Anda di halaman 1dari 31

MARLIN SUTRISNA, S.KEP.

, NERS,
M.KEP
Keperawatan jiwa
Fase-fase kehilangan

1. Fase pengingkaran/penyangkalan (denial)


Pada fase ini terjadi syok, tidak percaya atau
menolak kenyataan dengan apa yang terjadi.
Kalimatnya tidak, saya tidak percaya bahwa itu
terjadi.....itu tidak mungkin....
Reaksi fisik adalah letih, lemah, pucat, mual,
diare, gangguan pernapasan, ND cepat,
menangis, gelisah, dan tidak tahu berbuat apa.
2. Fase Marah (Anger)
Sadar akan kenyataan yg terjadi. Perilaku agresif,
bicara kasar, menolak pengobatan, menuduh.

Respon fisiknya muka merah, tangan mengepal,


susah tidur, gelisah dan nadi cepat
3. Fase Tawar Menawar (Bergaining)
Klien telah mampu mengungkapkan rasa
marahnya secara intensif, maka pasien
melakukan tawar menawar dengan memohon
kemurahan tuhan.
Ciri kalimatnya : kalau saja kejadian ini ditunda
maka saya akan sering berdoa...
Atau
Kalau saja yang sakit bukan anak saya.......
4. Fase Depresi (depression)
Sikapnya menarik diri, tidak mau berbicara, dengan
ungkapan menyatakan keputusasaan, perasaan tidak
berharga.
Gejala fisik : menolak makan, susah tidur, letih, dorongan
libido menurun.
5. Penerimaan (Acceptance)
Berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan.
Individu telah menerima kenyataan.
Kalimatnya saya betul-betul menyayangi baju saya yang
hilang tapi baju yang baru bagus juga..
Kalimat lain : apa yg dapat saya lakukan agar saya cepat
sembuh.
HALUSINASI
Tandanya :bicara sendiri, tertawa dan tersenyum
sendiri, bibir kumat kamit, mendekatkan telinga
ke suatu arah tertentu, matanya bergerak cepat.
MACAM-MACAM HALUSINASI
1. Halusinasi Pendengaran (auditif, akustik)
Klien mendengar suara-suara
2. Halusinasi Penglihatan (visual, optik)
Klien melihat bayangan yang menakutkan
atau menyenangkan
3. Halusinasi penciuman (olfaktorik)
4. Halusinasi pengecapan
5. Halusinasi raba
6. Halusinasi kinestetik & kenestetik, yaitu merasa
badannya bergerak-gerak dalam suatu ruang
Tahapan halusinasi
Stage 1 : Sleep Disorder
Klien banyak masalah dan mengalami gangguan
tidur serta banyak melamun
Stage 2 : Conforting moderate level of anxiety
Pasien merasa cemas, kesepian, merasa berdosa
namun pasien cenderung merasa nyaman. Klien
menerima halusinasi sebagai sesuatu yang alami.
Stage 3 : Condemning Severity Level Of Anxiety
Secara umum halusinasi sering mendatangi klien.
4. Stage 4 : Controlling severe level of anxiety
Klien mencoba melawan halusinasinya, jika
halusinasinya tidak muncul klien merasa
kesepian
5. Stage 5 : Conquering panic level of anxiety
Klien mulai merasa terancam dg datangnya
suara-suara, bila tidak menurutinya.
SP HALUSINASI
SP 1 :
Mengenal halusinasi (isi, waktu, frekuensi) dan
menghardik
SP 2 :
Latih bicara dan bercakap dengan orang lain
SP 3 :
Latih dengan aktivitas
SP 4 :
Dengan obat-obatan
WAHAM

Waham adalah suatu keyakinan yang diulang-ulang dan


dipertahankan.
Macam-macam waham :
1. Waham kebesaran, yaitu merasa memiliki kebesaran
atau kekuasaan khusus
2. Waham agama, yaitu keyakinan terhadap agama
berlebihan
3. Waham curiga, yaitu curiga kepada orang lain
berlebihan
4. Waham somatik, yaitu tubuhnya terganggu
5. Waham nihilistik, yaitu merasa dirinya sudah tidak ada
di dunia.
Proses terjadinya waham ada 6 fase :

1. Fase lack of human need


Diawali punya kebutuhan fisik dan psikis. Ini
terjadi karna pentingnya pengakuan namun
rendahnya penghargaan.
2. Fase lack of self esteem
Terjadi tingginya kesenjangan antara reality
dengan self ideal.
3. Fase control internal external
Klien mencoba berfikir rasional, namun
menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu
yang sangat berat. Lingkungan mencoba
mengkoreksi bahwa keyakinan klien tidak benar
namun tidak adekuat. Lingkungan menjadi
pendengar pasif
4. Fase environment support
Ada beberapa orang mempercayai klien
menyebabkan klien merasa di dukung. Klien
merasa yang dikatakannya adalah suatu kebenaran.
5. Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinanya dan
menggap semua orang sama mempercayainya.

