Anda di halaman 1dari 20

`

Pengukuran dalam
Fisika
Pengertian-pengertian dasar

- Mengukur
- SI (Standard Internasioanl)
- Akurasi (accuracy) dan Presisi (Precision)
- Angka Penting (Significant Figures)
- Ketakpastian (Uncertainty) dan Kesalahan (Mistakes)
 “Bahasa” Fisika
- berupa pernyataan matematik, baik dengan kata2
ataupun dengan angka2.
Mengukur adalah membandingkan besar/nilai obyek yang
diukur dengan besaran yang digunakan sebagai ukuran
baku (standard).

Lihat artikel di:


http://en.wikipedia.org/wiki/International_System_of_Units

Atau: klik di sini


Besaran Dasar dalam SI (fundamental units)

Besaran dan Satuan Dasar:


Panjang – meter (m) Waktu – sekon (s)
Massa - kilogram (kg) Suhu - kelvin (K)
Arus Listrik – ampere (A)
Kuat penerangan - candela (cd)
Jumlah zat – mole (mol) – 6.02 x 1023

Besaran dan satuan turunan: contoh

kecepatan (v) = jarak/waktu m/s


percepatan (a)= kecepatan/waktu m/s/s = m/s2
gaya (F) = massa x percepatan kg m/s2 = N (newton)
energi (E) = gaya x jarak kgm2/s2 = Nm = J (joule)
muatan (Q) = arus x waktu A s = C (coulomb)
- Presisi dan akurasi

“It’s better to be roughly right than precisely


wrong”

– Allan Greenspan, U.S. Federal Reserve Chairman (retired)


Presisi dan Akurasi
Presisi
Presisi dari serentetan pengukuran adalah gambaran tentang
kesesuaian hasil pengukuran yang satu dengan yang lain.
Presisi menggambarkan bagaimana ‘baiknya’ hasil pengukuran telah
diperoleh, dan memberikan gambaran tingkat perolehan kembali
(reproducibility) dari pengukuran.

Akurasi
Akurasi dari suatu pengukuran adalah gambaran seberapa dekat hasil
pengukuran terhadap harga sesungguhnya dari besaran yang diukur.
Ilustrasi:

Dalam proses pengukuran fisika, kedua sifat (presisi dan


akurasi) sama-sama penting, dan harus dicapai sebaik-baiknya.
Angka Penting (Significant Figure)

Angka penting adalah angka2 yang digunakan untuk menyajikan hasil


pengukuran, yang memberikan gambaran tingkat presisi pengukuran.
Dua orang yang mengukur nilai percepatan gravitasi dengan hasil: 9.625
ms-2 and 9.8 ms-2 , maka yang pertama menggunakan angka penting yang
lebih banyak, dan oleh karenanya lebih presisi, - tetapi yang kedua lebih
akurat.

Aturan Umum: Dari penyajian angka hasil pengukuran


1. Angka paling kiri bukan nol adalah angka paling penting

2. Jika tidak ada koma desimal, maka angka paling kanan yang
bukan nol, adalah angka yang paling kurang penting.

3. Jika terdapat koma desimal, maka angka paling kanan


adalah angka paling kurang penting, termasuk jika nilainya
nol.
4. Angka penting adalah semua digit dari angka paling
penting sampai angka paling kurang penting.
Contoh:
Angka penting:

Banyaknya Contoh:
angka penting
Satu 1
10
001
0,001, dsb.
Dua 1,4
12
160
0,00032, dsb.
Tiga 123
12,3
1230
0,0123
 Bekerja dengan angka penting
Ketika menjumlahkna/mengurangkan angka penting, hasilnya tidak
boleh memiliki presisi lebih baik dari angka dengan presisi paling rendah
yang dijumlahkan/dikurangkan.
Contoh: Hasil: 30.24 m

24.686 m + 2.343 m + 3.21 m Sesuai dengan angka


pada 3.21m yang memiliki
presisi paling rendah.

Ketika mengalikan/membagi maka hasilnya sesuai dengan faktor


yang memiliki angka penting paling sedikit.
Hasil: 6.8 cm2
Contoh: 3.22 cm x 2.1 cm
Sesuai dengan faktor 2.1 cm
yang memiliki hanya 2 angka
penting
Catatan: angka penting hanya terkait dengan hasil pengukuran, bukan
dengan hasil hitung2an matematik.
Misal, anda menentukan perioda ayunan, dengan menghitung masing2
waktu dari sepuluh ayunan. Nilai waktu yang anda dapatkan mungkin
mengandung ketakpastian, tetapi hitungan sepuluh ayunan itu tidak.
Kesalahan pada Pengukuran

Kesalahan pengukuran (error) dibedakan menjadi dua:

(1) Kesalahan Sistematik (Systematical Error)


Kesalahan Sistematik adalah kesalahan yang terjadi pada suatu
pengukuran yang disebabkan oleh karena kesalahan alat
(kerusakan, kesalahan kalibrasi, dsb.), atau berasal dari kesalahan
rancangan eksperimen.
Kesalahan ini menghasilkan penyimpangan yang tetap.

