Anda di halaman 1dari 43

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara

yang terutang oleh orang pribadi atau badan


yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat

1
Subyek pajak dalam negeri adalah :
a. Orang pribadi :
- yang bertempat tinggal di Indonesia
- yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan
- atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai
niat untuk bertempat tinggal di Indonesia
b. Badan yang didirikan atau bertempat
kedudukan di Indonesia
c. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak

2
Subyek pajak luar negeri :
a. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di
Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak
lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan,
dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia
yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap
di Indonesia
b. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang
berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan dan
badan yang tidak didirikan dan tidak berkedudukan di Indonesia, yang dapat
menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di
Indonesia

3
Bentuk Usaha Tetap adalah bentuk usaha yang digunakan oleh orang pribadi
yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang yang berada di Indonesia tidak
lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan
dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa : tempat kedudukan
manajemen, cabang perusahaan, kantor perwakilan, gedung kantor, pabrik,
bengkel, gudang, ruang untuk promosi dan penjualan, pertambangan dan
penggalian sumber alam, wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi,
perikanan, peternakan, pertanian,perekebunan atau kehutanan, proyek
konstruksi - instalasi atau proyek perakitan, pemberian jasa dalam bentuk
apapun oleh pegawai atau orang lain, orang atau badan yang bertindak selaku
agen, agen tau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau
menanggung resiko di Indonesia, komputer-agen elektronik atau peralatan
otomatis yang dimiliki,disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi
elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet

4
Yang menjadi obyek pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik
yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indoneia, yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak
yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk
:
a. penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa
yang diterima/diperoleh berupa :
gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus,
gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk
lain kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang
b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan
c. Laba usaha
5
d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk
keuntungan karena :
- pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan dan badan lainnya sebagai
pengganti saham atau penyertaan modal
- pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu atau anggota yang diperoleh
perseroan persekutuan dan badan lainnya
- likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, pengambilalihan
usaha, atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apapun
- Pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan, kecuali yang
diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat
dan badan keagamaan, pendidikan, sosial termasuk yayasan, koperasi, atau
orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil yang ketentuannya
diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri Keuangan
- Penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan, tanda turut
serta dalam pembiayaan atau permodalam dalam perusahaan pertambangan

6
e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan
pembayaran tambahan pengembalian pajak
f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang
g. Dividen dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan
asuransi kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi
h. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak
i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan pengunaan harta
j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala
k. Keuntungan karena pembebasan utang
l. Keuntungan selisih kurs mata uang asing
m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva
n. Premi asuransi
o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari
wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak

7
q. Penghasilan dari usaha berbasis syariah
r. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai
ketentuan umum dan tata cara perpajakan
s. Surplus Bank Indonesia

Penghasilan yang dapat dikenakan pajak bersifat final :


a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat
utang negara dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya
b. Penghasilan berupa hadiah undian
c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya,transaksi derivatif yang
diperdagangkan dibursa dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan
modal pada perusahaan pasangannya yang dierima oleh perusahaan modal ventura
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa
konstruksi, usaha real estate dan persewaan tanah dan/atau bangunan

8
Yang dikecualikan dari obyek pajak :
a. Bantuan atau sumbangan termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat yang
dibentuk atau disahkan oleh pemerintah yang diterima oleh yang berhak
Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat, badan keagamaan, pendidikan sosial termasuk yayasan, koperasi atau orang
pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil
b. warisan
c. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti
saham atau sebagai pengganti penyertaan modal
d. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari
wajib pajak atau pemerintah kecuali yang diberikan oleh bukan wajib
pajak, wajib pajak yang dikenakan pajak secara final
e. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan
asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna dan bea siswa
9
f. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas yang berasal dari perusahaan
yang mempunyai hubungan istimewa
g. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan yang dibayarkan pemberi kerja maupun pegawai
h. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun dalam bidang usaha tertentu yang
ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan
i. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak
terbagi atas saham, persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi termasuk pemegang unit penyertaan
kontrak investasi kolektif
J. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari pasangan
usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia dengan syarat badan pasangan
usaha tersebut merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah atau yang menjalankan kegiatan dalam
sektor-sektor usaha yang diatur dengan peraturan menteri keuangan dan sahamnya tidak diperdagangkan
dibursa efek di Indonesia
k.Bea siswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan
l. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang begerak dalam bidang
pendidikan, penelitian dan pengembangan yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya yang
ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan
pengembangan dalam jangka waktu paling lama 4 tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut

