Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Haji merupakan rukun Islam yang kelima yang diwajibkan bagi seorang Muslim sekali
sepanjang hidupnya bagi yang mampu melaksanakanya, Setiap perbuatan dalam
ibadah haji sebenarnya mengandung rahasia, contoh seperti ihrom sebagai upacara
pertama maksudnya adalah bahwa manusia harus melepaskan diri dari hawa nafsu dan
hanya mengahadap diri kepada Allah Yang Maha Agung. Memperteguh iman dan
takwa kepada allah SWT karena dalam ibadah tersebut diliputi dengan penuh
kekhusyu'an, Ibadah haji menambahkan jiwa tauhid yang tinggi
Ibadah haji adalah sebagai tindak lanjut dalam pembentukan sikap mental dan akhlak
yang mulia. Ibadah haji adalah merupakan pernyataan umat islam seluruh dunia
menjadi umat yang satu karena memiliki persamaan atau satu akidah. Memperkuat
fisik dan mental, kerena ibadah haji maupun umrah merupakan ibadah yang berat
memerlukan persiapan fisik yang kuat, biaya besar dan memerlukan kesabaran serta
ketabahan dalam menghadapi segala godaan dan rintangan. Ibadah haji
Menumbuhkan semangat berkorban, baik harta, benda, jiwa besar dan pemurah,
tenaga serta waktu untuk melakukannya.
Dengan melaksanakan ibadah haji bisa dimanfaatkan untuk membangun persatuan
dan kesatuan umat Islam sedunia. Ibadah haji merupakan muktamar akbar umat islam
sedunia, yang peserta-pesertanya berdatangan dari seluruh penjuru dunia dan
Ka'bahlah yang menjadi simbol kesatuan dan persatuan.
• Menurut bahasa, Haji (Arab), berarti mengunjungi, ziarah, atau menuju ke
suatu lokasi yang tertentu.
• Menurut isti’lah pada syara’, Haji berarti mengunjungi ka’bah (Baitullah) di
Mekkah dalam waktu tertentu, kemudian disertai dengan perbuatan-
perbuatan yang tertentu pula. (Matdawam, 1986: 20)
• Sedangkan menurut KBBI Haji adalah rukun Islam kelima (kewajiban
ibadah) yg harus dilakukan oleh orang Islam yg mampu mengunjungi
Ka’bah pada bulan Haji dan mengerjakan amalan haji, seperti ihram,
tawaf, sai, dan wukuf.
• Pengertian haji yang di jabarkan di atas sesuai dengan pengertian firman
Allah SWT.
)125 : ‫اس َوأَ ْمنًا ( البقرة‬ َ ‫• َو ِإ ْذ َج َع ْلنَا ْال َبي‬
ِ َّ‫ْت َمثَا َبةً ِللن‬
• “ Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat
berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.” (Q.S. Al-Baqarah : 125).
• Hukum haji adalah fardhu ‘ain, wajib bagi setiap muslim yang mampu,
wajibnya sekali seumur hidup. Haji merupakan bagian dari rukun Islam.
Mengenai wajibnya haji telah disebutkan dalam Al Qur’an, As Sunnah dan
ijma’ (kesepakatan para ulama).
• http://edieko271.blogspot.co.id/2015/05/makalah-pelaksanaan-ibadah-
haji.html
Hakikat Haji Mabrur
• Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Pada bulan
inilah, ummat Islam dari seluruh dunia melaksanakan ibadah haji. Karena
sesungguhnya, ibadah haji hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Dan
ketahuilah, pahala bagi orang yang hajinya mabrur tidak lain adalah syurga.
Di dalam pelaksanaan ibadah haji, terdapat beberapa lambang yang sangat
penting dalam kehidupan kita. Diantaranya :

· Ka'bah, merupakan lambang aqidah, keyakinan, juga harapan Yakni setiap orang
Islam harus beraqidah dengan benar, beribadah hanya kepada Allah dan memiliki
harapan atas ampunan dan ridha Allah.

