Anda di halaman 1dari 93

KELOMPOK 10

Firdayanti Rauf
Andi Ita Magdaalena
Fadillah Nur Syamsia
Rini Astriyani
Ichsan Pachruddin
Anatomi Regio Ankle
• Terdiri dari Os tibia, Os fibula, dan Os
talus, Calcaneus
Ankle Joint
Ankle Joint
• Subtalar Joint
• Talonavicular Joint
• Transversal Tarsal Joint
• Intertarsal dan Tarso Metatarsal Joint
• Intermetatarsal Joint
• Metatarsophalangeal Joint
• Interphalangeal Joint
Ligament
Muscle
Nerves
Blood Vessels
Arcus
Biomekanik
NO Gerakan ROM

1. Plantar fleksi 0 – 55o

2. Dorso fleksi 0 – 15o

3. Eversi 0 - 100

4. Inversi 0 – 200
Congenital Talipes Equinu Varus
(CTEV)
Pendahuluan
CTEV atau biasa disebut Clubfoot merupakan istilah umum untuk
menggambarkan deformitas umum dimana kaki berubah/bengkok dari
keadaan atau posisi normal. Beberapa dari deformitas kaki termasuk
deformitas ankle disebut dengan talipes yang berasal dari kata talus
(yang artinya ankle) dan pes (yang berarti kaki).

CTEV berasal dari bahasa latin, dimana congenital berarti sesuatu yang
sudah ada sejak lahir, talipes berasal dari kata talus yang berarti tulang
talus (tulang pergelangan kaki) dan dari kata pes yang artinya kaki,
equinus berarti posisi kaki dan pergelangan kaki yang mengarah ke
bawah dan belakang dan varus berarti posisi kaki yang memutar ke
dalam sehingga telapak kaki menghadap bagian dalam.
Macam-Macam Bentuk Kelainan Kaki
Definisi
Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) adalah
deformitas/kelainan bawaan sejak lahir pada kaki yang
ditandai dengan plantar fleksi pergelangan kaki (talo
cruralis), adduksi dan supinasi mid tarsal joint yang
membentuk posisi atau sikap kaki dalam keadaan
inversi. Sehingga anak berjalan dengan bagian luar
kaki.
Patofisiologi
• Ahli lain mengatakan bahwa kelainan terjadi karena perkembangan embryonic yang
abnormal
• saat perkembangan kaki ke arah fleksi dan eversi pada bulan ke-7 kehamilan.
• Pertumbuhan yang terganggu pada fase tersebut akan menimbulkan deformitas
dimana dipengaruhi pula oleh tekanan intrauterine.
• Menyebabkan posisi kaki bayi berputar ke bawah dan dalam
• kaki berposisi plantar fleksi, adduksi supinasi dan inversi, cenderung terjadi
penguluran/kelemahan otot-otot kaki bagian lateral
• otot-otot kaki bagian dalam (medial) mengalami kontraktur
• atrofi dan kontraktur dari struktur atrogen (ligament dan capsul sendi sisi medial diikuti
dengan peubahan posisi/bentuk dari tulang/sendi dari kaki ke arah club foot yang
dapat bersifat permanen.
Patofisiologi
Clubfoot bukan merupakan malformasi embrionik.
Kaki yang pada mulanya normal akan menjadi clubfoot
selama trimester kedua kehamilan. Clubfoot jarang
terdeteksi pada janin yang berumur dibawah 16 minggu.
Oleh karena itu, seperti developmental hip dysplasia dan
idiopathic scoliosis, clubfoot merupakan deformasi
pertumbuhan (developmental deformation). Bentuk sendi-
sendi tarsal relative berubah karena perubahan posisi
tulang tarsal. Forefoot yang pronasi, menyebabkan arcus
plantaris menjadi lebih konkaf (cavus). Tulang-tulang
metatarsal tampak flexi dan makin ke medial makin
bertambah flexi
Gejala
• Kedua atau salah satu kaki menunjuk ke arah bawah dan
berputar ke dalam.

