Anda di halaman 1dari 125

Modul 5

RJPO
(New Guidelines-2010)
Historical Perspective
• Modern CPR : since 50 yrs ago !
• 1958 : ‘mouth to mouth’ ventilation (Peter Safar)
• 1956 : defibrilator (reverse a fatal arrhythmia)
• 1960 : chest compression (Kouwenhoven)

• 2000 : 1st International Guidelines Conference on


CPR & ECC
• 2005 : Guidelines on CPR & ECC
• 2010 : New Guidelines on CPR & ECC
Perkembangan baru
RJPO/CPCR

New Guidelines
2010
revisi dari
Guidelines 2005
ILCOR
International Liaison Committee on Resuscitation

E R C - European Resuscitation Council


The major contributor for ILCOR

A H A - American Heart Association

UK Resuscitation Council
Australian Resuscitation Council
RCSA – Resuscitation Council of Southern Africa
RCA - Resuscitation Council of Asia
CPCR / RJPO (Peter Safar)
1. Basic Life Support  emergency oxygenation
A : Airway
B : Breathing
C : Circulation
2. Advanced Life Support  Restoration of spontaneous
circulation
D : Drugs and Fluids
E : EKG
F : Fibrillations treatment
3. Prolonged Life Support  post resuscitation brain –
oriented therapy
G : Gauging
H : Human mentation
I : Intensive care
Istilah
• Basic Life Support =BLS
= Jalan nafas + Nafas buatan + Pijat jantung (A-B-C)
• Advanced Life Support = A L S
= Drug (+fluid) + E K G + de-Fibrilasi (D-E-F)

• Cardio Pulmonary Resuscitation = CPR


• Cardio Pulmonary Cerebral Resuscitation
= CPCR = CPR = RJPO
= BLS + ALS
• Basic Life Support =BLS
= Jalan nafas + Nafas buatan + Pijat jantung (A-B-C)
• Advanced Life Support = A L S
= Drug (+fluid) + E K G + de-Fibrilasi (D-E-F)

• Cardio Pulmonary Resuscitation = CPR


• Cardio Pulmonary Cerebral Resuscitation
= CPCR = CPR = RJPO
= BLS + ALS
Basic Life Support
Semua tindakan
yang harus segera dilakukan
dan bertujuan
untuk menghentikan
proses yang menuju kematian.
KEADAAN
DEFINISI
GAWAT DARURAT

KEADAAN YANG APABILA TIDAK


MENDAPAT PERTOLONGAN CEPAT

KORBAN AKAN KEHILANGAN SEBAGIAN


ANGGOTA TUBUH ATAU MENINGGAL
Kondisi gawat darurat
Prioritas pertolongan pertama adalah :

A B C - bls
• A - airway : bebaskan jalan nafas
• B - breathing : beri nafas bantuan, (+oksigen)
• C - circulation : pijat jantung, posisi shock

Harus dilakukan SEGERA di tempat kejadian


Peredaran darah (sirkulasi) yang berhenti 3 - 4 menit
otak mulai mengalami kerusakan karena hipoksia.

Jika pasien mengalami kekurangan oksigen (hipoksia)


sebelumnya, batas waktu itu jadi lebih pendek.

BLS yang dilakukan dengan cara yang benar


menghasilkan cardiac out put
30% dari cardiac out put normal
Jantung berhenti berdenyut

Aliran darah yang berhenti


6 - 9 menit
akan mengakibatkan kerusakan otak
yang permanen.
Kapan Resusitasi Jantung Paru
diperlukan ?

• Jika pasien Cardiac Arrest


• Apa tanda Cardiac Arrest ?
– TIDAK TERABA nadi carotis

• Cardiac Arrest = Nadi Carotis tidak teraba


• Cardiac Arrest  ECG flat  suara jantung (-)
Kunci keberhasilan CPR

• Early Access to BLS


– Call for help
• Early (correct) CPR
– to buy time
• Early Defibrillation
– to restart the heart
• Early ALS
– to stabilize
E uropean
Main changes in adult
R esuscitation
basic life support
C ouncil

Start CPR when victim is unresponsive and


not breathing normally
Place the hands on the centre of the chest
30 compressions are being given immediately
(for adult)
Two rescue breaths, 1 sec each rather than
2 sec
The ratio of compressions to ventilations is
30 : 2
LANGKAH 1

Apakah korban sadar ?


