Anda di halaman 1dari 98

Keperawatan Anak

“Asuhan Keperawatan Keganasan Pada Anak”


KELOMPOK 6
CITRA WIDIASTUSI
FAIZAL FAHMI
MALIA NURZAKIAH
RHADIKA AYU
SYIFA FAUZIAH
Elsa Kelompok 4 : kenapa osteosarcoma terjadi pada tulang yang panjang ?
Delis Kelompok 1 : apakah tumor wilms mengganggu psikologi dan perkembangan pada
anak ?
Teni Kelompok 8 : askep post operasi osteosarcoma ?
Winda Kelompok 3 : faktor yang paling banyak menyebabkan leukemia
Vira kelompok 2 : apakah anak yg terserang kanker akan terserang lagi ?
Ivania kelompok 5 : bagaimana askep pada klasifikasi leukemia ?
Syifa kelompok 7 : intervensi keperawatan sebelum operasi ?
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Menjadi ilmu tambahan dalam mata kuliah Keperawatan
Anak khususnya dalam Asuhan Keperawatan Keganasan
Pada Anak.
2. Lebih mengetahui dan memahami dengan penyakit
Leukimia, Osteosarkoma, Rabdomiosarkoma,
Retinoblastoma dan Tumor Wilms (nefroblastoma).
3. Dapat dijadikan pembelajaran dalam aplikasi
keperawatan lainnya.
KEGANASAN PADA ANAK
LEUKIMIA

Tumor Wilms OSTESARKOMA


(Nefroblastoma)

Retinoblastoma RABDOMIOSARKOMA
LEUKIMIA
Definisi Leukimia
Leukemia merupakan produksi sel darah putih yang
berlebihan, jumlah leukosit dalam bentuk akut
sering kali rendah (sehingga dinamakan leukemia).
Sel-sel imatur ini tidak dengan sengaja menyerang
dan menghancurkan sel darah normal atau jaringan
vaskuler. Penghancuran sel terjadi melalui infiltrasi
dan kompetisi yang terjadi kemudian pada unsur-
unsur metabolik.
Etiologi Leukimia
Penyebab leukemia pada manusia tetap belum diketahui akan tetapi
beberapa faktor predisposisi atau faktor yang berperan telah diketahui
termasuk faktor lingkungan dan genetik serta keadaan imuno defisiensi.
Virus Epsteinbarr dengan limfoma burkit memberi kesan bahwa agen
infeksius memegang peranan pada leukemia manusia. Virus limfotropik
sel T manusia (HTLV)-1 berhubungan dengan sel-T leukemia dewasa, dan
HTLV II dengan leukemia sel berambut (hairy cell) manusia. Meskipun
telah dilakukan observasi seperti ini, tidak ada bukti langsung yang
meghubungkan segala virus dengan jenis leukemia yang sering terjadi
pada anak.
Patofisiologi Leukimia
Leukemia merupakan proliferasi tanpa batas sel darah putih yang imatur dalam jaringan tubuh yang membentuk darah.

Bukan suatu “tumor”, sel-sel leukemia memperlihatkan sifat neoplastik yang sama seperti sel-sel kanker yang solid

Kedaan patologi dan menifestasi klinisnya disebabkan oleh infiltrasi dan penggantian setiap jaringan tubuh dengan sel-sel
leukemia nonfungsional

Organ-organ yang terdiri banyak pembuluh darah, seperti limpa dan hati merupakan organ yang terkena paling berat

Sel-sel imatur ini tidak dengan sengaja menyerang dan menghancurkan sel darah normal atau jaringan vaskuler

Penghancuran sel terjadi melalui infiltrasi dan kompetisi yang terjadi kemudian pada unsur-unsur metabolik

Pada semua tipe leukemia sel-sel yang berproliferasi menekan produksi unsur-unsur darah yang terbentuk dalam sumsum tulang
melalui kompetisi dengan sel-sel normal dan perampasan hak-haknya dalam mendapatkan unsur gizi yang esensial bagi metabolisme
Klasifikasi Leukimia
Akut Limfoblastik
Leukemia (ALL)

Akut Mieloid
Leukemia (AML)

Chronic Mielogenosa
Leukemia (CML)
1. Akut Limfoblastik Leukemia (ALL)
Penyakit ini terdapat pada 20% orang dewasa yang menderita leukemia, keadaan ini
merupakan kanker yang paling sering menyerang anak-anak di bawah umur 15 tahun
dengan puncak insidens antara umur 3 dan 4 tahun. Manisfestasi berupa poliferasi
limfoblas abnormal dalam sumsum tulang dan tempat-tempat ekstramedular.
Gambaran klinis ALL cukup bervariasi dan gejala nya dapat tampak tersembunyi atau
akut. Beberapa pasien menderita infeksi atau pendarahan yang mengancam jiwa saat
diagnosis, sedangkan asimtomatis dengan leukemia yang terdeteksi selama pemeriksaan
fisik rutin. Akan tetapi sebagian besar pasien memiliki riwayat penyakit 3 atau 4 minggu
sebelum penyakitnya terdiagnosis, yang dimanifestasikan oleh satu atau lebih tanda dan
gejala seperti : pucat, mudah memar, letargi, anoreksia, malaise, demam intermiten,
nyeri tulang, atralgia, nyeri perut dan pendarahan. Pada pemeriksaan fisik akan
ditemukan hal-hal sebagai berikut : pucat, petekie, dan ekimosis pada kulit atau
membrane mukosa, pendarahan retina, pembesaran kelenjar getah bening,
hepatosplenomegali, nefromegali, dan nyeri tekan pada tulang.
2. Akut Mieloid Leukemia (AML)
Gambaran klinis leukemia mieloblastis akut merupakan suatu kelompok penyakit
yang heterogen yang memberikan prognosis buruk. AML terjadi kira-kira 20%
dari leukemia akut pada anak. Insiden AML kurang dari 1 per 100.000 anak setiap
tahunnya kira-kira 370 pasien baru setiap tahun adalah anak yang berusia kurang
dari 15 tahun di Amerika Serikat.
3. Chronic Mielogenosa Leukemia (CML)
Merupakan suatu penyakit yang dicirikan oleh elevasi yang cukup besar dan
jumlah leukosit darah tanpa akumulasi dari segala bentuk dan belum
menghasilkan granulosit matang (Athens, 2004).
Penyebab leukemia myeloid kronis (CML) adalah tirosin konstitutif BCR-ABL
aktifkinase. Imatinib menghambat kinase ini dan dalam studi jangka pendek
lebih unggul dari pada interferon alfa plus sitarabin untuk baru di diagnosis CML
dalam tahap kronis (Druker et.al., 2006).
Manifestasi klinis Leukimia
Pilek tidak sembuh-sembuh& sakit kepala

