Anda di halaman 1dari 17

KELOMPOK 3

SEKAR DWI NINGRUM SURANTA Br. SEMBIRING

QODRY YANSAYHPUTRA DARMANTO SUGONDO SIATURI

ANISA NUR FAUZIAH


LINCE KRITIA TAFONAO
SKIZOFRENIA
SKIZOFRENIA
Definisi
Skizofrenia adalah sekelompok gangguan psikologi dengan gangguan dasar
pada kepribadian dan distorsi khas proses pikir yang ditandai dengan proses
pikir penderita yang lepas dari realita sehingga terjadi perubahan
kepribadian seseorang yang reversible dan menuju kehancuran serta tidak
berguna sama sekali

( DepKes , 1995 )
teori Adolf Meyer, menurut meyer skizofrenia merupakan
suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, oleh karena itu
timbul suatu disorganisasi kepribadian dan lama-kelamaan
orang itu menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).

Kemudian teori Sigmund Freud, menurut Freud dalam


skizofrenia terdapat kelemahan ego, yang dapat timbul karena
penyebab psikogenik maupun somatik, superego
dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yang
berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme.

Menurut Temes (2011) skizofrenia adalah bentuk


paling umum dari penyakit mental yang parah.
Penyakit ini adalah penyakit yang serius dan
mengkhawatirkan yang ditandai dengan penurunan
atau ketidakmampuan berkomunikasi, gangguan
realitas (berupa halusinasi dan waham), gangguan
kognitif (tidak mampu berpikir abstrak) serta
mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari
hari.
CIRI-CIRI SKIZOFRENIA

Adapun ciri-ciri klinis utama skizofrenia yang diadaptasi dari SDM-IV-TR


adalah sebagai berikut dimana dua atau lebih dari hal-hal berikut harus muncul
dalam porsi yang signifikan selama munculnya penyakit dalam waktu 1 bulan

1) Waham / delusi 3) Pembicaraan yang tidak koheren,


2) Halusinasi

, 4) Perilaku tidak terorganisasi atau katatonik,


5) afek datar.
GEJALA – GEJALA SKIZOFRENIA

Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi


 . Gejala Positif
khas yang terlihat pada penderita skizofrenia diantaranya :

1. Halusinasi auditoar ( pendengaran )


Mendengarkan suara, percakapan, bunyi asing dan aneh, atau mendengarkan musik yang
sebenarnya tidak ada, merupakan gejala positif yang paling sering dialami penderita
skizofrenia. Pasien dapat mendengar satu atau lebih suara yang menyapa dia langsung,
berbagai suara yang didengarkan biasanya mengomentari atau mengejek apa yang
dipikiran penderita atau tingkah lakunya.

2. Delusi (Waham)
Bentuk delusi yang paling sering dijumpai pada penderita skizofrenia adalah
penyelipan pikiran, menarik pikiran dan penyiaran isi atau buah pikiran. Pasien
percaya bahwa ada pemikiran yang dimasukkan, diinsersi ke dalam pikirannya,
mengakibatkan terjadi kebingungan, kekacauan dan disorientasi.

3. Gangguan pikiran dan gangguan bicara pada penderita skizofrenia


Gangguan pikiran sering berbentuk asosiasi kata-kata yang tidak berkaitan, tidak
berhubungan dan kata-kata yang sulit dipahami oleh pendengarnya. Pada gejala
skizofrenia dapat dijumpai delusi (waham), pasivitas (dikendalikan oleh kekuatan dari
luar), dan gejala psikotik lainnya seperti halusinasi auditoar dan waham.
 Gejala Negatif

Gejala-gejala berikut disebut gejala negatif karena merupakan ciri tambahan dari ciri khas
yang menandakan seseorang telah kehilangan fungsi normal dirinya. Termasuk tanda
kurang atau ketidak mampuan menampakkan atau mengekspresikan emosi pada wajah dan
perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan kegiatan
yang disenangi dan kurangnya kemampuan berbicara (alogia). Nancy Andreas dari
University of LOWA menggolongkan gejala negatif atas

Nancy Andreas dari University of LOWA menggolongkan gejala negatif atas 5 kelompok,
antara lain :

1. Afek yang tumpul, datar atau emosi menumpul

2. Alogia

3. Avolisi

4. Anhedonia

5. Katatonia
JENIS – JENIS Skizofrenia.

kriteria sebagai berikut:

a. Keasyikan dengan satu atau lebih dari


1) Jenis Paranoid Fitur penting dari jenis delusi atau sering halusinasi pendengaran;
Skizofrenia paranoid ini adalah adanya
delusi yang menonjol atau halusinasi
b. Tak satu pun menonjol: bicara tidak
pendengaran dalam konteks perluasan
teratur, tidak teratur atau perilaku katatonik,
mempengaruhi fungsi kognitif.
serta flat atau tidak mempengaruhi

