Anda di halaman 1dari 26

KONSEP KEBUTUHAN

SUHU TUBUH

By Supriyadi
Pengertian

Suhu tubuh keseimbangan antara panas yg dihasilkan


tubuh dg panas yg dikeluarkan tubuh.
perbedaan antara jumlah panas yg
diproduksi oleh tubuh dan jumlah yg
hilang ke lingkungan luar.
Suhu inti suhu jaringan dalam tubuh.
Suhu permukaan tubuh : suhu pd kulit, jaringan subcutan,
dan lemak.
(panas yg diproduksi–panas yg dikeluarkan = suhu tubuh)
Tempat Pengukuran Suhu
Suhu Int
A. Fisiologi regulasi suhu tubuh manusia

keseimbangan suhu tubuh di regulasi


oleh mekanisme fisiologis dan
perilaku. agar suhu tubuh tetap
konstan dan berada pada batasan
normal, hubungan antara produksi
panas dan pengeluaran panas harus
dipertahankan. hubungan diregulasi
melalui mekanisme neurologis dan
kardiovaskuler.
Kontrol Neural dan Vaskuler
Hipotalamus Hemisfer serebral

Hipotalamus Hipotalamus
anterior posterior

sel saraf>set point sel saraf<set point

impuls dikirim untuk menurunkan suhu impuls dikirim untuk meningkatkan suhu
tubuh (pengeluaran panas) tubuh (produksi panas)

Mekanisme pengeluaran panas: mekanisme konservasi panas:


berkeringat, vasodilatasi pembuluh Vasokonstriksi pembuluh darah
darah, hambatan produksi panas mengurangi aliran darah ke kulit dan
ekstremitas.

darah didistribusi kembali ke pembuluh


darah permukaan untuk meningkatkan Kompensasi produksi panas distmulasi
pengeluaran panas melalui kontraksi otot volunter dan
getaran pada otot
Produksi panas

- Panas diproduksi di dalam tubuh melalui metabolisme, yang


merupakan reaksi kimia pada semua sel tubuh. Makanan
merupakan sumber bahan bakar yang utama bagi metabolisme.
- Reaksi kimia seluler membutuhkan energi untuk membentuk
ATP. Jumlah energi yang digunakan untuk metabolisme adalah
laju metabolik.
- Bila metabolisme meningkat, panas tambahan diproduksi.
Ketika metabolisme menurun, panas yang diproduksi lebih
sedikit. Produksi panas terjadi saat istirahat, gerakan otot polos,
getaran otot dan termogenesis tanpa menggigil.
PENGELUARAN PANAS

 Pengeluaran dan
produksi panas terjadi
secara simultan
 pengeluaran panas
secara normal melalui
radiasi, konduksi,
konveksi dan
evaporasi.
RADIASI
 Radiasi adalah perpindahan panas dari permukaan suatu
objek ke permukaan objek lain tanpa keduanya bersentuhan.
 Panas berpindah melalui gelombang elektromagnetik.
 Aliran darah dari organ internal inti membawa panas ke kulit
dan ke pembuluh darah permukaan.
 Jumlah panas yang dibawa ke permukaan tergantung dari
tingkat vasokonstriksi dan vasodilatasi yang diatur oleh
hipotalamus.
 Vasokontriksi perifer meminimalkan kehilangan panas ke
luar. Sampai 85% area permukaan tubuh manusia
menyebarkan panas ke lingkungan.
 Namun, bila lingkungan lebih hangat dari kulit tubuh akan
mengabsorbsi panas melalui radiasi. Perawat meningkatkan
kehilangan panas melalui radiasi dengan melepaskan
pakaian atau selimut.
Konduksi
 Konduksi adalah perpindahan panas dari
satu objek ke objek lain dengan kontak
langsung.
 Ketika kulit hangat menyentuh objek
yang lebih dingin, panas hilang.
 Ketika suhu dua objek sama kehilangan
panas konduksi terhenti.
 Panas berkonduksi melalui benda padat,
gas, dan cair.
 Perawat meningkatkan kehilangan panas
konduktif ketika memberikan kompres es
atau memandikan klien dengan air
dingin.
 Memberikan beberapa lapis pakaian
mengurangi kehilangan panas konduktiv.
KONVEKSI