Pucat, lesu, mudah terstimulasi, Merasa lemah atau letih

Demam, keringat malam dan anorexia

Berat badan menurun

Ptechiae, memar tanpa sebab, Mudah berdarah dan lebam (gusi berdarah, bercak keunguan di kulit, atau bintik-bintik merah kecil di
bawah kulit)

Nyeri pada tulang dan persendian

Nyeri abdomen, Pembengkakan atau rasa tidak nyaman di perut (akibat pembesaran limpa). (Suriadi & Rita Yuliani, 2001 : hal. 177,
Cawson 1982; De Vita Jr.,1985, Archida, 1987; Lister, 1990; Rubin,1992 )
Pemeriksaan Diagnostik Leukimia
Hitung sel darah permulaan Pada roentgenogram toraks, kadang-kadang
memperlihatkan spektrum abnormalitas ditemukan infiltrat paru yang menyatakan
yang luas. Anemia, leukosit dan hitung pneumonia, edema pulmonal atau
diferensial yang abnormal, serta terkadang berupa infiltrasi leukomik. Hasil
trombositopenia biasanya ditemukan saat roentgenogram tulangnya memperlihatkan
diagnosis. Hitung leukosit berkisar 0,1 abnormalitas tulang, yaitu penipisan tulang
sampai 1600 x 102 /L (median 13 x 102 /L). yang difusi, pita radiolusem transversal
seringkali dengan granulositopenia pada metafisis tulang panjang,
absolut. Hitung trombosit bervariasi dari pembentukan tulang baru periosteal,
normal atau rendah dengan nilai median lesiosteolitik, osteoklerosis dan kolaps
sebesar 50 x 102 . vertebrata. Cairan serebrospinal harus
diperiksa karena 10-20 pasien akan
mengandung blas leukemia.
Penatalaksanaan Medis Leukimia
Pelaksanaan
Kemoterapi

Transplantasi Sel
Terapi Biologi
Induk (Stem Cell)

Terapi Radiasi
Asuhan Keperawatan Leukimia
PENGKAJIAN
1. Riwayat penyakit
2. Kaji tanda-tanda anemia:
• Pucat
• Kelemahan
• Sesak
• Nafas cepat
3. Kaji adanya tanda-tanda leukomenia
• Demam
• Infeksi
Lanjutan…
4. Kaji adanya tanda-tanda trombo-sitopenia:
• Ptechiae
• Purpura
• Pendarahan memberan mukosa
5. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola:
• Limpadenopati
• Hepatomegaly
• Seplenomegali
Lanjutan…
6. Kaji adanya pembesaran testis
7. Kaji adanya:
• Hematuria
• Hipertensi
• Gagal ginjal
• Imflamasi di sekitar rekstar
• Nyeri
Lanjutan…

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko cedera yang berhubungan dengan proses malignan atau ke
ganasan
2. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan daya tubuh
Lanjutan…
RENCANA KEPERAWATAN DAN EVALUASI
Diagnosa keperawatan: resiko cedera yang berhubungan dengan proses malignan atau ke
ganasan, terapi.
Tujuan:
1. Pasien mengalami remisi parsial atau total dari penyakit.
2. Pasien tidak mengalami komplikasi akibat kemoterapi.
Lanjutan…
Intervensi keperawatan / rasional
1. Berikan agens kemoterapi sesui dengan program.
2. Bantu pelaksanaan radio terapi sesui dengan program.
3. Bantu prosedur pemberian agens kemo terapi.
4. Persiapkan anak dan keluarga dalam menghadapi prosedur pembedahan jika perlukan.
5. Amati tanda-tanda infil trasi pada lokasi infus/ penyuntikan IV rasa nyeri, tersengat, pembengkakan,kenerahan.
6. Segera hentikan infusan jika terjadi tanda-tanda infiltrasi untuk mencegah kerusakan jaringan yang berat.
7. Implementasikan kebijakan rumah sakit dalam menangani infiltrasi.
8. Lakukan anamnesis yang cermat untuk mendeteksi adanya riwayat reaksi alergi untuk mencegah reaksi anafilaksis
(sianosis, hipotensi, mengi, urtikaria hebat).
9. Hentikan pemberian infus obat pembilas ruang infus dengan larutan salin normal jika di curigai adanya reaksi.
10. Sediakan peralatan kedaruratan ( terutama alat monitor tekanan darah dan kantong serta masker untuk resusistasi
manual dan oba-obat kedaruratan untuk mencegah kelambatan penanganan.
Lanjutan…
Hasil yang diharapkan:
1. Anak mencapai remisi parsial atau total dari penyakit.
2. Anak tidak mengalami komplikasi akibat penyakit.
3. Anak mendapat penanganan komplikasi yang cepat dan tepat
OSTEOSARKOMA
Definisi Osteosarkoma
Osteosarkoma yang dikenal juga sebagai sarcoma osteogenik,
ialah salah satu tumor ganas jaringan mesenkim yang membentuk
osteoid dan jaringan oseus neoplastik. Setiap tahun, sekitar 4 per
1 juta individu menderita osteosarkoma sebelum usia 20 tahu di
Amerika serikat. Umur rata-ratanya adalah 15 tahun, dengan lebih
dari dua pertiga pasien berumur 10-20 tahun. Kedua jenis kelamin
terkena sama banyak. Osteosarkoma lebih sering tibul dalam
metafisis tulang panjang, dari pada tulang pipih dan tubuh atau
tulang tengkorak. Femur adalah tulang panjang yang paling sering
terkena, diikuti oleh tibia dan humereus.
Etiologi Osteosarkoma
Beberapa factor etiologik Penumpukan radioaktif didalam
Radiasi dan virus onkogenik,
telah didefinisikan pada tulang, Thorotsat dulu menggunakan
yang telah terlihat dalam bahan kontras radiografik yang
osteosarkoma orang dewasa
terjadinya keganasan yang mengandung radioaktif thorium
yang lebih jarang terjadi, dioxide erat hubungannya dengan
lain, telah dianggap sebagai
tetapi hanya sedikit kasus timbulnya osteosarkoma seperti pada
agen penyebab. neoplasma hati
saja

