Anda di halaman 1dari 109

Farmasi Fisik

Daftar Pustaka:
1. Thompson. J.E. dan Davidow, L.W.( 2004) A
Practical Guide To Contemporary Pharmacy
Practice, Second edition. Chapter 34.
S0
Lippincott Williams & Wilkin
2. Trissel A.L. ( 2003). Handbook on Injectable,
Edisi ke 12 American Society of Health-
System Pharmacists.

1
Inkompatibilitas
Definisi :
• Inkompatibitas : merupakan suatu reaksi yang tidak
diinginkan yang terjadi antara obat dan
larutan, wadah atau obat lain.
• Interaksi : perubahan efek obat disebabkan pengaruh
bahan lain ( mis: obat, bahan kimia, nutrisi)
yang menghasilkan dalam suatu larutan yang
tidak optimal setelah bahan-bahan tersebut
dicampur)
[Craven et al. 2007a, Josephson 2006, Douglas et al. 2001,
Nemec et al.2008)

2
Inkompatibilitas dari obat-obat dapat terjadi antara :
• Obat dan larutan Intra venus ( pengencer) yang tidak sesuai
• Dua macam obat bila :
- dicampur bersama-sama , mis; dalam jalan infus yang sama
(simultaneous infusion) dan /atau wadah iv
- diberikan satu sesudah yang lain, tetapi dengan jalan infus
yang sama
• Obat dan bahan tambahan ( pengawet, buffer, stabilizer, pelarut)
• Obat dan bahan-bahan dari wadah iv ( mis PVC) atau alat
kesehatan yang menyangkut sifat bahan yang digunakan dan /atau
reaksi pada permukaan sebelah dalam ( mis. Adsorpsi)
• [Trissel 1996, Giki et al. 2000, Newton 2009]

3
Perbedaan antara interaksi dan inkompatibilitas
• Interaksi terjadi dalam tubuh oleh karena tidak dapat dilihat
• Reaksi inkompatibilitas terjadi dalam suatu wadah cairan atau infusi
dan biasanya visibel

Inkompatibilitas obat dapat dibagi atas 3 golongan:


1. Inkompatibilitas fisika
2. Inkompatibilitas kimia
3. Inkompatibilitas terapeutik

• Inkompatibilitas yang berhubungan dengan Intra vena


Ketidakcampuran fisika
- Pengendapan - Kekeruhan
- Perub.menjadi gas - Perubahan viskositas
- Perubahan warna - Adsorpsi

4
Campuran Intravena (Intravenous Admixtur e)
Campuran Intravena : Produk steril yang dihasilkan bila satu atau
lebih obat ditambahkan ke larutan IV

Additive : obat yang ditambahkan ke larutan intravena


Jenis Pemberian Intra vena (IV)
• Injeksi intravena
– Pemberian volume relatif kecil (1-50 m) larutan langsung dari
syringe ke vena dalam waktu yang singkat (1-5 menit) disebut
“IV push”
• Infusi Intravena
– Pemberian volume besar dari larutan langsung kedalam vena
dalam periode waktu yang lama
– Dapat diberikan dengan 2 cara :
a. Continuous infusion
b. Intermittent infusion

5
• Infusi Kontinu
- Digunakan untuk pemberian volume besar dari larutan
melalui beberapa jam pada kecepatan konstat yang lambat
- 40 mg Eq dari KCL dalam 1000 ml injeksi dekstrosa melampui 8
jam
• Infusi Intermitten
– Digunakan untuk pemberian suatu volume yang relatif kecil pada
waktu singkat pada interval spesifik, mis: 100 ml 30 menit.
Contoh : Obat-obat spt dacarbazine, gentamcin dan ticarcillin dengan
infusi yg kontinu akan tidak tercapai konsentrasi yg cukup di
plasma, oleh karena itu harus diberikan secara intermitten
sedangkan Penicillin dan Cephalosporin tidak diinfusi yg
kontinu karena masalah stabilita

6
Indikasi untuk obat-obat yg ditambahkan ke Infus IV
Obat ditambahkan ke Infus hanya dengan keadaan sbb:
a. Bila diperlukan konsentrasi obat dalam plasma yg
konstan
b. Bila pemberian dari suatu obat yang sgt pekat akan
membahayakan
c. Bila pemberian oral dan intra-muscular dari obat tidak
mungkin karena situasi tertentu spt. Pasien yg muntah
atau tidak sadar pada terapi antikoagulan yang
intensif
d. Bila jumlah vena yang tersedia utk pemberian obat
terbatas

7
Konsekuensi Inkompatibilitas Obat IV terhadap Pasien

Konsekuensi inkompatibilitas IV terhadap pasien :


• Keracunan
• Emboli dari kristalisasi dan pemisahan
• Iritasi jaringan disebabkan karena perubahan pH
• Kegagalan pengobatan
Akibat-akibat ini terutama tergantung kepada:
Kondisi pasien ( umur, berat, parahnya penyakit dan lain-lain)
dan jenis obat yang diberikan

8
Faktor-Faktor penyebab Inkompatibilitas IV

1. Perbedaan pH. Bila komponen-komponen dari larutan IV


berbeda signifikan dalam pH , inkompatibilitas dapat terjadi.
Misalnya kombinasi suatu asam dan basa dan larutan IV, yang
bereaksi menghasilkan garam dan air; garam tersebut mungkin
mengendap.
2. Temperatur Tinggi, biasanya mempercepat penguraian obat. Oleh
karena itu obat-obat harus disimpan dalam lemari pendingin atau
freezer, sesuai dengan rekomendasi pabrik. Namun ada obat yang
terurai kalau dibekukan spt ampicillin na.
3. Konsentrasi Tinggi. Biasanya konsentrasi semakin pekat dalam
larutan, semakin besar kemungkinan terjadi interaksi yang cendrung
inkompatibilitas

9
4. Lama waktu dalam larutan. Semakin lama obat-obat
berkontak satu sama lain dalam suatu larutan, semakin
besar kemungkinan untuk menghasilkan inkompatibilitas
5. Order pencampuran. Obat-obat yang inkompatibel
dalam kombinasi tidak ditambahkan berurutan bila suatu
campuran IV akan dibuat, seperti kalslium dan fosfat.

10
Faktor-faktor penyebab terjadinya pengendapan

1. Berhubungan dengan perbedaan persyaratan pH


untuk kelarutan
2. Pengenceran dari obat-obat yg mengandung
cosolvent dalam formulanya
3. Pengenceran dari obat-obat yg mengandung
surfaktan dalam formulanya
4. Pembentukan garam-garam yang tidak larut
5. Efek Temperatur

11
1. Berhubungan dengan perbedaan persyaratan pH untuk
kelarutan
Mis: Obat-obat larut dalam lingkungan pH basa tidak larut
pada nilai pH asam dan seblknya banyak obat
merupakan basa lemah, dimana bentuk garamnya yang
larut dalam air. Perubahan pH mis : penambahan obat
lain , dapat melepaskan basa dari garamnya sehingga
terjadi endapan ( kristal, kabut datau keruh)
Contoh:
a. pH larutan dari Chlorpromazin HCl dalam air
Chlorpromazin basa (yang tak terionisasi ) (mengendap)

b. pH lar. Phenobarbital Na. akan terjadi


Phenobarbital asam

12
Physical precipitation of Midazolam as a result of an
unfavorable pH medium [Riemann et al. 2005].

13
• Kelarutan dari asam atau basa lemah tergantung kepada pH:
amin-amin ( dobutamine, dopamine, epinephrine, morphine) adalah
basa dan biasanya larut dalam media asam, sedangkan karboksilat
dan asam lain ( penicillin, cephalosporins, 5-flourouracil) biasanya
larut dalam media basa

