Anda di halaman 1dari 138

PRODUKSI TANAMAN I

Bag. Penyakit Tanaman

Prof. W.S. Wahyuni


Penyakit-penyakit pada padi

1. Penyakit jamur
2. Penyakit bakteri
3. Penyakit virus
PADI
• Cara tanam: Padi sawah, gogo, gogo rancah
• Tipe:
•Daerah tropis: Padi bulu (javanica), padi pulut
(glutinosa), padi cere (indica);
•padi japonica (daerah sedang, subtropis),
•padi gundil (Ind, persilangan padi indica dg japonica)
• International Rice Research Institute: Los banos, Filipina
• Ketahanan vertikal: 1-2 gen mayor, gene for gene, reaksinya
kuat, mudah patah
• Ketahanan horizontal: beberapa gen (dapat minor), reaksinya
lemah, mengendalikan beberapa jenis hama atau penyakit,
tidak mudah patah
1. Penyakit Becak cokelat (brown spot, Drechslera
oryzae)
• Kurang penting, Umum terdapat di semua negara penanam
padi
• Penyakit dpt timbul dipesemaian sampai tanaman tua
Gejala
• Jamur terbawa oleh biji, semai dapat busuk krn menyerang
koleoptil batang dan akar
• Pada daun tanaman dewasa, becak2 coklat memanjang, becak
dapat melear dg tepi coklat tua, bag. tengahnya putih kotor
sampai kelabu, kadang mempunyai halo kekuningan. Daun yng
sakit parah dapat kering, penyakit menyebar ke batang dan
bulir, dan bulir jadi keriput, berwarna coklat dan diliputi beledu
hitam: konidiofor dan spora jamur
• Kadang serangan yg parah menyebabkan malai tdk terbentuk
atau tdk dpt keluar dari upih daun
Daur penyakit
• bertahan dalam biji sakit atau mengkontaminasi biji sehat,
sampai 4 tahun
• Bertahan dalam jerami, dalam tanah
• Disebarkan oleh angin dg jarak tempuh tdk terlalu jauh
• Tidak diketahui inang lain, kecuali jenis rumput2an dan padi
liar
Penyakit becak cokelat (Brown spots, Drechslera oryzae)
• Penyakit miskin, penyakit krn kurang baik keadaannya
• Kurang merugikan
• Gejala dpt timbul pd semai, daun dan buah
• Bertahan pd biji

Penyebab penyakit
• Drechslera oryzae (Bipolaris oryzae, Helminthosporium oryzae)
• Di daerah sedang mempunyai stadium sempurna (Peritesium,
Cochiobolus (Ophioblus) miyabeanus
• D. oryzae dpt menghasilkan racun: cochibolin atau ophiobolin, yg
meracuni semai padi, meenghambat pertumbuhan akar dan
mempengaruhi respirasi daun krn mengganggu keseimbangan
fisika dan kimia protoplasma
• Patogenisitas bervariasi, infeksi melalui stoma
Brown Leaf Spot
Symptoms on
Rice

Brown spots on leaves:


Helminthosporium oryzae, kemudian mjd Drechsclera oryzae.
Sekarang Cochiobolus miyabeanus,
anamorf Bipolaris oryzae.
Faktor yg mempengaruhi
• Kelembaban tanah, padi gogo lebih rentan. RH 96% suhu 30 ºC
jamur mati dlm 1 bulan, RH 20-40% jamur msh hidup stl 6 bln
• Keadaan gelap/teduh menambah intensitas/keparahan penyakit
• Tergantung pada umur, pembentukan malai dan bulir paling
rentan. Banyak tdpt di tanah miskin
• Kekurangan atau kelebihan pupuk N menambah rentan
Pengendalian
• Merawat biji (seed treadment) dg air panas, seed dressing dg
fungisida Cu,
• Penyemprotan fungisida, mancozeb (Delsene MX200), propineb
(Antracol 70WP). klorotalonil (Daconil 75WP)
• Sanitasi dan rotasi tanaman
• Cara bertanam yg baik
Rice blast : Magnaporthe gricea
Pengendalian

1. Mengatur cara bercocok tanam dan sanitasi lahan


sisa tanaman sakit dan gulma

2. Perawatan biji/benih dengan (a) air hangat (hot


water treatment) atau (b) seed treatment dengan
fungisida terutama yang mengandung tembaga (Cu,
misalnya prusi)

3. Penyemprotan daun dan bagian tanaman lain


dengan pestisida (misalnya Antracol 70WP, dsb.)
2. Penyakit blast (Piricularia oryzae)

•Blast: meniup sesuatu (mis. balon) dg udara


•Banyak terdapat di Indonesia dan negara lain, tp tdk merugikan
•Lebih banyak terdapat di tanah subur
•Mudah membentuk ras baru
Gejala
•Pd daun (leaf blast), becak jorong dg ujung meruncing, pusat
becak berwarna putih kelabu, tepi coklat-kemerahan, tgt pd
lingkungan, umur becak, drajad ketahanan padi
•Becak cenderung mengumpul di pangkal helaian daun, dan
menyebar ke batang, bunga, malai dan biji
•Gejala khas: busuk tangkai malai = busuk leher (neck rot), shg
hampir semua biji pd malai jd hampa.
•Pd biji sakit: becak-becak kecil membulat, coklat kehitaman
Rice blast, Piricularia oryzae
Rice blast
gejalanya dapat dibedakan dengan P. gricea(dulu), penyebab blast
kelabu, sekarang: Magnaporthe gricea
Rice blast, Magnaporthe gricea
Daur penyakit
•Penularan jarak jauh dg angin
•Konidium dilepaskan secara explosif pd RH >90%
•Penetrasi langsung dg menembus kutikula daun, atau melalui
stoma. Daun muda pd permukaan atas lebih rentan
•Bertahan pd sisa2 tanaman dan inang lain: rumput2an
•Jamur menghasilkan toxin: β-picolinic acid, pyricularin,
piriculol, tenuazonic acid
Faktor yg berpengaruh
•Kelebihan N
•Kekurangan air, berakibat pd kekurangan Si pd tanaman (padi
gogo lebih banyak terserang d.p. padi sawah)
•Embun pagi menentukan perkecambahan konidium: epidemi
blas ditentukan oleh lamanya daun berembun, banyak
kodinium di udara, RH.
•Jenis indica lebih tahan d.p. japonica
Pengendalian
•Pupuk seimbang, pupuk N <90 kg/ha
•Benih bebas penyakit: seed dressing (benomil, tiram [Benlate
T20/20WP], piroquilon [Fongorene 50WP], trisiklazol [Beam
75WP]
•Penyemprotan dg Benlate T20/20WP, karbendazzim dan
mankozeb (Delsene MX200), endefenfos (Hinosan 50EC), diiso-
propil 1,3-ditiolan-22ilidenemalenat (Fujiwan 400EC), dsb.
•Membakar jerami sakit, atau membuat kompos jerami
Pengendalian:
• Penyemprotan pestisida (fungisida)
• Mengatur cara bercocok tanam
• Tidak memberikan pupuk N berlebihan
• Kultivar tahan

• the elite indica rice variety: IR 72, with


its Xa21 gene,
• varietas CO39, resisten thd gen AVR1-
CO39 asal patogen Blast

Avr gene in M. grisea that is recognized by the resistant rice plant.


