Anda di halaman 1dari 12

KELOMPOK VII

1 . L I D W I N A A N G G U N R . P. G U S I
2. MARIA FAUSTINABHENGE

A N A L I S I S B U T I R S OA L O B Y E K T I F
KESUKARAN
BUTIR SOAL
OBYEKTIF

ANALISIS
RELIABILITAS
BUTIR SOAL
BUTIR DAYA
PEMBEDA
OBYEKTIF SOAL BUTIR SOAL
OBYEKTIF
OBYEKTIF

VALIDITAS
BUTIR SOAL
OBYEKTIF
ANALISIS BUTIR SOAL

• Analisis butir soal atau analisis item adalah pengkajian pertanyaan pertanyaan tes agar diperoleh
perangkat pertanyaan yang memiliki kualitas yang memadai (Sudjana, 2006).
• Menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk
meningkatkan mutu soal yang dibuat. Kegiatan ini merupakan proses pengumpulan, peringkasan,
dan penggunaan informasi dari jawaban siswa untuk membuat keputusan tentang setiap
penilaian.
• Analisis butir soal pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui apakah setiap item soal benar-
benar baik sehiingga diperlukan analisis terhadapnya.
• Aiken dalam Suprananto (2012) berpendapat bahwa kegiatan analisis butir soal merupakan
kegiatan penting dalam penyusunan soal agar diperoleh butir soal yang bermutu.Tujuan kegiatan
ini adalah:
 Mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum digunakan
 Meningkatkan kualitas butir tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif
 Mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka telah memahami materi yang telah
diajarkan.
• Selanjutnya menurut Anastasia dan Urbina (1997) dalam Suprananto (2012), analisis butir soal
dapat dilakukan secara kualitatif (berkaitan dengan isi dan bentuknya) dan kuantitatif (berkaitan
dengan ciri-ciri statistiknya
KESUKARAN BUTIR SOAL
• Tingkat kesukaran soal adalah peluang menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan
tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Tingkat kesukaran dinyatakan dalam
indeks kesukaran (dificulty index), yaitu angka yang menunjukkan proporsi siswa yang menjawab
benar soal tersebut. Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dan hasil hitungan,
berarti semakin mudah soal itu.
• Dalam hal ini, item yang baik adalah item yang tingkat kesukarannya dapat diketahui, tidak
terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Sebab, tingkat kesukaran item itu memiliki korelasi
dengan daya pembeda. Bilamana item memiliki tingkat kesukaran yang maksimal, maka daya
pembedanya akan rendah, demikian pula bila item itu terlalu mudah maka tidak akan memiliki
daya pembeda.
• Untuk menghitung tingkat kesukaran tiap butir soal digunakan persamaan:
𝑩
𝑷=
𝑱𝑿
Indeks kesukaran dapat diklasifikasikan seperti pada tabel berikut:
(Arikunto; 1999: 210)

Range Tingkat Kesukaran Klasifikasi

0,00-0,29 Soal sulit

0,30-0,69 Soal sedang

0,70-1,00 Soal mudah


DAYA PEMBEDA BUTIR SOAL
OBYEKTIF
• Perhitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu membedakan
peserta didik yang sudah menguasai kompetensi dengan peserta didik yang belum atau kurang
menguasai kompetensi berdasarkan kriteria tertentu. Semakin tinggi koofisien daya pembeda suatu
butir soal, semakin mampu butir soal tersebut membedakan antara peerta didik yang menguasai
kompetensi dengan pesertan didik yang kurang menguasai kompetensi.
• Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi. Daya pembeda suatu
soal tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑈−𝐿
DP =1/2𝑇
• Formula yang biasa digunakan adalah:
• BKA/JS-BKB/JS
• Dalam bukunya Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, dijelaskan mengenai klasifikasi daya pembeda,
yaitu:
• D = 0,00 – 0,20 = jelek (poor).
• D = 0,20 – 0,40 = cukup (satisfactory).
• D = 0,40 – 0,70 = baik (good).
• D = 0,70 – 1,00 = baik sekali (excellent).
VALIDITAS BUTIR SOAL OBYEKTIF
• Validitas adalah salah satu ciri yang menandai tes hasil belajar yang baik. Untuk dapat menentukan
apakah suatu tes hasil belajar telah memiliki validitas atau daya ketepatan mengukur, dapat dilakukan
dari dua segi, yaitu : dari segi tes itu sendiri sebagai totalitas, dan dari segi itemnya, sebagai bagian
yang tak terpisahkan dari tes tersebut (Sudijono,1996). Di dalam buku “Encyclopedia of Educational
Evaluation,” Scarvia B. Anderson mengatakan bahwa “A test is valid if it measures what it purpuse to
measure” artinnya : “sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak
diukur” (Arikunto,1990).
• Pengertian validitas dipakai untuk butir soal dan soal (perangkat soal), karena dikenal validitas butir
soal dan validitas perangkat soal. Perangkat soal terdiri atas sejumlah butir soal, validitas perangkat
soal ditentukan oleh validitas butir-butir soalnya. Perangkat soal bersifat valid (sahih) bila butir-butir
soalnya valid. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, ada dua macam validitas yaitu validitas teoritis (isi
dan perilaku) dan validitas empiris.
• Dalam validitas, dilambangkan dengan r. Nilai r untuk sebuah tabel yang ditetapkan adalah 0,4438
(max.20 siswa)
• r hitung > r tabel = valid
• Untuk butir soal objektif validitas butir soal dihitung dengan rumus korelasi point biserial antar
masing-masing skor butir soal (Xp) dengan skor total (Xt). Dipakai rumus point biserial karena
data yang dikorelasikan adalah data nominal dengan data interval. Data nominal berasal dari
skor butir soal, yaitu 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah.
RELIABILITAS BUTIR SOAL OBYEKTIF
• Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely yang artinya percaya
dan reliabel yang artinya dapat dipercaya. Keterpercayaan berhubungan dengan ketepatan dan konsistensi. Test
hasil belajar dikatakan dapat dipercaya apabila memberikan hasil pengukuran hasil belajar yang relatif tetap
secara konsisten. Beberapa ahli memberikan batasan reliabilitas.
• Menurut Thorndike dan Hagen (1977), reliabilitas berhubungan dengan akurasi instrumen dalam mengukur apa
yang diukur, kecermatan hasil ukur dan seberapa akurat seandainya dilakukan pengukuran ulang. Hopkins dan
Antes (1979:5) menyatakan reliabilitas sebagai konsistensi pengamatan yang diperoleh dari pencatatan berulang
baik pada satu subjek maupun sejumlah subjek.
• Cara menentukan reliabilitas pada soal obyektif adalah dengan cara Kuder Richardson 20 atau Kuder
Richardson 21. Kali ini kami akan menggunakan Kuder Richardson 21 (KR 21). Rumusnya adalah sebagai berikut:
𝐾 𝑀(𝐾−𝑀)
𝑟𝑖 = ( )
(𝐾−1) 𝐾.𝑆𝑡 2

Dimana: K= Jumlah item dalam instrumen


M= Mean (rata-rata) skor total
St2= Varians total
• Instrumen reliabilitas butir soal:
0,00-0,20 : sangat lemah
0,21-0,40 : lemah
0,41-0,60 : cukup
0,61-0,80 : tinggi
0,81-1,00 : sangat tinggi