Anda di halaman 1dari 33

Oleh

Dita Linda Yani


f1072161022

Kajian dalam ekologi di kelompokkam dalam 2
bidang kajian yang berhubungan dengan tumbuhan,
menurut Resosoedarm (1984) :

1. Autekologi
2. Sinekologi
AUTEKOLOGI

 Merupakan ekologi yang mempelajari suatu spesies
organisme atau organisme secara individu yang
berinteraksi dengan lingkungannya.
JUDUL JURNAL :


AUTEKOLOGI Dipterocarpus elongates Korth.
DI CAGAR BIOSFER PULAU SIBERUT,
SUMATERA BARAT.
Isi Latar Belakang

 Pulau Siberut seluas 4.480 km merupakan bagian dari
gugus kepulauan Mentawai di Sumatera Barat yang telah
ditetapkan sebagai cagar biosfer dengan inti Taman
Nasional Siberut. Pulau Siberut terbagi dalam fungsi
hutan konservasi berupa Taman Nasional Siberut 190.500
ha, hutan produksi terbatas 42.050 ha, hutan produksi
tetap 95.900 ha, dan hutan produksi yang dapat
dikonversi, 74.450 ha (Direktorat Jenderal PHKA, 2003).
 Hutan di kawasan Siberut umumnya didominasi


oleh jenis-jenis dari famili Dipterocarpaceae, salah
satu dari genera yang dominan di kawasan tersebut
adalah Dipterocarpus.

 Pohon ini menghasilkan semacam damar/oleoresin


yang berguna untuk mendempul perahu, sebagai
pernis perabotan rumah atau dinding, serta obat
luka atau sakit kulit tertentu (Heyne, 1987).
Tujuan


 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek
ekologi jenis D. elongatus di daerah penyangga
taman nasional dan kemungkinan untuk restorasi
habitat primata endemik Siberut.
MATERI DAN METODE

A. Waktu dan Lokasi Penelitian
 Penelitian dilakukan pada dua lokasi di hutan
1. produksi eks PT. Koperasi Andalas Madani (PT. KAM) tahun
2007 yang terletak di tengah P. Siberut
2. PT. Salaki Suma Sejahtera (PT. S3) tahun 2009 yang terletak di
sebelah utara P. Siberut (pada koordinat 1°00' 25,20" LS, 98°45'
48,90" BT) pada tahun 2009,
3. hutan di Desa Madobag yang merupakan hutan adat daerah
penyangga Taman Nasional Siberut yang terletak di sebelah
selatan P. Siberut

 Lokasi penelitian terletak pada ketinggian 40-110 m
di atas permukaan laut dan termasuk hutan hujan
tropika dataran rendah. Kondisi topografinya
bergelombang dengan kelerengan antara 20-60%.
Jenis tanahnya didominasi oleh Oxisol dan
Inceptisol (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat,
2011).
Metode Penelitian

1. Plot Contoh

• Plot contoh dibuat secara purposive di areal eks PT. KAM, PT. S3,
dan hutan di Desa Madobag masing-masing tiga plot contoh,
berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 50 m x 50 m (0,25 ha).

• Di dalam plot bujur sangkar semua jenis pohon diukur diameter, tinggi
total, sedangkan tingkat belta (ukuran plot 5 m x 5 m) dan semai
(ukuran plot 2 m x 2 m) dihitung jumlah dan nama jenisnya, dalam satu
plot pohon dibuat empat sub plot di setiap sudut untuk permudaan.

• Plot contoh dibuat di hutan primer, bekas tebangan satu tahun, bekas
tebangan lima tahun, dan hutan desa
2. Analisis Data

 Pengukuran ketinggian tempat, kelerengan, kelembaban, dan suhu dilakukan secara
bersamaan.

 Data pohon dan parameter fisik lingkungan ditabulasikan dan dikelompokkan


berdasarkan kelas ketinggian tempat, yaitu 40-60 m, 61-100 m, dan 101-110 m.

 Di Desa Madobag keberadaan pohon D. elongatus dikumpulkan menurut kelas


kelerengan lahan yaitu < 10%, 11-20%, 21-30%, 31-40%, 41-50%, 51-60%, dan > 60%
akan didapatkan hubungan antara jumlah pohon dan kelas kelerengan, dibuat dalam
grafik.

 Hubungan diameter dan tinggi pohon dianalisis dengan regresi linier dan regresi
logaritmik.

