal Terhadap Stres

Respon Endokrin

a)Aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal
b)Respon Inflamasi
c)Respon Imunologi
Sumber-sumber Stres
Menurut Sarafino (2008) sumber datangnya stres ada tiga yaitu:
 Diri Individu

 Keluarga

 Komunitas dan masyarakat


Dampak Stres

Menurut Safarino (2008) stress dapat berpengaruh pada


kesehatan dengan dua cara. Pertama, perubahan yang diakibatkan oleh
stres secara langsung mempengaruhi fisik sistem tubuh yang dapat
mempengaruhi kesehatan. Kedua, secara tidak langsung stres
mempengaruhi perilaku individu sehinggga menyebabkan timbulnya
penyakit atau memperburuk kondisi yang sudah ada.
Gejala Stres

Gejala stres dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:


 Gejala fisik
Gejala fisik meliputi: pernafasan cepat dan pendek, jantung
berdebar debar cepat dan tidak teratur, berkeringat dan muka memerah,
otot – otot tegang, nafsu makan berubah, sulit tidur, sakit kepala, dada
sesak dan nyeri pada uluh hati.
 Gejala mental
Gejala mental meliputi: menarik diri, rasa tertekan,
kebingungan, kehilangan, depresi, dan kecemasan, overaktif, dan
agresif, kekecewaan (Depkes, 2009).
Stres pada pasien ICU

Pasien dan anggota keluarga menjalani pengalaman berbeda


dalam menderita gangguan emosional selama tinggal dan setelah
keluar ICU. Kecemasan, depresi dan gangguan stres pasca trauma lebih
tinggi pada anggota keluarga daripada pasien, dan bisa bertahan sampai
tiga bulan, sementara pada pasien gejala menurun. Selamat dari ICU
mungkin mengalami tekanan psikologis untuk waktu yang lama,
biasanya pasien dan anggota keluarga menderita gejala kecemasan,
depresi dan stres paska trauma (Fumis, Ranzani, Martins, & Schettino,
2015).
Kebutuhan Spiritual Pasien ICU

 Kesehatan Spiritual
Sehat spiritual keyakinan terhadap Tuhan atau cara hidup yang
ditentukan oleh agama; rasa terbimbing akan makna atau nilai
kehidupan.
Pemenuhan Kebutuhan Spiritual
Pasien ICU
Kebutuhan spiritual merupakan salah satu kebutuhan dasar
yang dibutuhkan oleh setiap manusia, salah satunya adalah pasien
dalam kondisi kritis maupun terminal yang dirawat di ruang intensif
(Bukhardt 1993 dalam Kozier, Erb, & Blais, 1995) dalam (Sonia,
2010).
Menurut Young and Koopsen (2015) pasien yang dirawat di
ICU bukan hanya mengalami masalah fisik, psikis dan sosial, tetapi
mengalami masalah pada spiritualitas sehingga pasien kehilangan
hubungan dengan Tuhan dan hidup tidak berarti. Perasaan-perasaan
tersebut menyebabkan seseorang menjadi stres dan depresi berat
menurunkan kekebalan tubuh dan akan memperberat kondisinya
Komunikasi Pada Pasien, Keluarga
Pasien dan Kolega di ICU
 Pengertian Komunikasi
Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi
professional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien,
(Siti Fatmawati 2010). Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang
direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk
kesembuhan pasien, Indrawati, dalam Siti Fatmawati, (2010).
Komunikasi Dengan Pasien ICU

