Anda di halaman 1dari 79

KEBIJAKAN

DAN
SITUASI ZOONOSIS

2019
Pendahuluan

INDONESIA - Salah satu HOTSPOT untuk


EMERGING INFECTIOUS DISEASES
PENYAKIT INFEKSI EMERGING (PIE)
(Emerging Infectious Diseases)

75% PENYAKIT INFEKSI EMERGING ADALAH


PENYAKIT ZOONOTIK
PENYAKIT INFEKSI EMERGING ANTARA LAIN
MUNCUL KARENA :
1. PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA BERLEBIHAN
2. PENGGUNAAN PESTISIDA BERLEBIHAN
3. PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN PERUBAHAN
IKLIM
4. PERUBAHAN GAYA HIDUP
5. MENINGKATNYA INTERAKSI ANTARA MANUSIA
DAN HEWAN
DERASNYA ARUS
GLOBALISASI
TRANSPORTASI, PERDAGANGAN, INFORMASI

DERASNYA ARUS
GLOBALISASI
TRANSPORTASI,
PERDAGANGAN,
DAN INFORMASI
BERAKIBAT
MUDAHNYA
PENYEBARAN
PENYAKIT ANTAR
NEGARA
DAN
ANTAR BENUA
TERMASUK PIE
DAN ZOONOSIS
4
ZOONOSIS MERUPAKAN MASALAH KESEHATAN
MASYARAKAT DI INDONESIA
DAN
PENGENDALIANNYA ADALAH PRIORITAS

• Flu Burung: Angka kematian tinggi dan berisiko menimbulkan


KLB/ Wabah/ Pandemi
• Rabies: Angka kematian 100% dan berpotensi menimbulkan
KLB
• Leptospirosis: Endemis di 15 Provinsi, penyebaran cepat di
daerah rawan, penyakit mudah berkembang menjadi parah
dan sering menimbulkan KLB
• Antraks: Berpotensi menimbulkan KLB, dapat mengakibatkan
kematian, sering menimbulkan kepanikan
• Pes: Berpotensi menimbulkan KLB, terkait dengan nama baik
negara
• JE : Beberapa daerah berisiko dan penderita mengalami
gejala sisa permanen
MASALAH ZOONOSIS
PENTING
 70% penyakit-baru dan penyakit-lama yang muncul lagi (new
emerging/re-emerging diseases) adalah zoonosis : Avian Influenza
(H5N1, H7N9); MERSCoV; Ebola Virus Diseases (EVD).
 Angka Kematian Zoonosis tinggi (50-90%) dan dapat menyerang
otak serta organ tubuh lainnya.
 Zoonosis berdampak negatif pada perekonomian
 Zoonosis berpotensi menimbulkan wabah
 Akibat globalisasi-transportasi, penyebaran cepat, seakan-akan
batas negara /sekat wilayah tidak ada lagi
 Pengendalian zoonosis adalah tuntutan global karena berpotensi
menimbulkan Public Health Emergency of International Concern
 Zoonosis dapat digunakan untuk bioterorisme (Mis: Antraks)
LINGKUP PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN ZOONOSIS
OLEH SEKTOR PETERNAKAN DAN SEKTOR KESEHATAN

Penanganan
pada sumber, • ↙ angka kesakitan
vektor & faktor • ↙ risiko penularan
risiko Reduksi
atau
Eliminasi
• ↗ akses pelayanan
Zoonosis
• ↙ angka kesakitan
Penanganan • ↙ angka kematian
pada host / • Pelayanan yang efisien
manusia) & efektif
TUJUAN
PENGENDALIAN ZOONOSIS
.
• Menurunkan angka kesakitan dan
1. kematian akibat zoonosis

• Mencegah/membatasi/menanggulangi
Kejadian Luar Biasa/wabah zoonosis
2.
• Mencegah dan membatasi keluar masuknya
KLB/Wabah zoonosis antar daerah/wilayah serta
masuknya zoonosis dari dan ke Indonesia pada
3. situasi Pandemi.
Kegiatan Pokok Pengendalian
ZOONOSIS
1 Surveilans terpadu

