Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN KASUS PREEKLAMPSI

Pembimbing : dr. Hendrik Sutopo Lidapraja, M.Biomed, Sp.OG


Disusun oleh : Cindy Dwi Pratiwi (406172014)

Kepaniteraan Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan


Rumah Sakit Sumber Waras
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
Identitas Pasien Anamesa
 Nama : Ny. M  Dilakukan pada tanggal
 Usia : 26 thn 02 Februari 2018 jam
 Status Pernikahan : Menikah 14.00 WIB secara
 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga autoanamesa
 Pendidikan: SMP
 Agama : Islam  Keluhan utama : mules-
 Suku : Jawa mules dan keluar lendir
 Alamat : Duri Pulo, Gambir – darah sejak pagi hari
Jakarta Pusat SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang

 Pasien G2P1A0 hamil 38-39 minggu • Selama ini pasien rutin melakukan
datang ke RS Sumber Waras dengan
pemeriksaan kehamilan sebanyak
keluhan mules-mules (+)keluar lendir
darah dari jalan lahir (+). Janin 10x di Bidan dan RS.
dirasakan bergerak aktif (+) • HPHT pasien adalah 5 Mei 2018
kontraksi (+). Pusing (+) terutama dan hari perkiraan lahir bayi
saat beraktivitas dan membaik jika
adalah 12 Februari 2018.
beristirahat.
Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Penyakit Keluarga

 Hipertensi, asthma,  Hipertensi , DM, Asma


TBC, diabetes mellitus, , TBC dalam keluarga
dan kelainan jantung, (-)
preeklampsia, alergi
obat atau makanan
tidak ada.
Riwayat Obstetri dan Ginekologi
 Pasien hamil anak pertama dari suami kedua.
 Pernikahan pertama saat pasien berusia 16 tahun dan dikaruniai 1 orang anak.
 Pernikahan kedua saat pasien pasien berusia 22 tahun. Sudah menikah selama 4
tahun
 G2P1A0
 Riwayat KB : pasien pernah memakai KB suntik selama 3 tahun , berhenti tahun
2014 dikarenakan ingin memiliki anak .

No. Tahun Tempat Umur Jenis Penolong Penyulit Anak


Kehamilan
JK BB Keadaan
sekarang

1 2008 Bidan aterm Spontan Bidan - P 3kg Sehat


pervaginam
2 2019 Hamil ini
Riwayat Imunisasi Riwayat Kebiasaan & Asupan Nutrisi

 Pada kehamilan ini,  Makan 3x/hari, porsi


pasien mendapatkan cukup, jenis beragam
imunisasi TT sebanyak  Minum 8 gelas/hari
3x.  Minum alkohol (-)
 Kebiasaan minum kopi (-)
 Merokok (-)
 Obat-obatan (-)
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Fisik dilakukan pada tanggal 02
Februari 2018 jam 14.30 WIB di Bangsal
Kebidanan
PEMERIKSAAN UMUM
 Dilakukan pada tanggal 02/02/2019
 Keadaan umum : tampak sakit sedang
 Kesadaran : Compos Mentis
 TD : 140/100 mmHg
 Nadi : 119x/m
 Suhu : 37,1oC
 Pernafasan : 20x/m
 BB : 73 Kg
 TB : 160 cm
Pemeriksaan Fisik
Leher : bendungan vena jugularis
 Kepala : 

(-), pembesaran kelenjar tiroid (-)