Solution pH
Dektrosa 5% (D5W) 5.0
NaCl 0.9% 5.5
Dektrosa 10 % ( D10W) 4.5
D5/NaCl 0.9% 4.5
D10/NaCl 0.9% 4.4
D5 Lactated Ringer's 5.1
Ringer's injection 5.8
Lactated Ringer's 6.7

14
Penambahan suatu pelarut kedalam suatu larutan obat
akan terjadi pengendapan bila obat tsb tidak larut dlm
pelarut tsb.
Contoh :
1. Lar.asam salisilat dalam alkohol + air atau lar obat dlm
air, terjadi pengendapan as.salisilat yg tidak larut dalam
air
2. Injeksi Digoxin diencerkan dengan Injeksi dlm
air ( Dekstrosa 5%) akan terjadi pengendapan.
Injeksi digoxin mengandung Propilenglikol 40%,
Alkohol 10% ( Cosolvent)

15
Pengendapan dari larutan ( lanjutan)
Informasi yang penting
A. Informasi mengenai kelarutan dari garam dan
bentuk bebas dalam pelarut yang sesuai atau
sistem pelarut. Misalnya contoh
1. Chlorpromazin dan Phenobarbital diatas. Bila
sistem pelarut mengandung sedikit alkohol
maka pengendapan tidak terjadi ( bentuk bebas
cukup larut dalam alkohol) walaupun terjadi
perubahan pH.
2. Kadang-kadang bentuk garam dan bebasnya
larut dalam air dan pelarut lain mis alkohol.
Dalam hal ini tidak terjadi endapan
Contoh : Ephedrin basa dan Ephedrin HCl
keduanya larut dalam air dan alkohol
16
Penentuan Karakter Asam-Basa dari Senyawa Organik

I. a. Senyawa murni
(pH larutan asam lemah netral < 7)
tetapi Basa lemah netral ( pH larutan >7)
b. pH larutan garamnya bisa bervariasi
contoh:
1. Asam benzoat ( as. lemah netral ) pH larutannya : 2,8
Na. benzoat ( bentuk garam) pH larutannya : 8
2. As.salisilat ( as. lemah netral ) pH lar. 2,4
Na. salisilat ( bentuk garam) pH lar. 5-6
Chlorpromazin ( basa lemah netral) pH lar. Alkalis > 7
Chlorpromazin HCl ( garam) pH lar. 4,0-5,5

17
Penentuan Karakter Asam-Basa dari Senyawa Organik

• Gugus fungsional yang mempunyai karakter asam


spt: As. Karboksilat ( RCOOH), as. Sulfonat ( RSO3H),
Fenol ( ArOH), Thiol ( RSH), dan
imida ( RCONHCOR’)
• Gugus fungsional yang mempunyai karakter basa spt:
• Alifatik amine (R-NH2), dan aromatik amine ( Ar-NH2
• atau nitrogen sbg bagian dari struktur cincin aromatik)

18
Penentuan Karakter Asam-Basa dari Senyawa Organik

1. Garam dari asam mineral


As. Mineral + Basa lemah netral Garam
HCl Chlorpromazine Chlorpromazine HCl
HCl Ranitidine Ranitidine HCl
HBr Homatropine Homatropine HBr
H2SO4 Morphine Morphine Sulfate
HNO3 Pilocarpine Pilocarpine Nitrate
H3PO4 Codeine Codeine Phosphate

19
Penentuan Karakter Asam-Basa dari Senyawa Organik

2. Garam dari asam organik


As. Organik + Basa lemah Garam
netral
Asam maleat Chlorpheniramine →Chlorpheniramine
maleat
Asam sitrat Clomiphene Clomiphene
sitrat

20
3. Garam dari basa hidroksida
Asam lemah netral + Basa Hidroksida Garam
Phenobarbital NaOH Phenobarb. Na
Clavulanic acid KOH Kal.Clavulenat
Saccharic acid Ca(OH)2 Cal.Saccharat
Dari tabel diatas dapat diperhatikan bahwa :
• Garam dari asam mineral dan organik, senyawa obat
nya adalah basa lemah
• Garam dari basa hidroksida, senyawa obatnya adalah
asam lemah
Dengan perkataan lain :
a. Obat (garam Na, K, Ca atau Mg) maka obat itu sendiri
adalah asam lemah
b. Obat ( Garam HCl, HBr, Sulfat, Phosphat, Maleat,Tartrat
dll) maka senyawa obatnya adalah basa lemah
21
• Kekecualian
1. Desoxcycortisone Acetat dan Clobetazol
Proprionate bukan garam tapi ester
2. Benzalkonium klorida dan Demecarium
Bromida suatu senyawa ammonium kuar-
terner ikatan kovalen nitrogen pada 4 gugus R .
3. Na. Lauril sulfat adalah garam asam dan basa
yang tidak peka terhadap perubahan pH ( tidak
ada pengendapan)

22
Dalam larutan air , endapan terjadi bila :
a. Bentuk garam dari basa lemah dirubah
menjadi bentuk bebas dengan kenaikan
pH
b. Bentuk garam dari asam lemah dirubah
menjadi bentuk bebas dengan penurun-
an pH.

23
Pengendapan dari larutan ( lanjutan)
C. Perkiraan dari pH resultant larutan
( Periksa dari buku atau pengukuran )
1. Lihat pH dari buku Remington atau Merck index
( Jika penambahan bahan obat murni)
2. Lihat pH dari buku Trissel’s Handbook of
Injectable Drugs ( Jika penambahan suatu
larutan dari produk obat ( mungkin ada buffer)
yang pH nya berbeda dengan obat murninya
3. Dengan mempelajari contoh gol obat yang
pH asam atau basa.
4. Perhitungan pH dengan persamaan rumus

24
Pengendapan dari larutan (lanjutan)

Contoh: Lar.obat yg pH asam


Phenothiazines Glycopyrrolate
Tetracyline HCl Metarminol Bitartrat
Ascorbic Acid Morphine Sulfat

Contoh : Larutan obat yang pH basa


Phenytoin Na
Aminophylline
Na.Bikarbonat
Na.Barbiturat
25
Pengendapan dari larutan (lanjutan)