2 Penemuan & tatalaksana kasus

3 Kerjasama Lintas sektor

Pengendalian 4 Peningkatan peran serta masy

Zoonosis 5 SKD dan penanggulangan KLB

6
Penyuluhan
7
Capacity building
8
Monev
KOORDINASI, SINERGI DAN KOLABORASI
DALAM PENCEGAHAN & PENGENDALIAN ZOONOSIS (1)

Pencegahan & Pengendalian zoonosis


(Lintas Sektor)
Menurunkan Faktor

Surveilans terpadu
&sharing Informasi

Kolaborasi
penelitian
Koordinasi
Respon
risiko

MEKANISME KOORDINASI
LINTAS SEKTOR
Keberhasilan pencegahan & pengendalian zoonosis sangat
ditentukan oleh koordinasi, sinergi & kolaborasi lintas sektor
dengan dukungan seluruh masyarakat 10
KOORDINASI, SINERGI DAN KOLABORASI
DALAM PENCEGAHAN & PENGENDALIAN ZOONOSIS (2)

Kemenko PMK: Peternakan Kemendikbud:


• Fungsi - Penanganan sumber - Peningkatan
Koordinasi - Lalin hewan pengetahuan melalui
antar K/L anak sekolah
• Advokasi - UKS
- Pramuka
Kemendagri :
- Koordinasi pimpinan PENCEGAHA Perdagangan:
daerah N& Pengawasan import
- Pemenuhan kebutuhan hewan
SDM di daerah PENGENDALI
UNIV:
- PKK AN - Pemenuhan SDM
LITBANG: ZOONOSIS - KOMLI
Dukungan penelitian - Penelitian
tepat guna
Swasta:
KLHK : KEMENDES :
- Forum Kab/Kota sehat
Pengawasan Satwa Liar Pemberdayaa - Pemberdayaan masy
n Masyarakat - KIE

Slide ini menggambarkan peran dari berbagai sektor dalam pencegahan


dan pengendalian pandemi
Program Unggulan Terobosan Intervensi

1.Akselerasi, 1. Kampanye kelambu massal,


Intensifikasi dan intensifikasi pengendalian,
1. Eliminasi Malaria
Eliminasi
surveilans migrasi .
2030 2. Pemberian Obat Massal
2.Pelaksanaan Bulan Pencegahan (POPM) Filariasis
2. Eliminasi Filariasis Eliminasi Kaki Gajah serentak pada total penduduk di
2020 (BELKAGA) daerah endemis.

3.Gerakan “1 rumah 1 3. Petugas pemantau jentik di Rumah


3. Penurunan Tangga, Instansi Pemerintah /
Insidens DBD Jumantik” untuk Swasta, Sekolah & Tempat-tempat
mencegah demam Umum
4. Eliminasi Rabies berdarah 4. Pengendalian zoonosis terintegrasi
2020 4.Pendekatan “One multi sektor mulai dari
perencanaan, pelaksanaan sampai
5. Pengendalian Health” evaluasi
Vektor Terpadu 5.Intensifikasi surveilans 5. Peningkatan kapasitas SDM dan
(IVM) vektor kualitas surveilans vektor.

Keluarga Sehat
PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
ZOONOSIS

Pilar 1. Paradigma Pilar 2. Penguatan Pilar 3. Penguatan


Sehat surveilans Yankes
Program Program
• Promotif – Program • Peningkatan
• Tim Gerak Cepat
preventif
terpadu akses
• Pemberdayaan FB/Zoonosis masyarakat . Mis
masyarakat •Penerapan pendekatan
Surveilans Terpadu : Rabies Center
• Keterlibatan lintas •continuum of berbasis
Surveilans care • Peningkatan
sektor laboratorium SDM
Intervensi berbasis
• Legislasi • JKN/ Jaminan
resiko kesehatan
Kesehatan
(health risk)
• Pemenuhan
logistik : obat,
VAR
KASUS TURUN
KELUARGA KLB TURUN
SEHAT ELIMINASI TERCAPAI
PRIORITAS
PENGENDALIAN
KEMENTERIAN PERPRES NO 30,
KESEHATAN TAHUN 2011

1. FLU BURUNG 1. FLU BURUNG


2. RABIES 2. RABIES
3. ANTRAKS 3. ANTRAKS
4. LEPTOSPIROSIS 4. PES
5. PES 5. LEPTOSPIROSIS
6. JE* 6. BRUCELLOSIS
ONE HEALTH
ONE HEALTH ADALAH PENDEKATAN DALAM PELAYANAN
KESEHATAN YANG DILAKSANAKAN SECARA TERPADU LINTAS
SEKTOR BERSAMA MASYARAKAT

