Anda di halaman 1dari 54

3.

KONSEP KESELAMATAN PASIEN


(PMK 11/ 2017)
REGULASI YANG HARUS ANDA KETAHUI
• UU 1/2004 TENTANG PERBENDAHARAAN • PMK 75/2014 TENTANG PUSKESMAS
NEGARA • PMK 9/2014 TENTANG KLINIK
• UU 29/2004 TENTANG PRAKTIK • PMK 90/2015 TENTANG PKM DI TERPENCIL DAN SANGAT
KEDOKTERAN TERPENCIL
• UU 36/2009 TENTANG KESEHATAN • PMK 46/2015 TENTANG AKREDITASI PUSKESMAS, KLINIK
PRATAMA, TPMDr/Drg
• UU 36/2014 TENTANG TENAGA KESEHATAN
• PMK 39/2016 TENTANG PISPK
• UU 23/2014 TENTANG PEMERINTAHAN • PMK 43/2016 TENTANG SPM BIDANG KESEHATAN
DAERAH
• PMK 44/2016 MANAJEMEN PUSKESMAS
• UU 38/2014 TENTANG KEPERAWATAN
• PMK 74/2016 TENTANG PELAYANAN FARMASI DI
• PP 74/2012 TENTANG BLU PUSKESMAS

• PP 18/2016 TENTANG PERANGKAT DAERAH • PMK 42/2016 TENTANG PERUBAHAN PASAL 9 PMK
46/2015
• PP 47/2016 TENTANG FASYANKES • PMK 11/ 2017 TENTANG KESELAMATAN PASIEN
• PP 2/2018 TENTANG SPM • PMK 27/2016 TENTANG PPI
• PERPRES 72/ 2012 TENTANG SKN • PMK 28/2017 TENTANG BIDAN
• PERMENDAGRI 61/2007 TENTANG BLU • KEPMENKES 514 /2015 TENTANG PANDUAN YANKES BAGI
DOKTER DI FKTP
• KEPMENKES 432/2016 TENTANG KOMISI AKREDITASI FKTP
KONSEP KESELAMATA
PASIEN
PELAYANAN KESEHATAN SARAT DENGAN RISIKO YANG
DAPAT MENIMBULKAN CEDERA BAIK BAGI PASIEN,
KELUARGA PASIEN, PETUGAS KESEHATAN, SASARAN
KEGIATAN UPAYA KESEHATAN, BAHKAN MASYARAKAT
DAN LINGKUNGAN SEBAGAI AKIBAT
PENYELENGGARAAN PELAYANAN ATAU KEGIATAN UPAYA
KESEHATAN. CEDERA TERSEBUT TERJADI KARENA
TINDAKAN YANG TIDAK AMAN, YAITU KESALAHAN YANG
DILAKUKAN OLEH SESEORANG DALAM
PENYELENGGARAAN PELAYANAN, DAN/ATAU AKIBAT
KEGAGALAN SISTEM, SEBAGAIMANA DIGAMBARKAN
OLEH REASON DALAM SWISS CHEEZE MODE, SEBAGAI
BERIKUT:
Multi-Causal Theory
“Swiss Cheese” diagram
(Reason, 1991)
Keselamatan Pasien adalah suatu sistem yang
membuat ASUHAN pasien lebih aman, meliputi asesmen
risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien,
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi
untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil
PERMENKES NOMOR 11
TAHUN 2017 TENTANG
KESELAMATAN PASIEN

