Anda di halaman 1dari 22

HUKUM PAJAK DAN PERPAJAKAN

Suranto, S.Pd, M.Pd


Pajak yang dipungut atas penyerahan barang /
jasa, impor dan bidang usaha lain.
1. Untuk transaksi impor barang, API
(Angka Pengenal Impor/Pemegang Ijin Impor) =
2,5% X Nilai Impor,
Tidak memilki API = 7,5% x Nilai Impor,
0,5% X Nilai Impor khusus (gandum, kedelai dan
tepung terigu)

Nilai Impor / NI adalah : Nilai yang berupa


uang yang menjadi dasar penghitungan Bea
Masuk yaitu Cost Insurance and Freight (CIF)
ditambahkan dengan Bea Masuk dan Pungutan
Lainnya yang dikenakan berdasarkan
ketentuan peraturan perundang–undangan
pabean bidang Impor
2. Untuk pembelian yang berhubungan dengan
Perusahaan Pemerintah (BI, BPPN, BULOG,
TELKOM, PLN, PT Garuda Indonesia, PT
Indosat, PT Krakatau Steel, Pertamina, dan
Bank BUMN yang dibayar dengan APBN
maupun non-APBN) = 1,5% X jumlah
pembelian
3. Transaksi yang berhubungan dng industri
tertentu
 Industri semen = 0,25% X DPP PPN
 Industri kertas = 0,1% X DPP PPN
 Industri baja = 0,3% X DPP PPN
 Industri otomotif = 0,45% X DPP PPN
*DPP: Dasar pengenaan pajak
4. Transaksi yang berhubungan dng PERTAMINA
terkait Penjualan Hasil Produksi dan
Importir Minyak, Gas, dan Pelumas
Jenis SPBU Swasta (% SPBU Pertamina (%
penjualan penjualan)

Premium/solar/pre 0,3% 0,25%


mix/super TT

Minyak tanah/gas - 0,3%


elpiji

Oli/Pelumas - 0,3%
pertamina
5. Pembelian bahan–bahan untuk kebutuhan
industri / ekspor dari pedagang pengumpul
oleh industri & eksportir yang bergerak dalam
sektor perhutanan, perkebunan, pertanian dan
perikanan: 1,5% X Harga Beli
6. Penjualan Rokok di Dalam Negeri oleh industri
Rokok : 0,15 X Harga Banderol
7. Penjualan barang sangat mewah (pesawat
udara pribadi +20 M, kapal pesiar +10 M,
Rumah dan tanah +10 M/bangunan +500M2
apartemen +10M/bangunan +400M2 , kendaraan
roda 4 +5M/3000CC) Pajak PPH 22 5% (belum
termasuk PPN dan PPnBM)
 Impor barang / penyerahan barang di dalam
negeri yang berdasarkan peraturan
perundang – undangan tidak terutang pajak
penghasilan.
 Impor barang yang dibebaskan dari Bea
Masuk dan atau Pajak Pertambahan Nilai,
contoh :
 Barang perwakilan negara asing dan
pejabatnya yang bertugas di Indonesia
berdasarkan asas timbal balik
 Barang kiriman hadiah untuk ibadah umum
atau sosial
 barang untuk keperluan museum, kebun
binatang,dll
 barang untuk keperluan penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan
 barang keperluan khusus tuna netra dan
penyandang cacat lainnya
 peti yang berisi jenasah
 barang pindahan
 barang pribadi penumpang
 barang impor pemerintah untuk kepentingan
umum
 persenjataan dan amunisi militer negara
 vaksin polio untuk PIN
 buku pelajaran umum dan kitab suci.
 Kapal laut, kapal angkutan sngai, kapal
penangkap ikan dan suku cadang yang
diimpor dan akan digunakan perusahaaan
pelayaran nasional dan penangkapan ikan
nasional
 Pesawat udara dan suku cadang yang diimpor
dan akan digunakan perusahaaan angkutan
nasional niaga nasional
 Kereta api dan suku cadang yang diimpor
oleh PT.KAI
 Peralatan yang digunakan untuk data batas
dan foto udara wilayah Indonesia yang
dilakukan oleh TNI
 Impor sementara yang semata–mata untuk
diekspor kembali.
 Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp
1.000.000 dan tidak merupakan pembayaran
yang terpecah–pecah.
 Pembayaran untuk pembelian bahan bakar
minyak, listrik, gas, air minum / PDAM dan
benda–benda pos
 Emas batangan yang akan diproses menghasilkan
barang perhiasan dari emas untuk tujuan ekspor
 Pembayaran untuk pembelian gabah dan atau
beras oleh Bulog
 Tanggal 17 Agustus 2015, Dinas Dikpora
Surakarta Membeli mebel dan peralatan
kantor lainnya dari Toko Persada Furniture
senilai Rp.220.000.000 (harga sudah
termasuk PPN 10%)
 Maka PPH 22 Yang dipungut oleh bendahara
Dikspora Surakarta adalah:
 DPP : (100/110) X 220.000.000 = 200.000.000
 PPH pasal 22 : 1,5% X 200.000.000 =
3.000.000
 PT.INDAH KIKY PAPER dalam bulan Juli 2015
menjual beberapa jenis kertas hasil
produksinya sebesar 88.000.000 ( sudah
termasuk PPN 10%) kepada Penerbit PUTRA
ABADI di Surakarta
 DPP: (100/110) X 88.000.000 = 80.000.000
 PPH 22: 0,1% X 80.000.000 = 80.000
 PT.PERTAMINA bulan Agustus 2015 melakukan
penyerahan bahan bakar minyak senilai
816.000.000 kepada SPBU Pertamina,
523.000.000 kepada SPBU swasta (harga
belum termasuk PPN 10%)
 Maka PPH 22 adalah:
0,25% X 816.000.000 = 2.040.000
0,3% X 523.000.000 = 1.569.000
 PTALAM pemilik API melakukamn impor
mesin dari Korea dengan rincian:
Harga Mesin = USS 800.000
Asuransi = USS 50.000
Ongkos Kirim = USS 10.000
Bea Masuk = 30% dari harga mesin
PPN = 10% dari harga mesin
Pungutan Pelabuhan = USS 5.000
Kurs USS = Rp.8.500
 Cost = Harga (mesin)
 Insurance = Asuransi
 Freight = Ongkos Angkut

