Anda di halaman 1dari 10

SYOK ANAFILAKTIK

Kelompok 3 Kelas VI C
Anggota :
Riyo Fajar Iman ( 1611020131 )
Galuh Retno W. ( 1611020132 )
Alief Yafith A. ( 1611020133 )
Meta M. ( 1611020147 )
Hardini N.R ( 1611020148 )
Antias Widia A. ( 1611020150 )
Tiffatul Jannah F. ( 1611020159 )
Dewi Ratnasari ( 1611020160 )
Rizka Maisharoh ( 1611020165 )
DEFINISI

• Reaksi anafilaksis merupakan reaksi hipersensitvitas tipe I atau


reaksi cepat dimana reaksi segera muncul setelah terkena alergen.
Patofisiologi

• antigen masuk sel imun non spesifik di fagosit dipersentasikan ke sel Th2 merangsang
sel B untuk membentuk antibodi (antibodi IgE).
Fase • Antibodi ini akan diikat oleh sel yang memiliki reseptor IgE yaitu sel mast, basofil, dan eosinofil.
sensitisasi

• interaksi antara IgE dengan antigen spesifik di permukaan sel mast dan basofil perubahan
membran sel mast dan basofil aktivasi fosfolipase, kadar cAMP menurun Terjadilah
fase aktivasi eksositosis dan isi granul yang mengandung mediator,lalu dikeluarkan dari sel mast dan basofil

• degranulasi sel mast pelepasan mediator inflamasi (histamin, trptase, kimase, sitokin)
muncullah dampak klinis pada organ
fase efektor
Pengkajian

1. Identitas pasien
Nama, Umur, Jenis Kelamin, Alamat, Pekerjaan, Agama, Tanggal Pemeriksaan

2. Anamnesis
• Kulit : Pada kulit terdapat ruam, kemerahan , urtikaria, angioedema. Dapat
terjadi pada semua bagian kulit idak terbatas pada yang terkena alergen atau
pecentus.
• Respirasi : Rasa terbakar dilidah dan pelatum, sesak nafas, hidung tersumbat
dan berlendir, batuk, suara serak,rasa tercekik, pada kondisi berat pasien sering
mengeluh sensasi “ ingin mati” (angor animi)
• Gastrointestinal : Mual, muntah, nyeri perut, kembung atau begah
• Kardiovaskuler : Dada berdebar, kelemahan seluruh tubuh, nyeri tubuh
3. Pemeriksaan Fisik
• Kulit : Terdapat urtikaria, dapat disertai eritema hingga
edema lokal.
• Respirasi : Angioedema lidah dan bibir, sianosis nronkospasme
ditandai dengan bunyi mengi, bila terjadi sumbatan
berat dapat terdengar stridor.
• Gastrointestinal : Perut kembung hingga distensi, peningkatan bising usus
• Kardiovaskuler : Takikardi atau bradikardi, hipotensi, hingga
menyebabkan syok.
• Dapat pula terjadi : Sakit kepala, kejang dan penurunan kesadaran.
Penatalaksanaan

1. Terapi segera terhadap reaksi yang berat :


• Hentikan pemberian bahan penyebab dan minta pertolongan
• Lakukan resusitasi ABC (Airway, Breathing, Circulation)
• Adrenalin sangat bermanfaat dalam mengobati anafilaksis, juga efektif pada bronkospasme dan kolaps
kardiovaskuler.
2. Penilaian Airway, Breathing, Circulation
• Airway
a) Menjaga saluran napas dan pemberian oksigen 100%
- Apabila klien tidak sadar, posisi kepala dan leher diatur agar lidah tidak jatuh ke
belakang menutupi jalan napas, yaitu dengan melakukan triple airway maneuver (ekstensi
kepala, tarik mandibula ke depan, dan buka mulut)
- jika klien dengan sumbatan jalan napas total, harus segera ditolong dengan lebih aktif,
melalui intubasi endotrakea, krikotirotomi, atau trakeotomi
b) Adrenalin. Jika melalui IV, diberikan adrenalin 1 : 10.0000, 0.5 – 1 ml. Alternatif lain dapat
diberikan 0,5 – 1 mg (0,5 – 1 ml dalam larutan 1 :1000) secara IM diulang setiap 10 menit jika
dibutuhkan.
• Breathing - Pernapasan
• Jamin pernapasan yang adekuat. Intubasi dan ventilasi mungkin diperlukan.
Segera memberikan bantuan nafas buatan bila tidak ada tanda-tanda bernapas
spontan.
• Adrenalin akan mengatasi bronkospasme dan edema saluran napas atas.
• Bronkodilator semprot (misalnya salbutamol 5 mg) atau aminofilin IV mungkin
dibutuhkan jika bronkospasme refrakter (dosis muat 5 mg/kg diikuti dengan 0,5
mg/kg/jam).
• Circulation - Sirkulasi
- Akses sirkulasi. Mulai CPR jika terjadi henti jantung.
- Adrenalin merupakan terapi yang paling efektif untuk hipotensi berat.
3. Obat – obatan
Nama Kegunaan Pemberian Dosis

Adrenalin meningkatkan tekanan Pada pasien dalam keadaan syok, - 0.5 ml larutan 1:1000 (0.3-0.5 mg) untuk orang
darah, menyempitkan intramuskuler lebih cepat dan lebih dewasa,
pembuluh darah, baik dari pada pemberian subkutan. - 0.01 ml/kg BB untuk anak.
melebarkan bronkus dan - Dapat diulang tiap 5-15 menit sampai TD dan Nadi
meningkatkan aktivitas menunjukan perbaikan
otot jantung

Antihistamin menghambat proses 1. Dipenhidramin melalui IV 1. 50 mg secara pelan-pelan (5-10 menit),diulang tiap 6
vasodilatasi dan 2. simetidin atau ranitidun melalui IV jam selama 48 jam.
peningkatan 2. Simetidin 300mg atau ranitidin 150mg, harus
permeabilitas vascular diencerkan dengan 20 ml NaCl 0.9% dan diberikan
yang diakibatkan oleh dalam waktu 5 menit
pelepasan mediator

Kortikosteroid menurunkan respon 1. Glukokortikoid melalui IV 1. efektif setelah 4-6 jam pemberian
keradangan 2. Metilprednisolon melalui IV 2. 125 mg dapat diberikan tiap 4-6 jam sampai kondisi
3. hidrokortison melalui IV atau pasien stabil (yang biasanya tercapai setelah 12 jam),
deksametason 2-6 mg/kg BB. 3. 7-10 mg/kg BB, dilanjutkan dengan 5 mg/kg BB
setiap 6 jam,