Kelainan genetik pada kromosom 13 Kombinasi konstitusional mutasi genetik


dapat menyebabkan osteosarkoma dari RB (germlinr retinoblasma) dan
Osteosarkoma pada masa kanak- pada kelompok pasien ini. Terjadi terapi radiasi dikaitkan dengan risiko
kanak mungkin sekali memiliki dysplasia tulang, termasuk penyakit tinggi terutama pengembangan
osteosarkoma, Li-Fraumeni sindrom
dasar genetik, meskipun tak paget, dysplasia fibrosa, (mutasi germline) dan Rothmund-
seorang pun pernah enchondromatosis, dan turun Thomson Sindrom (autosomal yang
menemukannya temurun beberapa exosteses dan terdesal asosiasi dari bawaan cacat
retinoblastoma(kuman-garis bentuk) tulang, dysplasia rambut dan kulit,
adalah factor resiko hypogonadism, dan katarak)
Patofisiologi Osteosarkoma
Rasa nyeri dan tidak nyaman yang diikuti pembengkakan
pada daerah yang terkena. Suatu tumor pada ekstremitas
bawah dapat menimbulkan gangguan gaya berjalan disertai
dengan rasa nyeri tekan dan meningkatnya panas local,
mungkin disebabkan oleh pendarahan dibawah tumor.
Pasien sering kali menghubungkan awitan gejalanya dengan
trauma, tetapi hal ini bersifat incidental dan trauma belum
dianggap sebagai penyebab osteosarkoma, osteosarkoma
telah terjadi pada sindrom keluarga Li- Frumeni.
Klasifikasi Osteosarkoma
Parosteal Osteosarkoma

Periosteal Osteosarkoma

Telangiectasis Osteosarkoma

Osteosarkoma Sekunder

Osteosarkoma Intrameduler Derajat Rendah

Osteosarkoma Akibat Radiasi

Multisentrik Osteosarkoma
Lanjutan…
1. Parosteal Osteosarkoma
o Parosteal osteosarkoma yang tipikal ditandai dengan lesi pada permukaan
tulang, dengan terjadinya diferensiasi derajat rendah dari fibroblas dan
membentuk woven bone. Biasanya terjadi pada umur lebih tua dari
osteosarkoma klasik, yaitu pada umur 20 sampai 40 tahun. Bagian posterior
dari distal femur merupakan daerah predileksi yang paling sering, selain bisa
juga mengenai tulang-tulang panjang lainnya. Tumor dimulai dari daerah
korteks tulang dengan dasar yang lebar, yang makin lama lesi ini bisa invasi
kedalam korteks dan masuk ke endosteal. Pengobatannya adalah dengan cara
operasi, melakukan eksisi dari tumor dan survival ratenya bisa mencapai 80 –
90%.
Lanjutan…
2. Periosteal Osteosarkoma
o Periosteal osteosarkoma merupakan osteosarkoma derajat sedang
(moderate-grade) yang merupakan lesi pada permukaan tulang bersifat
kondroblastik, dan sering terdapat pada daerah proksimal tibia. Sering juga
terdapat pada diafise tulang panjang seperti pada femur dan bahkan bisa
pada tulang pipih seperti mandibula. Terjadi pada umur yang sama dengan
pada klasik osteosarkoma. Derajat metastasenya lebih rendah dari
osteosarkoma klasik yaitu 20% – 35% terutama ke paru-paru.
Pengobatannya adalah dilakukan operasi marginal-wide eksisi (wide-
margin surgical resection), dengan didahului preoperatif kemoterapi dan
dilanjutkan sampai post-operasi.
Lanjutan…
3. Telangiectasis Osteosarkoma
o Telangiectasis osteosarkoma pada plain radiografi kelihatan
gambaran lesi yang radiolusen dengan sedikit kalsifikasi atau
pembentukan tulang. Dengan gambaran seperti ini sering
dikelirukan dengan lesi binigna pada tulang seperti aneurysmal bone
cyst. Terjadi pada umur yang sama dengan klasik osteosarkoma.
Tumor ini mempunyai derajat keganasan yang sangat tinggi dan
sangat agresif. Diagnosis dengan biopsi sangat sulit oleh karena
tumor sedikit jaringan yang padat, dan sangat vaskuler.
Pengobatannya sama dengan osteosarkoma klasik, dan sangat
resposif terhadap adjuvant chemotherapy.
Lanjutan…
4. Osteosarkoma Sekunder
o Osteosarkoma dapat terjadi dari lesi jinak pada tulang, yang mengalami mutasi
sekunder dan biasanya terjadi pada umur lebih tua, misalnya bisa berasal dari paget’s
disease, osteoblastoma, fibous dysplasia, benign giant cell tumor. Contoh klasik dari
osteosarkoma sekuder adalah yang berasal dari paget’s disease yang disebut pagetic
osteosarcomas. Di Eropa merupakan 3% dari seluruh osteosarkoma dan terjadi
pada umur tua. Lokasi yang tersering adalah di humerus, kemudian di daerah pelvis
dan femur. Perjalanan penyakit sampai mengalami degenerasi ganas memakan waktu
cukup lama berkisar 15 – 25 tahun dengan mengeluh nyeri pada daerah inflamasi dari
paget’s disease. Selanjutnya rasa nyeri bertambah dan disusul oleh terjadinya
destruksi tulang. Prognosis dari pagetic osteosarcoma sangat jelek dengan five years
survival rate rata-rata hanya 8%. Oleh karena terjadi pada orang tua, maka pengobatan
dengan kemoterapi tidak merupakan pilihan karena toleransinya rendah.
Lanjutan…
5. Osteosarkoma Intrameduler Derajat Rendah
o Tipe ini sangat jarang dan merupakan variasi osseofibrous derajat
rendah yang terletak intrameduler. Secara mikroskopik gambarannya
mirip parosteal osteosarkoma. Lokasinya pada daerah metafise
tulang dan terbanyak pada daerah lutut. Penderita biasanya
mempunyai umur yang lebih tua yaitu antara 15 – 65 tahun,
mengenai laki-laki dan wanita hampir sama. Pada pemeriksaan
radiografi, tampak gambaran sklerotik pada daerah intrameduler
metafise tulang panjang. Seperti pada parosteal osteosarkoma,
osteosarkoma tipe ini mempunyai prognosis yang baik dengan
hanya melakukan lokal eksisi saja.
Lanjutan…
6. Osteosarkoma Akibat Radiasi
o Osteosarkoma bisa terjadi setelah mendapatkan radiasi melebihi dari
30Gy. Onsetnya biasanya sangat lama berkisar antara 3 – 35
tahun, dan derajat keganasannya sangat tinggi dengan prognosis
jelek dengan angka metastasenya tinggi.
Lanjutan…
7. Multisentrik Osteosarkoma
o Disebut juga Multifocal Osteosarcoma. Variasi ini sangat jarang yaitu
terdapatnya lesi tumor yang secara bersamaan pada lebih dari satu tempat.
Hal ini sangat sulit membedakan apakah sarkoma memang terjadi
bersamaan pada lebih dari satu tempat atau lesi tersebut merupakan suatu
metastase. Ada dua tipe yaitu: tipe Synchronous dimana terdapatnya lesi
secara bersamaan pada lebih dari satu tulang. Tipe ini sering terdapat pada
anak-anak dan remaja dengan tingkat keganasannya sangat tinggi. Tipe
lainnya adalah tipe Metachronous yang terdapat pada orang dewasa, yaitu
terdapat tumor pada tulang lain setelah beberapa waktu atau setelah
pengobatan tumor pertama. Pada tipe ini tingkat keganasannya lebih
rendah.
Manifestsi Klinis Osteosarkoma
Nyeri dan atau pembengkakan
ekstremitas yang terkena (biasanya
menjadi semakin parah pada
malam hari dan meningkat sesuai
dengan progresivitas penyakit).