This gene, called AVR1-C039, is the second Avr gene from the rice
blast fungus
3. Penyakit Fusarium (Fusarium spp.)

• Kurang merugikan
• Banyak tdpt didaerah padi beriklim basah, Fusarium blight
• Penyakit bakanae: Jepang, pertumbuhan yg menyimpang
Gejala
• Pd bunga dan biji yg masih muda, berwarna coklat muda dan
hampa, bila menyerang semai dpt mati
• Di Jepang, tan sakit: batang panjang (1.5-2 x panj batang sehat),
tipis, pucat
Penyebab penyakit
• F. moniliformae (std sempurna: Gibberella fujikuroi)
• F. gramineum (std sempurna: G. zeae, G. saubinetii)
Daur penyakit
• Jamur bertahan pd sisa2 tanaman dlm tanah
• Penyebaran oleh angin
Pengendalian
• Tdk punya arti ekonomi penting

Penyakit gosong palsu (false smut, Ustilago virens)


• Kurang merugikan tp sering terdapat
• Menyerang biji, membentuk sklerotium besar, menonjol,
kuning emas, satu malai ada bbrp butir sakit
• Banyak tdpt di daerah subur (N >), cuaca lembab, hangat,
disebarkan dg angin pd malam hari
• Dikendalikan dg fungisida
STRUKTUR SEL BAKTERI
• Gambar sel bakteri
5. Penyakit hawar daun bakteri (bacterial leaf
blight, Xanthomonas campestris pv. oryzae)
• penting di daerah tropika dan sedang. Di tropik: Peny kresek
• Strain bakteri di tropis lebih virulen d.p. di derah sedang
• Makin muda tanaman diserang, kerugian makin besar
• Bila tanan tua diserang, bulir mudah pecah dan jelek kadar
patinya

Gejala
• Helaian daun bergaris2 kuning, dpt melebar dan memanjang,
tepi bergelombang tampak kebasahan. Sering pd padi hari pd
tepian daun ada tetes2 cairan putih susu yaitu ooze bakteri
• Garis berubah jd kuning keputihan, dun mengering, sering dun
yg kering ditumbuhi jamur saprofit
• Gejala dpt timbul 1-3 minggu stl tanam, gejala yg parah
Penyakit hawar daun bakteri (≈ kresek)
(Bacterial leaf blight )

Transgenic homozygous IR72 (T) yang resisten terhadap bacterial leaf blight
(X. campestris pv. oryzae) dengan panjang lesio yang lebih kecil daripada
Kontrol nontransformed (C) pada konsisi lapangan di Wuhan, China
.
• Menyebabkan tan busuk (= hama lodoh).
• Utk membedakan penyakit kresek dan serangan hama
penggerek batang: pijit bag. bawah batang terinfeksi, bila
keluar ooze berwarna putih kekuningan berarti penyakit
bakteri

Daur penyakit
• Perkembangan dan tingkat keparahan penyakit tergantung
umur tanaman, makin muda makin rentan
• Bakteri tidak dpt bertahan pd biji
• Inang lain dan cara bertahan bakteri utk melewati musim
berikutnya belum diketahui
• Inang lain: padi liar dan rumput2an sejenis padi mis. Leersia
japonica, L. oryzoides, Leptochola sinensis,
Penyakit hawar daun bakteri

Bentuk bakteri

Xanthomonas campestris pv. oryzae


batang pendek, 1.2 x 0.3- 0.5 µm, sering tunggal,
kadang-kadang berpasangan,
dapat mempunyai bakteriofag
Faktor yg mempengaruhi penyakit
• bakteri memenetrasi tanaman melalui
• Luka bekas potongan ujung daun ketika ditanam
• Luka pada akar akibat pencabutan tanaman
• Pori air (hidatoda pd tepian daun) dan stoma
• Luka akibat gesekan angin
• Luka akibat gigitan serangga
• Suhu hangat dan kelembaban tinggi, hujan, sawah yg sedang
tergenang, sangat disukai utk perkembangan penyakit
Pengendalian
• Tidak memotong ujung daun ketika memindahkan bibit
• Tidak mencabut bibit yg umurnya kurang dr 30 hari
• Menanam jenis yg tahan mis. IR72, IR77
• Tidak memberi pupuk N berlebihan
• Sanitasi dan drainasi yg baik
• Bakterisida, Stablex 10WP (Fenazin-5-oksida), zink sulfat
5. Penyakit daun bergores bakteri (bacterial leaf streak,
Xanthomonas campestris pv. oryzicola)

Bakteri memenetrasi
daun melalui luka pada
daun atau stomata,
memperbanyak diri di
celah substomatal dan
tinggal di dekat
Suhu tinggi dan lengas permukaan daun
tinggi disukai untuk
perkembangan penyakit

Ooze bakteri, kecil,


membulat, kuning,
muncul dari becak
Bakteri disebarkan oleh
baru
angin, hujan, air irigasi,
dan biji sakit