10
n. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh badan penyelenggara Jaminan Sosial kepada
wajib pajak tertentu yang ketentuannya diatur berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan

Biaya-biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah biaya untuk
mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yaitu :

a. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kagiatan usaha yaitu :
1. biaya pembelian bahan
2. biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium,
bonus, gratifikasi dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang
3. bunga, sewa dan royalti
4. biaya perjalanan
5. biaya pengolahan limbah
6. premi asuransi
7. biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan
8. biaya administrasi
9. pajak kecuali pajak penghasilan 11
b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan
amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun pajak
c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan
d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan
dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan
e. Kerugian selisih kurs mata uang asing
f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia
g. Bea siswa, magang dan pelatihan

12
h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat :
- telah dibebankan sebagai biaya dalam
laporan laba rugi komersial
- wajib pajak harus menyerahkan daftar
piutang yang tidak dapat ditagih kepada
Direktorat Jenderal Pajak
- telah diserahkan perkara penagihannya kepada pengadilan atau
instansi pemerintah yang menangani piutang negaraatau adanya
perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang /pembebasan
utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan atau telah
dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus atau adanya
pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan
i. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah
J. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang ketentuannya
diatur dengan Peraturan Pemerintah
k. Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannnya diatur dengan Peraturan Pemerintah
l. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah
m.Sumbangan dalam rangka pembinaan olah raga yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah
13
Penghasilan Tidak Kena Pajak (Pasal
7)

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) adalah penghasilan maksimum yang tidak
dikenakan pajak dalam satu tahun pajak, yang dapat dikurangkan dari
penghasilan Neto orang pribadi, tahun 2016 yaitu untuk :
- Wp sendiri Rp.54.000.000
- Isteri Rp. 4.500.000
- Isteri yang bekerja Rp.54.000.000
- Setiap tanggungan Rp. 4.500.000
(maksimal 3 orang)
PTKP untuk status :
1. TK/0 Rp.54.000.000 3. K/1 Rp.63.000.000
2. K/0 Rp.58.500.000 4. K/2 Rp.67.500.000 5. K/3 Rp.72.000.000
PMK No.101/PMK.010/2016 terhitung 1 Januari 2016
Peraturan Menteri Keuangan No. 122/PMK.010/2015
tanggal 8 Juli 2015 tentang Penyesuaian besarnya
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang berlaku
surut per Januari 2015

- Wp sendiri Rp.36.000.000
- IsteriRp. 3.000.000
- Isteri yang bekerja Rp.36.000.000
- Setiap tanggungan Rp. 3.000.000
(maksimal 3 orang)
PTKP untuk K/2 isteri tdk bekerja Rp.45.000.000
PTKP untuk K/3 isteri tdk bekerja Rp.48.000.000
PTKP untuk K/2 isteri bekerja Rp.81.000.000
PTKP untuk K/3 isteri bekerja Rp.84.000.000
15
Biaya-biaya yang tidak boleh dikurangkan yaitu :
(Pasal 9)

a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun, seperti dividen
termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang
polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi
b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu atau anggota
c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali :
1. cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan
badan usaha lainnya yang menyalurkan kredit, sewa
guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan
konsumen dan perusahaan anjak piutang
2. cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan
sosial yang dibentuk oleh Badan Peenyelenggara Jaminan Sosial

16
3. cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan
4. cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan
5. cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan
6. cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri
untuk usaha pengolahan limbah industri, yang
ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan
d. Premi asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, beasiswa yang dibayar oleh wajib
pajak orang pribadi, kecuali yang dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut
dihitung sebagai penghasilan bagi wajib pajak yang bersangkutan
e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi
seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan
didaerah tertentu
f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada
pihak yang mempunyai hubungan istimewa sehubungan dengan pekerjaan yang
dilakukan

