Anda di halaman 1dari 138

PENYAKIT CACING

dr. Rusdi Yunus,MKT


HELMINTOLOGI
I. NEMATODA
1. NEMATODA USUS
2. NEMATODA JARINGAN
II. TREMATODA
1. TREMATODA PARU
2. TREMATODA HATI
3. TREMATODA USUS
4. TREMATODA DARAH
III. CESTODA
Ascaris lumbricoides
• Dist. : kosmopolitan
• H.D. : manusia
• Tempat hidup : usus halus
• Cara Infeksi : tertelan telur
infectious/matang/ berisi larva
Gejala klinis
• Infeksi ringan sering tanpa gejala
• Sakit perut, mual, dll
• Infeksi berat dpt menimbulkan kolik
abdomen, ileus obstruktif
• Migrasi ccg ------ ectopic infectie ---- dari
mulut, appendix, ductus choledochus
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Cara diagnose & Terapi
• Diagnose:
1. Menjumpai Telur dlm tinja
2. Keluar ccg dewasa dari dalam tubuh

• Terapi:
1. Piperazin
2. Pyrantel pamoat
3. Albendazole
Trichuris trichiura
• Dist. : kosmopolitan
• H.D. : manusia
• Tempat hidup : usus besar
• Cara Infeksi : tertelan telur
infectious/matang/ berisi larva
Trichuris trichiura
Gejala klinis
• Infeksi ringan srg tanpa gejala
• Dpt menimbulkan anemia
• Infeksi berat dpt terjadi prolapsus ani,
sindrom disentri
• Diagnose:
 Menjumpai telur dlm tinja

• Terapi :
 Albendazole
Enterobius vermicularis
=Oxyuris vermicularis
= cacing keremi
• Dist. : kosmopolitan
• H.D. : manusia
• Tempat hidup : usus besar
• Cara Infeksi :
1. tertelan telur infectious/matang/ berisi larva
2. Retro infeksi
3. Auto infeksi
4. Infeksi secara inhalasi
Enterobius vermicularis
Enterobius vermicularis ---- cacing dewasa jantan

-Pjg: 2-5 mm
-Kepala ada alae
-Ekor melengkung
Enterobius vermicularis ---- cacing dewasa betina

-pjg :8 – 12 mm
-kepala ada alae
-ekor lurus
Telur E.vermicularis:
-btk oval asimetris
-(30-40)x(20-30) µ
-ddg tipis, 2 lapis
-matang 6-8 jam
Gejala klinis :
• Gejala :
 Infeksi ringan srg tanpa gejala
 Pruritus ani terutama malam hari
 Ectopic infectie ------ ke vagina
Diagnose & Terapi
• Cara diagnose:
 Menjumpai telur dgn anal swabs

• Terapi:
1. Pyrantelpamoat
2. Albendazole
Strongyloides stercoralis
• Dist. : kosmopolitan
• H.D. : manusia
• Tempat hidup : villi mukosa usus halus
• Fekwensi 5 – 15 %
• Cara Infeksi : larva filariform menembus kulit
• Mempunyai 2 bentuk:
1. Bentuk parasiter----- partenogenesis
2. Bentuk bebas (free living)
Telur Strongyloides stercoralis
Strongyloides stercoralis

Larva filariform

Larva rhabditiform
Gejala klinis:
• Larva menimbulkan:
1. cutaneus larva migrans atau
2. peradangan paru mirip bronkopneumoni
• Cacing dewasa menimbulkan:
 Gangguan G.I.Tract ----------- mual
• Diagnose:
Menemukan larva rhabditiform dalam tinja
segar