Bakteri memenetrasi daun melalui lubang alami seperti stoma dan


hidatoda, luka alami pada daun mis. oleh angin, insekta, atau luka oleh
sebab lain.
Gejala
• becak berupa goresan kecil terjadi disekitar intervena,
hijau gelap dan agak kebasahan, kemudian meluas dan
menjadi abu kekuningan dan jernih (transluscent)
memanjang sejajar dengan tulang daun, dengan lebar
0.5-1 mm
• Untuk membedakan BLS dengan penyakit brown spot,
narrow brown spot, dan bacterial blight, adalah adanya
goresan sempit berwarna putih kelabu yang jernih
dengan ooze bakteri kuning. Bila gejala sudah lanjut, BLS
tampak sama dengan bacterial blight.
Daur hidup
• Penyakit ditularkan melalui biji ke musim tanam berikutnya. Tanaman
asal biji sakit merupakan sumber inokulum yang baik
• bakteri yang berada dalam air irigasi, atau bertahan pada sisa tanaman
sehabis panen, merupakan sumber inokulum efektif bagi musim tanam
berikutnya
• Embun atau hujan pada permukaan daun sakit dapat sebagai penyebar
bakteri ke tanaman lain. Suhu dan lengas tinggi merupakan faktor yang
paling disukai bakteri untuk infeksi baru, dan perkembangan becaknya
• Penyakit berkembang cepat selama awal tanam sampai awal
pembentukan panikel. Tanaman tua lebih tahan terhadap penyakit
• Jenis padi japonica lebih tahan daripada jenis indica.
• Inang lain species padi liar seperti, Oryza spontanea, O. perennis,
O.balunga, O. nivara, O. breviligulata, O. glaberrima, dan Leersia
hexandra Sw. (southern cutgrass) adalah dari penyakit ini
Pengendalian
Penyakit ini tidak terjadi secara terus-menerus pada
areal luas, tetapi bila diketahui ada, agar segera
dikendalikan dengan
• mengatur pemupukan yang seimbang,
• mengatur jarak tanam,
• menanam jenis tahan,
• sanitasi singgang, jerami, dan bibit dan tumbuhan
volunteer yang tertinggal setelah usai panen,
• dainase yang baik,
• perlakuan pemanasan biji,
• pemberoan lahan sebelum tanam.
6. Penyakit hawar daun bakteri (≈ kresek)
(Bacterial leaf blight )

Transgenic homozygous IR72 (T) yang resisten terhadap bacterial leaf blight
(X. campestris pv. oryzicola) dengan panjang lesio yang lebih kecil daripada
Kontrol nontransformed (C) pada konsisi lapangan di Wuhan, China
.
6. Penyakit hawar daun bakteri

Bentuk bakteri

Xanthomonas oryzae pv. oryzae


batang pendek, 1.2 x 0.3- 0.5 µm, sering tunggal,
kadang-kadang berpasangan,
mempunyai bakteriofag
Faktor yg berpengaruh:
• Jenis padi mempunyai ketahanan yg berbeda, jenis padi
cere spt Bengawan , Cina, Mas rentan thd penyakit
jenis padi yg mengandung gen Xa4 tahan terhadap
bakteri, dan jenis yg tahan dpt mjd rentan bila ada
strain yg baru
• Umur tanaman, jangan memindahkan bibit yg terlalu
muda
• Daun-daun bibit yg ujungnya dipotong mjd tempat yg
baik bagi masuknya bakteri
• Pemberian pupuk N yg berlebihan menyebabkan
tanaman jd rentan
• Curah hujan yg tinggi menyebabkan penyakit cepat
meluas
Pengendalian penyakit
1. tidak memotong ujung daun padi ketika akan memindahkan bibit,
2. tidak mencabut bibit yang umurnya kurang dari 40 hari,
3. menanam jenis atau kultivar tahan misalnya, IR72, IR77,
4. Tidak memberikan pupuk berlebihan karena dapat menjadikan
tumbuhan rentan, terutama pupuk N,
5. menyemprot pertanaman sakit dengan bakterisida Fenazin 5-oksida
(misalnya, Stablex 10WP), bleaching powder (100µg/ml) dan zink
sulfat (2%),
6. sanitasi dengan mencabut gulma mokotiledon, singgang padi dan
bibit cadangan di sekitar pertanaman sakit karena dapat menjadi
sumber inokulum,
7. drainasi yang baik, terutama pada musim hujan.
7. Bacterial leaf streak (bakteri daun bergores)
oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzicola

X. oryzae pv. oryzicola berbentuk batang pendek,


berukuran 1.2 x 0.3-0.5 µm, umumnya tunggal, kadang
berpasangan,
• Penyakit banyak ditemukan di daerah tropis
• Bakteri bertahan dr musim ke musim mll biji, bibit
sakit, dan penyebarannya oleh air irigasi,
• Infeksi meluas oleh hujan angin (luka gesekan), ooze
bakteri yg mengering larut oleh air
• Suhu yg tinggi membantu perkembangan gejala
goses-gores
• Pupuk N yg berlebihan membantu perkembangan
gejala
• Jenis padi mempunyai ketahanan yg berbeda, jenis
japonica lebih tahan dp jenis indica
Pengendalian
1. mengatur pemupukan yang seimbang,
2. mengatur jarak tanam,
3. menanam jenis tahan, misalnya IR64
4. sanitasi singgang, jerami, dan bibit volunteer
yang tertinggal setelah usai panen,
5. dainase yang baik,
6. perlakuan pemanasan biji,
7. pemberoan lahan sebelum tanam.
8. Penyakit tungro

Rice tungro
Leaf and plant symptoms
Photos from: Mueller, K.E. 1983. Field Problems of Tropical Rice. Revised.
International Rice Research Institute. Los Banos, Philippines. (Based on the original
1970 publication
• Rice tungro bacilliform virus (RTBV) and rice tungro spherical virus
(RTSV)
green leafhopper, Nephotettix virescens vector penyakit,
ditularkan secara non persisten
• Epidemi Penyakit th 1964 sampai th 1985’an meluas di seluruh Asia
Tenggara sampai ke Jepang
• Disebut juga penyakit habang, abang, krn gejala yg parah dpt
menyebabkan ujung daun jd merah oranye.
• Jenis indica cenderung berwarna oranye-merah jambu, jenis
japonica berwarna kekuningan.
• Tan sakit terlambat membentuk bunga. Malai kecil, biji hampa
• Daun sakit mengandung lebih banyakpati dn total asam amino
• Penyebaran peny dipengaruhi oleh populasi vektor, sumber virus,
kerentanan dan umur tanaman
Pengendalian
1. Penyemprotan wereng hijau dengan insektisida, bila pada
tanaman muda (umur kurang 30 hari ada 2 ekor per 4
rumpun, dan padaumur lebih dari 30 hari ada 4 ekor per 4
rumpun
2. Menanam varietas tahan, IR64 dulu tahan, sekarang menjadi
kurang tahan
3. Sanitasi rumput-rumputan dan gulma lain yang menjadi
inang sementara wereng ayau virus
4. Tanam serentak
5. Pengaturan irigasi yang baik
• Bila yg menyerang hanya virus B, maka
gejala yg terjadi adalah daun-daun menjadi
kuning-oranye
• Bila hanya partikel virus S saja yang
menyerang, gejala yag terjadi adalah
tanaman menjadi kerdil
• Bila yg menyerang partikel S dan B, gejala
yang terjadi adalah tanaman kerdil dan daun-
daun menjadi kuning-oranye-merah
9. Penyakit kerdil hampa (ragged stunt, virus)
Rice Ragged stunt virus
Table 1. Transgenic rice developed with genes of agronomic importance.
Gene Trait Cultivar Remarks
Xa21 Resistance to bacterial leaf IR72, IR64, IR68899B, MH63, IR72 field-evaluated in China,
blight BPT5204, Pusa Basmati-1, India, and Phillipines
IR50, CO39
Bt (cry1Ab, cry1Ac, Resistance to insect pests IR72, IR64, MH63, IRRI-NPT, IR72 and MH63 field-evaluated
cry1Ab+cry1Ac), cryIIA Vaidehi Hybrid Bt rice now grown in
China
Chitinase (chi11, RC7), tlp Sheath blight resistance IR72, IR64, CBII, Swarna Transgenics showed enhanced
D-34 protection against fungus
Xa21 + Bt + PR genes Resistance to bacterial blight, IR72 Transgenics showed broad-
stem borer, and sheath blight spectrum multiple resistance
PPT Resistance to herbicides IR72, Koshihikari, NHCD etc. Works very well under field
conditions
PEPC C4 rice IR68899B Enhanced photosynthetic
efficiency
a
ORF2 for serine protease Resistance to rice yellow mottle ITA 212 (FARO 35), Bouaké Transgenics showed resistance
and RNA-dependent RNA virus 189, BG90-2 against low- and high-dose
polymerase virion and RYMV RNA inocula
b
TPSP , DREB Abiotic stress tolerance PB-1, BR29, IR68899B Transgenic rice showed
tolerance for drought, salt, and
low-temperature stress
psy, crtI, lcy Provitamin-A biosynthesis T-309, IR64, BR29, Nang Transgenics showed yellow-
Hong Cho Dao, Mot Bui, colored endosperm by beta-
IR68899B, Immeyobaw carotene accumulation
ferritin Iron storage IR68144, BR29 Transgenic lines showed
increased iron and zinc
accumulation in seeds
Note. Data modified from Datta and Khush, 2001.
a
Data from Pinto et al., 1991.
b
Data from Garg et al., 2003.
10. Rice grassy stunt virus

