Anda di halaman 1dari 13

Kelompok 6

Nama Kelompok :

I’in Masfiyah (20151660092)


Firda Ani Siswanto (20151660071)
Dhafita Sari Ningsih (20151660038)
Winda Ramda Yanti (20151660067)
KETOASIDOSIS DIABETIKUM
( KAD )
 Pengertian

ketoasidosis diabetikum (KAD) adalah suatu


keadaan yang disebabkan oleh ketidakadaan atau jumlah
insulin yang tidak memadai, mengakibatkan terjadinya
gangguan dalam metabolisme karbohidrat, protein dan
lemak dengan tanda klinis utama yang itu hiperglikemia,
dehidrasi, kehilangan elektrolit dan asidosis (Smeltzer,
2010)
 Etiologi

ketoasidosis Diabetikum paling sering disebabkan oleh


infeksi. Faktor pencetus yang lain meliputi penyakit berat seperti:

- Cedera Serebrovaskular (CVA)


- Infark miokard
- Pankreatitis
- Penyalahgunaan obat-obatan
- Dan trauma

(Patricia dkk, 2011 )


 Patofisiologis
Apabaila jumlah insulin berkurang, jumlah glukosa yang
masuk kedalam sel akan berkurang juga. Disamping itu produksi
dan pelepasan glukosa oleh hati menjadi tidak terkontrol atau
meningkat. Kedua faktor ini menyebabkan hiperglikemia, dalam
upaya untuk menghilangkan glukosa yang berlebihan dari dalam
tubuh, ginjal akan mengsekresikan glukosa bersama air dan
elektrolit (seperti, natrium dan kalium). Deuresis osmotik yang
ditandai dengan urinasi yang berlebihan (poliuri) ini akan
menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit.

(Patricia dkk, 2011)


 Manifestasi Klinis

Respon neurologis berkisar sadar sampai koma,


frekuensi pernapasan cepat dan dalam. Pasien juga
mengalami pengelihatan kabur, kelemahan, sakit kepala dan
penurunan volume intarvaskular yang ditandai mungkin
memiliki ortostatik hipotensi (penurunan tekanan darah
sistolik 20 mmHg atau lebih pada perubahan dari posisi
berbaring ke posisi berdiri ). Penurunan volume juga
menyebabkan hipotensi, ketosis dan asidosis DKA
menyebabkan gastrointestinal , mual muntah dan sakit perut.
(Smeltzer, 2010)
 Pemeriksaan Penunjang

• Pemeriksaan laboratorium
meliputi Glukosa darah, osmolalitas, celah anion,
BGA, aseton urine, dan Glukosa urine (Patricia dkk, 2011)

• Pemeriksaan Diagnostik
kultur dahak, urine dan darah juga dapat dilakukan
untuk menentukan adanya infrksi, pemeriksaan sinar-X dada
harus dilakukan untuk mengetahui infeksi akut dan EKG,
jika perlu pemeriksaan EKG dilakukan untuk memonitor
kemungkinan timbulnya infark miokard akut , yang bisa
terjadi tanpa rasa nyeri pada dada pasien diabetes. (Patricia
dkk, 2011)
 Penatalaksanaan

Menurut patricia, dkk 2011 penatalaksanaan


Ketoasidosis
Diabetikum (KAD) adalah :

- Penggantian cairan
- Penggantian kalium dan fosfat
- Terapi Insulin
- Penggantian Bikarbonat
- Mengembalikan fungsi metabolik
 ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan

• Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan peningkatan


respirasi ditandai dengan pernafasan kusmaul.
• Kekurangann volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif : diuresis osmotik akibat hiperglikemi
• Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan
dengan penurunan sirkulasi darah ke otak
• Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan
masukan oral dan status hipermetabolisme
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1. Kekurangann volume cairan NOC: NIC :


v Fluid balance Fluid management
v Hydration 1. Pertahankan catatan
v Nutritional Status : Food and Fluid intake dan output yang
Intake akurat
Kriteria Hasil : 2. Monitor status hidrasi
v Mempertahankan urine output sesuai (kelembaban membran
dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT mukosa, nadi adekuat,
normal tekanan darah
v Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam ortostatik), jika
batas normal diperlukan
TD : 100 -120 / 60- 80 mmHg, RR : 16 – 3. Monitor vital sign
24 x/mnt, S : 36,5 – 37,5 C, N : 60-100 4. Monitor masukan
x/mnt. makanan / cairan dan
v Tidak ada tanda tanda dehidrasi, hitung intake kalori
Elastisitas turgor kulit baik, membran harian
mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang 5. Kolaborasikan
berlebihan pemberian cairan IV
6. Monitor status nutrisi
7. Berikan cairan IV
pada suhu ruangan.
No. Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi

2. Ketidak efektifan pola NOC : NIC :

nafas v Respiratory status : Ventilation Airway Management


1. Posisikan pasien
v Vital sign Status
untuk memaksimalkan
Kriteria Hasil :
ventilasi
v Tanda Tanda vital dalam 2. Identifikasi pasien
rentang normal (tekanan darah, perlunya pemasangan

nadi, pernafasan, kedalaman alat jalan nafas buatan


3. Pasang mayo bila
pernafasan)
perlu
TD : 100 -120 / 60- 80 mmHg,
4. Auskultasi suara
RR : 16 – 24 x/mnt, S : 36,5 –
nafas, catat adanya
37,5 C, N : 60-100 x/mnt. suara tambahan
v Nilai BGA dalam rentang 5. Berikan pelembab

normal udara Kassa basah


NaCl Lembab
pH: 7,35 – 7,45
6. Atur intake untuk
PaCO2 : 35 – 45 mmHg
cairan
PaO2 : 80-100 mmHg
mengoptimalkan
SaO2 : 95-100% keseimbangan.
7. Monitor respirasi dan
No. Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
3. Ketidakseimbangan NOC NIC
nutrisi kurang dari v Nutritional status Manajemen
kebutuhan tubuh hiperglikemik
v Nutritional intake: nutrient
1.Monitor kadar
intake
gkukosa darah
v Nutritional status :
2. Monitor tanda gejala
Biokimia hiperglikemi
3. Monitor keton urine
Kriteria hasil: 4. Berikan insulin

v mengontrol glukosa darah sesuai dosis dari dokter


5. Dorong asupan
dalam rentang normal
cairan oral
v Tidak ada mual dan
6. Monitor status
muntah
cairan
v Mampu mengidentifikasi 7. Fasilitasi kepatuhan
kebutuhan nutrisi terhadap diet dan
v Tidak ada tanda-tanda regimen latihan

malnutrisi 8. Monitoring nutrisi


pasien
v Tidak terjadi penurunan
No. Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
4. Ketidakefektifan perfusi NOC NIC
jaringan serebral Circulation status Pengaturan
Henodinamik
Tissue perfusion cerebral
1. Lakukan penilaian
komprehensif terhadap
Kriteria hasil:
status hemodinamik
v TD dalam rentang normal 2. Lakukan
(100-120/60-80 mmHg) pemeriksaan fisik
v Tidak ada ortostik berkala

hipertensi 3. Monitor adanya


tanda gejala masalah
v Menunjukkan perhatian
pada status perfusi
konsentrasi dan orientasi
4. Monitor TTV
v tidak menujukkan adanya
5.Kurangi kecemasan
tingkat kesadaran dengan memberikan
V tidak ada muntah informasi yang akurat
6. Berkolaborasi
dengan dokter sesuai
indikasi