 Konveksi adalah perpindahan


panas karena gerakan udara.
Panas diproduksi pertama kali
pada molekul udara secara
langsung secara langsung dalam
kontak dengan kulit.
 Kehilangan panas konvektif
meningkat ketika kulit lembap
kontak dengan udara yang
bergerak ringan.
 Kipas angin listrik meningkatkan
kehilangan panas melalui
konveksi.
EVAPORASI
 Evaporasi adalah perpindahan energi panas ketika cairan
berubah menjadi gas.
 Dengan mengatur perspirasi atau berkeringat, tubuh
meningkatkan kehilangan panas evaporatif tambahan.
 Berjuta-juta kelenjar keringat yang terletak dalam dermis
kulit menyekresi keringat melalui duktus kecil pada
permukaan kulit.
 Ketika suhu tubuh meningkat hipotalamus anterior
memberikan sinyal kelenjar keringat untuk melepaskan
keringat.
 Selama latihan dan stres emosi atau mental, berkeringat
adalah salah satu cara untuk menghilangkan kelebihan
panas yang dibuat melalui peningkatan laju metabolik.
 Evaporasi berlebihan dapat menyebabkan kulit gatal dan
bersisik, serta hidung dan faring kering.
KULIT PADA REGULASI
SUHU
 Peran kulit pada regulasi suhu meliputi insulasi (isolasi)
tubuh, vasokontriksi (yang mempengaruhi jumlah aliran
darah dan kehilangan panas pada kulit), dan sensasi suhu.
Kulit, jaringan sub kutan, dan lemak menyimpan panas di
dalam tubuh.
 Ketika aliran darah antara lapisan kulit berkurang, kulit
adalah insulator paling baik.
 Derajat vasokontriksi menentukan jumlah aliran darah dan
kehilangan panas ke kulit.
 Bila suhu inti terlalu tinggi, hipotalamus menghambat
vasokontriksi. Sebagai akibat, pembuluh darah berdilatasi,
dan lebih banyak pembuluh mencapai permukaan kulit. Pada
hari panas dan lembap pembuluh darah di tangan berdilatasi
dan mudah dilihat.
 Sebaliknya bila suhu inti menjadi terlalu rendah, hipotalamus
menimbulkan vasokontriksi dan aliran darah ke kulit
berkurang. Sehingga panas tubuh dihemat.
KONTROL PERILAKU

Manusia secara sadar bertindak untuk


mempertahankan suhu tubuh yang nyaman ketika
terpajan pada suhu ekstrim. Kemampuan individu
untuk mengontrol suhu tubuh bergantung pada:
 Derajat ekstrim suhu

 Kemampuan individu untuk merasakan

kenyamanan atau ketidaknyamanan


 Proses pikir atau emosi

 Mobilitas atau kemampuan individu untuk

melepaskan atau menambahkan pakaian


B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUHU TUBUH

• Usia
Regulasi suhu tidak stabil sampai anak-anak mencapai pubertas.
Rentang suhu normal turun secara berangsur sampai seseorang
mendekati masa lansia.
• Olahraga
Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan
pemecahan karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan
peningkatan metabolisme dan produksi panas.
• Kadar hormon
wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar
dibandingkan pria. Variasi hormonal selama siklus menstruasi
menyebabkan fluktuasi suhu tubuh.
• Irama Sirkadian
Suhu tubuh biasanya paling rendah antara pukul 01.00 dan
04.00 dini hari. Sepanjang hari, suhu tubuh naik, sampai sekitar
18.00 dan kemudian turun seperti pada dini hari
• Stres
• Lingkungan
C. DAMPAK PENINGKATAN ATAU PENURUNAN
SUHU TUBUH. (PERUBAHAN SUHU)

