Anda di halaman 1dari 64

Case Report Session

Epilepsi Serangan Umum


Tipe Tonik-Klonik
Oleh :
M,Herpian Nugrahadil, S.Ked

Pembimbing :
dr. Idrat Riowastu, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU PENYAKIT NEUROLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
JAMBI
2018
Pendahuluan
• Epilepsi berasal dari bahasa Yunani yang berarti
“serangan” atau penyakit yang timbul secara tiba-
tiba.Epilepsi merupakan penyakit yang umum terjadi dan
penting di masyarakat.

• Prevalensi epilepsI berkisar antara 0,5% - 2%. diperkirakan


bahwa bila penduduk Indonesia saat ini sekitar 220 juta
akan ditemukan 1,1 sampai 4,4 juta penderita penyandang
epilepsi dan 40% masih dalam usia reproduksi.
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
• Nama : Ny. N
• Umur : 38 Tahun
• Jenis kelamin : Perempuan
• Agama : Islam
• Alamat : RT 29 Perum Bougenville
• Pekerjaan : IRT
DATA SUBYEKTIF (Anamnesis tanggal 10 September 2018)

• 1. Keluhan utama : Kejang-kejang sejak 1 hari SMRS

• 2. Riwayat Penyakit Sekarang


– Lokasi : Seluruh tubuh
– Onset : Sejak ± 1 hari SMRS
– Kualitas : Kejang berulang-ulang
– Kuantitas : kejang 1-2 kali/hari yang berlangsung ± 2-3
menit
Kronologis
• Pasien diantar keluarga dengan keluhan kejang-kej
ang sejak ± 1 hari SMRS. Kejang berulang-ulang se
banyak 1-2 kali per hari yang berlangsung selama ±
2-3 menit. Kejang terjadi di seluruh tubuh disertai de
ngan kaku dan kelonjotan, pasien dalam keadaan ti
dak sadar. Saat kejang, mata terbelalak ke atas, mul
ut mengeluarkan busa dan lidah tergigit. Keluarga p
asien mengatakan sebelum kejang, pasien pasien t
ampak pucat lalu terjadilah kejang.
• Keluarga pasien juga mengatakan, saat kejang tampa
k badan pasien yang kaku seluruh badan dan lalu set
elah kaku pasien kelonjotan. Keluarga pasien mengat
akan,setiap setelah serangan kejang pasien sadar ke
mbali lalu mengantuk dan tidur. Keluhan pasien tidak
disertai dengan demam, mual (-),muntah (-) BAB dan
BAK normal.Sejak 3 hari SMRS keluarga pasien meng
atakan pasien tidak mau berbicara akan tetapi masih
bisa mengikuti arahan ataupun memahami pembicara
an dari lingkungan sekitar Pasien tidak mengeluhkan
baik pandangan maupun kelemahan anggota gerak.
Lanjutan
• Keluarga mengatakan bahwa dalam 2 tahun tera
khir ini pasien mengkonsumsi obat-obatan dari
RS jiwa dan pasien rutin meminum obat tersebut
. Pasien rencana akan kontrol ulang ke RS jiwa t
ersebut. Sebelum sempat kontrol ulang,kejang p
asien mulai kambuh lagi.
• Faktor memperberat:-
• Faktor memperingan : Kejang pasien hilang jika
diberi obat anti kejang.
Lanjutan
• Riwayat Penyakit Dahulu
• Pasien memiliki riwayat demam kejang ketika berusi
a 7 bulan. Saat itu pasien sudah dibawa berobat ke
dokter dan dinyatakan sembuh. 2 tahun yang lalu ke
jang mulai muncul lagi dan menjadi lebih sering, lalu
pasien dibawa ke RS jiwa untuk berobat.
Lanjutan
• Riwayat Penyakit Keluarga
– Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan y
ang sama seperti pasien
• Riwayat Sosial Ekonomi
– Pendidikan terakhir pasien adalah tamat SMA dan tidak
melanjutkan pendidikan dikarenakan keluhan kejang pa
sien sehingga keluarga khawatir akan mengancam kes