( Check kesadaran )
Periksa kesadaran
korban dengan
menepuk bahu
dan
memanggil dengan
suara keras

“Siapa namanya???!!!”
“Coba buka mata!!!”
LANGKAH 2
1. Panggil bantuan
Panggil bantuan dari orang sekitar,
meminta mereka untuk
Panggil ambulans
ikut menolong
dan

2. Tilpun 118-IGD atau


Radio Medik
minta bantuan medik/
Ambulans

Sebut lokasi kejadian


dengan jelas
LANGKAH 3

Posisi korban

Jika korban telungkup,


balikkan pelan-pelan
agar terlentang.

Korban harus ditolong


dalam posisi terlentang
diatas alas keras.
Korban tidak perlu diturunkan
dari tempat tidur
LANGKAH 4

Bebaskan jalan nafas


dari sumbatan pangkal lidah

Dengan satu tangan


didahi korban.

Doronglah dahi
kebelakang, agar kepala
menengadah dan
mulut sedikit terbuka

head tilt
Bebaskan jalan nafas
dari sumbatan pangkal lidah Dengan satu tangan
didahi korban.

Doronglah dahi
kebelakang agar kepala
menengadah dan mulut
sedikit terbuka

head tilt

Pertolongan dapat
ditambah dengan
mengangkat dagu.

chin lift
Pada korban yang tidak sadar
posisi kepala cenderung fleksi

Akibat fleksi ini, menyebabkan terjadinya


sumbatan akibat pangkal lidah jatuh
kebelakang
fleksi Posisi kepala fleksi,
jalan nafas buntu

ekstensi

Jalan nafas bebas karena


kepala diposisikan ekstensi
dengan Head tilt, Chin lift
head tilt

chin lift
Tindakan lain untuk
membebaskan jalan nafas bila
Dengan head tilt dan chin lift ,
jalan nafas tetap obstruksi adalah :

Dengan kedua tangan kita


dagu korban diangkat sehingga
deretan gigi rahang bawah berada
didepan deretan gigi rahang atas

JAW THRUST
JAW THRUST
cara ini sebagai pilihan
terakhir jika cara lain tidak
berhasil.
Untuk orang awam tidak
dianjurkan
Head tilt chin lift in child

Head tilt chin lift in infant Head tilt - Chin lift - Jaw thrust
ILCOR – New Guidelines
• AIRWAY
– Jangan neck-lift semua pasien

– Head-tilt, juga untuk pasien trauma


– Chin lift, juga untuk pasien trauma
– Jaw-thrust, pilihan paling akhir
(untuk awam : TIDAK BOLEH )

– pasang oro/ naso-pharyngeal tube


– pertimbangkan intubasi dini
Membebaskan jalan nafas
( manual )

head tilt chin lift

Head-tilt, juga untuk pasien trauma


Chin lift, juga untuk pasien trauma
Neck lift, tidak boleh dilakukan
sama sekali.
neck lift x
LANGKAH 5

Bebaskan jalan nafas


dari sumbatan
benda asing

Buka mulut korban


Bersihkan benda asing
yang ada didalam
mulut korban
dengan mengorek
dan menyapukan
dua jari penolong
yang telah dibungkus
dengan secarik kain
LANGKAH 1 Apakah korban sadar ?

LANGKAH 2 Panggil bantuan


Panggil ambulans
LANGKAH 3 Posisikan korban terlentang

LANGKAH 4 Bebaskan jalan nafas


dari sumbatan pangkal lidah
head tilt
chin lift
jaw thrust
LANGKAH 5 Bebaskan jalan nafas
dari sumbatan benda asing
LANGKAH 6

Periksa apakah korban bernafas

Dekatkan pipi penolong


kemulut dan hidung
korban.
Mata penolong melihat
ke-arah dada .

LIHAT

DENGAR

RABA
LANGKAH 7 Untuk awam
Menentukan tidak mutlak dilakukan,
denyut nadi leher langsung langkah 8
Perabaan nadi carotis
Brachial pulse palpation
in an infant

Carotid pulse palpation


- start at the middle, feel the trachea
- move fingers sideways while pressing
down into the groove lateral to the
trachea
- carotid pulsation should be felt there
LANGKAH 8

Menentukan
lokasi pijat jantung.