 Perubahan suhu tubuh di luar rentang normal


mempengaruhi set point hipotalamus. Perubahan ini
dapat berhubungan dengan produksi panas yang
berlebih, pengeluaran panas yang berlebihan, produksi
panas yang minimal. Pengeluaran panas minimal atau
setiap gabungan dari perubahan tersebut. Sifat
perubahan tersebut mempengaruhi masalah klinis yang
dialami klien.
DEMAM
 Hiperpireksia atau demam terjadi karena mekanisme pengeluaran panas tidak mampu untuk
mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi panas, yang mengakibatkan
peningkatan suhu tubuh abnormal.
 Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh, pirogen bekerja sebagai antigen, mempengaruhi
sistem imun. Sel darah putih diproduksi lebih banyak lagi untuk meningkatkan pertahanan tubuh.
 Selain itu, substansi sejenis hormon dilepaskan untuk selanjutnya mempertahankan melawan
infeksi.
 Substansi ini juga mencetuskan hipotalamus untuk mencapai set point, tubuh memproduksi dan
menghemat panas. Dibutuhkan beberapa jam untuk mencapai set point baru dari suhu tubuh.
 Selama periode ini, orang tersebut menggigil, gemetar dan merasa kedinginan, meskipun suhu
tubh meningkat. Fase menggigil berakhir ketika set point baru, suhu yang lebih tinggi, tercapai.
 Selama fase berikutnya, masa stabil, menggigil hilang dan pasien merasa hangat dan kering. Jika
set point baru telah melampaui batas, atau pirogen telah dihilangkan (mis. destruksi bakteri oleh
antibiotik), terjadi fase ketiga episode febris.
 Set point hipotalamus turun, menimbulkan respons pengeluaran panas. Kulit menjadi hangat dan
kemerahan karena vasodilatasi. Diaforesis membantu evaporasi pengeluaran panas. Ketika demam
“berhenti” klien menjadi afebris.
LANJUTAN....
 Selama episode febris, produksi sel darah putih distimulasi. Suhu yang
meningkat menurunkan konsentrasi zat besi dalam plasma darah,
menekan pertumbuhan bakteri.
 Demam juga bertarung dengan infeksi karena virus menstimulasi
interferon.
 Pola demam berbeda, bergantung pada pirogen.
 Peningkatan dan penurunan jumlah pirogen berakibat puncak demam
dan turun dalam waktu yang berbeda.
 Durasi dan derajat demam bergantung pada kekuatan pirogen dan
kemampuan individu untuk berespons.
 Istilah demam yang tidak diketahui penyebabnya mengacu pada
demam yang etiologinya tidak dapat ditentukan.
 Intervensi selama demam termasuk terapi oksigen. Mekanisme
regulasi digunakan untuk mengatasi demam yang membuat klien
beresiko kekurangan cairan.
 Kehilangan air melalui peningkatan pernafasan dan diaforesis dapat
menjadi berlebihan. Dehidrasi dapat menjadi masalah serius pada
lansia dan anak-anak yang berat badannya rendah. Mempertahankan
keadaan volume cairan yang optimum merupakan tindakan
TANDA KLINIS DEMAM
 Denyut jantung meningkat
 Frekuensi dan kedalaman pernapasan
meningkat
 Menggigil
 Pucat, kulit dingin (selama fase menggigil)
 Kulit kemerahan dan hangat
 Mengeluh merasa dingin (selama fase
menggigil)
 Bulu roma berdiri pada kulit (selama fase
menggigil)
POLA DEMAM

 Terus menerus (tingginya menetap lebih dari 24


jam bervariasi 1°C sampai 2°C)
 Intermiten (demam memuncak secara berseling
dengan suhu normal. Suhu kembali normal paling
sedikit sekali dalam 24 jam)
 Remiten (demam memuncak dan turun tanpa
kembali ke tingkat suhu normal)
 Relaps (periode episode demam diselingi dengan
tingkat suhu normal, episode demam dan
normotermia dapat memanjang lebih dari 24 jam)
KELELAHAN AKIBAT PANAS

