Anda di halaman 1dari 20

TANDA GEJALA DAN PROSES TERJADINYA

GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN

KELOMPOK 3
1. TANZILA WULANDARI (010118A137)
2. TIAS KUSUMA ASTUTI (010118A138)
3. TSALIS RAHMAT HIDAYAT (010118A139)
4. YULIA RAHMAWATI (010118A155)
5. YUNINDIA PUTRI RUKHASUSILIANA (010118A157)
A. Review Organisasi dan Kontrol Sistem Syaraf
Sistem saraf dibagi menjadi dua yaitu system saraf pusat dan system saraf tepi.
Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang
Sistem saraf tepi terdiri dari 12 serabut saraf otak ( saraf kranial) dan 31 pasang serabut saraf tulang belakang
-SISTEM SARAF PUSAT-
- OTAK
- Otak dibungkus oleh tiga membrane pelindung yang disebut meninges
1. Duramater
2. Arachnoid
3. Piamater
- Otak memiliki 4 kamar berupa ventrikel yang terisi cairan serebrospinal
- Otak dibedakan menjadi 3 bagian
1. Otak Besar
2. Otak tengah
3. Otak Belakang
- OTAK BESAR
- Otak Besar ini terdiri atas 2 lapisan yaitu Korteks dan Lapisan dalam
- Dibagian otak besar ini terdapat thalamus, hipotalamus, bagian dari kelenjar
pituitary dan kelenjar pineal
- Otak Besar dibagi menjadi beberapa bagian penting, yaitu sebagai berikut
1. Lobus Oksipitalis
2. Lobus Temporalis
3. Lobus Frontalis
4. Lobus Parientalis
- OTAK TENGAH
- Fungsi = Memberikan implus antara otak depan dengan otak belakang dan otak
dengan mata, menjaga keseimbangan.
- Otak tengah disebut juga disensefalon dan terletak didepan otak kecil dan
jembatan varol.
- OTAK BELAKANG
- Terbagi menjadi dua bagian yaitu medula oblongata (sumsum lanjutan) dan
serebelum (otak kecil)
• MEDULA OBLONGATA
FUNGSI =
1. menstimulasi otot-otot antar tulang rusuk dan diafragma sehingga
dapat memungkinkan untuk pernafasan
2. Mengkoordinasi saraf yang mengatur detak jantung diameter arteriola,
tekanan darah, suhu tubuh, gerakan alat-alat pencernaan, dan sekresi kelenjar
pencernaan.
3. Mengkoordinasikan gerak reflex

• SEREBELUM
FUNGSI = mengkoordinasikan kegiatan lokomot tubuh, antara lain pengaturan
otot, posisi, dan keseimbangan tubuh.
-SISTEM SARAF TEPI-
- Susunan saraf tepi terdiri atas serabut saraf otak dan serabut saraf sumsum
tulang belakang (spinal)
- Serabut saraf sumsum dari otak, keluar dari otak sedangkan serabut saraf
sumsum tulang belakang keluar dari sela sela ruas tulang belakang.
- Tiap pasang serabut saraf otak akan menuju ke alat tubuh atau otot, misalnya ke
hidung, mata, telinga dan sebagainya.
- Sistem saraf tepi dibagi menjadi dua, berdasarkan cara kerjanya
1. Sistem saraf Sadar
2. Sistem Saraf Tidak Sadar ( Otonom)
a. Sistem Saraf Sadar

- Bekerja sadar
- Saraf ini merupakan impuls dari reseptor ke system saraf pusat, dan
meneruskan impuls dari system saraf pusat ke semua otot kerangka tubuh.
- Terdiri atas 12 pasang saraf kranial yang keluar dari otak dan 31 pasang saraf
spinal yang keluar dari sumsum tulang belakang.
b. Sistem Saraf Tidak Sadar

- Bekerja tidak sadar


- Contoh : Denyut jantung, perubahan pupil mata, gerak alat
pencernaan, pengeluaran keringat dll.
- Sistem Saraf otonom dibedakan menjadi dua, yaitu
1. Sistem Saraf Simpatik
2. Sistem Saraf Para Simpatik
Sistem Saraf Simpatik = Saraf Simpatik ialah saraf yang berpangkal di medula spinalis (sumsum tulang belakang) yang
berada di daerah dada dan pinggang yang posisinya atau terletak di bagian depan ruas tulang belakang.
Sistem Saraf Parasimpatik =Saraf ini memiliki fungsi kerja yang berlawanan jika dibandingkan dengan saraf
simpatik. Sistem saraf parasimpatik dapat disebut nervus kraniosakral. Dikatakan saraf kraniosakral karena saraf
praganglion keluar dari daerah otak.
B. Gangguan fungsi syaraf
FUNGSI SISTEM SARAF GANGGUAN
- Sebagai alat komunikasi antara tubuh dan dunia
luar 1. Penyakit Parkinson
- Sebagai pengendali atau pengatur kerja organ 2. Epilepsi
tubuh 3. Stroke
- Sebagai Pusat pengendali tanggapan terhadap
perubahan disekitarnya.
C. Gangguan Somatosensory

