Anda di halaman 1dari 10

“ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN SINDROM NEFROTIK”

Oleh: Kelompok V / Kelas B18

Sis Sukarno 22020118183016

Yunita A. Koroh 22020118183017

Yuwant 22020118183025

Nanang Apriyanto 22020118183026

Benediktus Aleksander B. 22020118183032


Pengertan SINDROM NEFROTIK

• Nefrotik sindrom merupakan gangguan klinis


ditandai oleh :
(1) Peningkatan protein dalam urin secara bermakna
(proteinuria)
(2) Penurunan albumin dalam darah
(3) Edema
(4) Serum kolesterol yang tinggi dan lipoprotein
densitas rendah (hiperlipidemia).
Klasifikasi Sindrom Neprotk
1. Sindrom Nefrotk Primer
– Minimal change disease (MCD
– Focal segmental glomerulosclerosis
– Membranoproliferative glomerulonephritis
2. Sindrom Nefrotk Sekunder
– Diabetes;
– Henoch-Schönlein Purpura
– Hepatitis;
– Human Immunodeficiency Virus (HIV);
– Lupus;
– Malaria;
– obat-obatan tertentu, seperti aspirin, ibuprofen, atau obat antiinflamasi nonsteroid
(NSAID) lainnya serta paparan bahan kimia seperti merkuri dan lithium.
3. Sindrom Nefrotk Kongenital
– Cacat genetik bawaan, merupakan masalah yang diturunkan dari orangtua ke anak
melalui gen;
– Infeksi pada saat kelahiran.
Pathway Sindrom neprotk
Manifestasi klinis

• pitting edem
– di sekitar mata (periorbital),
– area ekstremitas (sakrum, tumit, dan tangan),
– pada abdomen (asites).
• malaise, sakit kepala, iritabilitas dan keletihan
umumnya terjadi.
Pemeriksaan Penunjang
• Urinalisis
Proteinuria berkisar 3+ atau 4+ pada pembacaan dipstick
• Pemeriksaan sedimen urin
epitel sel yang mengandung butir-butir lemak, kadang-kadang dijumpai
eritrosit, leukosit, torak hialin dan torak eritrosit.
• Pengukuran protein urin
kadar protein urin per hari sebanyak ≥ 3g.
• Albumin serum
– Kualitatif : ++ sampai ++++
– Kuantitatif :> 50 mg/kgBB/hari (diperiksa dengan memakai reagen
ESBACH)
• Pemeriksaan serologis untuk infeksi dan kelainan imunologis
• USG renal: terdapat tanda-tanda glomerulonefritis kronik.
• Darah
Protein total menurun
ureum, kreatinin dan klirens kreatinin normal
Penatalaksanaan

• bertujuan untuk mempertahankan fungsi


ginjal.
• Menjaga pasien dalam keadaan tirah baring
• intake protein
• Jika edema berat, pasien diberikan diet rendah
natrium; diuretik; adrenokortikosteroid
(Prednison) digunakan untuk mengurangi
proteinuria (Brunner & Suddarth, 2001).
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian dan Analisa Data
• Identitas
– Umumnya 90 % dijumpai pada kasus anak. Rasio laki-laki dan
perempuan yaitu 2:1.
• Riwayat Kesehatan.
• Keluhan utama: edema anasarka, muka sembab dan napsu makan
menurun;
• Riwayat penyakit dahulu: edema masa neonatus, malaria, riwayat GNA
dan GNK, terpapar bahan kimia;
• Riwayat kesehatan keluarga: karena kelainan gen autosom resesif
• Riwayat kehamilan dan persalinan: tidak ada hubungan.
• Riwayat kesehatan lingkungan: endemik malaria sering mengakibatkan
terjadinya kasus SN.
• Riwayat pertumbuhan dan perkembangan anak:
• Riwayat nutrisi:
Pengkajian per-sistem:

• Sistem pernapasan: Frekuensi pernapasan 15 – 32


X/menit, rata-rata 18 X/menit, efusi pleura karena
distensi abdomen;
• Sistem kardiovaskuler: Nadi 70 – 110 X/mnt, tekanan
darah 95/65 – 100/60 mmHg, hipertensi ringan bisa
dijumpai;
• Sistem persarafan: dalam batas normal;
• Sistem perkemihan: urine/24 jam 600-700 ml,
hematuri, proteinuria, oliguria;
• Sistem pencernaan: diare, napsu makan menurun,
anoreksia, hepatomegali, nyeri daerah perut,
malnutrisi berat, hernia umbilikalis, prolaps anii;
• Sistem integumen: edema periorbital, asites;