Titik tumpu pijat


jantung adalah
ditengah2 sternum
Titik tumpu pijat jantung
Tumit 1 tangan
diletakkan diatas
sternum,
kemudian
tangan satunya
diletakkan diatas
tangan yang sudah
berada di-titik
pijat jantung
(di-tengah2 sternum)

Jari-jari kedua tangan dirapatkan


dan diangkat pada waktu dilakukan tiupan nafas,
agar tidak menekan dada.
Titik tumpu
pijat jantung

Old Guidelines :
Using the rib margin method
is wasting time

New Guidelines :
Place the hands on the centre
of the chest
LANGKAH 9
Pijat jantung
Penolong
mengambil
posisi tegak
lurus
di atas dada
korban dengan
siku lengan lurus

Menekan tulang
dada sedalam
kira-kira4-5 cm.
Setiap melepas 1 pijatan ,
tangan jangan masih menekan dada korban
100x per menit

4-5 cm
LANGKAH 10
Pijat jantung nafas buatan
30 : 2
Saat pijat jantung,
Hitung dengan suara keras

Satu,dua,tiga,empat, SATU
Satu,dua,tiga,empat, DUA
Satu,dua,tiga,empat, TIGA
Satu,dua,tiga.empat, EMPAT
Satu,dua,tiga,empat, LIMA
Satu,dua,tiga,empat, ENAM

Total = 30 x pijatan
Yang disela dengan 2 x tiupan nafas
ILCOR – New Guidelines
• CIRCULATION

- Titik tumpu pijat jantung ditengah2 sternum


- Pijat jantung 100x per menit, diprioritaskan agar
tidak ada sela.
- Pijat jantung 100x /men, nafas buatan 10x /men
- Bila masih belum terintubasi :
Ratio pijat jantung dan nafas 30 : 2

- Dua atau satu penolong tidak dibedakan


- Jika trachea sudah intubasi tak usah sinkronisasi
Pijat jantung nafas buatan
• Lakukan 30 kali pijat jantung
dengan diselingi
2 kali nafas buatan ini berulang
30 : 2 selama 2 menit

• Setelah 2 menit (7-8 siklus) raba


nadi leher.

• Bila masih belum teraba denyut


nadi leher, lanjutkan 30 x pijat
jantung dan 2 x nafas buatan

• Lakukan tindakan ini terus sampai


datang bantuan atau ambulans
Cara memberi nafas buatan

• Pertahankan posisi kepala tetap tengadah


• Jepit hidung dengan tangan
yang mempertahankan kepala tetap tengadah
• Buka mulut penolong lebar-lebar sambil menarik nafas
panjang
 Tempelkan mulut penolong diatas mulut korban dengan
rapat.
• Hembuskan udara kemulut korban sampai terlihat
dada terangkat/ bergerak naik
• Lepaskan mulut penolong, biarkan udara keluar dari
mulut korban, dada korban tampak bergerak turun.
• Berikan hembusan nafas kedua dengan cara yang sama.
child
infant
ILCOR – New Guidelines
• BREATHING

- 2 kali tiupan setelah jalan nafas bebas


- Tiap kali hembusan 1 detik, disusul dengan
hembusan ke-dua, setelah ekshalasi
- Nafas buatan 10 kali/ menit ( bila sudah
ter-intubasi )

- Usahakan dada terangkat.


- @ 500-600 ml atau Volume Tidal 6-8 cc/kgBB
- Beri oksigen 100% lebih dini
Tiupan nafas yang
berlebihan berakibat
tekanan intra-thorakal
meningkat dan berdampak
menghambat aliran darah
yang ditimbulkan akibat
pijatan jantung.

Tiupan nafas cukup


asal dada mengembang
10 kali/ menit.
Tehnik pemberian nafas buatan (1)

mouth to mouth mouth to mask


Tehnik pemberian nafas buatan (2)

Ambu bag Jackson Rees


LANGKAH 6 Periksa apakah korban bernafas

LANGKAH 7 Menentukan denyut nadi leher


( untuk awam, tidak perlu )

LANGKAH 8 Tumit satu tangan langsung


diletakkan ditengah2 dada.
( diatas sternum )
LANGKAH 9 Melakukan 30x pijatan jantung

LANGKAH 10 Langsung disusul dengan


pemberian 2 x tiupan nafas
?
FBAO
Foreign Body Airway Obstruction
Choking
( tersedak )
CHOKING