PENDEKATAN ONE HEALTH TERUTAMA DITERAPKAN DALAM


PENANGGULANGAN PENYAKIT ZOONOTIK DAN PENYAKIT INFEKSI
EMERGING

PENERAPAN ONE HEALTH DI TINGKAT NASIONAL MELIBATKAN


SEKTOR TERKAIT : KEMENKES, KEMENTAN, KEMEN-LHK,
KEMENDAGRI, KEMENKO PMK, BNPB

PENERAPAN ONE HEALTH DI TINGKAT GLOBAL MELIBATKAN


ORGANISASI INTERNASIONAL TERKAIT :WHO, FAO, OIE
PRINSIP UMUM PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN PENYAKIT

• Mengurangi
risiko • Early
• Respon cepat
penularan Detection
• Komunikasi
• Koordinasi & • Surveilans
risiko
Kolaborasi • Diagnosis
• Preparedness
LS • SDM

Prevent Avoidable Detect Threats Respond Rapidly


Epidemics Early and Effectively

Keberhasilan prevent, detect dan respon sangat ditentukan oleh dukungan


& kerjasama lintas sektor bersama seluruh masyarakat 16
RENSTRA
PENGENDALIAN
Socio – cultural
RABIES
Technical framework
1.Surv epidemilogi
1.Komunikasi
2.SKD & penanggulangan
2.Tanggungjawab pemilik HPR dan KLB
ternak
3.Lab diagnostik
lainnya 4.Akses masyarakat
3.Perub perilaku 5.Managemen tatalaksana
4.Kampanye  Worl Rabies Day kasus
6.Monev
Zoonosis 7.Penelitian
Organisasi & OH framework Kebijakan dan legislasi
1. NSPK
1.Koordinasi nasional dan 2. Suport dari pimpinan
daerah tertinggi
2.Koord Inter-sectoral 3. Dukungan peraturan
3.Partnership 4. Mobilisasi sumber daya
Surveilans Terpadu Kesmas -
Keswan
FB, SATWA LIAR
Lepto,
Rabies, KESEHATAN
KASUS
Antraks,
JE
KOORDINASI KESWAN
KOLABORASI
KOMUNIKASI

PUSKESMAS PUSKESWAN

BKSDA

SURVEILANS &
PENGENDALIAN
BERSAMA
PETA DAERAH ENDEMIS
FLU
RABIES BURUNG

LEPTOSPIROSIS ANTRAKS

13 Prov pada manusia.


21 prov pada hewan/rodent.
TUJUAN PENGENDALIAN RABIES

.
• Menurunkan angka kematian akibat
1. Rabies dengan tatalaksanan sesuai SOP

• Mencegah/membatasi/menanggulangi
Kejadian Luar Biasa/wabah Rabies
2.

• Mencegah dan membatasi keluar masuknya


KLB/Wabah Rabies antar daerah/wilayah..
3.
RABIES
Rabies merupakan penyakit yang mematikan
tetapi dapat dicegah
Bila telah muncul gejala klinis rabies, maka
penderita akan meninggal
Sampai saat ini belum ada obatnya

LS LP 4 MARET
SITUASI RABIES DI BEBERAPA
NEGARA ASIA

•Kasus Kematian disebabkan Rabies (Lyssa):


 India : rata-rata 20.000 kasus/tahun
 China : rata-rata 2.500 kasus/tahun
 Filipina : 200 - 300 kasus/tahun
 Vietnam : rata-rata 9.000 kasus/tahun
•Indonesia : rata-rata 132 kasus/thn (5 thn terakhir)
•Rata-rata di dunia: 55.000 kasus/thn (95 % terjadi di Asia
& Afrika)
•40 % terjadi pada anak-anak < 15 th
Indonesia
Tahun 2011 – 2017
Rabies
90,000 200 tersebar di 25
80,000 180 prov.
70,000 160
Ada 9 provinsi
140
60,000 bebas: Babel,
120 Kep. Riau, DKI
50,000
100 Jakarta ,
40,000
80 Jateng,
30,000 Jatim, DI
60
20,000 40 Yogya,
10,000 20 NTB,Papua
- -
dan Papua
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Barat.
GHPR 84,010 84,750 69,136 73,767 80,403 68,224 65,429
PET 71,843 74,331 54,059 59,541 57,899 45,311 45,250
Lyssa 184 137 119 98 118 99 95