1. Kerusakan pada Korteks Somatosensoris Primer


Hilangnya kemampuan untuk mendeteksi sentuhan yang ringan, mendeteksi
posisi sambungan (contohnya ujung jari telunjuk kanan ditemukan dengan
ujung jari telunjuk putih), dan mendeteksi dengan tepat tempat-tempat dimana
seseorang disentuh. Contohnya, disentuh jari kelingking, tetapi menurutnya
yang disentuh adalah jari tengah.
2. Agnosia Somatosensori
a. Asterognosia
Seseorang yang mengalami hambatan dalam mengenali suatu objek melalui
sentuhan, tetapi tidak ada kelainan dalam intelektual, maupun dalam saraf-saraf
sensorisnya. Berkaitan dengan Asomatognosia
b. Asomatognosia
Pasien Asomatognosia umumnya merasa bagian tubuhnya ada yang hilang dari
kesadaran jasmaninya. Asomatognosia umumnya berkaitan dengan kerusakan
hemisphere sebelah kanan
D. Gangguan Neuromuskuler
Otak mengontrol pergerakan otot skeletal (sadar) melalui saraf khusus. Kombinasi dari
sistem saraf dan otot, bekerja sama untuk memungkinkan gerakan, dikenal sebagai
sistem neuromuskular

Beberapa gejala penyakit neuromuskular mungkin termasuk kelemahan otot, pemborosan


otot, kram otot, Spastisitas otot (kekakuan), yang kemudian menyebabkan deformitas sendi
atau tulang, nyeri otot, kesulitan bernapas, Kesulitan menelan. Dan beberapa penyebab
gangguan neuromuscular adalah mutasi genetik, infeksi virus, gangguan autoimun,
gangguan hormonal, gangguan metabolik, defisiensi diet, obat-obatan tertentu dan racun,
faktor yang tidak diketahui.
Beberapa penyakit utama yang mempengaruhi sistem neuromuskular diklasifikasikan
menjadi empat kelompok utama, termasuk:

1. Penyakit neuron motorik – Beberapa jenis penyakit neuron motorik genetik


(diwariskan) mencakup infantile progresif atrofi otot tulang belakang, atrofi otot tulang
belakang menengah, atrofi otot tulang belakang remaja dan atrofi otot tulang belakang
dewasa..
2. Neuropati – sistem saraf perifer (saraf selain yang di dalam sumsum tulang belakang)
yang terpengaruh.
3. Gangguan sambungan neuromuskular – dalam penyakit ini, transmisi sinyal untuk
bergerak (kontraksi) otot tersumbat seperti mencoba untuk menjembatani gap antara saraf dan
otot.
4. Miopati termasuk distrofi otot – berbagai jenis distrofi otot (pemborosan otot) disebabkan
oleh berbagai mutasi genetik yang mencegah pemeliharaan dan perbaikan jaringan otot.
E. Gangguan Fungsi Neurosensory
A. Sensori Perabaan

1. Tidak mau atau tidak suka disentuh

2. Menghindari kerumunan orang

3. Tidak suka rambutnya disisir

B. Sensori pendengaran

1. Menangis atau menjerit berlebihan ketika mendengar suara yang tiba-tiba

2. Senang mendengar suara-suara yang terlalu keras

3. Sering berbicara sambil berteriak ketika ada suara yang dia tidak sukai.
C. Sensori penglihatan

1. Mudah teralih oleh stimulus penglihatan dari luar

2. Sulit membedakan warna, bentuk dan ukuran

3. Menulis naik turun di kertas tanpa garis.

D. Sensori pengecapan

1. Tidak suka atau menolak untuk sikat gigi


2. Mengiler
3. Sering memasukkan barang-barang ke mulut.

E. Sensori propioseptif (gerak antar sendi)

1. Senang aktivitas lompat-lompat

2. Sering menggertak gigi

3. Terlihat melakukan sesuatu dengan kekuatan penuh.


F. Sensorik Vestibular (keseimbangan)

1. Menghindari mainan ayunan, naik turun tangga dan perosotan


2. Takut dengan ketinggian
4. Senang diayun sampai tinggi

C. Sensori penciuman

1. Reaksi berlebihan terhadap bau tertentu seperti bau kamar mandi atau peralatan kebersihan

2. Selalu menciumi barang-barang atau orang disekitarnya

3. Sulit membedakan bau.


TERIMAKASIH