 Untuk mengetahui asosiasi antara pohon D. elongatus dengan pohon lain digunakan
indeks Ochiai
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil

4.1. Sketsa Dipterocarpus


dan herbarium koleksi Gambar
Pusat Konservasi dan
Rehabilitasi tahun 1923
dari SumateraTimur

 Dipterocarpus elongatus memiliki karakteristik berbentuk pohon,
memiliki ketinggian mencapai 65 m, batang lurus, bulat silindris,
diamter batangnya dapat mencapai 260 cm.
 Ranting berambut, kasar/ halus, bekas daun penumpu terlihat
jelas. Daun berseling, tunggal, urat daun sekunder menyirip lurus,
helaian daun menggelombang dan melipat, daun penumpu besar,
serta cepat gugur. Buah memiliki ukuran yang besar, terbungkus
kelopak, berjumlah 5 buah bergerombol, masa berbunga dan
berbuah terjadi tiap 5 atau 6 tahun sekali (Gambar 4.1).
Gambar 4.2. Sebaran kelas diameter D. elongatus di
lokasi Desa Madobag
f


 Tumbuhan D. elongatus mendominasi tegakan di hutan tempat
penelitian dengan rataan 60 individu/ ha, namun walaupun
demikian diareal teresebut masih ditemukan beberapa jenis
tumbuhan yang umum dijumpai,
 hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara tumbuhan D,
elongatus dengan jenis lainnya, seperti dapat dilihat pada tabel 4.2.
Pertumbuhan dan persebaran D. elongatus sangat dipengaruhi oleh
pengelolaan serta pemanfaatannya oleh manusia, seperti
pemanenan buah dan pemanfaatan kayunya
Gambar 4.3. Hubungan kelerengan lahan dengan sebaran populasi
pohon D. elongatus dalam plot di hutan Desa Madobag


 Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa tumbuhan Aporosa
microsperma memiliki hubungan paling kuat dengan D. elonganus
dibandingkan tumbuhan lainnya.


 Asosiasi terjadi pada kondisi habitat yang seragam. Potensi D. elongatus
memiliki persebaran diameter yang beragam mulai dari < 20 cm, > 20
cm, > 50 cm, dan > 60 cm sesuai dengan yang ada pada tabel 4.4.

 Berdasarkan tabel tersebut, jumlah jenis di Desa Madobag paling


rendah, dikarenakan adanya pemanfaatan dari D. elongatus untuk
keperluan sehari – hari.

 Keberadaan D. elongatus pada lokasi tersebut di dominasi oleh pohon


besar, sedangkan pohon yang lebih kecil jumlahnya lebih sedikit
Gambar 4.4. Grafik hubungan antara tinggi dan diameter pohon D.
elongatus berdiameter < 10 cm (a) dan berdiameter ≥ 2 cm (b)


Gambar 4.5. Tegakan D. elongatus di kelerengan 43% di
hutan Desa Madobag


 Tabel 4.1. Kesuburan tanah habitat D. elongatus di
Siberut

 Tabel 4.2. Indeks nilai penting 10 pohon dominan di tiga


lokasi penelitian
 Tabel 4.3. Indeks asosiasi D. elongatus dengan sembilan jenis pohon
dominan lain di lokasi penelitian

 Tabel 4.4. Potensi D. elongatus diameter batang > 10 cm di beberapa


kondisi hutan di Siberut
 Tabel 4.5. Populasi D. elongatus di beberapa kondisi hutan di Siberut

 Tabel 4.6. Jumlah anakan D. elongatus di hutan Desa Madobag pada


berbagai ketinggian tempat
Kesimpulan
 Dipterocarpus elongatus Korth. (koka) adalah jenis dominan dengan nilai penting dan

kerapatan tertinggi di hutan Cagar Biosfer Siberut. Terdapat sembilan jenis dominan lain


dari 36-90 jenis di habitat koka dengan INP > 5% sebagai asosiasi pohon terhadap

keberadaan D. elongatus. Asosiasi terkuat dengan D. elongatus adalah Aporosa

microsperma Pax & K. Hoffmann dengan INP hampir sama 13,37-16,7% dan dengan

Indeks Ochiai 0,71.

 Habitat D. elongatus berada di lereng dan punggung bukit, pengelompokan D. elongatus

terbaik pada kelerengan 40-50%, tanah lempung dengan komposisi liat 41,7-76%, debu 8-

46,2%.

 Tinggi pohon dan diameter memiliki hubungan linier untuk pohon berdiameter ≤ 10 cm.

D. elongatus termasuk jenis Dipterocarpaceae yang cepat tumbuh dan toleran.

 Regenerasi D. elongatus di hutan alam sangat tergantung pada populasi semai. Populasi

semai di hutan primer adalah 5.000 anakan/ha, namun rendah pada hutan bekas

tebangan, sebagai dampak pemanfaatan kayu.