17
g. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan dan warisan
h. Pajak Penghasilan
i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau
orang yang menjadi tanggungannya
j. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma atau perseroan komanditer
yang modalnya tidak terbagi atas saham
k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan serta sanksi pidana berupa
denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan perpajakan
l. Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang masa
manfaatnya lebih dari 1 (satu) tahun tidak boleh dibebankan sekaligus

18
PENGHASILAN ISTERI DIGABUNG DENGAN PENGHASILAN
SUAMI
(Pasal 8)
1. Seluruh penghasilan dan kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal tahun
pajak digabungkan dengan penghasilan dan kerugian suami kecuali penghasilan
isteri yang diperoleh dari 1 (satu) pemberi kerja yang telah dipotong pajak
berdasarkan PPh Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan
usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya
2. Penghasilan suami-isteri dikenakan pajak secara terpisah apabila :
a. Suami isteri telah hidup berpisah berdasarkan putusan Hakim
b. Dikehendaki secara tertulis oleh suami-isteri berdasarkan perjanjian pemisahan
harta dan penghasilan
c. Dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk mmenjalankan hak dan kewajiban
perpajakannya sendiri
3. Penghasilan neto suami-isteri tersebut pada ayat 2 huruf b dan c dikenakan pajak
berdasarkan penggabungan penghasilan neto suami-isteri dan besarnya pajak yang
harus dilunasi oleh suami-isteri dihitung sesuai perbandingan penghasilan neto
4. Penghasilan anak yang belum dewasa digabung dengan penghasilan orang tuanya
19
CONTOH

Wajib pajak A status K/0 memperoleh penghasilan neto dari usaha garmen sebesar
Rp.100.000.000 dan isteri seorang pegawai dari satu pemberi kerja, mempunyai
penghasilan neto sebesar Rp.70.000.000 yang telah dipotong pajak oleh pemberi kerja dan
pekerjaan isteri tidak ada hubungannya dengan pekerjaan suami atau keluarga lainnya,
maka penghasilan isteri tidak digabungkan dengan peghasilan suami (pengenaan pajak atas
penghasilan isteri bersifat final).

Apabila selain Pegawai isteri A juga mempunyai penghasilan dari usaha kecantikan dengan
penghasilan neto sebesar Rp.80.000.000, maka seluruh penghasilan isteri sebesar
Rp.150.000.000 (Rp.80.000.000 + Rp.70.000.000) digabungkan dengan penghasilan suami,
sehingga penghasilan A yang dikenakan pajak adalah Rp.100.000.000 + Rp.150.000.000 =
Rp.250.000.000 dan pajak yang telah dipotong atas penghasilan isteri dari pekerjaan tidak
bersifat final dan dapat dikreditkan.
Perhitungan pajak

Bila :
a.Suami-isteri telah berpisah, maka perhitungan pajaknya masing-masing sesuai
penghasilannya
b.Misalnya Pajak yang terutang atas penghasilan Rp.250.000.000 adalah Rp.21.250.000,
maka pajak yang terutang untuk :
- Suami : 100.000.000 x Rp.21.250.000=Rp. 8.500.000
250.000.000
- Isteri : 150.000.000 x Rp.21.250.000=Rp.12.750.000
250.000.000
Penghasilan anak yang belum dewasa (belum berumur 18 tahun) digabungkan dengan
penghasilan orang tuanya.
Apabila orang tuanya telah berpisah maka penghasilannya digabungkan dengan
penghasilan ayah atau ibunya bedasarkan keadaan yang sebenarnya

21
PENYUSUTAN DAN AMORTISASI

A. PENYUSUTAN
Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1
(satu) tahun harus dibebankan sebagai biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara
penghasilan dengan cara mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta
berwujud melalui penyusutan dengan cara:
1. Metode garis lurus (Straight line mehod) yaitu membebankan dengan bagian-bagian
yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut
2. Metode saldo menurun (declining balance method) yaitu membebankan dengan bagian-
bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku
Untuk harta berwujud berupa bangunan hanya dapat disusutkan dengan metode garis lurus.
Contoh metode garis lurus :
Sebuah Gedung dengan harga perolehan sebesar Rp.1.000.000.000 yang masa manfaatnya 20
tahun, maka penyusutannya setiap tahun adalah Rp.1.000.000.000 : 20 = Rp.50.000.000
22
CONTOH PENYUSUTAN SALDO MENURUN