 Wajah : chloasma
 Thorax :
gravidarum (-), edema (-)
I : buah dada simetris dan
 Mata : konjungtiva tegang, hiperpigmentasi areola
anemis -/-, sklera ikterik -/- , +/+, hiperpigmentasi puting
pandangan kabur (-) susu +/+, kolostrum -/-, inverted
 Telinga : bentuk simetris, nipple -/-, pergerakan napas
tidak ada nyeri tekan simetris.
 Hidung : dbn P : stem fremitus kanan dan kiri
sama kuat, massa (-)
 Mulut : epulis (-), gigi
berlubang (-), faring P : sonor diseluruh lapang paru
hiperemis (-), lidah kotor (-)  A: Suara nafas vesikuler +/+,
ronchi -/-, wheezing -/-, Bunyi
jantung I dan II reguler, murmur (-
), gallop (-)
Pemeriksaan Fisik
 Abdomen :
 Inspeksi : tampak perut membesar ke depan sesuai usia kehamilan, Linea
nigra (+), Striae lividae (-), striae albicans (+), luka bekas operasi (-)
 Auskultasi : bising usus (+), DJJ : 150x/menit; reguler (dengan doppler)
 Palpasi :
 Leopold I : massa lunak, bulat, tidak melenting (bokong)
 Leopold II : teraba bagian besar janin di sisi kanan ibu (puka)
 Leopold III : massa keras, bulat, melenting (kepala)
 Leopold IV : sudah masuk PAP (divergen)
 TFU : 34 cm  TBJ : 34-11 = 22 x 155 = 3565 gram
 His: 2 x 10 menit, lamanya 15 detik
Pemeriksaan Fisik
 Anus dan Genitalia :  Ekstremitas dan tulang belakang :
 Anus tampak normal  Tulang belakang : lordosis (-),
skoliosis (-), kifosis (-)
 Genitalia : vulva vagina
 Ekstremitas : edema tungkai -/-, CRT
terbuka, perineum menonjol
<2 detik, akral hangat, varises
 Pemeriksaan dalam (02 Februari tungkai -/-
2018, pukul 19.30)  Kulit
 Pembukaan: 3-4 cm  Turgor kulit baik, chloasma
gravidarum (-), linea nigra (+), striae
 Presentasi: kepala hodge II lividae (-), striae albican (+)
 Porsio eff: tipis, lunak  Kelenjar Getah Bening
 Tidak terdapat pembesaran kelenjar
getah bening
 Pemeriksaan Neurologis
 Tidak dilakukan
Laboratorium (02/02/2019)
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Hb 11,3 g/dL 12-16
Eritrosit 4,41 Juta/uL 4.0-5,2
Hematokrit 34,1 % 36-46
Leukosit 10,3 Ribu/µL 4-11
Trombosit 268 Ribu/µL 150-440
Coagulation time 9 menit 6-10
Bleeding time 3 menit 1-5
Golongan darah O+
URINALISA (02/02/2019)

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal


Warna Kuning
Kejernihan Agak keruh
Glukosa Negatif Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Keton Negatif Negatif
Berat jenis 1.020 1.005 – 1.030
Darah 3 Negatif
pH 6.0 4,5 – 8,0
Protein Negatif Negatif
Urobilinogen 0,2 0,1 – 1,0
Nitrit Negatif Negatif
Estrase leukosit Negatif Negatif
USG 22/12/2018

 Janin tunggal hidup, presentasi kepala


 Plasenta tidak menutupi jalan lahir, maturasi
derajat II
 Air ketuban: cukup
 Biometri:
 Sesuai kehamilan: 34 minggu
 TBJ: 2220 gr

 DJJ: 138 dpm


Resume
Telah dilakukan pemeriksaan seorang pasien 26 tahun G2P1A0 hamil
38-39 minggu datang ke RS Sumber Waras dengan keluhan mules-mules
dan keluar lendir darah dari jalan lahir sejak tadi pagi SMRS. Janin
dirasakan bergerak aktif, kontraksi (+) dan perut terasa kencang. Pasien
sering merasa pusing terutama saat beraktivitas dan membaik jika
beristirahat.
Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang dan
compos mentis. T: 140/100 mmHg, N : 119x/m, RR : 18, S : 37oC , BB : 73
kg, TB : 160 cm. Pada auskultasi abdomen didapatkan DJJ + 150x/min.
Palpasi abdomen Leopold I : bokong, Leopold II : punggung kanan,
Leopold III : kepala, Leopold IV : sudah masuk PAP (konvergen), TFU : 34 cm
 TBJ : 3565 gram
Resume
 Pada pemeriksaan anogenital didapatkan
vulva vagina terbuka , perineum menonjol.
 Pada pemeriksaan dalam didapatkan
pembukaan 3-4 cm, presentasi kepala, porsio
eff: tipis, lunak, penurunan bagian bawah
hodge II
 Pemeriksaan laoratorium darah rutin dan
urinalisa pada tanggal 02/02/19
menunjukkan hasil dalam batas normal
Diagnosa Kerja