• The vector, planthoppers


(Nilaparvata lugens)
• Tdk dapat ditransmisikan mll biji Virus particles stained
with uranyl acetate.
Bar represents 100 nm
PRODUKSI TANAMAN I

PENYAKIT PADA TANAMAN JAGUNG


1. Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis)

• Downy mildew
• Di Indonesia th. 1914-1936 Sangat merugikan
• Kerugian: bervariasi sampai 90%
• Kerugian dapat ditekan dg pengobatan biji dg metalaxil
(Ridomil)
• Gejala:
• daun jadi bulai (klorosis) sepanjang daun, dapat
sistemik
•Pada pagi hari di bagian permukaan bawah daun
tampak lapisan putih spt beledu, terdiri atas
konidiofor dan konidia jamur
•Akar kurang terbentuk shg tanaman mudah rebah
konidiospora

• Downy mildew
•Bila tanaman terinfeksi pd waktu muda, tidak dapat
terbentuk buah
•Tanaman agak tua terserang, dpt membentuk buah dg tangkai
panjang, kelobot tidak menutup ujungnya, dg sedikit biji

Penyebab Penyakit:
•Dulu disebut Sclerospora maydis, karena konidiumnya
berkecambah langsung dg membentuk buluh kecambah,
maka disebut Peronosclerospora maydis
•Di Minahasa, penyakit bulai disebabkan oleh
Peronosclerospora philippinensis, karena konidiofor dan
konidianya lebih besar sedikit
•Di Filipina, selain P. philippinensis, jg ada P. spontanea
•Di Thailand disebabkan oleh P. sorghi
Daur hidup
• Parasit obligat, tidak mempunyai inang lain
• Dapat bertahan pada biji
• Konidiofor dan konidia dibentuk melalui stoma dan
dibebaskan serta berkecambah dalam semalam pada cuaca
yg hangat dan berembun

Faktor yang mempengaruhi penyakit


• lebih sering terdapat di dataran rendah, kecambah
berkembang baik pada suhu 30 °C.
• Lebih banyak terjadi pada musim hujan, terutama jagung
yg ditanam pada pertengahan musim
• Air gutasi sanat membantu perkecambahan spora
• Jagung tegal lebih banyak terserang d.p. Jagung sawah
• Infeksi ditentukan oleh umur tanaman, makin muda makin
rentan
Pengendalian
• Menanam jenis yang tahan, mis. Harapan
baru,Bromo, Arjuno, Parikesit, Abimanyu, Nakula,
Wiyasa, Pioneer 1, 2, 17, dan jenis hibrida lainnya
• Menanam serentak pada awal musim hujan
• Segera mencabut tanaman yg terserang dan
menyingkirkannya
• Merawat benih dg Ridomil 35 SD dg dosis 0.7 g
bahan aktif per kg benih
2. Penyakit karat (rust, Puccinia sorghi, P. polysora)

• Penyakit karat oleh Schwarz ditemukan P. sorghi pd th. 1925-


1950. Jamur dpt melintasi samudra Atlantik dari Karibia (1940)
ke Afrika Barat (1949)
• Dan Sujono (1985) menemulan P. polysora
• P. sorghi dan P polisora terdapat di seluruh Indonesia (1987),
juga terdapat di Malaysia, Thailand, Filipina, Irian Barat dan
Papua New Guinea.
• P. polysora lebih banyak terdapat di dataran tendah (tropical
rust) dan P. sorghi lebih banyak terdapat di daerah
pegunungan
• Penyakit ini di Indonesia kurang merugikan. Di Afrika, P.
polysora menyebabkan kerugian sampai 70% (1980)
Gejala
• P. polysora membentuk urediosorus bulat atau jorong,
berwarna jingga tua. Daun dapat tertutupi oleh urediosorus
sampai upih daun shg permukaan daun tampak menjadi
kasar, kadang menyebabkan daun mjd kering
• P. sorghi membentuk urediosorus panjang atau bulat
panjang, bila epidermis pecah akan membebaskan spora yg
berwarna coklat –coklat tua. Urdiosorus yg masak akan
membentuk teliospora yg berwarna hitam.
Daur penyakit
• Bersifat parasit obligat dan tidak dapat bertahan pd biji
• P. polysora bertahan pd jagung dari musim ke musim,
uridiospora yg kering dan mempunyai dinding tebal
disebarkan oleh angin.
• P. sorghi, krn hidup di pegunungan, dpt membentuk piknium
dan aesium pd tanaman Oxalis (semacam semanggi yg
daunnya lebih lebar). Urediospora hanya dapat bertahan pada
jagung hidup saja, dan disebarkan melalui angin

Faktor yang mempengaruhi penyakit


• Urediospora P. polysora dibentuk selama 9 hari dan lebih
sering disebarkan pada tengah hari pd suhu 28 ºC dan
menginfeksi tanaman melalui stoma
• Urediospora P. sorghi dibentuk pd suhu 16-23 ºC (di
pegunungan atau daerah iklim sedang), dan dibebaskan pada
tengah hari, menginfeksi melalui stoma dg membentuk
apresorium
Urediospora Teliospora