• Pergelangan kaki dalam keadaan equinus=dalam


keadaan plantar fleksi (Equinus ankle)

• Kaki depan mengalami adduksi dan supinasi (Fore Foot


Adduction)

• Tumit terinversi (Hind Foot Varus)

• Bayi/anak berjalan dengan anklenya atau bagian luar


kaki.
Etiologi
• Genetic,
• Defek sel germinativum primer,
• Anomali vascular,
• Faktor jaringan lunak,
• Faktor intrauterine
• Faktor miogenik.
1. Beberapa ahli berpendapat akibat posisi fetus/janin dalam kandungan yang kurang
baik.

2. Faktor genetik ikut berperan dalam menimbulkan CTEV.

3. Akibat adanya kelainan neuromuscular yang terjadi pada daerah kaki.

4. Penelitian yang dilakukakn oleh Ippolito dan Ponseti pada tahun 1980, pada janin
usia 16-19 minggu menunjukkan adanya fibrosis daerah otot kaki bagian medial
dan posterior, serta jumlah dan ukuran serabut otot 1/3 distal tungkai bawah bagian
medial dan posterior ikut berkurang

5. Saat/selama janin dalam kandungan terjadi kompressi atau penekanan baik dari
dalam atau akibat trauma dari luar serperti ibu terjatuh

6. Kurang sempurnanya perkembangan janin pada trisemester I, akibat asupan gizi


dari ibu kurang memadai
• Para ilmuwan sekarang percaya bahwa faktor genetik dan
lingkungan berkontribusi Clubfoot. Faktor lingkungan dapat
termasuk infeksi, penggunaan narkoba dan merokok. Satu
studi menemukan bahwa wanita dengan riwayat keluarga
Clubfoot yang merokok selama kehamilan memiliki risiko 20
kali lipat untuk memiliki bayi yang terkena dampak .
• Kebanyakan anak dengan Clubfoot tidak memiliki cacat lahir
lainnya, meskipun kadang-kadang memang terjadi cacat
lainnya. Dalam beberapa kasus, Clubfoot terjadi sebagai
bagian dari sindrom yang mencakup sejumlah cacat lahir.
Misalnya, anak dengan spina bifida (tulang belakang
terbuka) terkadang memiliki bentuk Clubfoot. Hal ini
disebabkan oleh saraf tulang belakang rusak yang terjadi
pada kaki. Dalam kasus lain, kaki yang normal pada saat
lahir dapat menjadi bengkok akibat penyakit otot atau saraf.
Manifestasi Klinis
• Gejala klinis dapat ditelusuri melalui riwayat keluarga yang menderita
clubfoot atau kelainan neuromuskuler, dan dengan melakukan
pemeriksaan secara keseluruhan untuk mengidentifikasi adanya
abnormalitas.
• Pemeriksaan dilakukan dengan posisi prone, dengan bagian plantar
yang terlihat, dan supine untuk mengevaluasi rotasi internal dan
varus. Jika anak dapat berdiri , pastikan kaki pada posisi plantigrade,
dan ketika tumit sedang menumpu, apakah pada posisi varus, valgus
atau netral.
• Deformitas serupa terlihat pada myelomeningocele and
arthrogryposis. Oleh sebab itu agar selalu memeriksa gejala-gejala
yang berhubungan dengan kondisi-kondisi tersebut. Ankle equinus
dan kaki supinasi (varus) dan adduksi (normalnya kaki bayi dapat
dorso fleksi dan eversi, sehingga kaki dapat menyentuh bagian
anterior dari tibia).
Klasifikasi CTEV
Literature medis menguraikan tiga kategori utama clubfoot, yaitu :

• Clubfoot ringan atau postural dapat membaik secara spontan atau


memerlukan latihan pasif atau pemasangan gips serial. Tidak ada
deformitas tulang.

• Clubfoot tetralogic terkait dengan anomaly congenital seperti


mielodisplasia atau artogriposis. Kondisi ini biasanya memerlukan
koreksi bedah dan memiliki insidensi kekambuhan yang yang tinggi.