 Ibu: G2P1A0 hamil 38-39 minggu


dengan Preeklampsia ringan dan Primi
tua.
 Janin: Janin tunggal hidup, presentasi
kepala, dengan TBJ: 3565 gram dan DJJ
: 150x/m
Rencana Diagnostic
 Lab darah rutin
 EKG
 CTG
Rencana Terapi Farmakologis Rencana Terapi Non-farmakologis

 Infus RL  Pro sectio cesaria


 Nifedipine 3 x 10mg
 Puasa asupan oral 8
 Ketorolac 3x1 amp post
op jam pre-op
 Ceftriaxone 2 x 500mg  Pubic hair shave
 Asam mefenamat 3x  Kateter indwelling
500mg post op
 Cefadroxil 2x 500mg
pre-op
post op
Rencana Evaluasi Edukasi

 Evaluasi tanda-tanda vital  Menjelaskan kepada pasien dan keluarga


dan perdarahan post sc pasien tentang kondisi yang dialami pasien.
 Evaluasi kontraksi uterus  Menjelaskan kepada pasien tentang
post sc tindakan dan tujuan tindakan yang akan
 Evaluasi bekas luka post sc dilakukan.
 Evaluasi ASI  Menjelaskan kepada pasien untuk
melakukan masase fundus uteri untuk
 Evaluasi urine output, BAB, mempercepat pemulihan dan meminimalisir
flatus perdarahan
 Menjelaskan kepada pasien untuk
memberikan ASI eksklusif minimal 6 bulan
 menjelaskan kepada pasien untuk
melakukan mobilisasi.
Prognosis
 Ad vitam – Bonam
 Ad sanationam – Bonam
 Ad functionam – Bonam
TINJAUAN PUSTAKA

Hipertensi dalam kehamilan


Klasifikasi Hipertensi dalam Kehamilan

1. Hipertensi kronik

2. Preeklampsia

3. Eklampsia

4. Hipertensi kronik dengan superimposed


preeklampsia

5. Hipertensi gestasional
Hipertensi Kronik

Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul


sebelum umur kehamilan 20 minggu atau hipertensi
yang pertama kali di diagnosis setelah umur
kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai
12 minggu pascapersalinan
Preeklampsia
 Preeklampsia adalah adanya hipertensi spesifik yang
disebabkan kehamilan disertai dengan gangguan
sistem organ lainnya pada usia kehamilan diatas 20
minggu.
 Preeklampsia, sebelumya selalu didefinisikan dengan
adanya hipertensi dan proteinuri yang baru terjadi
pada kehamilan (new onset hypertension with
proteinuria).
 Eklampsia
 Preeklampsia yang disertai dengan kejang-kejang dan/atau
koma

 Hipertensi Kronik dengan superimposed preeklampsia


 Hipertensi kronik disertai tanda-tanda preeklampsia atau
hipertensi kronik disertai proteinuria

 Hipertensi gestasional
 Hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria
dan hipertensi menghilang setelah 12 minggu pascapersalinan
Patofisiologi

