Anda di halaman 1dari 20

KELOMPOK 7

Bunga Maharani (1607531160)

Ika Sawitri (1607531162)

Pranata Eka (1607531160)


KASUS SFAS NO
2
4

○ Relevansi Informasi
○ Nilai Umpan Balik dan Nilai Prediksi
SFAS NO 2
sebagai Unsur Relevan
○ Ketepatanwaktu
○ Keandalan Infomasi
○ Representational Faithfulness
5

Sifat dan karakteristik industri minyak


dan gas bumi berbeda dengan industri
KASUS SFAS
lainnya. Sebagai akibat dari sifat dan
NO 2
karakteristik dari industri minyak dan gas
bumi, maka terdapat beberapa perlakuan
akuntansi khusus untuk industri tersebut
yang berbeda dengan industri lainnya.
6

Seperti:
o Adanya sifat untung-untungan (gambling) dari usaha explorasi
KASUS SFAS menimbulkan beberapa alternatif dalam penggunaan metode
pengakuan biaya atas cadangan yang tidak berisi minyak atau gas (dry
NO 2 hole).
o Ada pendapat yang menyatakan bahwa pengakuan biaya harus
dikaitkan dengan aktivitas sampai diketemukannya cadangan minyak
atau gas di suatu negara, sehingga semua biaya yang terjadi
ditangguhkan dan akan dikapitalisasi sebagai bagian dari cadangan
minyak yang ditemukan di negara tersebut.
o Pendapat lain menyatakan bahwa biaya yang terjadi untuk pencarian
minyak dan gas harus dikaitkan dengan hasil dari aktivitas pencarian
suatu cadangan. Biaya tersebut akan dikapitalisasi bila cadangan
tersebut dalam kenyataan berisi minyak atau gas dan sebaliknya
akan dinyatakan sebagai beban kalau cadangan tersebut tidak berisi
minyak atau gas.

7

.
Perbedaan perlakuan akuntansi terjadi karena adanya perbedaan
pandangan dalam perlakuan biaya yang dikapitalisasikan, beban yang
diakui serta perhitungan amortisasinya. Sehingga perbedaan
tersebut pada akhirnya memperkenalkan konsep pencatatan
biaya dengan dasar Full Cost Method (FC) dan Successful Effort
Method (SE) yang pada akhirnya mengakibatkan perbedaan pada
laporan keuangan yang dihasilkan.
KASUS SFAS NO
33
9
Pada tahun 1970, FASB mengeluarkan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(Statement of Financial Accounting Standards-
SFAS) No. 33 Berjudul ”Pelaporan Keuangan dan
SFAS NO 33 Perubahan Harga”, pernyataan ini mengharuskan
perusahaan-perusahaan AS yang memiliki
persediaan dan aktiva tetap yang bernilai lebih
dari $125 juta atau total aktiva lebih dari $1
miliar, untuk selama lima tahun mencoba
melakukan pengungkapan daya beli konstan, biaya
historis dan daya beli konstan biaya kini.
Pengungkapan ini lebih bersifat melengkapi dan
bukan menggantikan biaya historis sebagai
kerangka dasar untuk laporan keuangan utama.
10

Banyak pengguna dan penyusun informasi


keuangan yang telah sesuai dengan SFAS
KASUS SFAS
No.33 menemukan bahwa :
NO 33
o Pengungkapan ganda yang diwajibkan
oleh FSAB membingungkan
o Biaya untuk penyusunan pengungkapan
ganda ini terlalu besar
o Pengungkapan daya beli konstan biaya
historis tidak terlalu bermanfaat bila
dibandingkan data biaya kini.

11

FASB memutuskan untuk tetap memakai biaya


historis nominal sebagai dasar laporan
. spesifik
keuangan. SFAS No. 33 secara
menjelaskan pengaruh perubahan harga
seharusnya disajikan sebagai informasi
tambahan dalam laporan tahunan.
Didukung dengan pendekatan dolar yang
stabil akan sama baiknya dengan
pendekatan nilai sekarang. FASB
menyimpulkan perusahaan seharusnya
melaporkan informasi tambahan selain
informasi utama dengan pendekatan
12
Selama pelaporan dolar konstan, SFAS mensyaratkan
pengungkapan atas :
o informasi pendapatan dan operasi selanjutnya selama pajak
tahunan beredar berbasis kos historis atau dolar konstan.
o Keuntungan atau kerugian daya beli atas nilai moneter
bersih untuk pajak tahunan.

