Anda di halaman 1dari 39

Sejarah Perusahaan

Perusahaan PT Bima Sakti Manunggal


• merupakan Industri Kecil manufaktur logam di Perkampungan Industri
Kecil (PIK)
• salah satu cabang dari perusahaan Manufaktur Automatic Industries (MAI)
di tangerang.
• berdiri pada tahun 2008 yang saat itu dipimpin oleh Bpk. Teguh Santoso
hingga tahun 2012, dengan modal awal sebesar Rp. 3 Milyar
• kepemimpinan perusahaan PT Bima Sakti Manunggal sekarang beralih
kepada Bapak Lukman Hakim.
• Tenaga kerja pada perusahaan ini rata – rata adalah penduduk sekitar
kawasan PIK.
• Komponen yang dihasilkan oleh PT Bima Sakti Manunggal merupakan part
untuk kendaraan bermotor sehingga pelanggan perusahaan ini adalah
perusahaan perakitan kendaraan bermotor, salah satunya Perusahaan
Multi Mandiri Autopart (MMA).
Profil Perusahaan

• Nama Perusahaan : PT. Bima Sakti Manunggal


• Alamat Perusahaan : Perkampungan Industri Kecil, Blok G 26-27
Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur.
• Hasil Produksi : Berupa part atau komponen logam yaitu,
Insert Pin 16/8
Insert Pin 5D9
Insert Shaft
Panel Pin 45
Kolar
Boss Converter Sensor
Racesteering
• Jumlah Tenaga Kerja : 10 karyawan tetap dan 9 orang karyawan tidak tetap
• Jam Kerja :Jam kerja efektif dalam 1 hari yaitu dibagi 2 shift dengan
waktu 8 jam/shift.
• No. SIUP : 01350-05/PM/P1/1.824.271
• NPWP : 02.313.213.7-004.000
STRUKTUR ORGANISASI
PT. BIMA SAKTI MANUNGGAL
DIREKTUR

LUKMAN HAKIM

MANAGER

TONI SANTOSA

ASISTEN MANAGER

JOKO TRI ARYANTO

DIVISI PRODUKSI DIVISI QUALITY DIVISI PURCHASING &

MARKETING, ADM

YADI (KEPALA PRODUKSI SHIF 1)


SELVI (STAFF) TONI SANTOSA
AWAN (KEPALA PRODUKSI SHIF 2) (MANAGER)
DEDI SUSANTO (STAFF SENIOR)

PUJA (STAFF)

AROM (OPERATOR)

RONI (OPERATOR)
Perumusan Masalah
• Perumusan masalah dalam pelaksanaan kegiatan Praktik Kerja Lapangan

adalah bagaimana tata letak pada PT. BIMA SAKTI MANUNGGAL?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan Praktik Kerja Lapangan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :

• Mengetahui tata letak produksi pada PT .BIMA SAKTI MANUNGGAL.

• Mengetahui tata letak non produksi pada PT .BIMA SAKTI MANUNGGAL.

• Mengetahui alur produksi suatu produk pada PT. BIMA SAKTI MANUNGGAL.
Batasan Masalah
Pembatasan masalah yang dilakukan untuk Perencanaan Tata Letak Pabrik
dalam pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan, yaitu :

• Pengamatan dilakukan selama tiga hari (17-19 februari 2014).

• Pelaksanaan PKL dilakukan di PT. BIMA SAKTI MANUNGGAL.

• Lebih fokus dalam mengamati alur produksi pada proses pembuatan part
insert shaft dan insert pin 5D9 pada PT. BIMA SAKTI MANUNGGAL.
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN
DATA

1. Pengumpulan data
Pengamatan dilakukan di PT Bima Sakti Manunggal
dengan objek pengamatan komponen Insert Shaft dan Insert
Pin 5D9. Komponen tersebut tidak ada perakitan dalam proses
pembuatannya, dengan bahan baku yang dipakai berupa baja
Solid Stell (SS), SS400 dan S45C.
a. Jam kerja pada PT Bima Sakti Manunggal untuk bulan
februari yaitu 24 hari, dalam 1 hari jam kerja dibagi
menjadi 2 shift. Dalam 1 Shift sama dengan 6 jam atau 360
menit, sehingga dalam 1 hari jumlah jam kerja efektif
yaitu 720 menit.
b. Berikut gambar teknik dari komponen yang diamati Insert
Shaft dan Insert Pin 5D9 :
Insert Shaft Insert Pin 5D9
Gambar komponen