Teknik terapeutik, perawat tetap dapat terapkan. Adapun teknik


yang dapat terapkan, meliputi:
 Menjelaskan
 Memfokuskan
 Memberikan Informasi
 Mempertahankan ketenangan
Komunikasi Dengan Keluarga Pasien
ICU
Adapun bentuk komunikasi yang dapat dilakukan dengan anggota keluarga pasien yaitu
dengan komunikasi yang terapeutik. Bentuk komunikasi terapeutik perawat dan keluarga
pasien yaitu :
 Mendengarkan dengan penuh perhatian
 Hadapi klien ketika mereka bicara
 Pertahankan kontak mata yang alamiah untuk menunjukan keinginan untuk
mendengar
 Mengambil postur yang menunjukkan menyimak. Hindari menyilangkan kaki dan
tangan karena ini menunjukan postur yang defensif.
 Beri kesempatan untuk memulai pembicaraan kepada keluarga pasien.
 Anjurkan keluarga pasien untuk meneruskan pembicaraan
 Anjurkan keluarga pasien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaanya
sebagai bagian dari dirinya sendiri.
 Hindari gerakan tubuh yang mengganggu seperti meremas tangan, mengetukkan
kaki atau bermain-main dengan sebuah benda di tangan.
 Mengangguk untuk mengakui ketika klien berbicara tentang hal penting atau
mencari persetujuan.
 Condong kepembicaraan untuk menunjukan keterlibatan.
 Tunjukan penerimaan terhadap informasi dan menunjukan ketertarikan dan tidak
menilai.
 Tanyakan pertanyaan yang berkaitan dengan pertanyaan terbuka untuk
mendapatkan informasi yang spesifik mengenai kondisi nyata dari keluarga
pasien.
 Ulangi ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri (Parafrase)
 Klarifikasi dilakukan apabila pesan yang disampaikan oleh klien belum jelas
 Fokuskan pembicaraan agar lebih mudah dimengerti
 Sampaikan hasil observasi mengenai topik pembicaraan
 Tawarkan informasi kepada pasien seperti penkes
 Diam
Komunikasi dengan Kolega di ICU

Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada klien


komunikasi antar tenaga kesehatan terutama sesawa perawat sangatlah
penting. Kesinambungan informasi tentang klien dan rencana tindakna
yang telah, sedang dan akan dilakukan perawat dapat tersampaikan
apabila hubungan atau komunikasi antar perawat berjalan dengan baik.
Hubungan perawat dengan perawat dalam memberikan pelayanan
keperawatan dapat diklasifikasikan menjadi hubungan professional,
hubungan structural dan hubungan intrapersonal.
Kasus
Sdr. A datang ke UGD RS Universitas Airlangga bersama keluarganya
dengan post KLL (Kecelakaan Lalu Lintas). Dari hasil pemeriksaan di
UGD didapatkan kaki kanan tidak bisa digerakkan. Pengkajian tingkat
nyeri P : Kecelakaan lalu lintas dengan fraktur cruris, Q : seperti
ditusuk-tusuk, R : kaki kanan, S: 8. Kesadaran Sdr. A composmentis
dengan GCS E3 V2 M4. Hari ini adalah hari ke 5 klien berada di ICU
dengan terpasang ventilator dengan TD: 110/80 mmHg, RR: 25x/
menit, HR: 110x/ menit, Suhu: 37 C. Dan hari ini klien akan
dipindahkan ke ruang perawatan (rawat inap) dan ventilator yang
terpasang padanya akan dilepas juga (yang biasa disebut dengan proses
weaning). Namun klien merasa cemas karena klien takut cacat dan
tidak bisa berjalan.
Pengkajian

 Identitas
Tanggal MRS : 15 Januari 2018 Hari rawat ke :1
Jam Masuk : 13.00 WIB Inisial Pasien : Ny. K
Tanggal Pengkajian : 15 Januari 2018 Pendidikan : SMA
No. RM : 31.45.xx.xx Umur : 63 tahun
Jam Pengkajian : 13.05 WIB Pekerjaan : Tidak ada
Diagnosa Masuk : ROSC Suku/ Bangsa : Jawa/Indonesia
pascahenti jantung, edema serebri difus,
Alamat : Semarang
asidosis metabolic, anemia, hipoalbumin
Agama : Islam
 Keluhan Utama
Keluhan utama : Tidak sadarkan diri
 Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat Penyakit Sekarang: 1 jam sebelum masuk RS, pasien mengeluh
nyeri kepala saat berada di ruangan poli rawat jalan RS X. Tiba-tiba pasien
jatuh, kejang seluruh tubuh dan tidak sadarkan diri. Pasien segera dibawa ke
ruang resusitasi IGD dan dilakukan pertolongan. Saat dipasang monitor,
pasien mengalami henti jantung. Dilakukan resusitasi jantung-paru sebanyak
dua siklus, respon dengan kembali ke sirkulasi spontan (ROSC).
 Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah dirawat : Tidak
Riwayat penyakit kronik dan menular: Tidak
Riwayat alergi Obat : Tidak
Makanan : Tidak
Lain-lain : Tidak
Riwayat operasi : Tidak
Observasi dan Pemeriksaan Fisik
 Tanda tanda vital
S : 36,7ºC N : 116x/menit T : 130/70 mmHg RR : 14x/menit on bagging
Kesadaran : Koma
 Sistem Pernafasan
RR : 14x/menit
Irama nafas : Tidak teratur
Pola nafas : Cheyne-strokes
Suara nafas : Vesikuler
Alat bantu napas : Ya, klien menggunakan ventilator
Lain-lain : Pemeriksaan thoraks didapatkan vesikuler ka=ki, rhonki -/- , wheezing
-/-
 Sistem Kardiovaskuler  Sistem Syaraf
TD : 130/70 mmHg GCS : E1M1VT
N : 116x/menit Pupil : Isokor
Irama jantung : Reguler Diameter : 3/3

