Anda di halaman 1dari 10

Analisis Bunyi Dalam Puisi

Muhammad Reza Pahlevi


201810080311056
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia II B
Definisi Bunyi
Bunyi merupakan unsur puisi
untuk mendapatkan keindahan dan
tenaga ekspresif.

Bunyi dalam puisi adalah hal


yang penting untuk
menggambarkan suasana dalam
puisi
Puisi yang Dianalisis & Pembahasannya
“Kucari Jawab” karya J.E. Tatengkeng angkatan pujangga baru.

Kucari Jawab
Di mata air, di dasar kolam
Kucari jawab teka – teki alam

Di kawan awan kian ke mari


Di situ juga jawabannya kucari

Di warna bunga yang kembang


Kubaca jawab, penghilang bimbang

Kepada gunung, penjaga waktu


Dalam puisi ini jenis
Kutanya jawab kebenaran tentu

Pada bintang lahir semula


bunyi yang paling
Kutangis jawab teka – teki Allah
banyak digunakan yaitu
Ke dalam hati, jiwa sendiri
Ku selam jawab ! tidak tercari….
Ya Allah yang maha dalam
kokafoni
Berikan jawab teka – teki alam

O, Tuhan yang maha tinggi


Kunanti jawab petang dan pagi

Hatiku haus’kan kebenaran


Berikan jawab di hatiku sekarang
“Kesabaran”
karya Chairil Anwar angkatan 45.

Kesabaran
Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak bicara Dalam puisi ini


Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa! jenis bunyi yang
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli
paling banyak
Keras membeku air kali digunakan yaitu
Dan hidup bukan hidup lagi
Euphony
Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba
“Sajak Minum Kopi” karya Cucu Espe” angkatan 2000.

Sajak Minum Kopi


Tuangkan kopi secangkir saja
Pelepas dahaga sebelum senja
Kibaskan penat sebelum terjaga
Lepaskan duka tuang sebisanya
Mari minum sepelan luka
Dalam puisi ini
di semua akhir
Hidup harus memiliki arti
Meski hitam secangkir kopi kalimat
Meski kelam jangan dipikir lagi menggunakan
Bulan tak akan mengulang hari jenis bunyi
Tapi ombak selalu memeluk pantai Euphony
Di sini aku menulis sunyi

Sebelum matahari merah sembunyi


Tumpahkan kopi ke tepi hati
Sedikit lagi.
Persamaan & Perbedaan
Persamaan Perbedaan

