Anda di halaman 1dari 34

ANEMIA

DEFESIENSI
BESI
ANEMIA DEFISIENSI BESI

Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan anemia yang


timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk
eritropoesis, karena cadangan besi kosong (depleted
iron store) yang pada akhirnya mengakibatkan
pembentukan hemoglobin berkurang, hal ini
disebabkan tubuh manusia mempunyai kemampuan
terbatas untuk menyerap besi dan seringkali tubuh
mengalami kehilangan besi yang berlebihan yang
diakibatkan perdarahan.
Sel Darah Merah (Eritrosit)

Fungsi sel darah merah, yang juga dikenal


sebagai eritrosit, adalah pegangkutan
hemoglobin,yang selanjutnya mengangkut
oksigen dari paru-paru ke jaringan.
Reaksi reversibel antara karbondioksida (CO2)
dan air untuk membentuk asam karbonat (H2
CO3), yang dapat meningkatkan kecepatan
reaksi ini beberapa ribu kali lipat.
Bentuk dan Ukuran Sel-Sel Darah Merah
Sel darah merah normal,
mikrometer dan dengan ketebalan
2,5 mikrometer dan dengan
diameter rata-rata kira-kira 7,8
mikrometer dan dengan ketebelan
2,5 mikrometer pada bagian yang
paling tebal serta 1 mikrometer
atau kurang di bagian tengahnya.
Volume rata-rata sel darah merah
adalah 90 sampai 95 mikrometer
kubik.
Konsentrasi Sel-Sel Darah Merah
dalam Darah

Pada pria normal, jumlah rata-rata sel darah permilimeter kubik


adalah 5.200.000 (± 300.000), pada wanita normal, 4.700.000
(± 300.000).
Produksi Sel-Sel Darah Merah
Selama pertengahan trimester masa gestasi, hati dianggap
sebagai organ utama untuk memproduksi sel-sel darah merah

Dalam minggu-minggu Terdapat juga sel-sel


pertama kehidupan darah merah dalam
embrio, sel-sel darah jumlah cukup banyak
merah primitive yang yang diproduksi di limpa
berinti diproduksi di yolk dan kelenjar limfe.
sac.

Kira-kira selama bulan terakhir kehamilan dan sesudah lahir, sel-sel darah merah hanya diproduksi di sumsum tulang. Pada
dasarnya sumsum tulang dari semua tulang memproduksi sel darah merah sampai seseorang berusia 5 tahun; tetapi
sumsum tulang panjang, kecuali bagian proksimal, humerus dan tibia, menjadi sangat berlemak dan tidak memproduksi sel-
sel darah merah setelah berusia kurang lebih 20 tahun. Setelah usia ini, kebanyakan sel darah merah diproduksi dalam
sumsum tulang membranosa, seperti vertebra, sternum, rusuk, dan ilium. Bahkan dalam tulang-tulang ini, sumsum tulang
menjadi kurang produktif seiring dengan bertambahnya usia.
Karakteristik Sel Darah Merah

Proeritroblas Sel-sel eritropoesis yang paling Eritroblas, basofil Diameter sel mengecil
muda dan karenanya, paling
dibandingkan dengan
besar. Inti bulat, berwa rna ungu
proeritroblas. Inti bulat tanpa
tua, struktur kematin padat
merata, dengan tiga sa mpai lima nucleoli yang dapat dikenal.
nukleous yang tanpak tidak jelas. Kondensasi spesifik dan sebaran
Sitoplasma berwa rna biru seperti kromatin yang sangat kontras
bunga diladang ga ndum denga n
(alur terang di antara
darah terang yang berbentuk
bercak atau seperti bulan sa bit,
gumpalan-gumpalan kromatin
yang analog dengan zona Golgi berwarna ungu), yang disebut
dan mitokondria yang berisi sebagai ’jari-jari roda’ walaupun
lipoid. Sensitivita s terhadap lesi
sebutan ini tidak terlalu tepat.
mekanismenyebabkan
Sitoplasmanya tampak basofilik
kecenderunga n penjulura n
sitopla sma. sedang.
Eritroblas , Diameter sel lebih berkurang. Eritroblas, Pada kelompok sel ini, ukuran
polikromatofil ortokromatik inti terus berkurang. Bersamaan
Warna sitoplasma ungu (oksifilik)
dengan hal itu, terjadi pemadatan
kebiru-abu-abuan (percampuran
kromatin inti (piknosis) hingga
warna terjadi melalui proses = mencapai stadium terbentuknya
permulaan sinisasiyang progresif sisa inti yang berwarna hitam
= pemulaian sifat oksifilik). homogen. Sitoplasma berwarna
merah muda kuning keabu-abuan,
Intinya tampak kompak, yang
dan tepi luarnya sering tidak
berbeda dengan normoblas
terbatas tegas. Sel pada tahap ini
baspfilik, dan memperlihatkan telah mengalami
sebaran (area) yang spesifik. hemonglobinisasi sempurna.
Retikulosit Khas dengan adanya substania Eritrosit Berbentuk cakram berwa rna