• Terapi: thiabendazole, albendazole


Ancylostomatidae
• Dist. : kosmopolitan
• H.D. : manusia
• Tempat hidup : usus halus
• Cara Infeksi : larva filariform menembus kulit
Ancylostomatidae Sp
1. Necator americanus
2. Ancylostoma duodenale
3. Ancylostoma caninum
4. Ancylostoma braziliense
5. Ancylostoma ceylanicum
Ancylostoma dudenale &
Necator americanus
• Menimbulkan ankilostomiasis
• Dist. Kosmopolitan, terutama daerah tropis,
daerah pertambangan, perkebunan dan
daerah pertania
• Di Indonesia yang banyak N.americanus
• Tpt hdp cacing dewasa : melekat pada
mukosa usus halus ------ mengisap darah
• Cara infeksi : larva filariform menembus kulit
Ccg jantan:
-pjg 8-11 mm
-ekor ada bursa kopulatrix
-mulut ada sepasang semilunar plate

Ccg betina :
-pjg 10-13 mm
-ekor runcing
Ancylostomatidae.Sp (Hook WORM)

-Morfologi mirip N.a


-mulut ada 2 psg gigi sama besar
-ccg mati btk huruf C
Telur cacing tambang

-btk oval
-60 x 45 µ
-ddg tipis
Gejala klinis:
• Larva menimbulkan gatal pada kulit ------ ground
itch
• Larva pada paru dpt menimbulkan pneumonitis
• Cacing dewasa menimbulkan anemia hypo-
chromic microcyter akibat defisiensi Fe
• N.americanus mengisap darah 0,02 - 0,05
ml/hr/ekor
• A.duodenale mengisap darah 0,06 – 0,07
ml/hr/ekor
• Diagnose: menemukan telur dalam tinja

• Terapi :
 Pyrantel pamoat
 Mebendazole
 albendazole
Trichinella spiralis
• Dist. : kosmopolitan
• H.D. : manusia,sapi, babi
• Tempat hidup : usus halus
• Cara Infeksi : makan daging sapi yg
mengandung larva tdk dimasak sempurna
• Bersifat viviparous ----- melahirkan
Trichinella spiralis– siklus hidup
Morfologi
• Ccg dewasa: halus spt rambut
 Ccg jantan: + 1,5 mm, ujung anterior lansing
dan mulut tajam, bgn posterior tumpul, bulat
dan ada 2 papil di bgn ventral
 Ccg betina + 3-4 mm anterior langsing dan
bgn posterior membulat, dpt menghasilkan
1500 larva
Larva T.spiralis
Larva T.spiralis dalam otot
Gejala klinis
• Ccg dewasa menimbulkan mual, muntah,
sakit perut, diare ---- 1 – 2 hr sesdh infeksi
• Larva:
 Nyeri otot(myalgia), radang otot(radang
otot), demam ----- hr ke 7 – 28 sesdh infeksi
 Penderita infeksi berat ( ada 5000 larva /
KgBB) ----- dapat meninggal
• Lab. : Eosinofilia/hipereosinifilia
Diagnose
• Gejala klinis
• Biopsi otot
• Reaksi serologis/ antigen-antibody

Terapi :
• Simtomatis
• Thiabendazole
NEMATODA JARINGAN
• FILARIA .Sp
• Angiostrongylus cantonensis
• Dracunculus medinensis
• Gnathostoma spinigerum
Filaria
Cacing halus, kecil, memanjang, putih-susu spt benang,
cuticula licin, mengecil ke kedua ujungnya.
Umumnya parasit binatang.
Beberapa di antaranya menginfeksi manusia.
Di jumpai di daerah tropik & subtropik.
Hdp di jaringan (limfatik, jar.ikat dan rongga badan)
Life span : tahunan (15 tahun atau lebih).
jantan & betina in state of permanent copula.
Filaria betina vivipar, melahirkan embryo dinamai
mikrofilaria dlm jlh besar.
Mf dpt dijumpai di darah atau jar.kulit (tergantung spesies),
panjang ± 200 – 300 u.
FILARIA yang pernah pd manusia
• Wuchereria bancrofti
• Brugia malayi
• Brugia timori
• Brugia phahangi
• Loa loa
• Onchocerca volvulus
• Acanthocheilonema perstans
• Mansonella ozzardi
• Dirofilaria immitis
• Dirofilaria conjunctiva
Larva berkembang dlm tbh HP (vektor)
mengalami 3 stadia:
Stadium I : bentuk susis, memppunyai ekor, dlm
otot dada, pergerakannya sedikit.
Stadium II : lbh gemuk dan pjg, ekor tdk terlihat
dlm otot dada, pergerakan agak jelas, saluran
cerna tampak samar
Stadium III : bentuk memanjang dan halus,
gerakannya sgt aktif, infektif, berada di
seluruh tbh vektor, terutama di mulut.
TEMPAT HIDUP FILARIA
• Pembuluh darah
• Kelenjar dan pembuluh lymph
• Jaringan sub-cutan/bawah kulit
• Rongga badan ( Coelom )
Morphologi :
Cacing dewasa halus kecil
Betina : 8 – 10 cm x 0,2 – 0,3 mm
2 set gonad, vulva sebelah kepala.
Jantan : 2,5 – 4,5 cm x 0,1 – 0,15 mm
ekor spiral, 2 spiculae.
Siklus hdp :
Perkembangan larva dlm tbh vektor ± 12 hr.
Larva infektif 1,5 mm. Larva memasuki tbh
melalui luka bekas gigitan vektor dan
berkembang di kelenjar limfe, dan dlm 3 – 6 bln
menjadi dws dan kawin dan melahirkan mf yg
memasuki sirkulasi darah.
GEJALA KLINIS W.bancrofti

