Anda di halaman 1dari 18

Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik dan

Bersih (Clean Governance & Good


Government)

Oleh : Kelompok 6
1. Elfita Putri
2. Fitriana
3. Fitratul Yasirah
4. Rizka Yuliana Turcia
5. Zolla Surya Rezeki
1. Reformasi Birokrasi

 Reformasi merupakan proses upaya sistematis,


terpadu dan komprehensif dengan tujuan untuk
merealisasikan tata pemerintahan yang baik.

Tata pemerintahan yang baik (Good governance) adalah


system yang memungkinkan terjadinya mekanisme
penyelenggaraan pemerintahan Negara yang efektif dan
efisien dengan menjaga sinergi yang konstruktif di antara
pemerintah, sektor swasta dan masyarakat.
 Birokrasi merupakan system penyelenggaraan
pemerintahan yang dijalankan pegawai negri
berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Reformasi Birokrasi
Adalah upaya pemerintah meningkatkan
kinerja melalui berbagai cara dengan tujuan
efektifitas, efisiensi dan akuntabilitas.
Reformasi Birokrasi juga dapat
diartikan sebagai :
Perubahan cara berfikir (pola pikir, pola sikap, dan
pola tindak)
Mendahuluakan peranan dari wewenang
Tidak berfikir hasil produksi tetapi hasil akhir
Perubahan manajemen kerja
Mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih,
transparan dan professional, dan bebas KKN melalui
penataan kelembagaan, penataan ketatalaksanaan,
akuntabilitas kinerja yang berkualitas, efisien, efektif
dan kondusif serta pelayanan yang prima
Visi dan Misi Reformasi Birokrasi

Visi
Terwujudnya pemerintahan yang amanah atau
terwujudnya tata pemerintahan yang baik.

Mengembalikan cita dan citra birokrasi


Misi pemerintahan sebagai abdi negara dan abdi
masyarakat serta dapat menjadi suri tauladan
dan panutan masyarakat dalam kehidupan
sehari-hari.
Tujuan Reformasi Birokrasi

Secara umum tujuan reformasi birokrasi adalah


mewujudkan pemerintahn yang baik, didukung oleh
penyelenggara negara yang professional, bebas
korupsi, kolusi dan nepotisme dan meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat sehingga tercapai
pelayanan prima.
Sasaran Reformasi Birokrasi
Terwujudnya
birokrasi Terwujudnya Terwujudnya
professional, netral kelembagaan ketatalaksanan
dan sejahtera, pemerintahan yang (pelayanan publik)
mampu professional, yang lebih cepat,
menempatkan diri fleksibel, efektif, tidak berbelit,
sebagai abdi Negara efisien di mudah dan sesuai
dan abdi lingkungan kebutuhan
masyarakat guna pemerintahan pusat masyarakat.
mewujudkan dan daerah.
pelayanan
masyarakat yang
lebih baik.
Agar reformasi birokrasi dapat berjalan
dengan baik, faktor yang perlu diperhatikan :
Faktor Komitmen Pimpinan  Karena masih kentalnya budaya
paternalistik dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia.
Faktor Kemauan Diri Sendiri  Diperlukan kemauan dan
keikhlasan penyelenggara pemerintahan (birokrasi) untuk
mereformasi diri sendiri.
Kesepahaman  Ada persamaan persepsi terhadap pelaksanaan
reformasi birokrasi terutama dari birokrat sendiri, sehingga tidak
terjadi perbedaan pendapat yang menghambat reformasi.
Konsistensi  Reformasi birokrasi harus dilaksanakan
berkelanjutan dan konsisten, sehingga perlu ketaatan perencanaan
dan pelaksanaan.
2. Program Kementerian Kesehatan Dalam
Upaya Pencegahan Korupsi
Sebagai tindak lanjut dari peraturan presiden nomor 55 tahun
2012 tentang strategi nasional (stratanas) pencegahan dan
pemberantasan korupsi (PPK), kementerian kesehatan telah
melaksanakan upaya percepatan reformasi birokrasi melalui
berbagai cara dan bentuk, antara lain :
 Disiplin kehadiran menggunakan system fingerprint,
ditetapkan masuk pukul 07.30 dan pulang kantor pukul 16.00,
untuk mencegah pegawai melakukan korupsi waktu.
 Penandatanganan pakta integritas bagi setiap pelantikan
pejabat di kementerian kesehatan. Hal ini untuk mewujudkan
wilayah bebas korupsi (WBS), wilayah birokrasi bersih dan
melayani (WBBM).
 Setiap pegawai negeri kemenkes harus mengisi sasaran kinerja
pegawai (SKP) dan dievaluasi setiap tahunnya, agar setiap
pegawai mempunyai tugas pokok dan fungsi yang jelas, dapat
diukur dan dipertanggung-jawabkan kinerjanya.
 Terlaksananya strategi komunikasi pendidikan dan budaya anti
korupsi melalui sosialisasi dan kampanye anti korupsi di
lingkungan internal atau seluruh satker kementerian kesehatan.
 Pelaksanaan LHKPN di lingkungan kementerian kesehatan di
dukung dengan surat keputusan menteri kesehatan RI nomor
03.01/Menkes/066/I/2010, tanggal 13 januari 2010.
 Membentuk unit pengendalian gratifikasi, berdasarkan surat
keputusan inspektorat jenderal kementerian kesehatan nomor
01.TPS.17.04.215.10.3445, tanggal 30 juli 2010.
3. Sistem Pengendalian Internal
Pemerintah
Pelaksanaan SPIP adalah amanat PP 60 tahun 2008 yang
mengamatkan bahwa pelaksanaan atau program dilakukan
secara integral antara tindakan dan kegiatan yang dilakukan
secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai
untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya
tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien,
keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset Negara, dan
ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
Sistem Pengendalian Internal Pemerintah
terdiri dari 5 unsur yaitu :
1 Lingkungan pengendalian