Semua fasilitas pelayanan


kesehatan
Mencabut
PERBEDAAN KP DENGAN K3
K3 KESELAMATAN PASIEN

• KALAU PASIEN DATANG KEPLESET, JATUH • KP BERKAITAN DENGAN ASUHAN PASIEN


DARI TANGGA, JATUH DARI KAMAR MANDI • ASUHAN ADALAH KONTAK PROFESIONAL
• FUNGSI K3 MEMBUAT FASYANKES ANTARA PPA DENGAN PASIEN,
TERJAMIN KESELAMATANNYA MULAI • CIRI ASUHAN MEMILIKI UNIVERSAL
BANGUNANNYA (TANGGA CURAM, LANTAI PROFESSIONAL GUIDELINES = STANDAR
LICIN), TERMASUK BAHAN2 NYA,  ADA PROFESSIONAL SECARA UMUM (SOP)
GAS BERACUN, RADIASI
• KORBANNYA HANYA PASIEN
• UAPAYA AGAR TIDAK MENCEDERAI SEMUA
YG ADA DI FASYANKES • JADI CIRI KHAS KP ADALAH : ADA
ASUHAN/KONTAK PROFESIONAL YANG
• K3 TERKAIT DENGAN LINGKUNGAN. SALAH / KESALAHAN PPA DALAM MEMBERI
ASUHAN ( TIDAK MENGIKUTI SOP),
KORBANNYA HANYA PASIEN

KESALAHAN PPA MEMBERI ASUHAN KARENA


DIPENGARUHI SISTEM
KEY CONCEPTS

• 1. Human fallibility / “ to err is human “


• 2.Anatomy of error / incident types


3.System approach
• 4.“ Just Culture “ / no blaming culture
• 5.Organizational Learning by reporting

7
BAB II
KOMITE NASIONAL KESELAMATAN PASIEN

Pasal 3
(1)Dalam rangka meningkatkan mutu dan keselamatan pasien di
fasilitas pelayanan kesehatan, Menteri membentuk Komite Nasional
Keselamatan Pasien untuk meningkatkan keselamatan pasien di
fasilitas pelayanan kesehatan.
(2)Komite Nasional Keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud
PMK pada ayat (1) merupakan organisasi fungsional dibawah koordinasi
Direktorat Jenderal, serta bertanggung jawab kepada Menteri.
11/2017 (3)Keanggotaan Komite Nasional Keselamatan Pasien
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan
Keputusan Menteri atas usulan Direktur Jenderal
(4)Keanggotaan Komite Nasional Keselamatan Pasien
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang terdiri dari unsur
Kementerian Kesehatan, kementerian/lembaga terkait, asosiasi
fasilitas pelayanan kesehatan, dan organisasi profesi terkait.
BAB II
KOMITE NASIONAL
KESELAMATAN PASIEN
Pasal 4
(1) Komite Nasional Keselamatan
PMK Pasien sebagaimana dimaksud
TUGAS dalam Pasal 3 memiliki tugas
11/2017 memberikan masukan dan
pertimbangan kepada Menteri dalam
rangka penyusunan kebijakan
nasional dan peraturan Keselamatan
Pasien.
PENYELENGGARAAN KP

PMK
11/2017 BAB III
PENYELENGGARAAN KESELAMATAN PASIEN

Pasal 5
Pasal 5 (1) Setiap fasilitas pelayanan
kesehatan harus menyelenggarakan
Keselamatan Pasien.
PROGRAM – KEGIATAN KESELAMATAN
PASIEN & MANAJEMEN RISIKO DI FKTP

PROGRAM - KEGIATAN PELAKSANAAN


• PENYUSUNAN PEDOMAN • IMPLEMENTASI KESELAMATAN
KESELAMATAN PASIEN & PASIEN & MANAJEMEN RISIKO DI
MANAJEMEN RISIKO DI FKTP FKTP DIINTEGRASIKAN DALAM
• PENINGKATAN KEMAMPUAN BAGI AKREDITASI FKTP
TENAGA KESEHATAN DALAM • TERTUANG DALAM STANDAR &
RANGKA PELAKSANAAN INSTRUMEN AKREDITASI FKTP
KESELAMATAN PASIEN & ( PMK 46/2015)
MANAJEMEN RISIKO DI FKATP
HUBUNGAN PELAKSANAAN MANAJEMEN RESIKO, AUDIT INTERNAL,
KESELAMATAN PASIEN DAN RAPAT TINJAUAN MANAJEMEN DI PUSKESMAS
DENGAN STANDAR AKREDITASI