Insert Shaft

Insert Pin 5D9


d. Efisiensi
Jika diketahui waktu tersedia dalam 1 bulan adalah 17280 Menit, maka kecepatan
lintasannya adalah :
Untuk komponen Insert Shaft yaitu,
σ 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎
𝐾𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐿𝑖𝑛𝑡𝑎𝑠𝑎𝑛 =
σ 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖
24 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑥 12 𝑗𝑎𝑚 𝑥 60 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
=
25.000
17.280
= = 0,69 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡/𝑢𝑛𝑖𝑡
25.000

Untuk komponen Insert Pin 5D9 yaitu,


σ 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎
𝐾𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐿𝑖𝑛𝑡𝑎𝑠𝑎𝑛 =
σ 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖
24 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑥 12 𝑗𝑎𝑚 𝑥 60 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
=
31.250
17.280
= = 0,55 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡/𝑢𝑛𝑖𝑡
31.250

Dari perhitungan tersebut kecepatan per stasiun kerja dibagi dengan kecepatan lintasan,
sehingga efesiensi setiap mesin akan dapat diketahui kemudian dijumlah dan dirata –
ratakan efisiensinya seperti tabel berikut :
Scrap

•Insert Shaft Berat benda Berat benda Scrap


sebelum setelah (gram)
Proses
diproses (gram) diproses
(gram)
Pemotongan awal 8 8 0
Bor dan pemotongan 8 4,176 3,824
Penghalusan diameter dalam 4,176 4,168 0,008
Penghalusan diameter luar 4,168 4,128 0,04
Bor 4,128 4,12 0,008
Pemeriksaan 4,12 4,12 0

Berat benda Berat benda Scrap


sebelum setelah (gram)
Proses
•Insert Pin 5D9 diproses (gram) diproses
(gram)
Pemotongan awal 13 13 0
Pemotongan kedua 13 13 0
Penghalusan diameter dalam 13 12,987 0,013
Pembubutan bagian atas 12,987 12,662 0,325
Pembubutan bagian bawah 12,662 12,155 0,507
Pemeriksaan 12,155 12,155 0
Lanjutan ….. Scrap
Lanjutan ….. Scrap
Lanjutan ….. Scrap

Sehingga diperoleh % Scrap seperti yang


terlihat pada tabel berikut ini.

•Insert Shaft
Berat benda Berat benda Scrap % Scrap
sebelum setelah (gram)
Proses
diproses diproses
(gram) (gram)
Pemotongan awal 8 8 0 0
Bor dan pemotongan 8 4,176 3,824 47,8
Penghalusan diameter 4,176 4,168 0,008 0,2
dalam
Penghalusan diameter 4,168 4,128 0,04 1
luar
Bor 4,128 4,12 0,008 0,2
Pemeriksaan 4,12 4,12 0 0
Lanjutan ….. Scrap

•Insert Pin 5D9

Berat benda Berat benda Scrap %


sebelum setelah (gram) Scrap
Proses
diproses diproses
(gram) (gram)
Pemotongan awal 13 13 0 0
Pemotongan kedua 13 13 0 0
Penghalusan diameter 13 12,987 0,013 0,1
dalam
Pembubutan bagian atas 12,987 12,662 0,325 2,5
Pembubutan bagian 12,662 12,155 0,507 4
bawah
Pemeriksaan 12,155 12,155 0 0
f. Tata letak
Tata letak pada bangunan perusahaan yang kami amati adalah
sebgai berikut :

Lantai 1 bangunan
Lantai 2 bangunan
B. Pengolahan data
Dari hasil pengumpulan data yang telah dilakukan maka,
pengolahan data perencanaan tata letak pabrik sebagai berikut :

1. Routing Sheet adalah tabulasi yang menggambarkan urutan


proses yang akan digunakan sebagai dasar perhitungan jumlah
kebutuhan mesin teoritis atau aktual. Berikut adalah tabel
Routing Sheet yang didapat dari hasil pengumpulan data :
Tabel Routing Sheet komponen Insert Shaft

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INDUSTRI – JAKARTA


Nomor tugas : PKL II Dosen : Hendi Dwi H.
Nama/NIM : 1. Ryan Adi Suryawan (1912006) Assisten :
PT. BIMA SAKTI
2. Rais Jaka Purnama (1912016) Tgl. Dibuat :
MANUNGGAL
Kapasitas : 33 unit per jam Tgl. Disetujui :
Efisiensi : 86 % Disetujui Oleh :

Σ Produksi Σ Produksi Produksi


Kode Uraian Proses Kapasitas / Keb. Mesin Keb. Mesin
NO Mesin / Peralatan % Scrap Diharapkan Disiapkan dengan eff.
Operasi Operasi jam Teoritis Aktual
(unit) (unit) = 86 %
Insert Shaft

1 O-1 Pemotongan awal Benzo 1048 0 64,12 64,12 74,56 0,07 1

Bor dan Bubut Turret


O-2 402 47,8 33,47 64,12 74,56 0,19 1
pemotongan (lettle)

Penghalusan
O-3 CNC 1619 0,2 33,4 33,47 38,92 0,02 1
Diameter dalam

Penghalusan
O-4 Bubut Turret 2267 1 33,07 33,4 38,84 0,02 1
diameter luar

O-5 Bor Drill 1857 0,2 33 33,07 38,45 0,02 1

Pemeriksaan dan
I-1 Jig 4365 0 33 33 38,37 0,01 1
pengemasan
Tabel Routing Sheet komponen Insert Pin 5D9

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INDUSTRI – JAKARTA


Nomor tugas : PKL II Dosen : Hendi Dwi H.

