Anda di halaman 1dari 15

HIPERSENSITIVITAS

Kelompok 5
Definisi

• Alergi atau hipersensitivitas dapat juga diartikan


sebagai kegagalan kekebalan tubuh di mana tub
uh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereak
si secara imunologi terhadap bahan-bahan yang
umumnya nonimunogenik

• Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivit


as tersebut disebut allergen.
Reaksi hipersentsitivitas memiliki 4 tipe reaksi seperti b
erikut:
Tipe I : Reaksi Anafilaksi

Tipe II : reaksi sitotoksik

Tipe III : reaksi imun kompleks

Tipe IV : Reaksi tipe lambat


Etiologi

Faktor Internal Faktor eksternal

1. Imaturitas usus secara f 1. Faktor pencetus : faktor fisi


ungsional k (dingin, panas, hujan), fa
ktor psikis (sedih, stress) at
2. Genetik berperan dalam
au beban latihan (lari, olah
alergi makanan raga).
3. Mukosa dinding saluran 2. makanan yang dapat mem
cerna belum matang yan berikan reaksi alergi menu
g menyebabkan penyera rut prevalensinya
pan alergen bertambah. 3. Hampir semua jenis maka
nan dan zat tambahan pad
a makanan dapat menimbu
lkan reaksi alergi.
Patofisiologi

Makan untuk ke muncul gejala-gejala


dua kalinya timbulnya alergi

sel T tersebut
maka antigen akan
yang akan m
mengenali alergen
erangsang sel
yang masuk yang
B untuk men
akan memicu aktif
gaktifkan anti
nya sel T
bodi (IgE).
Proses sebelumnya mengakibatkan melekatnya anti
bodi pada sel mast yang dikeluarkan oleh bisofil. Apabila se
seorang mengalami paparan untuk kedua kalinya oleh alerg
en yang sama maka akan terjadi 2 hal yaitu :

• Ketika mulai terjadinya produksi sitoksin oleh sel T, sito


ksin meberikan efek terhadap berbagai sel terutama dala
m menarik sel-sel radag
• Alergen tersebut kan langsung mengaktifkan antibodi (Ig
E) yang merangsang sel mast kemudian melepaskan hist
amin dalam jumlah yang banyak, kemudian histamin ter
sebut beredar didalam tubuh melalui pembuluh darah.
Manifestasi Klinis

Rasa kesemutan serta hangat pada bagian perifer dan


Ringan dapat disertai dengan perasaan penuh dalam mulut serta tengg
orokan, kongesti nasal, pembengkakan periorbital, pruritus, be
rsin-bersin dan mata berair.

Gejala flushing, rasa hangat, cemas, dan gatal-gatal.Re


aksi yang lebih serius berupa bronkospasme dan edema salura
Sedang
n pernafasan atau laring dengan dispnea, batuk serta mengi.

Bronkospasme, edema laring, dispnea berat serta sian


osis, disfagia (kesulitan menelan), kram abdomen, vomitus, dia
Berat re, dan serangan kejang-kejang
Komplikasi

Eritroderma eksfoliativa sekunder


Abses limfedenopati
Furunkulosis
Rinitis
Stomatitis
Konjungtivitis
Faktor Risiko

Penyakit Atopik Reaksi makanan

Konsumsi obat chymopapain


Orang dengan pemberian intra
vena
Pemeriksaan Penunjang

1. RAST (Radio Allergo Sorbent Test) atau ELISA (Enzym Linked Im


munosorbent Assay test )
2. Skin Prick Test (Tes tusuk kulit)
3. Patch Test (Tes Tempel)
4. Skin Test (Tes kulit)
5. Tes Provokasi
6. Uji gores (scratch test)
7. Uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (skin end-point ti
tration/ SET)
8. Hitung eosinofil darah tepi
Penatalaksanaan Farmakologis dan
NonFarmakologis

Penatalaksanaan farmakologis
Adrenalin Teofilin

Difenhidramin Vasopresor

Aminofilin Kortikosteroid
Penatalaksanaan non farmakologis
 Evaluasi segera. Yang penting dievaluasi adalah keadaan
jalan napas dan jantung
 Intubasi dan trakeostomi.
 Turniket. Kalau anafilaksis terjadi karena suntikan pada
ekstremitas atau sengatan/gigitan hewan berbisa maka d
ipasang turniket proksimal dari daerah suntikan atau te
mpat gigitan tersebut
 Oksigen. Oksigen harus diberikan kepada penderita pen
derita yang mengalami sianosis, dispneu yang jelas atau
penderita dengan mengi
Lanjt….

 Terapi desentisasi. Berupa penyuntikan berulang alergen


(yang dapat mensentisasi pasien) dalam jumlah yang san
gat kecil dapat mendorong pasien membentuk antibodi I
gG terhadap alergen
 Terapi probiotik (preparat sel mikroba atau komponen
mikroba yang dapat mempertahankan kesehatan melalui
kegiatan yang dilakukan dalam flora usus).
 Diet. Dalam hal ini yaitu dengan membatasi mengkonsu
msi makanan yang menyebabkan alergen
 Pengobatan suportif. Sesudah keadaan stabil, penderita
harus tetap mendapat pengobatan suportif dengan obat
dan cairan selama diperlukan untuk membantu memper
baiki fungsi vital