Anda di halaman 1dari 43

Laporan Kasus

Post-term dan
oligohidramnion
Sandra Sudargo – 406172100
Pembimbing : dr. Andriana Kumala Dewi, Sp.OG
Kepaniteraan Obstetri dan Ginekologi
RS Sumber Waras – FK UNTAR
Identitas Pasien Anamesa
• Nama : Ny. Dian Korrillah • Anamesa dilakukan pada tanggal
• Usia : 21 thn 28 Oktober 2018 jam 16.00 WIB
secara autoanamesa
• Status Pernikahan : Menikah
• Pekerjaan : Karyawan swasta • Keluhan utama : ingin
• Pendidikan: SMK melahirkan
• Agama : Islam
• Suku : Jawa
• Alamat : Rusun Tambora IV
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien G1P0A0 hamil 40-41 minggu datang ke RS Sumber Waras
untuk rencana SC atas indikasi usia kehamilan lebih bulan serta
cairan ketuban yang sedikit. HPHT pasien adalah 14 Januari 2018
dan hari perkiraan lahir bayi adalah 21 Oktober 2018. Janin
dirasakan bergerak aktif, pasien mengatakan tidak merasa ada
kontraksi atau perut terasa kencang. Selama ini pasien rutin
melakukan pemeriksaan kehamilan sebanyak 12x di puskesmas, dan
diberikan imunisasi TT 1x, serta pemberian suplemen zat besi.
Keluhan tambahan seperti kaki bengkak, sakit kepala, pusing, mual
dan muntah, sakit pinggang tidak ada. BAB dan BAK pasien lancar.
Riwayat Penyakit Dahulu

• Riwayat hipertensi dan DM sebelum maupun semasa


hamil tidak ada.
• Riwayat myoma dan kista tidak ada
• riwayat kelainan jantung, asthma, TBC disangkal oleh
pasien
• Riwayat alergi obat dan makanan tertentu tidak ada.
Riwayat Penyakit Keluarga
• Penyakit hipertensi, asthma, TBC, diabetes mellitus, dan kelainan
jantung disangkal oleh pasien
• Riwayat alergi obat atau makanan tertentu tidak ada
Riwayat Obstetri dan Ginekologi
• Pasien haid pertama kali usia 12 tahun, lama haid 7
hari, haid teratur, siklus setiap 28 hari
• G1P0A0
• Pasien hamil dari suami pertama. Menikah di usia 20
tahun. Sudah menikah selama 1 tahun.
• Riwayat KB : pasien belum pernah menggunakan KB
No. Tahun Tempat Umur Jenis Penolong Penyulit Anak
Kehamilan JK BB Keadaan
sekarang
1 2018 Hamil ini
Riwayat Imunisasi Riwayat Kebiasaan & Asupan
Nutrisi
• Pada kehamilan ini, • Makan 5x/hari, porsi
pasien mendapatkan
cukup, jenis beragam
imunisasi TT sebanyak
1x di puskesmas. • Minum 9 gelas/hari
• Minum alkohol (-)
• Kebiasaan minum kopi
(-)
• Merokok (-)
• Obat-obatan (-)
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Umum
• Keadaan umum : tampak sakit sedang
• Kesadaran : Compos mentis GCS 15 (E4V5M6)
• Suhu : 37 ◦C
• Tekanan darah : 122/99 mmHg
• Nadi : 102x/menit; reguler, kuat angkat
• Pernapasan : 18x/menit, reguler
• Berat badan terakhir : 87 kg
• Tinggi badan : 156 cm
• IMT : 35,80  obese type 2
Pemeriksaan Fisik
• Kepala :
• Wajah : chloasma gravidarum (-), edema (-)
• Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
• Telinga : dbn
• Hidung : dbn
• Mulut : epulis (-), gigi berlubang (-), faring hiperemis (-), lidah kotor (-)
• Leher : bendungan vena jugularis (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
• Thorax :
• I : buah dada simetris dan tegang, hiperpigmentasi areola +/+,
hiperpigmentasi puting susu +/+, kolostrum -/-, puting susu runcing, inverted
nipple -/-, pergerakan napas simetris.
• P : stem fremitus kanan dan kiri sama kuat, massa (-)
• P : sonor diseluruh lapang paru
• A: Suara nafas vesikuler +/+, ronchi -/-, wheezing -/-, Bunyi jantung I dan II
reguler, murmur (-), gallop (-)
• Abdomen :
• Inspeksi : tampak perut membesar ke depan sesuai usia kehamilan,
Linea nigra (+), Striae lividae (+), striae albicans (-), luka bekas operasi
(-)
• Auskultasi : bising usus (+), DJJ : 170x/menit; reguler (dengan doppler)
• Palpasi :
• Leopold I : massa lunak, bulat, tidak melenting (bokong)
• Leopold II : teraba bagian besar janin di sisi kiri ibu (puki)
• Leopold III : massa keras, bulat, melenting (kepala)
• Leopold IV : belum masuk PAP (konvergen)
• Fundus uteri teraba 3 jari dibawah proc. Xiphoideus.
• TFU : 30 cm  TBJ : 30-12 = 19 x 155 = 2790 gram
• His: -
• Anus dan Genitalia :
• Anus tampak normal
• Genitalia : vulva vagina tampak tenang, perineum utuh dan tidak menonjol
• Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan
• Ekstremitas dan tulang belakang :
• Tulang belakang : lordosis (-), skoliosis (-), kifosis (-)
• Ekstremitas : edema tungkai -/-, CRT <2 detik, akral hangat, varises tungkai -/-

