Anda di halaman 1dari 32

KELOMPOK 2

TK I REGULER B D-III KEPERAWATAN


• Proses berpikir adalah kecakapan menjalankan akal,
menjalankan proses pemikiran/kemahiran berpikir.

• Berpikir selalu berhubungan dengan masalah-masalah,


baik masalah yang timbul dari situasi masa kini, masa
lampau, dan mungkin masalah-masalah yang belum
terjadi. Proses pemecahan masalah itu disebut proses
berpikir.
• Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan
kerja otak. Walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas
kerja otak, pikiran manusia lebih dari sekedar kerja organ
tubuh yang disebut otak.

• Memikirkan sesuatu berarti mengarahkan diri pada obyek


tertentu, menyadari secara aktif dan menghadirkannya
dalam pikiran kemudian mempunyai wawasan tentang
obyek tersebut
• Berpikir adalah sebuah representasi simbol dari beberapa
peristiwa atau item (Khodijah, 2006:117).

• Menurut Drever (dalam Walgito, 1997 dikutip Khodijah,


2006:117) berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang
tepat dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah.

• Menurut Solso (1998 dalam Khodijah,2006:117) berpikir


adalah sebuah proses dimana representasi mental baru
dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang
komplek atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi,
logika, imajinasi, danpemecahan masalah.
Dari pengertian tersebut tampak bahwa ada tiga
pandangan dasar tentang berpikir, yaitu :
• Berpikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal
dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku.
• Berpikir merupakan sebuah proses yang
melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam
sistem kognitif.
• Berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang
memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi.
• Berpikir dengan Pengalaman (Routine Thingking)
• Berpikir Representatif
• Berpikir Kreatif
• Berpikir Reproduktif
• Berpikir Rasional
• Berpikir Kongkret
• Berpikir Skematis
• Berpikir Abstrak
1) Berpikir konkrit, yaitu berpikir dalam dimensi ruang, waktu
dan tempat tertentu.
2) Berpikir abstrak, yaitu berpikir dalam ketidakberhinggaan,
sebab dapat dibesarkan atau disempurnakan keluasannya.
3) Berpikir klasifikatoris, yaitu berpikir mengenai klasifikasi
atau pengaturan menurut kelas-kelas tingkat tertentu.
4) Berpikir analogis, yaitu berpikir untuk mencari hubungan
antar peristiwa atas dasar kemiripannya.
5) Berpikir ilmiah, yaitu berpikir dalam hubungan yang luas
dengan pengertian yang lebih kompleks disertai pembuktian-
pembuktian.
6) Berpikir pendek, yaitu lawan berpikir yang terjadi secara
lebih cepat, lebih dangkal, dan seringkali tidak logis.
1. Berpikir asosiatif, yaitu proses berpikir di mana suatu ide
merangsang timbulnya ide lain. Jalan pikiran dalam proses
berpikir asosiatif tidak ditentukan atau diarahkan
sebelumnya, jadi ide-ide timbul secara bebas.
Jenis-jenis berpikir asosiatif :
• Asosiatif Bebas
Suatu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain, tanpa
ada batasnya. Misalnya, ide tentang makan dapat
merangsang timbulnya ide tentang restoran, dapur, nasi
atau anak yang belum sempat diberi makanan atau hal
lainnya
• Asosiatif Terkontrol
Satu ide tertentu menimbulkan ide mengenai hal lain dalam
batas-batas tertentu. Misalnya, ide tentang membeli mobil,
akan merangsang ide-ide lain tentang harganya, pajaknya,
pemeliharaannya, mereknya, atau modelnya, tetapi tidak
merangsang ide tentang hal-hal lain di luar itu seperti
peraturan lalu lintas, polisi lalu lintas, piutang yang belum
ditagih, dan sebagainya.
• Melamun
Menghayal bebas, sebebas-bebasnya tanpa batas, juga
mengenai hal-hal yang tidak realistis.
• Mimpi
Ide-ide tentang berbagai hal yang timbul secara tidak
disadari pada waktu tidur. Mimpi ini kadang-kadang
terlupakan pada waktu terbangun, tetapi kadang-kadang
masih dapat diingat.
• Berpikir Artistik
Proses berpikir yang sangat subjektif. Jalan pikiran sangat
dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi
tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Ini sering dilakukan
oleh para seniman dalam mencipta karya-karya seninya.
2. Berpikir Terarah
Berpikir terarah, yaitu proses berpikir yang sudah
ditentukan sebelumya. Dan diarahkan pada sesuatu,
biasanya diarahkan pada pemecahannya persoalan. Dua
macam berpikir terarah, yaitu:
• Berpikir Analitis
Berpikir Analitis yaitu Berpikir konvergen (cenderung
menyempit dan menuju jawaban yang tunggal), tipe
berpikir tradisional dan generatif yang bersifat logis dan
matematis dengan mengumpulkan dan menggunakan
hanya informasi yang relevan.
• Berpikir Lateral
Berpikir lateral (berpikir divergen) yaitu tipe
berpikir selektif dan kreatif yang menggunakan
informasi bukan hanya untuk kepentingan berpikir
tetapi juga untuk hasil dan dapat menggunakan
informasi yang tidak relevan atau boleh salah
dalam beberapa tahapan untuk mencapai
pemecahan yang tepat.
1. Membentuk Pengertian
Pengertian adalah hasil proses berpikir yang
merupakan rangkuman sifat-sifat pokok dari
suatu barang atau keyataan yang di
nyatakan dalam suatu perkataan.
Pengertian, atau lebih tepatnya disebut pengertian logis
dibentuk melalui tiga tingkatan, sebagai berikut:

Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah obyek yang sejenis. Obyek


tersebut kita perhatikan unsur - unsurnya satu demi satu
Membanding-bandingkan ciri tersebut untuk ditemukan ciri -
ciri mana yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu
ada dan mana yang tidak selalu ada mana yang hakiki dan
mana yang tidak hakiki.
Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri-ciri yang
tidak hakiki, menangkap ciri-ciri yang hakiki.
2. Membentuk Pendapat
Pendapat adalah hasil pekerjaan pikir
meletakkan hubungan antara tanggapan
yang satu dengan yang lain, antara
pengertian satu dengan pengertian yang
lain, yang di nyatakan dalam satu kalimat
Proses pembentukan pendapat antara lain :
• Menyadari adanya tanggapan/pengertian, karena tidak
mungkin kita membentuk pendapat tanpa menggunakan
pengertian atau tanggapan.
• Menguraikan tanggapan/pengertian.
• Menetukan hubungan logis antara bagian-bagian. Setelah
sifat-sifat dianalis, berbagai sifat di pisahkan tinggal dua
pengertian saja kemudian satu sama lain dihubungkan.
Beberapa pengertian yang dibentuk menjadi suatu
pendapat yang duhubungkan dengan sembarangan tidak
akan menghasilkan suatu hubungan logis dan tidak dapat
di nyatakan dalam suatu kalimat yang benar.
Pendapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
• Pendapat Afirmatif (positif), yaitu pendapat yang
secara tegas menyatakan sesuatu, misalnya si Ani itu
rajin, si Totok itu pandai,dsb.
• Pendapat Negatif, yaitu pendapat yang secara tegas
menerangkantidak adanya sesuatu sifat pada sesuatu
hal, misalnya si Ani tidak marah, si Totok tidak bodoh,
dsb.
• Pendapat Modalitas (kebarangkalian), yaitu pendapat
yang menerangkan kemungkinan-kemungkinan sesuatu
sifat pada suatu hal, misalnya hari ini mungkin hujan, si
Ali mungkin tidak datang, dsb.
3. Membentuk Kesimpulan
Membentuk pendapat berdasarkan pendapat-pendapat
yang telah ada.
Jenis-jenis Kesimpulan :
- Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi, yakni
dimulai dari hal-hal umum menuju hal-hal yang khusus
atau hal-hal yang lebih rendah. Proses pembentukan
deduktif tersebut dapat dimulai dalil atau hukum yang
menuju hal-hal yang lebih kongret. Jalan berpikir demikian
di sebut jalan berpikir deduktif.
- Kesimpulan induktif dibentuk dengan cara induksi, yakni
dimulai dari hal-hal yang khusus menuju pada hal-hal
yang umum. Proses pembentukan kesimpulan induktif
dimulai dari situasi yang kongkret menuju ke hal-hal
abstrak. Dari pengertian-pengertian yang rendah pada
pengertian-pengertian yang lebih tinggi/umum.
- Kesimpulan Analogi, kesimpulan yang di ambil dengan
jalan analogi, yakni kesimpulan dari pendapat khusus dari
yang lain, dengan cara membandingkan situasi yang satu
dengan situasi sebelumnya. Dalam berpikir analogis kita
meletakkan suatu hubungan baru berdasarkan hubungan-
hubungan baru itu
• Pemecahan masalah didefinisikan sebagai suatu proses
penghilangan perbedaan atau ketidaksesuaian yang
terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang
diinginkan (Hunsaker, 2005).