• Mikrofilaria tidak menimbulkan gejala klinis


• Cacing dewasa menimbulkan ‘Lymphadenitis’ dan
‘Lymphangitis’
• Daerah yang diserang : ‘Inguinal’ , ‘Genital organ’,
‘Extremitas’ , Mammae’
• Bila khronis terjadi fibrosis dan stagnasi cairan pembuluh
lymph dan akhirnya sering menimbulkan penyakit kaki gajah
( Elephantiasis )
Brugia malayi

• Menimbulkan penyakit Filariasis malayi


• Banyak dijumpai di negara ASEAN
• Bersifat ‘Periodisitas Nocturna’
• Hospes Perantara utama : Nyamuk Mansonia,
dpt juga Anopheles ,Aedes
• Hospes Reservoir : Kera, Anjing, Kucing,babi
• Morfologi hampir sama dgn W bancrofti
DIAGNOSE DAN TERAPI B.malayi

• Diagnose : Dengan • Terapi : Hetrazan


menemukan (Diethyl Carbamazin =
mikrofilaria dalam D.E.C.)
darah tepi pada malam
hari
Gnathostoma spinigerum

- Dist. India ,Thailand ,China ,Jepang


,Indonesia
-Peny. – Gnathostomoiasis interna ( Visceral –
- larva migran )
- Gnathostomiasis externa ( Cutaneus
larva migran )
H.D. Anjing dan Kucing ,Harimau

4/4/19 53
Morfologi cacing :

Dewasa : - Warna kemerahan


- Sedikit transparan
- ½ depan tubuh ditutupi duri
Larva : Pada bagian kepala ada 4 baris kait2
Telur : bentuk oval, satu kutub ada tonjolan di
sebut mucoid knop .
H.P-I : Cyclops
H.P- II : Ikan,Kodok, Ular ,Burung , sebagian
mammalia
4/4/19 54
G.Spinigerum --- cacing dewasa
Gejala klinis pd manusia
• Cutaneus larva migran ( Gnathosto miasis
Externa ) --- Creeping eruption

• Visceral larva migran ( Gnathostomiasis


Interna )---- pada organ dalam ,seperti otak
,mata ,sumsum tulang
Diagnose dan Terapi

Diagnose : - Gejala klinis


- Intradermal Test
- Eosinofil meninggi

Terapi : - Operatip
- Obat --- Hetrazan tab.