Persamaan dari 3 puisi


tersebut hanya 2 puisi Perbedaan dari 3 puisi
saja yang memiliki di atas hanya satu puisi
persamaan yaitu puisi saja yang berbeda
yang berjudul dengan ketiga puisi
“Kesabaran” karya diatas yaitu puisi yang
Chairil Anwar dan “Sajak berjudul “Kucari
Minum Kopi” karya Cucu Jawab” karya J.E
Espe yang menggunakan Tatengkeng
jenis bunyi Euphony
Biografi Penyair
J.E Tatengkeng
Dilahirkan di Kolongan, Sangihe, Minahasa pada tanggal 19 Oktober 1907. Meninggal
di Makassar 6 Maret 1968. Setelah menamatkan H.K.S, Tatengkeng lalu menjadi guru
H.I.S di Tahuna, sudah itu di Pajeti (Sumbawa). Pada masa setelah kemerdekaan ia
pernah menjadi mentri muda Pengajaran(1947), kemudian menjadi Mentri Pengajaran
dan bahkan menjadi Perdana Menteri (1949). Negara Indonesia Timur (N.I.T).
Kemudian menjadi Kepala Inspeksi Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar,
turut mendirikan dan menjadi dosen di Universitas Hasanuddin. Tahun 1958
menerbitkan dan memimpin majalah kebudayaan Sulawesi yang usianya hanya kurang
lebih setahun saja.
Sajak-sajaknya terutama dikumpulkan dalam Rindu Dendam (1934) bernafaskan ke
Tuhanan dan penuh rasa sukur – keriangan remaja yang belum mengenal pahit-pedih
dunia. Kalaupun sekali mengalami kepahitan karena anak meninggal, menerimanya
sebagai kehendak Tuhan yang mesti diterima dengan sabar-tawakal.
Esai dan kritiknya yang banyak dimuat dalam majalah Poedjangga Baroe sebelum
perang, tajam dan menunjukan ketakpuasannya menerima batas-batas intelektualitis
dalam kritik-seni.
Pada masa sesudah perang Tatengkeng pun ada juga menulis sajak, antaranya yang
dimuat dalam majalah Zenith (1951), tetapi tidak begitu penting. Yang lebih menarik
dan lebih besar artinya adalah kisah-kisahnya yang humoristis dan sangat segar
mengeritik manusia-manusia Indonesia sesudah revolusi, antara lain yang dimuat dalam
majalah duabulanan Konfrontasi (1954) dan Sulawesi (1958).
Chairil Anwar
Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Beliau adalah putra mantan Bupati
Indragiri, Riau, dan masih memiliki ikatan persaudaraan dengan Sutan Sjahrir,
seorang Perdana Menteri Pertama Indonesia.
Chairil Anwar pernah bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS), dan
kemudian dilanjutkan bersekolah di MULO, tetapi tidak sampai tamat. Walaupun
berlatar belakang pendidikan yang terbatas, tetapi beliau mampu menguasai tiga
bahasa, yaitu Inggris, Belanda, Jerman.
Chairil Anwar merupakan penyair Angkatan '45 yang terkenal dengan puisi yang
berjudul "Aku", dan Berkat puisinya tersebut, ia dijuluki Si Binatang Jalang.
Chairil Anwar mulai mengenal dunia sastra pada usianya yang menginjak 19 tahun.
Namanya mulai dikenal oleh khalayak ramai ketika karyanya dimuat di Majalah
Nisan pada tahun 1942. Beliau mengilhami pembuatan puisinya dari kondisi bangsa
Indonesia. Banyak karya-karya yang dihasilkan oleh beliau, salah satunya yang
terkenal adalah puisi yang berjudul "Krawang Bekasi" dan "Aku".
Belum genap usianya sampai 27 tahun, Chairil Anwar meninggal dunia. Walaupun
kini beliau sudah tiada, Chairil Anwar dan karya-karyanya sangat melekat di dunia
sastra Indonesia. Karya-karyanya banyak dipublikasikan dalam bahasa asing,
seperti Inggris, Jerman, Spanyol. Dan sebagai penghormatan, dibangun juga patung
dada Chairil Anwar di Jakarta.
Cucuk Espe
Cucuk Espe adalah seorang aktor kelahiran Jombang, 19
Maret 1974. Ia juga merupakan seorang penyair, esais, cerpenis, dan
penulis naskah drama. Cucuk juga dikenal sangat produktif dalam
menulis di berbagai media cetak nasional di Indonesia dan juga
beberapa jurnal seni di luar negeri.

Ia memperlajari bahasa Indonesia di IKIP Malang, setelah itu ia


menjadi seorang seniman dan mendirikan Teater Kopi Hitam
Indonesia. Teater nya tersebut telah berpentas hampir di seluruh kota
besar di Indonesia.

Ia juga pernah meraih penghargaan sebagai aktor teater terbaik pada


Peksiminas III di Taman Ismail Marzuki Jakarta 1995.

Karya Novel / Cerpen / Buku


- Bulan Sabit di Atas Kubah (Pustaka Radar Minggu, 2010)
- 13 Pagi diangkat dari repertoar teater (Pustaka Radar Minggu,
2011)
- Ketika Karya Sastra Dipanggungkan (Lembaga Baca-Tulis
Indonesia, 2012)
- Sejumlah cerpen dan esai yang tersebar di media cetak dalam dan
luar negeri
Kesimpulan
Menganalisis bagian bunyi ini sangat erat
hubungannya dengan nilai keindahan dalam
puisi. Karena setiap puisi memiliki karakter
tersendiri, mulai yang berbunyi sedih atau yang
biasanya didominasi oleh akhiran huruf
konsonan (Kakaphony) dan ada juga yang
berbunyi bahagia atau lebih dikenal dengan
Ephony atau kata yang berakhiran huruf vokal.