ehatan nya.
• Riwayat Pengobatan
– 1 bulan SMRS pasien sudah meminum obat-obatan dari RS jiwa. Obat ya
ng diminum pasien antara lain: Depakote 1x500 mg dan Asam Folat 1x1
OBYEKTIF
Status Present
• Kesadaran : compos mentis
• GCS : Eye:4, Verbal:afasia, Motorik:6
• Tanda Vital
• Tekanan darah : 130/80 mmHg
• Nadi : 86 x/menit
• Pernapasan : 21 x/menit
• Suhu : 36,6oC
Lanjutan
• Status Internus
– Kepala : Mata : CA-/-, SI -/-, pupil isokor, refleks cahaya
(+)
– Mulut : Stomatitis, bibir kering, sianosis (-)
– THT : dalam batas normal
– Leher : Kelenjar thyroid tidak membesar, KGB tidak m
embesar, tidak ada deviasi trakhea, kaku kuduk (-), JV
P DBN
– Thorax : Simetris, tidak ada retraksi
Lanjutan...
• Jantung
– Inspeksi : Ictus cordis tampak pada SIC V, 2 jari medial LMC sinistra
– Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V, 2 jari medial LMC sinistra, tidak
kuat angkat
– Perkusi : Batas kiri atas SIC II LPS sinistra
Batas kiri bawah SIC V LMC sinistra
Batas kanan atas SIC II LPS dextra
Batas kanan bawah SIC IV LPS dextra
– Auskultasi : BJ I/II reguler, gallop (-), murmur (-)
Lanjutan
• Paru
– Inspeksi : simetris, retraksi (-/-), ketinggalan
gerak (-/-)
– Palpasi : fokal fremitus kanan = kiri
– Perkusi : Paru kanan sonor = paru kiri
– Auskultasi : suara dasar vesikuler, suara
tambahan whezzing (-/-), Ronkhi (-/
-)
Lanjutan...
• Abdomen
– Inspeksi : datar, luka operasi (-)
– Palpasi : supel, nyeri tekan (-), tak teraba massa, hepar lien tid
ak teraba
– Perkusi : tymphani di seluruh lapang abdomen
– Auskultasi : Bising usus (+) N
– Alat kelamin : tidak diperiksa
– Ekstremitas : akral hangat, edema (-/-)
• Genitalia : tidak diperiksa
• Ekstremitas : akral hangat, edema (-/-), CRT < 2 detik
Lanjutan
Status neurologikus Tanda Rangsang Meningeal: (-)
• Kepala Kaku kuduk :-
– Nyeri tekan : (-) Brudzinsky 1 : -
Brudzinsky 2 : -|-
– Simetri : (+) Brudzinsky 3 : -|-
– Pulsasi : (-) Brudzinsky 4 : -
Laseque : >700 / >700
• Leher Kernig : >1350 / >1350
– Sikap : Normal
– Pergerakan : Normal
– Kaku kuduk : (-)
• N. I (Olfactorius )
Lanjutan...
Daya pembau Kana Kiri Keterangan
n
Subjektif Sulit d Sulit dini
Sulit dinilai
inilai lai
Objektif (dengan bahan) Sulit d Sulit dini
Sulit dinilai
inilai lai

• N.II (Opticus)
Kanan Kiri Keterangan
Daya penglihatan Sulit dinilai Sulit dinilai
Lapang pandang Sulit dinilai Sulit dinilai
Pengenalan warna Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai
Funduskopi Tidak dilakuka Tidak dilakukan
n
• N.III (Oculomotorius)
Sela mata
Ptosis
Simetris
Tidak ada
Simetris
Tidak ada
Lanjutan...
Pergerakan bola Normal Normal
mata • N. IV (Trokhlearis)
Nistagmus Tidak ada Tidak ada
Strabismus Tidak ada Tidak ada
Pergerakan bola mat Normal Normal
Ekso/endotalmus Tidak ada Tidak ada
a ke bawah-dalam
Pupil:
Diplopia Tidak ada Tidak ada
Bentuk, besar Bulat, isokor, Bulat, isokor, 
 3 mm 3 mm
Reflex cahaya lan + +
gsung + +
Reflex konvergen + +
si
Reflex konsensua
l
•N. V (Trigeminus)
Lanjutan…
Motorik
Membuka mulut Normal
Mengunyah Normal
Mengigit Normal
Sensibilitas Muka
Oftalmikus Normal Normal
Maksila Normal Normal
Mandibula Normal Normal
Reflek Kornea Normal Normal
•N. VI (Abduscens)