· Ihram, merupakan lambing bahwa manusia pada dasarnya tidak memiliki apapun
dan tak ada yang bisa dibanggakan manusia setelah segala yang dimilikinya
diminta kembali oleh Allah. Ia harus tunduk dengan keadaan dasarnya. Hanya
kesucian hati yang dapat mempertemukan manusia dengan Tuhannya

· Wukuf. Seorang haji harus berdiam sejenak menyiapkan strategi untuk melawan
godaan-godaan dalam hidup ( yakni hawa nafsu dan syetan).

· Melempar jumrah : seorang haji harus melemparkan sifat-sifat tercela dan
menggantinya dengan sifat-sifat terpuji (akhlak mahmudah).
• Thawaf menunjukkan bahwa darimanapun asalnya manusia menuju pada titik yang satu.
Yakni Allah Yang Maha Kuasa, Yang menciptakan alam semesta ini. Gerakan-gerakannya
menunjukkan konsistensi dan integritas dalam pengabdian sebagaima manusia. Yakni apakah
ia sebagai suami, isteri, pejabat dan lainnya harus mengabdi kepada Allah.

· Sa'i berarti, memahami wanita mulia yang berasal dari budak, yakni Dewi Sarah yang
perjuang sendirian di tempat yang gersang dengan keyakinan supaya sang putra Ismail as
tetap hidup. Dan kenyataannya Ismail as adalah harapan terbesar orang tua, yakni kehidupan
anaknya.

· Ibrahim as dan Ismail as menunjukkan ketaatan dan perjuangan melawan kedzaliman raja
Namrud.

Bepata indahnya ! Ibrahim as diselamatkan dari api Namrud, dan Ismail as diselamatkan dari
pengorbanan. Keduanya berjuang di tengah kekafiran dan kebobrkan masyarakat. Keduanya
adalah khalifah-khalifah Allah yang bertanggungjawab memberdayakan manusia dan
mendidiknya dengan tauhid. Mereka berdua inilah arsitek rumah tauhid, "kuil tertua dan
pertama di dunia," sekaligus sebagai rumah kemerdekaan, rumah cinta dan persatuan, dan
rumah peribadatan yang melambangkan rahasia.

Wahai haji, engkau adalah Ibrahim, penegak tauhid, pemberantas kemusyrikan, pemimpin
kaum, pembebas kebodohan, kedzaliman, dan kekufuran. Kini bangunlah sebuah rumah,
bukan unruk dirimu sendiri, bukan untuk putramu, tetapi untuk "ummat manusia." Inilah
rumah tempat berteduh bagi orang yang terlunta-lunta, terluka, dan tersiksa atau pun
korban-korban penindasan raja Namrud, sabotase Azar dan tipu daya setan yang selalu
membuntuti kemanapun manusia pergi. Inilah rumah yang aman, suci, dan terbuka bagi
setiap manusia atau keluarga Allah.
• Di luar rumah ini tidak ada tempat yang aman dan suci dari aib karena dunia telah berubah
menjadi rumah pelacuran yang kotor. Dunia telah berubah menjadi rumah jagal, agresi,
diskriminasi dan kebencian.
Di dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa, pada suatu hari Rasulullah SAW
ditanya "apakah amal yang paling utama ?" Baginda Rasul menjawab : Iman kepada Allah dan
rasulNya. Lalu amal apa lagi ? Beliau menjawab : jihad fi sabilillah. Lalu beliau ditanya
lagi,"apa lagi ya Rasulullah," Beliau menjawab : Haji Mabrur.

Kata mabrur dalam Lisan al 'Arab, memiliki dua makna.

Pertama, mabrur berarti baik, suci dan bersih. Jadi haji mabrur adalah haji yang tidak
terdapat di dalamnya noda dan dosa.

Kedua, mabrur berarti maqbul : diterima dan mendapat ridha Allah.