Corn rust, Puccinia sorghi


Pengendalian
• Menanam jenis tahan, mis. Arjuna, Wiyasa, Pioneer 2
• Jika perlu, penyakit dpt dikendalikan dg fungisida, mis. Zineb,
dithane, Cu- oxicloride, triadimeton dan golongan
dithiokarbamat
3. Penyakit Gosong (smut, Ustilago maydis)

• Th. 1963 muncul banyak di Jawa, diberitakan beracun bila


termakan. Tongkol sehat dan sakit bila direbus bersama2 juga
beracun
• Pertama kali ditemukan di Sulawesi th. 1929, sekarang
terdapat di mana2 meski secara sporadis.
Gejala
• Pada tongkol, biji2 tampak membengkak, membentuk kelenjar
berwarna putih lama2 jd hitam krn teliospora bwarna hitam
• Bila kelenjar makin membesar, kelobot makin terdesak
kesamping dan akhirnya membuka dan kelenjar pecah dan
spora jamur yng hitam akan berhamburan keluar
• Telispora berkecambah dg membentuk basidium (promi-
selium) lalu basidiospora dan berkecambah membentuk hifa
Corn smut, Ustilago maydis
Daur penyakit
• Jamur dpt bertahan sbg saprofit dlm bentuk teliospora selama
bertahun-tahun pd sisa2 tanaman sakit, dan pd bahan organik
• Jamur disebabrkan oleh angin, dan menginfeksi melalui stoma
dan semua jaringan meristem tanaman di atas tanah
• Gejala utama pd tongkol, krn banyak jaringan meristematik pd
bakal2 biji, dan infeksi ke bakal2 biji berlangsung mll tangkai
putik (rambut buah)
• Inang lain: teosinte (Euchlaena mexicana)

Faktor yg mempengaruhi penyakit


• Lebih banyak terdapat di daerah pegunungan, di lahan subur
dan lembab.
• Makin panjang umur tanaman, makin mudah terserang
Pengendalian
• Membakar tanaman sakit, sebaiknya dilakukukan sebelum
jamur membentuk spora
• Belum diketahui ada varietas jagung tahan, krn jamur
mempunyai variabilitas yg sangat besar
• Merawat biji dg fungisida, ttp kadang kurang berhasil krn
infeksi terjadi di lapangan, terutama oleh spora yang
bertahan dalam tanah (bahan organik, sisa2 tanaman )
4. Penyakit tongkol Fusarium (F. moniliformae, F.
moniliformae var. subglutinans, F. graminearum)

• Ear rot, busuk tongkol merah


• Dapat terbawa biji, kadang menyebabkan damping-off
• Terdapat di seluruh Indonesia, teruttama daerah basah
• Biji jagung yg terserang F. graminearum dpt menyebabkan sakit
pd ternak dan manusia krn membentuk racun nivalenol,
deoksinivalenol (vomitoxin), dan zearalenon,
• Zearalenon menyebabkan hiperesterogenisme pada ternak
betina yg menyebabkan mandul. Terbentuk pd biji dan seluruh
tanaman sakit. Tongkol jagung sakit di Pacet ,Cipanas
mengandung 40 mg zearalenon per kg bahan
Decay corn stalk base
Stalk rot

Ear and stalk rot

Gibberella fujikuroi

Fusarium mycotoxins

Ear rot
Gejala
• Gejala Busuk tongkol Fusarium bervariasi, tgantung jenis jamur
dan tingkat serangan penyakit.
• F graminearum: busuk merah jambu –kemerah2an,
berkembang dr ujung ke pangkal tongkol
• F. moniliformae: busuk pada sekelompok biji (kernel rot),
merah jambu –coklat kemerahan, atau coklat kelabu, tergan-
tung cuaca. Gejala kedua tipe pembusukan baru tampak
setelah kelobot dikupas.
• Fusarium juga menyebabkan busuk batang, terjadi mulai pd
leher atau ruas2 bawah, becak kemerahan-merah jambu yg
menyebar pada upih daun, buah masak sebelum waktunya,
pangkal batang mudah patah
• F. moniliformae (Deuteromycetes) mempunyai stadium
sempurna (sexual, Ascomycetes) dsebut Gibberella fujikuroi
atau G. moniliformae. Peritesium dibentuk pd tanaman mati,
warna biru tua, bulat sampai kerucut
• F. moniliformae var. subglutinans mempunyai stadium
sempurna: G. moniliformae var. subglutinans. Mikrokonidia
tidak berantai, lebih bulat telur, askosporanya hialin, jorong tp
lebih tipis, bersekat 1, kadang 3.
Daur penyakit
• Patogen terbawa benih, dpt bertahan pd sisa2 tanaman sakit
• Inang lain: rumput2an, padi, tebu, sorghum, gandum,
• Infeksi dibantu oleh serangga dan nematoda, spora dpt
berkembang melalui benang sari oelh ulat penggerek tongkol

Faktor yg mempengaruhi penyakit


• Fusarium: patogen lemah, menyerang tanaman dalam kondisi
lemah (kurang baik), makin tua makin rentan
• Penyakit lebih banyak tdpt di daerah pegunungan dg suhu 16-20
ºC, dpt menyeserang semai, batang tongkol pdmusim hujan
• Busuk tongkol kurang tdpt pd varietas jagung yg kelobotnya
menutup dg baik atau yg tongkolnya melengkung ke bawah
stelah masak
Pengendalian
• Memelihara tanaman spy tumbuh sehat dan baik
• Tidak membiarkan tongkol kering terlalu lama
• Pergiliran tanaman dg tanaman bukan padi-jagung
• Perawatan biji kurang bermanffat jika tdk disertai dg usah
pengendalian lainnya
Mayze streak virus

• ditularkan oleh leafhopper, Cicadulina mbila


• endemic di south Africa, dan Gurun Sahara
• Disebabakn oleh virus gol. Geminiviridae, yaitu enus
Mastrevirus
• Gejala pd daun: klorosis menyeluruh, bergores2 dan
pd buah, dpt mengecil atau butir jagung banyak yg
ompong
• Gejala yg parah menyebabkan jagung kerdil
• Dikendalikan : dengan tanaman jagung transgenik
tahan virus MSV (South African seed company
PANNAR (Pty)) dan sukses
Mayze streak virus

Geminiviridae,
Mastrevirus;
virus ss-DNA

Corn leafhopper, Cicadulina mbila


Kedelai
1. Penyakit Bibit dan Benih Kedelai
Daur penyakit:
• Ada lima jamur yang paling sering munculnya
di awal tanaman:
– Ini termasuk Pythium dan Phytophthora,
Phomopsis, Fusarium dan Rhizoctonia.
– Gejala khas "damping-off" yang muncul dapat
disebabkan oleh satu atau lebih dari organisme.
• Bibit penyakit akan mudah berkembang jika
kondisi lingkungan basah:
– Organisme ini sering bertahan sebagai
saprophytes, hidup pada bahan tanaman mati,
atau sebagai miselium atau spora dorman.
– Eksudat akar dari bibit atau tanaman muda
merangsang jamur yg sedang tidak aktif
• Lesio yang berwarna coklat atau ungu pada akar
atau batang dibawah permukaan tanah seringkali
akibat dari infeksi oleh Pythium, Phomopsis atau
Phytophthora.

