Anda di halaman 1dari 30

DRP & INTERAKSI

OBAT

HANAFIS SASTRA WINATA.,


S.FARM., M.SI., APT
DRP (DRUG RELATED
PROBLEM)
Drug Related Problem (DRP) atau masalah
terkait obat adalah bagian dari asuhan
kefarmasian (pharmaceutical care) yang
menggambarkan suatu keadaan, dimana
profesional kesehatan (apoteker) menilai
adanya ketidaksesuaian pengobatan dalam
mencapai terapi yang sesungguhnya
DRP dibagi menjadi 2 : actual dan potensial,
DRP actual adalah masalah yang terjadi
seketika saat pasien menggunakan obat
(misalkan alergi dll)

DRP potensial adalah masalah yang akan


terjadi pada saat setelah penggunaan obat
(misalnya kerusakan hati, ginjal, dsb).
Ada 8 jenis Drug Related
Problem, yaitu :
1. Indikasi yang tidak ditangani
(Untreated Indication)
Ada indikasi penyakit/keluhan pasien yang
belum ditangani dalam resep tersebut,
misalnya pasien mengeluh nyeri di
persendian, sedang dalam resep tersebut
tidak ada obat untuk mengatasi masalah
nyeri tersebut.
2. Pilihan Obat yang Kurang Tepat
(Improper Drug Selection)
Pemilihan obat dalam resep kurang tepat
(salah obat) dan beresiko, misalnya pasien
demam dikasih antibiotik rifampisin, ini
jelas pemilihan obat salah. atau obat yang
dipilih memiliki kontraindikasi atau
perhatian (caution) terhadap pasien.
3. Penggunaan Obat Tanpa Indikasi
(Drug Use Without Indication)
Obat yang ada dalam resep, tidak sesuai
dengan indikasi keluhan penyakit pasien.
4. Dosis Terlalu Kecil (Sub-Therapeutic
Dosage)
Dosis obat yang diberikan dalam dosis
tersebut terlalu kecil, sehingga efek terapi
tidak memadai untuk mengobati penyakit
pasien.
5. Dosis Terlalu Besar (Over Dosage)
Dosis yang diberikan dalam resep terlalu
besar, diatas dosis maksimum, hal ini
dapat berakibat fatal.
6. Reaksi Obat Yang Tidak Dikehendaki
(Adverse Drug Reactions)
Obat yang diberikan memberikan efek
samping yang memberatkan kondisi
pasien, misalnya captopril menyebabkan
batuk yang mengganggu (efek samping ini
tidak selalu terjadi, karena sensitifitas
setiap orang berbeda-beda).
7. Interaksi Obat (Drug Interactions)
Obat-obatan dalam resep saling
berinteraksi seperti warfarin dan vitamin K
bersifat antagonis, atau obat dengan
makanan semisal susu dan tetrasiklin
membentuk khelat/kompleks yang tidak
bisa diabsorpsi.
8. Gagal Menerima Obat (Failure to
receive medication)
Obat tidak diterima pasien bisa
disebabkan tidak mempunyai kemampuan
ekonomi, atau tidak percaya dan tidak
mau mengkonsumsi obat-obatan. atau
bisa juga disebabkan obat tidak tersedia di
apotek sehingga pasien tidak dapat
memperoleh obat.
Interaksi Tubuh - Obat
Terikat Protein Plasma
Obat
Bebas
ABSORPSI Farmakokinetik
Konsentrasi Obat Dalam (Perjalanan Obat
Obat Dalam Jaringan
sirkulasi sistemik dalam Tubuh)
DISTRIBUSI

Konsentrasi Obat Pada METABOLISME


Tempat Kerja

Ikatan Dengan Reseptor EKSRESI

Efek Farmakologi/ Respon Klinik


Indikasi Teurapetik Farmakodinamik (Efek
Obat pada Tubuh)

Toksisitas Efikasi
Apa Yang terjadi setelah Obat
DIBERIKAN?????
Drug at site
of administration

1. Absorption
Drug in plasma
2. Distribution
Drug/metabolites
3. Metabolism
in tissues

4. Elimination
Drug/metabolites
in urine, feces, bile
Modified from Mycek et al. (1997)
Faktor Utama Farmakologi

OBAT TUBUH
(Sistem Biologi)
(Bahan Kimia)

