Anda di halaman 1dari 47

Arie Kusumaningrum

 Konsep asuhan keperawatan pada bayi baru lahir


dengan resiko tinggi :
 Prematur dan BBLR
 Posmatur dan Ibu dengan DM
 Asphyxia
 IRDS
 Hiperbilirubinemia
 Sepsis Neonatorum
Klasi Berdasarkan berat lahir
BBLR, BBLC, BBL lebih, Depkes (2008):
fikasi BBLR, BBLSR, BBLASR

Berdasarkan masa gestasi


Klasi BKB, BCB, BLB.
fikasi

Berdasarkan berat lahir


Klasi
fikasi
terhadap umur
SMK, KMK, BMK
BBLR
dan NKB

Masalah: Manajemen
• Ketidakstabilan suhu • Penghangatan
• Kesulitan pernafasan • Terapi oksigen dan ventlasi
• Kelainan gastrointestinal • Pemantauan adanya PDA
• Imaturitas hati • Terapi cairan dan elektrolit
• Imaturitas ginjal • Nutrisi
• Imaturitas imunologis • Perawatan
• Kelianan neurologis hiperbilirubinemia
• Kelainan kardiovaskuler • Pengelolaan infeksi
• Kelainan hematologis • imunisasi
• Metabolisme
 Penyebabnya BBLR
 Kurang bulan
 PJT
 keduanya
pe
nye
bab

Pla ma
Jan Ute lali
sen ter
in rus n
ta nal

Ink
Ke Hi
om
ha drp pre Pe
Ga erit pet Dr
mil s Bik ekl nya inf
wat obl ens ug KP
an no PP SP orn am kit eks
jan sto i ab D
ke n us psi kro i
in sis ser use
mb im a nik
vik
ar un
s
1. Ketidakstabilan suhu
2. Kesulitan bernafas
3. Masalah gastrointestinal dan nutrisi
4. Imaturitas hati
5. Imaturits ginjal
6. Imaturitas imunologi
7. Imaturitas neurologis
8. Masalah kardiovaskuler
9. Masalah hematologis
10. Masalah metabolisme
Ketidak stabilan suhu
Peningkatan
hilangnya panas Produksi panas
Rasio luas
• Evaporasi, kunduksi, berkurang, defisit
radiasi, konveksi Defisit lemak permukaan tubuh
brown fat,
subcutan terhadap berat
ketidakmampuan
badan besar
menggigil
Resiko aspirasi Thoraks yang
• Refleks menelan lunak
dan batuk lemah, • Otot respirasi
penghisapan dan lemah
menelan yang tidak
terkoordinasi

Defisiensi
surfaktan
Periodic
• Mengarah ke RDS
breathing, apnea
Kesulitan
bernafas
 Saluran pernafasan bayi berukuran kecil dan relatif rapuh,
dan memberikan perlindungan yang tidak adekuat
terhadap infeksi.
 Terlalu dekatnya struktur satu dengan struktur lainnya
secara anatomi pada bayi akan memudahkan penyebaran
infeksi.
 Permukaan alveolus pada bayi juga terbatas sehingga
sangat tinggi resiko terjadinya ganguan dalam pertukaran
gas.
 Frekwensi pernafasan pada bayi (0 – 1 tahun) adalah 30 –
35 kali/menit (Muscari, 2005), sedangkan frekwensi nafas
normal pada neonatus adalah 30 – 60 kali/per menit
(Depkes, 2008).
 Masalah umum pada NKB
 Normal : RR 40 – 60 x/menit
 Bedakan “Periodic Breathing” dengan apnea
 Apnea : stop napas > 20 detik, atau kurang dari 20 detik,
tapi disertai bradikardi dan atau SpO2 menurun