Kanan Kiri Keterangan


Gerak bola mat Dbn Dbn
Dalam batas nor
a ke lateral
mal
Strabismus (-) (-)
Lanjutan
•N. VII (Facialis)
Kanan Kiri Keterangan
Motorik
Saat diam
Mengernyitkan dahi simetris simetris
Senyum memperlihatkan
gigi Dbn Dbn
Daya perasa 2/3 anterior Tidak dilakuk Tidak dila
lidah an kukan
Dbn Dbn
Lanjutan
• N. VIII (Vestibulo-Kokhlearis)
Kanan Kiri Keterangan
Pendengaran
Tuli konduktif (-) (-)
Tuli sensorineural (-) (-) Dalam batas
normal
Vestibular
Nistagmus horizontal (-) (-)

• N. IX (Glossofaringeus)

Kanan Kiri
Arkus faring Dbn Dbn
Daya perasa 2/3 posterior li Dbn Dbn
dah
Lanjutan
• N. X (Vagus)
Kanan Kiri Keterangan
Arkus faring Dbn Dbn Dalam batas no
Disfonia Sulit dinilai Sulit dinilai rmal
Refleks muntah Dbn Dbn

• N. XI (Assesorius)
Kanan Kiri Keterangan
•N. XII (Hipoglossus)
Motorik
Menoleh Dbn Dbn Kanan Kiri Keterangan
Dalam batas normal
Mengangkat bahu Dbn Dbn Motorik Dbn Dbn
Trofi Eutrofi Eutrofi Trofi eutrofi eutrofi Dalam batas
Tremor (-) (-) normal
Disartri (-) (-)
Lanjutan...
Sistem motorik
Kanan Kiri Keterangan
Ekstremitas atas
Kekuatan 5 5
Tonus N N
Trofi Eu Eu
Ger. Involunter (-) (-)
Ekstremitas bawah
Kekuatan 5 5
Tonus N N
Trofi Eu Eu
Ger. Involunter (-) (-)
Lanjutan...
• Sistem sensorik
Sensasi Kanan Kiri Keterangan

Raba Dbn Dbn


Nyeri Dbn Dbn
Suhu Dbn Dbn
Propioseptif Dbn Dbn
• Refleks :
Lanjutan
Refleks Kanan Kiri Keterangan
Fisiologis
Biseps (+) (+)
Triseps (+) (+)
Patella (+) (+)
Achilles (+) (+)

Patologis
Hoffman (-) (-)
Tromer (-) (-) Reflek patologis (-)
Babinski (-) (-)
Chaddock (-) (-)
Openheim (-) (-)
Gordon (-) (-)
Schaeffer (-) (-)
Lanjutan
• Fungsi koordinasi dan keseimbangan :
Pemeriksaan Kanan Kiri Keterangan
Disdiadokokinesia Dbn Dbn
Test telunjuk-hidung Dbn Dbn
Test jari-jari Dbn Dbn
Romberg test dipertaj Dbn Dbn
am Dbn Dbn
Tes tandem gait