GHPR: gigitan hewan penular rabies


Di VAR/PET : Post Exposure Treatment
Lyssa : Kematian karena Rabies
Sumber : Subdit Zoonosis
Kasus Rabies pada Manusia th
2013 - 2017
30

25

20

15

10

0
NA SU SU RIA JA SU BE LA BA JAB BA NT SU GO SU SU SU SU KA KA KA KA MA MA KA
D M MB U MB MS NG MP NT AR LI T LU RO LTE LTR LSE LB LSE LTE LTI LT LU LU LB
UT AR I EL KU UN EN T NT NG A L AR L NG M AR T KU AR
LU G AL A
O
2013 1 5 8 12 0 0 3 0 0 0 1 6 30 8 8 12 6 1 0 0 2 5 11 0
2014 1 10 8 3 0 0 5 3 0 0 2 0 22 5 4 3 0 0 1 5 0 0 6 6 14
2015 1 14 7 2 1 2 6 0 0 3 15 2 28 6 2 2 2 0 0 8 0 8 4 5
2016 0 9 6 3 1 0 5 1 0 1 5 1 21 4 5 2 0 0 1 5 0 0 3 6 12
2017 4 5 1 4 1 1 9 8 4 3 1 22 2 3 22
24
0
5
10
15
20
25
SULSEL

22 22
KALBAR

9
NTT

8
SULUT

5
SUMBAR
GORONTALO
SUMUT

4 4 4
SUMSEL
SULTENG

3 3
MALUT

2
SULBAR
RIAU
BENGKULU
BALI
1 1 1 1

SULTRA
NAD
Tahun 2017

JAMBI
LAMPUNG
BANTEN
JABAR
KALSEL
KALTENG
akibat

KALTIM
kematian
Tidak ada

rabies (10

KALTARA
Grafik Kematian Rabies per Provinsi

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

MALUKU
Rabies Pada Manusia
Tahun 2017
SITUASI RABIES PROV SUMBAR TH 2017

27
INDIKATOR(1)

1. Proporsi ketersediaan VAR dengan rata-rata kasus


gigitan per tahun  80 %

2. Rantai dingin penyimpanan VAR/SAR terjamin (ada


tempat penyimpanan vaksin terkalibrasi dan ada
catatan pemantauan suhu)  100%

3. Prosentase rabies center yang memenuhi standar 


60%
INDIKATOR(2)

5. Jumlah RSUD/RSU Provinsi yang memiliki ruang isolasi


dan mampu merawat pasien rabies  min 2 RS
6. Frekuensi pertemuan koordinasi/ terpadu pengendalian
rabies  minimal 2 kali setahun
7. Persentase kasus gigitan HPR yang dilakukan pencucian
luka sesuai protap  100 %
8. Persentase jumlah kasus gigitan yang berindikasi untuk
diberikan VAR  100%
9. Jumlah kasus lyssa (rabies pada manusia)  nihil atau
nol (0)
RABIES
CENTER
RS*/Puskesmas

Pusat Kegiatan
Penanggulangan Rabies

Pusat Informasi :
- Bahaya Rabies
- Penanggulangan

Letak :
- Jauh dari Kab/Kota
- Strategis : dijangkau 3
Puskesmas/lebih

30
RABIES CENTER
RSUD di kab/kota
endemis rabies dijadikan RC
dan PKM terpilih

Syarat :
1.Tersedia : VAR, Cold Chain
2. Petugas terlatih
3. Bisa melakukan KIE
- Protap Flochart GHPR
- Bahan-bahan penyuluhan
DITETAPKAN OLEH PROV.
ATAU KAB/KOTA

31
RABIES
@ PROSES IMPLEMENTASI CENTER
DI KOTA PARE-
PARE
Post Exposure Prophylaksis
Zagreb Regimen (2-1-1)
Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu

1 2 3 4 5

6 7 8 9 10 11 12

13 14 15 16 17 18 19

20 21 22 23 24 25 26

27 28 29 30 31
VAR Yang Beredar di Indonesia
(1)
 PurifiedVero Rabies Vaccine (PVRP) Verorab®
 Sediaan : 1 ampul vaksin kering + 1 ampul cairan
pencampur dan jarum dalam sebuah bungkus
kotak kertas  0,5 ml
 Istilah: 1 kuur = 4 ampul
 Post Exposure Treatment
hari 0 : 2 x 0,5 ml  IM deltoid kanan & kiri
hari 7 : 0,5 ml  IM deltoid
hari 21 : 0,5 ml  IM deltoid
VAR Yang Beredar di Indonesia
(2)
 Purified Chick Embryo Cell-culture Vaccine
(PCECV)  Rabipur®
 Sediaan : 1 ampul vaksin kering + 1 ampul
cairan pencampur dan jarum dalam sebuah
bungkus kotak kertas  1 ml
 Istilah : 1 kuur = 4 ampul
 Post Exposure Treatment
hari 0 : 2 x 1 ml  IM deltoid kanan & kiri
hari 7 : 1 ml  IM deltoid
hari 21 : 1 ml  IM deltoid
SERUM ANTI RABIES
(SAR)
(PASSIVE IMMUNIZATION)
ADA DUA JENIS SAR :
1. Heterolog Serum  Equin Rabies Immune
Globuline (ERIG), dibuat dari serum kuda. Tetapi
ada yg dibuat dari serum hewan lain mis: kelinci,
donkeys (keledai), bagal, dsb.
DOSIS : 40 IU/kgBB
2. Homolog Serum  Human Rabies Immune
Globuline (HRIG). Merk dagang Imogam® dan
HypeRAB®
DOSIS : 20 IU/kgBB
Capaian Target Nasional
Pengendalian Rabies Pada
Manusia
Target 2015 2016 2017 2018 2019

% Kab/kota 25 % 40% 55% 70% 85%


eliminasi rabies (66 Kab) (106 Kab) (145 Kab) (185 kab) (225 kab)
(pd manusia)

Capaian 26 % 40% 55%


(69 Kab) (106 Kab) (145 Kab)
Catatan :
Daerah endemis Rabies tahun 2015 : 264 kab/kota
Eliminasi rabies pada manusia : selama 2 tahun berturut-turut tidak ditemukan adanya
kasus kematian akibat rabies (lyssa) .
Elimanisi Rabies nasional : selama 2 tahun berturut-turut tidak ditemukan kasus rabies
baik pada hewan maupun manusia. Sertifikat eliminasi dikeluarkan oleh Kementerian
Pertanian
ELIMINASI TH 2020  2030
ATAU KAPAN?

Fakta
• Anak sekolah
digigit
menganggap
luka kecil.
• Ibu hanya
mencuci luka
gigitan anaknya
tidak dibawa ke
Pusk
• Vaksin HPR
kurang
• Belum ada kader
kesehatan
terpadu
TANTANGAN
RABIES

• Indonesia bebas kasus rabies pada manusia


dan hewan sebelum tahun 2020 ?
• Target ASEAN FREE RABIES : 2020

4
1
Permasalahan dan
Penanggulangan Rabies
• Penanggulangan rabies juga harus berbasis
epidemiologi.
• Epidemiologi rabies dipengaruhi oleh
ekobiologi anjing.
• Pemeliharaan anjing berkaitan dengan budaya.
• Rabies bersifat kompleks, oleh karenanya perlu
pendekatan :
- transdisiplin,
- systems thinking,
- partisipasi dan pemberdayaan masyarakat
Epidemiologi Rabies Terkait
Bioekologi Anjing
Rabies Virus
Budaya

Reservoir • Cara pemeliharaan anjing


(Maintenance host) • Interaksi anjing dengan lingkungan
• Densitas populasi ?
Spill over host • Rapid turn over population
• Periode infeksius pendek

