Anda di halaman 1dari 21

KINGDOM ANIMALIA

Kelompok 3
Nama Anggota :
1. Alief TitanBakunin
2. Bima Sakti
3. Daffa Farras Zaki
4. Halimatu Sa’diyah
5. Nasywa Ambiya M
6. Reysma Natha M
Kelas : X MIPA 3

BIOLOGI
PLATYHELMINTHES
Platyhelminthes berasal dari kata Yunani yang berarti Platy = Pipih dan Helminthes = Cacing.
Definisi Platyhelminthes adalah cacing berbentuk pipih Triploblastik atau memiliki tiga lapisan
embrionik dan aselomata atau tubuh tidak berongga.
Cara hidup dan habitatnya yaitu ada yang hidup bebas dari air tawar,air laut atau tempat yang
lembab dengan cara memakan sisa-sisa organisme dan tumbuhan atau hewan kecil. Ada yang
bersifat endoparasit (parasit dalam tubuh inang) dan juga sebagai ektoparasit (memakan lendir dan
sel-sel di permukaan tubuh inang).
Ciri-ciri Platyhelminthes :
 Ukuran tubuh Platyhelminthes mulai dari 1 mm – 20 m
 Platyhelminthes termasuk hewan primitif
 Tidak memiliki sistem pernafasan dan sistem peredaran darah ( secara difusi )
 Sangat sensitif terhadap cahaya
 Gastrovakuler adalah sistem pencernaan Plathelminthes
 Alat indera berupa bintik mata,alat eskresi masih sangat sederhana
Cara Reproduksi :
1. Reproduksi secara seksual dengan pembuahan sel telur oleh sperma
2. Reproduksi secara aseksual dengan fragmentasi yaitu pemotongan beberapa bagian tubuhnya
Platyhelminthes
KLASIFIKASI
a. Turbellaria (Cacing berambut getar)
Turbellaria sebagian besar itu didasar laut,pasir,lumpur,atau dibawah batu karang. Dan
adapula yang hidup bersimbiosis dengan ganggang,serta bersimbiosis komensalisme di
rongga mantel mollusca dan insang crustaceae. Beberapa jenis Turbellaria hidup parasit
didalam usus mollusca dan rongga tubuh echinodermata. Salah satu jenis Turbellaria dapat
hidup di perairan dengan kadar oksigen yang rendah yaitu Pseudophaenocora banyak
ditemukan di daerah beriklim tropis.
Ciri-ciri Turbellaria :
 Memiliki bentuk tubuh lonjong panjang, pipih, dosoventral, dan tidak beruas-ruas
 Ukuran tubuh Turbellaria antara 0,5 mm – 60 cm
 Terdapat aurikel ( sisi kepala turbellaria membentuk tentakel)
 Tubuh Turbellaria berwarna hitam, coklat, klabu, merah/hijau sebab bersimbiosis dengan
ganggang
 Reproduksi secara seksual dengan mutual (dua individu saling bertukar sperma untuk
membuahi sel telur)
 Reproduksi secara aseksual dengan membelah diri (pertunasan).
Turbellaria
b. Cestoda (Cacing Pita)
Tubuh cacing pita ditutupi oleh kutikula tidak memiliki mulut dan alat pencernaan serta
tidak memiliki alat indera. Tubuh cacing dewasa terdiri atas kepala atau skoleks, leher pendek
atau strobillus dan proglotif. Skoleks dilengkapi alat penghisap atau sucker dan alat kait atau
rostellum untuk melekat pada organ tubuh inang. Leher merupakan daerah pertunasan,
dengan cara strobilasi menghasilkan strobillus berupa serangkaian proglotif dengan jumlah
mencapai 1000 buah setiap proglotif memiliki alat kelamin jantan & betina. Telur yang sudah
dibuahi akan memenuhi oleh uterus yang bercabang-cabang, sedangkan organ lainnya
berdegenerasi. Proglotif yang mengandung telur akan terlepas bersama tinja.
Daur hidup cacing pita membutuhkan satu atau dua inang perantara contohnya :
Taenia Sollium yang hidup parasit pada manusia dan hewan karnivora dengan inang
perantara babi. Dibothriocephalus latus memiliki inang utama manusia dan hewan
karnivora sedangkan inang perantaranya ikan. Taenia Saginata merupakan parasit di
usus manusia dengan inang perantara sapi.
c. Trematoda (Cacing Isap)
Trematoda (cacing isap/cacing hati). Trematoda disebut juga flukes. Mereka
memiliki bentuk tubuh lonjong hingga panjang yang dilapisi kutikula. Cacing dewasa
berukuran 0,2 mm – 6 cm. Trematoda hidup endoparasit pada ikan, amfibi, reptil,
burung, mamalia, termasuk juga manusia namun adapula yang endoparasit.
Trematoda memiliki satu atau dua penghisap untuk menempel pada inang.
Cacing ini memakan serpihan sel, lendir, dan darah inang. Contoh cacing hati pada
hewan ternak hebivora (Fasciola Hepatica), cacing hati pada manusia (Clonorchis
Sinentis), dan blood flukes (Schistosoma Japonicum, Schistosoma Mansoni). Cacing hati