• Clubfoot idiopatik congenital, atau “clubfoot sejati” hampir selalu


memerlukan intervensi bedah karena terdapat abnormalitas tulang.
E pidemiologi
• American Academy of Orthopaedic Surgeons menyatakan bahwa
satu dari setiap 1.000 bayi yang baru lahir memiliki kaki pengkor,
dan hampir setengah dari kasus ini mempengaruhi kedua kaki.

• Frekuensi clubfoot dari populasi umum adalah 1:700 sampai


1:1000 kelahiran hidup dimana anak laki-laki dua kali lebih sering
daripada perempuan. Berdasarkan data, 35% terjadi pada kembar
monozigot dan hanya 3% pada kembar dizigot. Ini menunjukkan
adanya peranan faktor genetika. Insidensi pada laki-laki 65%
kasus, sedangkan pada perempuan 30-40% kasus.
Diagnosis Banding

• Postural clubfoot
• Metatarsus Adductus
Treatment
Konservatif
• Serial plastering (Gips )
Yang pertama dikoreksi adalah varus kemudian
bertahap equinus.

Biasanya dilakukan pemasangan serial Gips sampai 8


kali dan jarak antara pemasangan gips 1 s/d 2 minggu,
kemudian dinilai apakah posisi kaki sudah cukup baik.
Kalau sudah cukup baik dilanjutkan dengan pemakaian
shoes correction ( Dennis Brown ) yang lamanya tidak
terbatas sampai ditemukan bentuk kaki dan fungsi yang
normal. Apabila hasil tidak baik setelah pemakaian serial
gips maka dilanjutkan dengan operasi
Tindakan Non-Operatif

• Metode Ponseti
• Metode French Functional
Dennis brown splint untuk kaki pengkor (CTEV)
Operatif
Postero medial release (Turco)
cincinati
• Penangan secara operatif dilakukan apabila penanganan
secara non operatif tidak berhasil atau bila terjadi
kekambuhan setelah dilakukan penangan dengan metode
non operatif atau pada kasus-kasus yang terlambat datang.

• Prinsipnya adalah membebaskan struktur-struktur di kaki atau


memanjangkan otot-otot kaki yang menghambat koreksi

• Penangan pasca operasi, posisi kaki yang telah dikoreksi


dipertahankan dengan gips dan tetap menggunakan sepatu
Dennis-Browne.
Komplikasi
• Komplikasi dapat terjadi dari terapi konservatif maupun operatif. Pada
terapi konservatif mungkin dapat terjadi maslah pada kulit, dekubitus
oleh karena gips, dan koreksi yang tidak lengkap. Beberapa komplikasi
mungkin didapat selama dan setelah operasi. Masalah luka dapat
terjadi setelah operasi dan dikarenakan tekanan dari cast. Ketika kaki
telah terkoreksi, koreksi dari deformitas dapat menarik kulit menjadi
kencang, sehinggga aliran darah menjadi terganggu. Ini membuat
bagian kecil dari kulit menjadi mati. Normalnya dapat sembuh dengan
berjalannya waktu, dan jarang memerlukan cangkok kulit.
• Infeksi dapat terjadi pada beberapa tindakan operasi. Infeksi dapat
terjadi setelah operasi kaki clubfoot. Ini mungkin membutuhkan
pembedahan tambahan untuk mengurangi infeksi dan antibiotik untuk
mengobati infeksi.
• Kaki bayi sangat kecil, strukturnya sangat sulit dilihat. Pembuluh darah
dan saraf mungkin saja rusak akibat operasi. Sebagian besar kaki bayi
terbentuk oleh tulang rawan. Material ini dapat rusak dan
mengakibatkan deformitas dari kaki. Deformitas ini biasanya terkoreksi
sendir dengan bertambahnya usia
Pes Equinus Valgus
Definisi

Valgus adalah deformitas yang


menyebabkan tulang membengkok
menjauhi garis tengah tubuh (lateral)
Gambaran klinis