1. Teori kelainan vaskularisasi plasenta

2. Teori iskemia plasenta, radikal bebas dan disfungsi


endotel

3. Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin


PERUBAHAN SISTEM DAN ORGAN PADA
PREEKLAMPSIA

 Volume plasma
 Terjadi penurunan volume plasma antara 30-40% dibandingkan
hamil normal (hipovolemia)
 Hipovolemia diimbangi dengan vasokonstriksi, sehingga terjadi
hipertensi
 Hipertensi
 Tekanan darah menjadi normal beberapa hari pascapersalinan,
kecuali beberapa kasus preeklampsia berat kembalinya tekanan
darah normal dapat terjadi 2-4 minggu pascapersalinan
PERUBAHAN SISTEM DAN ORGAN
PADA PREEKLAMPSIA
Viskositas darah
 Pada preeklampsia viskositas darah meningkat, mengakibatkan
meningkatnya resistensi perifer dan menurunnya aliran darah ke
organ.
Hematokrit
 Pada preeklampsia hematokrit meningkat karena hipovolemia
Hepar
 Dasar perubahan pada hepar ialah vasospasme, iskemia dan
perdarahan.
 Bila terjadi perdarahan pada sel periportal lobus perifer, akan
terjadi nekrosis sel hepar dan peningkatan enzim hepar
 Perdarahan ini dapat meluas hingga kapsula hepar dan diebut
subkapsular hematom  menimbulkan rasa nyeri di daerah
epigastrium dan dapat menimbulkan ruptur hepar
PERUBAHAN SISTEM DAN ORGAN
PADA PREEKLAMPSIA
Fungsi Ginjal Neurologik
 Menurunnya aliran darah ke ginjal  Nyeri kepala disebabkan
akibat hipovolemia  oliguria
bahkan anuria hiperperfusi otak
 Kerusakan sel glomerulus  Akibat spasme arteri retina dan
mengakibatkan meningkatnya
permeabilitas membran basalis  edema retina dapat terjadi
kebocoran dan mengakibatkan gangguan visus
proteinuria
 Asamurat serum umumnya meningkat  Perdarahan intrakranial meskipun
≥ 5mg/cc jarang dapat terjadi pada
 Dapat mencapai kadar kreatinin preeklampsia berat dan
plasma ≥1 mg/cc dan biasanya
terjadi pada preeklampsia berat eklampsia
dengan penyulit pada ginjal
PERUBAHAN SISTEM DAN ORGAN
PADA PREEKLAMPSIA

 Paru
 Penderita preeklampsia berat mempunyai resiko besar terjadinya
edema paru yang dapat disebabkan oleh payah jantung kiri,
kerusakkann sel endotel pada pembuluh darah kapilar paru dan
menurunnya diuresis

 Janin
 Preeklampsia dan eklampsia memberi pengaruh buruk pada kesehatan
janin yang disebabkan oleh menurunnya perfusi uteroplasenta,
hipovolemia, vasospasme dan kerusakan endotel pembuluh darah
plasenta  IUGR, Oligohidramnion
Kriteria Diagnosis Preeklampsia
PENCEGAHAN PREEKLAMPSIA
1. Pencegahan primer artinya menghindari terjadinya penyakit.
2. Pencegahan sekunder dalam konteks preeklampsia berarti
memutus proses terjadinya penyakit yang sedang berlangsung
sebelum timbul gejala atau kedaruratan klinis karena penyakit
tersebut.
3. Pencegahan tersier berarti pencegahan dari komplikasi yang
disebabkan oleh proses penyakit, sehingga pencegahan ini juga
merupakan tata laksana
PENCEGAHAN PRIMER

 Perjalanan penyakit
preeklampsia pada
awalnya tidak memberi
gejala dan tanda,
namun pada suatu
ketika dapat memburuk
dengan cepat.
PENCEGAHAN SEKUNDER
1. Istirahat

 Istirahat di rumah 4 jam/hari bermakna menurunkan risiko preeklampsia dibandingkan tanpa


pembatasan aktivitas

2. Aspirin Dosis Rendah

 Penggunaan aspirin dosis rendah (75mg/hari) direkomendasikan untuk prevensi preeklampsia


pada wanita dengan risiko tinggi

 Penggunaan aspirin dosis rendah untuk pencegahan primer berhubungan dengan penurunan risiko
preeklampsia, persalinan preterm, kematian janin atau neonatus dan bayi kecil masa kehamilan

 sedangkan untuk pencegahan sekunder berhubungan dengan penurunan risiko preeklampsia,


persalinan preterm < 37 minggu dan berat badan lahir < 2500 g
PENCEGAHAN SEKUNDER

3. Suplementasi Kalsium
 Suplementasi kalsium berhubungan dengan penurunan
kejadian hipertensi dan preeklampsia

 Suplementasi kalsium minimal 1 g/hari


direkomendasikan terutama pada wanita dengan
asupan kalsium yang rendah
Penatalaksanaan

MANAJEMEN EKSPEKTATIF ATAU AKTIF

Tujuan utama dari manajemen


ekspektatif adalah untuk
memperbaiki luaran perinatal
dengan mengurangi
morbiditas neonatal serta
memperpanjang usia
kehamilan tanpa
membahayakan ibu.
Manajemen Ekspektatif
Preeklampsia Berat
PEMBERIAN MAGNESIUM SULFAT UNTUK
MENCEGAH KEJANG