KEGIATAN STANDAR AKREDITASI


MANAJEMEN RESIKO 1.2.5, 2.3.13, 5.1.5, 7.1.1, 7.4.3, 7.6.2. 7.9.2., 8.1.2, 8.1.8, 8.2.3,
8.2.4, 8.2.5, 8.3.2, 8.5.2, 8.5.3, seluruh bab IX
AUDIT INTERNAL Standar akreditasi Bab 3, Kriteria 3.1.4. EP 2, EP 3, dan EP 4
mensyaratkan dilakukan audit internal secara periodik

KESELAMATAN PASIEN sebagian besar bab VII, bab VIII dan bab IX

RAPAT TINJAUAN Standar akreditasi Bab 3, Kriteria 3.1.2


MANAJEMEN
IMPLEMENTASI KESELAMATAN PASIEN & MANAJEMEN RISIKO
DI FKTP

PERMENKES 75/2014 TENTANG PUSKESMAS


PERMENKES 9/2015 TENTANG KLINIK
PERMENKES 11/ 2017 TENTANG KESELAMATAN PASIEN

STANDAR
KESELAMATAN PASIEN

PROGRAM TUJUH LANGKAH


KESELAMATAN PASIEN & MENUJU KAFKTP
MANAJEMEN RISIKO KESELAMATAN PASIEN

SASARAN
KESELAMATAN PASIEN
PERMENKES 46/2016 TENTANG
AKREDITASI PUSKESMAS,
KLINIK PRATAMA & TEMPAT
KAFKTP = KOMISI AKREDITASI PRAKTIK MANDIRI DOKTER/DRG
Tim Mutu, Keselamatan Pasien, Audit
Internal dan PPI di dalam struktur 14

Organisasi Puskesmas
KEPALA
PUSKESMAS
KASUBBAG
TU

PJ UKM PJ UKP PJ
JEJARING/JARINGAN

TIM MUTU TIM AUDIT TIM TIM PPI


(ADMEN, UKM, UKP) INTERNAL KESELAMATAN
PASIEN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 04/09/19


P1 (PERENCANAAN)
PENYELENGGARAAN KESELAMATAN PASIEN
DILAKUKAN MELALUI PEMBENTUKAN SISTEM
PELAYANAN

SISTEM PELAYANAN HARUS MENJAMIN

1. ASUHAN PASIEN LEBIH AMAN, MELALUI UPAYA ASESMEN RISIKO, IDENTIFIKASI


DAN PENGELOLAAN RISIKO PASIEN;
2. PELAPORAN DAN ANALISIS INSIDEN, KEMAMPUAN BELAJAR DARI INSIDEN, DAN
TINDAK LANJUTNYA; DAN
3. IMPLEMENTASI SOLUSI UNTUK MEMINIMALKAN TIMBULNYA RISIKO DAN
MENCEGAH TERJADINYA CEDERA YANG DISEBABKAN OLEH KESALAHAN AKIBAT
MELAKSANAKAN SUATU TINDAKAN ATAU TIDAK MENGAMBIL TINDAKAN YANG
SEHARUSNYA DIAMBIL.
AGAR KESELAMATAN PASIEN DAPAT TERJAGA
MAKA SISTEM PELAYANAN HARUS
MENERAPKAN :

1. STANDAR KESELAMATAN PASIEN;


2. SASARAN KESELAMATAN PASIEN; DAN
3. TUJUH LANGKAH MENUJU KESELAMATAN PASIEN.
STANDAR KESELAMATAN PASIEN 17
7
1. HAK PASIEN (Pasien berharap dpt informasi tentang rencana, hasil termasuk efek samping pelayanan)
2. MENDIDIK PASIEN DAN KELUARGA ( Pasien hrs diberitahu kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap proses
pelayanan).
3. KESELAMATAN PASIEN DAN KESINAMBUNGAN PELAYANAN (Fasilitas pelayanan kesehatan menjamin keselamatan pasien dalam
kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan .
4. PENGGUNAAN METODA-METODA PENINGKATAN KINERJA UNTUK MELAKUKAN
EVALUASI DAN PROGRAM PENINGKATAN KESELAMATAN PASIEN. Fasilitas pelayanan
kesehatan harus mendesain proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis
secara intensif insiden, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.