4/4/19 57
Angiostrongylus cantonensis
• Distr. Daerah Asia Tenggara
• Penyakit :Eosinophilic Meningo
encephali tis & Ocular angiostrongyliasis
• H.D. Tikus sawah
• H.P. Keong jenis : - Achatina
- Pila
- Slug
Tempat hdp cacing dewasa :
Arteri pulmonalis tikus
4/4/19 58
Morfologi :
• Cacing dewasa jantan : - pjg. 15 – 19 mm
- ada bursa copulatrix
• Cacing dewasa betina : - pjg. 17 – 25 mm
- uterus bentuk spiral me
ngelilingi usus
• Telur : - oval
- 46 x 68 mikron

4/4/19 59
Cyclus hidup

Ccg dws di A.pulm. ---- Telur ---- menetas dlm pemblh


drh ---- keluar larva ---- menembus pemblh drh ----
saluran nafas ---- Trachea ---- Tertelan ---- ke usus ----
keluar bersama tinja(larva std-I) ---- dlm tbh H.P jadi
larva std –II ---- larva std- III ---- H.D makan H.P +
larva std- III ---- larva std –IV ----- larva std- V ---- ke
usus ---- aliran drh ---- arteri pulmonalis ----- dewasa
Pd manusia : Larva- III ---- menembus usus --- ke
aliran drh ---- ke CSF / ke mata

4/4/19 61
Diagnose & Terapi
• Diagnose :
- Pemeriksaan CSF ---- dijumpai larva
- Pemeriksaan drh ---- Eosinophilia
- Test Immunologi

• Terapi :
- Operatip
- Thiabendazole

4/4/19 62
Dracunculus medinensis
Guinea worm=Dragon worm

• Dist. : Arab, Afrika tengah, Amerika latin, In


dia, Burma, Cina
• Penyakit: Dracunculosis, Dracontiasis,
Dracunculiasis
• H.D. : Manusia, Anjing, Monyet, Kuda, Sapi
• H.P : Cyclop
• Tpt hdp ccg dewasa : Connective tissue
cutis dan sub-cutis

4/4/19 63
4/4/19 64
4/4/19 65
CACING DAUN
TREMATODA

dr. Rusdi yunus,MKT


Paragonimus westermani
• Penyakit disebut: Paragonimiasis
• H.D: Manusia, harimau, kucing, anjing
• H.P-I: Keong air
• H.P-II: Kepiting , Udang
• Dist. : Cina, Taiwan, Korea Jepang,
Filipina,Thailan, India, Afrika, Amerika latin, di
Indonesia pernah pd binatang(harimau)
• Cara Infeksi: Makan H.P-II kurang masak yg
mengandung metaserkaria
Morfologi P.westermani
• Bentuk bulat lonjong spt biji kopi
• Ukuran: (8-12)x (4-6) mm
• Warna coklat tua
• Testis berlobus,letak berdampingan/lateral
• Telur: lonjong, (80-120)x(40-60)mm, matang
dlm wkt 16 hr,
Gejala klinis
• Batuk kering
• Hemoptisis (batuk berdarah)

Diagnose:
• Menemukan Telur dalam sputum
• Menemukan telur dalam tinja
Terapi: Prazikuantel, Bitionol
Telur P.westermani dalam jaringan paru
Fasciolopsis buskii