Dinamika penularan
rabies
Permasalahan Rabies
1. Mayoritas anjing kampung dipelihara secara
dilepas.
2. Agresivitas anjing kampung bervariasi antar
daerah (berkaitan dengan aksesibilitas untuk
pegang anjing).
3. Pelaksanaan vaksinasi secara parenteral tidak
mudah.
4. Tanggungjawab pemilik anjing untuk mendukung
program vaksinasi rendah
5. Cakupan vaksinasi cukup sulit dinilai karena
estimasi populasi hanya berdasarkan kira-kira.
6. Vaksin rabies yg mampu menimbulkan durasi
imunitas yang lama (minimal satu tahun) versus
peraturan yg harus menggunakan produk dalam
negeri.
7. Debat panjang antara pendekatan vaksinasi
dengan pendekatan eliminasi
Anjing Kampung dan
Rabies di Indonesia
Anjing
Kampung

Berpemilik Tidak Berpemilik

Kombinasi:
Dalam Liar/
rumah dan Dilepas
rumah Stray
lepas liarkan

Kasus rabies semakin sulit dikendalikan


Permasalahan(1)
1. Belum terbangunnya kewaspadaan dan peran aktif dari masyarakat:
 Masyarakat masih menganggap gigitan anjing adalah hal biasa
sehingga merasa tidak perlu melapor ke Puskesmas.
 Penolakan vaksinasi rabies oleh pemilik anjing
2. Pelaksanaan upaya pengendalian belum dilaksanakan secara massif
dan massal, cenderung masih sektoral
3. Koordinasi belum melibatkan sektor terkait lainnya yang memiliki
potensi sumber daya untuk mendukung upaya penanggulangan KLB
Rabies secara cepat misalnya: Dinas Pendidikan, PKK, Perhubungan
dan TNI/Polri.
4. Keterbatasan VAR/SAR untuk manusia  pemberian sesuai indikasi
Permasalahan(2)
5. Belum optimalnya pelaksanaan vaksinasi HPR karena:
• Keterbatasan tenaga kesehatan hewan pada Dinas
Perkebunan dan Peternakan.
• Pola pemeliharaan anjing yang diliarkan untuk
menjaga kebun.
• Luas wilayah kerja, sulitnya geografis dan populasi
penduduk yang tersebar
• Ketersediaan vaksin hewan
ONE HEALTH
Organisasi Pemerintah
Masyarakat
Profesi

Badan Dunia
Asosiasi
(WHO dll)
FLU BURUNG
• FB pada manusia pertama dilaporkan pada Juni 2005
• Kumulatif Kasus FB sejak Juni 2005 – 2016:
 199 kasus konfirmasi; meninggal 167 (CFR= 83,92%)
 Tersebar sporadis di 15 Provinsi
 Terdapat 17 klaster keluarga
 Jumlah kasus menurun drastis dari 55 kasus (2006)
menjadi 3 kasus (2013), 2 kasus (2015).
 Maret 2015 ditemukan 2 kasus konfirmasi dan meninggal
dari Prov. Banten.
Distribusi Kasus Flu Burung
Tahun 2005 – 2016
Kumulatif Kasus Flu Burung tertinggi
di 5 Kabupaten/Kota Thn 2005 – 2016

25
21
19
20

15 15
15 13 13 13
12 12
10
10

0
Kab.Tangerang Jaksel Jakbar Jaktim Kota Bekasi

Kasus Meninggal

51
Berita KLB Flu Burung Global

Berita merebaknya kembali virus Flu Burung di China


dengan strain virus H7N9 dan H5N6.

Perlu peningkatan kewaspadaan di Indonesia


Kasus suspek FB dari Jawa Barat

Kasus suspek dari Kab.Cirebon


• Mulai sakit awal maret
• 4 orang, meninggal 1 orang
• Semuanya mempunyai riwayat terpapar dengan
unggas mati
• Hasil pemeriksaan pada unggas
- Ayam : negatif
- Bebek : positif H5
Tipe daerah Leptospirosis

1.Leptospirosis daerah persawahan


Leptospirosis yang sering terjadi
pada petani, saat sawah
tergenang air.
2.Leptospirosis daerah banjir
Leptospirosis pada warga korban
banjir, terjadi setelah banjir (lbh
kurang 2-4 minggu), karena
genangan air terkontaminasi
bakteri leptospirosis
3.Leptospirosis pemukiman kumuh
Leptospirosis pada warga
dipemukiman kumuh baik musim
kemarau maupun hujan.
SITUASI KASUS LEPTOSPIROSIS
DI INDONESIA th 2007 – 2016
PENYAKIT ANTRAKS