Hitung pH pengendapan menggunakan


persamaan berikut:
a. Garam basa lemah (Basic drug)
pKa = pH – log [ S0 ]
S -S
T 0

b. Garam dari asam lemah (Acid drug)


pKa = pH – log [ S -S0 ]
T
S
0

26
Pengendapan dari larutan (lanjutan)

pKa = pKa dari obat


pH = Batas dari pH diluar yang mana
pengendapan akan terjadi pada nilai
tertentu dari ST ( mis: pengendapan
terjadi pada pH lebih rendah dari
batas untuk asam lemah, tetapi pada
pH diatas batas untuk basa lemah )
ST = Total konsentrasi akhir dari obat dlm lar.
S0 = Kelarutan dari bentuk bebas (netral) tak
terionisasi dari obat
27
• Contoh Soal
• Dalam trayek pH berapa kemungkinan untuk membuat suatu larutan
chlordiazepoxide
• Dengan konsentrasi 10 mg/5ml
• Kelarutan chlordiazepoxide ( basa bebas ) 1 g dalam > 10.000 ml air; ( S0)
• Kelarutan chlordiazepoxide HCl dalam air 1g/10 ml
• Chlordiazepoxide suatu basa lemah
• pKa = 4,6
• Nyatakan total kelarutan yang diinginakan ( ST) dan batas kelarutan dari basa
• Lemah (S0) dalam %
• ST = 10 mg/5ml = 200 mg/ml = 0,2g/100 ml = 0,2 %
• S0 = 1 g/10.000ml = 0,01 g/100 ml = 0,01%
• Gunakan persamaan ( untuk basa lemah ) , hitung pH dari pengendapan
• pKa = pH – log [ S0 ]
• S1-S0
• 4,6 = pH –log [ 0,01 ]
• 0,2-0,01
• pH = 4,6 + log 0,01/0,19
• = 4,6 + log 0,0526
• = 4,6 -1,279
• = 3,3
• Dengan demikian obat larut dengan konsentrasi yang diinginkan pada pH dibawah
3,3; diatas pH ini endapan akan terjadi.
2. Pengenceran dari obat yg mengandung cosolvent
- Hindari pencampuran obat-obat dalam larutan
air dengan obat yang mengandung cosolvent
- Obat-obat cosolvent dapat diberikan sebagai parenteral volume
besar jika menunjukkan kelarutan dalam air yang cukup
Tabel Obat yang diformulasi dengan cosolvent

Diazepam Propilen glikol 40%, alkohol10%

Lorazepam PEG 400 18%, Prop.glikol 82%

Phenobarbital Propilen glikol 67,8%


Sodium Alkohol 10%
Phenitoin sod. Prop.glikol 40% Alkohol 10%
Nitrogliserin Prop.glikol 0,5% Alkohol 70%
Trimethoprim Sulfa Prop.glikol 40% Alkohol 10%

29
Penanganan obat dalam cosolvents
a. Tidak mencampur obat yang mengandung cosolvents
dgn obat yg pembawa air
b. Jika mengencerkan obat yang mengandung cosolvent
, harus encerkan sampai batas kelarutannya dalam air
( tergantung pH)
Contoh: Digoxin harus diencerkan paling sedikit 1:4
dgn SWI, D5W, NS, atau LR
c. Obat-obat yang diformulasi dgn cosolvent harus
diinjeksikan perlahan-lahan untuk mencegah
pengendapan dalam vena.
Digoxin harus diberikan lebih dari 5 menit

30
3. Berhubungan dengan pengenceran dari obat yg
mengandung surfaktan
contoh: amphotericin B (solubilisasi dengan
desoxycholate),
- mengendap dengan penambahan :
NaCL, benzil alkohol penicilin, gentamisin dan obat-
obat lain yang diformulasi dalam pembawa air
- Hindari pencampuran obat-obat dalam larutan air
dengan obat yang mengandung surfaktan

31
Penanganan obat yg mengandung surfaktan dgn
konsentrasi yg bermagna
a. Jangan mencampur obat-obat yg mengandung
surfaktan dgn konsentrasi yg bermagna dgn
obat yang pembawanya air
b. Siapkan injeksi dalam botol gelas atau kantong
plastik dari polypropylene(PP) atau polyethylene
(PE) , polyelefin) dan alat-alat pemberian dari PE

32
4. Berhubungan dengan Pembentukan garam-garam yang tidak larut
A. Endapan anorganik
B. Pengendapan dari senyawa kation
besar atau anion besar

A. Endapan anorganik
Contoh: injeksi yang mengandung fosfat ( Na2HPO4 / NaH2PO4) ) bila
ditambahkan lar. yang mengandung garam kalsium yg larut
akan membentuk Ca3 (PO4)2
Persamaan kimia:
HPO4-2 + Ca+2 H2PO4-1 + Ca+2

CaHPO4 Ca(H2PO4)2
Sgt tidak larut Relatif larut

33
.B. Pengendapan dari senyawa kation dan anion yg besar
Contoh: Na Heparin, antibiotik molekul besar spt
Gentamicin Sulfat dan Kanamycin Sulfat, Senyawa
ammonium kuarterner spt Benzalkonium klorida,
fenilmerkurinitrat dan lain-lain.

Heparin Na + Gentamisin SO4 → Pengendapan


atau dgn Tobramycin sulfate atau aminoglikosida
Procainamida + Phenytoin Sodium
Procain + Thiopental Sodium
Hydroxyzine HCL + Benzyl penicillin
Nitrofurantoin sodium + parabens, phenol, cresol

34
.5. Efek dari temperatur
a. Kelarutan kebanyakan obat berkurang spt
berkurangnya temperatur
1. Pendinginan sering dianjurkan bagi larutan obat
untuk menaikkan stabilitas kimia atau menahan
pertumbuhan mikroba, tetapi ini dapat
menyebabkan masalah pengendapan.
Ampicillin na terurai lebih cepat bila dibekukan
2. Obat-obat parenteral yang tidak dianjurkan pen-
dingin karena masalah pengendapan meliputi ;
Fluorouracil ( 5-FU), Cisplatin, Cotrimoxazole,
Metronidazole, dan Aminophylline

35
b. Kenaikan temperatur lebih cendrung terjadi pengen-
dapan dari Kalsium fosfat dibasic dalam larutan paren-
teral nutrisi karena kalsium glukonat lebih sempurna
disosiasi pada temperatur lebih tinggi dan ini
meningkat konsentrasi ion Kalsium yang ada dalam
larutan dan cendrung pengendapan dengan fosfat.

36
Perubahan menjadi Gas ( CO2)
ContoH:
Obat yang bersifat asam ( Chlorpromazin HCl, Procain
HCl, Ephedrin HCl dll) bila ditambahkan dengan bikar-
bonat ( HCO3-) atau karbonat ( CO32-) menghasilkan gas
CO2
Contoh larutan yg mengandung bikarbonat:
Injeksi NaHCO3 atau Cephalosporin dan barbiturat
yang dibuffer dengan karbonat

37
Inkompatibilitas Kimia
Inkompatibilitas kimia : Inkompatibilitas kimia: Perubahan-perubahan
yg terjadi pada pencampuran obat yang
disebabkan oleh berlangsungnya reaksi
kimia/interaksi (menghasilkan toksisitas dan
inaktivitas terapeutik).
Obat terurai secara kimia karena oksidasi , reduksi, hidrolisis atau
Terurai menghasilkan kekeruhan ,pengendapan dan perubahan
warna

Chemical precipitation of Midazolam (turbidity) and


Ketamin (particle formation) [Riemann et al. 2005].