• Penyakit disebut: Fasiolopsiasis


• H.D: manusia, Babi, Anjing, Kelinci
• Tempat hidup: Duodenum dan yeyenum
• H.P-I: Keong air tawar --- Segmentina, Hypeutis dan
Gyraulus
• H.P-II: Tumbuhan air --- Trapa bicornis, Eichornia dan
Zizania
• Dist. : Cina , Thailand, Taiwan, India, Indonesia, Vietnam
• Cara Infeksi: Makan tumbuhan air yang mentah/ kurang
masak yg mengandung metaserkaria
Fasciolopsis buskii – ccg dewasa
Fasciolopsis buskii -- telur
Gejala klinis
• Diare, nyeri ulu hati, mual, muntah
• Terjadi peradangan dan ulkus pd tempat
perlekatan cacing ------ absces
• Tinja bau busuk
• Cacing dlm jlh besar ---- ileus
Diagnose:
• Menemukan telur dalam tinja
Terapi: Prazikuantel
Clonorchis sinensis
• Penyakit disebut: Klonorkiasis
• H.D: Manusia, harimau, kucing, anjing,babi
• Tempat hidup: Saluran empedu
• H.P-I: Keong air--- Bulinus, Semisulcospira
• H.P-II: Ikan (Cyprinidae)
• Dist. : Cina, Taiwan, Korea Jepang
• Cara Infeksi: Makan ikan kurang masak yg
mengandung metaserkaria
C.Sinensis ---- Ccg dewasa
Gejala klinis
• Iritasi dan penebalan saluran empedu
• Peradangan sel hati ----- sirosis hepatis
• Perut terasa penuh, mual, pembesaran hati
Diagnose:
• Menemukan telur dalam tinja
• Menemukan telur dalam cairan duodenum
Terapi: Prazikuantel
Schistosoma japonicum
• Penyakit disbt: Schistosomiasis japonika, Oriental
schistosomiasis, Katayama desease, Demam keong,
Billarziasis
• Distribusi: Indonesia(Sulawesi tengah– danau Lindu &
lembah Napu), RRC, Jepang, Taiwan, Vietnam, Malaysia
• HD. Manusia, Tikus sawah, Anjing, Kucing, sapi, babi, dll
• HP. Keong Onchomelania
• Tempat hidup : Hati, vena porta, Vena mesenterica
superior
S.Japonicum ------ cacing dewasa
S.Japonicum ------ telur
Gejala klinis:
• Gatal pd kulit akibat serkaria menembus kulit
• Demam, hepatomegali
• Sindroma disentri
• Gejala sirosis hati
• Lab. Eosinofilia yang tinggi
Diagnose :
 Menemukan telur dlm tinja & jaringan biopsi
 Diagnose serologi:
1. COPT -- Circum Oval Precipitin Test
2. IHT --- Indirect Hemaglutinin Test
3. FAT --- Fluorescent Antibody Test
4. ELISA --- Enzyme Linked Immuno Sorbent
Assay
Terapi:
• Prazikuantel ------- Biltrcide, Distocide
Diphyllobothrium latum
(Taenia lata, Dibothriocephalus latus, broad tape worm, fish tape worm)

• Dist. : Amerika, Kanada, Eropah, Siberia


• Menimbulkan penyakit Difilobotriasis
• H.D. : Manusia
• H.R. : Anjing, Beruang
• H.P.I : Cyclops, Diaptomus
• H.P.II : Ikan salem
• Tempat hidup cacing dewasa: Usus halus
Gejala klinis:
• Gangguan G.I tract ringan, perut tidak enak,
nafsu makan turun
• O.k ccg banyak mengabsorsi vit.B12, timbul
gejala defisiensi vit.B12 --- anemia hiper
kromik makrositer
• Obtruksi ileus bila jlh ccg banyak
Diagnose dan terapi
• Diagnose: • Terapi :
 Menjumpai telur  Pemberian Atabrin dlm
didalam tinja keadaan perut kosong
 Pemberian asam folat
Taenia saginata
• Dist. : kosmopolitan
• H.D. : Manusia
• H.P. : Sapi,Kerbau
• Penyakit : Taeniasis saginata
• Cara infeksi : memakan daging sapi yang
mengandung sistiserkus bovis tidak dimasak
sempurna
Siklus hidup T.saginata/ T solium
Gejala klinis
• Sakit ulu hati
• Mual, muntah, mencret
• Adanya proglotid yang bergerak di anus
• Kadang proglotid bergerak ke appendix --
gejala apendisitis
• Ileus obstruktif akibat sumbatan strobila
Diagnose :
• Adanya proglotid keluar bersama tinja
• Menjumpai telur dalam tinja