(2) Kesalahan Rambang (Random Error)


Kesalahan rambang adalah kesalahan yang berasal dari pelaku
pengukuran. Bersifat tidak terduga, dan tidak bisa ditentukan kapan
terjadinya.
Kesalahan pada Pengukuran
• Jika suatu besaran fisik diukur berkali-kali,
maka akan terjadi sebaran hasil
pengukuran yang disebabkan oleh adanya
ralat rambang. Untuk itu, nilai terbaik dari
hasil pengukuran diberikan oleh harga
rata-ratanya.
• Rata-rata dari hasil pengukuran n kali
terhadap besaran x, diberikan oleh jumlah
nilai rata-rata dibagi banyaknya
pengukuran.
 Measurements in physics
- Dealing with uncertainties

If you measured a length of string to be 24.5 cm long this is called a


“raw value” because the string is not perfectly straight and there is
some interpretation of the scale involved at each end of the ruler. So
next you need to estimate the “absolute uncertainty” which could be
0.2 cm.

Because repeated measurement or a more precise measurement


might reveal the string’s length to be slightly longer or slightly
shorter than the initial value we must express the uncertainty as
“plus or minus the absolute uncertainty”.

Therefore: l  l = 24.5 cm  0.2 cm = (24.5 0.2) cm

Rules:
1. When adding experimental uncertainties to measured or calculated
values, uncertainties should be rounded to one significant figure.
2. The last significant figure in any stated answer should be the same
order of magnitude (in the same decimal position) as the uncertainty
 Measurements in physics
- Dealing with uncertainties

Suppose you have the following repeated measurement of a measured


length. Which measurement is the right one?

Clearly the data falls within  0.07 cm of the mean


Trial Length So you might think length = 25.43  0.07 cm
(cm)
1 25.45 But… There is uncertainty in the tenths place - it
2 25.40 varies from 3 to 5 so back off and write…
3 25.50 length = 25.4  0.1 cm
4 25.42
But… the measurement 25.50 cm looks out of place
5 25.38
with the rest of the data so it we ignored it and ran the
average again we could get a more precise
Mean 25.43 measurement….
value
length = 25.41  0.04 cm
 Measurements in physics
- Pure Numbers

Lets say you measure the thickness of 100 sheets of paper (26  1mm)
and want to know the thickness of a single sheet.

Rule: When you multiply of divide by pure numbers you multiply


or divide the absolute uncertainty by the pure number.
So one sheet is (0.26  0.01)mm

Now lets say you measure the diameter of a circular object (D = 4.6
 0.2 cm) and want to determine the circumference using c = 2r.

r = D/2 so r  r = (2.3  0.1) cm and c = 2r

c  c = 2 (rr) = 2 (2.3  0.1) cm

c  c = 14.4513 cm  0.6283 cm = (14  1) cm


 Measurements in physics
- Combining uncertainties in calculations:

If you add or subtract, add absolute uncertainty

If you multiply or divide, find difference between the actual


and the maximum and minimum calculated values using
the absolute uncertainties.
A rectangular metal plate has length, L = (363)mm and width, W = (18 1)mm
what is its circumference?

Cabsolute = 2L + 2W = 2(L+W) = 2(36mm + 18mm) = 108mm

C = 2(L + W) = 2(3mm + 1mm) = 8mm


C = (108 8)mm

What is the area of the plate?

Aabsolute = L x W = 36mm x 18mm = 648 mm2

Amax = Lmax x Wmax = 39mm x 19mm = 741 mm2


Amin = Lmin x Wmin = 33mm x 17mm = 561 mm2
A / 2 = 741 – 648 = 93
A / 2 = 648 – 561 = 87

A = Aabsolute  A = (648  93)mm2 = 650  90mm2 = (6.5 0.9)x102 mm2


 Measurements in physics
- Accuracy and systematic uncertainty

The accuracy of a measurement is its relation to the true, nominal,


or accepted value. It is sometimes expressed as a percentage
deviation from the known value. The known or true value is often
based upon reproducible measurements.

Instruments might not be accurate. A two-point calibration can be


used to check. Does the instrument read zero when it should and
does it give a correct value when it is measuring an accepted value

Systematic uncertainty effects the accuracy of a measurement because it


comes from a source of error that is constant throughout a set of
measurements. The measurements are consistently shifted in one
direction.
A common source of systematic error is not zeroing your measuring
instrument correctly so that all data is constantly shifted away from the true
value. This can give high precision but poor accuracy.
 Measurements in physics
- Accuracy and systematic uncertainty
- Percentage Deviation

The accuracy of a measurement is sometimes expressed as a


percentage deviation from the known value. The known or true
value is often based upon reproducible measurements.

Your value - Actual value


Percent Difference   100%
Actual value

For example, if a student determines experimentally the acceleration due to


gravity is 9.5 m/s2 but the known value is taken as 9.8 m/s2 then …..

9.5 - 9.8
Percent Difference   100%  3.1%
9.8
 Measurements in physics
- Mistakes

Mistakes on the part of the individual such as..

• Misreading scales (using equipment incorrectly)

• Poor arithmetic and computational skills

• Wrongly transferring raw data to the final report

• Using the wrong theory and equations

These are a source of error but ARE NOT considered a source of


experimental error
 Language of physics
- Mathematical Expressions and Validity
Physicists use the tools of mathematics to describe measured or
predicted relationships between physical quantities in a situation.

A physical equation is a compact statement based on a model of the


situation
Like most models, physics equations are only valid if they can be used to
make predictions about situations. Physical expressions can be checked
for validity a number of ways;

1. through an experiment
2. through dimensional analysis
3. by order of magnitude estimation

Lets say that you are trying to find the mass of an object using, M = V / 
Dimensionally: m3 / kg/m3 = m3 m3 / kg = m6 / kg not kg
So the variables are in the incorrect order! (M = V )