CIF = US$ (800.000+50.000+10.000)


CIF = US$ 860.000
CIF = 860.000 X 8.500 = Rp.7.310.000.000
 Nilai Impor = CIF + Bea masuk dan pabean lainnya
 Nilai Impor = CIF + Bea masuk + Pungutan di
pelabuhan
 Nilai Impor = US$ 860.000 + (30% x 800.000) +
5.000
 Nilai Impor = US$ 860.000 + 240.000 + 5.000
 Nilai Impor = US$ 1.105.000
 Nilai Impor Rupiah = 1.105.000 x 8.500 =
Rp.9.392.500.000 (belum termasuk PPN)
 PPH Pasal 22 impor = 2,5% X nilai impor
 2,5% X US$ 1.105.000 = US$ 27.625
 ATAU 2,5% X Rp.9.392.500.000 =
Rp.234.812.500
 PTJAYA pemilik API melakukan impor
GANDUM dengan rincian:
Harga GANDUM = 1.000.000 yen
Asuransi = 100.000 yen
Ongkos Kirim = 200.000 yen
Bea Masuk = 250.000 yen
PPN = 10%
Pungutan Pelabuhan = 50.000 yen
Kurs 1 yen = Rp.3.000
 Cost = Harga (mesin)
 Insurance = Asuransi
 Freight = Ongkos Angkut

CIF = Yen (1.000.000+100.000+200.000)


CIF = Yen 1.300.000
 Nilai Impor = CIF + Bea masuk + Pungutan di
pelabuhan
 Nilai Impor = 1.300.000 + 250.000 + 50.000
 Nilai Impor = Yen 1.600.000
 Nilai Impor Rupiah = 1.600.000 X 3.000 =
4.800.000.000
 PPH Pasal 22 impor gandum = 0,5% X nilai
impor
 0,5% X Yen 1.600.000 = Yen 8.000
 ATAU Rupiah 24.000.000

Total Pengeluaran: Nilai Impor + PPN + PPH 22


1.600.000 + 160.000 + 8.000 = 1.768.000 YEN
ATAU 5.304.000.000