Terapi :
1. Tradisonal : Biji labu, biji pinang
2. Obat lama: Kuinakrin(Atabrin), Amodiaquin,
Niklosamid(Yomesan)
3. Obat baru: Mebendazole(Vermox), Praziquantel
(Biltricide), Bitionol(Bitin)
Taenia solium
• Dist. : kosmopolitan, daerah nonmuslim dan
daerah peternakan babi
• H.D. : Manusia
• H.P. : Babi
• Penyakit : Taeniasis solium, Sistiserkosis
• Cara infeksi :
1. memakan daging babi yang mengandung
sistiserkus selulose tidak dimasak sempurna
2. Tertelan telur
Siklus hidup T.saginata/ T solium
T. solium------ proglotid
Telur taenidae
Gejala klinis
• Sakit ulu hati
• Mual, muntah, mencret, obstipasi
• Adanya proglotid yang bergerak di anus
• Kadang proglotid bergerak ke appendix --
gejala apendisitis
• Scolex dgn kait dpt menembus ddg usus, dpt
menimbulkan pritonitis
Gejala klinis sistiserkosis
• Gejala tergantung pada jumlah dan lokasi parasit
• Sistiserkosis dpt menghinggapi ; subkutis, mata,
otak, otot, otot jantung, hati, paru, dan rongga
abdomen
• Sistiserkus pd otot mengalami pengapuran akan
menimbulkan dpt menimbulkan gejala myositis,
spt demam, nyeri otot
• Pada otak dan medulla spinalis sistiserkus jarang
mengalami pengapuran
Gejala klinis sistiserkosis
• Sistiserkosis pd otak menimbulkan gejala :
Epilepsi, Meningoensefalitis, Nyeri kepala
akibat peninggian tekanan intra kranial
• Hydrocephalus dpt terjadi bila ada sumbatan
aliran cairan CSF
Diagnose :
• Menjumpai telur dalam tinja
• Biopsi jaringan disangka ada parasit
• CT-Scan
• Reaksi serologis ------- Immuno Electro
Phoresis atau, Double Diffusion Test
Terapi :
1. Tradisonal : Biji labu, biji pinang
2. Obat lama: Kuinakrin(Atabrin), Amodiaquin,
Niklosamid(Yomesan)
3. Obat baru: Mebendazole(Vermox),
Praziquantel (Biltricide), Bitionol(Bitin)
4. Utk Sistiserkosis dipakai Praziquantel, dan
tindakan operatif
Taenia asiatica
• Merupakan bentuk ketiga taenia yang meng
infeksi manusia
• Mula2 disebut Taenia taiwanensis
• Pertama dilaporkan di Taiwan oleh P.C. Fan
• Distr. Sekitar Asia seperti Cina, Taiwan, Korea,
Vietnam dan Indonesia(Sumatera Utara)
• H.P. Babi
Morfologi
• Secara umum mirip T.saginata, hanya berbeda
dalam hal:
1. adanya rostellum pada scolex
2. adanya tonjolan pada posterior proglottid gravid
3. banyaknya jumlah ranting uterus
4. adanya bentukan kutil pada permukaan
gelembung sistiserkusnya.
5. Sistiserkus pada organ viseral
Diagnose :
• Menjumpai telur dalam tinja
• Biopsi jaringan disangka ada parasit
• CT-Scan
• Reaksi serologis ------- Immuno Electro
Phoresis atau, Double Diffusion Test
Terapi : ---- sama spt T solium
1. Tradisonal : Biji labu, biji pinang
2. Obat lama: Kuinakrin(Atabrin), Amodiaquin,
Niklosamid(Yomesan)
3. Obat baru: Mebendazole(Vermox),
Praziquantel (Biltricide), Bitionol(Bitin)
4. Utk Sistiserkosis dipakai Praziquantel, dan