• Sistem otonom :
– Berkemih : Tidak ada keluhan
– Defekasi : Tidak ada keluhan
– Keringat : Tidak ada keluhan
Pemeriksaan Lain
HASIL LAB TANGGAL 11 SEPTEMBER 2018
• WBC : 6,89.109/L (normal: 4-10.109/L)
• HGB : 13,2 g/dL (normal: 11-16 g/dL)
• PLT : 174.109/L (normal: 100-300.109/L)
• GDS : 106 mg/dL (normal: <200 mg/dL)
• Natrium : 146,3 mmol/L (normal: 135-148 mmol/L)
• Kalium : 4,27 mmol/L (normal: 3,5-5,3 mmol/L)
• Chlorida : 106,36 mmol/L(normal: 98-110 mmol/L)
• Calcium : 1,31 mmol/L (normal: 1,19-1,23 mmol/L)
Hasil CT-Scan
Kepala: Atrofi
Lobus Parietal
Hemisfer cere
brii sinistra
Ringkasan
• S: Pasien diantar keluarga dengan keluhan kejang-kejang sejak ± 1 hari SMRS.
Kejang berulang-ulang sebanyak 1-2 kali per hari yang berlangsung selama ± 2-
3 menit. Kejang terjadi di seluruh tubuh disertai dengan kaku dan kelonjotan, pasi
en dalam keadaan tidak sadar. Saat kejang, mata terbelalak ke atas, mulut meng
eluarkan busa dan lidah tergigit. Keluarga pasien mengatakan sebelum kejang, p
asien pasien tampak pucat lalu terjadilah kejang. Keluarga pasien juga mengatak
an, saat kejang tampak badan pasien yang kaku seluruh badan dan lalu setelah
kaku pasien kelonjotan. Keluarga pasien mengatakan,setiap setelah serangan ke
jang pasien sadar kembali lalu mengantuk dan tidur. Keluhan pasien tidak diserta
i dengan demam, mual (-),muntah (-) BAB dan BAK normal.Sejak 3 hari SMRS k
eluarga pasien mengatakan pasien tidak mau berbicara akan tetapi masih bisa m
engikuti arahan ataupun memahami pembicaraan dari lingkungan sekitar Pasien
tidak mengeluhkan baik pandangan maupun kelemahan anggota gerak.
Lanjutan...
• Keluarga mengatakan bahwa dalam 2 tahun terakhir ini pasie
n mengkonsumsi obat-obatan dari RS jiwa dan pasien rutin m
eminum obat tersebut. Pasien rencana akan kontrol ulang ke
RS jiwa tersebut. Sebelum sempat kontrol ulang,kejang pasie
n mulai kambuh lagi.
• Riwayat trauma waktu kecil di sangkal, riwayat kejang demam
ada saat usia 7 bulan dan sudah berobat ke dokter lalu dinyat
akan sembuh, riwayat epilepsi dalam keluarga disangkal.
Lanjutan...
O:
• Keadaan umum : Tampak sakit sedang
• Kesadaran : Compos mentis GCS (E:4, V:afasia, M:6)
• Gizi : cukup
• Suhu : 36,6ºC
• Nadi : 86 x/m
• Pernapasan : 21 x/m
• Tekanan Darah : 120/80 mmHg
• Berat Badan : 55 kg
• Tinggi Badan : 163 cm
Lanjutan...
Status Neurologikus
Tanda rangsang meningeal: negatif
Saraf cranialis : baik

Fungsi Motorik Lka Lki Tka Tki


Kekuatan 5 5 5 5
Tonus Normal Normal Normal Normal
Klonus - - - -
R. Fisiologis Normal Normal Normal Normal
R. Patologi - - - -
Fungsi Sensorik : Tidak ada kelainan
Fungsi Luhur : Tidak ada kelainan
Fungsi Vegetatif : Tidak ada kelainan
Gerakan Abnormal :-
Lanjutan...
• A : Diagnosis Kerja: Diagnosis Neurologi
• Diagnosis Klinis : Kejang + Afasia motorik
• Diagnosis Topik : Korteks serebri
• Diagnosis Etiologi : Epilepsi serangan umum tipe tonik-klonik
Lanjutan...
P : Non Medikamentosa:
– Pertolongan pertama
– Pasien dan anggota keluarga harus diberitahukan dengan jelas tindakan apa yang h
arus diambil bila menghadapi serangan.
– Jangan memasukan sesuatu ke dalam mulut pasien atau memaksa membuka mulut
pasien.
– Tidak perlu diusahakan mengekang gerakan kejang karena hanya akan berakibat me
nimbulkan cedera.
– Pasien harus dibiarkan untuk mengalami kejang seperti seharusnya.
– Pasien harus dipindahkan ke tempat yang aman.
– Setelah serangan balikkan pasien pada salah satu sisi dalam posisi setengah telungk
up untuk membantu pernafasan pasien dan pemulihan serta berikan bantalan di kep
ala dengan sesuatu yang lunak.
– Jalan nafas harus diperiksa dan diawasi
– Setelah suatu serangan pasien harus ditemani dan diberi dukungan hingga fase bing
ung yang menyertainya telah hilang seluruhnya dan pasien memperoleh kembali kes
eimbangannya.
.
Lanjutan...
• Medikamentosa:
– IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
– Injeksi Diazepam 1 ampul bolus pelan jika kejan
g
– Phenytoin 3 x 100 mg
– Terapi lain teruskan
• Depakote 1x500 mg
• As. Folat 1x1 .
Lanjutan...
• Mx : Pantau tanda-tanda vital dan perbaikan keluhan
• Ex :Memberi penjelasan kepada keluarga mengenai kead
aan pasien dan terapi yang akan diberikan, mengatur pola
makan yang sehat dan seimbang, penanganan stress dan i
stirahat yang cukup, serta kontrol pemeriksaan secara terat
ur. Jangan panik jika serangan kambuh, jaga lidah pasien a
gar tidak tergigit, jangan meninggalkan pasien seorang diri
karena sewaktu-waktu kejang pasien bisa muncul.
Prognosis
• Quo ad vitam : bonam
• Quo ad functionam : dubia ad bonam
• Quo ad sanam : dubia ad bonam
Definisi Epilepsi
Menurut International League Against Epilepsy (ILA
E) epilepsi didefinisikan sebagai suatu kelainan ota
k yang ditandai oleh adanya factor predisposisi yan
g dapat mencetuskan kejang epileptik, perubahan n
eurobiologis, kognitif, psikologis dan adanya konsek
uensi social yang diakibatkannya.
Klasifikasi epilepsi