granulofila mentosa dan merah kekuninga n, denga n

reticulofilsmentods = struktur ukura n yag hampir sa ma besar


tanpa struktur interna l (dia meter
internal yang berbentuk jala atau
7-8 um). Bagia n terang ditenga h
benang atau seperti granula, yang
diseba bkan bentuk cakram yang
hanya tanpak setelah perawatan
bikonkaf. Struktur bagia n interna l
vital, dengan Brilliant Cresy
la innya Badan Jolly : sisainti
Bkue.interprentasi warna:
yang menga ndung DNA dala m
eritrosit berwarna biru hijau eritrosit. Merupakan petanda
muda,dan substantia tidak berfungsinyalimpa karna
reticulofilamentosa biru sel-sel ini umumnya dihancurkan
kehitaman. di limpa.
Jumlah Hemoglobin dalam Sel

Sel-sel darah merah mampu mengonsentrasikan hemoglobin dalam


cairan sel sampai sekitar 34 gram per 100 militer sel. Konsentrasi ini
tak akan melebihi nilai tersebut, karena nilai merupakan batas
metabolik mekanisme pembentukan hemoglobin sel. Selanjutnya, pada
orang normal, persentase hemoglobin hampir selalu mendekati nilai
maksimum dalam setiap sel. Namun,bila pembentukan hemoglobin
dalam sumsum tulang berkurang, persentase hemoglobin dalam sel
dapat turun sampai di bawah nilai tersebut, dan volume sel darah
merah juga dapat menurun karena jumlah hemoglobin yang mengisi
sel menjadi berkurang.
Peran Ginjal dalam Pembentukan
Eritropoietin.

Pada orang normal, kira-kira 90% dari seluruh eritropoietin dibentuk dalam
ginjal, sisanya terutama dibentuk di hati. eritropoietin disekresi oleh sel epitel
tubulus renal, karna darah yang anemis tidak mampu menghantarkan cukup
oksigen dari kapiler peritubulus ke sel tubulus yang sangat banyak
mengonsumsi oksigen, sehingga merangsang produksi eritropoietin. keadaan
hipoksia di bagian tubuh lainnya, tetapi bukan di ginjal, akan merangsang
sekresi eritropoietin ginjal.
Pengaruh Eritropoietin dalam Pembentukan
Sel-Sel Darah Merah

pengaruh utama eritropoietin adalah merangsang produksi


proeritroblas dari sel stem hematopoietik di sumsum tulang.
Selain itu, begitu proeritroblas terbentuk, maka eritropoietin
juga menyebabkan sel-sel ini dengan cepat melalui berbagai
tahap eritroblastik ketimbang pada cepat melalui berbagai
tahap eritroblastik ketimbang pada keadaan normal.
Pematangan sel Darah Merah –
Kebutuhan Vitamin B 12
(Sianokobalamin) dan Asam Folat

Dua vitamin yang khususnya penting untuk pematangan akhir sel darah
merah adalah, vitamin B12 dan asam folat. kurangnya vitamin B12 atau
asam folat dapat menyebabkan abnormalitas dan pengarangan inti dan
pembelahan sel. Selanjutnya, sel-sel eritroblastik pada sumsum tulang,
selain gagal berproliferasi secara cepat, akan menghasilkan sel darah
merah yang lebih besar dari normal, disebut makrosit. Oleh karna itu,
dikatakan bahwa difisiensi vitamin B12 atau asam folat dapat
menyebabkan kegagalan pematangan dakam proses eritropoiesis.
Mekanisme Hemolisis