tindakan operatif
Prosedur pengobatan Taeniasis
• Pengobatan Penderita taeniasis secara massal
dengan prazikuantel dosis tunggal 100 mg/kg berat
badan (BB)
• Satu hari sebelum pemberian obat cacing penderita
dianjurkan untuk memakan makanan yang lunak
tanpa minyak dan serat
• Pada malam harinya setelah makan malam penderita
harus menjalani puasa
• Pemberian obat diberikan keesokan harinya dalam
keadaan perut pasien masih kosong
• Dua jam setelah pemberian obat, penderita
diberi garam Inggris (MgSO4) yang telah
dilarutkan dalam sirup
• Dosis: 30 gram untuk dewasa dan 15 gram atau
7,5 gram untuk anak-anak
• Selama itu penderita tidak boleh makan sampai
buang air besar yang pertama
• Setelah buang air besar penderita diberi makan
bubur
• Sebagian kecil tinja dari buang air besar
pertama dikumpulkan dalam botol yang berisi
formalin 5-10% untuk menemukan telur taenia
• Tinja dari buang air besar pertama dan tinja
selama 24 jam ditampung dalam baskom
plastik
• Kemudian tinja disiram dengan air panas
supaya cacing menjadi rileks
• tinja diayak dan disaring untuk mendapatkan
proglotid dan skoleks Taenia sp
• Pengobatan dinyatakan berhasil bila skoleks
Taenia sp dapat ditemukan utuh bersama
proglotid
Terapi sistiserkosis
• Menggunakan prazikuantel per oral 50
mg/kgBB/hari dosis tunggal atau dibagi dalam tiga
dosis selama 15 hari
• Albendazol per oral 15 mg/kgBB/hari dosis tunggal
atau dibagi dalam tiga dosis selama 7 hari
• Memberikan kortikosteroid untuk mengurangi efek
samping, yaitu prednison 1mg/kgBB/hari dosis
tunggal atau dibagi dalam tiga dosis. Kortikosteroid
yang juga dapat diberikan adalah deksametason
dengan dosis yang setara dengan prednison
• Keberhasilan pengobatan sistiserkosis dapat
diketahui melalui pemeriksaan tinja pada
bulan ketiga sampai bulan keenam setelah
pengobatan.
• Pengobatan dinyatakan berhasil bila tidak
ditemukan telur Taenia sp dan proglotidnya.
• Apabila ditemukan telur Taenia sp, prologtid,
atau keduanya maka hal itu menandakan telah
terjadi infeksi baru (reinfeksi).
Terapi neurosistiserkosis
• penderita neurosistiserkosis harus dirawat di
rumah sakit
• diberi prazikuantel per oral 50 mg/kgBB/hari
dosis tunggal atau dibagi dalam tiga dosis
selama 15 hari
• Dapat juga digunakan albendazol per oral 15
mg/kgBB/hari dosis tunggal atau dibagi
dalam tiga dosis selama 30 hari
• Untuk mengurangi efek samping obat,
penderita diberi deksametason atau prednison
per oral selama 45 hari
• Perlu penurunan dosis obat dan harus
dilakukan secara bertahap, yaitu 15 hari
pertama diberikan 3×5 mg/hari, 15 hari kedua
diberikan 2×5 mg/hari, dan 15 hari ketiga
diberikan 1×5 mg/hari
• Pengobatan penderita neurosistiserkosis
dinyatakan berhasil apabila frekuensi serangan
epilepsi makin berkurang
Hymenolepis nana
Dwarf tape worm