Kedua makna ini sesungguhnya berhubungan dengan keadaan seorang haji di dalam
kehidupan masyarakat. Artinya, ia sungguh-sungguh menghilangkan kekotoran dirinya. Sebab,
ketika seseorang melaksanakan ibadah haji, sesungguhnya ia meninggalkan segala atribut
dunia. Apakah ia seorang birokrat, penguasa, orang 'alim, pedagang dan siapapun dia,
semuanya miskin dan fakir di hadapan Allah. Orang yang melaksanakan ibadah haji, seperti
orang yang mati. Ia harus menyelesaikan segala urusan dirinya dengan orang lain, dan harus
berwasiat kepada keluarganya yang masih hidup.
Rasulullah SAW bersabda :
" 'Umarah yang satu ke umrah yang lainnya adalah tebusan diantaranya, dan haji mabrur
tiada lain ganjarannya, kecuali syurga (HR. Bukhari-Muslim).
Dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW ditanya, apakah haji mabrur ? Rasulullah SAW
menjawab :" ath'im al tha'am wa afsyu al salaam," (memberi makan fakir miskin dan
menebar salam).

• Ini berarti haji yang mabrur pada hakikatnya adalah haji yang dapat membuat
pelakunya semakin peduli terhadap persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan.
Setiap pelaku haji, kata Imam al Ghazali, harus memperhatikan budi luhur atau
akhlak mulia baik ketika berada di tanah suci maupun ketika pulang ke kampung
halaman sebagaimana maksud firman Allah dalam surat Ali Imran, ayat 197..
Dengan demikian, ia dan masyarakat memperoleh kebaikan dari ibadah haji yang
dilakukannya. Karena itu syurga memang pantas dan layak baginya.
Alangkah indahnya ! seorang haji meninggalkan egosentrisme, menggantinya
dengan senantiasa melakukan tindakan kasih sayang terhadap sesama dan
menyebarluaskan perdamaian, keselamatan dan ketenangan di dalam keluarga,
masyarakat dan bangsa. Dan ketahuilah, bahwa Allah memberi kebijaksanaan pada
setiap orang yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci,
tebusannya adalah shalat jum'at. Karena itu wahai saudara-saudarakau marilah
kita senantiasa memperbaharui diri agar kita semua memperoleh kebaikan.

Ketahuilah "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa
yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak
boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan
haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah
kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (Q.S.2:197)
• http://menujucahayaterang.blogspot.co.id/2009/06/hakikat-haji-mabrur.html
• Sejarah Haji (Umrah)
• Sejarah Haji tak lepas dari sosok-sosok utama dalam Islam, yaitu Nabi Adam, Nabi Ibrahim,
Siti Hajar, Nabi Ismail, dan iblis laknatullah. Sejarah yg begitu panjang mulai dari Nabi Adam
ini pada akhirnya menjadi salah satu syariat ummat Nabi Muhammad sebagai nabi akhir
zaman. Tempat terukirnya sejarah besar ini adalah sekitar Masjidil Haram, Mas’a (tempat sai),
Arafah, Masy’ar, dan Mina. Simbol utama dari sejarah ini adalah Ka’bah.
• Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai literatur mengenai ibadah haji dan umrah,
pelaksanaan ibadah ini telah disyariatkan sejak zaman Nabi Adam AS hingga Nabi
Muhammad SAW.
• Berikut sejumlah tata cara ibadah haji yang dilaksanakan sejak zaman Nabi Adam AS hingga
sekarang ini.
• Nabi Adam AS
• Setelah beberapa waktu sejak diturunkan ke bumi, Nabi Adam diperintahkan oleh Allah SWT
pergi ke Baitullah di Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Menurut sejumlah riwayat,
Ka’bah dibangun oleh para malaikat. Dan selama lebih dari 2.000 tahun, malaikat sudah
melaksanakan tawaf (mengelilingi Ka’bah). Nabi Adam AS kemudian mengikuti apa yang
dilakukan malaikat. Kemudian, Nabi Adam AS diperintahkan untuk membangun kembali
Ka’bah. “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia
ialah Baitullah di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua
manusia.” (QS Ali Imran [3]: 96).
• Dalam kisahnya, setelah Adam dan Hawa diturunkan ke dunia dalam keadaan terpisah
kemudian mereka bertemu kembali di Jabal Rahmah yang berarti Bukit Kasih Sayang. Untuk
mengenangnya, di atas Jabal Rahmah terdapat suatu tugu yang terbuat dari beton persegi
empat dengan lebar 1,8 meter dan tingginya 8 meter. Masyarakat setempat percaya, lokasi
bertemunya Adam dan Hawa persis di titik tugu tersebut.
• Jabal Rahmah juga jadi tempat bersejarah bagi perjalanan Nabi Muhammad. Di
sanalah dirinya menerima wahyu terakhir dari Allah, sekaligus penyempurna dari
ajaran Islam.