Sebuah mesin dibeli dan ditempatkan pada bulan Januari 2010 dengan harga perolehan
sebesar Rp.150.000.000 dengan masa manfaat 4 tahun. Tarif penyusutan ditetapkan 50%,
maka penghitungan penyusutan adalah sebagai berikut :
Tahun tarif Penyusutan Nilai Sisa buku
Nilai perolehan Rp.150.000.000
2010 50% Rp.75.000.000 Rp. 75.000.000
2011 50% Rp.37.500.000 Rp. 37.500.000
2012 50% Rp.18.750.000 Rp. 18.750.000
2013 50% Rp.18.750.000 0

23
B. AMORTISASI
Biaya perolehan harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya
perpanjangan hak guna bangunan, hak guna usaha, hak pakai dan muhibah (goodwill)
yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun diamortisasi dengan metode :
1. Metode garis lurus (Straight line method) yaitu membebankan dengan bagian-bagian
yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut
2. Metode saldo menurun (declining balance method) yaitu membebankan dengan
bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa
buku

24
UNTUK MENGHITUNG AMORTISASI, MASA MANFAAT
DAN TARIF AMORTISASI DITETAPKAN SEBAGAI
BERIKUT :
Tarif amortisasi
berdasarkan metode
Kelomok harta Masa manfaat
Tak Berwujud
Garis lurus Saldo
Menurun

Kelompok 1 4 tahun 25% 50%


Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 4 20 tahun 10%
5%
25
NORMA PENGHITUNGAN (Pasal 14)

1. Norma Penghitungan Penghasilan Netto, untuk menentukan penghasilan neto dibuat dan disempurnakan
terus menerus serta diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak (Jasa sehubungan dengan Pekerjaan bebas)

2. Wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha yang peredaran usahanya tidak melebihi
Rp.4.800.000.000 harus membuat pencatatan, dikenakan pajak final dengan tarif 1% (satu persen). Setoran
setiap bulannya adalah 1% x Penghasilan bruto setiap bulan (Sesuai Peraturan Pemerintah No.46 Tahun 2013
mulai berlaku sejak tanggal 1 Juli 2013)
3. Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013 diubah dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2018 tentang
Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki
peredaran bruto tertentu mulai berlaku tanggal 1 Juli 2018 yang mengatur :
3.1. Wajib pajak yang dapat memanfaatkan peraturan ini adalah wajib pajak oorang pribadi dan wajibpajak
badan berbentuk koperasi, persekutuan komanditer, firma atau perseroan terbatas, yang menerima atau
memperoleh penghasilan dengan keseluruhan peredaran bruto (termasuk peredaran bruto dari cabang)
tidak melebihi Rp.4.800.000.000 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (sat) tahun
3.2. Dasar pengenaan pajak yang digunakan untuk menghitung pajak adalah jumlah peredaran bruto atas
penghasilan dari usaha setiap bulan sebelum dikurangi ptongan penjualan, potongan tunai dan/atau
potongan sejenis
3.3. Atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri
yang memiliki peredaran bruto tertentu, dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final
sebesar 0,5% (nol koma lima persen) dalam jangka waktu tertentu paling lama :
- 7 (tujuh) Tahun Pajak bagi wajib pajak orang pribadi
- 4 (empat) Tahun Pajak bagi wajib pajak badan berbentuk koperasi, persekutuan
komanditer, atau Firma dan
- 3 (tiga) Tahun Pajak bagi wajib pajak badan berbentuk perseroan
3.4. Wajib pajak melunasi pajak yang terutang dengan cara menyetor sendiri atau
dipotong atau dipungut oleh pemotong atau pemungut pajak yang ditunjuk sebagai
pemotong atau pemungut pajak setiap bulan paling lama tanggal 15 (lima belas)
bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir
3.5. Wajib pajak yang telah melakukan penyetoran Pajak Penghasilan dianggap telah
menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan sesuai tanggal validasi
Nomor Transaksi Penerimaan Negara yang terantum pada Surat Setoran Pajak atau
sarana administrasi lain yang dipersamakan dengan Surat Setoran Pajak
3.6. Wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tidak melebihi Rp.4.800.000.000 dalam 1
(satu) tahun pajak dikenai pajak penghasilan bersifat final yang bertransaksi
dengan pemotong atau pemungut pajak, wajib mengajukan permohonan Surat
Keterangan kepada Direktur Jenderal Pajak melalui :
a. Kantor Pelayanan Pajak tempat wajib pajak pusat terdaftar
b. Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan atau Kantor Pelayanan
Pajak Mikro yang berada di dalam wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak tempat
wajib pajak pusat terdaftar
c. Saluran tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak
DASAR PENGENAAN PAJAK
(Pasal 16)