Sebagian besar (>90%)kasus Antraks pada manusia adalah Tipe Kulit


yang penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan hewan
atau daging hewan yang sakit Antraks.
Situasi Antraks pada Manusia di Indonesia
Tahun 2010 – 2016
Wilayah yang pernah
melaporkan kasus antraks
pada manusia :
• DKI Jakarta : Jaksel
• Jabar : Kab. Bogor, Kota
Bogor & Kota Depok
• Jateng : Kab. Boyolali,
Kab. Sragen, Kota
Semarang
• Jatim : Pacitan
• Sulsel : Makassar, Maros,
Gowa, Pinrang
• NTT : Sikka, Ende,
Sumba Barat, Manggarai,
Pulau Sabu
• NTB : Sumbawa & Bima
• Gorontalo : Kab & Kota
Gorontalo, Kab.Bone
Bolango
• DIY : Sleman,
Kulonprogo  Kasus
terakhir
Berbagai Pemberitaan tentang
Antraks di Kulonprogo

Masyarakat semakin mengerti ?


Atau semakin bingung?
Permasalahan dan
Penanggulangan Antraks
• Penanggulangan antraks harus berbasis
epidemiologi.
• Epidemiologi antraks:
- Spora antraks tahan hidup lama di tanah dengan pH
yang bersifat netral-alkalis. Bisa muncul kembali
setelah
50 tahun (Australia, Gorontalo).
- Wabah antraks pada hewan umumnya terjadi melalui
infeksi secara oral.
- Biasanya muncul pada musim kemarau terus berlanjut
sampai musim hujan.
Permasalahan Penting Antraks
di Indonesia
1. “Penyakit lupa” ...... data kasus antraks dimasa lalu tidak
diingat (tidak dicatat dengan baik)
2. Masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap
penyakit antraks :
- Menyembelih ternak sakit
- Memperdagangkan ternak sakit (termasuk dagingnya )
- Tidak membawa ternak saat pelaksanaan vaksinasi (dulu
vaksin anthraks bermasalah pada kambing)
- Mengkonsumsi daging yang berasal dari bangkai atau
hewan sakit anthraks
3. Penanganan (disposal) bangkai hewan antraks belum
optimal.
Masalah Penanganan Bangkai
Antraks
• Bangkai antraks dibiarkan tergeletak di padang
penggembalaan.
• Bangkai antraks dipotong-potong.
• Bangkai antraks yang masih utuh.
- bangkai dikubur, atau dikubur dengan diberi kapur,
- bangkai dibakar kemudian dikubur
Wabah yang terjadi bulan Oktober
1980 di Desa Prai Madita dan
Desa Nggongi, Kecamatan
Ngadungala, Kab. Sumba Timur,
Provinsi NTT.

Sekitar 1.000 ekor ternak mati


dan 14 orang terinfeksi.

Spora anthraks mencemari lingkungan.


Antraks Kulit Pada Manusia

April 2007 (Sumba Barat)


Wabah Anthraks di Sulawesi Selatan 2016
Upaya Penanggulangan
Antraks
Beberapa Tindakan Penting :
1. Peningkatan kesadaran masyarakat:
- Melaporkan jika terjadi kematian ternak secara
mendadak
- Tidak memakan hewan sakit, apalagi sudah jadi
bangkai.
- Tidak memperdagangkan hewan sakit.
2. Buat Pemetaan Antraks berbasis geografi (topografi),
berdasarkan hasil surveilans.
3. Lakukan vaksinasi antraks secara teratur, diutamakan
pada daerah yang memiliki risiko tercemar spora antraks
– berdasarkan Peta Risiko Antraks.
Upaya Penanggulangan
Antraks
4. Bangun prosedur pemusnahan (disposal) bangkai antraks,
misalnya dengan menggunakan “mobile incinerator”. ......
5. Saat terjadi kasus atau wabah:
- Penutupan sementara daerah tertular
- Lakukan dekontaminasi dan disinfeksi
- Pengobatan dengan antibiotik
- Kelompok hewan sehat lakukan vaksinasi
- Lalu-lintas ternak dapat dibuka kembali, 2 minggu setelah
kasus terakhir
6. Lakukan tracing (penelusuran):
- termasuk penelusuran kepustakaan
Penanggulangan Antraks
1. Karantina dan Pengawasan lalu lintas
Cegah kontak dgn
sumber penularan 2. Penelusuran kasus antraks