• Banyak yang percaya, jika berdoa minta jodoh di Jabal Rahmah maka
permintaannya cepat dikabulkan. Selain itu, sejarah dan pemandangan yang
terlihat dari Jabal Rahmah sudah mampu mencuri perhatian jamaah haji.
• Nabi Hud dan Saleh
• Para nabi setelah Adam AS juga melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Ibnu Katsir
dalam kitabnya, Bidayah wa an-Nihayah, menyebutkan sebuah riwayat Imam
Ahmad bin Hanbal ra, Ibnu Abbas ra berkata, “Ketika Nabi SAW sedang lewat di
Lembah Usfan pada waktu berhaji, beliau berkata, ‘Wahai Abu Bakar, lembah
apakah ini?’ Abu Bakar menjawab, ‘Lembah Usfan.’ Nabi Bersabda, ‘Hud dan Saleh
AS pernah melewati tempat ini dengan mengendarai unta-unta muda yang tali
kekangnya dari anyaman serabut. Sarung mereka adalah jubah dan baju mereka
adalah pakaian bergaris. Mereka mengucapkan talbiyah melaksanakan ibadah haji
ke Baitullah’.”
• Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS
• “Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah
(dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu menyekutukan sesuatu pun dengan Aku
dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang bertawaf dan orang-orang
yang beribadah, dan orang yang ruku dan sujud. Dan, serulah manusia untuk
mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki
dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh,
supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka
menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan’.” (QS al-Hajj [22]: 26-28).

• Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk mengajak umat manusia
mengerjakan ibadah haji ke Baitullah. Selanjutnya, nabi-nabi lainnya mengerjakan
hal serupa.
• Kisah Nabi Ibrahim ini tak lepas dari sejarah kurban yang pertama, dimana Nabi
Ibrahim dalam mimpinya diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya Nabi
Ismail. Jauh sebelum perintah penyembelihan itu Nabi Ibrahim juga pernah
menyuruh Nabi Ibrahim mengungsikan Ismail yang masih bayi bersama ibunya Siti
Hajar ke tengah padang pasir yang tandus.

• Siti Hajar yang berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwa mencari sumber air
menjadi latar sejarah ibadah Sa'i. Yang tak kalah mengesanakan adalah
terpancarnya sumber air pertama sumur Zam-zam yang muncul dari hentakan-
hentakan kaki Ismail yang menangis kehausan.

