Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK

DENGAN HIPOSPADIA

Bye : Yusnita
DEFINISI

Hipospadia

adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan


penutupan uretra penis padakehamilan miggu
ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan
orifisium uretra tertinggal disuatutempat
dibagian ventral penis antara skrotum dan
glans penis. (A.H Markum, 1991 : 257).
Hipospadia

adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu


tempat lain pada bagianbelakang batang penis
atau bahkan pada perineum ( daerah antara
kemaluan dan anus) (DavisHull, 1994 ).
Etiologi

Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan


sampai sekarang belum diketahuipenyebab pasti
dari hipospadia. Namun, ada beberapa factor
yang oleh para ahli dianggappaling berpengaruh
antara lain :

1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone


androgen (kurang/ tidak) yang mengatur
organogenesis kelamin (pria).
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal
ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen .

3.Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi
penyebab adalah polutan dan zat yang
bersifatteratogenik yang dapat mengakibatkan
mutasi. Bahan teratogenik adalah bahan-bahan
yangdapat menimbulkan terjadinya kecacatan
pada janin selama dalam kehamilan ibu.
Misalnya alcohol, asap rokok, polusi udara, dll.
Patofisoilogi
Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap
terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi
ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak
meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran
pada glans, kemudian disepanjang batang penis, hingga
akhirnya di perineum.
Manifestasi Klinik

1.Glans penis bentuknya lebih datar dan ada


lekukan yang dangkal di bagian bawah penis
yang menyerupai meatus uretra eksternus.

2.Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah


penis, menumpuk di bagian punggung penis.

3.Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang


mengelilingi meatus dan membentang hingga
keglans penis, teraba lebih keras dari jaringan
sekitar.
4.Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
5.Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum
tidak ada.
6.Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada
dasar dari glans penis.
7.Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga
penis menjadi bengkok.
8.Sering disertai undescended testis (testis tidak turun
ke kantung skrotum).
9.Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala Hipospadia antara lain :
1. Jika berkemih, anak harus duduk.
2. Pembukaan uretra di lokasi selain ujung penis
3. Penis tampak seperti berkerudung karena adanya
kelainan pada kulit depan penis
4. Penis melengkung ke bawah
5. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi
berada di bawah atau di dasar penis
6. Semprotan air seni yang keluar abnormal
Beberapa type hipospadia :
 Hipospadia type Perenial, lubang kencing berada di
antara anus dan buah zakar (skrotum).
 Hipospadia type Scrotal, lubang kencing berada
tepat di bagian depan buah zakar (skrotum).
 Hipospadia type Peno Scrotal, lubang kencing
terletak di antara buah zakar (skrotum) danbatang
penis.
 Hipospadia type Peneana Proximal, lubang kencing
berada di bawah pangkal penis.
 Hipospadia type Mediana, lubang kencing berada di
bawah bagian tengah dari batang penis.
 Hipospadia type Distal Peneana, lubang kencing
berada di bawah bagian ujung batang penis.
 Hipospadia type Sub Coronal, lubang kencing
berada pada sulcus coronarius penis(cekungan
kepala penis).
 Hipospadia type Granular, lubang kencing sudah
berada pada kepala penis hanya letaknyamasih
berada di bawah kepala penisnya.

Pemeriksaan Dignostik
 Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan
fisik. Jarang dilakukan pemeriksaantambahan
untuk mendukung diagnosis hipospadi. Tetapi
dapat dilakukan pemeriksaan ginjalseperti USG
mengingat hipospadi sering disertai kelainan
pada ginjal.
Pengkajian
• Inspeksi : genitalia menunjukkan letak abnormal uretra.
• Bayi atau anak laki-laki tidak dapat berkemih dengan penis
berada pada posisi naik yang normal.
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan faktor fisik contoh : kerusakan
kulit / jaringan (insisi) ditandai dengan
Do : Perilaku berhati-hati / distraksi, gelisah, perubahan
tanda vital
Ds : Laporan nyeri
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma
bedah ditandai dengan
Do : Kerusakan permukaan kulit, gangguan penyembuhan
Ds : Laporan luka masih belum sembuh
3. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan
bedah diversi, trauma jaringan ditandai dengan
Do : Perubahan jumlah, karekter urine
Ds : Susah dalam buang air kecil
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan
kontaminasi kateter selama pemasangan ditandai
dengan
Do : Warna keluaran berubah (agak keruh)
Ds : -
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis
dan kebutuhan pengobatan ditandai dengan kurang
terpajan / mengingat ditandai dengan
Do : Tidak akurat mengikuti instruksi
Ds : Meminta informasi, menyatakan masalah
Tujuan : nyeri berkurang (DX I)
K/H :
- Menyatakan nyeri terkontrol
- Menunjukkan nyeir hilang, mampu tidur/istirahat dg tepat

