Anda di halaman 1dari 8

EVALUASI TARIF ANGKUTAN UMUM

BERDASARKAN ABILITY TO PAY (ATP) DAN WILLINGNESS TO


PAY (WTP) DI KOTA PANGKALPINANG
Revy Safitri
Email: revy.safitri@gmail.com
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Bangka Belitung
Kampu Terpadu UBB Balunijuk, Merawang, Kab. Bangka

Latar Belakang.
Angkutan umum merupakan moda transportasi yang berperan memberikan pelayanan terhadap kepentingan mobilitas masyarakat dalam
melakukan aktivitas, terutama masyarakat yang tidak memiliki alternatif pilihan moda transportasi (captive riders). Menurut Warpani, 2002,
angkutan umum adalah angkutan penumpang dengan menggunakan aktivitas.
Tujuan.
Dengan adanya sistem angkutan umum di harapkan meningkatkan jumlah penumpang angkutan umum, dimana sebagian besar pengguna
kendaraan pribadi dapat beralih menggunakan angkutan umum.
Metode
Penyedia jasa angkutan umum, pengguna jasa angkutan.
Data
Dalam penelitian ini, pengumpulan data untuk mendapatkan nilai ATP dan WTP di Kota Pangkalpinang terhadap angkutan umum yang ada
dilakukan dengan survei kuesioner (questionnaire survey) dan survei wawancara (interview survey) yang disebarkan ke 7 Kecamatan di Kota
Pangkalpinang.
Hasil penelitian
• Nilai ATP rata - rata sebesar Rp 12.162,00 untuk kategori tidak bekerja, Rp 7.928,00 untuk kategori pelajar/ mahasiswa, dan Rp
11.407,00 untuk kategori bekerja/ swasta. Dari nilai ATP rata – rata tiap kategori tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai ATP rata –
rata paling rendah sebesar Rp 7.928,00 dari kategori pelajar/ mahasiswa, dan nilai ATP paling tinggi sebesar Rp 12.162,00 dari kategori
tidak bekerja. Pada analisis ini, kategori tidak bekerja memberikan hasil nilai ATP rata – rata tertinggi disebabkan jumlah frekuensi
perjalanan yang rendah tiap bulannya, sehingga memberikan nilai ATP yang besar dibandingkan kategori lainnya.
• Nilai WTP rata - rata sebesar Rp 3.721,00 untuk kategori tidak bekerja, Rp 3.607,00 untuk kategori pelajar/ mahasiswa, dan Rp
4.181,00 untuk kategori bekerja/ swasta. Dari nilai WTP rata – rata tiap kategori tersebut, dapat disimpulkan bahwa nilai WTP rata –
rata paling rendah sebesar Rp 3.607,00 dari kategori pelajar/ mahasiswa, dan nilai ATP paling tinggi sebesar Rp 4.181,00 dari kategori
bekerja/ swasta.
DAMPAK MANAJEMEN LALU LINTAS CONTRAFLOW TERHADAP DERAJAT KEJENUHAN
DAN KESELAMATAN DI JALAN TOL (IMPACT OF CONTRAFLOW TRAFFIC MANAGEMENT
TOWARDS DEGREE OF SATURATION AND ROAD SAFETY IN TOLL ROAD)
Rudy Setiawan
Staf Pengajar
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto 121-
131, Surabaya 60236 (P):031-2983390 (F):031-8417658 rudy@peter.petra.ac.id
Latar belakang
Volume kendaraan yang sangat tinggi terutama di daerah Jabodetabek disinyalir menyebabkan tingkat kemacetan yang tinggi
pula. Bahkan kemacetan juga terjadi di Jalan tol yang notabene merupakan jalan bebas hambatan, namun kemacetan yang
terjadi hanya bersifat sementara karena terjadi pada jam-jam tertentu, hal ini diindikasikan karena perjalanan komuter dari
daerah satelit bodetabek ke Jakarta.
Tujuan
Dampak manajemen lalu lintas contraflow terhadap derajat kejenuhan dan keselamatan dijalan tol.
Metode
Langkah pertama penentuan lokasi studi, pemilihan lokasi dilakukan dengan persyaratan merupakan jalan tol yang sudah
melaksankan rekayasa lalu lintas contraflow.
Data
Kondisi ruas jalan Tol Jakarta-Tangerang km. 06+200 pada hari kerja waktu pagi hari, lalu lintas sangat padat, dimana arus
lalu lintas sering terhenti untuk beberapa saat, selain itu lokasi ini sudah mendekati gerbang tol Kebun Jeruk yang merupakan
gerbang utama menuju pusat kota Jakarta
Hasil penelitian
Hasil dari langkah pertama metodologi yaitu penentuan lokasi adalah di JPO pada km. 06+200 yang mempunyai geometrik
jalan tipe 6/2 D dengan lebar efektif lajur lalu lintas 3,50 m dengan lebar bahu 2 m. Lokasi ini dipilih karena termasuk pada
segmen jalan yang diberlakukan manajemen lalu lintas contraflow pada jam 06.00-09.00 WIB, lokasi ini mempunyai
karakteristik jalan inter urban. Kondisi ruas jalan Tol Jakarta-Tangerang km. 06+200 pada hari kerja waktu pagi hari, lalu
lintas sangat padat, dimana arus lalu lintas sering terhenti untuk beberapa saat, selain itu lokasi ini sudah mendekati gerbang
tol Kebun Jeruk yang merupakan gerbang utama menuju pusat kota Jakarta. Ilustrasi kondisi segmen jalan tol Jakarta-
Tangerang km. 06+200 Hasil ekstraksi data dari langkah kedua metodologi yang merupakan data rekaman video kamera
berupa gambar yang diubah menjadi data angka yang disesuaikan dengan penggolongan jenis kendaraan dan waktu.
PENGATURAN LAMPU LALU LINTAS
MENGGUNAKAN PENDEKATAN SISTEM PAKAR

