Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

Fracture Collum Femur Dextra

Disusun oleh :
Angie
112017135

Pembimbing :
dr. marque, Sp.OT
IDENTITAS PASIEN

 Nama lengkap : ny.A


 Tanggal lahir: 01/08/1955
 Status Perkawinan : Sudah Menikah
 Pekerjaan : ibu rumah tangga
 Alamat : Desa pakuli RT/RW 003/004
 Jenis kelamin : perempuan
 Agama : Islam
ANAMNESIS
 Keluhan utama :nyeri pada kaki kanan bila digerakan 10
hari SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Os merupakan korban gempa palu pada tanggal 28-09-2018.
Os mengatakan pada saat peristiwa tersebut os terlempar
sejauh 4 meter dan membentur dinding dan setelah itu os
sempat tidak sadarkan diri selama 6 jam. Setelah sadar os
merasakan nyeri terutama saat menggerakan kaki kanan.
Pasien mengatakan keluhan mual (-), muntah (-) dan
demam(-), sakit kepala (-), os mengatakan takut
menggerakan kaki nya dan sempat memberikan minyak
gosok untuk meredakan nyeri pada kaki kanan nya.
Riwayat Penyakit Dahulu:
TIDAK ADA

Riwayat pengobatan:
pasien belum berobat ke dokter , dan hanya memberi minyak
gosok untuk meredakan nyeri pada paha kanannya
PEMERIKSAAN FISIK
PRIMARY SURVEY

• Airway + Cervical control : Jalan nafas bebas, tidak ada cedera


servikal
• Breathing + Ventilation : RR 20x/menit, pergerakan dinding
dada simetris kanan-kiri saat statis &
dinamis
• Circulation : TD 180/30 mmHg, HR 76x/min, CRT
<2”
• Disability : GCS 15 (E4 M6 V5), kaki kanan nyeri
saat digerakkan
PEMERIKSAAN FISIK

 Keadaanumum: Tampak sakit sedang


 Kesadaran: compos mentis
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS

 Kepala : tidak ada deformitas


 Mata : pupil isokor, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
 Telinga : MAE lapang, sekret -/-
 Hidung : sekret -
 Tenggorokan : T1 – T1 tenang, faring tidak hiperemis
 Leher :KGB dan kelenjar tiroid tidak teraba membesar
 Thoraks
 Paru-paru
 Inspeksi : kedua paru simetris pada keadaan statis dan dinamis
 Palpasi : tidak ada nyeri tekan
 Perkusi : sonor di kedua lapang paru
 Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronkhi-/-, wheezing -/-
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS

Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I dan II reguler, gallop -, murmur -
Abdomen
Inspeksi : tampak membuncit, lesi (-), benjolan (-),
pembuluh darah (-)
Palpasi :
Dinding Abdomen :nyeri tekan(-)
Pemeriksaan fisik
 Hati : tidak teraba
 Limpa : tidak teraba
 Ginjal : ballotement -, nyeri ketok CVA –
 Perkusi : timpani
 Auskultasi :bising usus (+)
 Alat Kelamin : tidak ada indikasi
 Colok Dubur :tidak ada indikasi

• Ekstremitas
Luka lecet (-/-/-/+) Edema (-/-/-/+)
Deformitas (-/-/-/+)
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS LOKALIS (Regio Femur))

1. LOOK
DEXTRA SINISTRA
a. Perubahan warna Sama seperti warna Sama seperti warna
kulit kulit sekitar, kulit sekitar, hematom
hematom (-) (-)
b. Bengkak Tidak ada Tidak ada
c. Deformitas Ada Tidak ada
d. Luka Tidak ada Tidak ada
(terbuka/tertutup)
e. Perdarahan Tidak ada Tidak ada
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS LOKALIS (Regio Femur))

2. FEEL
DEXTRA SINISTRA

a. Nyeri tekan + -
b. Sensibilitas Raba/suhu/nyeri: +/+/+ Raba/suhu/nyeri: +/+/-
c. Krepitasi Sulit dinilai Tidak ditemukan
d. Deformitas Ada Tidak ada
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS LOKALIS (Regio Femur))

