Anda di halaman 1dari 25

Diagnosis dan Tatalaksana Status

Epileptikus

Pembimbing:
Dr.Joko Nafianto Sp.S

Oleh:
Intan Pratama Dewayanti
1102012131

Kepanitraan Klinik Neurologi


Rumah Sakit Bhayangkata Tk.I Raden Said Sukanto
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Definisi
• Pada konvensi Epilepsy Foundation of America
(EFA), status epileptikus didefinisikan sebagai
keadaan dimana terjadinya dua atau lebih
rangkaian kejang tanpa adanya pemulihan
kesadaran diantara kejang atau aktivitas kejang
yang berlangsung lebih dari 30 menit.
Epidemiologi
• Status epileptikus merupakan suatu masalah yang
umum terjadi dengan angka kejadian kira-kira
60.000 – 160.000 kasus dari status epileptikus tonik-
klonik umum yang terjadi di Amerika Serikat setiap
tahunnya. Pada sepertiga kasus, status epileptikus
merupakan gejala yang timbul pada pasien yang
mengalami epilepsi berulang. Sepertiga kasus
terjadi pada pasien yang didiagnosa epilepsi,
biasanya karena ketidakteraturan dalam memakan
obat antikonvulsan.
Alkohol

Tumor Anoksia

Antikonvulsan-
Trauma
withdrawal

ETIOLOGI

Penyakit
Metabolik
cerebrovaskular

Toksisitas obat-
Epilepsi kronik
obatan

Infeksi SSP
Faktor Resiko
• satu pertiga kasus terjadi pada epilepsi berulang,
• satu pertiga pada kasus epilepsi yang tidak teratur
meminum obat antikonvulsan,
• Pada usia lanjut kebanyakan tipe sekunder karena
adanya demensia, penyakit serebrovaskular, dan
disfungsi jantung.
Klasifikasi
• Status epileptikus konvulsif: bangkitan dengan
durasi lebih dari 5 menit atau bangkitan berulang 2
kali atau lebih tanpa pulihnya kesadaran di antara
bangkitan.
• Status epileptikus non-konvulsif: sejumlah kondisi
saat aktivitas bangkitan elektrografik memanjang
(EEG status) dan memberikan gejala klinis non-
motorik termasuk perubahan perilaku atau
awareness
Status Epileptikus
menetap (>30 menit)

Status Epileptikus
refrakter (bangkitan
tetap ada setelah
Status Epileptikus dini
mendapay dua atau
(5-30 menit)
tiga jenis
antikonvulsan dengan
dosis adekuat)

Status
Epileptikus
berdasarkan
durasi
Patofisiologi
Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler
Rangsang mekanis, kimiawi dan aliran listrik di Perubahan patologis dari membran
sekitarnya karena penyakit/keturunan

Perbedaan potensial

Ion natrium berdifusi melalui membran (depolarisasi > repolarisasi)

Hipereksitasi neuron

Peningkatan pelepasan neurotransmitter

Kejang (berlangsung lebih dari 30 menit)

Status epileptikus
• Pada status epileptikus terjadi kegagalan
mekanisme normal untuk mencegah kejang.
Kegagalan ini terjadi bila rangsangan bangkitan
kejang (Neurotransmitter eksitatori: glutamat,
aspartat, dan acetylcoline) melebihi kemampuan
hambatan intrinsik (GABA) atau mekanisme
hambatan intrinsik tidak efektif.
Status epileptikus dibagi
menjadi 2 fase, yaitu:
• Fase I (0-30 menit)- mekanisme terkompensasi.
Pada fase ini terjadi:
-Pelepasan adrenalin dan noradrenalin
-Peningkatan cerebral blood flow dan metabolisme
-Hipertensi, hiperpireksia
-Hiperventilasi, takikardi, asidosis laktat

• Fase (>30 menit) – mekanisme tidak terkompensasi.