38
Inkompatibilitas Kimia (lanjutan)

Mekanisme penguraian:
1. Hidrolisis
contoh: suatu variasi dri antibiotik ß laktam (
ampicillin, penicillin) menunjukkan hidrolisis yang
dipercepat pada penambahan obat-obat yang
bersifat asam spt : dopamine HCl
2. Oksidasi
contoh: gentamicin sulfat teroksidasi perlahan-lahan
dibawah pH 4. Kenaikan pH dan pengenceran dari
antioksidan menyebab-kan gentamisin terurai lebih
cepat bila dicampur dengan penicilin

39
Inkompatibilitas kimia (lanjutan)

3. Fotolisis
Obat-obat yang peka cahaya bila diberikan infus
harus ditutup dengan aluminum foil atau bahan-
bahan yang opak selama pemberian untuk
mengurangi penguraian karena cahaya
(Photodecomposition)

40
Beberapa obat yang mengalami photodecomposition
• Amphotericin B Verapamil
• MetronidazoleCefamandole Vitamin B komplex
• Chloramphenicol Vitamin K
• Cisplatin Leucovorin
• Dopamine Cefamandole
• Fluorouracil (5-FU)
• Furosemide
• Isoproterenol
• Promethazine
• Sodium Hypochlorite
• Sodium Nitroprusside

41
Sorption (Penyerapan)
Obat-obat dapat bereaksi dengan plastik atau gelas,
walaupun biasanya lebih sedikit masalahnya dgn gelas
1. Dgn gelas : dapat dikurangi dengan disalut
permukaan gelas ( silanizasi) untuk mengurangi
jumlah bgn ikatan hidrofilik. Silanizasi mengubah
gugus –OH pada permukaan gelas menjadi eter
silyl, Si-O-Si.
2. Dgn plastik : Masalah plg serius terjadi dgn bahan
yg mengandung plasticizers.mis plastik PVC
Plasticizers: Di (2-ethylhexyl)phthalate) DEHP atau
Dioctylphthalate DOP
Obat-obat tertentu memisah keluar dari larutan dan
masuk kedalam plasticizer cair

42
Sorption (lanjutan)
Penyerapan tergantung kepada sifat hidrofilik/lipofilik dari
obat.
- Obat yang sukar larut dalam air atau lipofilik mempu
nyai kecendrungan yang lebih besar untuk serap
pada PVC atau larut dalam plasticizer.
Contoh lorazepam dengan kelarutan dlm air 0,08
mg/ml, mempunyai masalah serap yang bermagna
dgn PVC dan beberapa plastik yang lain, semen-
tara benzodiazepine lain, Midazolam HCl,yang
larut dalam air, tidak mempunyai masalah

43
Penyerapan dan pengikatan sering tergantung pH
Sebagai contoh: Lar.Chlorpromazine HCl dgn pH = 5
Disimpan dalam kantong PVC hanya mempunyai pe-
nyerapan 5 % dalam 1 minggu pada temp.kamar.
Tetapi bila pH diatur sampai 7,4, kira-kira 86% hilang
untuk penyerapan dalam periode yg sama.
(International Journal of Pharmaceutical Compounding)
e. Contoh obat-obat yg penyerapan pada permukaan
gelas atau plastik.
1. Obat-obat polimer besar, protein dan yang sgt
larut dalam lemak cendrung memp.afinitas yang
tinggi thd plastik dan permukaan gelas
contoh : heparin, insulin, obat yg sgt larut dalam
lemak ( memerlukan solubilizing agent atau
surfaktan spt amfotericin B)

44
Sorption ( lanjutan)
2. Insulin, nitrogliserin, diazepam, clomethiasole , Calcitriol,
Isosorbide Dinitrate, Lorazepam, Nicardipine, Propofol,
Quinidine Gluconate, Tacrolimus, Vit A , phenothiazine,
hydralazine hidroklorida dan thiopental sodium dinyata-
kan dgn masalah penyerapan pd wadah PVC dan alat-
alat pemberian obat.
3. Pengawet-pengawet seperti metil dan propil parabens
dapat diserap kedalam karet atau membran plastik dan
tutup wadah, sehingga cendrung mengurangi jumlah
pengawet ( kehilangan aktivitas)

45
Sorption (lanjutan)

3. Obat-obat lain spt Chlorpromazine HCl, Thiopental


Na, Bleomycin dan lain-lain juga mempunyai
masalah dalam hal ini ( Lihat dalam buku
Handbook of Injectable )
Chlorpromazine HCL 9 mg/l dalam NaCL 0,9% dgn
wadah kantong PVC menunjukkan hanya 5% yg
diserap pada kantong plastik selama 1 minggu pd
temp.kamar ( 15-20º C), tetapi bila lar dibuffer dari
pH 5-7,4, kira-kira 86% dari obat hilang selama 1
mingggu. Dan kehilangan 79% selama 1 jam infus
melalui selang Silastik

46
Sorption ( lanjutan)

- Injeksi Thiopental Na 7mg/l dalam NaCl 0,9% dgn


kantong PVC menunjukkan kira-kira 23% hilang
selama 24 jam dan 37% selama 1 minggu pd temp
kamar. Dan bila dibuffer sp pH 6,1 menunjukkan ke-
hilangan 16% selama 7 jam melalui alat-alat pembe-
rian infus yg terbuat dari cellulose propionate dan
PVC. Penyerapan tergantung kepada pH, Penu-
runan pH maka % bentuk tak terioniasi bertambah
, penyerapan juga bertambah.
pH untuk injeksi: 10-11

47
Sorption (lanjutan)

Strategi penanganan obat-obat yang diserap pada per-


mukaan
- Penggunaan wadah atau selang khusus. Tetapi ini
mungkin lebih mahal, yakinkan masalahnya bermagna
secara klinis dan tidak dapat ditangani dgn cara lain.
- Karena derajat penyerapan bertambah dengan lama-
nya waktu kontak, strategi berikut dpt dilakukan.
a. Penggunaan secara short run-times
b. Penambahan obat tepat sebelum waktu
pemberian

48
Sorption ( lanjutan)

- Jumlah dari bagian-bagian pengikatan juga merupa-


kan suatu faktor penyerapan, penggunaan selang
pemberian yang pendek dpt membantu.
Contoh : Injeksi quinidine Gluconate menunjukkan
penurunan penyerapan dari 30-3% dgn pengguna-
an selang IV yg lebih pendek.
- Temperatur juga mempengaruhi penyerapan ( ke-
naikan penyerapan dgn kenaikan temperatur). Ini
dpt diatur dgn penyimpanan produk dlm lemari es
sampai pemberian

49
Pelepasan ( Leaching)

1. Pelepasan plasticizer (DEHP) dari plastik spt PVC


( Hsl Penelitian pada binatang percobaan, bahwa
DEHP kemungkinan carcinogen
2. Larutan obat yg mengandung surfaktan atau cosol-
vent adalah yg paling beresiko, karena beberapa
dari ini telah ditemukan pada ektrak plasticizer dari
plastik dan mengotori larutan obat
Contoh obat-obat lain : emulsi lemak, Vitamin A,
cyclosporine, Docetaxel, Propofol, Tcrolimus dan
Teniposide dll

50
Pelepasan ( Leaching)

Bahan-bahan dari alat-alat yg plg resiko :PVC


( enteral nutrition, parenteral nutrition, intravenus
emulsi lemak, hemodialisis, dll)
Resiko yg minimal adalah: Penggunaan kantong PVC
dgn cairan Crystalloid ( D5W, normal saline, lactated
Ringer’s Injection, dll)

51
Pelepasan ( leaching)

4. Strategi untuk penanganan dalam masalah pelepasan


- Menggunakan wadah atau alat pemberian obat yg
komponennya tidak mengandung DEHP misalnya
dari gelas, poliolefin, etilen vinil asetat (EVA), silikon,
polietilen, dan poliuretan mis: untuk nitrogliserin dan
emulsi lemak