5. PERAN KEPEMIMPINAN DALAM MENINGKATKAN KESELAMATAN PASIEN


6. MENDIDIK STAF TENTANG KESELAMATAN PASIEN.
7. KOMUNIKASI MERUPAKAN KUNCI BAGI STAF UNTUK MENCAPAI KESELAMATAN
PASIEN.
STANDAR KESELAMATAN PASIEN DALAM
STANDAR AKREDITASI 18

7
No STANDAR KESELAMATAN PASIEN STANDAR AKREDITASI FKTP
1 HAK PASIEN Kriteria 7.1.3 Hak dan kewajiban pasien, keluarga, dan petugas
dipertimbangkan dan diinformasikan pada saat pendaftaran
EP 1: Hak dan kewajiban pasien/keluarga diinformasikan selama proses
pendaftaran dengan cara dan bahasa yang dipahami oleh pasien dan/keluarga
EP8 :Terdapat upaya Puskemas memenuhi hak dan kewajiban pasien/keluarga, dan
petugas dalam proses pemberian pelayanan di Puskesmas

2 MENDIDIK PASIEN DAN KELUARGA Kriteria 7.4.3:Rencana layanan terpadu disusun secara komprehensif oleh tim
kesehatan antar profesi dengan kejelasan tanggung jawab dari masing-
masing anggotanya.
EP 7: Rencana layanan yang disusun juga memuat pendidikan/penyuluhan pasien.

Krieria 7.8.1:Pasien/keluarga memperoleh penyuluhan kesehatan dengan


pendekatan yang komunikatif dan bahasa yang mudah dipahami
EP 1:Penyusunan dan pelaksanaan layanan mencakup aspek penyuluhan
(pendidikan) kesehatan pasien/keluarga pasien

3 KESELAMATAN PASIEN DAN Seluruh Bab 9: Peningkatan Mutu Klinis dan Keselamatan Pasien
KESINAMBUNGAN PELAYANAN
STANDAR KESELAMATAN PASIEN DALAM
STANDAR AKREDITASI 19

7
No STANDAR KP STANDAR AKREDITASI
4 PENGGUNAAN METODA-METODA PENINGKATAN Bab 3,6,9
KINERJA UNTUK MELAKUKAN EVALUASI DAN
PROGRAM PENINGKATAN KESELAMATAN PASIEN

5 PERAN KEPEMIMPINAN DALAM Kriteria 9.2.1:Fungsi dan proses layanan klinis yang utama
MENINGKATKAN KESELAMATAN PASIEN diidentifikasi dan diprioritaskan dalam upaya perbaikan mutu layanan
klinis dan menjamin keselamatan.
EP 5:Kepala Puskesmas bersama dengan tenaga klinis menyusun rencana
perbaikan pelayanan prioritas yang ditetapkan dengan sasaran yang
jelas
EP 6Kepala Puskesmas bersama dengan tenaga klinis melaksanakan
kegiatan perbaikan pelayanan klinis sesuai dengan rencana
STANDAR KESELAMATAN PASIEN DALAM
STANDAR AKREDITASI 20

7
No STANDAR KP STANDAR AKREDITASI
6 MENDIDIK STAF TENTANG KESELAMATAN • Standar Bab 9 Kriteria 9.2.1: Mutu layanan klinis dan
PASIEN keselamatan dipahami dan didefinisikan dengan baik oleh
semua pihak yang berkepentingan.
EP 2: Terdapat dokumentasi tentang komitmen dan pemahaman
terhadap peningkatan mutu dan keselamatan secara
berkesinambungan ditingkatkan dalam organisasi
EP 3: Setiap tenaga klinis dan manajemen memahami pentingnya
peningkatan mutu dan keselamatan dalam layanan klinis