Suara jantung : Gallop Sclera : Anikterus


Konjunctiva : Anemis
CRT : < 3 detik
Akral : Dingin Lain-lain : Dari pemeriksaan
CT scan kepala didapatkan edema
Sikulasi perifer : Menurun serebri difus dan tidak tampak
JVP : Tidak terkaji perdarahan atau massa intrakranial.
 Sistem Perkemihan  Sistem Pencernaan
Kebersihan genetalia : Bersih TB : 150 cm BB : 55 kg
Sekret : Tidak IMT : 24,4 Interpretasi: normal
Ulkus : Tidak Mulut : Bersih
Kebersihan meatus uretra : Bersih Membran mukosa : Lembab
Keluhan kencing : Tidak Tenggorokan : Tidak ada masalah
Kemampuan berkemih : Alat bantu, Nyeri tekan : Tidak
sebutkan :Kateter
Bising usus : 30 x/menit
Produksi urine : 1500 ml/hari
 Sistem penglihatan
Warna : kuning keruh
Konjunctiva anemis, pupil isokor diameter 3/3
Bau : khas urine mm, refleks cahaya +/+, refleks kornea +/+
Kandung kemih membesar : Tidak  Sistem Endokrin
Nyeri tekan : Tidak Pembesaran tyroid :Tidak
Pembesaran kelenjar getah bening : Tidak
 Pengkajian Psikososial
Persepsi klien terhadap penyakitnya: Klien sedang koma, tetapi keluarga klien merasa
bahwa sakit yang dialami ini termasuk cobaan.
Ekspresi klien terhadap penyakitnya: Klien sedang koma, tetapi ekspresi keluarga
sangat sedih dan terpukul melihat keadaan klien di ICU
Reaksi saat interaksi : Keluarga klien kooperatif
 Personal Hygiene dan Kebiasaan
Kebersihan diri : Klien melakukan perawatan diri dibantu oleh perawat
Kemampuan klien dalam pemenuhan kebutuhan:
Mandi : di bantu seluruhnya
Ganti pakaian : di bantu seluruhnya
Keramas : di bantu seluruhnya
Sikat gigi : di bantu seluruhnya
 Pengkajian Spiritual
Kebiasaan beribadah
Sebelum sakit : Sering
Selama sakit : Tidak pernah
Keterangan: Bantuan yang diperlukan klien untuk memenuhi kebutuhan beribadah:
Keluarga diberi edukasi terkait ibadah yang dapat dilakukan untuk klien, dan tentu
berkolaborasi dengan ustadzah.
 Pemeriksaan Penunjang
Pasien dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil: anemia (Hb : 8,3),
leukositosis (17,63), hipoalbuminemi (2,9) dan hasil analisis gas darah menunjukkan
asidosis metabolik berat (pH : 7,01; pO2 : 95,9; pCO2 : 66,7; HCO3 : 16,6; BE : -24;
SO2 : 99,8; AaDO2 : 398,8). Dari pemeriksaan CT scan kepala didapatkan edema
serebri difus dan tidak tampak perdarahan atau massa intrakranial.
 Terapi
Pasien dipasang monitor EKG, pengukur tekanan darah non invasif dan pulse
oxymetri. Pasien diposisikan supine head up 30 derajat, pemasangan ventilator
dengan mode PSIMV (FiO2 50%, Pc 15, RR 14, PEEP 5), terapi cairan maintenans
dan pemasangan NGT. Dilakukan pemeriksaan laboratorium lengkap, AGD dan foto
ronsen. Terapi medikamentosa yang diberikan adalah cefotaxim (1 gr/12jam),
citicholin (250 mg/12jam), manitol (125 mg/6jam), omeprazol (40 mg/24jam),
fentanyl kontinu (0,5 mcg/kg/jam) dan norepinefrin dosis titrasi.
Analisa Data
Diagnosa keperawatan

Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan


dengan peningkatan intrakranial ditandai dengan
penurunan kesadaran (00201, Domain 4, Kelas 4)
 Penurunan curah jantung berhubungan dengan
berhubungan dengan kontraktilitas ditandai dengan
terdengar suara jantung S3 (gallop) (00029, Domain 4,
Kelas 4)
 Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
ditandai dengan gelisah (00146, Domain 9, Kelas 2)
Intervensi Keperawatan
Kesimpulan

Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang


bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik. Contoh
gangguan psikososial yaitu kecemasan dan stress yang menyebabkan ketidak-
seimbangan pada organisme sehingga mengancam homeostasis tubuh. Pada pasien
dalam kondisi kritis, dimana fungsi organ-organ tubuh dapat dengan mudah
mengalami perubahan akibat stressor maka sulit untuk melakukan mekanisme
pertahanan, sehingga individu dapat dengan mudah mengalami ketidakseimbangan
yang dapat mengancam homeostasis tubuh. Sehingga di ruang ICU mungkin
mengalami tekanan psikologis untuk waktu yang lama, biasanya pasien dan anggota
keluarga menderita gejala kecemasan, depresi dan stres paska trauma.
DAFTAR PUSTAKA

 Ah.Yusuf, Rizky Fitryasari,Hanik Endang. (2015). Buku Ajar keperawatan kesehatan jiwa.
Jakarta : Salemba Medika
 Armiyadi, M. (2016). KOMUNIKASI TERAPEUTIK DAN KECEMASAN KELUARGA
DI RUANG ICU RSTK-IIKESDAM-IM BANDA ACEH. Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Fakultas Keperawatan, 1(1).
 Bally, (2010). Efektifitas Terapi Kognitif terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan pada
Penderita Asma di Surakarta. Tesis dipublikasikan. Fakultas Psikologi-UGM. Jogjakarta.
 Derek, M. I., Rottie, J., & Kallo, V. (2017). Hubungan Tingkat Stres Dengan Kadar Gula
Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di Rumah Sakit Pancaran Kasih Gmim
Manado. Jurnal Keperawatan UNSRAT, 5(1). Retrieved from
https://www.neliti.com/id/publications/105312/hubungan-tingkat-stres-dengan-kadar-gula-
darah-pada-pasien-diabetes-melitus-tipe
 Fitri, Eka Yuliani (2014). Respon Stres Pada Pasien Kritis. Diakses dari
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=472054&val=9725&title=Re
spon%20Stres%20Pada%20Pasien%20Kritis pada 12 Februari 2018.
 Grune, T., & Berger, M. M. (2007). Markers of oxidative stress in ICU clinical
settings: present and future. Current Opinion in Clinical Nutrition and Metabolic
Care, 10(6), 712–717. https://doi.org/10.1097/MCO.0b013e3282f0c97c
 Gunarsa, Singgih D. 2008. Psikologi Anak: Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
 Lubis, Namora Lumongga. (2009). Depresi Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
 Mulyana Deddy, M.A, Ph.D. (2010). Suatu Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta:
Rosda.
 Nanda Internasional.2012.Diagnosis Keperawatan 2012-2014. EGC : Jakarta.
 Nursalam, Ninuk, 2007. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi
HIV. Salemba Medika : Jakarta.
 Sarafino, E. P. 2008. Health Psychology: Biopsychosocial Interactions Sixth
Edition. USA: The College of New Jersey.
 Siti Fatmawati, 2010 , komunikasi Keperawatan Plus materi Komunikasi
Terapeutik,Yogjakarta: Medical Book.
 Videbeck, Sheila L,. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
 Young, C, Koopsen, C. (2015). Spiritual, Kesehatan, dan Penyembuhan. Medan:
Bina Perintis.
 Emergency Nurses Association (2007). Sheehy`s manual of emergency care 6th
edition. St. Louis Missouri: Elsevier Mosby.
 Thygerson, Alton. (2010). First aid 5th edition. Alih bahasa dr. Huriawati
Hartantnto. Ed. Rina Astikawati. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.
 Gloria M. Bulechek, (et al).2013. Nursing Interventions Classifications (NIC) 6th
Edition. Missouri: Mosby Elsevier
 Moorhed, (et al). 2013. Nursing Outcomes Classifications (NOC) 5th Edition.
Missouri: Mosby Elsevier
 NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi, Dan Klasifikasi
2012-2014/Editor, T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made Sumarwati, Dan Nike
Budhi Subekti ; Editor Edisi Bahasa Indonesia, Barrah Bariid, Monica Ester, Dan
Wuri Praptiani. Jakarta; EGC.
 Nur, R. F., Suryono, B., & Sarosa, P. (2015). Manajemen Akhir Hayat pada Pasien
Kritis dI ICU. JKA-Jurnal Komplikasi Anestesi, 2(2).
THANK’S YOU