2 Penilaian resiko

3 Kegiatan pengendalian

4 Informasi dan komunikasi

5 Pemantauan pengendalian intern


4. Pembangunan Zona Integritas
Pembangunan zona integritas merupakan bagian dari
gerakan nasional pembangunan zona integritas menuju
wilayah bebas dari korupsi dan sebagai bentuk implementasi
dari pelaksanaan ZI di seluruh unit utama dan satker di
lingkungan kemenkes.

Dalam upaya pembangunan zona integritas menuju WBBM,


kemenkes telah melakukan penilaian terhadap calon satker WBK
yang memenuhi syarat indicator hasil dan indicator proses satker
WBK serta pada tanggal 30 agustus 2013 telah mengusulkan 3
satuan kerja ke mentri pendayagunaan aparatur Negara dan
reformasi birokrasi untuk ditetapkan sebagai satker WBK.
Proses pembangunan zona integritas yang dilakukan
oleh kemenkes dengan melakukan 2 cara penilaian :
1. Penilaian satuan kerja berpredikat 2. Penilaian dan penetapan satuan
WBK kerja berpredikat WBBM
• Penilaian satuan kerja berpredikat • Penilaian satker yang berpredikat
yang berpredikat WBK di lingkungan wilayah birokrasi bersih dan
kementerian kesehatan di lakukan melayani (WBBM), dilakukan oleh
oleh tim penilaian internal (TPI) yang tim penilaian nasional (TPN) melalui
dibentuk oleh menteri kesehatan, evaluasi atas kebenaran material hasil
penilaian dilakukan dengan self assessment yang dilaksanakan
menggunakan indicator proses (nilai oleh TPI termasuk atas hasil self
di atas 75) dan indicator hasi yang assessment tentang capaian indicator
mengukur efektifitas kegiatan hasil WBBM. Untuk mencapai
pencegahan korupsi yang telah indicator hasil WBK dan WBBM
dilaksanakan. dapat dinilai mengacu pada penilaian.
Tugas
Contoh Kasus Korupsi di Lingkungan Sekitar Kita :
 Korupsi waktu
Korupsi ini merupakan salah satu korupsi yang tidak disadari
oleh sebagian besar orang. Seperti pada orang-orang yang biasa
pulang atau mengakhiri pekerjaannya sementara jam kerja belum
usai. Begitupun dengan para PNS yang menggunakan jam kerja
mereka untuk berbelanja atau melakukan keperluan lain yang
tidak ada hubungannya dengan pekerjaan mereka.
 Korupsi uang buku
Korupsi ini biasa dilakukan oleh anak sekolah atau mahasiswa
yang masih si biayai oleh orang tua mereka, biasanya
mempergunakan uang kelebihan membeli buku
tersebut untuk keperluan yang lain.
 Menyontek
Menyontek termasuk korupsi, karena orang yang mencontek
sudah berbuat curang, perbuatan ini sangat sering dilakukan
mahasiswa, meskipun tidak semua tapi sebagian besar hal ini
sering dilakukan mahasiswa.
 Titip absen
Titip absen termasuk korupsi, karena dia telah tidak jujur
dengan cara mengada-adakan yang tidak ada, meskipun hal
ini tidak termasuk tindak korupsi yang besar, tapi juga akan
menimbulkan ketergantungan, sehingga akan membudaya
hingga lulus dari perguruan tinggi.
 Datang terlambat
Datang terlambat termasuk korupsi, karena seseorang
mengambil waktu yang seharusnya ia gunakan untuk belajar
malah digunakan untuk tujuan lainnya, sehingga waktu yang
seharusnya dipakai belajar tidak bisa dimanfaatkan
semaksimal mungkin.
 Mengulur waktu pengumpulan tugas
Hampir sama dengan datang terlambat, mahasiswa
terkadang mengumpulkan tugas tidak sesuai dengan
kesepakatan yang telah dibuat oleh dosen dan
mahasiswa, padahal saat kita mengucap janji, janji
tersebut wajib ditepati.
 Copy paste tugas
Banyak dari kita sebagai mahasiswa yang terburu-buru
dalam pengumpulan tugas, sering kali mencari jalan
pintas dengan copy paste tugas dari internet atau
lainnya, ini sangat bertentangan dengan peraturan yang
ada, karena dengan copy paste seseorang akan mengabil
hak pembuatan atau pun hak paten dari karya seseorang.
Terima Kasih