 Mekanisme kerjanya adalah • Berperan dalam menghambat


menyebabkan vasodilatasi melalui reseptor N-metil-D-aspartat (NMDA)
relaksasi dari otot polos, termasuk di otak, yang apabila teraktivasi
pembuluh darah perifer dan uterus, akibat asfiksia, dapat menyebabkan
sehingga selain sebagai antikonvulsan, masuknya kalsium ke dalam neuron,
magnesium sulfat juga berguna yang mengakibatkan kerusakan sel
sebagai antihipertensi dan tokolitik. dan dapat terjadi kejang
PEMBERIAN MAGNESIUM SULFAT UNTUK
MENCEGAH KEJANG

 Efek samping seperti rasa hangat, flushing, nausea atau muntah,


kelemahan otot, ngantuk, dan iritasi dari lokasi injeksi.
 Toksisitas terjadi pada 1% wanita yang mendapat magnesium
sulfat
 Jika mengatasi terjadinya toksisitas, kalsium glukonas 1 g (10 ml)
dapat diberikan perlahan selama 10 Menit
PEMBERIAN MAGNESIUM SULFAT
UNTUK MENCEGAH KEJANG
 Dosis loading magnesium sulfat 4 g selama 5 – 10 menit,
dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 1-2 g/jam selama
24 jam post partum atau setelah kejang terakhir, kecuali
terdapat alasan tertentu untuk melanjutkan pemberian
magnesium sulfat.
 Pemantauan produksi urin, refleks patella, frekuensi napas
dan saturasi oksigen penting dilakukan saat memberikan
magnesium sulfat.
 Pemberian ulang 2 g bolus dapat dilakukan apabila terjadi
kejang berulang.
ANTIHIPERTENSI

 Calcium Channel Blocker


 Calcium channel blocker bekerja pada otot polos arteriolar dan
menyebabkan vasodilatasi dengan menghambat masuknya kalsium ke
dalam sel.
 Efek samping maternal, diantaranya takikardia, palpitasi, sakit kepala,
flushing, dan edema tungkai akibat efek lokal mikrovaskular serta retensi
cairan.
 Nifedipin merupakan salah satu calcium channel blocker
 Regimen yang direkomendasikan adalah 10 mg kapsul oral, diulang tiap
15 – 30 menit, dengan dosis maksimum 30 mg.
ANTIHIPERTENSI
 Beta-blocker
• Atenolol merupakan beta-blocker kardioselektif
(bekerja pada reseptor P1 dibandingkan P2).
• Atenolol dapat menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat, terutama pada digunakan untuk jangka
waktu yang lama selama kehamilan atau diberikan
pada trimester pertama, sehingga penggunaannya
dibatasi pada keadaan pemberian anti hipertensi
lainnya tidak efektif.
ANTIHIPERTENSI

 Metildopa
 Agonis reseptor alfa yang bekerja di sistem saraf pusat.
 Efek samping pada ibu : letargi, mulut kering, mengantuk, depresi,
hipertensi postural, anemia hemolitik dan drug-induced hepatitis.
 Metildopa biasanya dimulai pada dosis 250-500 mg per oral 2 atau 3
kali sehari, dengan dosis maksimum 3 g per hari. Efek obat maksimal
dicapai 4-6 jam setelah obat masuk dan menetap selama 10-12 jam
sebelum diekskresikan lewat ginjal.
 Metildopa dapat melalui plasenta pada jumlah tertentu dan
disekresikan di ASI
Primi Tua
 Primi tua, lama pernikahan > 4tahun
 Ibu hamil pertama setelah nikah 4 tahun atau lebih dengan
kehidupan pernikahan biasa
 Faktor Resiko : Preeklampsia, Persalinan tidak lancar.

 Primi tua pada ibu umur >35 tahun


 Ibu yang hamil pertama pada umur >35 tahun
 Faktor resiko untuk terjadi : Hipertensi, Preeklampsia, KPD,
Persalinan macet, perdarahan post partum , BBLR
 Anak terkecil umur <2 tahun
 Ibu hamil yang jarak kelahiran dengan anak terkecil
kurang dari 2 tahun
 Faktor resiko terjadi : pendarahan post partum, bayi
premature, BBLR
 Primi tua sekunder
 Ibu hamil dengan persalinan terakhir >10 tahun yang
lalu, ibu dalam keadaan kehamilan dan persalinan ini
seolah-olah mengalami kehamilan / persalinan yang
pertama lagi