11
 Sistem terlibat
 Struktur paru
 Otot dada dan diafragma
 Pusat syaraf
 Kimia otak
 Sesnoris otak
  masalah pada salah satu  penyakit respirasi
 Gawat nafas yang umum
 Taklipnea sementara pada neonatus (TTN)
 RDS -- HMD
 Apnea
 Sindrom aspirasi mekonium (MAS)
 Sindrom kebocoran udara
 pneumonia
 RDs juga disebut HMD (hyaline membran disease)
 Disfungsi primer: sintesis surfaktan yang berkurang
 Biasa ditemui saat lahir, bisa muncul dalam 12 jam
kelahiran
 Gawat nafas yang semakin parah
 Peningkatan WOB dan RR
 Sianosis bertahan sampai 48 jam pertama
 Takipnea > 60 x per menit
 Merintih saat espirasi dan retraksi
 Laboratorium
 AGD ; hipoksia, hiperkapnia, asidosis
 Darah : kemungkinan infeksi
 Glukosa darah biasanya rendah
 Rontgen: retikulogranular bilateral, udara bronkogram
Evaluasi Respiratory Distress dengan
Skor Downe
0 1 2
Frekuensi Napas < 60x/menit 60-80 x/menit >80x/menit

Retraksi Tidak ada Retraksi ringan Retraksi berat


retraksi
Sianosis Tidak sianosis Sianosis hilang Sianosis menetap
dengan O2 walaupun diberi
O2
Air Entry Udara masuk Penurunan Tidak ada udara
ringan udara masuk
masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar
dengan tanpa alat bantu
stetoskop 16
 Skor < 4 : gangguan pernapasan ringan
 Skor 4 – 5 : gangguan pernapasan sedang
 Skor > 6 : gangguan pernapasan berat (pemeriksaan gas
darah harus dilakukan)

17
 Berikan O2 seoptimal mungkin
 O2 nasal 0,5 – 2 L/menit
 O2 head box 3 – 5 L/menit
 Kadang-kadang boleh dimix antara O2 head box 5
L/menit + O2 nasal s/d 2 L/menit sambil dipersiapkan
CPAP atau ventilator

18
Refleks hisap dan menelan lemah sebelum 34 minggu

Motilitas usus menurun

Pengosongan lambung lambat

Absorbsi vitamin yang larut lemak berkurang

Defisiensi enzim laktase pada jonjot usus

Menurunnya cadangan kalsium, fosfor, protein dan zat besi dalam tubuh

Meningktaknya resiko NEC


Imaturitas hati
• Gangguan
konyugasi dan
eksresi bilirubin

• Defisiensi vitamin K
 Naiknya kadar bilirubin serum melebihi normal
 Hiperbilirubin tidak terkonjugasi/indirek atau
terkonjugasi/direk
 Gejala khas adalah ikterus
75% heme
dalam sel Bilirubin Diubah Bilirubin
Bilirubin:
Uraian dari
darah indirek menjadi direk
merah, 25% dilepaska Bilirubin bilirubin masuk
produk Tidak
dari n dalam melewati terkonjug saluran
protein yang
mioglobin, melewati
mengandun
sitokrom sistem selaput asi yang gastrointe
g heme pada sawar otak
dan peredaran plasma larut stinal dan
sistem darah.
eritropoesis darah hepatosit dalam air dikeluarka
retikuloend
otelial.
pada diikat oleh n sebagai
sumsum albumin UDPGT feses.
tulang.
Terganggunya
pengambilan
bilirubin oleh
hati
Terganggunya Terganggunya
transpor konyugasi
bilirubin bilirubin

Peningkatan bilirubin tidak


terkonjugasi
• Disebabkan:
• Ikterus fisiologis
• Non fisiologis
• Penyakit hemolitik
Hiperbil Peningkaan
sirkulasi
• Imun
• Non imun irubin enterohepatik
• Ekstravasasi darah
• Sepsis
• Polisitemia
 Ikterus fisiologis
 Ikterus ASI
 Ikterus non fisiologis
 Mulai sebelum 36 jam
 Bilirubin serum > 0,5 mg/dl/jam
 Total bilirubin serum >15 BCB dg susu formula
 Total bilirubin serum > 17 pada BCB diberi ASI
 Ikterus klinis > 8 hari BCB dan >14 hari BKB
1. Ketidakmampuan mengekskresikan beban cairan
yang besar
2. Akumulasi asam anorganik dengan metabolik
asidosis
3. Eliminasi obat dari ginjal dapat menghilang
4. Ketidakseimbangan elektrolit, misalnya honatremia
atau hipernatremia, hiperkalemia, atau glikosuria
ginjal
 Tidak mengalami transfer Ig G Maternal
 Fagositosis terganggu
 Penurunan berbagai faktor komplemen
 Neonatus sangat rentan terhadap IN
 Penting diperhatikan cuci tangan prosedural
 Persiapan cairan parenteral
 Penggunaan ASI eksklusif
 Rasio pasien dan perawat