3. MOVE
DEXTRA SINISTRA
a. Gerak - (terbatas) +
(aktif-pasif)
b. ROM - articulatio coxae: pergerakan sendi terbatas - articulatio coxae: abduksi (+), adduksi (+),
karena nyeri fleksi (+), ekstensi (+)
- articulatio genu: fleksi (+), ekstensi (+) - articulatio genu: fleksi (+), ekstensi (+)
- articulatio talocruralis: exorotasi (+), - articulatio talocruralis: exorotasi (+),
endorotasi (+), dorsofleksi (+), plantarfleksi endorotasi (+), dorsofleksi (+), plantarfleksi
(+), abduksi (+), adduksi (+) (+), abduksi (+), adduksi (+)
Pemeriksaan penunjang
 Darah Rutin
 Hb : 11,8 g/dL (N: 12-16g/dL)
 Ht : 36 % (37-47%)
 Eritrosit: 4,8 juta/uL (4,3-6,0juta/uL)
 Leukosit : 15850/uL (4800-10800/uL)
 Trombosit : 292ribu/uL (150rb-400rb/uL)
 Ureum : 21 mg/dL (20-50mg/dL)
 Kreatinin : 0,7 mg/dL (0,5-1,5 mg/dL)
 GDS : 72 mg/dL (70-140 mg/dL)
 PT : 10,1 detik (9,3-11,8 detik)
 APTT : 38,5 detik (31- 47 detik)
 Analisa Gas Darah
 pH : 7,39 (7,37 – 7,45)
 pCO2 : 35 (33-44 mmHg)
 Po2 : 79,0 (71-104 mmHg)
 Bikarbonat (HCO3): 23 (22-29 mmol/L)
 Kelebihan Basa (BE): -1,9 (-2 – 3 mmol/L)
 Saturasi O2 : 96.8 (94-98%)
Hasil pemeriksaan radiologi

X Foto Pelvis AP
 Fraktur displace
collum femur
dextra tipe
basiservikal
RESUME
Seorang perempuan datang dengan keluhan nyeri pada kaki kanan bila
digerakan 10 hari SMRS. Os merupakan korban gempa palu pada tanggal 28-09-
2018. Os mengatakan pada saat peristiwa tersebut os terlempar sejauh 4 meter
dan membentur dinding dan setelah itu os sempat tidak sadarkan diri selama 6
jam. Setelah sadar os merasakan nyeri terutama saat menggerakan kaki kanan.
Pasien mengatakan keluhan mual (-), muntah (-) dan demam(-). Pada
pemeriksaan fisik di dapatkan keadaan umum Tampak sakit sedang Kesadaran
compos mentis, Tanda-tanda vital TD: 130/80mmHg, HR: 76x/men , RR: 20
x/menit , S: 36.70C. pada pemeriksaan status lokalis di dapatkan , pada region
femur dextra terdapat hematom (+), deformitas(+), nyeri tekan (+), dan pada
pergerakan tungkai terbatas. Pada pemeriksaan laboraturium di dapatkan Hb 11,8
d/dl , HT 36%, eritrosit 4,8 juta , leukosit 15850 gr/uL. Dari pemeriksaan rontgen
femur dextra ap/lat di dapat kesan Fraktur displace collum femur dextra tipe
basiservikal.
DIAGNOSIS KERJA

Closed fracture displaced right neck femur


basiservical type
Tatalaksana

Terapi Konservatif
 Traksi kulit (3-4 kg) untuk mengurangi rasa nyeri
 Pemberian analgetik
 Pemberian cairan intravena dan transfusi darah
bila diperlukan
KOMPLIKASI FRAKTUR

 Perdarahan dan syok


 trauma arteri
 sindrom kompartemen
 osteomielitis
 kekakuan sendi
 atrofi otot
 delayed union, malunion, non union
PROGNOSIS

Quo ad • ad bonam
vitam

Quo ad • ad bonam
functionam

Quo ad • ad bonam
Sanationam
TINJAUAN PUSTAKA..
Anatomi tulang femur
Definisi Fraktur

Terputusnya
kontinuitas jaringan
tulang yang ditentukan
sesuai dengan jenis
dan luasnya yang
biasanya disebabkan
oleh rudapaksa atau
tekanan eksternal yang
datang lebih besar dari
yang dapat diserap
oleh tulang
Etiologi Fraktur

 Kegagalan tulang menahan tekanan


membengkok, memutar dan tarikan akibat
trauma yang bersifat langsung maupun tidak
langsung
Tulang Femur

Tulang femur adalah tulang terkuat, terpanjang,


dan terberat yang dimiliki tubuh yang berfungsi
penting untuk mobilisasi atau berjalan.

Struktur femur adalah struktur tulang untuk berdiri


dan berjalan, dan femur menumpu berbagai gaya
selama berjalan, termasuk beban aksial,
membungkuk, dan gaya torsial.

Selama kontraksi, otot-otot besar mengelilingi femur


dan menyerap sebagian besar gaya.
Etiologi Fraktur Femur
High • Karena energi yang cukup besar

Energy • Ex: kecelakaan motor, mobil, pesawat jatuh, olahraga yang


berkaitan dengan kecepatan, jatuh dari trempat tinggi
Trauma
• Trauma karena energi yang lemah, karean tulang kehilangan
Low Energy kekuatannya