SINEKOLOGI

 Sering disebut juga dengan ekologi komunitas

 Yaitu kajian yang mempelajari komunitas makhluk hidup


sebagai suatu kesatuan yang saling berinteraksi antara
berbagai jenis makhluk hidup dengan lingkungan
disekitarnya
JUDUL JURNAL

STARTIFIKASI VEGETASI DAN DINAMIKA
POHON BERDASARKAN KOMPOSISI VERTIKAL
DAN HORIZONTAL DI PEGUNUNGAN SAWANG
BA’U KECAMATAN SAWANG KABUPATEN ACEH
SELATAN
ISI ABSTRAK


TUJUAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui dimensi (bentuk) atau struktur vertical dan


horizontal suatu vegetasi di gunung Sawang Ba’u dan
untuk memperoleh gambaran komposisi vertikal dan
horizontal dari suatu vegetasi.
METODE PENELITIAN

 Tempat dan objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kawasan gunung Sawang


Ba’u kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan.

Objek penelitian adalah semua jenis pohon yang terdapat


di setiap stasiun. pengambilan data di peroleh dengan
menggunakan metode Line Transek (transek garis), dilakukan
pada siang hari.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan di gunung sawang Ba’u
terdapat 3 stratum yaitu stratum kedua dan stratum ketiga
serta stratum ke empat. Pohon yang terdapat di gunung
sawang Ba’u, tinggi pohon rata-rata mencapai 25 m, dan
untuk memperoleh data tersebut maka diukur tinggi total
pohon (HT), tinggi cabang pohon pertama (HI), diameter at
breast heigh (DBH) dan dominansi atau konopi
Tabel 1. Jenis pohon di Setiap Stasiun yang Terdapat di
Pegunungan Sawang Ba’u


Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa terdapat 8
stasiun pengamatan dengan proses pengolahan data, diperoleh 169
individu, yang tergolong kedalam 32 spesies pohon dari 20 Famili.


Pengamatan pada tinggi total pohon (HT), DBH dan dominansi
(kanopi) yang diamati di gunung sawang Ba’u kecamatan sawang
kabupaten aceh selatan, tumbuhan yang memiliki ukuran pohon paling
tinggi adalah 27,5 m pada Baccaurea macrocarpa, diameter (DBH) paling
besar terdapat pada Artocarpus heterophyllus, Swietenia macrophylla
yaitu berukuran 74,5 cm sedangkan dominansi tertinggi terdapat pada
pohon Myristica fragrans dengan jumlah dominansi 90 .

Dari ke 8 stasiun diperoleh nilai kerapatan paling tinggi adalah


0.043 yang terdapat pada stasiun 8, sedangkan nilai kerapatan terendah
adalah 0.014 terdapat pada stasiun 1.

Gambar 1. Grafik jumlah spesies yang didapatkan pada semua stasiun pengamatan.

Berdasarkan hasil garfik diatas diketahui bahwa jumlah individu dari


8 statiun adalah 169 individu dengan jumlah spesies 32 dari 20 famili, famili
yang mendominasi yaitu, Areceaceaea, Verbenaceae, Combretaceae,
Myrtaceae dan Oxalidaceae. Famili yang paling banyak ditemukan disetiap
statiun adalah famili dari Arececeaea dan famili yang paling sedikit adalah
Pipereceae.
KESIMPULAN

Hasil penelitian terdapat 32 spesies dari 20 Famili diantaranya: Oxalidaceae,

Arecaceae, Sterculiaceae, Myristicaceae, Combretaceae, Rubiaceae, Moraceae,

Verbenaceae, Phyllanthaceae, Anacardiaceae, Malvaceae, Piperaceae, Lamiaceae,

Verbenaceae, Annonaceae , Rutaceae, Lythraceae, Sapindaceae, Moraceae, Meliaceae,

dari 20 famili tersebut yang paling banyak di seluruh stasiun yaitu, Arecaceae,

Meliaceae, Moraceae dan Malvaceae. Sedangkan famili yang paling sedikit yaitu:

Oxalidaceae, Sterculiaceae, Combretaceae, Rubiaceae, Verbenaceae, Phyllanthaceae,

Anacardiaceae, Piperaceae, dan Lamiaceae.

Nilai kerapatan Dari ke 8 stasiun diperoleh nilai kerapatan paling tinggi

adalah 0.043 sedangkan nilai kerapatan terendah adalah 0.014 terdapat pada stasiun 1.