Anda di halaman 1dari 11

DATA LAPORAN SURVEILANS PENYAKIT PERTUSIS DI

DESA TANDASURRA KECAMATAN LIMBORO


KABUPATEN POLEWALI MANDAR

Kelompok 1
• Ade Julfiani 1621001
• Andriwan Saogo 1621002
• Anggia Putri 1621003
• Atika Dewi 1621005
DEFINISI

Pertusis adalah infeksi saluran pernafasan akut yang


disebabkan oleh berdetellah pertusis . Pertusis juga
merupakan penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh
berdetella pertusisa, nama lain penyakit ini adalah Tussisi
Quinta, whooping cough, batuk rejan. (Arif Mansjoer, 2000 :
428)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
pertusis adalah infeksi saluran pernafasan akut yang
disebabkan oleh bordetella pertusis, nama lain penyakit ini
adalah tussis Quinta, whooping cough, batuk rejan.
ETIOLOGI

Bordetella pertusis adalah satu-satunya penyebab


pertusis yaitu bakteri gram negatif, tidak bergerak, dan
ditemukan dengan melakukan swab pada daerah
nasofaring dan ditanamkan pada media agar Bordet-Gengou.
Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain:
• Berbentuk batang (coccobacilus) .
• Tidak dapat bergerak .
• Bersifat gram negatif .
• Tidak berspora, mempunyai kapsul .
• Mati pada suhu 55ºC selama ½ jam, dan tahan pada suhu
rendah (0º- 10ºC) .
MANIFESTASI KLINIK

Masa tunas 7 – 14 hari. Penyakit ini dapat berlangsung selama 6 minggu


atau lebih dan terbagi dalam 3 stadium, yaitu :
• Stadium Kataralis
Stadium ini berlangsung 1 – 2 minggu ditandai dengan adanya batuk-
batuk ringan, terutama pada malam hari, pilek, serak, anoreksia, dan demam
ringan. Stadium ini menyerupai influenza.
• Stadium Spasmodik
Berlangsung selama 2 – 4 minggu, batuk semakin berat sehingga pasien
gelisah dengan muka merah dan sianotik. Batuk terjadi paroksismal berupa
batuk-batuk khas.
• Stadium Konvalesensi
Berlangsung selama 2 minggu sampai sembuh. Jumlah dan beratnya
serangan batuk berkurang, muntah berkurang, dan nafsu makan timbul
kembali.
CARA PENULARAN

Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang


lain melalui percikan-percikan ludah penderita pada saat
batuk dan bersin. Dapat pula melalui sapu tangan, handuk
dan alat-alat makan yang dicemari kuman-kuman penyakit
tersebut. Tanpa dilakukan perawatan, orang yang menderita
pertusis dapat menularkannya kepada orang lain selama
sampai 3 minggu setelah batuk dimulai.
PENCEGAHAN

Pencegahan dapat dilakukan secara aktif atau pasif, diantaranya :

a. Secara Aktif
Dengan pemberian imunisasi DTP dasar diberikan 3 kali sejak umur 2
bulan(DTP tidak boleh dibrikan sebelum umur 6 minggu)dengan jarak 4-8 minggu.
DTP-1 deberikan pada umur 2 bulan,DTP-2 pada umur 4 bulan dan DTp-3 pada
umur 6 bulan.
Kontra indikasi pemberian vaksin pertusis :
1. Panas yang lebih dari 38 derajat celcius
2. Riwayat kejang
3. Reaksi berlebihan setelah imunisasi DTP sebelumnya, misalnya suhu tinggi
dengan kejang, penurunan kesadaran, syok atau reaksi anafilaktik lainnya.

b. Secara Pasif
Secara pasif pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan
kemopropilaksis. Ternyata eritromisin dapat mencegah terjadinya pertussis untuk
sementara waktu.
PEMASTIAN DIAGNOSIS

Dari hasil penyidikan yang telah dilakukan di desa


Tandasurra Kecamatan Limboro Kabupaten Polewali Mandar
ditemukan 41 penderita pertusis dengan gejala klinis sebagai
berikut :

Tabel 1 : Distribusi penderita pertusis berdasarkan gejala


klinis dan komplikasi di wilayah puskesmas Limboro Tunggal 5
April s/d 11 Juni 2015.
Gejala Klinis / Komplikasi Jumlah Penderita Prosentase

Kriteria Mayor:

- Batuk disertai bunyi Whoop 40 97,6

- Sesak napas 41 100

- Muntah-muntah 33 80,5

Kriteria Minor

- Demam 37 90,2

- Pilek 32 78,0

- Sianosis 2 4,9

- Riwayat Kontak 40 97,6

Komplikasi

- Diare 1 2,4
LANJUTAN....

Tabel diatas menunjukkan bahwa semua penderita mengalami


gejala batuk di sertai bunyi whoop sebanyak 40 penderita
(97,6%) sesak napas 41 penderita (100%) dan sebanyak 33
penderita (80,5%) dengan gejala muntah-muntah. Disamping itu,
semua kasus mengalami gajala klinis lain seperti: demam, pilek,
sianosis dan riwayat kontak, bila di lihat dari criteria
diagnosisnya maka semua kasus mempunyai diagnosis klinis
pertusis karena semuanya memenuhi syarat untuk kriteria
tersebut. Komplikasi yang terjadi pada KLB petusis ini berupa
diare sebanyak 1 penderita (2,4%) dari 41 penderita, tidak ada
yang di rawat inap dengan angka kematian (CFR) sebesar 0%.
KESIMPULAN

• Telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) pertusis di wilayah


puskesmas Kecamatan Limboro Kabupaten Polewali
Mandar dengan jumlah kasus 41 orang dan tidak ada
kematian (CFR 0%)
• Sumber penularan berasal dari anak yang berusia 10
tahun kemudian menular pada keuarga serumah,
tetangga, dan sekolah yang berada di dusun Tandasurra.
• Penderita pertusis hampir semua tidak mendapat
imunisasi DPT.
SEKIAN DAN
TERIMAKASIH