Dasar Pengenaan Pajak adalah Penghasilan Kena Pajak


1. Penghasilan Kena Pajak untuk Wp Orang Pribadi :
a. Yang menggunakan pembukuan adalah :
PKP = Penghasilan Neto – PTKP
Penghasilan Neto = Penghasilan Bruto – Biaya biaya yang diperkenankan (Biaya mendapatkan,
menagih dan memeliharan penghasilan)
b. yang menggunakan pencatatan (tidak pakai pembukuan) dengan menggunakan norma

2. Penghasilan Kena Pajak untuk Wp. Badan adalah


Penghasilan Neto
Penghasilan Neto = Penghasilan Bruto- Biaya-biaya yang diperkenankan UU PPh
3. Penghasilan Kena Pajak bagi wajib pajak Luar Negeri yang melakukan kegiatan usaha melalui suatu
Bentuk Usaha Tetap sama dengan wajib pajak dalam negeri (BUT wajib menyelenggarakan
pembukuan)
27
TARIF PAJAK (Pasal 17)

1. Wp Orang Pribadi dalam negeri adalah sebagai berikut :

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif


s/d Rp.50.000.000 5%
> Rp.50.000.000 – 250.000.000 15%
 Rp.250.000.000 – 500.000.000 25%
 Rp.500.000.000 30%

2. Wp Badan tarif tunggal 25 % sejak tahun 2010


CONTOH PERHITUNGAN PPH
1. Tn. Amir, status K/2 seorang pengusaha garmen, dalam tahun 2016 mempunyai penghasilan
sebesar Rp. 6.000.000.000, biaya-biaya yang diperkenankan (mendapatkan, menagih dan
memelihara) sebesar Rp. 5.400.000.000. Penghasilan Lain sebesar Rp. 50.000.000, biaya yang
dikeluarkan untuk ppenghasilaan lain sebesar Rp. 30.000.000 dan kerugian tahun 2014 yang
belum dikompensasikan sebesar Rp.10.000.000
Hitunglah Pajak yang terutang atas penghasilan tersebut
Jawab :
Penghasilan bruto Rp.6.000.000.000
Biaya-biaya yang diperkenankan Rp.5.400.000.000
Laba Usaha Rp. 600.000.000
Penghasilan Lain bruto Rp.50.000.000
Biaya-biaya Rp.30.000.000
Penghasilan lain neto Rp. 20.000.000
Jumlah penghasilan Rp. 620.000.000
Kompensasi kerugian Tahun lalu Rp. 10.000.000
Penghasilan Neto Rp 610.000.000
PTKP K/2 Rp. 67.500.000
PKP Rp. 542.500.000
Pajak yang terutang

5 % x Rp. 50.000.000 = Rp. 2.500.000


15% x Rp. 200.000.000 = Rp. 30.000.000
25% x Rp. 250.000.000 = Rp. 62.500.000
30% x Rp. 42.500.000 = Rp. 12.750.000
Jumlah pajak terutang = Rp.107.750.000

30
Contoh :

Kadir seorang pengusaha kain, status K/2 dalam tahun 2016 mempunyai penghasilan Kotor sebesar
Rp. 7.000.000.000. Biaya-biaya yang diperkenankan sebesar Rp.6.300.000.000
Hitunglah pajak yang terutang atas penghasilan tersebut
Jawab :
Penghasilan kotor sebesar Rp.7.000.000.000
Biaya-biaya yang diperkenankan Rp.6.300.000.000
Penghasilan neto Rp. 700.000.000
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) K/2 Rp. 67.500.000
Penghasilan kena Pajak Rp. 632.500.000

