Anda di halaman 1dari 11

HUBUNGAN PENGETAHUAN

IBU DENGAN METODE


PERMAINAN EDUKATIF
BERUPA PUZZLE ANGKA DAN
MOZAIK TERHADAP
PERKEMBANGAN MOTORIK
HALUS ANAK USIA (3-4 TAHUN)

DESY NUR’AINI

1411020170
Latar Belakang

Bermain sebagai tingkah laku motivasi instrinsik yang dipilih


secara bebas, berorientasi pada proses yang disenangi. Bermain merupakan
wadah bagi anak untuk merasakan berbagai pengalaman seperti emosi,
senang, sedih, bergairah, kecewa, bangga, marah dan sebagainya. Anak akan
merasa senang bila bermain, dan banyak hal yang didapat anak selain
pengalaman (Simatupang, 2005).
Bermain dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan demi
kesenangan dan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Kegiatan tersebut
dilakukan dengan cara suka rela, tanpa paksaan, atau tekanan dari pihak luar
(Tadkirotun, 2005).
Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena
menyenangkan, bukan karena hadiah atau pujian. Melalui bermain semua
aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Dengan bermain secara bebas
anak dapat bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan
menemukan hal-hal baru. Melalui permainan anak juga dapat
mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik maupun
mental intelektual dan spiritual. Oleh karena itu, bermain bagi anak usia dini
merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek (Conny R. Semiawan,
2014).
Alat permainan edukatif merupakan alat permainan yang dapat
memberikan fungsi permainan secara optimal dan sering digunakan di negara
– negara barat, maka perkembangan motorik pada anak di indonesia tergolong
sangat rendah. Di Amerika, anak mulai berjalam pada umur 11- 12 bulan. Dan
anak – anak di Eropa antara 12- 13 bulan. Peneliian di Indonesia pada sampel
yang di teliti 14 bulan. Informasi yang cukup untuk menerangkan perbedaan
tersebut belum ada dan lingkungan ikut berperan. Penjabaran tersebut di atas,
menghasilkan suatu kesimpulan bahwa pemberian stimulasi untuk
mengembangkan kemampuan motorik merupakan hal yang urgen atau
penting (Thompson, 2008).
Kreativitas adalah kemampuan Kreativitas adalah kemampuan
seseorang untuk melahirkan sesuatu seseorang untuk mencipta yang
yang baru, baik berupa gagasan ditandai dengan orisinilitas dalam
maupun karya nyata yang relatif berekspresi yang bersifat imajinatif
berbeda dengan apa yang telah ada. (Anik Pamilu, 2007).
Kreativitas merupakan kemampuan
berfikir tingkat tinggi yang
mengimplikasikan terjadinya
eskalasi dalam kemampuan berfikir
di tandai oleh suksesi,
diskontinuitas, disferensisasi, dan
integrasi antara tahap
perkembangan (Yeni Rachmawati,
2005).
Permainan edukatif sangat diperlukan bagi anak- anak di masa sekarang, hal
tersebut dikarenakan sekarang banyak orang tua yang hanya memberikan
permainan di dalam gadget sehingga anak tidak dapat mengembangkan
imajinasi mereka untuk membentuk suatu kreativitas. Permainan edukatif
telah terbukti di berbagai negara barat sebagai salah satu metode permainan
konstruktif bagi anak. Kreatif anak dapa di lihat ketika mereka menggunakan
permainan edukatif ketika anak sedang merangkai puzzle angka dan bermain
mozaik di situ terlihat kemampuan anak yang benar – benar nyata.
Anak usia dini

Mansur, 2005
Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentan
usia 0-6 tahun (Undang- undang Sisdiknas tahun 2003) dan 0-
8 tahun menurut para pakar pendidikan anak.
Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada
dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat
unik. Mereka memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan
yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan
perkembangannya .
Pendidikan anak usia dini harus benar- benar
diperhatikan di era modernisasi sekarang ini. Orang tua pada
era sekarang lebih banyak menyuguhkan permainan instan
seperti video games, menonton youtube di smartphone. Hal
tersebut adalah jenis permainan yang sangat tidak
mengembangkan kreativitas berfikir anak, karena anak hanya
melihat permainan dari gambar saja tanpa menggerakan benda
nyata dan tanpa ada benda yang bisa di sentuh.
Tujuan Penelitian

Tujuan Umum Tujuan Khusus


Terimakasih