a. Semua berikut menonjol: bicara tidak


2) Jenis Tidak Teratur Fitur penting dari
teratur; perilaku tidak teratur; datar atau tidak
jenis tidak terorganisir dari Skizofrenia
pantas mempengaruhi,
adalah bicara tidak teratur, perilaku tidak
teratur, dan datar. Bicara tidak teratur dapat
disertai dengan kekonyolan dan tawa yang b. Kriteria tidak terpenuhi untuk
tidak terkait erat dengan isi pembicaraan. katatonik Type.
3). Jenis Katatonik Fitur penting dari jenis a. imobilitas motorik yang dibuktikan dengan
katatonik dari Skizofrenia adalah gangguan ayan (termasuk fleksibilitas lilin) atau stupor;
psikomotor ditandai yang mungkin b. aktivitas motorik yang berlebihan (yang
melibatkan imobilitas motorik, aktivitas tampaknya tanpa tujuan dan tidak
motorik yang berlebihan, negativisme dipengaruhi oleh rangsangan eksternal);
ekstrim, sifat bisu, keanehan gerakan
sukarela, echolalia, atau echopraxia. c. negativisme yang ekstrim (perlawanan
tampaknya tanpa motif untuk semua
instruksi atau pemeliharaan postur yang
kaku terhadap upaya untuk dipindahkan)
atau sifat bisu;
d. keanehan gerakan sukarela yang
dibuktikan dengan sikap (asumsi sukarela
yang tidak pantas atau aneh postur),
gerakan stereotipik, laku menonjol, atau
meringis menonjol; serta
4) Jenis Undifferentiated Fitur penting dari
Skizofrenia undifferentiated adalah adanya
gejala yang memenuhi Kriteria A dari
Skizofrenia tapi yang tidak memenuhi kriteria
untuk jenis Paranoid, tidak terorganisir, atau
katatonik.
a. Tidak adanya delusi yang menonjol,
halusinasi, bicara tidak teratur, dan perilaku
sangat tidak teratur atau katatonik;

5) Jenis Residual Tipe residual dari


Skizofrenia harus digunakan bila telah ada
setidaknya satu episode Skizofrenia, tetapi
gambaran klinis saat ini tanpa gejala psikotik
positif yang menonjol (misalnya, delusi,
halusinasi, bicara tidak teratur atau perilaku).
Ada bukti terus gangguan seperti yang
ditunjukkan oleh adanya gejala negatif

b. Ada terus bukti gangguan, seperti yang


ditunjukkan oleh adanya gejala negatif atau dua
atau lebih gejala kriteria A untuk Skizofrenia,
hadir dalam bentuk dilemahkan (misalnya,
keyakinan aneh, pengalaman persepsinya)
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB SKIZOFRENIA
Luana (2007) menjelaskan penyebab dari
skizofrenia dalam model diatesis-stres, bahwa
A). Faktor Biologi Skizofrenia timbul akibat faktor psikososial dan
lingkungan. Di bawah in pengelompokan
penyebab skizofrenia, yakni

Hipotesis Dopamin
Komplikasi kelahiran

Infeksi

Hipotesis Serotonin Struktur Otak


b. Fakter Genetika

Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia dturunkan , 1 %


dari populasi umum tetapi 10 % pada masyarakat yang mempunyai
hubungan derajat pertama seperti orang tua, kakak laki laki ataupun
perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat yang mempunyai hubungan
derajat ke dua sepert paman, bibi, kakek / nenek dan sepupu dikatakan lebih
sering dibandingkan populasi umum. Kembar identik 40 % sampai 65 %
berpeluang menderita skizofrenia sedangkan kembar dizigotik 12 % . Anak
dan kedua orang tua yang skizofrenia berpeluang 40 % , satu orang tua 12 %
. Sebagai ringkasan hingga sekarang kita belum mengetahui dasar penyeoab
Skizofrenia. Dapat dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai
pengaruhv/ faktor yang mempercepat yang menjadikan manifestas/ faktor
pencetus sepert penyakit badaniah/ stress spikologis
TERAPI/PENGOBATAN SKIZOFRENIA

Menurut Luana (2007) pengobatan skizofrenia


terdiri dari dua macam, :

A). Psikofarmaka Obat antipsikotik yang beredar dipasaran dapat dikelompokkan


menjadi dua bagian yaitu antipsikotik generasi pertama (APG I) dan antipsikotik
generasi ke dua (APG I). APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di
mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan
cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek
samping berupa: gangguan ekstrapiramidal, peningkatan kadar prolaktin yang akan
menyebabkan disfungsi seksual atau peningkatan berat badan dan memperberat
gejala negatif maupunkognitif. Selain ituAPGI menimbulkan efek samping
antikolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguan miksi, defekasi dan
hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan
kurang atau sama dengan 10 mg diantaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine,
haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom
psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan
halusinasi. Potensi rerdah bila dosisnya lebih dan 50 mg diantaranya adalah
Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan
gaduh gelisah, hiperaktii dan sulit tidur
APG Il sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA)
atau antipsikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi serotonin dan
dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan
rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi
gejala negatif. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah
clozapine, olanzapine, quetiapine dan rispencon.
Pengaturan Dosis

B). Terapi Psikososial


Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara
lain:
Psikoterapi individual
a) Terapi suportif
b) Sosial skill training
c) Terapi okupasi
d) Terapi kognitif dan perilaku (CBT)
Psikoterapi kelompok
Psikoterapi keluarga