27
 Curiga pada bayi lahir saat:
 Ibu demam saat inpartu >38 derajat C
 Keputihan berat
 Infeksi saluran kemih
 Ketuban pecah > 18 – 24 jam dan berbau

28
sindroma klinik yang merupakan manifestasi
dari penyakit sistemik akibat bakteremia
yang terjadi pada satu bulan pertama kehidupan
(Gomella, Cunningham, & Eyal, 2009).

infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan


ditandai dengan ditemukanya bakteri dalam definisi
cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum
tulang atau air kemih (Damanik (2008).

penyakit pada neonatus yang secara


klinis sakit dan menunjukkan
kultur darah positif (Depkes, 2008)

Universitas Indonesia
klinik
Bervariasi
Tergantung Suhu tubuh :
perjalanan infeksi • hipotermi, hipertermi
Hemo
Nadi
dinamik

Perfusi
Tekanan darah
Jaringan

Capilary refill
inflamasi

Gambaran leukosit, trombosit, IT ratio, dsb


SNAL

SNAD Faktor resiko

Faktor bayi sumber infeksi


yang terdapat pada
Faktor ibu lingkungan klien
1. asfiksia perinatal
1. persalinan dan kelahiran
kurang bulan
2. berat lahir rendah
2. ketuban pecah lebih dari 3. bayi kurang bulan
18 – 24 jam 4. prosedur invasif
3. chorioamniosintesis 5. kelainan bawaan
4. persalinan dengan
tindakan
5. demam pada ibu lebih
dari 38,40C
6. infeksi saluran kencing
pada ibu
7. faktor sosial ekonomi dan
gizi pada ibu
Eliminasi kuman

Adjuvant
theraphy
Perawatan

precaution
 Refleks hisap
 Penurunan motilitas usus
 Apnea dan bradikardi berulang
 Perdarahan intgraventrikel dan leukomalasia
periventrikel
 Pengaturan perfusi serebral yang buruk
 Ensefalopati iskemik hipoksik
 ROP
 Kejang
 hipotonia
 PDA
 Hipotensi dan hipertensi
 Anemia (dini atau lambat)
 Hiperbilirubinemia, indirek lebih utama
 DIC
 Penyakit perdarahan pada neonatus/HDN
 Hipokalsemia
 Hipoglikemia atau hiperglikemia
 Makrosomia
 Hipoglikemia
 Glukosa < 45 mg/dl pada BKB atau BCB
 Ditemui pada 40% IDM
 Ditemui dalam 1-2jam setelah persalinan
 Pada saat lahir pasokan glukosa transplasental dihentikan dan akibat
konsentrasi insulin plasma yang tinggi maka kadar glukosa darah
turun

Pening
Respon akatan
pankre Pening berat
Hipergl Sintesis Sintesis
Hipergl as fetal akatan plasent
ikemia hati Lipoge protein
ikemia  asupan a dan
matern mening nesis mening
fetus hiperin glukosa organ
al kat kat
suline hati bayi,
mia kecuali
otak
 Pada saat lahir
 Wajah sembab, pletorik, gemetar, dapat besar atau kecil
 Setelah lahir
 Hipoglikemia
 Letargi, hisap lemah, apnea, jitteriness 6 – 12 jam
pertama
 Gawat nafas
 Penyakit jantung
 Kelainan bawaan.
 Pengkajian
 Diagnosa keperawatan
 Intervensi
 Implementasi
 Evaluasi
 Riwayat
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan laboratorium dan penunjang lain
1 Perfusi jaringan tidak efektif b.d pengaturan mekanisme neurologik
pada pusat pernafasan tidak adekuat sekunder terhadap prematuritas.