Pada fase ini terjadi:
-Kegagalan autoregulasi serebral/edema otak
-Depresi pernapasan
Manifestasi Klinis
• Status Epileptikus Tonik-Klonik Umum (Generalized
tonic-clonic Status Epileptikus)
• Ini merupakan bentuk dari Status Epileptikus yang
paling sering dihadapi dan potensial dalam
mengakibatkan kerusakan.
• Status Epileptikus Klonik-Tonik-Klonik (Clonic-Tonic-
Clonic Status Epileptikus)
Adakalanya status epileptikus dijumpai dengan
aktivitas klonik umum mendahului fase tonik dan
diikuti oleh aktivitas klonik pada periode kedua.
• Setiap kejang berlangsung dua sampai tiga menit,
dengan fase tonik yang melibatkan otot-otot aksial
dan pergerakan pernafasan yang terputus-putus.
Pasien menjadi sianosis selama fase ini, diikuti oleh
hyperpnea retensi CO2. Adanya takikardi dan
peningkatan tekanan darah, hyperpireksia mungkin
berkembang. Hiperglikemia dan peningkatan laktat
serum terjadi yang mengakibatkan penurunan pH
serum dan asidosis respiratorik dan metabolik.
Aktivitas kejang sampai lima kali pada jam pertama
pada kasus yang tidak tertangani.
• Status Epileptikus Tonik (Tonic Status Epileptikus)
Status epilepsi tonik terjadi pada anak-anak dan remaja
dengan kehilangan kesadaran tanpa diikuti fase klonik.
Tipe ini terjai pada ensefalopati kronik dan merupakan
gambaran dari Lenox-Gestaut Syndrome.

• Status Epileptikus Mioklonik.


Biasanya terlihat pada pasien yang mengalami
enselofati. Sentakan mioklonus adalah menyeluruh
tetapi sering asimetris dan semakin memburuknya
tingkat kesadaran. Tipe dari status epileptikus tidak
biasanya pada enselofati anoksia berat dengan
prognosa yang buruk, tetapi dapat terjadi pada
keadaan toksisitas, metabolik, infeksi atau kondisi
degeneratif.
• Status Epileptikus Absens
Bentuk status epileptikus yang jarang dan biasanya
dijumpai pada usia pubertas atau dewasa. Adanya
perubahan dalam tingkat kesadaran dan status presen
sebagai suatu keadaan mimpi (dreamy state) dengan
respon yang lambat seperti menyerupai “slow motion
movie” dan mungkin bertahan dalam waktu periode
yang lama. Mungkin ada riwayat kejang umum primer
atau kejang absens pada masa anak-anak. Respon
terhadap status epileptikus Benzodiazepin intravena
didapati.
• Status Epileptikus Non Konvulsif
Kondisi ini sulit dibedakan secara klinis dengan status
absens atau parsial kompleks, karena gejalanya dapat
sama. Pasien dengan status epileptikus non-konvulsif
ditandai dengan stupor atau biasanya koma.
Ketika sadar, dijumpai perubahan kepribadian dengan
paranoia, delusional, cepat marah, halusinasi, tingkah
laku impulsif (impulsive behavior), retardasi psikomotor
dan pada beberapa kasus dijumpai psikosis.
• Status Epileptikus Parsial Sederhana
o Status Somatomotorik

• Kejang diawali dengan kedutan mioklonik dari sudut


mulut, ibu jari dan jari-jari pada satu tangan atau
melibatkan jari-jari kaki dan kaki pada satu sisi dan
berkembang menjadi jacksonian march pada satu sisi
dari tubuh. Kejang mungkin menetap secara unilateral
dan kesadaran tidak terganggu. Variasi dari status
somatomotorik ditandai dengan adanya afasia yang
intermitten atau gangguan berbahasa (status afasik).
o Status Somatosensorik

• Jarang ditemui tetapi menyerupai status somatomotorik


dengan gejala sensorik unilateral yang berkepanjangan
atau suatu sensory jacksonian march
o Jaksonian march adalah epilepsi yang dimulai dari satu bagian tubuh misal
kaki atau tangan dan kemungkinan menjalar ke anggota gerak lainnya yang
sejalan dengan penyebaran aktivitas listrik terjadi pada otak
• Status Epileptikus Parsial Kompleks