Back blows

Lima kali hentakan


pada punggung,
diantara dua scapula

Korban : sadar
CHOKING

Heimlich
Abdominal Trust

Korban : sadar
Heimlich Abdominal trust

Korban : Tidak sadar


?
• Basic Life Support =BLS
= Jalan nafas + Nafas buatan + Pijat jantung (A-B-C)
• Advanced Life Support = A L S
= Drug (+fluid) + E K G + de-Fibrilasi (D-E-F)

• Cardio Pulmonary Resuscitation = CPR


• Cardio Pulmonary Cerebral Resuscitation
= CPCR = CPR = RJPO
= BLS + ALS
Chain of Survival
AUTOMATED EXTERNAL
DEFIBRILLATOR - AED
Automated External Defibrillation
Now part of Basic Life Support (BLS)
AED now the first 3 links in Chain of Survival

Early Early Early Early


Access CPR Defibrillation Advanced
Care
Jika defib diberikan sebelum 5 menit,
> 50% kemungkinan jantung berdenyut kembali

Public Access Defibrillation


Public Access Defibrilator (PAD)
programmes are recommended
for locations where the expected
use of an AED for witness cardiac
arrest exceeds once in two years

Emergency defibrillator
Bandara Schipol di - Belanda
Perubahan utama pada
Automated External Defibrillation

Segera berikan satu kali DC-Shock (paling


sedikit 150 Joule biphasic atau 360 Joule
monophasic) diikuti dengan RJP 2 menit yang
tidak terputus , tanpa memeriksa apakah VF
telah berakhir, atau memeriksa nadi, atau
adanya tanda-tanda kehidupan.
The need for defibrillation
 ventricular fibrillation:
80% of victims
 survival decreases:
10% per minute
 only treatment:
electrical defibrillation
 this means: delivering an
electric shock with a
device called an
“Automated External
Defibrillator” (AED)
Cardiac arrest = carotis (-)
check ECG
 VF / VT pulseless = ada gelombang khas
- Shockable rhythm, harus segera DC-shock

 Asystole = ECG flat, tak ada gelombang


- UN-shockable

 PEA /EMD = ada gelombang mirip ECG normal


- UN-shockable
A-Systole

VT

VF
Cardiac arrest = carotis (-)

Asystole

= ECG flat,
tak ada gelombang


UNshockable
CPR + adrenalin (+atropin?)
ROSC < 10%
(Return Of Spontaneous Circulation )
PEA = EMD
ada gelombang mirip ECG normal
TETAPI nadi carotis tidak teraba
– terapi sama seperti Asystole

P-ulseless E-lectro
E-lectrical M-echanical
A-ctivity D-issociation
Perubahan utama pada
Bantuan Hidup Lanjut dewasa
• RJP sebelum defibrillasi (DC-Shock)
– Henti jantung diluar rumah sakit yang tidak
diketahui (unwitnessed) , bila ditolong oleh
penolong terlatih dengan defibrillator manual,
beri RJP 2 menit (6-7 siklus 30:2) sebelum DC-
Shock.
– Jangan tunda defibrillasi (DC-Shock) bila henti
jantung diluar rumah sakit didapati oleh petugas
kesehatan (penolong) terlatih
– Jangan tunda defibrillasi (DC-Shock) bila henti
jantung terjadi didalam rumah sakit.
Perubahan utama pada
Bantuan Hidup Lanjut dewasa

• Strategi defibrillasi (DC-Shock)


– Pada kasus dengan VF atau VT tanpa pulse,
beri 1 kali DC-Shock, segera diikuti RJP (30
kompressi : 2 nafas bantu). Tidak diperlukan
penilaian kembali rhytme atau meraba nadi.
Setelah 2 menit RJP, periksa rhytme dan
beri DC-shock atas indikasi.
Perubahan utama pada
Bantuan Hidup Lanjut dewasa

• Strategi defibrillasi (DC-Shock)


– Rekomendasi besarnya energi awal untuk
biphasic defibrillator adalah 150-200 Joule,
berikutnya beri dengan energi 150-360 Joule.
– Rekomendasi besarnya energi untuk monophasic
defibrillator baik awal ataupun berikutnya adalah
360 Joule.
Perubahan utama pada
Bantuan Hidup Lanjut dewasa

• VF yang halus (fine-VF)


– Bila ada keraguan apakah rhytme asystole
atau fine-VF, JANGAN berikan DC-shock,
tetapi lanjutkan kompressi dada dan nafas
bantu.
Adrenaline (epinephrine)
VF/VT
• Beri adrenaline 1 mg/iv bila VF/VT menetap
sesudah DC-shock yang kedua kali.
• Ulangi pemberian adrenaline setiap 3-5 menit bila
VF/VT menetap.