Termoregulasi tidak efektif b.d. ketidakmampuan


2 termogenesis dan sekunder terhadap unproven sepsis

Diagnosis Potensial Komplikasi : Hiperbilirubinemia


3
keperawatan
4 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d.
tidak efektifnya absorpsi dan imaturitas organ pencernaan

Kurang pengetahuan orang tua b.d. kurang terpapar informasi


5
tentang perawatan dan penyakit anaknya
Perfusi jaringan tidak efektif Termoregulasi tidak efektif

1. Monitor dan catat apnea dan 1. Tempatkan klien dalam tempat yang kering,
bradikardi; hangat dan bebas aliran udara;
2. Monitor suhu tubuh klien setiap 30 menit – 1
2. Periksa tanda vital: frekwensi jam;
nafas, CRT, dan saturasi oksigen; 3. Jika klien ditempatkan dalam inkubator, pastikan
3. Kolaborasi pemeriksaan AGD jika perawat dapat mengoperasionalkan
penggunaan inkubator,
ada indikasi; 4. Jaga suhu lingkungan kamar antara 24 – 26 C;
4. Berikan posisi yang baik dan 5. Pantau adanya stres cold: kaki teraba dingin,
lakukan penghisapan lendir jika menghisap lemah, menangis lemah, warna kulit
ada sumbatan; pucat dan sianosis, takipnea atau takikardi, dan
letargi, apnea atau bradikardi, risiko tinggi
5. Berikan suplementasi oksigen hipoglikemia, asidosis metabolik, sesak nafas;
sesuai indikasi; 6. Jika terjadi hipertermia, perhatikan suhu
6. Monitor jalan nafas dan pastikan lingkungan yang terlalu tinggi, adanya dehidrasi,
saluran nafas terbuka perdarahan intrakranial dan infeksi
Ketidakseimbangan nutrisi kurang
PK: Hiperbilirubinemia
dari kebutuhan tubuh
1. Monitor tanda klinik 1. pastikan kesiapan klien dalam memulai asupan.
hiperbilirubin; 2. perhatikan kontraindikasi pemberian ASI sangat
2. Kaji riwayat dan faktor risiko dini
hiperbilirubin; 3. Pertimbangan pemberian trophic feeding
3. Berikan ASI, tingkatkan asupan dengan memperhatikan indikasi dan
dalam volume maupun kalorinya; kontraindikasi;
4. Berikan kontak kulit dengan kulit; 4. Gunakan selang lambung orogastrik tube atau
5. Koreksi adanya hipoksia, infeksi NGT pada bayi kurang bulan, cacat neurologis
dan asidosis; dan residual respiratory distress;
6. Berikan terapi sinar sesuai 5. Berikan asupan secara bolus/gavage feeding
dengan kadar bilirubin dan usia pada bayi kurang bulan BB> 1000 gram
bayi; 6. Berikan asupan per drip secara
7. Monitor dampak terapi sinar: berkesinambungan pada bayi;
8. kolaborasi transfusi tukar jika 7. Lakukan penilaian nutrisi
terdapat tanda-tanda kern ikterus 8. Monitor toleransi dan intoleransi pemberian
asupan
Kurang pengetahuan orang tua
1. Kaji pengetahuan orang tua tentang kondisi
anaknya;
2. Berikan penyuluhan tentang perawatan pada
klien
3. Observasi ketrampilan dan mengevaluasi
pengetahuan klien
4. Libatkan ibu dalam perawatan klien
5. Berikan kesempatan pada ibu untuk diskusi dan
memberi kesempatan bertanya
6. Evaluasi kepuasan ibu tentang pelayanan
perawatan
Masalah Evaluasi
keperawatan ?
Teratasi atau
tidak teratasi
1. Perfusi jaringan
tidak efektif
2. Termoregulasi tidak Intervensi
efektif
3. Hiperbilirubinemia
4. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
5. Kurang
pengetahuan
peneliti
praktisi
Kompetensi
utama

pengelola

pendidik

advokat
 Terimakasih