52
Indikasi untuk obat-obat yg ditambahkan ke Infus IV
Obat ditambahkan ke Infus hanya dengan keadaan sbb:
a. Bila diperlukan konsentrasi obat dalam plasma yg
konstan
b. Bila pemberian dari suatu obat yang sgt pekat akan
membahayakan
c. Bila pemberian oral dan intra-muscular dari obat tidak
mungkin karena situasi tertentu spt. Pasien yg muntah
atau tidak sadar pada terapi antikoagulan yang
intensif
d. Bila jumlah vena yang tersedia utk pemberian obat
terbatas

53
Petunjuk Umum
1. Hanya 1 obat yang ditambahkan ke infus dan komponennya
harus kompatibel
2. Biasanya, cairan intravena yang tersebut dibawah ini tidak
dianjurkan untuk campuran obat. Infus ini tidak stabil dan
campuran obat akan menyebakan reaksi yang merugikan spt
koagulasi, coalescence atau pengeluaran gas, oleh karena itu
akan berbahaya.
- Darah, plasma dan produk darah lain
- Pengganti plasma
- Hidrolisat protein
- Larutan asam amino
- Natrium bi karbonat
- Emulsi Lemak ( dapat pecah jika antibiotik atau elektrolit
ditambahkan, cendrung kemungkinan embolism )

54
Petunjuk Umum
. Umumnya saline isotonik merupakan
pembawa yg cocok untuk kebanyakan obat kecuali nor-adrenalin
dan amphotericin B
3. a. Sebelum penambahan obat, cairan infus harus dikocok lebih
dahulu dan amati secara visual untuk bahan- bahan partikel
atau kekeruhan. Jika ada, cairan ini tidak bisa digunakan.
b. Begitupun juga , setelah penambahan obat, larutan harus
dikocok sempurna dan amati adanya bahan partikel.
Penambahan tidak membuat wadah infus yang telah
dihubungkan dgn alat pemberian ( giving sets) terganggu.

55
Petunjuk Umum
c. Jika larutan tidak bercampur sempurna, suatu
lapisan yang pekat dari obat yang ditambahkan dapat
terbentuk disebabkan perbedaan densitas.
contoh KCl yang cendrung memberikan hal ini dan suatu
campuran yang tidak uniform dapat memberikan efek jantung
yang serius.
4. Teknik aseptik harus dipertahankan dan biasanya giving set harus
tidak digunakan lebih dari 24 jam
5. Wadah infus harus diberi label dgn nama pasien, nama dan jumlah
bahan obat tambahan dan tanggal dan waktu penambahan.

56
Petunjuk Umum

6. Infus harus diperiksa secara periodik selagi jalan. Jika


ada kekeruhan, kristalisasi, perubahan warna atau
tanda-tanda lain dari interaksi atau kontaminasi tera-
mati, pemberian infus tidak boleh dilanjutkan
7. Total volume larutan obat yg mengandung bakterisida
spt klorokresol atau fenilmerkuri nitrat yang ditambah-
kan ke wadah infus tidak boleh melebihi 15 ml
8. Pemberian infus tertentu harus dilindungi cahaya utk
mengurangi oksidasi spt: Amphotericin B, Dacarba-
zine, dan Na. nitroprusside

57
Petunjuk Umum

9. Instruksi dari pabrik produk rekonstitusi mengenai


pembawa, pencampuran dan perhatian penanganan
harus diikuti. Penambahan ke cairan infus harus se-
gera untuk mengurangi kontaminasi mikroba atau
mencegah degradasi spt degradasi injeksi ampicillin
cepat terjadi dan jug dpt membentuk polimer yang
dapat menyebabkan reaksi sensitivitas
10. Penambahan obat-obat cytotoxic melalui pipa tetes.

58
Petunjuk Umum
11. Persyaratan pH perlu diingat untuk beberapa obat
tertentu spt: ampicillin dan benzil penicillin tidak
stabil dalam pH asam dari dekstrosa 5%
12. Dalam hal darah atau produk darah yang telah
diberikan sebelumnya, infusion set harus diganti
sebelum melakukan infusi selanjutnya
13. Pertahanan sterilitas
Mikroba yg masuk dan tumbuh dalam cairan infus akan
menyebabkan infeksi bila diberikan ke pasien. Larutan
dektrosa, darah dan elektrolit cendrung thd kontaminasi
bakteri. Oleh karena itu penting untuk mempertahankan
asepsis yg ketat pada saat penambahan obat ke cairan
infus

59
Examples of incompatibility problems

1- Aminophylline
- Mixture of theophylline and ethyelene diamine (2:1) Alkaline
- Optimum pH for stability is above 8, below 8 theophylline
crystals will ppt if conc. Is over 40 mg/ml , if below ppt
but dissolve by shaking therefore . Don’t mix in syringe or small
fluid volumes
- Should be stored in airtight container bec. CO2 will enter the
water for injection and form carbonic acid which is stronger
than theophylline ppt
- Incompatible with acidic drugs, autoclaved dextrose ppt
- Freezing causes solubility decrease ppt

60
• 2- Ampicillin sodium (pH 5.2-5.8)
- Incompatible with dextrose containing fluids or lactated
ringer injection loss in potency
- compatible with NaCl 0.9%
- Avoid freezing
- When pH increase by 1 unit 10 fold inc. in
decomposition rate
- Incompatible with any HCl salt, aminophylline

61
Oxytetracycline HCl
• - Acidic (pH 1-2) therefore its is very irritant add
lignocaine to I.M. injections
• - Incompatible with alkaline solution and drugs
unstable in acidic medium
• - It is a tetracycline derivative chelates Ca++,
• Mg++, Al+++, Fe++ complexation and ppt
• - N.B. :compatible with lactated Ringer solution despite
• that it contains cations because the reaction takes
• long time which is greater than infusion time

62
• TPN contains various electrolytes (ex. addition of
Ca++ and PO4--- insoluble calcium phosphate
• Cationic anionic interaction
- Aminoglycosides (Cationic ) + anionic
ex. Amikacin SO4, + heparin Na ppt
gentamycin SO4,
kanamycin SO4
erythromycin lactobionate

63
• - Alkaline drugs ( Furosemide, phenobarbital Na,
Dexamethasone Na phosphate, Hydrocortisone
Na succinate, acyclovir) are incompatible with
acidic drugs , (salicylates, , vancomycin HCl,
doxorubicin HCl , ciprofloxacin, cefotaxime)

64
Jurnal Antimikrobial Agents and Chemotherapy,
Sept.2001 Vol. 45 No. 9 Hal 2643-2647

Stabilitas dan kompatibilitas dari


Ceftazidime Yang diberikan melalui
Infus yang kontinu terhadap Pasien
Perawatan Intensif

Helene Servais and Paul M.Tulkens

65
Abstrak:
- Stabilitas dan kompatibilitas dari ceftazidime
telah ditentukan dalam konteks penggunaan
potensialnya dalam larutan pekat untuk infusi
yang kontinu dalam pasien yang menderita
pneumonia nosocomial yang hebat (severe)
dan yang menerima obat Intravenus lain
melalui rute yg sama.

- Stabilitas Ceftazidime dalam larutan 4-12%


ditemukan memuaskan( degradasi < 10%)
selama 24 jam jika disimpan pada temp.
maximum 25º C (77ºF)..