• Dist. kosmopolitan, terutama daerah tropis


• Menimbulkan penyakit Himenolepisis
• Merupakan cestoda terkecil pada manusia
• H.D. : manusia dan tikus
• H.P. : Pinjal, Ctenocephalides Sp, X.cheopis, Pulex irritans,
T.molitor
• Cara infeksi:
1. Tertelan telur secara langsung (direct)
2. Termakan HP yg mengandung cysticercoid
3. Auto infectie interna
H.nana ------- siklus hidup
Morfologi:
• Scolex :
 Bentuk kuboidal, besar 0,32 mm
 Memp. 4 batil isap
 Memp. Rostellum dpt maju mundur dgn 20-30 kait
• Proglotid :
 Lebar > dari panjang --- (0,15-0,30) x (0,8-1) mm
 Genital pore dipinggir pd satu sisi
• Telur :
 bentuk oval
 Besar : 35 x 45 µ
 Isi : hexacant embryo
 Pada ke2 ujung kutub ada 4 – 8 filamen
H.nana ------- scolex + proglotid
Gejala klinis
• Gangguan G.I. ringan
• Bila terjadi auto infectie interna ---- infeksi berat
• Penderita kurus
• Sering sakit perut

• Diagnose : menjumpai telur dalam tinja

• Terapi : Atebrin Yomesan


Hymenolepis diminuta
(Rat tape worm)
• Dist. kosmopolitan
• H.D. : manusia dan tikus (jarang)
• H.P. : Pinjal, Ctenocephalides Sp, X.cheopis,
Pulex irritans, T.molitor
• Cara infeksi:
Termakan HP yg mengandung cysticercoid
H.diminuta ------- siklus hidup
Morfologi:
• Panjang cacing dewasa 2 – 6 cm
• Scolex :
 Bentuk kuboidal, besar 0,32 mm
 Memp. 4 batil isap
 Tanpa Rostellum dan kait
• Proglotid :
 Lebar > dari panjang --- (0,15-0,30) x (0,8-1) mm
 Genital pore dipinggir pd satu sisi
• Telur :
 bentuk oval
 Mirip telur H.nana
 Isi : oncosphere
 Pada ke2 ujung kutub tanpa filamen
H.diminuta ------- cacing dewasa
H.diminuta ------- telur
Gejala klinis
• Infeksi ringan tanpa gejala atau gangguan G.I.
tract ringan, mual muntah, mencret

• Diagnose : menjumpai telur dalam tinja

• Terapi : Atebrin Yomesan


Dipylidium caninum
(Double tape worm)
• Dist. D.caninum kosmopolitan
• Menimbulkan Dipilidiasis
• H.D. : Anjing dan Kucing, kadang pada
manusia
• H.P. : Pinjal
• Cara infeksi:
Termakan HP /pinjal yg mengandung
cysticercoid
Dipylidium caninum ---- siklus hidup
Morfologi:
• Panjang cacing dewasa 25 cm
• Scolex :
 Bentuk oval, besar 0,32 mm
 Memp. 4 batil isap
 Ada Rostellum dan 1-7 baris kait
• Proglotid :
 Bentuk seperti tempayan
 Ada dua Genital pore dipinggir pd ke-2 sisi
 Pd yg gravid dijumpai egg ball berisi 8-15 telur
• Telur :
 bentuk oval
 Mirip telur taenia tapi tanpa striae pd kulit telur
 Isi : ovum
Dipylidium caninum ---- cacing dewasa
Pinjal anjing (Pulex irritans) -------- H.P D.caninum
Gejala klinis
• Infeksi ringan tanpa gejala atau gangguan G.I.
tract ringan, mual muntah, mencret

• Diagnose : menjumpai telur atau proglotid


dalam tinja ------ proglotid dpt keluar secara
aktip dari anus

• Terapi : Atebrin Yomesan


Echinococus granulosus
(Hydatid worm)
• Dist. Afrika ,Amerika selatan, filipina,Cina,
Jepang
• H.D.: Anjing
• H.P. : domba , kambing, babi,
• Pada manusia menimbulkan Hydatidosis
akibat infeksi dari larva
• Cara infeksi : manusia memakan daging yg
mengandung kista hydatid
Echinococcus granulosus ----- siklus hidup
Morfologi:
• Panjang cacing dewasa 3 – 6 mm, kepala melekat pd villi
mukosa usus halus
• Scolex :
 Bentuk oval, besar 0,3 mm
 Memp. 4 batil isap
 Ada Rostellum dan 25 - 80 kait
• Proglotid :
• Selalu pada posisi 3 buah proglotid
• Proglotid immature, mature, dan gravid
• Telur :
 bentuk oval
 Mirip telur taenia
Echinococcus granulosus ----- cacing dewasa
Echinococcus granulosus ----- telur
Gejala klinis
• Tergantung lokalisasi kista
• Gejala akibat desakan pembesaran kista
• Dpt terjadi reaksi alergi
• Bila kista pecah dpt timbul reaksi anaphilaktik
• Kista pd otak menimbulkan gejala serebral
Diagnose :
1. Gejala klinis
2. Biopsi/puntie dari kista
3. Reaksi immunologi ------- Casoni Test , Complement
Fixation Test
Terapi :
4. Atebrin Yomesan
5. Operatip
TERIMA KASIH - TQ