Pulseless Electrical Activity (PEA) / Asystole


• Beri adrenaline 1 mg/iv segera jalur intra vena
sudah didapat, dan ulangi setiap 3-5 menit sampai
dengan kembalinya sirkulasi spontan (ROSC,
return of spontaneous circulation)
Obat-obat anti-arrhytmia
• Bila VF/VT bertahan setelah 3 kali DC-shock, beri
Amiodarone 300 mg/iv, bolus. dosis selanjutnya
150 mg dapat diberikan bila VF/VT rekuren atau
refrakter, diikuti dengan dosis 900 mg/iv-
infusion/24-jam
• Bila amiodarone tidak tersedia, sebagai
pengganti adalah Lidocaine 1 mg/kgBB/iv, tetapi
jangan beri Lidocaine bila Amiodarone telah
diberikan. Dosis total adalah 3 mg/kgBB dalam 1
jam pertama.
Terapi thrombolitik pada henti
jantung
• Diberikan pada kasus bila henti jantung
diduga disebabkan oleh adanya emboli
paru, atau pada kasus RJP yang gagal
dengan dugaan henti jantung disebabkan
thrombotik akut. RJP tidak merupakan
indikasi kontra terhadap thrombolysis.

• Bila thrombolitik telah diberikan, RJP


dilakukan sampai dengan 60-90 menit.
Perawatan paska resusitasi –
terapetik hipothermia
• Pasien dewasa tidak sadar, sirkulasi spontan,
pasca VF – henti jantung diluar rumah sakit,
harus lakukan hipothermia terapi 320-340 C
selama 12-24 jam

• Mild – Hipothermia juga mungkin memberikan


hasil baik pada pasien dewasa yang tidak sadar,
sirkulasi spontan, setelah henti jantung diluar
rumah sakit dengan rhytme non-shockable atau
sesudah henti jantung di dalam rumah sakit.
Cardiac Arrest membandel ???

Hipoksia
4H Hipovolemia
Hiperkalemia
Hipotermia
Tamponade jantung
Tension pneumothorax
4T Thromboemboli paru
Toxic overdose
B-block, Ca-block
Digitalis, Tricyclic AD

Massive MI
MA
Asidosis
Bila berhasil ROSC
• Lanjutkan oksigenasi, kalau perlu nafas buatan
( protap : ventilator )
• Hipotensi diatasi dengan inotropik dan obat
vaso-aktif (adrenalin, dopamin, dobutamin,
ephedrin)
• Tetap di infus untuk jalan obat cepat
• Terapi aritmia
• Koreksi elektrolit, cairan, gula darah dlsb
• Awasi di ICU
• Awas: cardiac arrest sering terulang lagi
?
slide
bantu
1
What is an AED ?
✔ a device that delivers
electric shocks to victims
with cardiac arrest
✔ all AEDs share the same
operating principles
self-adhesive defibrillation electrodes
analyses the rhythm of the victim and
decides when a shock is needed
accuracy is almost 100%
AED features
 voice prompts

 memory

 analyzing

 ECG
Using an AED

☐ three steps:
1. decide to use the AED
2. activate the AED
3. follow instructions
Check for signs of a circulation
Switch on the AED

✔ If NO signs of a
circulation
Attach the defib pads
Analysis of the heart rhythm

☐ Follow the directions

✔ ensure that everyone


is clear during analysis
of the rhythm
If a shock is advised

✔ ensure that everybody is clear

✔ push shock button or if no shock


button, allow AED to deliver shock
automatically
If no shock is advised

 check for signs of a circulation


☐ if none present:
✔start CPR
✔continue CPR until the AED tells
you to stop

☐ if signs of circulation are present


(including normal breathing):
✔recovery position
✔check regularly
Useful to know

✔ wipe skin dry before attaching electrodes


✔ shave or cut excessive hair : only if
necessary!
✔ remove plasters
✔ place electrodes away from pacemakers

✔ safety issues
– risk to the rescuer
– risk to the victim
– risk to the bystanders
Equipment

✔ face shield

✔ face mask
Using a face mask
?
slide
bantu
2
What is so important ….……….?
DEFIBRILATION

DC shock
Un - Synchronized Synchronized

VF / VT Pulseless AF - SVT
Asystole-withness

Kardioversi
Defibrilasi
Pemberian tenaga listrik yang
menyebabkan kejutan (shock)
pada pasien aritmia
menjadi suatu irama jantung
yang menunjang hidup.