Pengaruh Tubuh terhadap obat


Pengaruh Terhadap Tubuh

Nasib Obat Dalam Tubuh


Kerja/Efek Obat

Farmakodinamika Farmakokinetika

Antaraksi Kemodinamika
TUJUAN TEURAPEUTIK

Adalah mencapai efek menguntungkan


yang diinginkan dengan efek
merugikan yang minimal

Menentukan Obat Yang Tepat

Perlu Penentuan dosis yang tepat

Mempelajari aspek Farmakokinetik dan Farmakodinamik Obat


Interaksi obat
Menurut jenis mekanisme kerja dibedakan:

 interaksi farmakodinamika dan


 interaksi farmakokinetika.
Prinsip Farmakokinetika
Farmakokinetik: Setiap proses yang dilakukan tubuh terhadap
obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.
Tahapan obat hingga mencapai Efek:
Sediaan Obat, C/ Absorpsi
Tablet pecah Interaksi dengan
Tablet
Metabolisme reseptor di
Dengan zat aktif Distribusi tempat kerja
Granul pecah zat aktif Ekskresi
terlepas dan larut Efek
Farmakokinetik Farmakodinamik
Fasa Biofarmasi/
Farmasetik

A. Absorpsi : Penyerapan obat


dari usus ke dalam sirkulasi
Berkaitan dengan rute Pemberian Obat dan mempengaruhi
bioavaibilitas obat dalam tubuh
Pada penulisan resep beberapa obat selalu
diberikan secara bersamaan, maka
mungkin terdapat obat yang kerjanya
berlawanan (tidak ada efek), sinergi (efek
saling memperkuat), jenis yang sama
nama berbeda (over dosis), obat tidak
indikasi (irasional terapi), obat tidak sesuai
dosis (irasional dose), obat dengan
perhatian (mis, dengan makanan)
INTERAKSI FARMAKODINAMIKA
 Interaksi farmakodinamika hanya diharapkan
jika obat yang saling mempengaruhi bekerja
sinergis atau antagonis pada satu reseptor,
pada suatu organ sasaran atau pada satu
rangkaian pengaturan. Jika sifat-sifat
farmakodinamika, yang kebanyakan dikenal
baik, dari obat-obat yang diberikan secara
bersamaan diperhatikan, interaksi demikian
dapat berguna secara terapeutik apabila
menguntungkan atau dapat dicegah apabila
tidak diinginkan.
 Pengaruh berlawanan terhadap kadar gula
darah, penurunan kebutuhan insulin
setelah pemberian oksitetrasiklin dan
guanetidin. Karena itu pemberian obat-
obat ini pada penderita kencing manis
harus diikuti dengan perhatian khusus.
 Pengaruh berlawanan terhadap tekanan
darah Penderita tekanan darah tinggi
umumnya memperoleh obat antihipertensi
selama bertahun-tahun atau berpuluh
tahun. Sehubungan dengan itu
kemungkinan interaksi antara obat AH
 Peningkatan nefrotoksisitas dan
ototoksisitas Antibiotika aminoglikosida,
misalnya gentamisin dan streptomisin,
yang diberikan bersama diuretika jerat
Henle, misalnya furosemida atau asam
etakrinat, menaikkan nefrotoksisitas
sefalotin, selain itu menaikkan
ototoksisitas antibiotika aminoglikosida.
Kenaikan ototoksisitas terjadi karena
diuretika jerat Henle mengubah komposisi
elektrrolit endolimfe dalam telinga bagian
dalam.
Peningkatan relaksasi otot, interaksi
obat relaksan otot yang distabilkan
dengan antibiotika, karena kerja jenis
kurare (misalnya dengan antibiotika
aminoglikosida) mempunyai kerja
peningkatan merelaksasi otot.
 Peningkatan toksisitas glikosida jantung
Hiperkalsemia dan hipokalemia meningkatkan
kerja glikosida jantung. Ini berarti, bahwa pasien
dengan terapi glikosida jantung tak boleh
menggunakan obat yang mengandung kalsium,
dan selain itu pada pemberian glikosida jantung
secara bersamaan dengan senyawasenyawa,
yang dapat menyebabkan kehilangan kalium,
terapi glikosida jantung harus diawasi dengan
sangat ketat. Ini berlaku, misalnya untuk
laksansia dan diuretika, yang sering diberikan
bersama dengan glikosida jantung. Demikian
juga berlaku untuk glukokortikoid, amfoterisin B
juga Mempertinggi toksisitas glikosida jantung
karena mekanisme mengurangi kalium.
 Peningkatan kecenderungan perdarahan Pada
terapi dengan obat antikoagulan jenis dikumarol,
berdasarkan interaksi farmakodinamika,
kecenderungan perdarahan meningkat jika
diberikan bersamaan dengan obat berikut :
 dengan asam asetilsalisilat akibat penghambatan
agregasi trombosit dan pada dosis lebih dari 1,5 g ,
akibat menurunnya sintesis protrombin;
 dengan kuinidin karena menurunnya sintesis faktor-
faktor pembekuan yang bergantung kepada vitamin
K;
 dengan sefalosporin yang berstruktur N-alkil-tetrazol,
misalnya Cefamandol, karena sintesis protrombin
INTERAKSI FARMAKOKINETIKA