Trauma • Ex: osteoporosis, kanker yang metastasis tulang, konsumsi


kortikosteroid jangka panjang

Stress • Karena tekanan atau trauma berulang

Fraktur
• Ex: atlet atau militer yang menjalani pelatihan berat,
biasanya pada corpus femoris
EPIDEMIOLOGI
 Brukner:
 Perempuan memiliki tingkat yang lebih tinggi pada fraktur collum
femur dibandingkan pria
 Sejumlah faktor mempengaruhi populasi lansia untuk patah tulang,
termasuk osteoporosis, gizi buruk, penurunan aktivitas fisik, gangguan
penglihatan, penyakit neurologis, keseimbangan yang buruk, dan atrofi
otot. Patah tulang panggul yang umum dan sering mengenai pada
populasi geriatri
 Koval dan Zuckerman
 Di Amerika Serikat: 63,3 kasus per 100.000 orang-tahun untuk
perempuan dan 27,7 kasus per 100.000 orang-tahun untuk pria.
 Fraktur collum femur pada pasien usia lanjut terjadi paling umum
setelah jatuh ringan atau cedera memutar, dan mereka lebih sering
terjadi pada wanita
Fraktur Femur Proksimal
 Intrakapsular : caput femoris dan collum
femoris

 Ekstrakapsular: termasuk trochanters


Fraktur collum femoris
 Dibagi atas intra- (rusaknya
suplai darah ke head femur)
dan extra- (suplai darah
intak) capsular.
1. Intracapsular dibagi
kedalam subcapital,
transcervical dan
basicervical.
2. Extracapsular
tergantung dari fraktur
pertrochanteric.
Klasifikasi fraktur collum femur :
Garden
Klasifikasi fraktur collum femur :
Pauwel
Gambaran klinis

 Pada pemeriksaan fisik, fraktur collum femur


dengan pergeseran akan menyebabkan deformitas
yaitu terjadi pemendekan serta rotasi eksternal
sedangkan pada fraktur tanpa pergeseran
deformitas tidak jelas terlihat.
 Tanpa memperhatikan jumlah pergeseran fraktur
yang terjadi, kebanyakan pasien akan mengeluhkan
nyeri bila mendapat pembebanan, nyeri tekan di
inguinal dan nyeri bila pinggul digerakkan
Pemeriksaan Fraktur Femur

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan
neurologis

Pemeriksaan
radiologi
Pemeriksaan fisik
 Perhatikan tanda-tanda syok

 Perhatikan tanda-tanda anemis dan perdarahan

 Perhatikan tanda-tanda kerusakan organ lain

 Apabila kondisi jiwa terancam lakukan resusitasi


terlebih dahulu sampai stabil

 Pemeriksaan status lokalis ( inspeksi/look,


palpasi/raba/feel, pergerakan/move)
Pemeriksaan neurologis
 Pemeriksaan saraf sensoris dan motoris

Pemeriksaan radiologis
 Digunakan untuk konfirmasi adanya fraktur,
menentukan keadaan, lokasi, serta ekstensi
fraktur, melihat kecurigaan patologis pada
tulang, melihat benda asing (peluru), untuk
menentukan terapi yang tepat
Tatalaksana
 Tindakan awal dalam penanganan fraktur:

 A. Pembidaian sementara untuk imobilisasi fraktur

 B. Mengurangi rasa nyeri dan mengurangi perdarahan

 C. Deformitas yang hebat perlu dikoreksi perlahan dengan


menarik bagian distal secara lembut

 D. Pada fraktur terbuka dilakukan debridement dan irigasi


cairan fisiologis, luka ditutup kasa steril

 E. Foto rontgen
Prinsip terapi fraktur (4R)
1. RECOGNITION : diagnosis dan penilaian fraktur
▪ LOOK: Luka, Deformitas, Hematoma, Edema
▪ FEEL: Nyeri Tekan, Sensibilitas, Pulsasi
▪ MOVE: Gerak Aktif & Pasif

2. REDUCTION : mengembalikan/memperbaiki bagian-bagian


yang patah ke dalam bentuk anatomisnya

3. RETENTION (IMOBILISASI): mempertahankan agar tulang yang


mengalami fraktur tidak berubah posisinya setelah direposisi

4. REHABILITATION : mengembalikan aktivitas fungsional


semaksimal mungkin.
Indikasi Terapi Operatif

 Konservatif gagal
 Fraktur terbuka
 Interposisi jaringan diantara fragmen
 Fraktur collum femoris yang membutuhkan
fiksasi dan beresiko nekrosis avaskular
 Kontraindikasi imobilisasi eksterna dan
diperlukan mobilisasi yang cepat (lansia)
Terapi Operatif

 Jenis operasi yang dapat dilakukan:


1. Pemasangan pin
2. Pemasangan plate dan screw
3. Artroplasti
▪ Eksisi artroplasti
▪ Hemiartroplasti
▪ Artroplasti total
Komplikasi

 Infeksi , terutama pada kasus fraktur terbuka


 Nekrosis avaskuler kaput femur
 Nonunion
 Osteoartritis
 Anggota gerak memendek
 Malrotasi berupa rotasi eksterna
Prognosis

 Fraktur collum femur juga dilaporkan sebagai salah


satu jenis fraktur dengan prognosis yang tidak
terlalu baik, disebabkan oleh anatomi collum femur
itu sendiri, vaskularisasinya yang cenderung ikut
mengalami cedera pada cedera neck femur, serta
letaknya yang intrakapsuler menyebabkan
gangguan pada proses penyembuhan tulang.
TERIMAKASIH..