Satu atau kedua kaki dapat terkena. Kaki


dalam posisi eversi dan dorsofleksi yang
menetap, terdapat ketegangan pada
jaringan lunak dorsolateral sehingga kaki
sulit diturunkan kedalam inversi dan
equinus.
Manajemen FT Pes Equinu
Varus & Valgus
ANAMNESIS UMUM

Nama : Andi
Umur : 1 tahun
Sex : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Jl. Sejati
Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta
Vital sign
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Denyut nadi : 115/ menit
Pola nafas : 20-30/menit
Suhu badan : 36,5 C
ANAMNESIS KHUSUS

Chief of Complain
Deformitas pada kaki/talipes equinovarus pada
kedua kaki
History taking
Sejak kapan terjadi? Sejak 1 tahun yang lalu

Kenapa bisa terjadi? Saya tidak tahu tapi kata dokter bawaan dari lahir

Bagaimana proses kelahirannya? Normal-normal saja

Apa ada keluarga sebelumnya yang seperti ini? Iya, kakek si Adik

Apa ibu pernah terjatuh saat hamil? Tidak pernah

Apa ibu mengkonsumsi obat-obatan saat hamil? Tidak pernah

Apakah ada nyeri yang dirasakan oleh anak ibu?

Apakah anak ibu terlihat meringis ketika menggerakkan kakinya?


• Apa Ibu pernah bawa anak ibu ke dokter? Ya, baru 3 bulan
ini sering ke dokter, dan dipasangi gips sejak lahir. kata
dokter dia terkena pes equinovarus dan sekarang dirujuk ke
FT
• Apa anak ibu mengkonsumsi obat? Tidak
• Apa anak ibu pernah melakukan foto x-ray atau rontgen?
Iya
• Bagaimana dengan aktivitas sehari-harinya?
• Apa ibu sering merokok ? Tidak. Bagaimana dengan suami
anda ? iya
• Apa ada keluhan lain? tidak
Assimetric
• Inspeksi
Statis
– Struktur talipes equinu varus
(ankle plantarfleksi & midtarsal adduksi-
inversi, supinasi forefoot)
– Tungkai deformitas
– Knee semifleksi dan abduksi
– Atrofi otot betis
Dinamis
• Pasien tidak mampu berjalan normal
• Pasien tidak mampu menekuk tumit & kaki secara optimal
• Pasien tidak mampu meluruskan tumit & kaki secara optimal
• Pasien tidak mampu berjongkok secara normal
• Posisi berjinjit tidak sempurna
• pasien tidak dapat melakukan fase heel strike sempurna karena ankle
tidak dapat dorsofleksi sempurna
• pasien tidak dapat melakukan foot flat sempurna karena mengalami
keterbatasan dorsofleksi
• Pada swing fase tidak terjadi dorsofleksi sempurna
Palpasi

- Suhu normal - Kontur Kulit

- Spasme (+)

- Tenderness (-)
Orientasi Test
- Berjalan
- Tes jinjit
- Squat and Bounching

Interpretasi
• Pasien tidak mampu berjalan normal
• Pasien tidak mampu menekuk tumit & kaki secara
optimal
• Pasien tidak mampu meluruskan tumit & kaki secara
optimal
• Posisi berjinjit tidak sempurna
• Pasien tidak mampu berjongkok secara normal
PFGD
• Gerak aktif:
plantarfleksi : tak sempurna
dorsofleksi : sangat sukar/tak mampu
eversi : tak mampu
inversi : tidak nyeri
• Gerak pasif:
plantarfleksi : tidak terbatas
dorsofleksi : sangat terbatas
eversi : sangat terbats
inversi : tidak terbatas
• TIMT:
plantarfleksi : lemah
dorsofleksi : lemah
eversi : lemah
inversi : lemah
Restrictive
1. Limitasi ROM

2. Limitasi ADL (berjalan, bermain, dll)

Tissue Impairment
Komponen musculotendinogen : Otot-otot peroneal &
M.Tibialis Anterior & posterior, ekstensor digitorum, otot
ekstensorer, m.gastrocnemius dan m.soleus

