Anda di halaman 1dari 36

Referat

Stroke
Oleh: Krismadha I. S. (2131210055)

Pembimbing: dr. Nini Natalia Li, Sp. KFR


Latar Belakang
• Stroke merupakan 10% penyebab kematian di seluruh dunia dan
penyebab kecacatan yang besar
• Penderita stroke akan menjadi tidak mandiri dan bergantung pada
orang lain dalam menjalankan aktivitas kehidupannya sehari-hari
(activities of daily living/ADL) seperti makan dan minum, mandi,
berpakaian dan sebagainya.
• Rehabilitasi dapat dipandang sebagai salah satu jalan untuk
meningkatkan kualitas hidup penderita stroke.
Anatomi dan Fisiologi Otak
• Otak memiliki kurang lebih 15 miliar neuron yang membangun
substansia alba dan substansia grisea.
• Otak merupakan organ yang sangat kompleks dan sensitif. Fungsinya
sebagai pengendali dan pengatur seluruh aktivitas, seperti: gerakan
motorik, sensasi, berpikir, dan emosi.
• Sel-sel otak bekerja bersama- sama dan berkomunikasi melalui jaras-
jaras yang terbentuk dari sel-sel saraf itu sendiri atau menggunakan
neurotransmitter.
• Darah merupakan sarana transportasi oksigen, nutrisi, dan bahan-
bahan lain yang sangat diperlukan untuk mempertahankan fungsi
penting jaringan otak dan mengangkat sisa metabolit.
• Kehilangan kesadaran terjadi bila aliran darah ke otak berhenti 10
detik atau kurang. Kerusakan jaringan otak yang permanen terjadi bila
aliran darah ke otak berhenti dalam waktu 5-7 menit

(Harsono, 2007).
Stroke
• Stroke adalah gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat
pembatasan atau terhentinya suplai darah ke otak yang menimbulkan
gejala fokal maupun global >24 jam (Sacco dkk, 2013).
• Berdasarkan patologi anatomi, klasifikasi stroke dibagi menjadi dua
yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik.
Stroke Iskemik
• stroke yang terjadi akibat tersumbatnya pembuluh darah sehingga
menyebabkan aliran darah ke otak terhenti sebagian atau seluruhnya.

• Stroke iskemik berdasarkan penyebabnya terbagi menjadi 3 jenis


yaitu trombotik, embolik dan hipoperfusion
Stroke Hemoragik
• stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Stroke
hemoragik sebagian besar terjadi pada penderita hipertensi.
• Stroke hemoragik berdasarkan lokasi terjadinya perdarahan terbagi
menjadi dua yaitu hemoragik intraselebral dan hemoragik
subaraknoid.
Epidemiologi Stroke
• Stroke merupakan penyebab terbanyak kedua dari kematian dan
penyebab utama disabilitas diseluruh dunia. Diestimasikan 5,7 juta
kematian akibat stroke akan meningkat menjadi 7,8 juta pada tahun
2030. Dalam data Riset Kesehatan Dasar Indonesia, prevalensi stroke
di Indonesia tahun 2013 sebesar 12,6 per 1.000 penduduk.Angka itu
naik dibandingkan Riskesdas 2007 sebesar 8,3 persen (RISKESDAS,
2013).
Etiologi dan faktor Resiko
Etiologi
• Trombosis
• Emboli
• Hemoragik
• Penyebab lain
• Faktor resiko yang dapat • Faktor resiko yang tidak dapat
dikontrol dikontrol
• Tekanan darah tinggi • Umur
(Hipertensi)
• Ras / bangsa
• Kencing manis (Diabetes
mellitus) • Jenis kelamin
• Alkohol • Riwayat keluarga
• Merokok
• Stress
• Kegemukan (Obesitas)
Patofisiologi
• Gangguan aliran darah serebral dapat terjadi di dalam arteri karotis
interna, system vertebrobasilar, dan di semua cabang-cabang yang
membentuk sirkulus Willisi (Price & Wilson, 2005).