• Salah satu bagian dari proses pemecahan masalah


adalah pengambilan keputusan (decision making), yang
didefinisikan sebagai memilih solusi terbaik dari sejumlah
alternatif yang tersedia.
• Pengambilan keputusan yang tidak tepat, akan mempengaruhi
kualitas hasil dari pemecahan masalah yang dilakukan.
Kemampuan untuk melakukan pemecahan masalah adalah
ketrampilan yang dibutuhkan oleh hampir semua orang dalam
setiap aspek kehidupannya. Jarang sekali seseorang tidak
menghadapi masalah dalam kehidupannya sehari-hari, karena
masalah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam
kehidupan.

• Santrock (2005:356) mengemukakan bahwa pemecahan


masalah merupakan upaya untuk menemukan cara yang tepat
dalam mencapai tujuan ketika tujuan dimaksud belum tercapai
(belum tersedia).
• TRIAL AND ERROR
Salah satu kemungkinan strategi pemecahan masalah
adalah trial and error. Akan tetapi, strategi ini biasanya
akan menghabiskan waktu lama sampai kemudian
muncul pemecahan masalahnya.

Dengan cara ini banyak masalah dapat pula justru tidak


terpecahkan secara sempurna. Untuk memecahkan
masalah-masalah yang sulit, perlu untuk memiliki
beberapa strategi selain trial and error.
• Informational Retrieval (mengambil kembali informasi)
Dalam beberapa kasus, pemecahan terhadap suatu
masalah dapat menjadi sederhana seperti mengingat
kembali informasi (Informational Retrieval) dari ingatan
jangka panjang.

Informational Retrieval adalah suatu pilihan penting


ketika suatu pemecahan masalah harus ditemukan
dengan cepat.
• Algoritma
Algoritma adalah metode pemecahan masalah yang
menjamin suatu pemecahan masalah jika tersedia
kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkannya.
Sebagai contohnya adalah algoritma untuk memecahkan
anagram, yaitu suatu kelompok huruf-huruf yang dapat
diatur kembali menjadi bentuk suatu kata.
• Heuristic
Heuristic adalah suatu hukum yang terutama membantu kita untuk
menyederhanakan masalah. Metode ini meski tidak menjamin suatu
pemecahan masalah, tetapi akan mencoba atau berusaha untuk
mencapainya. Suatu metode heuristic mungkin hanya dapat bekerja
dengan baik untuk situasi tertentu, sementara metode yang lain
mungkin hanya digunakan untuk tujuan-tujuan khusus. Akan tetapi,
metode heuristic secara umum dapat digunakan untuk masalah-
masalah manusia yang lebih luas. n
1. Tahap Preparasi
Pada tahap preparasi (persiapan), pikiran harus
mendapat sebanyak mungkin informasi yang relevan
dengan masalah yang sedang dihadapi. Si pemikir harus
benar-benar mengoptimalkan pikirannya untuk mencari
pemecahan masalah melalui hubungan antara inti
permasalahan, aspek masalah, serta informasi yang
dimiliki.
Contoh: Pikiran akan berusaha untuk mengumpulkan
sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan
masalah
2. Tahap Inkubasi
Tahap inkubasi adalah tahap berpikir kreatif dan
pengatasan masalah di mana kejadian mental yang
tadinya digerakkan oleh persiapan yang direncanakan
secara intensif, mencapai pencerahan mandiri sehingga
tercapai pemahaman yang mengarah pada pengatasan
masalah. Pada tahap inkubasi, ketika proses pemecahan
masalah menemui jalan buntu, biarkan pikiran
beristirahat sebentar.
3. Tahap Iluminasi
Pada proses keempat, yakni iluminasi (inspirasi), proses
inkubasi berakhir, karena si pemikir mulai mendapatkan
ilham serta serangkaian pengertian (insight) yang
dianggap dapat memecahkan masalah.
Contoh: Masa inkubasi akan berakhir ketika pemikir
memperoleh semacam ilham, serangkaian insight yang
memecahkan masalah. Misalnya seperti: “Aha!”. Secara
tiba-tiba pemecahan masalah muncul dengan sendirinya.
4. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi terjadi setelah muncul pemecahan
masalahnya, dengan tujuan untuk menilai apakah
pemecahan masalah tersebut sudah tepat atau tidak. Bila
ternyata cara yang diajukan tidak dapat memecahkan
masalah, si pemikir harus memulainya lagi dari awal
pentahapan, untuk mencari ilham baru yang lebih tepat.
NAMA KELOMPOK :
1. DANTY KURNIAWATY KISSE
2. DESRENI NATALIA GADI LETE
3. DILA WASTI MELLA
4. ELISA TERMAS
5. ELITA ALFIANI SERAN
6. FATMAWATI DANILIA NIFU
7. FEBRINA ALPHONSA NDARUNG

TK I REGULER B D III KEPERAWATAN