3. Dekontaminasi

Hentikan 4. Disinfeksi
“Produksi” Spora
5. Musnahkan hewan tertular

Tingkatkan 6. Program vaksinasi tertarget


Resistensi Hewan

7. Didukung surveilans epidemiologi 8. Didukung public awareness (komunikasi risiko)


Mobile Incinerator : Hasil Akhir Debu
Penutup

• Kasus antraks dapat dikendalikan, asal dengan


manajemen kesehatan hewan yang optimal.

• Pengendalian kasus antraks pada ternak


sampai tingkat insidens yang serendah-
rendahnya sampai mendekati nol, berarti
menurunkan ancaman antraks kepada
manusia.
PES
Tahun 1968 : out break Pes di kecamatan Selo dan Cepogo
dengan jumlah penderita 101 orang dan 42 orang
diantaranya meninggal(CFR 42%).
Tahun 2007 : peningkatan kasus panas tanpa sebab jelas di
Dusun Surorowo sebanyak 68 kasus dengan 1 kematian.
Tahun 2012 : serologis positif pada tikus.
Daerah Fokus Pes :
1. Jawa Tengah  Kec.Selo & Cepogo, Kab.Boyolali.
2. DI Yogyakarta  Kec.Cangkringan,Kab.Sleman
3. Jawa Timur  Kec.Nongkojajar,Tosari,Puspo,
Pasrepan, Kab.Pasuruan.
Situasi pes berdasarkan spesimen manusia
yang diperiksa di Indonesia Th 2004 - 2015

Kasus Pes :
1968 : 101 ks, meninggal 42 di
Boyolali
1986 : 8 meninggal di Pasuruan
1987 : 24 ks, meninggal 20 di
Pasuruan
1997 : 1 ks

Sumber : Subdit Pengendalian Zoonosis


Permenkes No 1501 th 2010 tentang Jenis Penyakit
Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah
dan Upaya Penanggulangannya
Permenkes No 1501 th 2010 tentang Jenis Penyekit Menular
Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah
dan Upaya Penanggulangannya
TANTANGAN/KENDALA
1. Ancaman Zoonosis Meningkat:
 Kedekatan manusia dg hewan (hobby, ekonomi, dll)
 Kebutuhan protein hewani meningkat
 Semakin dekatnya manusia dg lingkungan/satwa liar
(pembukaan hutan, pemukiman mendekati hutan, dll)
Telah dilaporkan Malaria Knowlesi di Indonesia
 Perubahan Iklim (Climate change) ,vektor meningkat,
adaptasi/mutasi mahluk hidup menjadi lebih patogen dll
 Pola Migrasi, transportasi antar wilayah/antar negara,
pariwisata, dll

76
TANTANGAN/KENDALA…2
2. Disparitas kapasitas sumber daya Pemda antar wilayah dan
antar sektor;
3. Disparitas institusional antar Pemda antar wilayah, antar
sektor sampai ke tingkat pelaksana di Kab/Kota serta
Kecamatan;
4. Perlunya akselerasi upaya pengendalian pada penyebab
penularan di sektor hulu (sumbernya);
5. Sosio-budaya dan tradisi masyarakat harus mendukung
upaya pencegahan dan penanggulangan zoonosis;
6. Pengawasan lalu lintas hewan belum memadai, mobilitas
hewan/manusia yg tinggi.

77
TANTANGAN/KENDALA…3
7. Keterbatasan mobilitas operasional (geografis, demografis
dan dana);
8. Keterbatasan paramedis-medis dan tenaga veteriner di
Kabupaten/Kota, terutama daerah tertular;
9. Pemahaman masyarakat dan pemangku kepentingan
lainnya ttg pencegahan zoonosis masih terbatas;
10. Regulasi belum dijalankan secara konsisten.
11. Pertimbangan politis dan kerugian ekonomi
12. Keterbatasan penelitian dan pengembangan tentang
zoonosis. Masih banyak Zoonosis yang belum dilakukan
surveilans misalnya: Toxoplasmosis, Hantaan dll
78