• Berdasarkan tanda klinik


dan data EEG, kejang dib
agi menjadi :
– kejang umum (generalized
seizure)  jika aktivasi terj
adi pd kedua hemisfere ota
k secara bersama-sama
– kejang parsial/focal  jika
dimulai dari daerah tertent
u dari otak
Kejang umum terbagi atas:
• Tonic-clonic convulsion = grand mal
– merupakan bentuk paling banyak terjadi
– pasien tiba-tiba jatuh, kejang, nafas terengah-engah, keluar air liur
– bisa terjadi sianosis, ngompol, atau menggigit lidah
– terjadi beberapa menit, kemudian diikuti lemah, kebingungan, sakit
kepala atau tidur
• Abscense attacks = petit mal
– jenis yang jarang
– umumnya hanya terjadi pada masa anak-anak atau awal remaja
– penderita tiba-tiba melotot, atau matanya berkedip-kedip, dengan kepala terkulai
– kejadiannya cuma beberapa detik, dan bahkan sering tidak disadari
• Myoclonic seizure
– biasanya tjd pada pagi hari, setelah bangun tidur
– pasien mengalami sentakan yang tiba-tiba
– jenis yang sama (tapi non-epileptik) bisa terjadi pada pasien normal
• Atonic seizure
– jarang terjadi
– pasien tiba-tiba kehilangan
kekuatan otot  jatuh, tapi bisa
segera recovered

Petit mal
Kejang parsial terbagi menjadi :
• Simple partial seizures
– pasien tidak kehilangan kesadaran
– terjadi sentakan-sentakan pada bagian tertentu dari tubuh
• Complex partial seizures
– pasien melakukan gerakan-gerakan tak terkendali: geraka
n mengunyah, meringis, dll tanpa kesadaran