• Nabi Muhammad SAW
• Ibadah haji disyariatkan pertama kali pada tahun keenam Hijriah. Sedangkan, Nabi
Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji pada tahun kesembilan Hijriah.
• Banyak ayat Alquran yang memerintahkan Nabi SAW dan umat Islam untuk
melaksanakan haji, sebagaimana tuntunan Allah dalam Alquran (QS 3: 97, 22: 27,
2: 196, 9: 2-3, 9: 17, 9: 28, dan 22: 27).
• Adapun tuntunan yang mesti dilaksanakan adalah:
• -Tawaf (QS 22: 29 dan 2: 125)
• -Sai antara Safa dan Marwa (QS 2: 158)
• -Wukuf (QS 85: 3, 89: 2, dan 2: 198-199)
• -Berkurban (QS 89: 2, 22: 28, dan 22: 36)
• -Tahalul atau mencukur rambut (QS 48: 27, 2: 196, dan 22: 29).
• Nabi Muhammad memiliki ikatan sejarah yang menarik dengan simbol ibadah haji
dan umrah ini yaitu Ka'bah. Saat itu kaum-kaum bangsawan kota Makkah berebut
ingin meletakkan Hajar Aswat di sisi Ka'bah. Salah seorang memberi usul, bahwa
yang akan meletakkan batu hitam itu adalah orang yang muncul pertama kali di
pintu Ka'bah. Dengan kehendak Allah, ternyata yang muncul pertama kali adalah
Nabi Muhammad. Namun dengan bijaksana Nabi Muhammad menyuruh mereka
meletakkan Hajar Aswat di atas selembar kain lalu masing-masing kaum
memegangi pinggirnya dan membawa batu tersebut bersama-sama ke dekat
Ka'bah. Barulah kemudian Nabi Muhammad mengangkatnya dan meletakkan pada
posisi yang sekarang kita temui.
• https://www.facebook.com/notes/khalifa-hajj/sejarah-haji-
umrah/1535414083362380/
Haji Mabrur. Makna, Ciri dan
Cara Mendapatkannya
• Rasulullullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang haji mabrur: Artinya; ‘Umrah ke
umrah menghapus dosa antara keduanya, dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali
surga.” (HR. Al-Bukhari 1773, Muslim 1350).
• Dan di hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullullah Sallallahu
Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang amalan apa yang paling utama? Beliau menjawab :
‘Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian beliau ditanya kembali, ‘Setelah itu apa
lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad fi Sabilillah.’ Kemudian ditanya lagi, ‘Lalu apa lagi? Beliau
menjawab, ‘Haji mabrur.’ (HR. Al-Bukhari 1519, Muslim 83).
• Makna ‘Haji Mabrur’
• Ulama berbeda pendapat dalam memaknai haji mabrur. Sebagian berpendapat bahwa ia
adalah amalan haji yang diterima di sisi Allah, dan sebagiannya lagi berpendapat yaitu haji
yang buahnya tampak pada pelakunya dengan indikasi keadaannya setelah berhaji jauh lebih
baik sebelum ia berhaji. (lihat Fathul Allam oleh Shiddiq Hasan Khan 1/594). Salah seorang
Ulama Hadis Al Hafidh Ibn Hajar al’ Asqalani dalam kitab Fathul Baarii, syarah Bukhori Muslim
menjelaskan: “Haji mabrur adalah haji yang maqbul yakni haji yang diterima oleh
Allah Subhanahu waTa’ala.”
• Pendapat lain yang saling menguatkan dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam syarah Muslim:
“Haji mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori oleh dosa, atau haji yang diterima
Allah Subhanahu waTa’ala, yang tidak ada riyanya, tidak ada sum’ah tidak rafats dan tidak
fusuq.”
• Selanjutnya oleh Abu Bakar Jabir al Jazaari dalam kitab, Minhajul Muslimin
mengungkapkan bahwa: “Haji mabrur itu ialah haji yang bersih dari segala dosa,
penuh dengan amal shaleh dan kebajikan-kebajikan.” Berdasarkan rumusan yang
diberikan oleh para Ulama di atas tentang pengertian haji mabrur ini, maka dapat
kita simpulkan bahwa haji mambur adalah haji yang dapat disempurnakan segala
hukum-hukum berdasarkan perintah Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
waSallam. Sebuah predikat haji yang tidak mendatangkan perasaan riya’ bersih