• Penghentian total aliran darah ke otak menyebabkan hilangnya


kesadaran dalam waktu 15-20 detik dan kerusakan otak yang
ireversibel terjadi setelah tujuh hingga sepuluh menit (Silbernagl &
Lang, 2007).
Terjadi hambatan
Na+/K+ - ATPase

penimbunan Na+ dan Ca2+


Penghentian total aliran di dalam sel serta
darah ke otak meningkatkan konsentrasi
K+ ekstrasel

Depolarisasi
menyebabkan
penimbunan Cl- di dalam
sel, pembengkakan sel,
dan kematian sel.
Manifestasi Klinis
• Arteri Serebri Media
kelemahan otot dan spastisitas kontralateral, serta defisit sensorik
(hemianestesia) akibat kerusakan girus lateral prasentralis dan
postsentralis, hemianopsia, gangguan bicara motorik dan sensorik
• Arteri Serebri Anterior
hemiparesis dan defisit sensorik kontralateral, kesulitan bicara, apraksia
• Arteri Serebri Posterior
gangguan visual, prosopagnosia defisit memori
• Arteri Basilaris
, gangguan saraf cranial, infark pada serebelum, mesensefalon, pons,
dan medula oblongata
Diagnosis
• Anamnesis, terutama mengenai gejala awal, waktu awitan, aktivitas
penderita saat serangan, gejala seperti nyeri kepala, mual, muntah,
rasa berputar, kejang, cegukan, gangguan visual, penurunan
kesadaran, serta faktor risiko stroke

• Penilaian respirasi, sirkulasi, oksimetri, dan suhu tubuh. Pemeriksaan


neurologis terutama pemeriksaan saraf kranialis, rangsang selaput
otak, sistem motorik, sikap dan cara jalan, refleks, koordinasi, sensorik
dan fungsi kognitif.
Skor Junaedi

Total skor >20 Stroke Hemoragik

Total skor <20 Stroke Infark


Pemeriksaan tambahan/Laboratorium
• Computerized Tomography Scanning (CT-Scan)
• Angiografi serebral (karotis atau vertebral) untuk mendapatkan
gambaran yang jelas tentang pembuluh darah yang terganggu,
• MRI (Magnetic Resonance Imaging)
• Pemeriksaan darah rutin
• Elektrokardiografi (EKG)
Masalah-masalah yang Timbul Akibat Stroke
pada Individu
• Adanya serangan defisit neurologis atau kelumpuhan fokal, seperti
hemiparese
• Mati rasa sebelah badan, sering terasa kesemutan dan terkadang
seperti terasa terbakar.
• Mulut mencong, sehingga individu mengalami kesulitan untuk
berbicara kata-kata yang diucapkan kurang dapat dipahami
• Sulit untuk makan dan minum
• Mengalami kekakuan ataupun kesulitan ketika berjalan
• Pendengaran yang kurang baik
• Gangguan kesadaran seperti pingsan bahkan sampai koma
• Masalah psikososial bagi penderita stroke
Tata Laksana Awal
• Bebaskan jalan nafas dan ventilasi yang adekuat
• Kandung kemih yang penuh dikosongkan
• Penanganan tekanan darah secara khusus
• Koreksi hipoglikemi atau hiperglikemi
• Suhu tubuh dipertahankan normal
• Nutrisi per oral/pipa nasogastrik
• Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
Tata Laksana
• 1. Stroke Iskemik • 2. Stroke Hemoragik
• Pengobatan pada penyebabnya • Pengobatan Konservatif
• Prevalensi terjadinya trombosis • Menjamin jalan nafas bebas
hambatan
• Memperbaiki aliran darah ke otak • Pemberian oksigen
• Proteksi neuronal/sitoproteksi • Manajemen TD dan cairan, elektrolit
dan nutrien
• Pengobatan pada faktor risiko • Pasang kateter. Pelunak feses
• Pemberian antiperdarahan
• Bila terjadi edema cerebri diberikan
manitol
• Pengobatan Operatif
Terapi Rehabilitasi
• 1. Gerak merupakan terapi utama.
• 2. Latihan yang digunakan pada terapi gerak sebaik merupakan gerak
fungsional.
• 3. Pasien diarahkan untuk melakukan gerak dengan keadaan senormal
mungkin.
• 4. Latihan gerak fungsional dapat dilakukan setelah stabilitas tubuh sudah
tercapai.
• 5. Terapi gerak diberikan kepada pasien yang siap secara fisik maupun
mental.
• 6. Hasil terapi akan optimal jika ditunjang dengan kemampuan fungsi
kognitif, persepsi, dan modalitas sensoris yang baik