• Sebuah lesio kemerahan atau coklat di sekitar


batang di atas permukaan tanah adalah gejala
karakteristik akibat serangan Rhizoctonia atau
Fusarium (lihat Gambar 120).
Plate 120. Fusarium root rot causes a brown discolouration of the internal root tissue.
2. Busuk Akar Phytophthora (Phytophthora
sojae)
Insiden:
– busuk akar Phytophthora adalah masalah
potensial pada tanah liat berat.
– Ini menjadi salah satu penyakit yang paling
merusak kedelai.
– Masalah dilapangan: peningkatan frekuensi
penanaman kedelai pd sistem rotasi
meningkatkan serangan penyakit tersebut
Gejala :
• Penyakit ini dapat mempengaruhi kedelai
pada setiap tahap perkembangan tetapi sering
paling merusak ketika itu terjadi di awal
musim.
• Tanaman muda yg terinfeksi menampilkan
gejala khas "damping-off". Benih mungkin
gagal untuk muncul, atau bibit yang terinfeksi
mati tak lama setelah munculnya.
• Jaringan yg terinfeksi tampak seperti memar
dan mudah hancur (busuk lunak) (lihat
Gambar 121).

• Plate 121. Phytophthora root rot causes water-soaked lesions on seedlings and
purple or dark-brown discolouration of the stem. The symptoms begin at the soil
line and progress into the lower nodes.
• Pada tahap ini sukar membedakan gejala
akibat serangan Phytophthora dan Phytium:
– Keduanya menyebabkan prmbusukan pada akar
akar yang mengakibatkan daun menguning, layu
dan bahkan kematian.
• tanaman yang terinfeksi dengan mudah ditarik
dari tanah.
• Sebuah perubahan warna ungu atau coklat
gelap tampak pd batang tepat di bawah garis
permukaan tanah.
• Daun sering akan tetap melekat pada tanaman
bahkan setelah kematian.
Siklus Penyakit:
• cuaca yang sejuk dan basah mendukung
perkembangan penyakit.
• Lahan pertanian yg mengandung tanah liat berat
berpotensi besar thd timbulnya penyakit ini,
• pengolahan tanah yg kurang dan sistem monokultur
kedelai dapat meningkatkan kerusakan akibat
penyakit tersebut.
• Phytophthora dan Pythium adalah organisme yang
unik:
– Memiliki spora yg bergerak yang dapat berenang
di film air antara partikel tanah untuk
menemukan akar kedelai.
– Jamur berkolonisasi pada jaringan akar dan
mengakibatkan tanaman layu.
Strategi Pengelolaan :
• Pengendalian busuk akar phytophthora
membutuhkan kombinasi dari:

* varietas kedelai yg tahan penyakit


* perawatan benih
* manajemen pengelolaan tanah yang baik

Varietas tahan
• Resistensi thd patogen bisa bervariasi karena bisa
tahan thd beberapa tas tapi tidak semua ras:
– Jamur Phytophthora berada di tanah dengan
beragam ras
• Busuk akar dapat dikendalikan dengan baik
daerah tertentu jika varietas yg ditanam
resisten terhadap semua ras Phytophthora
yang ada di daerah tersebut.
– Namun, resistensi akan "break down" dengan
munculnya ras lain.
– Jika hal ini terjadi, beralih varietas tahan lainnya
yang resisten terhadap ras baru atau
menggunakan berbagai toleran atau gen yang
berbeda untuk perlawanan.
– menggunakan varietas2 dengan gen ketahanan
yang berbeda dalam rotasi.
Varietas toleran
• Produksi kedelai varietas toleran masih dipengaruhi
dg kehadiran penyakit busuk akar ini namun tidak
signifikan.
– dalam kondisi yang sangat menguntungkan bagi
perkembangan penyakit potensi kerusakan yg
nyata bisa terjadi pada tanaman.
• Setiap praktek pengelolaan tanah yang mengurangi
pemadatan tanah atau genangan air akan
menurunkan munculnya busuk akar phytophthora.
– Pada tanah liat di mana penyakit ini dapat
menjadi masalah, prosedur berikut
direkomendasikan:

PENGENDALIAN
• Pilih suatu varietas dengan persentase terinfeksi
yang rendah (toleransi lapangan)

• Rotasikan dengan tanaman lain misal jagung.


– Sebuah rotasi pendek akan menghasilkan
populasi patogen yang lebih banyak dan
peningkatan jumlah ras di lapangan.

• Jangan mengelola lahan ketika tanah basah.

• Gunakan praktek pengelolaan tanah yang baik


untuk memperbaiki struktur tanah dan drainase
• rotasi, pupuk kandang, tanaman penutup tanah
3. Busuk Akar Rhizoctonia (Rhizoctonia solani)
Insiden :
• Busuk akar Rhizoctonia telah ditemukan di sebagian
besar daerah yang tumbuh kedelai.
• Umumnya kerugian berdiri berkisar dari kurang dari
5% sampai lebih dari 50%
• Penyakit ini dapat mengakibatkan kehilangan hasil
yang besar. Terutama pada bibit dan tanaman
muda, menyebabkan busuk akar dan batang,
khususnya selama musim hujan berkepanjangan.
Gejala:
• busuk akar Rhizoctonia penyebab munculnya
pre-emergence (busuk biji) dan post-
emergence (hawar bibit) damping-off pada
bibit yg terinfeksi.
• Sebuah lesio kemerahan yg khas yang
dihasilkan pada batang di sekitar permukaan
tanah (lihat Gambar 122).
.