Hemolisis berarti pemendekan kemampuan hidup eritrosit. Keadaan ini


dikompensasi oleh peningkatan eritropeotin untuk meningkatkan
eritropoesis.
Kehilangan sel darah merah. Kehilangan darah kronis, terutama dari
uterus atau dari traktus gastrointestinalis merupakan sebab terbanyak
500 ml seluruh darah mengandung kira-kira 250 mg besi dan walaupun
penyerapan besi makanan meningkat pada satdium dini defisiensi
besi, keseimbangan besi negatif biasa terdapat pada kehilangan darah
kronis.
Pembentukan Hemoglobin
Sintesis hemoglobin dimulai dengan dalam proeritroblas dan berlanjut
bahkan dalam stadium retikulosit pada pembentukan sel darah merah.
Mula-mula, suksinil-KoA, yang dibentuk dalam siklus Krebs, berikatan
dengan glisin untuk membentuk molekul pirol. Kemudian, empat pirol
bergabung dengan besi untuk membentuk molekul heme. Akhirnya,
setiap molekul heme bergabung dengan rantai polipeptida panjang,
yaitu globin yang disintesis oleh ribosom, membentuk suatu subunit
hemoglobin yang disebut rantai hemoglobin. Tiap-tiap rantai
mempunyai berat molekul kira-kira 16.000. setiap rantai hemoglobin
mempunyai sebuah gugus prostetik heme yang mengandung satu atom
besi, dan karena adanya empat rantai hemoglobin di setiap molekul
hemoglobin, setiap atom ini dapat berikatan longgar dengan satu
molekul oksigen, sehingga empat molekul oksigen (atau delapan
molekul oksigen) dapat diangkut oleh setiap molekul hemoglobin.
Metabolisme Besi

Jumlah total besi rata-rata dalam tubuh sebesar 4-5 gram,


kira-kira 65 % dijumpai dalam bentuk hemoglobin, 1%
dalam bentuk variasi senyawa heme yang memicu
oksidasi intrasel, 0,1% bergabung dengan protein
transferin dalam plasma darah, dan 15-30% disimpan
untuk penggunaan selanjutnya terutama disistem
retikuloendotelial dan sel parenkim hati, khususnya
dalam bentuk feritin.
Pengangkutan dan Penyimpanan Besi

Besi diabsorbsi dari usus halus, besi tersebut segera


bergabung didalam plasma darah dengan beta globulin, yakni
apotransferin, untuk membentuk transferin, yang selanjutnya
diangkut dalam plasma. Dalam sitoplasma sel, besi ini
bergabung terutama dengan suatu protein, yakni apoferitin,
untuk membentuk feritin. Apoferitin mempunyai berat molekul
kira-kira 460.000, dan berbagai jumlah besi dapat bergabung
dalam bentuk kelompok radikal besi dengan molekul besar ini.
Besi yang Terbuang dalam
Sehari

Setiap hari, seorang pria mengekskresikan sekitar 0,6 mg besi,


terutama dalam feses. Bila terjadi perdarahan, maka jumlah
besi yang hilang akan lebih banyak lagi. Pada wanita, hilangnya
darah menstruasi mengakibatkan kehilangan besi jangka
panjang rata-rata sekitar 1,3 mg/hari.
Absorbsi Besi dari Teraktus
Intestinal

Besi diabsorbsi dari semua bagian usus halus,


sebagian besar melalui mekanisme. Hati mengekresi
apotransferin dalam jumlah sedang kedalam empedu
yang mengalir melalui duktus biliaris kedalam
duodenum.
Anemia
Anemia Akibat Kehilangan Darah. Anemia Aplastik.
Setelah mengalami perdarahan Aplasia sumsum tulang berarti
yang cepat, tubuh akan mengganti tidak berfungsinya sumsum tulang.
cairan plasma dalam waktu 1
sampai 3 hari, namun hal ini akan
menyebabkan konsentrasi
darah merah menjadi rendah. Bila
sel 01 02
tidak terjadi perdarahan
berikutnya, konsentrasi sel darah
merah biasanya kembali normal
dalam waktu 3 sampai 6 minggu.

Anemia megaloblastik. Anemia Hemolitik.