 Kelelahan akibat panas terjadi bila


diaforesis yang banyak mengakibatkan
kehilangan cairan dan elektrolit secara
berlebihan. Disesbabkan oleh lingkungan
yang terpajan panas. Tanda dan gejala
kurang volume cairan adalah hal yang
umum selama kelelahan akibat panas.
Tindakan pertama yaitu memindahkan klien
yang lebih dingin serta memperbaiki
keseimbangan cairan dan elektrolit.
HIPERTERMIA

 Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan


ketidakmampuan tubuh untuk meningkatkan
pengeluaran panas atau menurunkan produksi
panas adalah hipertermia.
 Setiap penyakit atau trauma pada hipotalamus
dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran
panas.
 Hipertermia malignan adalah kondisi bawaan
tidak dapat mengontrol produksi panas, yang
terjadi ketika orang yang rentang menggunakan
obat-obatan anastetik tertentu.
HEATSTROKE

 Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan


dengan suhu tinggi dapat mempengaruhi mekanisme
pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heatstroke, kedaruratan
yang berbahaya panas dengan angka mortalitas yang tinggi.
 Klien beresiko termasuk yang masih sangat muda atau sangat
tua, yang memiliki penyakit kardiovaskuler, hipotiroidisme,
diabetes atau alkoholik. Yang juga termasuk beresiko adalah
orang yang mengonsumsi obat yang menurunkan kemampuan
tubuh untuk mengeluarkan panas (misalnya fenotiazin,
antikolinergik, diuretik, amfetamin, dan antagonis reseptor
beta-adrenergik) dan mereka yang menjalani latihan olahraga
atau kerja yang berat (misalnya atlet, pekerja konstruksi dan
petani).
 Tanda dan gejala heatstroke termasuk gamang, konfusi,
delirium, sangat haus, mual, kram otot, gangguan visual dan
bahkan inkontinensia.
 Tanda yang paling penting dari heatstroke adalah kulit yang
LANJUTAN....
 Penderita heatstroke tidak berkeringat karena
kehilangan elektrolit sangat berat dan memfungsi
hipotalamus
 Tanda vital menyatakan suhu tubuh kadang-kadang
setinggi 45°C, takikardia dan hipotensi. Otak
mungkin merupakan organ yang lebih dahulu
terkena karena sensitifitasnya terhadap
ketidakseimbangan elektrolit. Jika kondisi terus
berlanjut, klien menjadi tidak sadar, pupil tidak
reaktif. Terjadi kerusakan neurologis yang permanen
kecuali jika tindakan pendinginan segera dimulai.
HIPOTERMIA

 pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap


dingin mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi
panas, mengakibatkan hipotermia.
 hipotermia aksidental biasanya terjadi secara berangsur dan
tidak diketahui selama beberapa jam. ketika suhu tubuh turun
menjadi 35°C, klien mengalami gemetar yang tidak terkontrol,
hilang ingatan, depresi, dan tidak mampu menilai.
 jika suhu tubuh turun dibawah 34,4°C, frekuensi jantung,
pernafasan, dan tekanan darah turun. kulit menjadi sianotik.
 jika hipotermia terus berlangsung, klien akan mengalami
disritmia jantung, kehilangan kesadaran dan tidak responsif
terhadap stimulus nyeri.
 dalam kasus hipotermia berat, klien dapat menunjukkan tanda
klinis yang mirip dengan orang mati (misalnya tidak ada respon
terhadap stimulus dan nadi serta pernafasan sangat lemah).
TANDA KLINIS HIPOTERMIA:

 menggigil hebat (awalnya)


 merasa dingin dan kedinginan
 Pucat, dimgin, kulit seperti lilin
 hipotensi
 haluaran urin menurun
 koordinasi otot berkurang
 disorientasi
 mengantuk yang mengarah ke koma