• Plate 122. Rhizoctonia root rot causes reddish lesions
on the stem at or just below the soil line
• Beberapa lesio yg kering berwarna merah
bata dapat bergabung, membentuk cekungan
yg akan mematahkan tanaman
• Gejala pd batang di atas tanah sangat mirip
dengan tanaman terinfeksi busuk akar
phytophthora.
– tanaman yang terkena berwarna kuning pucat,
yang sering tdk bisa dibedakan dengan gejala
kekurangan nitrogen.
– tanaman yg terinfeksi parah dapat menyebabkan
kehilangan daun, menjadi layu dan tanaman
mati
Siklus Penyakit:
• Penyakit ini terjadi pada semua jenis tanah
dan kondisi lingkungan. Jamur ini terutama
bersifat tanah penghuni (soil inhabitant) dan
bertahan dalam bentuk sclerotia (miselium
istirahat).
• keparahan penyakit akan tinggi di lahan yang
sebelumnya memang sudah sering terinfeksi.
Strategi Pengelolaan:
• pengelolaan penyakit harus diperhatikan
sungguh2 karena tidak ada varietas tahan dan
hanya ada sedikit tanaman yg toleran.
• Rotasi tanaman (misal dengan jagung) dapat
membantu meminimalkan penyakit.
• Memelihara tanah dengan drainase yang baik
dan menghindari penanaman dalam kondisi
basah.
• perlakuan benih dengan fungisida merupa-kan
hal yg penting untuk perlindungan dan
mengurangi keparahan.
4. Penyakit Karat Kedelai (Phakospora
pachyrhizi)
• karat kedelai merupakan salah satu penyakit
yang penting pada kedelai.
• dapat menyebar dengan cepat dan
menyebabkan bercak daun dan defoliasi
tanaman kedelai.
• Di bawah kondisi yang menguntungkan,
patogen dapat menyebabkan kerugian yang
lebih besar dari 50%.
Gejala:
• Gejala yang paling umum adalah lesio kecil
warna coklat atau coklat kemerahan, dengan
diameter 2-3 mm.
• Umumnya gejala tersebut sering ditemukan
pada bagian bawah daun, selain itu juga bisa
terjadi pada petioles, polong dan batang.
Lesio ini menonjol (pustul), yang merupakan
kumpulan spora
Penyakit karat daun kedelai, Rust,
Phakopsora pachyrhizi)

GEJALA Asian soybean rust, (Phakopsora pachyrhizi)


PENYEBAB PENYAKIT:
Urediospora (Phakopsora pachyrhizi)

Burkhard Sampler, rust spoere traps


Syngenta rust spore traps
• daun terinfeksi akan tampak berbintik-bintik.
• Infeksi sering dimulai pada daun yang lebih
rendah dan bergerak naik ke bagian atas.
• Akhirnya daun menguning dan rontok.
• Karena hilangnya jaringan fotosintesis dan
defoliasi prematur tanaman dapat mengalami
kematian dan pada akhirnya dapat
menurunkan hasil panen
Siklus hidup:
• Phakopsora pachyrhizi adalah parasit obligat,
artinya harus memiliki hidup, jaringan hijau
untuk bertahan hidup
• karat kedelai dapat terjadi pada semua tahap
pengembangan kedelai, tetapi yang paling
umum setelah tanaman mulai berbunga dan
polong mulai berkembang
• Tanaman yang paling rentan selama tahap-
tahap reproduksi
• Uredospora merupakan inokulum yang menginfeksi
tanaman sekitarnya:
– patogen ini juga diadaptasi untuk penyebaran jarak jauh,
karena uredospora dapat menyebar jarak jauh oleh angin
ke daerah karat bebas.

• periode panjang daun basah diperlukan untuk


perkecambahan spora, serta suhu antara 15C dan
30C dan kelembaban relatif tinggi kelembaban yang
tinggi (lebih dari 75%) mendukung pengembangan
penyakit
Strategi Pengelolaan:
• Menanam kedele yang tahan terhadap penyakit karat
• Tanam serempak
• Menghindari tanaman alternatif
– Inang penyakit karat daun antara lain :
• Bengkuang
• Kacang kapri
• Kacang polong
• Kacang panjang
• Mengadakan pergiliran tanaman
• Pengelolaan karat kedelai tergantung pada pengamatan,
deteksi dini dan penggunaan fungisida daun, (lihat Gambar
132).
Plate 132. Asian soybean rust can be managed effectively through scouting and a well-timed
fungicide application. The left side of the field was untreated; the right side had a fungicide
application
5. Penyakit Antraknosa pd kedelai
• Antraknosa adalah penyakit batang yang
terjadi selama keadaan basah, hangat, dan
kondisi lembab, meskipun gejala sering tidak
terlihat sampai tanaman dewasa.
• Penyakit ini biasanya memiliki efek minimal
terhadap hasil, tetapi bisa mengurangi hasil
panen dan kualitas benih.
Gejala:

• Gejala yang paling umum terlihat di akhir


musim pada saat tanaman dewasa .
• Muncul bintik cokelat tidak teratur yg
berkembang dalam pola acak pada batang dan
buah. Area yang terinfeksi ditutupi dengan
duri hitam kecil (setae) yang dapat dilihat
dengan lensa 10X.
• Gejala kanker warna coklat dapat timbul di
petioles dan menyebabkan defoliasi.
• Infeksi dari polong mengakibatkan biji yg
dihasilkan sedikit per polong.
• Pada tanaman yang lebih tua, batang, polong,
dan daun dapat terinfeksi tanpa menunjukkan
gejala sampai cuaca hangat dan lembab atau
tanaman dewasa.
• bibit terinfeksi mungkin tidak memiliki gejala
atau dapat menunjukkan gejala cokelat atau
abu-abu dengan bintik hitam.
– Bibit yang terinfeksi oleh antraknos tidak mungkin
tumbuh. bibit terinfeksi menunjukkan gejala
kanker gelap, cekung yang menyebabkan
damping-off.
Kondisi yang mendukung perkembangan penyakit:

• kondisi hangat dan lembab mendukung


pengembangan infeksi dan penyakit.
• Tanaman dapat terinfeksi setiap saat selama
musim ini, tapi gejala sering tidak muncul
sampai tanaman mencapai kedewasaan
Patogen
• Patogen utama yang menyebabkan
antraknosa adalah jamur Colletotrichum
truncatum
• patogen bertahan hidup didalam residu
tanaman terinfeksi dan biji terinfeksi, dan
mungkin seedborne.
• Ini adalah patogen berbeda dengan yang yang
menyebabkan antraknos jagung, namun
memiliki kisaran inang yang luas yang
mencakup genjer.
Pengelolaan Penyakit:
• Rotasi tanaman dengan leguminosa-non
(non-host) tanaman.
• Gunakan bibit yg bebas patogen.
• Perawatan benih yg terinfeksi dengan
fungisida mungkin akan bermanfaat.
• Penyemprotan fungisida dapat membantu
setelah dimulainya perbungaan.
• Varietas kedelai berbeda dalam merespon
keberadaan antraknosa
Diskusi SMALL GROUP