• Kulit
• Turgor kulit baik, chloasma gravidarum (-), linea nigra (+), striae lividae (+), striae albican (-)

• Kelenjar Getah Bening


• Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening

• Pemeriksaan Neurologis
• Tidak dilakukan
Laboratorium (27/10/2018)
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Hb 13,3 g/dL 12-16
Eritrosit 4,72 Juta/uL 4.0-5,2
Hematokrit 38,4 % 36-46
Leukosit 10,8 Ribu/µL 4-11
Trombosit 261 Ribu/µL 150-440
Coagulation time 8 menit 6-10
Bleeding time 2 menit 1-5
Golongan darah O+
USG 26/10/2018

• Janin tunggal hidup, presentasi kepala


• Plasenta tidak menutupi jalan lahir, maturasi derajat III
• Air ketuban: oligohidramnion
• Biometri:
• Sesuai kehamilan: 40 minggu
• TBJ: 2844 gr
• DJJ: 150 dpm
Resume
Pasien 21 tahun G1P0A0 hamil 40-41 minggu datang dengan rencana SC atas
indikasi post-term dan oligohidramnion. HPHT pasien adalah 14/01/18 dan HPL
pasien adalah 21/10/18. Janin dirasakan bergerak aktif. Keluhan tambahan seperti
kaki bengkak, sakit kepala, pusing, mual dan muntah, sakit pinggang tidak ada. BAB
dan BAK lancar. Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang
dan compos mentis. T: 122/99, N : 102, RR : 18, S : 37, BB : 87 kg, TB : 156 cm.
Hiperpigmentasi areola & puting +/+, kolostrum -/-, puting susu runcing, payudara
tegang, tampak perut membesar ke depan sesuai usia kehamilan, Linea nigra (+),
Striae lividae (+), striae albicans (-), DJJ + 170x/min, Leopold I : bokong, Leopold II :
puki, Leopold III : kepala, Leopold IV : belum masuk PAP (konvergen), Fundus uteri
teraba 3 jari dibawah proc. Xiphoideus, TFU : 30 cm  TBJ : 2790 gram, His: (-)
PP lab hematologi 27/10/18 : Hb : 13,3 ; Eritrosit : 4,72 ; Ht : 38,4 ; Leukosit : 10,8 ;
Trombosit : 261 ; Golongan darah : O+. USG 26/10/2018 : Janin tunggal hidup,
presentasi kepala, plasenta tidak menutupi jalan lahir, air ketuban oligohidramnion.
Ibu: G1P0A0 hamil 40-41 minggu
dengan post-term dan oligohidramnion
Janin: Janin tunggal hidup, presentasi
kepala, dengan TBJ: 2844 gram
Diagnosa Kerja
Rencana Diagnostic
• Lab darah rutin
• EKG
• CTG
Rencana Terapi Non-
Rencana Terapi Farmakologis farmakologis
• Infus RL
• Ceftriaxone 1x2 gram pre • Pro sectio cesaria
op • Puasa asupan oral 8 jam pre-op
• Ketorolac 3x1 amp post • Pubic hair shave