Mengenai nilai sekarang, hal yang perlu diungkapkan


selanjutnya adalah:
o informasi pendapatan dari operasi berkelanjutan untuk
peredaran pajak tahunan berdasarkan basis biaya sekarang.
o jumlah dari biaya sekarang dari persediaan properti, tanah
dan perlengkapan di akhir peredaran pajak tahunan.
o peningkatan atau penurunan untuk peredaran pajak
tahunan dalam harga sekarang sejumlah nilai persediaan
13

Akibat adanya inflasi selama awal tahun 1980 menyebabkan adanya


kemunduran yang dramatis. Ditambah lagi masalah pengukuran yang
digunakan, pertanyaan tentang pengertian dan penggunaan untuk tujuan
prediktif. Akhirnya menjadikan SFAS No. 33 gagal dan FASB menerbitkan
panduan (SFAS 89) untuk membantu perusahaan yang melaporkan pengaruh
pernyataan atas harga yang berubah dan menjadi titik awal untuk standar
akuntansi inflasi dimasa depan.

!
KASUS
STANDAR
PENGUKURAN
INSTRUMEN
KEUANGAN
15

Instrumen keuangan (financial instruments)


adalah setiap kontrak yang menambah nilai aset
keuangan (financial assets) entitas dan liabilitas
INSTRUMEN keuangan (financial liability) atau instrumen
KEUANGAN ekuitas (equity instruments) entitas lain.

Instrumen keuangan diukur pada pengakuan awal


sebesar nilai wajar ditambah dengan biaya
transaksi kecuali untuk instrumen yang diukur
dengan menggunakan nilai wajar. Pengukuran
instrumen keuangan sebesar nilai amortisasi,
premium dan diskon dimartisasi dengan
menggunakan effective interest rate.

16

PSAK No. 55 (revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan


dan Pengukuran telah banyak mengadopsi IAS 39 dibandingkan PSAK
No. 55 (1999). Ada perbedaan yang mendasar pada pengukuran awal
(initial measurement) antara PSAK 55 (1998) dengan PSAK 55 (revisi
2006). Sebelumnya, semua instrumen keuangan dikur pada
pengukuran awal sebesar historical cost, namun menurut PSAK No. 55
(revisi 2006), pengukuran nilai awal instrumen keuangan berdasarkan
fair value-nya. Khusus untuk Held to Maturity, fair value tersebut
ditambah dengan biaya-biaya yang berhubungan langsung dengan
akuisisi ataupun penerbitan instrumen keuangan tersebut.
17

Kasus perjanjian pembelian kembali (repurchase


KASUS agreement), perusahaan menjual financial asset
STANDAR dengan perjanjian bahwa financial asset tersebut
akan dibeli kembali pada harga yang ditetapkan
PENGUKURAN
atau pada harga jual semula ditambah
INSTRUMEN keuntungan. Dalam kasus ini, walaupun terjadi
KEUANGAN transfer financial asset dan juga arus kas atas aset
yang ditransfer, perusahaaan masih memiliki
kontrol terhadap financial asset yang ditransfer
melalui hak membeli financial asset tersebut
kembali. Karena hal tersebut, maka financial asset
yang telah ditransfer tersebut masih tetap dicatat
di Balance sheet.
18

Dari contoh tersebut, walaupun sebuah entitas masih memiliki hak


kontraktual untuk menerima arus kas dari financial asset, entitas tersebut
masih dapat mengakui adanya transfer keuangan jika dia memiliki kewajiban
kontraktual untuk membayar arus kas yang diterima tersebut kepada satu
atau pihak lain sesuai kesepakatan dan memenuhi syarat. Dimana hal ini
telah dijelaskan pada PSAK No. 55 (revisi 2006) paragraf 16. Transaksi ini tidak
diatur pada PSAK No. 50 (1998), dan oleh IAS diistilahkan sebagai “pass trough
arrengement”. Transaksi ini biasanya ditemui pada sekuritisasi ataupun
spesial purpose entities (SPE).
!
19

Kasus Transfer of Financial Asset Yang Tidak


KASUS Memenuhi Derecognition
STANDAR
PT A menjual instrumen utang yang diterbitkan
PENGUKURAN
oleh PT B dengan harga Rp 5.000.000 dan
INSTRUMEN memberikan jaminan atas default asses atas
KEUANGAN instrumen utang yang dijual tersebut. Hakikatnya
PT A tetap menahan hampir seluruh resiko dan
manfaat dari instrumen tersebut sehingga tidak
dapat diperlakukan sebagai pelepasan asset. Di
sisi lain perusahaan akan mengakui kewajiban.
20

Thanks!
Any questions?