66
Abstrak ( lanjutan)
Percobaan pemberian ceftazidime dan obat-obat
lain secara klinik menunjukkan :
- Inkompatibilitas fisika dgn vancomysin,
nicardipine, midazolam, dan propofol
- inkompatibilitas kimia dgn N-acetylcystein
- Pengendapan lar.pekat (50mg/ml) dari ery-
thromycin atau clarithromycin
- Inkompatibilitas fisika dan kimia dgn:
gentamicin, tobramycin, amikacin, isepamicin,
fluconazole, ketamin, sufentanil, asam valproic,
, furosemide, uradipil, dan lar.as.amino strandard

67
Pendahuluan
a. Keuntungan pemberian ß laktam melalui infusi
kontinu, jumlah obat yg diperlukan untuk
pemberian berkurang dan beban kerja perawat
berkurang
b. ß laktam diketahui tidak stabil dalam media air,
perhatian khusus diperlukan terhadap kondisi
praktis dari tipe pemberian ini.
c. Antibiotik ß laktam juga dikenal inkompatibel
fisika dan kimia dgn banyak obat-obat lain

68
d. Penentuan stabilitas dan degradasi dari
ceftazidime dalam lar.air telah dilakukan
sebelumnya tetapi belum ada pengujian
temperatur dan konsentrasi yang potensial
yang dijumpai dalam pengobatan pasien
perawatan intensif
e. Penelitian ini dimulai dari penentuan
stabilitas dan kompatibilitas ceftazidime dalam
konteks penggunaan potensialnya melalui
infus secara kontinu untuk pasien perawatan
intensif pneumonia nasocomial yang parah di
rumah sakit

69
Pendahuluan

Alasan pemilihan ceftazidime berdasarkan :


- Karena sejak cephalosporin generasi ketiga ini
telah mempunyai kemanjuran yang baik dalam
pengobatan untuk pasien jenis ini
- Percobaan farmakonetik menunjukkan suatu
konsentrasi yang stabil dari 20 mg/ liter dalam
serum dapat dicapai menggunakan dosis sehari
(4 g) dari ceftazidime dalam manusia

70
Metodologi: Meniru penggunaan rutin Ceftazi-
Ceftazidime ( terapi yg berhasil yaitu dgn kon-
sentrasi obat yg stabil dalam serum 25mg/liter
dpt dicapai dgn infusi 6g/hari
Penggunaan klinis : Jumlah obat yg diberikan
48 ml (tunggal) dipertahankan pada temp.kam.
Akhirnya, pemberian intravenus perlu diguna-
kan untuk pemberian simultan dari obat
parenteral lain yang umum diperlukan pasien
pneumonia nasocomial yang parah yang
mengancam jiwa.

71
Metodologi (lanjutan)
1. Semua Larutan ceftazidime: produk dagang yg
didistribusi untuk penggunaan rumah sakit di
Belgia dan mengandung sampai 6 g
ceftazidime per 48 ml.
pH larutan : berkisar 7,4
2. Larutan dipertahankan pada temperatur yg
sesuai dan kandungan ceftazidime ditentukan
melalui HPLC ( High Pressure Liquid
Chromatography)
3. Stabilitas memuaskan jika kandungan
ceftazidime yang tinggal 90% pada setiap titik
waktu
72
Metodologi (lanjutan)
4. Pendeteksian dan karakterisasi degradasi produk :
analisis HPLC digabung dgn Spektrometry masa
5. Kompatibilitas ditest dengan :
Pencampuran ceftazidime pada konsentrasi yang
maksimal( berkisar 12% b/v) dan tiap-tiap obat
pembantu pemberian ( konsentrasi yg tertinggi di
pasaran atau yang digunakan secara klinis) dalam
ratio volume berhubungan dgn kecepatan aliran (kece-
patan aliran 2ml/jam untuk ceftazidime) dan kece-
patan aliran kompatibel dgn dosis sehari yang paling
tinggi yg dpt diterima dan schedule dari pemberian
tiap-tiap obat lain, spt yg rutin dilakukan dlm lingku-
ngan klinis kami)

73
Metodologi ( lanjutan)
Kompatibilitas fisika : melihat endapan atau perubahan
lain dengan mata telanjang yg di-
ikuti penggunaan alat
Kompatibilitas kimia : Penentuan kandungan ceftazidime
mel. HPLC, diikuti dgn kromato-
grafi lap.tipis jika suatu pengura-
dari kandungan ceftazidime > 10%
Tidak ada bukti penguraian yang
diamati dgn automated fluorescence
polarization immunoassay

74
Hasil dan Pembahasan
Stabilitas ceftazidime dalam larutan pekat.
Gbr 1. Stabilitas ceftazidime :
- diinkubasi pada kenaikan temp. sp 24jam
( I A)
- pada konsentrasi sp 12% b/v ( 1 B)
- pH dari 6-12 ( !C)
- pH < 4 dihasilkan dalam pengendapan yg
segera

75
Stabilitas ceftazidime dalam larutan pekat.

a. Batas stabilitas diambil 90% terlihat bahwa ceftazi-


dime harus tidak boleh disimpan lebih dr 25º C,
walaupun konsentrasi dalam range 4-12% b/v.
Spt lap terdahulu pH larutan tidak dpt melebihi 10
bahkan pada 4º C ( pH dari larutan yg baru dibuat
antara 7,1 dan 7,7)
b Selama disolusi semua sediaan ceftazidime menun-
jukkan Kuning pucat bila konsentrasi melebihi 8%.
Hanya sdkt kenaikan intensitas warna ( kuning terang)
bila disimpan pada 25ºC selama 24 jam.

76
Stabilitas ceftazidime dalam larutan pekat.

c. Sebaliknya sampel pada suhu 37ºC atau


lebih berubah menjadi kemerahan dan
kemudian coklat kemerahan melalui waktu
dimana memberikan
suatu kenaikan bau sulfida yg cukup.

77
Identifikasi produk degradasi ceftazidime
dan mekanisme degradasinya
1. Sampel ceftazidime 12% dipertahankan pada 40ºC
selama 70 jam, setelah itu diidentifikasi adanya
[(2-amino-4-thiazolyl) (1-carboxy-1-methylethoxy)
imino ] acetyl-ethanal dan pyridine ( keduanya juga
terdeteksi pada 25º C. sama halnya dgn ∆-2 isomer
dari ceftazidime ( data tdk menunjukkan)

78
Identifikasi produk degradasi ceftazidime
dan mekanisme degradasinya
Ini memberikan dugaan 2 jalan degradasi:
- yg plg besar tergtg temperatur
- sbgn meliputi pembukaan cincin ß-laktam spt Gbr 2.
berdasarkan katalisis oleh air sama halnya penyerangan
elektrofilik dan nukleofilik l( pada karbonil dan nitrogen
dari cincin ß-laktam, yg bertanggung atas degradasi ini.
Spt yg ditunjukkan pada beberapa penicillin dan
cephalosporin
Pembukaan cincin ß-laktam berbahaya dalam penicillin
karena menghasilkan asam penicilloic yg mudah
bereaksi dgn albumin menyebabkan pembentukan
haptens allergenic yg potent