Kejang parsial
Etiologi Epilepsi
1. Idiopatik : penyebab tidak diketahui, umumnya
mempunyai predisposisi genetik
2. Kriptogenik : dianggap simtomatik tetapi penye
babnya belum diketahui
→ Sindrom West, Sindrom Lennox Gestaut, epi
lepsi mioklonik
3. Simtomatik : disebabkan kelainan/lesi pada SS
P ex: trauma kepala, infeksi SSP, kelainan kong
enital, SOL, GPDO, toksik, metabolik, neurodeg
eneratif
Patofisiologi
Serangan epilepsi terjadi ap
abila proses eksitasi di dala
m otak lebih dominan dari pa
da proses inhibisi. Perubaha
n-perubahan di dalam eksita
si aferen, disinhibisi, perges
eran konsentrasi ion ekstras
eluler, voltage-gated ion cha
nnel opening, dan menguatn
ya sinkronisasi neuron sang
at penting artinya dalam hal i
nisiasi dan perambatan aktiv
itas serangan epileptik
Manifestasi Klinik
1. Bangitan Umum Lena
• Ggn kesadaran scr mendadak, berlangsung bbrp detik
• Selama bangkitan kegiatan motorik terhenti & pasien diam tanpa reaksi
• Mata memandang jauh ke depan
• Mungkin terdapat automatisme
• Pemulihan kesadaran segera terjadi tanpa rasa bingung
• Sesudah itu pasien melakukan aktivitas semula
2. Bangkitan Umum Tonik Klonik
• Dpt didahului prodromal spt jeritan, sentakan
• Pasien kehilangan kesadaran , kaku 10-30`` diikuti kejang kelojotan pd kdu
a lengan & tungkai selama 30-60`` dpt disertai mulut berbusa
• Selesai bangkitan pasien lemas & bingung
• Pasien sering tidur setelah bangkitan
Gambaran Klinik
3. Bangkitan parsial sederhana
• Tdk terjadi perubahan kesadaran
• Bangkitan dimulai dari tangan, kaki atau muka (unilateral/fok
al) kmdn menyebar pada sisi yg sama (Jacksonian march)
• Kepala mngkn berpaling ke arah bagian tubuh yg mengalam
i kejang
4. Bangkitan Parsial kompleks
• bangkitan fokal disertai terganggunya kesadaran
• Sering diikuti automatisme yg stereotipik spt mengunyah, menelan, terta
wa tanpa tujuan yg jelas
• Kepala mngkn berpaling ke arah bagian tubuh yg mengalami kejang
lanjutan
5. Bangkitan Umum sekunder
• Berkembang dari bangkitan parsial sederhana
atau kompleks yg dlm waktu singkat menjadi b
angkitan umum
• Bangkitan parsial dpt berupa aura
• Bangkitan umum yg terjadi biasanya tonik kloni
k
DIAGNOSIS
Anamnesis (auto dan aloanamnesis), meliputi:
• Pola / bentuk serangan
• Lama serangan
• Gejala sebelum, selama dan paska serangan
• Frekuensi serangan
• Faktor pencetus
• Ada / tidaknya penyakit lain yang diderita sekarang
• Usia saat serangan terjadinya pertama
• Riwayat kehamilan, persalinan dan perkembangan
• Riwayat penyakit, penyebab dan terapi sebelumnya
• Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga
LANJUTAN
Pemeriksaan fisik umum dan neurologis

Pemeriksaan umum dan neurologis dilakukan s


eperti biasa. Pada kulit dicari adanya tanda neur
ofibromatosis berupa bercak-bercak coklat, berc
ak-bercak putih, dan adenoma seboseum pada
muka pada sklerosi tuberose. Hemangioma pad
a muka dapat menjadi tanda adanya penyakit St
urge-Weber. Pada toksoplasmosis, fundus okuli
mungkin menunjukkan tanda-tanda korio renitis.
Mencari kelainan bawaan, asimetri pada kepala,
muka, tubuh, dan ekstremitas.
LANJUTAN
• Pemeriksaan radiologis
• Arteriografi dan pneumoensefalografi dilakukan bila perlu. El
ektroensefalografi (EEG) merupakan pemeriksaan penunjan
g yang informatif yang dapat memastikan diagnosis epilepsy
.

• Pemeriksaan Psikologis
• Untuk diagnosis bila diperlukan uji coba yang dapat menunju
kkan naik turunnya kesadaran.
Terapi
Prinsip pengobatan :
1. Mengurangi dan menghilangkan serangan
2. Terapi dimulai sedini mungkin
3. Pilihan obat sesuai jenis epilepsi
4. Obat diupayakan tunggal
5. Dosis minimal yang efektif
6. Efek samping minimal
7. Biaya terjangkau
8. Terapi harus berdasarkan “evidence-based cli
nical practice”
• Non farmakologi:
– Amati faktor pemicu
– Menghindari faktor pemicu (jika ada), misalny
a : stress, OR, konsumsi kopi atau alkohol, pe
rubahan jadwal tidur, terlambat makan, dll.
• Farmakologi : menggunakan obat-obat ant
iepilepsi
Obat-obat anti epilepsi
Obat-obat yang meningkatkan inaktivasi kanal Na+:
• Inaktivasi kanal Na  menurunkan kemampuan syaraf untuk mengh
antarkan muatan listrik
• Contoh: fenitoin, karbamazepin, lamotrigin, okskarbazepin, valproat
Obat-obat yang meningkatkan transmisi inhibitori GABAergik:
• agonis reseptor GABA  meningkatkan transmisi inhibitori dg meng
aktifkan kerja reseptor GABA  contoh: benzodiazepin, barbiturat
• menghambat GABA transaminase  konsentrasi GABA meningkat
 contoh: Vigabatrin
• menghambat GABA transporter  memperlama aksi GABA  cont
oh: Tiagabin
• meningkatkan konsentrasi GABA pada cairan cerebrospinal pasien
 mungkin dg menstimulasi pelepasan GABA dari non-vesikular po
ol  contoh: Gabapentin
Pemilihan obat : Tergantung pada jenis epilepsinya
Kejang Umum (generalized seizures)
Kejang
parsial Tonic-clonic Abscense Myoclonic, atonic