Pajak yang terutang :


- 5% x Rp. 50.000.000 Rp. 2.500.000
- 15% x Rp.200.000.000 Rp. 30.000.000
- 25% x Rp.250.000.000 Rp. 62.500.000
- 30% x Rp.132.500.000 Rp. 39.750.000
Jumlah Rp.134.750.00

31
Pajak penghasilan PPh psl 21 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima
atau diperoleh wajib pajak pribadi dalam negeri.
Contoh :
Gaji, upah, honorarium, tunjangan dan gratifikasi, hadiah, deviden royalti dan pembayaran lain

Pajak penghasilan PPh psl 22 adalah pajak yang dipungut oleh:


- Bendahara pemerintah sehubungan dengan pembayaran atas pembelian barang
- Badan-badan tertentu dari wajib pajak yang melakukan kegiatan dibidang impor atau
kegiatan usaha dibidang lain dan
- Wajib pajak badan tertentu dari pembeli atas penjualan barang yang tergolong sangat
mewah
Contoh :
- PPh Psl 22 yang dipungut bendahara pemerintah atas pembelian barang dengan tarif sebesar
1,5% dari Harga barang
- PPh Psl 22 yang dipungut oleh Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atas impor
barang yang menggunakan API sebesar 2,5% dan yang tidak menggunakan API sebesar 7,5%
dari nilai impor serta 7,5% dari harga jual lelang atas barang yang tidak dikuasai
32
Pajak penghasilan Psl 23 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan yang berasal dari modal,
penyerahan jasa atau hadiah dan peng hargaan selain yang telah dipotong PPh Psl 21
Contoh :
PPh psl 23 (tarif 15%) atas dividen, bunga,royalti hadiah, penghargaan, bonus dan sejenisnya selain
yang telah dipotong PPh psl 21
PPh psl 23 (tarif 2%) atas sewa, penggunaan harta, jasa tehnik, jasa manajemen (selain penghasilan
yang telah dikenakan tarif final)

33
Pajak Penghasilan psl 24 adalah pajak yang telah dibayarkan atau terutang di
luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh wajib
pajak dalam negeri dan dapat dikreditkan dalam tahun pajak yang sama
Contoh :
PT. Perdana di Semarang memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2015 sebagai
berikut :
Penghasilan dalam negeri Rp.400.000.000
Penghasilan dari Luar Negeri (30%) Rp.200.000.000
Jumlah penghasilan neto Rp.600.000.000
PPh yang terutang :25% x Rp.600.000.000 =Rp.150.000.000
PPh psl 24 yang telah dibayar di luar negeri adalah 30% x Rp.200.000.000 = Rp.
60.000.000
PPh psl 24 maksimum yang dapat dikreditkan adalah :
(Rp.200.000.000 : Rp.600.000.000) x Rp.150.000.000 = Rp.50.000.000

34
Pajak penghasilan psl 25 adalah angsuran pajak yang harus dibayar wajib pajak setiap bulan dalam
tahun pajak berjalan yang dihitung berdasarkan SPT Tahunan tahun pajak sebelumnya
Contoh :
Pajak yang terutang atas nama Rudy untuk tahun 2016 berdasarkan
SPT Tahunan sebesar Rp.500.000.000
Pajak pajak yang telah dipungut/dipotong (misalnya) :
PPh psl 21 Rp. 5.000.000
PPh psl 22 Rp.150.000.000
PPh psl 23 Rp. 15.000.000
PPh psl 24 Rp. 30.000.000
Jumlah kredit pajak Rp.200.000.000
Pajak yang harus dibayar sendiri Rp.300.000.000
Maka PPh psl 25 yang harus dibayar Rudy untuk tahun 2017 adalah :
1/12 x Rp.300.000.000 = Rp.25.000.000