op
• Asam mefenamat 3x
• Kateter indwelling pre-op
500mg post op • Ambulasi dini
• Cefadroxil 2x 500mg post
op
Rencana Evaluasi Edukasi
• Menjelaskan kepada pasien dan
• Evaluasi tanda-tanda vital keluarga pasien tentang kondisi
dan perdarahan post sc yang dialami pasien.
• Evaluasi kontraksi uterus • Menjelaskan kepada pasien
post sc tentang tindakan dan tujuan
• Evaluasi bekas luka post sc tindakan yang akan dilakukan.
• Menjelaskan kepada pasien
• Evaluasi ASI
untuk melakukan masase fundus
• Evaluasi urine output, uteri untuk mempercepat
BAB, flatus pemulihan dan meminimalisir
perdarahan
• Menjelaskan kepada pasien
untuk memberikan ASI eksklusif
minimal 6 bulan
• menjelaskan kepada pasien
untuk melakukan mobilisasi.
Prognosis
• Ad vitam – Bonam
• Ad sanationam – Bonam
• Ad functionam – Bonam
Tinjauan pustaka
Post-term
Definisi: kehamilan berlanjut hingga 42 minggu lengkap (294 hari) atau
lebih dari HPHT atau hari perkiraan lahir + 14 hari (ACOG, 2004)
Sinonim: prolonged pregnancy, postdates & postdatism

M. Galal, I. Symonds, H. Murray, F. Petraglia, R. Smith. Facts Views Vis Obgyn. 2012; 4(3): 175–187
Estimasi usia gestasi menggunakan
tanggal haid
• Definisi postterm adalah 42 minggu atau lebih dari onset haid, haid terakhir
diikuti dengan ovulasi 2 minggu kemudian
• Sehingga beberapa kehamilan tidak sebenarnya postterm, tapi hasil estimasi usia
gestasi yang salah karena tanggal HPHT yang salah atau ovulasi yang tertunda
• Ada 2 kategori kehamilan yang mencapai 42 minggu lengkap:
• 40 minggu past konsepsi
• Kehamilan kurang maju tapi dengan estimasi usia gestasi yang tidak akurat
• Karena tidak ada metode yang akurat, maka semuanya dinilai mencapai 42
minggu lengkap yang harus ditangani jika ada pemanjangan yang abnormal
• Dari penelitian didapatkan bahwa tanggal haid tidak akurat untuk menghitung
kehamilan postterm

Williams Obstetrics 24th Ed


Etiologi
• Inaccurate dating tersering
• Penyakit herediter pada keluarga
• Faktor ibu: primipara, riwayat kehamilan memanjang, multipara pada
usia lanjut
• Faktor janin: anomaly kongenital: anensefali axis HPA abnormal dan
hypoplasia adrenal berkurangnya respon kortisol janin
• Faktor plasenta: defisiensi sulfatase estrogen rendah

Dutta D, Konar H. DC Dutta's textbook of obstetrics. 8th ed. 2015.