79
Identifikasi produk degradasi ceftazidime
dan mekanisme degradasinya

Namun konsentrasi yg sebenarnya yg


berhubungan pembukaan cicin derivat
ceftazidime ( derivat exomethylene) akan
perlahan-lahan kecil karena senyawa ini sgt tdk
stabil dan dalam hal ceftazidime ini mengurangi
resiko pembentukan hapten.
Jumlah piridin yang dibebaskan ( berdasarkan
data degradasi 10% ceftazidime dalam larutan
5,8% selama 24 jam hanya berkisar 0,5 mg/ml,
ini lebih rendah dari batas 1,1 mg/ml (USP) utk
larutan ceftazidime yg diperbolehkan

80
Tabel 1 ( Pengamatan Kompatibilitas)
a. Semua kondisi meniru 1 x pemberian ke pasien

100 kg Ceftazidime diandaikan di infus pada


kecepatan 4g/24 jam dalam volume 48 ml
b. C. compatible ( C+, sgt sedikit larut dgn penemuan

kembali yg sempurna dr ceftazidime mel. pengenceran


I (phys), inkompatibel fisika
I (phys)*, pengendapan yang segera
I (phys)**, penjeratan di dalam emulsi
I (Chem), inkompatibel kimia ( degradasceftazidime>10%
c Dosis 15 mg/kg BB sekali sehari
d Dosis 6 mg/kg, sekali sehari
e VAMIN ( larutan as.amino standard untuk parenteral

nutrisi). Dosis 18 g dari nitrogen as amino / liter.

81
Tabel 1 :Semua (4) aminoglikosida , fluconazole,
ketamine, sufentanil, asam valproic, furosemide,
uradipil dan larutan asm amino standard ( VAMIN)
ditemukan kompatibel secara fisika dan kimia dgn
ceftazidime, ( aminoglikosida, diperiksa juga
keutuhan obat-obat ini dgn tidak menemukan bukti
dari efek yg bermagna sesudah 1 jam kontak pada
25ºC; ini mengurangi interaksi aminoglikosida-
ceftazidime, sekalipun dari laporan menunjukkan
inkompatibilitas aminoglikosida – cincin ß laktam.
Kemungkinan berasal dari perlakuan yang meniru
kondisi praktis dari pemberiannya spt suatu infusi
yang cepat dari aminoglikosia, konsisten dgn
schedule sekali sehari

82
Sebaliknya ,
- Erthromycin dan clarithromycin menghasilkan endapan
bila digunakan konsentrasi yg tinggi ( 50 mg/ml).
- Obat yg plg nyata inkompatibilitas fisika adalah vanco-
mycin (bahkan diencerkan), midazolam, nicardipine,
dan propofor ( disebabkan ceftazidime dijerat dalam
emulsi fosfolipid = intralipid)
- N-acetylcystein menyebabkan suatu pengurangan
linear dari kandungan ceftazidime pada suatu kece-
patan berkisar 20% per jam pada 25ºC

83
Kesimpulan
Data yang dihasilkan telah membuktikan penggunaan
potensial dari ceftazidime melalui infusi kontinu mengenai
segi farmasetik dan penggunaan ceftazidime dalam
pasien yang perawatan intensif dan yg menerima obat-
obat umum lain yang digunakan pneumonia nasocomial
yg serius. Ini juga mengatur batas pendekatan dalam hal
temperatur dan pemberian tambahan dari obat-obat
spesifik
Percobaan ini tidak dapat diperluas tanpa dgn ß-laktams lain
Kompatibilitas dari masing-masing ß-lactam dgn obat lain
dapat juga tergantung sifat-sifat dari rantai sampingnya.

84
Inkompatibilitas Fisika dari Injeksi
Diklofenak Natrium dengan Isolyte P
• Anesth.Analg. 2004;98:876
International Anesthesia Research Society
Prabhat Kumar Sinha, MD, Praveen
Kumar Neema, MD, Sethuraman
Manikandan, MD, dan K.P.Unnikrisnan,
MD
Departemen Anesthesiology, Sree Chitra
Tirunnal Institute for Medical Sciences and
Technology, Trivandrum, India

85
Inkompatibilitas Fisika dari Injeksi
Diklofenak Natrium dengan Isolyte P
Diklofenak Na. suatu obat antiinflamasi nonsteroid,
biasa digunakan untuk analgesia dalam operasi.
Peneliti ingin melaporkan inkompatibilitas fisika
dari obat ini dengan Isolyte P selama elektive
Neurosurgery
Pasien : anak laki-laki 7 tahun 18 Kg,

86
Metode Penelitian

• Cairan Isolyte P. diberikan ke vena lengan


pasien melalui penghubung (three-way) yang
dihubungkan dgn tabung 10 cm,
Segera sesudah dimulai injeksi diklofenak Na,
25 mg, diencerkan dalam 10 ml normal saline
melalui penghubung 3 jalan menembus dimana
Isolyte P juga dijalankan.
Endapan putih terlihat sepanjang tabung sampai
penghubung. Injeksi segera dihentikan sebelum
endapan masuk ke sirkulasi

87
Hasil Penelitian

• Pengamatan ini dijumpai in vitro sesudah


pencampuran 1 ml injeksi diklofenak dgn
25 ml Isolyte P dalam suatu tabung test
Suatu lapisan tipis dari larutan dibuat dalam slide
dan diamati di mikroskop utk menguatkan bahwa
pencampuran dua larutan benar-benar mengha-
silkan endapan.

88
Hasil Penelitian

• Selanjutnya obat diklofenak ( voveran) dianalisa


dengan kromatografi gas dan menemukan
bahwa ada 22,83 % propilen glikol di larutan.
• Peneliti yakin bahwa pengawet yang ada
di injeksi diklofenak ( propilen glikol) yang
interaksi dengan konstituen dari Isolyte P.
• Isolyte P mengandung garam K dan Na , Natr.
meta bisulfite.

89
Pembahasan

In vitro, garam K dan Na. tidak mengendap dgn


pencampuran injeksi Na.diklofenak.
Pembuktian selanjutnya dicampur injeksi diaze-
pam yg juga mengandung propilen glikol dengan
Isolyte P dan terlihat endapan putih yang sama.
Oleh karena itu dapat dinyatakan bahwa propylen
glikol dan na.metabisulfit, kandungan dalam
injeksi na.diklofenak dan dalam Isolyte P masing-
masing berinteraksi dan menyebabkan inkompa-
tibilitas fisika

90
Pembahasan

• Rekomendasi dari pabrik na.diklofenak adalah


obat dibuffer dengan na. bikarbonat sebelum
digunakan; namun secara rutin dicampur injeksi
diklofenak dalam 100 ml Ringer Laktat atau
Normal Saline tanpa pemberian buffer dan
digunakan sebagai infus intravenus selama
setengah jam dalam operasi dan tidak
mempunyai masalah sebelumnya.

91
Pembahasan

• Magna secara klinis dari inkompatibilitas fisika


ini adalah tidak pasti. Namun demikian diketahui
bahwa ukuran diameter partikel yang lebih besar
dari 6 µm yg dpt terjadi pada inkompatibilits
fisika mempunyai potensi untuk embolisasi
terutama di paru-paru. Selanjutnya, inkompati-
bilitas fisika ini juga merubah potensi obat.
Tetapi disini tidak dapat diketahui berapa
pengurangan potensi dari na.diklofenak.