Gejala-gejala penyakit metastik Pembengkakan atau ada diatas


meliputi nyeri dada, batu, demam, tulang atau persendian serta
berat badan menurun, dan malaise. pergerakan yang terbatas.

Teraba massa tulang dan


peningkatan suhu kulit diatas
massa serta adanya peebaran vena.
Pemeriksaan Diagnostik Osteosarkoma
Diagnosis banding beberapa kelainan yang menimbulkan bentukan
massa pada tulang sering sulit dibedakan dengan osteosarkoma, baik
secara klinis maupun dengan pemeriksaan pencitraan. Adapun
kelainan-kelainan tersebut adalah:
1. Ewing’s sarcoma
2. Osteomyelitis
3. Osteoblastoma
4. Giant cell tumor
5. Aneurysmal bone cyst
6. Fibrous dysplasia
Penatalaksanaan Medis Osteosarkoma
Pengangkatan tulang yang terkena dan jaringan lunak disekitarnya secara bedah tetap merupakan pengobatan pilihan, baik melalui amputasi
atau prosedur penyelamatan ekstemitas

Terapi radiasi sekarang ini memiliki sedikit peranan pada ketahanan hidup pasien dengan osteosakoma secara keseluruhan. Radiasi telah
digunakan dalam praksi besar untuk mengendalikan lesi melastasis atau nyeri yang diakibatkan oleh metastasis

Kemoterapi telah terbukti sebagai suatu terapi tambahan yang efektif selain pembedahan. Pasien tanpa bukti metastasis diobati dengan
kemoterapi setelah amputasi yang berhasil. Sekarang semua pasien dengan osteosarkoma yang dapat direksesi secara keseluruhan harus
menerima kemoterapi kombinasi.

Infuse intra-arteri ardiamisin, metotreksat,dan sisplatin, merpakan suatu alternative pada kemoterapi sistemik, keuntungan yang mungkin
diperoleh dari metode ini adalah pemberian kemoterapi langsung pada tumor. Akan tetapi, tidak ada keuntungan yang jelas untuk
mencegah metastasis pulmonal, pengobatan pasien dengan tumor yang tidak dapat direksesi atau tumor metastasis saat diagnosis masih
merupakan tantangan utama. Bila metastasis ke paru, tulang atau organ lain timbul menyertai terapi awal dengan kemoterapi adjuvan,
penggunaan obat pestigasi dibenarkan
Asuhan Keperawatan Osteosarkoma
PENGKAJIAN
1. Lakukan pengkajian fisik
a. Observasi adanya menifestasi tumor tulang
b. Nyeri local pada sisi yang sakit
• Mungkin hebat atau dangkal
• Sering hilang dengan posisi fleksi
• Sering kali menimbulkan perhatian bila anak sebagai berikut : pincang membatasi aktivitas fisik
sendiri, tidak mampu menahan objek berat.
d. Periksa area yang sakit untuk status fungsional, tanda-tanda inflamasi, ukuran massa, keterlibatan nodus
limf regional, dan adanya bukti keterlibatan sistemik.
d. Dapatkan riwayat kesehatan terutama mengenai nyeri.
e. Bantu dengan prosedur diagnostic dan tes (radiografi, tomografi, pemindaian tulang radio isotop,biopsy
tulang bedah, tomografi paru, tes lain untuk diagnosis banding, aspirasi sumsung tulang.
Lanjutan…
2. Anamnesa
3. Pemeriksaan fisik
a. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit diatas massa serta adanya
pelebaran vena.
b. Pembengkakan pada atau diatas tulang atau persendian serta pergerakan terbatas.
c. Nyeri tekan atau nyeri lokal pada sisi yang sakit, mungkin hebat atau dangkal, sering
hilang dengan posisi flexi, anak berjalan pincang, keterbatasan dalam melakukan
aktivitas, tidak mampu menahan ojek berat.
d. Kaji status fungsional pada area yang sakit, tanda-tanda inflamasi nodus limfe
regional.
e. Aspirasi sumsum tulang.
Lanjutan…
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pra operasi
1. Antisipasi berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat
gerak.
2. Post operasi
3. Kerusakan mobilisasi fisik berhubungan dengan amputasi
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kehilangan anggota gerak
5. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan memiliki anak dengan
kelemahan sepanjang hidup, terapi traumatik.
Lanjutan…
INTERVENSI KEPERAWATAN
Pra operasi
Diagnosa keperawatan : antisipasi berduka berhubungan dengan kemungkinan
alat gerak.
Tujuan :
1. Pasien (keluarga) siap untuk menghadapi kemungkinan amputasi atau
prosedur penyelamatan alat gerak.
2. Pasien menunjukan tanda-tanda penyesuaian terhadap ancaman kehilangan.
Lanjutan…
Intervensi keperawatan/Rasional
1. Lakukan pendekatan langsung untuk meningkatkan ras percaya dan kerja sama anak.
2. Hindari diagnosis yang menjijikan dengan istilah seperti “infeksi”.
3. Diskusikan kurangnya alternative pengobatan untuk mendorong penerimaan pembedahan.
4. Jawab pertanyaan mengenai informasi yang diberikan oleh ahli dan jelaskan seandainya terdapat kesalahan
konsep.
5. Hindari membebani anak dan orang tua dengan memberikan informasi yang terlalu banyak.
6. Siap sedia dan mau mendengarkan dan bicara dengan anak orang tua tentang kekhawatiran mereka.
7. Biarkan dan dorongan anak dan keluarga untuk mengekspresikan perasaannya untuk memfasilitasi proses berduka.
8. Beri waktu dan kesempatan pada anak untukmelewati masa berduka karena hal ini merupakan bagian dari
penyesuaian.
9. Kenalkan tetapi bukan secara rinci, informasi-informasi yang berkaitan dengan kebutuhan akan kemoterapi.
10.Tahan diskusi yang luas tentang kemoterapi dan rehabilitasi sampai setelah pembedaha agar tidak membebani
anak.
11.Izinkan pasien mengekspresikan perasaannya mengenai kehilangan dan efek yang tidak diinginkan dari kemoterapi.
12.Kenali rasa marah sebagai reaksi umum, karena prilaku anak mungkin salah .
13.Bantu anak untuk menghadapi efek samping
14.Dorong kemandirian untuk menyiapkan anak untuk menghadapi periode pascaoperasi ketika kemandirian terasa
lebih sulit diapai.
Lanjutan…
Hasil yang diharapkan:
1. Keluarga dan anak mengekspresikan perasaannya mengenai potensi
kehilangan
2. Keluarga dan anak siap mendiskusikan kekhawatirannya.
3. Anak mengekspresikan perasaannya tentang ancaman perubahan gaya
hidup.
RABDOMIOSARKOMA
Definisi Rabdomiosarkoma
Rabdomiosarkoma adalah tumor lunak yang paling sering
dijumpai pada anak, menyebabkan kira-kira 5% dari semua
kanker pediatrik. Rabdomiosarkoma adalah suatu penyakit
tumor ganas yang aslinya berasal dari jaringan lunak (soft
tissue) tubuh, termasuk disini adalah jaringan otot, tendon
dan connective tissue (Miser, et all, 2000. Rabdomiosarkoma
merupakan keganasan yang sering didapatkan pada anak-
anak dengan umur rata-rata 6 tahun. Ditandai dengan
tampak danya massa tumor, tumor ini dapat tumbuh di
mana saja di dalam tubuh.
Etiologi Rabdomiosarkoma
Penyebab dari rabdomiosarkoma sendiri sampai saat ini
belum diketahui secara jelas. Dari data epidemiologi ada
indikasi bahwa faktor genetik tampaknya mempunyai
peranan penting pada penyebab setidaknya untuk beberapa
jenis sarcoma pada anak. Angka kejadian kelainan bawaan
meningkat terutama yang melibatkan saluran kemih, kelamin
dan susunan saraf pusat dubungkan dengan
rabdomiosarkoma. (Ikatan Dokter Indonesia, 2006).
Patofisiologi Rabdomiosarkoma