Drug of choice Karbamazepin Valproat Etosuksimid Valproat


Fenitoin Karbamazepin Valproat
Valproat Fenitoin

Alternatives Lamotrigin Lamotrigin Clonazepam Klonazepam


Gabapentin Topiramat Lamotrigin Lamotrigin
Topiramat Primidon Topiramat
Tiagabin Fenobarbital Felbamat
Primidon
Fenobarbital
Penghentian OAE
• Penghentian OAE dpt didiskusikan dgn pa
sien atau keluarganya setelah bebas bang
kitan minimal 2 tahun
• Gambaran EEG normal
• Harus dilakukan bertahap, umumnya 25%
dari dosis semula setiap bln dlm jangka w
aktu 3-6 bln
• Penghentian OAE dimulai dari satu OAE y
g bukan utama
Analisa Kasus
Ny.N, 38 tahun, mengalami episode kejang den
gan riwayat menderita kejang pertama pada usia 7 B
ulan. Pada kejang kali ini hingga pasien dibawa ke ru
mah sakit, dikatakan pasien kejang berulang-ulang se
banyak 1-2 kali per hari yang berlangsung selama ± 2
-3 menit. Dari klasifikasi kejang, dicurigai merupakan
kejang umum tonik-klonik. Kejang jenis ini paling ban
yak ditemui. Dimana pada kejang ini terjadi hilangnya
kesadaran sehingga pasien terjatuh jika sebelumnya
pada posisi berdiri.
Pada saat episode, dikatakan penderita menghentak-he
ntakkan tangan dan kaki yang mengarahkan pada jenis “
klonik”. Kejang ini juga bisa disertai dengan kelemahan
otot sfingter kantung kemih hingga os mengompol, nam
un pada pasien ini tidak ditemukan.
Pasien saat ini juga sedang mengkonsumsi obat anti kej
ang yaitu Depakote (As.Valproat) 1 x 500 mg dan asam f
olat 1 x 1 sejak 2 tahun SMRS
Pasien dengan kejang umum tonik-klonik diberikan
terapi asam valproat atau lamotrigine sebagai terapi lini
pertama. Dapat diberikan fenitoin dengan dosis 300-600
mg/hari per oral dibagi menjadi satu atau dua dosis. Pas
ien didiagnosis Epilepsi dengan bangkitan umum tonik-kl
onik dengan tatalaksana perawatan di rumah sakit. Den
gan pengobatan IVFD NaCl 20 tetes makro per menit, Di
azepam 10 mg intravena pelan bila kejang.
Kesimpulan
• Epilepsi adalah gangguan pada otak yang menyebabkan terjadinya kejang b
erulang. Kejang terjadi ketika aktivitas listrik dalam otak tiba-tiba terganggu.

• Ada banyak tipe kejang pada epilepsy.Kejang dapat digolongkan menjadi kej
ang parsial dan kejang umum, tergantung pada banyaknya area otak yang te
rpengaruh.

• Tidak semua kejang disebabkan epilepsy. Kejang juga dapat disebabkan ole
h kondisi tertentu seperti meningitis, ensefalitis atau trauma kepala.

• Gejala epilepsy dapat dikontrol dengan menggunakan obat anti kejang. Ham
pir delapan dari sepuluh orang dengan epilepsy gejala kejang yang mereka a
lami dapat dikontrol dengan baik oleh obat anti kejang
Terima Kasih
Insert the title of your subtitle Here