dari dosa senantiasa dibarengi dengan peningkatan amal-amal shalih, tidak ingin
disanjung dan tidak melakukan perbuatan keji dan merusak.
• Makna di atas saling berdekatan, dan untuk mencapai kemabruran haji tentu tidak
dapat terlepas dari makna diatas. Dengan demikian Al-Allamah Al-Munâwi berkata
ketika menjelaskan makna ‘haji mabrur’ : ‘Maknanya adalah haji yang diterima,
yaitu haji yang tidak tercampur dengan dosa apapun, dan diantara indikasi
diterimanya adalah ia kembali melakukan kebaikan yang pernah ia lakukan dan ia
tidak kembali melakukan kemaksiyatan.’ (Faidhul Qadîr oleh Al-Allamah Al-Munâwi
3/520)
• Syarat-syarat Haji Mabrur
• Untuk meraih predikat haji mabrur, maka mesti terkumpul di dalamnya hal-hal
berikut:
• 1. Hendaknya haji yang ia lakukan harus benar-benar ikhlash karena Allah, bahwa
motivasinya dalam berhaji tidak lain hanya karena mencari ridha Allah dan
bertaqarrub kepada-Nya. Ia berhaji bukan karena riya’ dan sum’ah, dan bukan pula
karena ingin di gelar dengan sebutan haji. Ia berhaji semata-mata mencari
keridhaan Allah.
• 2. Haji yang ia lakukan mesti serupa dengan sifat haji Nabi Sallallahu Alaihi wa
Sallam. Maksudnya dalam melakukan pro-ses ibadah haji, manusia dengan
segenap kemampuannya mengikuti cara yang dicontohkan Nabi Sallallahu Alaihi
wa Sallam.
• 3. Harta yang ia pakai untuk berhaji adalah harta yang mubah bukan yang haram.
Bukan diperoleh dari hasil transaksi riba, tipuan, judi dan bentuk-bentuk lainnya
yang diharamkan. Tapi, didapat dari usaha halal.
• 4. Hendaknya ia menjauhi rafats (menge-luarkan perkataan yang menimbulkan
birahi/bersetubuh), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan. Allah berfirman:
ِ‫سوقَ َوالَ ِج َدا َل فِ ي ْال َحج‬ َ َ‫ض فِي ِه َّن ْال َح َّج فَالَ َرف‬
ُ ُ‫ث َوالَ ف‬ َ ‫• فَ َمن فَ َر‬
• Artinya: ‘Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan
mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan
di dalam masa mengerjakan haji. (QS. Al-Baqarah 197).
• (Lihat Syarh Riyâdus Shâlihin oleh Syaikh Ibnu Utsaimin 3/113).
• Tanda Haji Mabrur
• Sebenarnya yang mempunyai hak menilai kemabruran haji seseorang hanyalah
Allah Ta’ala. Dan sebagai manusia kita hanya bisa menilai mabrur tidaknya haji dari
pandangan manusia saja. Ada beberapa tanda haji mabrur menurut para Ulama
Islam berdasarkan akan keterangan serta nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berikut
beberapa tanda ciri haji mabrur tersebut :
• 1. Segala amalan ibadah haji dilakukan dan berdasarkan atas keikhlasan
mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala dan juga dilaksanakan sesuai dengan
tuntunan syariat Islam. Dalam melaksanakan ibadah haji ini kita harus benar-benar
meluruskan niatan hati kita ikhlas karena Allah, bukan karena kita naik haji karena
gengsi, untuk status sosial atau niat keliru lainnya untuk mendapatkan pandangan
masyarakat saja. Inilah salah satu ciri haji yang mabrur.
• 2. Harta yang digunakan dalam melaksanakan haji tersebut adalah dari hasil harta
yang halal. Karena sesuatu yang baik dalam hal apa pun akan menghasilkan hasil
yang baik bila hal tersebut juga berasal dari yang baik. Untuk itu bila kita memang
menginginkan pergi haji dan melaksanakan ibadah haji maka kita juga harus bisa
memastikan harta yang dipakai kita adalah halal agar bisa bisa nantinya
mendapatkan haji yang mabrur.
• 3. Melaksanakan serangkaian ibadah haji yang telah dituntunkan dan ditambah serta dipenuhi dengan
amalan-amalan ibadah lainnya yang menyertainya seperti halnya memperbanyak dzikir di Masjidil Haram,
memperbanyak sedekah di kala haji dan berkata-kata yang baik. Point pentingnya adalah dengan banyak
melakukan kebaikan di dalam melaksanakan haji tersebut. Di antara amalan khusus yang disyariatkan