Patofisiologi:
• Plasenta produksi peptide corticotrophin releasing hormone (CRH)
berhubungan dengan pemanjangan masa gestasi
• Sintesis CRH oleh plasenta meningkat dan memuncak saat persalinan
• Pada postterm peningkatannya perlahan-lahan
• CRH stimulasi produksi adrenal fetus dari DHEA, prekusor untuk sintesis
oestriol plasenta oestriol meningkat pada akhir kehamilan
• Peningkatan progesterone ibu melambat pada akhir kehamilan karena
inhibisi CRH sintesis progesterone plasenta
• Efek pro-kehamilan progesterone (relaksasi) menurun karena oestriol
(kontraksi) meningkat

M. Galal, I. Symonds, H. Murray, F. Petraglia, R. Smith. Facts Views Vis Obgyn. 2012; 4(3): 175–187
Patofisiologi:
• Sindrom postmatur:
• Kulit keriput, tidak merata, terkelupas; tubuh panjang dan kurus menunjukkan wasting;
kuku panjang
• Bayi postmature jika terdapat oligohidramion dengan sonografi kantung amnion vertical ≤ 1
cm saat 42 minggu
• Disfungsi plasenta
• Terjadi perubahan kulit karena kehilangan efek protektif dari vernix kaseosa
• Apoptosis plasenta-programmed cell death- meningkat saat 41-42 minggu
• Eritropoietin pada tali pusat meningkat saat 41 minggu/ lebih (eritropoietin menurunkan
tekanan oksigen parsial)
• Janin tetap berkembang sampai setidaknya 42 minggu & aliran darah janin tidak meningkat

Williams Obstetrics 24th Ed


• Fetal Distress & Oligohydramnion
• Volume cairan amnion secara normal akan menurun setelah 38 minggu dan
dapat menjadi masalah
• Pelepasan meconium ke cairan amnion yang volumenya berkurang
menghasilkan meconium kental dan dapat menyebabkan sindrom aspirasi
mekonium
• Penurunan aliran urin fetus karena oligohydramnion yang membatasi janin
menelan
• Aliran darah ginjal janin berkurang karena oligohydramnion
• Aliran darah umbilical tidak meningkat past term
• Pertumbuhan janin terhambat

Williams Obstetrics 24th Ed


Sindrom Postmatur
Mekonium kental menutupi kulit
Tangan yang keriput, panjang dan tipis

Williams Obstetrics 24th Ed


Komplikasi
• Oligohydramnion
• Semakin kecil kantong cairan amnion, semakin besar adanya oligohydramnion
• Makrosomia (BB ≥ 4.5 kg) berhubungan dengan cephalo-pelvic
disproportion dan dystocia bahu
• Sindrom aspirasi meconium
• Komplikasi obstetric atau medis
• Gangguan hipertensi gestasional, riwayat pelahiran cesar sebelumnya,
diabetes

Williams Obstetrics 24th Ed


Menurut ACOG:

Tatalaksana
Menurut Parkland hospital:
• Kehamilan 41 minggu tanpa komplikasi
lain adalah normal tidak ada
intervensi yang dilakukan hanya karena
usia janin sampai lengkap 42 minggu
• Jika ada komplikasi (hipertensi,
penurunan gerak janin,
oligohidramnion) induksi persalinan
dengan pematangan serviks dilakukan
saat usia 41 minggu
• Wanita dengan AFI ≤ 5 cm atau dengan
gerakan janin berkurang induksi
persalinan

Williams Obstetrics 24th Ed


Oligohidramnion
• Definisi: reduksi abnormal total cairan amnion disekeliling fetus. Saat
aterm, harus terdapat 800 mL cairan amnion
• Prevalensi: jarang pada awal kehamilan, sering pada kehamilan post-
term (12% - 25% saat 41 minggu)

Roger P. Smith MD-Netter's Obstetrics and Gynecology, Second Edition -Saunders (2008)
• Penurunan abnormal jumlah cairan amnion
• Diagnosis sonografik berdasarkan AFI ≤ 5 cm atau pada single deepest
pocket ≤ 2 cm
• Diagnosis berdasarkan AFI < 5 atau 2.5 persentil dengan nomogram
usia kehamilan