Nama/NIM : 1. Ryan Adi Suryawan (1912006) Assisten :


PT. BIMA SAKTI MANUNGGAL
2. Rais Jaka Purnama(1912016) Tgl. Dibuat :
Kapasitas : 110 unit per jam Tgl. Disetujui :
Efisiensi : 57 % Disetujui Oleh :

Mesin
/ Kapasitas / Σ Produksi Σ Produksi Produksi dengan eff. = Keb. Mesin Keb. Mesin
NO Kode Operasi Uraian Proses Operasi % Scrap
Perala jam Diharapkan (unit) Disiapkan (unit) 57 % Teoritis Aktual
tan
Insert Pin
Benz
O-1 Pemotongan awal 2095 0 117,64 117,64 206,39 0,10 1
1 o

Bubut
O-2 Pemotongan kedua 3223 0 117,64 117,64 206,39 0,06 1
Turret

Penghalusan Diameter Bubut


O-3 1377 0,1 117,52 117,64 206,39 0,15 1
dalam Turret

Bubut
O-4 Pembubutan bagian atas 1360 2,5 114,58 117,52 206,18 0,15 1
Turret

Bubut
O-5 Pembubutan bagian bawah 2042 4 110 114,58 201,02 0,10 1
Turret

Pemeriksaan dan
I-1 Jig 13769 0 110 110 192,98 0,01 1
pengemasan
2. Peta Proses Operasi (Operation Process Chart)
• Dari hasil pengolahan pada Routing Sheet data yang
didapat akan dimasukkan dalam Peta Proses Operasi,
berikut adalah gambar Peta Proses Operasi untuk
komponen yang diamati :
Peta Proses Operasi untuk komponen Insert Shaft

RINGKASAN
Kegiatan Simbol Jumlah Waktu
Operasi 5 3,420’
Pemeriksaan 1 0,164’
Penyimpanan 1 -
Jumlah 7 3,584’
Peta Proses Operasi untuk komponen Insert Pin 5D9

RINGKASAN
Kegiatan Simbol Jumlah Waktu
Operasi 5 1,853’
Pemeriksaan 1 0,052’
Penyimpanan 1 -
Jumlah 7 1,905’
3. Multy Product Process Chart (MPPC)
• Untuk melihat kebutuhan mesin pada setiap
proses produksi komponen yang diamati dapat
dilihat pada Multy Product Process Chart (MPPC)
yaitu sebagai berikut :
Tabel Multy Product Process Chart (MPPC) pada
Insert Shaft
NO NAMA MESIN JUMLAH
ATAU PERALATAN KomponendariInsert Shaft MESIN
AKTUAL

1 STORAGE S 1

2 MESIN BENZO O-1 1

MESIN BUBUT O-2


3 1
TURRET

4 MESIN CNC O-3 1

MESIN BUBUT
5 O-4 1
TURRET

6 MESIN DRILL O-5 1

7 INSPEKSI I-1

8 WAREHOUSE S
Tabel Multy Product Process Chart (MPPC) pada
Insert Pin 5D9
NO NAMA MESIN JUMLAH
ATAU PERALATAN KomponendariInsert Shaft MESIN
AKTUAL

1 STORAGE S 1

2 MESIN BENZO O-1 1

MESIN BUBUT O-2


3 1
TURRET

MESIN BUBUT
4 O-3 1
TURRET

MESIN BUBUT
5 O-4 1
TURRET

MESIN BUBUT
6 O-5 1
TURRET

7 INSPEKSI I-1

8 WAREHOUSE S
4. Diagram Alir
Aliran produk yang ada pada PT Bima Sakti Manunggal
adalah sebgai berikut :
a. Untuk komponen Insert Shaft
b. Untuk komponen Insert Pin 5D9
ANALISA MASALAH

• Kebutuhan Mesin
Dari hasil pengumpulan data yang telah diolah pada bab
sebelumnya telah didapat data untuk dianalisa. Pada tabel
MPPC dapat dilihat kebutuhan mesin untuk setiap proses
pembuatan komponen yang diamati yaitu komponen Insert
Shaft dan Insert Pin 5D9 yaitu sebagai berikut :
Tabel kebutuhan mesin untuk komponen Insert Shaft