Perubahan ganas pada sel-sel target, disebut sebagai transformasi.

Pertumbuhan dari sel-sel transformasi.

Invasi lokal.

Matastasis jauh.
Klasifikasi Rabdomiosarkoma
Stadium I (16% kasus)

Stadium II (28% kasus)

Stadium III (36% kasus)

Stadium 4 (20% kasus)


Lanjutan…
Stadium I (16% kasus)
 Kanker hanya terdapat pada tempat awal kanker
muncul. Pada pemeriksaan mikroskopis, tidak
terdapat sel kanker pada jaringan setelah tumor
diangkat.
Lanjutan…
Stadium II (28% kasus)
1. Terbagi menjadi IIA, IIB, dan IIC
2. II A : Kanker dapat diangkat, tetapi secara mikroskopis, masih
terdapat sel kanker yang tersisa pada jaringan. Tidak ada kelenjar
limfe yang terkena.
3. II B : Kanker terlokalisasi, dapat diangkat, enggan atau tanpa
keterlibatan kelenjar limfe.
4. II C : Kanker telah menyebar ke kelenjar limfe. Kanker dan kelenjar
limfe masih dapat diangkat melalui pembedahan, namun masih
terdapat sel kanker yang tersisa secara mikroskopis.
Lanjutan…
Stadium III (36% kasus)
 Kanker dapat diangkat melalui pembedahan, namun
masih terdapat sisa kanker yang dapat dilihat tanpa
mikroskop. Kanker belum menyebar ketempat yang jauh.
Lanjutan…
Stadium IV (20% kasus)
 Kanker telah menyebar ketempat yang jauh
Manifestasi Klinis Rabdomiosarkoma
Terdapat empat lokasi anatomis utama yang sering terkena tumor ini: (a) daerah kepala dan leher
(35-40%), (b) traktus genitourinarius (20%), (c) ekstremitas (15-20%), dan (d) tubuh (10-15%).

Rabdomiosarkoma pada daerah kepala dan leher muncul paling sering di orbita, nasofaring,
antrum maksilaris, telinga tengah dan jaringan lunak pada kulit kepala, wajah, atau leher

Pada masa remaja, tumor ini terdapat dalam jaringan lunak paratestikular atau saluran
sperma

Gejala dan tanda rabdomiosarkoma biasanya dapat dihubungkan dengan lesi massa atau
fenomena obstruksi
Pemeriksaan Diagnostik Rabdomiosarkoma

Pemeriksaan fisik Jumlah sel darah Urinanalisis

Serum elektrolit: BUN, Gambaran magnetic


Creatine, SGOT, SGPT, LDH, resonansi (MRI) dan
Pemeriksaan CT Scan
dan phospatase yang bersifat komputer tomography (CT)
alkali. tentang luka utama.

Biopsi getah bening yang


Scan tulang Sumsung tulang atau biopsy
dicurigai
Penatalaksanaan Medis Rabdomiosarkoma