Williams Obstetrics 24th Ed


Etiologi
Onset awal oligohidramnion
• Saat cairan amnion menurun secara abnormal dari awal trimester 2
adanya abnormalitas fetus yang menghalangi urin normal,
abnormalitas plasenta berat sehingga kerusakan perfusi
• Ketuban pecah pada trimester 2 oligohidramnion, namun harus
dikecualikan
• Ketuban pecah: cairan, perdarahan vagina, kontraksi uterus

Williams Obstetrics 24th Ed


Oligohidramnion setelah trimester 2
• Pada akhir trimester 2 atau trimester 3 adanya restriksi pertumbuhan janin,
abnormalitas plasenta, komplikasi ibu seperti preeklamsia atau penyakit vascular
• Insufisiensi uteroplasental kerusakan pada pertumbuhan janin dan
mengurangi output urine janin
• Dapat menggunakan Doppler arteri umbilical retriksi pertumbuhan janin
• Volume cairan amnion menurun 8% tiap minggu pada usia kehamilan diatas 40
minggu
• Pada postterm oligohidramnion berhubungan dengan pola DJJ yang tidak tetap

Williams Obstetrics 24th Ed


Williams Obstetrics 24th Ed
Anomali kongenital
• Pada usia kehamilan 18 minggu, ginjal janin kontributor utama
untuk volume cairan amnion
• Anomali sistem organ, aneuploidy, dan sindrom genetic lainnya
oligohidramnion secara tidak langsung, baik dari dekompensasi janin,
restriksi pertumbuhan janin, atau kelainan plasenta
• Renal agenesis, bilateral multicystic dysplastic kidney, unilateral renal
agenesis dengan displastik multikistik kontralteral ginjal, dan bentuk
infantile dari autosomal recessive polycystic kidney disease
• Posterior urethral valves, urethral atresia or stenosis, atau megacystis
microcolon intestinal hypoperistalsis syndrome.

Williams Obstetrics 24th Ed


• Bilateral agenesis ginjal produksi urin (-) anhidramnion
kontraktur ektremitas, kompresi wajah, kematian karena hipoplasi
pulmoner
• Jika kombinasi abnormalitas ini dari agenesis renal sindrom Potter
• Jika berasal dari volume amnion yang menurun Potter sequence
• Jika tidak ada sama sekali cairan amnion yang terlihat pada trimester
dua karena kelainan sistem saluran kemih prognosis sangat jelek
• Janin dengan obstruksi kandung kemih vesicoamnionc shunt
placement

Williams Obstetrics 24th Ed


Williams Obstetrics 24th Ed
Obat-obatan
• Trimester 2 atau 3 ACE inhibitor dan ARB hipotensi janin,
hipoperfusi ginjal, iskemia ginjal, gagal ginjal
• NSAID konstriksi duktus arteriosus janin dan dengan penurunan
produski urin

Williams Obstetrics 24th Ed


Hipoplasia pulmoner
• Saat penurunan cairan amnion ditemukan sebelum pertengahan
trimester dua, yaitu sebelum 20-22 minggu
• Oligohidramnion berat karena abnormalitas janin prognosis yang
buruk
• Jika hematoma plasenta atau abruptio kronik cukup berat untuk
menjadi oligohidramnion chronic abruption-oligohydramnios
sequence menyebabkan restriksi perkembangan

Williams Obstetrics 24th Ed


Tatalaksana
• Evaluasi adanya anomali dan perkembangan janin
• Amnionfusion tidak direkomendasikan

Williams Obstetrics 24th Ed


“Borderline” Oligohydramnios
• AFI antara 5 dan 8 cm
• Pada pertengahan trimester ketiga, nilai AFI 8 cm berada di bawah
persentil ke-5 pada nomogram Moore
• Usia kehamilan antara 24 dan 34 minggu dengan AFI antara 5 dan 8
cm tidak lebih mungkin daripada AFI dibawah 8 cm untuk menjadi
komplikasi oleh hipertensi ibu, janin meninggal.

Williams Obstetrics 24th Ed