Muhammad Izman Herdiansyah1, Linda Atika2


Dosen Universitas Bina Darma1,2
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.3 Palembang

Sur-el: m.herdiansyah@binadarma.ac.id1, linda_atika@binadarma.ac.id2

Latar Belakang
Jumlah kendaraan mengalami peningkatan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, sementara disisi lain pertumbuhan infrastruktur lalu
lintas tidak setinggi pertumbuhan jumlah kendaraan dan mobilitas masyarakat.
Tujuan
Untuk mengetahui prngaturan lalu lintas menggunakan pendekatan sistem pakar.
Metode
Penelitian diawali dengan kajian literatur berupa konsep teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan.
Pembahasan
Analisis dan kajian terhadap masalah kemacetan lalu lintas dalam penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel di perempatan lalu
lintas yang memiliki pengatur lampu lalu lintas. Objek penelitian adalah persimpangan Charitas Palembang. Data dikumpulkan melalui
pengukuran trafik lalu lintas dilapangan.
ANALISIS KEBUTUHAN PARKIR KENDARAAN DI BANDARA HUSEIN SASTRANEGARA EVA
DAYANA NIM : 15008122
Program Studi Teknik Sipil - Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung

Latar belakang
Peningkatan jumlah pengguna pesawat di Bandara Husein Sastranegara membuat aktivitas di bandara semakin meningkat,
sehingga dibutuhkan adanya fasilitas parkir kendaraan yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan parkir.
Tujuan
menganalisis kebutuhan parkir di Bandara Husein Sastranegara
Metode
Dengan menggunakan metode akumulasi maksimum, diperoleh akumulasi parkir maksimum untuk mobil sebesar 154
kendaraan pada pukul 09.15 – 09.30, dan untuk motor sebesar 168 kendaraan pada pukul 13.45 – 14.00. Sehingga, dapat
ditentukan bahwa kebutuhan ruang parkir di bandara unuk masing-masing kendaraan yaitu mobil sebesar 204 petak parkir dan
motor sebesar 268 petak parkir.
Data
Pengumpulan data sekunder diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak pengelola parkir. Data sekunder tersebut meliputi
karcis masuk-keluar kendaraan, kapasitas parkir, jadawal penerbangan pesawat, dan layout parkir kendaraan.Dari hasil
pengumpulan karcis diperoleh 764 karcis masuk mobil dan 411 karcis keluar mobil, serta 279 karcis masuk motor dan 144
karcis keluar motor.
Pembahasan
Hasil akumulasi parkir menunjukkan akumulasi parkir maksimum untuk mobil terjadi pada pukul 09.15 – 09.30 sebanyak
154 kendaraa dam akumulasi parkir maksimum untuk motor terjadi pada pukul 13.45 – 14.00 sebanyak 168 kendaraan.
EVALUASI TATA LETAK (LAYOUT) DAN KAPASITAS PARKIR
KENDARAAN SEPEDA MOTOR DI UNIVERSITAS ATMA JAYA
YOGYAKARTA KAMPUS III GEDUNG BONAVENTURA
Elmia Susanna Br Tarigan
NPM: 10 03 18 541
D. Wahyu Ariani
Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Jalan Babarsari 43 – 44, Yogyakarta
Latar belakang
Setiap perjalanan yang menggunakan kendaraan diawali dan diakhiri ditempat parkir, oleh karena itu ketersediaan ruang parkir
diperlukan bagi pengguna kendaraan sehingga aktivitas yang akan dilakukan dapat terlaksana pada waktunya.
Tujuan
Hal ini tentunya perlu dievaluasi apakah efektifitas lahan parkir yang telah disediakan mencukupi sehingga pengguna kendaraan
tidak harus parkir di luar areal parkir karena penataan pola parkir yang kurang teratur mengakibatkan ruang parkir yang tersedia
tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, untuk itu diperlukan penataan ulang lahan parkir serta meningkatkan kualitas pelayanan
sehingga pengguna kendaraan motor dapat memarkirkan kendaraannya lebih cepat.
Metode
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.Data primer adalah data yang diperoleh dari
pengamatan langsung di lapangan sedangkan data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari instansi yang terkait, sebagai
pelengkap untuk menunjang penelitian tersebut.
Data
• Observasi
Obrservasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden (wawancara
dan angket) namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi).
• Survei
Pengamatan langsung di lapangan atau observasi atau inspeksi berdasarkan permintaan dalam rangka pembuktian fakta,
mendapatkan data kinerja dan operasional.
Pembahasan
• Akumulasi parkir merupakan jumlah kendaraan yang parkir di lahan parkir pada interval waktu tertentu.Pada penelitian ini
digunakan interval waktu 30 menit.
• Contoh: Hitungan akumulasi parkir untuk sepeda motor pada hari Senin, 19 Mei 2014 di lahan parkir Universitas Atma
Jaya Yogyakarta Kampus III Gedung Bonaventura, jika sebelum pengamatan sudah ada kendaraan yang di parkir maka
diperoleh:
• Akumulasi = X + Ei – Ex
• 223 + 46 – 15
• 254 kendaraan
• Keterangan:
• X = Jumlah kendaraan yang sudah ada sebelum penelitian, Ei = Kendaraan yang masuk lokasi parkir,
• Ex = Kendaraan yang keluar lokasi parkir.