Komponen osteoarthrogen : ankle joint, ligament pada ankle


Spesific Test
1. Manual muscle testing (MMT)
2. Tes luas gerak sendi/ range of motion test
(ROM)
3. Pemeriksaan Motorik Kasar
4. Gait test/ diagram of walking (diagram berjalan)
5. Tes kontraktur
6. Test dermatom
7. Antropometri
8. Tes club foot
9. Keseimbangan fungsional
10. Visual analogue scale (VAS)
11. Refleks primitif
Manual muscle testing (MMT)

• Adalah pemeriksaan untuk mengetahui


kemampuan /performance dari otot dalam
berkontraksi secara voluntery. Dalam
melakukan MMT, harus memenuhi realibilitas,
validitas, dan objektifitas. Kriteria menilai pada
anak adalah 0-5.
kiri - dorso fleksi, invesi = 1
- Plantar fleksi, eversi = 1

kanan -dorso fleksi, inversi = 1


- Plantar fleksi, eversi = 1

interpretasi :

• otot m. Tibialis anterior, m. Extensor hallusis longus,


mm. Extensor digitorum, Otot m. Peroneus longus dan
brevis, m. Tibialis posterior , m gastroknemius dan
soleus, mm. Fleksor digitorum mengalami keterbatasan
gerak
Lingkup gerak sendi (ROM)
Merupakan pemeriksaan khusus yang dilakukan
pada persendian untuk mengukur luas lingkup
sendi yang dilakukan pada persendian tersebut.
Diperiksa dengan metode ISOM. Alat yang
digunakan untuk itu adalah goniometer. Adapun
persendian yang diukur luas gerak sendi adalah :
art. Talocruralis, art.subtalaris, art.midtarsalia,
art.metatarsalia, dan art.interphalanges
ROM menurut ISOM:
• S.25º.15º.15º (Plantar Fleksi-Dorso Fleksi)
• T.25º.25º.30º (Eversi-Inversi)
Limitasi pada gerakan dorsofleksi & eversi
Pemeriksaan Motorik Kasar
Pemeriksaan DDST atau gross motor
performance scale dilakukan jika ada indikasi
gangguan yang ada telah mempengaruhi proses
tumbuh kembang anak. Pada anak dengan
kondisi CTEV, problematik yang muncul yang
berkaitan dengan proses tumbuh kembang pada
saat anak telah mulai belajar berdiri atau berjalan.




 sulit
 sulit

Gait test/ diagram of walking
(diagram berjalan)
Pemeriksaan ini dikhususkan unutk melihat
diagram berjalan pada anak, apakah fase-
fase berjalan atau melangkah pada anak
terganggu atau normal. Seperti halnya
pemeriksaan DDST, pemeriksaan diagram
berjalan atau melangkah dilakukan saat anak
sudah mulai memasuki usia belajar berdiri
atau berjalan
– pasien tidak dapat melakukan fase heel strike sempurna karena
ankle tidak dapat dorsofleksi sempurna

– pasien tidak dapat melakukan foot flat sempurna karena


mengalami keterbatasan dorsofleksi

– Pada swing fase tidak terjadi dorsofleksi sempurna


Tes kontraktur
Pemeriksaan ini sangat penting dilakukan dan
merupakan salah satu pemeriksaan utama. Hal ini
disebabkan karena salah satu problematik fisioterapi
pada anak dengan CTEV adalah kontraktur otot-otot
bagian medial dari kaki. Adapun otot-otot yang perlu
diperiksa adalah : m. Tibialis posterior, m. Soleus, m
gastroknemius, mm.fleksor digitorum, dan group
adduktor mid tarsal.
Ulur otot m. Tibialis posterior, m. Soleus, m gastroknemius,
mm.fleksor digitorum, dan group adduktor mid tarsal.
Bandingkan dengan sisi yang sama.