92
Penilaian dari pemberian obat-obat injeksi dalam
2 unit perawatan intensif dan penentuan
Inkompatibilitas fisika-kimia yang potensial

Celline Serrurier, PharmD, Emile-Dorian


Chenot, PharmD, Jean Vigneron, PharmD,
PhD, Isabelle May, PharmD, Beatrice
Demore, PharmD.
The European Journal of Hospital Pharmacy
Science volume 12, 2006

93
Abstrak

Dalam unit perawatan intensif, pasien menerima obat


suntik yang multiple melalui jalan masuk vena sentral
yang sama, sering secara bersamaan, dengan demi-
kian banyak masalah kompatibilitas dapat terjadi.
Dalam penelitian ini dilakukan selama 2 bulan dalam
2 unit dari rumah sakit

Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai metode


pemberian obat injeksi dan menentukan inkompati-
bilitas fisika-kimia yang potensial dengan mengkon-
sultasi dgn literatur Stabilis2 ( French database) dan
Trissel’s Handbook on Injectable drugs (12th edition)

94
Abstrak (lanjutan)

Sebanyak 32 pasien yang diamati.


Diantara 242 campuran ( Y-site) yang diamati,
55(23%) : Kompatibel fisika
12(5%) : Inkompatibel fisika
5 (2%) : Bertentangan dgn referensi 2
literatur
170 (70%): Tanpa data stabilitas dan
kompatibilitas

95
Abstrak ( lanjutan)
Berhubung kekurangan data di literatur maka diuji
lagi 71 campuran dalam laboratorium dan didapati:
7 inkompatibilitas fisika yaitu:
- amiodarone dan amoxicillin/clavulanic acid
- tramadol dan rifampicin
- bumetanide dan ofloxacin
- pantoprazole dan aspirin salisilat dl lysine
- pantoprazole dan Midazolam
- pantoprazole dan cyamemazine
- pantoprazole dan vancomycin

96
Abstrak( lanjutan)

Penelitian ini sgt penting untuk perawat dan


dokter memperhatikan masalah kompatibilitas.
Selama pertemuan dalam unit perawatan in-
tensif, peneliti mendemonstrasikan inkompati-
bilitas dengan menyuntikan dua larutan dari
tiap-tiap obat kedalam tabung gelas.
Peneliti mengusulkan untuk mencegah
inkompatibilitas dalam praktek sehari-hari.

97
Pendahuluan

• Banyak obat intravenus yg diperlukan untuk pasien


dalam unit perawatan intensif harus diberikan ber-
bersamaan karena jalan masuk vena yg terbatas
• Inkompatibilitas dapat terjadi bila obat diberikan
bersamaan melalui Y-site dari alat pemberian i.v.
• Penelitian ini untuk menilai metode pemberian
obat suntik dan menentukan inkompatibilitas fisika-
kimia yg potensial melalui konsultasi literature:
Stabilis2, a French database dan Trisesel’s
Handbook of Injectable drugs ( 12th edition)

98
Metode
• Lama penelitian : 2 bulan ( Februari – Maret 2005)
Dalam unit perawatan intensif dari rumah sakit
universitas
• Pengumpulan data mengenai obat –obat yang diin-
jeksikan ke pasien, kronologi dan peralatan pembe-
rian obat.
• Membuat gambaran pemberian tiap-tiap pasien
( Gbr 1) untuk menentukan campuran obat dalam
Y-site
• Terakhir merujuk ke 2 literatur untuk menentukan
• Inkompatibilitas fisika-kimia

99
Hasil dan Diskusi
• Pasien yg diamati 32 orang
• Diantara 242 campuran Y-site yang diamati:
55 (23%) : kompatibel fisika
12 ( 5%) : inkompatibel fisika ( Tabel 1)
5 (2%) : bertentangan dgn referensi 2
literatur
170 (70%) : tanpa ada data stabilitas dan
kompatibilitas

100
Hasil dan Diskusi

Gbr 1 : a. Mengamati 34 campuran obat yg berbeda


6 kompatibel fisika
28 tanpa data dalam literatur
b. Penggunaan nutrisi parenteral masuk dalam
seluruh program dari infus
Umumnya obat yg tidak ada informasi kompa-
tibilitas (Di kalium clorazepam) tidak diberikan
bersama-sama dgn nutrisi parenteral.
c. Pasien menerima ketamine dan remifentanil HCl
dalam alat ( syringe yg dijalankan dgn mesin) yg
sama

101
Hasil dan Diskusi

• Gbr.2 ( pasien lain)


Hsl pengamatan 22 campuran obat yg berbeda
6.kompatibel fisika
12 tanpa data di literatur
4 inkompatibel fisika
Perubahan visual:
Terjadinya gas ( midazolam dan forcasnet Na.)
Kabut ( midazolam dan imipenem-cilastatin Na.)
Endapan segera ( vancomycin dan foscarnet Na)
Kekeruhan warna putih yg segera ( vancomycin
dan piperacillin Na –tazobactam Na)

102
Hasil dan Diskusi

• Dipilih 170 kombinasi obat yg tanpa data stabilitas dan


kompatibilitas dari pemberian tambahan yg sering
dalam unit perawatan intensif
• Tabel 2 ( test kompatibilitas visual 71 kombinasi obat
dalam laboratorium)
Masing obat digunakan volume 1 ml, dikombinasi da-
tabung gelas. Pengamatan visual dilakukan terhadap
later belakang putih dan hitam, cahaya sekeliling, dan
10, 12 dan 15 jam sesudah pembuatan.
Larutan diamati adanya kabut, endapan dan
perub.warna

103
Hasil dan Diskusi

• Tabel 3 ( Teramati 7 inkompatibilitas fisika )


Konsekuensi yg mungkin dari inkompatibilitas obat
a. Kemacetan kateter
b. Kegagalan pengobatan
c. Pembentukan senyawa yang toksik
d. Resiko embolism yang fatal ( mis. embolism paru2)
Dalam penelitian ini tidak dapat menunjukkan kose-
kuensi secara klinis yg disebabkan inkompatibilitas.

104
Hasil dan Diskusi

• Pengamatan suatu pengurangan aktifitas obat


adala sulit karena pelaksanaan pemberian
dalam unit perawatan intensif yang kompleks.
• Pasien di unit perawatan intensif paediatric
lebih mudah terjadi bahaya inkompatibilitas
karena mempunyai sifat-sifat farmakoterapi
yang spesifik dan pengenceran yang khusus
untuk obat perawatan anak2.

105
Hasil dan Diskusi

• Apabila kompatibilitas antara obat-obat belum


diketahui, beberapa kemungkinan pertimbangan,
contoh:
a. Dokter mempertimbangkan untuk menahan pem-
berian obat-obat non essential atau pemberian
obat dalam suatu cara yg berbeda
b. Menghentikan pemberian obat dgn jalan masuk
yg sama dan mencuci NaCl 0,9%. Adalah penting
juga memperhatikan data pH .

106
Kesimpulan

1. Adalah sgt penting membuat perawat dan


dokter memperhatikan masalah kompatibilitas
2. Selama pertemuan dalam unit perawatan
intensif , peneliti mendemonstrasi inkom-
patibilitas dgn menyuntikkan 2 larutan dari
tiap-tiap kedalam tabung gelas.
3. Peneliti juga mengusulkan untuk mencegah
inkompatibilitas yg potensial dalam praktek
sehari-hari melalui penetapan suatu daftar
dari campuran yg inkompatibilitas bagi obat
yang utama digunakan dalam unit perawatan
kritis.
107

Anda mungkin juga menyukai