Anda di halaman 1dari 18

KELOMPOK 9 PEMBENARAN ILMU

GHINA AYU K.D (15610087)

JIE YAN KIRANA E.K.A


(15610088)

IQBAL TR (15610089)
KEBENARAN ILMU
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk
menemukan pengetahuan yang benar.
Secara umum orang merasa bahwa tujuan
pengetahuan adalah ntu mencapai
kebenaran, namun masalahnya tidak hanya
sampai di situ saja. Problem kebenaran
inilah yang memacu tumbuh dan
berkembangnya epistemology.
Kebenaran dibedakan menjadi tiga
jenis:
• Kebenaran epistemologis
• Kebenaran Ontologis
• Kebenaran Semantis

Namun, dalam pembahasan ini dibahas


kebenaran epistemologis karena kebenaran yang
lainnya secara inheren akan masuk dalam
kategori kebenaran epistemologis.
Teori yang menjelaskan kebenaran epistemologis
adalah sebagai berikut
• Teori korespodensi
• Teori koherensi
• Teori pragmatisme
• Agama
...MATEMATIKA
Matematika merupakan buah pikir manusia
yang bersifat umum(deduktif). Kebenaran tidak
berpengaruh pada metode ilmiah. Kebenaran
tidak bergantung pada metode ilmiah yang
mengandung proses induktif. Kebenaran
matematika pada dasarnya bersifat koheren.
Yaitu kebenaran koherensi atau konsistensi, yaitu
kebenaran yang didasarkan pada kebenaran-
kebenaran yang telah ditentukan sebelumnya.
BENAR
1+ 1 =2
Bergantung pada asumsi sejumlah pembuktian
sistematis matematika dasar(aksioma), serta pada
logika yang mendasar
PEMBENARAN ILMU
Dalam KBBI kata pembenaran berarti perbuatan
membenarkan, dalam arti bahwa bagaimana
pembenaran itu dilakukan dan
dipertanggungjawabkan.
Beberapa teori pembenaran
Kausalitas dan
Fondasionalisme
Korespondensi

Koherentisme Positivisme

Absolutisme versus Kembali kepada Prima-


Relativisme Principia
Fondasionalisme
Fondasionalisme adalah teori pembenaran yang menyatakan bahwa suatu
klaim kebenaran pengetahuan untuk dapat dipertanggung jawabkan secara
rasional perlu didasarkan atas suatu fondasi atau basis yang kokoh
 Aliran fondasionalis ini terbagi dua,
• fondasionalis ketat : yang mengatakan bahwa kepercayaan dasar harus
jelas, tak keliru dan tak dapat diragukan lagi, dan pembenaran yang
merujuk pada kepercayaan dasar itu harus berdasarkan suatu implikasi
logis atau induksi dari kepercayaan dasar tersebut.
• fondasionalis moderat : Aliran ini tidak menuntut bahwa suatu
kepercayaan dasar haruslah tak dapat keliru dan tak dapat diragukan.
Demikian juga hubungan antara kepercayaan dasar dan kepercayaan lain
yang dibenarkan berdasarkan fondasi tidak perlu dalam bentuk implikasi
logis atau induksi penuh.
 Para fondasionalis membedakan antara kepercayaan dasar dan
kepercayaan simpulan. Kepercayaan dasar adalah kepercayaan yang jelas
dan membenarkan dirinya sendiri sedangkan kepercayaan simpulan
adalah kepercayan yang disimpulan dari beberapa kepercayaan dasar
tersebut.
Koherentisme