untuk meraih haji mabrur adalah bersedekah dan berkata-kata baik selama haji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah ditanya tentang maksud haji mabrur, maka beliau menjawab :”Memberi makan dan
berkata-kata baik.” (HR. Al-Baihaqi 2/413 (no. 10693).
• 4. Tidak melakukan perbuatan maksiat khususnya dalam melaksanakan ihram. Larangan berbuat maksiat
ini memang dalam setiap tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat sedang
melaksanakan haji, maka meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat adalah salah satu cara dan tips agar
haji kita memperoleh kemabruran. Hal-hal yang termasuk dilarang dalam ihram dan haji adalah rafats,
fusuq dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji. Pengertian rafats adalah semua bentuk kekejian
dan perkara yang tidak berguna. Termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau membicarakannya,
meskipun dengan pasangan sendiri selama ihram. Fusuq adalah keluar dari ketaatan kepada Allah, apapun
bentuknya. Dalilnya adalah salah satunya hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu :”Barang
siapa yang haji dan ia tidak rafats dan tidak fusuq, ia akan kembali pada keadaannya saat dilahirkan
ibunya.” (HR. Muslim (1350).
• 5. Kebaikan dan amal sholehnya meningkat setelah selesai melaksanakan ibadah haji dan tiba di tanah air.
Salah satu tanda diterimanya amal seseorang di sisi Allah adalah diberikan taufik untuk melakukan
kebaikan lagi setelah amalan tersebut. Sebaliknya, jika setelah beramal saleh melakukan perbuatan buruk,
maka itu adalah tanda bahwa Allah tidak menerima amalannya. Sama halnya dengan diterima amalan
ibadah puasa ramadhan maka bila sebelas bulan berikutnya amalan ibadah kita meningkat maka itu
adalah salah satu tanda ibadah puasa Ramadhan kita diterimaNya. Sehingga tentunya kita lebih
memahami bahwasannya setelah melaksanakan ibadah haji maka amalan ibadahnya akan semakin baik,
banyak bertaubat setelah haji, berubah menjadi lebih baik baik dalam ibadahnya kepada Allah dan juga
hubungannya antara sesama manusia, memiliki hati yang lebih lembut dan bersih, ilmu dan amal yang
lebih mantap dan benar, kemudian istiqamah di atas kebaikan itu adalah salah satu tanda haji mabrur .
• https://kangudo.wordpress.com/2013/09/13/haji-mabrur-makna-ciri-dan-cara-mendapatkannya/
• D. Hikmah Melaksanakan Haji
• Setiap perbuatan dalam ibadah haji sebenarnya mengandung rahasia, contoh seperti ihrom
sebagai upacara pertama maksudnya adalah bahwa manusia harus melepaskan diri dari hawa
nafsu dan hanya mengahadap diri kepada Allah Yang Maha Agung.
• Memperteguh iman dan takwa kepada allah SWT karena dalam ibadah tersebut diliputi
dengan penuh kekhusyu’an
• Ibadah haji menambahkan jiwa tauhid yang tinggi
• Ibadah haji adalah sebagai tindak lanjut dalam pembentukan sikap mental dan akhlak yang
mulia.
• Ibadah haji adalah merupakan pernyataan umat islam seluruh dunia menjadi umat yang satu
karena mempunyai persamaan atau satu akidah.
• Ibadah haji merupakan muktamar akbar umat islam sedunia, yang peserta-pesertanya
berdatangan dari seluruh penjuru dunia dan Ka’bahlah yang menjadi symbol kesatuan dan
persatuan.
• Memperkuat fisik dan mental, kerena ibadah haji maupun umrah merupakan ibadah yang
berat memerlukan persiapan fisik yang kuat, biaya besar dan memerlukan kesabaran serta
ketabahan dalam menghadapi segala godaan dan rintangan.
• Menumbuhkan semangat berkorban, karena ibadah haji maupun umrah, banyak meminta
pengorbanan baik harta, benda, jiwa besar dan pemurah, tenaga serta waktu untuk
melakukannya.
• Dengan melaksanakan ibadah haji bisa dimanfaatkan untuk membina persatuan dan
kesatuan umat Islam sedunia.