Dari pembicaraan mengenai vitamin Sel-sel tersebut bersifat rapuh,
B12, asam folat, dan faktor intrinsik sehingga mudah pecah sewaktu
yang berasal dari mukosa lambung, melewati kapiler, terutama
kita dapat mengerti dengan mudah
bahwa hilangnya salah satu faktor
03 04 sewaktu melalui limpah. Masa
hidup sel darah merah ini sangat
ini dapat memperlambat produksi singkat sehingga sel ini
eritroblas dalam sumsum tulang. dihancurkanlebih cepat
Akibatnya, sel darah merah tumbuh dibandingkan pembentukannya
terlalu besar dengan bentuk yang dan mengakibatkan anemia yang
aneh, dan disebut megaloblas. parah.
Etiologi Anemia Defisiensi Besi

1. Ketidakseimbangan poIa makan daIam


mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi
dengan kebutuhan didaIam tubuh.
2. Gangguan absorbsi besi pada usus
3. Kebutuhan seI darah merah meningkat pada saat
hamiI dan menyusui.
Manifestasi Klinis
Koilonik ia Yaitu kuku sendok (spoon nail),
kuku menjadi ra puh,
berga ris-garis vertika l dan
menjadi cekung sehingga mirip
sendok.

Cheilosis Ya itu fisura dan ulsera si sudut


angularis mulut atau adanya keradanga n
(stomatitis pada sudut mulut sehingga
angularis) tampak sebagai bercak berwa rna
pucat keputihan .

Atropi papil lidah Yaitu permukaan lidah menjadi


licin dan mengkila p karena papil
lidah menghila ng.

Disfagia Yaitu nyeri menela n karena


kerusakan epitel hipofaring.

S indrom Ya itu kumpulan geja la yang


Paterson-Kelly terdiri dari anemia hipokromik
(Plum mer-Vin son) mikrositer, atrofi papil lidah, dan
disfagia.
Diagnosis

Diagnosis anemia defisiensi besi harus dilakukan anamnesis


dan pemeriksaan fisik yang teliti disertai pemeriksaan
laboratorium yang tepat, dalam menegakkan diagnosis ADB
diperlukan pemeriksaan laboratorium yang meliputi
pemeriksaan darah lengkap seperti Hb, leukosit, trombosit
ditambah pemeriksaan morfologi darah tepi dan pemeriksaan
status besi (Fe serum, Total ironbinding capacity (TIBC), saturasi
transferin, feritin)(Bakta, 2009).
Komplikasi

Kekurangan zat besi berdampak buruk kepada sistem


kekebalan tubuh manusia. Inilah yang membuat anda
lebih mudah terserang penyakit lain. Anemia defisiensi
besi juga bisa berakibat kepada terjadinya gagal
jantung, yaitu saat kinerja terjadinya gagal jantung,
yaitu saat kinerja jantung menurun dan tidak bisa
memompa darah ke seluruh bagian tubuh dengan baik
Pathway
Manifestasi yang timbul

Perdarahan menahun yang menyebabkan kehilangan besi


atau kebutuhan besi yang meningkat akan dikompensasi
tubuh sehingga cadangan besi makin menurun. Jika
cadangan besi menurun, keadaan ini disebut keseimbangan
zat besi yang negative, yaitu tahap deplesi besi (iron depleted
state)
Kasus

Nn A, 35 tahun dirawat di RS dengan keluhan letih, lesu,


sakit kepala, lemas dan nafsu makan berkurang serta
tidak mampu beraktivitas. Pada pemeriksaan fisik Nn A
terlihat pucat, nafas sesak, palpitasi, letargi/mengantuk.
Pada pemeriksaan darah Hb 8gr/dl. Nn A di duga
menderita anemia defisiensi Fe.
Diagnosa

1. Ketidakseimbangan Nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh


b/d asupan diet kurang
Kode : 00002
2. Intoleran Aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen
Kode : 00092
Perencanaan
NO NANDA NOC NIC

1 Ketidakseimbangan Nutrisi : Status nutrisi Manajemen nutrisi


kurang dari kebutuhan
tubuh b/d asupan diet Definisi : Sejauh mana Definisi : Menyediakan
kurang nutrisi dicerna dan diserap dan meningkatkan
untuk memenuhi kebutuhan intake nutrisi yang
Kode : 00002 metabolik. seimbang

Definisi : Asupan nutrisi tidak


cukup untuk memenuhi
kebutuhan metabolik. Indikator : Aktivitas-aktivitas :