Kedelai Bakteri

DISKUSIKAN DG TEMAN SEKELOMPOK DAN BUATLAH


1. NASKAH URAIAN
2. POWER POINT (UTK SEMINAR/DISKUSI KELAS)
3. PERTANYAAN/ JAWABAN (perkiraan untuk diskusi kelas)
TENTANG:
• MACAM2 PENYAKIT BAKTERI PADA TANAMAN KEDELAI

• JELASKAN MASING2 GEJALA, DAUR HIDUP, PENYEBARAN, FAKTOR LUAR YG


BERPENGARUH, PENGENDALIAN, DSB.
• KUMPULKAN DAN DISKUSIKAN DALAM KELAS MINGGU DEPAN
6. Penyakit Hawar bakteri (Pseudomonas
syringae pv. glycinea)
Insiden:
• dampak penyakit bakteri minimal.
• Namun kerugian dan masalah kualitas benih
dapat terjadi jika kondisi lingkungan yang
sejuk dan basah terjadi dalam waktu lama.
Gejala:
• pada daun tanaman yang terinfeksi terdapat
lesio berwarna merah atau hitam dengan
lingkaran/halo kuning dan bagian tengah
mengkilap
• Gejala sering hilang jika kondisi lingkungan
kering dan panas.
• biji terinfeksi sering memiliki perubahan
warna yg memucat, dimulai dari hilus, hal ini
dapat mengurangi viabilitas benih dan
mengurangi perkecambahan.
Siklus Penyakit :
• Bakteri bertahan pada biji dan residu tanaman
• Selanjutnya akan menyebar ke daun bagian
atas terutama melalui percikan hujan angin,
dan luka tanaman (akibat serangga, mekanik,
dll).
• Bakteri ini memiliki
ras2 fisiologi yang
berbeda.
Strategi Pengelolaan:
• rotasi tanaman dengan tanaman
• menghancurkan sisa tanaman
• Usahakan jangan masuk ke lapangan pada
saat daun tanaman basah
• Menggunakan tanaman tahan:
– beberapa varietas toleransi dapat
digunakan utk mengurang keparahan
penyakit (sejauh initdk ada yang resisten
terhadap semua ras fisiologis).
Penyakit Soybean mosaic virus, Potyvirus
Soybean aphids, vectors the disease,
Aphis glycineae

partikel virus
Strategi Pengelolaan:
• rotasi tanaman dengan tanaman
• mengeradikasi sisa tanaman
• Mengendalikan vektor penyakit
• Menggunakan tanaman tahan:
– beberapa varietas tahan/toleran dapat
digunakan utk mengurang keparahan
penyakit
Tanaman
• Bagaimana menjaga pertumbuhan
tanaman agar tetap baik?
 Pengolahan tanah
 Pemupukan
 Pengairan
 Pengendalian hama dan penyakit

PRODUKSI TINGGI
Model Tanaman (Crop)
Berdasarkan pada:
Pengertian tentang tanaman, tanah,
cuaca/iklim, manajemen

Penghitungan/pengukuran:
pertumbuhan, hasil, kebutuhan pupuk
& air, etc Air

Perlu: Karbon
Informasi (inputs): cuaca (iklim),
Nitrogen
manajemen, etc
Hambatan Produksi 1. Lingkungan
• Bagaimana faktor lingkungan berpengaruh pada
tanaman dan patogen?
 Meningkatkan kerentanan atau ketahanan
tanaman
 Meningkatkan atau menurunkan tk. Virulensi
/patogenisitas patogen
• Faktor lingkungan apa yang paling berpengaruh
pada keduanya?
 Suhu, lengas tanah, lengas dan kelembaban udara,
penyinaran, pH tanah/ media, kandungan hara
media tanam
HAMBATAN PERTUMBUHAN TANAMAN

Tanaman

Patogen Lingkungan

SEGITIGA PENYAKIT TUMBUHAN


Perubahan cuaca mempengaruhi
produksi tanaman
POSSIBLE BENEFITS
CO2

CARBON DIOXIDE LONGER


FERTILIZATION GROWING INCREASED
SEASONS PRECIPITATION

POSSIBLE DRAWBACKS

MORE PESTS
FREQUENT
DROUGHTS FASTER
HEAT INCREASED
GROWING
STRESS FLOODING AND
PERIODS
SALINIZATION

• Perubahan pada kondisi biophysical


• Perubahan pada kondisi sosioekonomis yang dihadapkan pada
tanggapan perubahan produktivitas tanaman (farmers’ income;
markets and prices; poverty; malnutrition and risk of hunger;
migration)
Elemen Perubahan Global
(global change)

• Perubahan iklim– suhu dan kelembaban **


• Perubahan konsentrasi sejumlah gas di atmosfer
(CO2, O3, CH4, etc.) **
• Perubahan species invasif ***
• Perubahan Land use dan land cover *
• Kerugian Biodiversitas *
Bagaimana perubahan iklim berdampak pada
managemen penyakit?

• Patogen sangat bergantung pada


iklim/lingkungan untuk perkembangan
penyakit
• Patogen sering berada pada level rendah
tapi dapat cepat meledak mjd epidemi bila
keadaan sangat menguntungkan
• Pencegahan adl managen yang paling baik
Fokus pada climate warming
• Mempengaruhi patogen
– Peningkatan patogen overwintering menjadi
lebih ganas (severe)
– e.g. Mediterranean oak decline, Dutch elm
disease, wheat stripe rust
• Mempengaruhi inang
– Pertumbuhan cepat, peningkatan kelembaban
kanopi
• Mempengaruhi perkembangan vektor dari
patogen
Mekanisme dari dampak global change
• patogen lebih cepat berkembang
– Fungus pada kacang tanah
• vektor lebih cepat berkembang
– Vektor Toxoptera sp. dari Citrus tristeza virus
• peningkatan populasi patogen/vektor
overwintering
– Barley yellow dwarf, potato leafroll virus, yellows
virus, Oak root rot
Mekanisme (lanj.)
• Peningkatan transmisi patogen
– Fusarium moniliforme pd Capri, fig
– Fungus pd oilseed rape (Brassica sp.)

• Peningkatan suseptibilitas inang


– kedelai thd Phytophthora
– potato thd Potato virus Y
– oats thd Karat daun (resisten inaktif)
Hambatan 2. Patogen
• Penyebab penyakit
 Penyebab abiotik dan biotik
• Bagaimana patogen (penyebab biotik) dapat
menginfeksi tanaman?
 Kultivar tanaman rentan
 Patogenesitas tinggi dan virulen
 Lingkungan yang mendukung
• Toksin yg dihasilkan dari bakteri/jamur