http://yulinelvipi.blogspot.co.id/2015/06/hakekatsejarahtujuan-dan-hikmah-haji.html


• E. MAKNA SPIRITUAL HAJI BAGI KEHIDUPAAN SOSIAL
• Ketika melaksanakan ibadah haji, seseorang mestinya menyadari bahwa haji merupakan
sebuah panggilan untuk merendahkan hati di hadapan Allah. Penghambaan kepada Allah,
menolah penghambaan kepada selain-Nya, jelas termanifestasikan dalam ritual-ritual Haji.
Bagaimana ibadah ini dikombinasikan dengan shalat-shalat dan doa-doa, membuatnya
menjadi ibadah yang mensyaratkan penghambaan kepada Allah dalam bentuknya yang paling
utama.
• Haji adalah bentuk kerendahan hati di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Haji merupakan
bentuk penelusuran dan ekspresi terhadap tanda-tanda Allah dalam bentuknya yang paling
dalam. Haji adalah ibadah yang beragam manusia dari jenis yang berbeda datang bersama-
sama untuk menyatakan pengabdian, penghambaan dan kerendahan hati dihadapan Allah.
Kesucian, kebebasan dari nafsu, keterpisahan dari materi secara penuh dapat disaksikan di
sana.
• Mengunjungi rumah Allah (Ka’bah) dengan mengenakan dua helai pakaian sederhana,
menunjukkan kemerdekaan mereka dari objek-objek material dan berusaha untuk
melupakan segala sesuatu bahkan anak-anak, keluarga, dan tanah air mereka. Dan satu-
satunya hal yang terlintas dalam pikiran mereka adalah perkataan “ya” untuk menyambut
proklamasi Allah. Inilah mengapa haji dipandang sebagai salah satu bentuk terpenting dari
penghambaan dan bimbingan spiritual. Lebih lanjut, sebuah pertanyaan muncul, apakah haji
memiliki aspek politik dan sosial, ataukah ia hanya dapat direduksi dalam penghambaan
kepada Allah, seperti halnya shalat di waktu malam, tidak memiliki hubungan apapun dengan
persoalan-persoalan Islam yang telah berhubungan dengan sesama Muslim?
• Dengan kata lain, apakah Haji dimaksudkan Allah semata-mata sebagai penghambaan
kepada-Nya oleh seluruh Muslim, tua dan muda, dan tidak ada aspek politik dan sosial yang
dapat disematkan ke dalam ibadah ini? Atau apakah ajaran ini titik temu antara aspek
penghambaan dan politik; sebuah pusat bersatunya bentuk penghambaan dengan aspek-
aspek ekonomi dan sosial? Al Quran, hadis dan sunah-sunah para pendahulu yang saleh
ternyata membenarkan pandangan yang kedua.
KESIMPULAN
• Berdasarkan makalah yang membahas tuntas tentang haji, dapat disimpulkan :
• 1. Haji berarti bersengaja mendatangi Baitullah (ka’bah) untuk melakukan beberapa amal
ibadah dengan tata cara yang tertentu dan dilaksanakan pada waktu tertentu pula, menurut
syarat-syarat yang ditentukan oleh syara’, semata-mata mencari ridho Allah.
• 2. Umrah ialah menziarahi ka’bah, melakukan tawaf di sekelilingnya, bersa’yu antara Shafa
dan Marwah dan mencukur atau menggunting rambut.
• 3. Ketaatan kepada Allah SWT itulah tujuan utama dalam melakukan ibadah haji.
Disamping itu juga untuk menunjukkan kebesaran Allah SWT.
• 4. Dasar Hukum Perintah Haji atau umrah terdapat dalam QS. Ali- Imran 97.
• 5. Untuk dapat menjalankan ibadah haji dan umrah harus memenuhi syarat, rukun dan
wajib haji atau umroh.