1. 100401 Asupan gizi (4) 1. Tentukan status gizi


pasien dan
Batasan Karakteristik : 2. 100402 Asupan makanan kemampuan (pasien)
(4) untuk memenuhi
1. Enggan makan kebutuhan gizi.
3. 100408 Asupan cairan (4)
2. Kurang minat pada 2. Tentukan jumlah
makanan 4. 100403 Energi (4)
kalori dan jenis nutrisi
5. 100405 rasio berat yang dibutuhkan untuk
3. Membran mukosa pucat
badan/tinggi badan (4) memenuhi persyaratan
gizi.
6. 100411 Hidrasi (4)
Faktor yang berhubungan : 3. Berikan pilihan
mananan sambil
1. Asupan diet kurang menawarkan
bimbingan terhadap
pilihan (makanan) yang
Populasi beresiko : lebih sehat, jiika
diperlukan.
1. Faktor biologis

Kondisi terkait :

1. Ketidakmampuan makan
2 Intoleran Aktivitas b/d Toleransi terhadap aktivitas Terapi aktivitas
ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan Definiisi : respon fisiologis Definisi : peresepan
oksigen terhadap pergerakan yang terkait dengan
memerlukan energi dalam menggunakan bantuan
Kode : 00092 aktivitas sehari-hari. aktivitas fisik, kognisi,
sosial, dan spiritual
Definisi : Ketidakcukupan untuk meningkatkan
energi pisikologis atau frekuensi dan durasi
fisiologis untuk Indikator :
dari aktivitas
mempertahankan atau kelompok.
1. 000501 satu rasi oksigen
menyelsaikan aktivitas
ketika beraktivitas (4)
kehidupan sehari-hari yang
harus atau yang ingin 2. 000503 Frekuensi
dilakukan. Aktivitas-aktivitas :
pernapasan ketika
beraktivitas (4) 1. Pertimbangkan
kemampuan klien
Batasan Karakteristik : dalam berpartisipasi
melalui aktivitas
1. Respons tekanan darah spesifik
abnormal terhadap aktivitas
2. Bantu klien untuk
2. Ketidaknyamanan setelah tetap fokus pada
beraktivitas kekuatan (yang dimiliki
nya) dibandingkan
3. Keletihan
dengan kelemahan
(yang dimilikinya)

Faktor yang berhubungan : 3. Bantu klien


mengidentifikasi
1. Ketidakseimbangan aktivitas yang
antara suplai dan kebutuhan diinginkan.
oksigen

2. Fisik tidak bugar

Populasi beresiko :

1. Riwayat intoleran
aktivitas sebelumnya

Kondisi terkait :

1. Masalah sirkulasi

2. Gangguan pernapasan
Tindakan intervensi keperawatan
1. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d asupan diet kurang.
Intervensi Rasional
1. kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien . - Mengetahui kekurangan nutrisi klien.
2. kaji penurunan nafsu makan klien. - Agar dapat dilakukan intervensi dalam
pemberian makanan pada klien .
3. jelaskan pentingnya makanan bagi proses - Dengan pengetahuan yang baik tentang
penyembuhan. nutrisi akan memotivasi untuk
meningkatkan pemenuhan nutrisi.
4. ukur tinggi dan berat badan klien. - membantu dalam identifikasi malnutrisi
protein-protein, khususnya bila berat
badan kurang dari normal.
5. dokumentasi masukan oral selama 24 - Mengindentifikasi ketidak seimbangan
jam, riwayat makanan, jumlah kalori kebutuhan nutrisi
dengan tepat ( intake)
Tindakan intervensi keperawatan
2. Intoleran aktivitas b/d ketidak seimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen.
Intervensi Rasional
1. Monitor respons pasien terhadap - Menetapkan kemampuan, kebutuhan
aktivitas. pasien dan memudahkan pilihan
intervensi.
2. Berika n lingkunga n tenang dan batasi
pengunjung sela ma fase akut sesuai - Menurunkan stress dan ra ngsanga n
indika si. berlebiha n, meningka tkan istira hat.

3. Jela skan pentingnya istira hat dalam - Tira h baring diperta hankan sela ma
rencana pengobatan dan perlunya fase aku untuk menurunkan kebutuhan
keseimbangan aktivitas dan istira hat. metabolic, menghemat energi
penyembuhan.
4. Bantu pasien memilih posisi nyaman - Pa sien mungkin nyaman dengan kepala
untuk istira hat dan atau tidur. lebih tinggi.
5. kola bora si dengan fisioterapi jika perlu. - Meningka tkan kemampuan aktivita s
pasien sesuai kemampuan maksima l.
Masalah keperawatan

1. Ketidakseimbangan nutrisi
2. Inteloran aktifitas b/d ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen
THANK YOU