6. Fase Improving
Apabila tidak ada koreksi kepada klien, maka
keyakinan klien yang salah akan meningkat.
Tema waham klien muncul berdasarkan
traumatik masa lalu
SP WAHAM
SP 1 :
Idenitifikasi kebutuhan pasien dan bicara
konteks realitas
SP 2 :
Identifikasi dan latih potensi atau kemampuan
yang dimiliki
SP 3 :
Pilih dan latih kemampuan lain
Perilaku Kekerasan
• Perilaku kekerasan adalah respon stressor
yang dapat membahayakan diri sendiri,
lingkungan dan orang lain serta barang-
barang. Contohnya memukul orang lain, diri
sendiri, memukul tempat tidur, dll
• Mata melotot, muka merah, dan tangan
mengepal maka diagnosa keperawatannya
adalah resiko perilaku kekerasan.
Perilaku Kekerasan
SP 1 :
Identifikasi penyebab, tanda gejala dan dampak perilaku
kekerasan
Latih cara fisik I : tarik napas dalam
SP 2 :
Latih cara fisik 2 : pukul kasur atau bantal
SP 3 :
Latih secara sosial atau verbal
SP 4 :
Latih secara spiritual
SP 5 :
Dengan obat-obatan
Harga diri rendah
Perasaan tidak berharga, malu, tidak berguna,
tidak berdaya, putus asa dan rendah diri yang
berkepanjangan
SP HDR
SP 1 :
Identifikasi kemampuannya, nilai dan pilih
kemampuan yang akan dilatih
SP 2 :
Pilih dan latih kemampuan kedua
SP 3 :
Pilih dan latih kemampuan ketiga
ISOLASI SOSIAL
• Yaitu dimana individu mengalami penurunan
bahkan sama sekali tidak mau berinteraksi
dengan orang lain disekitarnya. Tidak mau
membina hubungan dengan orang lain.
SP solasi sosial
SP 1 :
Identifikasi penyebab, tanyakan keuntungan dan
kerugian berinteraksi, dan latih berkenalan.
SP 2 :
Latih berhubungan sosial secara bertahap
SP 3 :
Latih cara berkenalan dengan 2 orang atau lebih
SP Defisit Perawatan Diri
SP 1 :
• Identifikasi kebersihan diri, berdandan, makan,
dan BAB/BAK
• Jelaskan pentingnya kebersihan diri
SP 2 :
• Jelaskan pentingnya berdandan
• Latih cara berdandan
SP 3 :
Jelaskan cara dan alat makan yang benar dan
latih kegiatan makan

SP 4 :
• Latih cara BAB dan BAK yang baik
• Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai
SP Resiko Bunuh Diri
SP 1 :
Identifikasi dan amankan benda-benda yang dapat
membahayakan pasien.
SP 2 :
Dorong pasien untuk berfikir positif terhadap diri
SP 3 :
Identifikasi dan dorong pasien memilih pola koping
yang konstruktif.
SP 4 :
Buat rencana masa depan yang realistis bersama
pasien.
Skizofrenia
• Faktor predisposisi yaitu faktor internal
seperti genetik, biologis, psikologis

• Faktor fresipitasi yaitu faktor eksternal seperti


pola asuh, lingkungan, permasalahan,
narkoba, tingkat ekonomi, perumahan, dll
NAPZA
• Faktor predisposisi yaitu biologis (genetik,
metabolik, infeksi pada organ otak, penyakit
kronis)
• Faktor fresipitasi yaitu sosial kultural meliputi
lingkungan tempat tinggal, sekolah, teman
sebaya yang mengedarkan zat adiktif, remaja
yang lari dari rumah, norma kebudayaan.
Terapi aktivitas kelompok
1. Orientasi realitas
Orientasi terhadap waktu, tempat dan orang dengan
karakteristik ; klien dengan gangguan orientasi realita dapat
berinteraksi, klien yang kooperatif, dapat berkomunikasi
verbal dengan baik dan kondisi fisik dalam keadaan sehat
2. Sosialisasi
Untuk memantau dan meningkatkan hubungan
interpersonal dengan karakteristik : klien yang minat
mengikuti kegiatan/tidak ada inisiatif, menarik diri dan
kurang kegiatan sosial, harga diri rendah, klien gelisah,
curiga, takut, cemas, dan susah dapat membina terus mau
berinteraksi dengan sehat fisik
3. Stimulasi persepsi
Membantu klien yang mengalami kemunduran
orientasi dengan karakteristik ; klien dengan
gangguan persepsi, menarik diri dengan realitas,
inisiatif, dan kurang ide, kooperatif, sehat fisik,
dan dapat berkomunikasi verbal
4. Stimulasi sensoris
Membantu klien yang mengalami kemunduran
sensoris. Karakteristik : kooperatif, mengalami
kemunduran sensoris, sehat fisik, bicara jelas,
waham/halusinasi terkontrol, mau ikut kegiatan.
5. Penyaluran energi
Untuk menyalurkan energi secara konstruktif.
Karakteristik : klien dengan perilaku agresif,
potensial amuk, hiperaktif, sehat fisik, dan
kooperatif.