35
Pajak Penghasilan psl 26 adalah pajak yang
dipotong oleh Badan pemerintah atau wajib
pajak dalam negeri lainnya atas penghasilan
dalam negeri yang dibayarkan kepada wajib
pajak luar negeri, bersifat final dengan tarif
20% dari jumlah bruto yang dibayarkan
Contoh :
PPh psl 26 atas dividen dari perseroan dalam
negeri, bunga, sewa, royalti, imbalan yang
dibayarkan untuk jasa teknik, jasa manajemen
dan jasa lainnya yang dilakukan di Indonesia,
keuntungan sesudah dikurangi pajak dari suatu
bentuk usaha tetap di Indonesia
36
Hubungan istimewa dalam perpajakan adalah:
a. Wajib pajak yang mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak
langsung paling rendah 25% pada dua wajib pajak atau lebih
Misalnya : PT.A mempunyai 25% saham PT.B dan PT.B mempunyai 30%
saham PT.C serta PT.A mempunyai 35% saham PT. D maka PT.A -PT.B , PT. B -
PT.C dan PT.A- PT.D merupakan hubungan istimewa secara langsung
sedangkan PT.A-PT.C dan PT.B – PT.D merupakan hubungan istimewa secara
tidak langsung
b. Wajib pajak menguasai wajib pajak lainnya, atau dua atau lebih wajib pajak
berada dibawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak
langsung
Contoh : PT. A, PT.B,PT.C dipimpin oleh satu Direktur atau perusahaan
tersebut menggunakan teknologi yang sama
c. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda
dalam garis keturunan lurus dan/atau kesamping satu derajat
Yang dimaksud dengan hubungan keluarga sedarah dalam garis lurus
satu derajat adalah ayah, ibu dan anak, sedangkan hubungan
keluarga dalam garis keturunan kesamping adalah saudara
Yang dimaksud dengan keluarga semenda dalam garis keturunan
lurus satu derajat adalah mertua dan anak tiri, sedangkan hubungan
keluarga semenda dalam garis keturunan kesamping satu derajat
adalah ipar

38
Besarnya tarif pada ayat 5 yang ditetapkan pada wajib pajak yang tidak
memiliki NPWP lebih tinggi 20% (dua puluh persen) dari tarif yang ditetapkan
pada wajib pajak yang memiliki NPWP
Contoh :
Penghasilan Kena Pajak Rp. 75.000.000
Pajak yang terutang untuk wajib pajak yang memiliki NPWP :
5% x Rp. 50.000.000 = Rp. 2.500.000
15% x Rp. 25.000.000 = Rp. 3.750.000
Jumlah = Rp. 6.250.000
Pajak yang terutang dan harus dipotong untuk wajib Pajak yang tidak memiliki
NPWP adalah :
120% x Rp.6.250.000 = Rp. 7.500.000

39
Pasal 31 E
Wajib pajak Badan dalam negeri dengan peredaran bruto Rp. 50.000.000.000 (lima puluh miliar
rupiah) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif yang diperkenakan dalam
pasal 17 ayat 1 huruf b dan ayat 2a yang dikenakan atas penghasilan kena pajak dari bagian peredaran
bruto sampai Rp.4.800.000.000
Contoh 1 :
Peredaran bruto PT. Yongki dalam tahun 2016 sebesar Rp.4.500.000.000 dengan penghasilan kena
pajak sebesar Rp.500.000.000 maka :
Pajak yang terutang adalah :
50% x 25% x Rp.500.000.000 = Rp. 62.500.000

Contoh 2 :
Peredaran bruto PT. Cahaya Kita dalam tahun 2016 sebesar Rp.30.000.000.000 dengan penghasilan
kena pajak sebesar Rp.3.000.000.000, maka Pajak yang terutang :
1. Jumlah penghasilan kena pajak dari peredaran bruto yang mendapat fasilitas :
4.800.000.000 x Rp.3.000.000.000 = Rp. 480.000.000
30.000.000.000
2. Penghasilan yang tidak mendapat fasilitas = Rp. 3.000.000.000 - Rp.480.000.000 = Rp.2.520.000.000

Pajak Penghasilan yang terutang :


- 50% x 25% x Rp.480.000.000 Rp. 60.000.000
- 25% x Rp.2.520.000.000 Rp.630.000.000
Jumlah Rp.690.000.000
BAHAN KULIAH PERPAJAKAN
PAJAK PENGHASILAN (PPH)

D
O
S
E
N

DRS. HENRY PARLUHUTAN, MM