Pembedahan Radiasi

Kemoterapi
Asuhan Keperawatan Rabdomiosarkoma
PENGKAJIAN
1. Aktivitas/Istirahat
 Gejala: kelemahan atau keletihan perubahan pada pola malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur,
misalnya nyeri, ansietas, berkeringat malam. Keterbatasan partisipasi dalam hobby, latihan. Pekerjaan atau profesi
dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.
2. Sirkulasi
 Gejala: palpasi, nyeri dada pada pengerahan kerja. Kebiasaan: perubahan pada tekanan darah.
3. Intergitas ego
 Gejala: faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi (misalnya merokok, minum alkohol,
menunda mencari pengobatan, keyakinan religios/spritual). Masalah perubahan dalam penampilan, misalnya
alopesa, lesi cacat, pembedahan. Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak
bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.
 Tanda: Menyangkan, menarik diri, marah
Lanjutan…
4. Eliminasi
 Gejala: perubahan pada polo defakas, misalnya darah pada feses, nyeri pada defakasi. Perubahan
eliminasi urinarius, misalnya nyeri atau rasa terbakar pada saat berkemih, hematuria, sering berkemih.
 Tanda: Perubahan pada bising usus, distensi abdomen.
5. Makanan/ cairan
 Gejala: kebiasaan diet buruk (misalnya rendah serat, tinggi lemak, adiktif, bahan pengawet). Anoresia,
mual/muntah. Intoleransi makanan. Perubahan pada berat badan, kareksia, berkurangnya massa otot.
 Tanda: perubahan pada kelembaban/tugor kuit; edema
6. Neurosensori
 Gejala: pusing, sinkope
Lanjutan…
6. Nyeri/kenyamanan
 Gejala: tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi, misalnya ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat
(dihubungkan dengan proses penyakit).
7. Pernafasan
 Gejala: merokok (tembakau, mariyuana, hidup dngan seseorang yang merokok) pemajanan feses.
8. Keamanan
 Gejala: pemajanan pada kimia toksik, karsinogen. Pemajanan matahari lama/kelebihan.
 Tanda: demam, ruam kulit, ulserasi
Lanjutan…
9. Seksualitas
Gejala: masalah seksualitas, misalnya dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.
Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun. Multigravida, pasangan seks multiple, aktivitas seksual dini.
Herpes genital
10. Interaksi sosial
 Gejala: ketidakadaan kekuatan/kelemahan sistem pendukung. Riwayat perkawinan (berkenaan dengan
kepuasan dirumah, dukungan, atau bantuan).
11. Penyuluhan/pembelajaran
 Gejala: riwayat kanker pada keluarga, misalnya ibu atau bibi dengan kanker payudara. Sisi primer: penyakit
primer dalam rumah tangga ditemukan/didiagnosis.
 Penyakit metastic: sisi tambahan yang terlibat; bila tidak ada, riwayat alamiah dari primer akan memberikan
informasi penting untuk mencari metasttatik
Lanjutan…
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri (Akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi
system suplay syaraf. Obstruksi jalur syaraf, inflamasi) efek samoing terapi kanker.
2. Cemas/takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosia ekonomi, peran
dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, perpisahan dengan keluarga.
3. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan butuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang
berhubungan dengan kanker, konsekuensi kemotherapi, radiasi, pembehan (anoreksia, iritasi lambung,
kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distres, fatigue ketidakmampuan mengontrol nyeri.
4. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya
informasi, misintervensi, prosedur kognitif.
5. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek
kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur insave.
6. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, defisit imunologik,
penurunan intake nutrsi dan anemia.
Lanjutan…
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan: Nyeri (Akut) berhubungan dengan proses
penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi system suplay
syaraf. Obstruksi jalur syaraf, inflamasi) efek samoing terapi kanker.
Tujuan : nyeri dapat teratasi
Lanjutan…
Intervensi Keperawatan/Rasional
1. Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas.
2. Rasional: memberikan informasi yang diperlakuakan untuk merencankan asuhan
3. Evaluasi therapy: pembedahan, radiasi, khemoterapy, biotherapy ajarkan klien dan keluarga tentang cara
mengahadapinya.
4. Rasional: untuk mengetahui terapi yang dilakukan sesuai atau tidak, atau menyebabkan komplikasi
5. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau menonton TV.
6. Rasional: untuk emningkatkan kenyamanan dengan mengalihkan klien dari rasa nyeri.
7. Mengajukan teknik penanganan stres (teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan
terapeutik.
8. Rasional: meningkatkan kontrol diri atas efek samping dengan menurunkan strs dan ansietas.
9. Evaluasi nyeri: berikan pengobatan bila perlu
10. Rasional: untuk mengetahui efektivitas penanganan nyeri dan sejauh mana klien mampu menahannya serta untuk
mengetahui kebutuhan klien obat-obatan anti nyeri.
11. Kolaborasi dalam penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan klien.
12. Rasional: agar terapi yang diberikan tepat sasaran.
13. Kolaborasi berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narkotika dll.
14. Rasional: untuk mengatasi nyeri
Lanjutan…
Hasil yang diharapkan
1. Klien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas.
2. Melaporkan nyeri yang dialaminya.
3. Mengikuti program pengobatan.
4. Mendemonstrasikan teknik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri
melalui aktivitas yang mungkin.
RETINOBLASTOMA
Definisi Retinoblastoma
Retinoblastoma adalah tumor endoakular pada anak yang
mengenai saraf embrionik retina. Retinoblastoma adalah
kanker pada anak yang tumbuh dari sel retina mata.
Kanker ini menyumbang sekitar 3% dari kanker pada anak.
kanker ini biasanya terjadi pada anak-anak sekitar usia 2
tahun, dan jarang ditemukan pada anak yang lebih tua
dari 6 tahun. Tanda tanda anak terkena Retinoblastoma
dapat ditemukan bila tampak terlihat putih dibelakang mata
setelah disinari serberkas cahaya.
Etiologi Retinoblastoma
Retinoblastoma terjadi secara familiar atau sporadic. Namun dapat juga
di klasifikasikan menjadi dua sub kelompok yang berbeda, yaiyu bilateral
atau unilateral dan diturunkan atau tidak diturunkan. Kasus yang
diturunkan selalu unilateral, sedangkan 90% kasus yang diturunkan
adalah bilateral, dan unilateral sebanyak 10%. Gen retinoblastoma (RBI)
di isolasi dari kromosom 13q14, yang berperan sebagai pengatur
pertumbuhan sel pada sel normal. Penyebabnya adalah tidak
terdapatnya gen penekan tumor, yang sifatnya cenderung diturunkan.
Kanker bisa menyerang salah satu mata yang bersifat somatic maupun
kedua mata yang merupakan kelainan yang diturunkan secara autosom
dominant.nkanker bisa menyebar ke kantung mata dan ke otak ( melalui
saraf penglihatan/ nervus optikus)
Patofisiologi Retinoblastoma
Jika letak tumor dimacula, dapat terlihat gejala awal strabismus. Massa tumor
yang semakin membesar akan memperlihatkan gejala leukokoria, tanda tanda
peradangan vitreus yang menyerupai endoftalmitis. Jika sel sel tumor terlepas
dan masuk ke segmen anterior mata, akan menyebabkan glaucoma atau tanda
peradangan berupa hipopion atau hifema. Pertumbuhan tumor ini dapan
menyebabkan metastasis dengan invasi tumor melalui; nervus optikus ke otak,
sclerake jaringan orbita dan sinus paranasal, dan metastasis jauh ke sumsum
tulang melalui pembuluh darah. Pada fundus terlihat bercak kuning mengkilat,
dapat menonjol ke badan kaca. Dipermukaan terdapat neovaskularisasi dan
pendarahan. Warna iris tidak normal. Penyebaran secara limfogen, ke kelenjar
limfe preaurikuler dan submandibula serta secara hematogen ke sumsum tulang
dan visera.
Klasifikasi Retinoblastoma
Golongan I

Golongan V Golongan II

Golongan IV Golongan III


Lanjutan…
Golongan I
1. Tumor solid/multiple kurang dari 4 diameter pupil.
2. Tumor multiple tidak lebih dari 4 dd, dan terdapat pada atau belakang
ekuator.
Lanjutan…
Golongan II
1. Tumor solid dengan diameter 4-10 dd pada atau belakang ekuator.
2. Tumor multiple dengan diameter 4-10 dd pada atau belakang ekuator.
Lanjutan…
Golongan III
1. Beberapa lesi di bagian ekuator
2. Tumor ada di depan ekuator atau tumor solider berukuran >10 diameter
pupil.
Lanjutan…
Golongan IV
1. Tumor multiple sebagian besar >10 d.
2. Beberapa lesi ke anterior ke ora serrata.
Lanjutan…
Golongan V
Tumor massif mengenai lebih dari setengah retina. Tumor
menjadi lebih besar, bola mata membesar menyebabkan
eksoftalmus kemudian dapat pecah kedepan sampai keluar
dari rongga orbita disertai nekrose diatasnya.
Manifestasi Klinis Retinoblastoma
Leukokoria