- Menurut teori ini, semua kepercayaan


mempunyai kedudukan yang sama sehingga
tidak perlu ada pembedaan antar kepercayaan
dasar dan kepercayaan simpulan sebagaimana
dibuat oleh fondasionalisme.
-Suatu kepercayaan sudah bisa
dipertanggungjawabkan kebenarannya kalau
kepercayaan itu koheren atau konsisten dengan
keseluruhan system kepercayaan yang selama
ini diterima kebenarannya.
Aliran koherentisme dibagi dua
• koherentisme garis keras yang mengatakan bahwa
suatu sistem jaringan disebut koheren, bukan hanya
kalau komponen kepercayaan yang membentuknya
konsisten satu sama lain, tetapi juga kalau mereka
secara logis saling mengimplikasikan.
• koherentisme moderat berpandangan bahwa suatu
sistem jaringan kepercayaan disebut koheren
apabila komponen kepercayaan yang membentuk
system jaringan kepercayaan itu ebih dari sekedar
konsisten satu sama lain, namun tidak perlu harus
sampai secara logis saling mengimplikasikan.
Absolutisme versus Relativisme
• Jika seekor kucing benar-benar berada di rumah, dan kita yakin bahwa
“kucing ada di rumah”, dan kita katakan bahwa “kucing ada di rumah”,
maka jelas keyakinan kita maupun proposisi yang kita nyatakan bernilai
benar secara mutlak. Inilah yang saya maksudkan dengan absolutisme.
Setiap peyakin kebenaran, mesti seorang absolutis.
• akan ada tiga alam;
• alam mental : himpunan obyek dalam fikiran manusia;
• alam eksternal: himpunan obeyek di luar fikiran manusia;
• dan alam bahasa: himpunan bahasa yang digunakan manusia.
• Dalam contoh di atas, keberadaan kucing di rumah merujuk pada suatu
obyek dalam alam eksternal. Sedang keyakinan akan keberadaan
kucing di fikiran merujuk pada alam mental. Dan pernyatan “Kucing
ada di rumah” merujuk pada alam bahasa.
Seseorang disebut absolutis, jika dan hanya jika, ia yakin ketiga alam
tersebut, -mental, eksternal dan bahasa-,
• Sebaliknya seorang disebut relativis, jika dan
hanya jika, ia bukan absolutis. Artinya, seorang
disebut relativis jika salh satu aatau kedua
kriteria di bawah ini terpenuhi;
• Ia yakin bahwa tidak mungkin apa yang ada di
alam eksternal ini ekivalen dengan apa yang ada
di alam mental.
• Ia yakin bahwa tidak mungkin menyatakan apa
yang aada di alam mental dengan suatu bahasa
yang akurat.
Kausalitas dan Korespondensi
• Rangka-nya rangka dari seluruh sains
maupun ilmu pengetahuan. Tidak lebih dan
tidak kurang. Itulah prinsip kausalitas.
• Prinsip kausalitas berbunyi , “Segala sesuatu
membutuhkan sebab untuk meng – ada,
kecuali keberadaan itu sendiri.”
• Sifat penting kausalitas pertama adalah
keselarasan; yaitu satu sebab yang sama
akan menghasilkan akibat yang sama
Positivisme
• Materialis meyakini ke-real-an materi, bahkan kekekalan materi, dan tak
percaya adanya hal – hal yang immaterial.
• Sebaliknya rasionalis, dengan menerima prinsip-prinsip niscaya rasional
seperti prinsip non-kontradiksi dan kausalitas, percaya adanya hal – hal
yang immaterial
• Doktrin empirisme dan positivisme bersandar pada beberapa proposisi
dasar berikut ini.
• Pengalaman inderawi adalah sumber pertama pengetahuan manusia,
dan tidak ada pengetahuan rasional apa pun yang mendahului
pengalaman.
• Pengalaman inderawi adalah asas satu-satunya untuk menegaskan
(men-tashdiq, to assent) kebenaran suatu proposisi. (Dalam bentuk
ekstrimnya, suatu proposisi dianggap mempunyai makna jika ia dapat
ditasdik secara empirik)
• Suatu proposisi, jika mungkin mencapai pengalaman inderawi yang
memberi petunjuk tentangnya, meskipun kita tidak memiliki
pengalaman seperti itu, mempunyai arti dan perlu dibahas.
Kembali kepada Prima-Principia
• Kemustahilan adanya kontradiksi dalam semua yang
maujud. Ini adalah hakikat inti prima-principia, yang
disebut dengan prinsip non-kontradiksi (qanun tanaqudh).
Secara lebih terperinci prima – principia ini terdiri atas tiga
prinsip; identitas (qanun dzatiyyah), non-kontradiksi
(qanun tanaqudh) dan ketiadaan batas (qanun imtina`).
• Prinsip identitas artinya sesuatu selalu identik dengan
dirinya sendiri. Prinsip non-kontradiksi artinya sesuatu
pasti tidak sama dengan yang bukan dirinya sendiri.
Prinsip ketiadaan batas artinya sesuatu tidak mungkin
sekaligus sesuatu dan bukan sesuatu tersebut pada saat
yang bersamaan.
• Contohnya; Tuhan itu Ada. Dan Ada memiliki makna
hanya karena menurut qanun dzatiyyah Ada itu
benar-benar Ada. Kemudian, menurut qanun
tanaqudh, Ada itu pasti tidak sama dengan tidak
Ada. Dan lebih tegas lagi, menurut qanun imtina` ,
Tuhan itu Ada dan mustahil tidak Ada.
Demikianlah, tidak ada satu kebenaran apa pun yang
dapat di-tashdiq tanpa mengakui prima – principia.
Karena berarti benar bisa sekaligus salah, dan
sebaliknya.
TERIMAKASIH