Interpretasi : terjadi pemendekan m.tibialis posterior, m.


soleus, m.gastrocemius
Antropometri
Pemeriksaan antropometri yang perlu dilakukan
adalah :

• Leg length (pemeriksaan panjang tungkai)

• Pemeriksaan berat badan, panjang badan, dan


diameter (circumference) knee dan ankle.
Tes Club Foot
Adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk
mengetahui apakah seorang anak positif
mengalami club foot atau pes equinovarus
dengan jalan melakukan:
 Toe touching tibia
 Passive manipulation dorsofleksi
 Dorsofleksi kaki dan eversi hingga jari-jari kaki
menyentuh bagian depan os Tibia.
Interpretasi : positif equinovarus karena tidak
bisa melakukan
Keseimbangan fungsional
• Pemeriksaan ini dikhususkan untuk melihat keseimbangan saat anak
melakukan aktifitas seperti duduk, merangkak, berlutut, berdiri dan
berjalan serta melompat pada anak., apakah aktifitas tersebut pada
anak terganggu atau normal. Sepetri halnya pemeriksaan DDST,
pemeriksaan keseimbangan fungsional dilakukan saat anak sudah mulai
belajar duduk sampai berjalan bahkan melompat. Pemeriksaan tersebut
dengan menggunakan kriteria/ score penilaian sebagai berikut :

• + : bisa tanpa bantuan

• +-: bisa dengan bantuan

• -: tidak bisa
+ Pada ektremitas atas

+ Pada ektremitas atas

+
+
+
+
VAS ( Visual Analogue Scale )

Nyeri Gerak : 6,1


Nyeri Diam : 0
Nyeri Tekan : 0
interpretasi : ada nyeri hanya saat di gerakkan
pasif. Jika pasien bergerak sendiri, tidak ada nyeri.
Pemeriksaan Refleks Primitif
Jenis Refleks Usia Mulai Usia Menghilang
Refleks Moro Sejak Lahir 6 bulan
Refleks Rooting-Sucking Sejak Lahir 3-4 bulan
Refleks Babinski Sejak Lahir 9-12 bulan
Refleks Palmar Grasp Sejak Lahir 6 bulan
Refleks Plantar Grrasp Sejak Lahir 9-10 bulan
Refleks Snout Sejak Lahir 3 bulan
Refleks Tonic Neck Sejak Lahir 5-6 bulan
Refleks Terjun 8-9 Bulan Seterusnya ada
(Parachute)
Refleks Landau 3 Bulan 21 bulan

interpretasi : normal
PEMERIKSAAN TAMBAHAN

1. Pemeriksaan USG

2. Foto Roentgen
Pemeriksaan USG
Adalah pemeriksaan dengan menggunakan
USG pada ibu hamil untuk melihat apakah janin
yang dikandung oleh ibu dapat terdeteksi
adanya pertumbuhan dan perkembangan salah
satu kaki terlihat berputar ke arah dalam
(inversi) yang melihat adanya indikasi pes
equnes varus positif.
FOTO ROENTGEN
Pada pemeriksaan ini diperoleh hasil yakni
pada gambaran antero-posterior terlihat
os. Talus bergeser ke arah lateral.
DIAGNOSIS

“Gangguan gerak dan fungsi berjalan akibat


pes equinovarus bilateral 1 tahun lalu”
Problematik FT.
• Talipes Equinu varus (deformitas),
Primer nyeri kronik

• Keterbatasan sendi secara aktif dan pasif


kearah eversi/ abduksi/ pronasi dan dorsi
flexi
sekunder • Kelemahan group otot dorsi flexor
• Kontraktur

• Gangguan aktivitas fungsional pada


Kompleks tahap tumbuh kembang (saat mulai
berdiri, berjalan, melompat & berlari)
Program Pelakasanaan FT
Tujuan jangka Pendek:
• Mengoreksi posisi equinus dari kaki/tulang kaki
• Mencegah pemendekan otot/jaringan lunak lebih
lanjut
• Mengeleminasi deformitas aquinovarus
• Mencegah keterbatasan sendi dan
meningkatkan/ mempertahankan LGS sendi
pergelangan kaki dan kaki (Ankle dan Foot)
Tujuan Jangka Panjang:
• Mengembalikan posisi kaki kearah
normal semaksimal mungkin
• Mengatasi gangguan keseimbangan
• Mengembalikan fungsi ADL kaki/tungkai
dalam rangka mempersiapkan tumbuh
kembang penderita saat mulai berdiri,
berjalan atau melompat dan berlari.
Intervensi FT
No. Problem FT Modalitas Terpilih Dosis