pada hewan ternak herbivora memiliki inang perantara siput air tawar.
PERANAN – PERANAN :
1. Gyrodactylus salaris (salmon fluke) dari kelas Momogenea menyerang ikan di kolam
pembenihan.
2. Schistosoma mansoni (blood flukes) menyebabkan skistosomiasis. Skistosomiasis
menyebabkan terjadinya pendarahan pada saat mengeluarkan feses, menyebabkan
kerusakan hati, gangguan jantung dan limpa.
3. Cacing pita Taenia saginata, Taenia solium, dan Dipbothricepbhalus hidup parasit di
usus manusia
NEMATHELMINTHES
Nemathelminthes berasal dari kata yunani yang berarti Nema = benang, dan Helminthes =
cacing. Definisi Nemahelminthes adalah cacing yang berbentuk bulat panjang (gilik) atau seperti
benang. Nemathelminthes merupakan hewan triploblastik dan pseudoselomata (berongga tubuh
semu).
Cara hidup dan habitat Nemathelminthes ada yang hidup bebas, ada pula yang parasit
pada manusia. hidup bebas terdapat di tanah becek dan di dasar perairan, berperan untuk
menguraikan sampah organik, sedangkan yang parasit akan hidup di tubuh inangnya dan
memperoleh makanan dengan menyerap nutrisi dan darah dari inangnya.
Ciri-ciri Nemathelminthes :
 Memiliki tubuh berbentuk bulat panjang seperti benang dengan ujung-ujung yang meruncing.
 Memiliki ukuran tubuh yang mikroskopis, namun ada pula yang mencapai panjang 1 meter.
 Nemathelminthes dilapisi kutikula untuk melindungi diri dari enzim pencernaan yang berasal
dari inangnya.
 Sistem pencernaan cacing ini telah lengkap, terdiri dari mulut, faring, usus, dan anus. Mulut
terdapat pada ujung anterior
Cara Reproduksi :
 Nemathelminthes umumnya bereproduksi secara seksual karena sistem reproduksinya
bersifat gonokoris, yaitu alat kelamin jantan dan betinanya terpisah pada individu yang
berbeda.
KLASIFIKASI
a. Ascaris Lumbricoides (Cacing Perut)
Merupakan parasit di usus halus manusia yang menyebabkan penyakit askariasis dan
mengalami kekurangan gizi. Memiliki mulut yang dikelilingi tiga bibir dan gigi-gigi kecil.
 Cacing Betina
berukuran panjang 20-49 cm, diameter 4-6 mm, bagian ekor runcing lurus, dan dapat
menghasilkan 200.000 telur per-hari
 Cacing Jantan
berukuran panjang 15-31 cm, diameter 2-4 mm, bagian ekor runcing melengkung, dan
dibagian anus terdapat spikula yang berbentuk kait untuk memasukkan sperma ke tubuh
betina
b. Ancylostoma duodenale (Cacing Tambang)
Disebut sebagai cacing tambang karena sering ditemukan di daerah pertambangan
seperti di Afrika. Cacing ini hidup parasit di usus halus manusia dan menghisap darah
sehingga dapat menyebabkan anemia pada penderita ankilostomiasis.
 Cacing Betina
berukuran 12 mm, memiliki organ kelamin luar (vulva), dan dapat menghasilkan 10.000
sampai 30.000 telur per-hari.
 Cacing Jantan
berukuran 9 mm, dan memiliki alat kopulasi di ujung posterior yaitu terdapat mulut yang
dilengkapi 1-4 padang gigi kitin untuk mencengkram dinding usus inang
c. Oxyuris vermicularis (Cacing Kremi)
Cacing kremi berukuran 10-15 mm, cacing ini hidup di usus besar manusia terutama
pada anak-anak. Cacing dewasa betina menuju ke dubur pada malam hari untuk bertelur
dan mengeluarkan suatu zat yang menyebabkan rasa gatal. Cara penularan cacing kremi
disebut dengan autoinfeksi.
d. Wuchereria bancrofti (Cacing filaria atau cacing rambut)
Cacing ini hidup parasit di kelenjar getah bening (limfa), cacing ini menyebabkan
penyakit kaki gajah (elephantiasis) atau filariasis. Cacing dewasa berdiameter 0,3 mm,
cacing betina berukuran panjang 8 cm dan jantan berukuran panjang 4 cm.
e. Onchocerca volvulus
Merupakan cacing mikroskopis penyebab onchocerciasis (river blindness) yang
mengakibatkan kebutaan. Faktor pembawa adalah lalat kecil pengisap darah Black Fly
(simulium). Cacing ini banyak terdapat di afrika dan amerika selatan.
PERANAN – PERANAN
 Globodera rostochiensis, yang menjadi parasit pada tanaman kentang dan tomat, dan
sebagai vektor virus pada beberapa tanaman pertanian.
 Ascaris lumbricoides (cacing usus) dan Enterobius vermicularis (cacing kremi), menjadi
parasit pada manusia dan menyebabkan penyakit.