Indikasi :
✔ VF
✔ VT-pulseless
✔ (Asistol-witness)
Kardioversi
Bentuk defibrilasi yang sinkron
digunakan untuk menghentikan
irama jantung yang mengancam
jiwa, menjadi irama sinus

Indikasi :
✔ AF (atrial fibrilasi/ flutter)
✔ VT yang membandel
PERSIAPAN ALAT / OBAT

1. Mesin DC shock
2. EKG – monitor
3. Jelly elektrode
4. Alat / obat resusitasi
5. Oksigen
6. Peralatan suction dengan kateter
suction
Perhatian
1. Defibrilasi segera dilakukan
2. Pastikan diagnosa EKG- VT atau VF
3. Paddle menempel dengan baik
4. Discharge pada saat exhalasi penuh
5. Interval waktu antara defibrilasi singkat
6. Witnessed arrest segera defibrilasi
sebelum cpr , tetapi segera cpr-abcd
dalam waktu 30 – 60 detik.
7. Jangan hentikan cpr-abc > 10 detik
8. Periksa dan test defibrilasi secara teratur
Tata Cara Defibrilasi

Monitor – VT atau VF
Raba a.carotis
Nyalakan defibrilator
Pilih Un-synchronized / synchronized mode
Beri jelly tipis pada “paddle”
Tentukan energi (200 – 300 – 360 j)
Tekan tombol “charged control”
Tekan kuat “paddle” kedada pada posisinya
….tata cara

Saat akan defibrilasi, beritahu semua menjauh


Tekan “ discharge control” bersama2

Evaluasi nadi dan irama jantung


Jika defibrilasi tidak berhasil, naikkan energi
dan ulangi sampai 3 kali berturut2.
Jika tetap tidak berhasil, lakukan cpr – abc
Ulangi defibrilasi setelah obat – obatan
Cari penyebab kegagalan defibrilasi.
Interupsi cpr-abc maksimal 20 detik.
Faktor yang mempengaruhi
Keberhasilan
1. Defibrilasi segera dilakukan
2. Pastikan diagnosa EKG
3. Penempatan paddle
4. Transthoracic impedence rendah
5. Paddle menempel dengan baik
6. Tekanan paddle ke dada
…..keberhasilan

7. Discharge pada saat exhalasi penuh


8. Defibrilasi awal 200 – 300 – 360 j
9. Interval waktu antara defibrilasi singkat
10. Witnessed arrest segera defibrilasi
sebelum cpr , tetapi segera cpr-abc
dalam waktu 30 – 60 detik
11. Jangan hentikan cpr-abc > 10 detik
12. Periksa dan test defibrilasi secara
teratur
DC shock

1. Switch ON
Oles paddles dengan
jelly ECG tipis rata

Pasang paddles pada


posisi apex dan
parasternal
(boleh terbalik)
2. Charge 200 Joules
DC shock
(Non-synchronized)
Perintahkan : Awas semua
lepas dari pasien!
– nafas buatan berhenti dulu
– bawah bebas, samping sternum
bebas, atas bebas, saya
bebas!
apex
3. Shock !!
(tekan dua tombol paddles
bersama) Siap charge lagi
Biarkan paddles tetap bila irama
menempel dada, baca ECG masih Shockable
?
Terima kasih atas perhatian anda
Semoga Tuhan selalu memberkahi kita semua
Amin
To honour this gentleman,
we’d extend the newest
knowledge of CPCR to more
and more providers
RJPO Skill
• Pijat jantung
– lokasi
– kedalaman pijatan
– lepas-tekanan pada “diastole”
– frekwensi 100 x per menit
– siku lurus, bahu pemijat diatas sternum
• Pijat jantung + nafas buatan
– sinkronisasi 30 pijat : 2 nafas
– bila 1 penolong pindah-pindah lokasi
– dada terangkat, 2 x dengan sela ekshalasi