 Interaksi farmakokinetika dapat


terjadi selama fase
farmakokinetika obat secara
menyeluruh, juga pada absorpsi,
distribusi, biotransformasi dan
eliminasi.
INTERAKSI PADA PROSES
ABSORBSI
 Jika dalam darah pada saat yang
sama terdapat beberapa obat,
terdapat kemungkinan persaingan
terhadap tempat ikatan pada protein
plasma. Persaingan terhadap ikatan
protein merupakan proses yang
sering yang sesungguhnya hanya
baru relevan jika obat mempunyai
ikatan protein yang tinggi, lebar
terapi rendah dan volume distribusi
relatif kecil.
 Antireumatika turunan fenilbutazon,
misalnya fenilbutazon atau oksifenbutazon
dapat mengusir antikoagulan dari ikatan
protein, karena itu untuk sementara
sampai pengaturan steady-state yang
baru konsentrasi antikoagulan bebas
meningkat. Kemudian kenaikan
konsentrasi bebas ini pada waktu yang
sama menyebabkan kenaikan eliminasi
dan akibat penghambatan sintesis
protrombin, kecenderungan perdarahan
meningkat.
INTERAKSI PADA PROSES
BIOTRANSFORMASI
 Dengan cara yang sama seperti pada
albumin plasma, mungkin terjadi
persaingan
 Biotransformasi suatu obat kedua
selanjutnya dapat diperlambat atau
dipercepat berdasarkan penghambatan
enzim atau induksi enzim yang
ditimbulkan oleh obat pertama. Seperti
misalnya penguraian fenitoin atau
tolbutamida dihambat oleh isoniazida
INTERAKSI PADA PROSES ELIMINASI.
 Interaksi pada eliminasi melalui ginjal dapat
terjadi akibat perubahan pH dalam urin atau
karena persaingan tempat ikatan pada sistem
transpor yang berfungsi untuk sekresi atau
reabsorpsi aktif. yang menurunkan pH (misalnya
asida), memperbesar eliminasi basa lemah
karena senyawa-senyawa ini terdapat dalam
keadaan terionisasi dan dengan cara yang sama,
senyawa-senyawa yang menaikkan pH urin
(misalnya; NaHCO3) meningkatkan eliminasi
asamasam lemah.
INTERAKSI ANTARA OBAT DAN MAKANAN
 Pengetahuan mengenai pengaruh makanan
terhadap kerja obat masih sangat kurang.
Karena itu, pada banyak bahan obat, masih
belum jelas bagaimana pengaruh pemberian
makanan pada saat yang sama terhadap
kinetika obat. Pada sejumlah senyawa makanan
menyebabkan penundaan absorpsi karena
perubahan pH lambung serta perubahan
motilitas usus. Mis; rifampisin dan isoniazida
absorpsinya ditunda dan diabsorpsi dalam
jumlah lebih kecil pada pemakaian setelah
makan dibandingkan dengan apabila obat-obat
ini digunakan pada waktu lambung kosong.
 Pemakaian tetrasiklin bersama-sama
dengan susu atau makanan yang
mengandung ion kalsium, magnesium
atau ion besi mengurangi absorpsi karena
pembentukan khelat yang tak larut. Di
pihak lain ditunjukkan bahwa ketersediaan
hayati beberapa bahan obat yang lipofil
dapat diperbaiki dengan makan pada
waktu yang sama