• Dapat dianggap sebagai serial dari kejang


kompleks parsial dari frekuensi yang cukup untuk
mencegah pemulihan diantara episode. Dapat
terjadi otomatisme, gangguan berbicara, dan
keadaan kebingungan yang berkepanjangan.
Diagnosis
• Anamnesis:
riwayat epilepsi, riwayat menderita tumor, infeksi
obat, alkohol, penyakit serebrovaskular lain, dan
gangguan metabolit. Perhatikan lama kejang, sifat
kejang (fokal, umum, tonik/klonik), tingkat
kesadaran diantara kejang, riwayat kejang
sebelumnya, riwayat kejang dalam keluarga,
demam, riwayat persalinan, tumbuh kembang, dan
penyakit yang sedang diderita.
Pemeriksaan Fisik
• pemeriksaan neurologi lengkap meliputi tingkat
kesadaran penglihatan dan pendengaran refleks
fisiologis dan patologi, lateralisasi, papil edema
akibat peningkatan intrakranial akibat tumor,
perdarahan.
• Sistem motorik yaitu parestesia, hipestesia,
anestesia.
Pemeriksaan Penunjang
o Pemeriksaan laboratorium yaitu darah, elektrolit, glukosa,
fungsi ginjal dengan urin analisis dan kultur, jika ada
dugaan infeksi, maka dilakukan kultur darah

o imaging yaitu CT Scan dan MRI untuk mengevaluasi lesi


struktural di otak

o EEG untuk mengetahui aktivitas listrik otak dan dilakukan


secepat mungkin jika pasien mengalami gangguan mental

o Pungsi lumbar, dapat kita lakukan jika ada dugaan infeksi


CNS atau perdarahan subarachnoid.
Tatalaksana
Stabilitas Penderita
• Tahap ini meliputi usaha usaha mempertahankan dan
memperbaiki fungsi vital yang mungkin terganggu.
Prioritas pertama adalah memastikan jalan napas yang
adekuat dengan cara pemberian oksigen melalui nasal
canul atau mask ventilasi.
• Tekanan darah juga perlu diperhatikan, hipotensi
merupakan efek samping yang umum dari obat yang
digunakan untuk mengontrol kejang. Darah diambil
untuk pemeriksaan darah lengkap, gula darah, elektrolit,
ureum, kreatinin. Harus diperiksa gas-gas darah arteri
untuk melacak adanya asidosis metabolic dan
kemampuan oksigenasi darah. Asidosis di koreksi
dengan bikarbonat intravena. Segera diberi 50 ml
glukosa 50% glukosa iv, diikuti pemberian tiamin 100 mg
im.
Komplikasi
• Otak: Peningkatan Tekanan Intra Kranial, edema serebri,
Trombosis arteri dan vena otak, Disfungsi kognitif
• Gagal Ginjal: Myoglobinuria, rhabdomiolisis
• Gagal Nafas: Apnoe, Pneumonia, Hipoksia, hiperkapni, Gagal
nafas
• Pelepasan Katekolamin: Hipertensi, edema paru, Aritmia,
Glikosuria, dilatasi pupil, Hipersekresi, hiperpireksia
• Jantung: Hipotensi, gagal jantung, tromboembolisme
• Metabolik dan Sistemik: Dehidrasi, Asidosis, Hiper/hipoglikemia,
Hiperkalemia, hiponatremia, Kegagalan multiorgan
• Idiopatik: Fraktur, tromboplebitis, DIC
Prognosis
• Prognosis status epileptikus adalah tergantung
pada penyebab yang mendasari status epileptikus.
Pasien dengan status epileptikus akibat
penggunaan antikonvulsan atau akibat alkohol
biasanya prognosisnya lebih baik bila
penatalaksanaan dilakukan dengan cepat dan
dilakukan pencegahan terjadi komplikasi. Pasien
dengan meningitis sebagai etiologi maka prognosis
tergantung dari meningitis tersebut.