Stabismus

Mata merah

Buftalmus

Pupil midriasis

Proptosis
Pemeriksaan Diagnostik Retinoblastoma
Evaluasi metastatic harus mencakup pemeriksaan sitologi
cairan serebrospinal serta aspirasi dan biopsi sumsum
tulang, namun retinoblastoma sangat jarang menyebar ke
cairan spinal atau sumsum tulang tanpa penyebaran
ekstraokular. Evaluasi metastatic harus meliputi CT Scan
orbita untuk menentukan perluasan ekstraokular dan
keterlibatan nervus optikus. CT Scan atau MRI kepala harus
dikerjakan pada kasus kasus bilateral untuk mencari
retinoblastomayang mengenai kelenjar epifisi
(retinoblastoma trilateral)
Penatalaksanaan Medis Retinoblastoma
Dua aspek pengobatan retinoblastoma harus
diperhatikan, pertama adalah pengobatan lokal
untuk jenis intraocular, dan kedua adalah
pengobatan jenis sistemis untuk jenis ekstraokular,
regional dan metastatis. Hanya 17% pasien dengan
retinoblastoma bilateral keduamatanya masih
terlindungi.
Asuhan Keperawatan Retinoblastoma
PENGKAJIAN
1. Biodata
◦ Identitas klien meliputi nama, umur : sering terjadi padaa aanak-anakdi
bawah 2 tahun, alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, No
register, dan diagnosa medis.
◦ Identitas orang tua yang terdiri dari : Nama Ayah dan Ibu, usia, pendidikan,
pekerjaan/sumber penghasilan, agama, dan alamat.
◦ Identitas saudara kandung meliputi nama, usia, jenis kelamin, hubungan
dengan klien, dan status kesehatan.
Lanjutan…
2. Keluhan utama
o Keluhan dapat berupa perubahan persepsi penglihatan, demam, kurang
nafsu makan, gelisah cengeng, nyeri pada luka post operasi, terjadi infeksi
pada luka post op, serta perawatan dan pengobatan lanjutan dari tindakan
operasi.
3. Riwayat kesehatan
4. Riwayat Kesehatan Sekarang
o Gejala awal yang muncul pada anak. Bisa berupa bintik putih pada mata tepatnya
pada retina, terjadi pembesaran, mata merah dan besar.
5. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
o Riwayat kesehatan masa lalu berkaitan dengan Kemungkinan memakan
makanan/minuman yang terkontaminasi, infeksi ditempat lain misal: pernapasan
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
o Berkaitan erat dengan penyakit keturunan dalam keluarga, misalnya ada anggota
keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama.
Lanjutan…
DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Pra operasi
1. Gangguan sensori-persepsi: penglihatan berhubungan dengan kekeruhan
lensa mata.
2. Kecemasan berhubungan dengan kurang terpapar terhadap informasi
tentang prosedur tindakan pembedahan.
3. Resiko cedera berhubungan dengan penurunan ketajaman penglihatan.
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik.
RENCANA KEPERAWATAN
Pra operasi
1. Diagnosa keperawatan: Gangguan sensori-persepsi: penglihatan
berhubungan dengan kekeruhan lensa mata.
Tujuan
◦ Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situsi individu.
◦ Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
◦ Mengidentifikasi memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Lanjutan…
Intervensi keperawatan
1. Gunakan alat bantu sensori seperti, kacamata.
2. Tingkatkan stimuli untuk mencapai input sensori yang sesuai (misalnya, peningkatan
interaksi sosial, sediakan radio, televisi, dan jam dinding dengan angka-angka).
3. Kuranginya jumlah stimulus untuk mencapai input sensori yang sesuai (misalnya,
lampu redup).
4. Orientasikan pada orang, tempat, waktu, dan situasi dalam setiap interaksi.
5. Yakinkan pasien/keluarga bahwa defisit persepsi/sensori adalah sementara.
6. Identifikasi diri orang yang masuk ke area pasien.
7. Jangan memindahkan barang-barang di dalam kamar pasien tanpa memberitahukan
pasien.
Definisi Tumor Wilms
Definisi Tumor Wilms
Tumor Wilms, atau nefroblastoma, adalah suatu tumor ganas pada ginjal
yang biasanya dijumpai pada anak kecil. Tumor Wilms adalah tumor
ganas anak pertama yang mencapai angka kesembuhan bermakna,
terutama melalui sesuatu pendekatan multispesialitik dan bentuk studi
kooperatif. Angka kelangsungan hidup telah meningkat dari 15-30%
dengan pembedahan saja, sampai 40% dengan penggunaan radioterapi,
angka kesembuhan sekarang adalah 80-90% dengan strategi pengobatan
yang menggabungkan pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi
kombinasi.
Etiologi Tumor Wilms
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi diduga melibatkan faktor genetik. Tumor Wilms
berasal dari proliferensi patologik blastema metanefron akibat tidak adanya
stimulasi yang normal dari duktus metanefron untuk menghasilkan tubuli dan
glomeruli yang berdiferensiasi baik. Perkembangan blastema renalis untuk
membentuk struktur ginjal terjadi pada umur kehamilan 8-34 minggu. Sehingga
diperkirakan bahwa kemampuan blastema primitif untuk merintis jalan ke arah
pembentukan Tumor Wilms, apakah sebagai mutasi germinal atau somatik, itu
terjadi pada usia kehamilan 8-34 minggu. Meskipun etiologi tumor Wilms yang pasti
masih tidak jelas, suatu predisposisi genetik pada banyak pasien dikesankan oleh
perkembangannya pada usia muda, hubungan dengan lesi parenkim ginjal lain dan
abnormalitas kongenital, dan penyakit bilateral dan familial yang kadang-kadang
terjadi. Tumor Wilms dianggap sebagai suatu neoplasma embrional yang tampaknya
berkembang bila jaringan bistemal metanefrik gagal mencapai maturitas.
Patofisiologi Tumor Wilms
Tumor Wilms (Nefroblasma) merupakan tumor ginjal yang
tumbuh dari sel embrional primitif di ginjal, makroskopis
ginjal akan tampak membesar dan keras sedangkan
gambaran histo-patologisnya menunjukan gabungan dari
pembentukan abortif glomelurus dan gambaran otot polos,
otot serat lintang, tulang rawan dan tulang. Biasanya
unilateral dan hanya 3-10% ditemukan bilateral. Tumor
bermetastase ke paru, hati ginjal, dan jarang sekali ke tulang.
Klasifikasi Tumor Wilms
Stadium Kriteria untuk Perluasan Penyakit

L Tumor terbatas pada ginjal dan padat diangkat secara komplit

Ll Mikroskopis residual (penetrasi tumor melalui kapsul atau ke dalam jaringan lunak parirenal)