Kode
Uraian Proses Operasi Mesin / Peralatan Keb. Mesin Aktual
Operasi

O-1 Pemotongan awal Benzo 1

O-2 Bor dan pemotongan Bubut Turret (lettle) 1

Penghalusan Diameter
O-3 CNC 1
dalam

O-4 Penghalusan diameter luar Bubut Turret 1

O-5 Bor Drill 1

Pemeriksaan dan
I-1 Jig 1
pengemasan
Tabel kebutuhan mesin untuk komponen insert pin 5D9

Kode
Uraian Proses Operasi Mesin / Peralatan Keb. Mesin Aktual
Operasi
O-1 Pemotongan awal Benzo 1

O-2 Pemotongan kedua Bubut Turret 1

Penghalusan Diameter
O-3 Bubut Turret 1
dalam

O-4 Pembubutan bagian atas Bubut Turret 1

Pembubutan bagian
O-5 Bubut Turret 1
bawah
Pemeriksaan dan
I-1 Jig 1
pengemasan

Karena rata – rata kebutuhan mesin aktual adalah 1, maka sesuai dengan
keadaan pada saat pengamatan di PT Bima Sakti Manunggal sehingga tidak
ada penambahan mesin.
• Diagram Alir
Aliran produksi dari setiap komponen dari data hasil
pengolahan maka diagram alir untuk komponen –
komponen tersebut dapat digambarkan dalam layout
berikut :

= alur produksi insert shaft = alur produksi insert pin 5D9


Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa aliran
proses produksi pada kedua komponen yang
diamati masih terdapat alur yang menyilang
(Cross Tracking) dan back track yang bisa dilihat
pada gambar berikut :
a. Cross Tracking

= alur produksi insert shaft = alur produksi insert pin 5D9


b. Back Track

= alur produksi insert shaft = alur produksi insert pin 5D9

Selain itu, pengambilan bahan material untuk


diproses pada mesin pertama sampai proses
pemeriksaan masih terjadi Back Track dan
jaraknya pun cukup jauh.
• Tata letak

Dari hasil analisa untuk tata letak pabrik adalah :


1. Untuk tata letak bagian non produksi terlihat cukup
baik, hal ini dikarenakan bagian administrasi masih
didekatkan dengan fasilitas yang semestinya seperti
adanya ruang meeting dan toilet khusus. Hubungan
aktivitas antar ruangan pada bagian non produksi ini
disesuaikan dengan kemudahan interaksi antar
karyawan produksi dan non produksi seperti pada
gambar (pada pengolahan data). Namun, pada ruang
meeting masih terlihat belum dilengkapi dengan
perlengkapan yang seharusnya hanya terdapat AC dan
WhiteBoard didalamnya.
2. Pada bagian produksi, karena tidak adanya penambahan
mesin dan masih terdapat masalah pada aliran proses
produksi maka tata letak untuk perbaikannya adalah
sebagai berikut :
Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Adapun kesimpulan untuk hasil dari pengolahan dan analisis
pada pengamatan mengenai tata letak pabrik ini adalah :

• Layout masih kurang efektif, hal ini terlihat pada penggunaan


mesin dalam prosesnya dan penempatan mesin yang akan
digunakan serta ruang gerak karyawan yang kurang efektif
dalam beraktivitas.
• Tata letak pada bagian non produksi terlihat cukup baik,
sehingga pada hasil analisa tidak ada perbaikan untuk tata
letak pada bagian non produksi.
• Mesin yang tidak terpakai menghalangi aliran proses pada saat
produksi, selain itu dari hasil analisa masih terdapat aliran
proses yang mengalami back track dan cross tracking seperti
yang terlihat pada gambar.
Saran
• Berdasarkan hasil analisa dan kesimpulan, kebutuhan mesin
aktual sudah sesuai dengan kegiatan produksi. Akan tetapi,
perusahaan diharapkan dapat melakukan perencanaan tata
letak yang baik agar dapat meningkatkan produktivitas dan
efisien pengguanaan mesin, serta luas lantai produksi yang
diperbesar agar penempatan material dan mesin lebih
efektif.
• Untuk ruang manajemen sebaiknya lebih dilengkapi lagi
fasilitasnya seperti pada ruangan meeting seharusnya ada
tempat duduk dan meja. Dan diharapkan ada petunjuk
pemakaian ruangan yang benar.
• Mesin yang akan digunakan berada pada posisi yang
berdekatan dengan mesin sebelumnya dan seterusnya, agar
perpindahan setiap bahan yang akan diproses lebih mudah
dan dapat menhilangkan kendala seperti back track dan
cross tracking.