Wirawan (2009)
Assesment dan evaluasi (sudut pandang rehabilitasi)

• Evaluasi neuromuskuloskeletal
• Evaluasi medik umum
• Evaluasi fungsional
• Status emosional dan psikologis
Tujuan Terapi
• a. Mencegah komplikasi imobilisasi lama seperti kontraktur dan
ulkus dekubitus
• b. Mengajari dan melatih kembali kemampuan melakukan aktivitas
sehari-hari seperti makan, minum, berpakaian, cebok dan mandi
• c. Melatih ambulasi
• d. Membantu penderita kembali berinteraksi dengan lingkungannya
Fase Awal
• Pada fase awal pengobatan dan perawatan ditujukan untuk
menyelamatkan jiwa dan mencegah komplikasi, segera setelah
keadaan umum memungkinkan. Yang bisa dilakukan a.l.:
• Posisi baring terlentang
• Posisi miring pada bagian yang sehat
• Posisi miring pada bagian yang sakit
• Posisi bridging atau jika memungkinkan posisi duduk
• Latihan ROM bisa dilakukan secara pasif
Fase Lanjut
• Tujuannya adalah untuk mencapai kemandirian fungsional dalam
mobilisasi dan aktifitas kegiatan sehari-hari (AKS). Fase ini dimulai
pada waktu penderita secara medik telah stabil karena pada fase ini
pasien diminta lebih aktif. rehabilitasi pada stroke infark biasanya
dimulai pada hari ke 2-3. Untuk stroke akibat perdarahaan biasanya
setelah hari ke-14
• Fisioterapi
• Stimulasi elektrikal dengan alat untuk otot-otot dengan kekuatan
otot (2 kebawah).
• Diberikan terapi panas superficial (infra red) untuk melemaskan
otot.
• Latihan gerak sendi dapat secara pasif atau aktif tergantung dari
kekuatan otot.
• Latihan untuk meningkatkan kekuatan otot.
• Latihan stimulasi, fasilitasi, reedukasi otot
• Latihan mobilisasi (Angliadi dkk, 2006).
• Terapi Okupasi (aktifitas kehidupan sehari-hari/AKS)
• Terapi Bicara
• Ortotik Prostetik
• Psikologi
• Psikososial dan Vokasional
Prognosis
• Secara umum impairment yang disebabkan oleh stroke adalah
hemiplegi atau hemiparese yaitu sebesar 73-88% pada stroke akut.
Perbaikan fungsi motorik pada pasien stroke berhubungan dengan
beratnya defisit neurologis saat serangan, luas lesi, riwayat stroke
sebelumnya dan beratnya faktor resiko. Kesembuhan saraf juga dapat
terjadi sekitar 6-12 bulan setelah terkena jejas. Biasanya perbaikan
saraf sudah mulai terlihat pada bulan ke tiga. Namun hanya sekitar
10% penderita stroke yang sembuh tanpa kecacatan sama sekali.
Kesimpulan
• Stroke adalah gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat
pembatasan atau terhentinya suplai darah ke otak yang menimbulkan
gejala neurologis >24 jam.
• Berdasarkan patologi anatomi, stroke dibagi menjadi dua yaitu stroke
iskemik dan stroke hemoragik
• Stroke mengakibatkan individu mengalami keterbatasan dalam
hidupnya. Selain itu masalah fisik yang dihadapi oleh penderita stroke
sangat berdampak pada aktivitas sehari-hari yang akan sangat
mempengaruhi kehidupan penderita.
• Rehabilitasi pada stroke dibedakan menjadi dua fase yaitu fase awal
dan fase lanjutan dengan perbedaan masing-masing terapi yang
diberikan pada tiap fase.
Terima Kasih