1 Deformitas Pes Equinovarus Koreksi postur (Pes F : setiap hari


equinus) I : 3 - 8 rpt
T : manipulasi exc.
T : 5 menit

2 Stiffnes Exercise F : 1 x sehari


I : 3x perlakuan (1x
perlakuan, 8x
hitungan)
T : Pasif exercise
movement (traksi,
translasi)
T : 30 s
3 Keterbatasan ROM Ankle and Exercise terapi F : 3x/minggu
Foot I : 3x8 rpt
T : AAROMEX &
PROMEX
T : 10 menit
No. Problem FT Modalitas Terpilih Dosis

4 Kontraktur Streching Exercise F : 3 kali seminggu


I : 2x10 rpt
T:

Eversi+Dorsoflexi
• Streching sisi
medial kaki
T : 10 detik

5 Kelemahan otot Exercise terapi F : 3x/minggu


I : 3x8 rpt
T : Stengthening
T : 10 menit
No. Problem FT Modalitas Terpilih Dosis

6 Penurunan koordinasi & Balance activities F : Tiap hari


stabilitas sendi I : 3x8
pengulangan
T : closed chain
T : 1 menit

7 Gangguan ADL ADL Exercise F : Tiap hari


I : 3x
pengulangan
T : Pasien fokus
dan diberi mainan
T : 1 menit
Penggunaan “cast”
• Biarkan cast terbuka sampai kering
• Posisikan ektremitas yang dibalut pada posisi elevasi dengan diganjal bantal
pada hari pertama atau sesuai intruksi
• Observasi ekteremitas untuk melihat adanya bengkak, perubahan warna kulit
dan laporkan bila ada perubahan yang abnormal
• Cek pergerakan dan sensasi pada ektremitas secara teratur, observasi adanya
rasa nyeri
• Batasi aktivitas berat pada hari-hari pertama tetapi anjurkan untuk melatih otot-
otot secara ringan, gerakkan sendi diatas dan dibawah cast secara teratur.
• Anjurkan istirahat yang lebih banyak pada hari-hari pertama untuk mencegah
injury
• Jangan biarkan anak memasukkan sesuatu ke dalam cast, jauhkan benda-
benda kecil yang bisa dimasukkan ke dalam cast oleh anak
• Rasa gatal dapat dukurangi dengan ice pack, amati integritas kulit pada tepi cast
dan kolaborasikan bila gatal-gatal semakin berat
• Intruksikan pada klien atau keluarga untuk tidak mengenai cast dengan air
(berenang, berendam)
• Bila klien mengalami inkontinensia, lindungi cast dengan plester waterproof atau
plastik.
Evaluasi
Problem Sebelum Setelah Parameter interpretasi
Deformitas
Pes Mirror
Equinovarus
Stiffnes ROM
Keterbatasan
ROM Ankle Gonio
and Foot

Kontraktur Meteran

Kelemahan
MMT
Otot
Gangguan
INDEKS ADL
ADL &
MODIF
koordinasi
MODIFIKASI
sesuai hasil evaluasi dan perubahan patologis

DOKUMENTASI

KEMITRAAN
Daftar Pustaka
• Suharto, dkk. Fisioterapi pediatrik. Poltekes Makassar.
2011

• Long M. Toby, dkk. Pediatric physical therapy.


Lippincot william wilkinds. 2001

• A.vizniak nikita. Muscle manual.


www.prohealthsys.com

• Sugiarmin, M dan Muslim Ahmad (1996), Ortopedi


Dalam Pendidikan Anak Tunadaksa. DIRJEN DIKTI,
DEPDIKBUD