Lll Tumor residual makroskopis terbatas pada abdomen (keterlibatan kelenjar getah bening,kontaminasi
peritoneal difus karena rupturesaat pembedahan)

Lv Mestastasis hematogen (paru-paru, hati secara taklangsung, tulang, otak)

V Keterlibatan bilateral saat diagnosis


Manifestasi Klinis Tumor Wilms
Tanda dan gejala yang berhubungan dengan tumor Wilms saat diagnosis
cukup bervariasi. Adalah suatu massa abdomen atau massa panggul,
yang sering kali ditemukan oleh ibu dari anak yang asimtomatis. Terdapat
suatu massa yang teraba pada kira-kira 85% pasien. Nyeri abdomen
terjadi pada 40% pasien dan cukup hebat pada kira-kira 10% pasien
sehingga memberi kesan suatu akut abdomen. Hipertensi dijumpai pada
kira-kira 60% pasien dan hematuria pada 12-24% pasien. Sekitar
seperempat pasien akan mengalami demam, baik yangberasal dari
infeksi saluran kemih atau suatu penyakit yang tidak jelas yang membuat
pasien mencari perhatian medias, sehingga menuntun kepada diagnosis
massa abdomen. Gejala lain yang lebih jarang adalah penurunan berat
badan, mual, atau muntah dan nyeri tulang.
Pemeriksaan Diagnostik Tumor Wilms
Pemeriksaan laboratorium awal harus
meliputi hitung darah lengkap, tesfungsi hati
dan ginjal, tes skrining koagulasi, urinalisis,
dan tes spot urin untuk katekolamin yang
dapat membantu membedakan
neuroblastoma dari Tumor Wilms.
Asuhan Keperawatan Tumor Wilms
PENGKAJIAN
1. Identitas:
o Menanyakan nama, jenis kelamin, alamat, nomor telepon yang bisa dihubungi
2. Riwayat kesehatan sekarang
o Klien mengeluh kencing berwarna seperti cucian daging, bengkak sekitar perut. Tidak
nafsu makan, mual, muntah dan diare. Badan panas hanya suatu hari pertama sakit.
3. Riwayat kesehatan dahulu
o Apakah klien pernah mengeluh kelainan pada ginjal sebelumnya, atau gejala-gejala
tumor Wilms.
4. Riwayat kesehatan keluarga
o Apakah ada riwayat keluarga mengidap kanker atau tumor sebelumnya
Lanjutan…
5. Pemeriksaan fisik
Melakukan pemeriksaan TTV klien, dan mengobservasi head to toe dan
yang harus diperhatikan adalah palpasi abdomen yang cermat dan
pengukuran tekanan darah pada ke empat ekstremitas. Tumor dapat
memproduksi renin atau menyebabkan kompresi vaskuler sehingga
mengakibatkan hipertensi. Deskripsi yang rinci mengenai kelainan
traktus urinarius dan adanya aniridia atau hemihipertropi juga perlu
dicari.
Lanjutan…
6. Pemeriksaan penunjang
o Pemeriksaan laboratorium tidak banyak membantu, hanya dapat
ditemukan laju endap darah yang meninggi dan kadang-kadang
ditemukan hematuria. Bila kedua kelainan laboratorium ini ditemukan,
maka prognasis diagnosa buruk.
7. Pola nutrisi dan metabolic
o Suhu badan normal hanya panas hari pertama sakit. Kelebihan beban
sirkulasi karena adanya retensi natrium dan air, edema pada sekitar mata
dan seluruh tubuh. Klien mudah mengalami infeksi karena adanya depresi
sistem imun. Adanya mual, muntah dan anoreksia menyebabkan intake
nutrisi yang tidak adekuat. BB meningkat karena adanya edema.
Lanjutan…
8. Pola eliminasi
o Eliminasi alvi tidak ada gangguan, eliminasi uri ada ganggguan seperti pada
glomerulus menyebabkan sisa-sisa metabolisme tidak dapat diekskresi dan
terjadi penyerapan kembali air dan natrium pada tubulus yang tidak
mengalami gangguan yang menyebabkan oliguria sampai anuria, hematuria
9. Pola aktivitas dan latihan
o Dalam perawatan klien perlu istirahat karena adanya kelainan jantung dan
tekanan darahmutlak selama dua minggu dan mobilisasi duduk dimulai bila
tekanan darah sudah normal selama satu minggu. Adanya edema paru
maka pada insfeksi terlihat retraksi dada. Kelebihan beban sirkulasi dapat
menyebabkan pembesaran jantung (dispnea), dan pasen terlihat lemah,
anemia dan hipertensi yang juga disebabkan oleh spasma pembuluh darah.
Lanjutan…
10. Pola tidur dan istirahat
o Klien tidak dapat tidur terlentang karena sesak dan gatal karena uremia.
11. Kognitif dan perseptual
o Peningkatan ureum darah menyebabkan kulit bersisik dan gatal. Gangguan
penglihatan dapat terjadi apabila ensefalopati hipertensi. Hipertermi
terjadi pada hari pertama sakit dan bila imun yang menurun.
12. Persepsi diri
o Klien cemas dan takut karena urinenya berwarna merah dan edema. Anak
berharap dapat sembuh kembali seperti semula.
13. Hubungan peran
o Anak tidak dibesuk oleh teman-temannya karena jauh dan lingkungan
perawatan yang baru serta kondisi kritis menyebabkan anak banyak diam.
Lanjutan…
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b.d efek fisiologis dari neoplasia
2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan b.d peningkatan kebutuhan metabolisme,
kehilangan protein dan penuruna intake
3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan (Intravaskuler) b.d kehilangan protein dan cairan
4. Kelebihan volume cairan (tubuh total) b.d akumulasi cairan dalam jaringan dalam ruang
ketiga
5. Intoleransi aktivitas b.d kelelahan
6. Perubahan proses keluarga b.d mempunyai anak yang menderita penyakit yang
mengancam kehidupan
7. Kecemasan b.d prosedur pembedahan nefroctomy
Lanjutan…
RENCANA KEPERAWATAN DAN EVALUASI
Diagnosa keperawatan: Nyeri b.d efek fisiologis dari neoplasia
Tujuan: Pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun
Lanjutan…
Intervensi keperawatan/Rasional:
1. Kaji tingkat nyeri, untuk menentukan tindakan selanjutnya
2. Lakukan teknik pengurangan nyeri nonfarmakologis, sebagai
analgesik tambahan
3. Berikan analgesik sesuai ketentuan, untuk mengurangi rasa sakit
4. Berikan obat dengan jadwal preventif, untuk mencegah kambuhnya
nyeri
5. Hindari aspirin atau senyawanya, karena aspirin meningkatkan
kecendrungan pendarahan
Lanjutan…
Hasil yang diharapkan: skala nyeri berkurang, klien dapat beraktivitas