Intervensi :
- Kaji nyeri, catat lokasi, karekteristik, intensitas (skala 0-10

- Dorong pasien untuk menyatakan masalah

- Berikan tindakan kenyaman misal : ubah posisi

- Dorong penggunaan teknik relaksasi

- Kolaborasi, berikan obat sesuai indikasi mil : narkotik,


analgen
Implementasi
- Mengkaji nyeri, mencatat lokasi nyeri, karekteristik,
intensitas (skala 0-10)
- Mendorong pasien untuk menyatakan masalah dimana,
bagaimana nyeri tersebut.
- Memberikan tindakan kenyamanan misal mengubah posisi
pasien. (gunakan tindakan pendukung sesuai kebutuhan
- Mendorong penggunaan teknik relaksasi mis : bimbingan

imajinasi, visualisasi
- Memberikan obat sesuai indikasi misal : narkotik, analgesik.

Rasional :
- Membantu mengevaluasi : derajat ketidaknyamanan dan

keefektifan analgesik atau dapat menyatakan terjadinya


komplikasi
- Menurunkan ansietas / takut dapat meningkatkan relaksasi /

kenyamanan
- Mencegah ketidaknyamanan, meningkatkan relaksasi dan

dapat meningkat kemampuan koping.


- Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan

memfokuskan kembali perhatian sehingga menurunkan nyeri


dan ketidaknyamanan
- Menurunkan nyeri, meningkatkan kenyamanan.
Tujuan : Kulit normal tidak terlihat rusak (DX II)
K/H : Menunjukkan penyembuhan luka sesuai waktu tanpa
komplikasi
- Sokong insisi bila mengubah posisi, batuk, napas dalam dan
ambulasi
- Observasi insisi secara periodik
- Berikan perawatan insisi rutin
Implementasi :
- Menyokong insisi bila mengubah posisi, batuk, napas dalam
dan ambulasi
- Mengobservasi insisi secara periodik
- Memberikan perawatan insisi rutin
Rasional :
- Menurunkan kemungkinan jahitan terbuka
- Mempengaruhi pilihan intervensi
- Meningkatkan penyembuhan
Tujuan : Eliminasi urine normal / menjadi seperti
sebelum sakit ( DX III)
K/H : Menunjukkan aliran urine terus menerus dengan
haluaran urine adekuat untuk situasi individu.
Intervensi :
- Catat keluaran urine, selidiki penurunan /
penghentian aliran urien tiba-tiba
- Observasi dan catat warna urine
- Tunjukkan teknik katerisasi sendiri
- Dorong peningkatan cairan dan pertahankan
pemasukan akura
- Awasi tanda vital
Implementasi :
- Mencatat keluaran urine, selidiki penurunan /
penghentian aliran urien tiba-tiba
- Mengobservasi dan catat warna urine
- Menunjukkan teknik katerisasi sendiri
- Mendorong peningkatan cairan dan pertahankan
pemasukan akura
- Mengawasi tanda vital
Rasional
- Penurunan aliran urine tiba-tiba dapat
mengindikasikan abstuksi / disfungsi
- Urine dapat agak kemerahmudaan, yang seharusnya
jernih sampai 2-3 hari
- Kateterisasi periodik mengosongkan wadah
- Mempertahankan hidrasi dan aliran urine baik
- Indikator keseimbangan cairan menunjukkan tingkat
hidrasi dan keefektifan terapi penggantian cairan.
Evaluasi
1. Penilaian untuk perubahan yang dirasa /
aktual
2. Komplikasi dapat dicegah / minimal
3. Prosedur / prognosis, program terapi,
potensial komplikasi dipahami dan sumber
pendukung teridentifikasi.
ALKHAMDULILLAH SELESAI