7 KOMUNIKASI MERUPAKAN KUNCI BAGI STAF • Kriteria 7.1.3. Hak dan Kewajiban Pasien, keluarga,
UNTUK MENCAPAI KESELAMATAN PASIEN …..dipertimbangkan dalam pelayanan
EP 1: Hak dan kewajiban pasien/keluarga diinformasikan
selama proses pendaftaran dengan cara dan bahasa yang
dipahami oleh pasien dan/keluarga
• Kriteria 7.1.4. Tahapan pelayanan klinis diinformasikan kepada
pasien untuk menjamin kesinambungan pelayanan.
EP 2: Sejak awal pasien/keluarga memperoleh informasi dan
paham terhadap tahapan dan prosedur pelayanan klinis
7 LANGKAH MENUJU KESELAMATAN
PASIEN
LANGKAH I BANGUN BUDAYA KESELAMATAN

LANGKAH II PIMPIN DAN DUKUNG STAF ANDA

LANGKAH III INTEGRASIKAN KEGIATAN MANAJEMEN RISIKO ANDA

LANGKAH IV BANGUN SISTEM PELAPORAN

LANGKAH V LIBATKAN DAN BERKOMUNIKASI DENGAN PASIEN DAN MASYARAKAT

LANGKAH VI BELAJAR DAN BERBAGI TENTANG PEMBELAJARAN KESELAMATAN

IMPLEMENTASIKAN SOLUSI-SOLUSI UNTUK MENCEGAH


LANGKAH VII CIDERA
1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien:
Ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil (just culture)
2. Pimpin dan dukung staf untuk menerapkan keselamatan pasien:
Bangun komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien
3. Integrasikan kegiatan-kegiatan manajemen risiko:
Kembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko serta lakukan identifikasi dan kajian
hal yang potensial bermasalah
4. Bakukan sistem pelaporan insiden:
Pastikan staf agar dengan mudah dapat melaporkan
kejadian/insiden
5. Pemberdayaan dan komunikasi dengan pasien:
Kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien:
Dorong staf untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana da
mengapa kejadian itu timbul
7. Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien:
Gunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk melakukan
perubahan sistem pelayanan
NON BLAMING, JUST CULTURE

Budaya tidak menyalahkan orang


Budaya perlakukan yang adil, budaya yang mendukung nilai
tanggung jawab bersama: organisasi bertanggung jawab thd
sistem dan memperlakukan perilaku staf secara adil, staf
beranggung jawab thd kualitas pekerjaannya dan melaporkan jika
Budaya yang tidak meminta pertanggung jawaban praktisi klinis
terhadap kegagalan sistem yang tidak dapat mereka kendalikan
SASARAN KESELAMATAN PASIEN

31

DI INDONESIA SECARA NASIONAL UNTUK SELURUH FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN


DIBERLAKUKAN SASARAN KESELAMATAN PASIEN NASIONAL YANG TERDIRI DARI :

SKP.1 : MENGIDENTIFIKASI PASIEN DENGAN BENAR

SKP.2 : MENINGKATKAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF

SKP.3 : MENINGKATKAN KEAMANAN OBAT-OBATAN YANG HARUS DIWASPADAI

SKP.4 : MEMASTIKAN LOKASI PEMBEDAHAN YANG BENAR, PROSEDUR YANG BENAR,


PEMBEDAHAN PADA PASIENYANG BENAR

SKP.5 : MENGURANGI RISIKO INFEKSI AKIBAT PERAWATAN KESEHATAN

SKP.6 : MENGURANGI RISIKO CEDERA PASIEN AKIBAT TERJATUH


SASARAN 1:
MENGIDENTIFIKASI PASIEN DENGAN BENAR

FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN MENYUSUN PENDEKATAN


UNTUK MEMPERBAIKI KETEPATAN IDENTIFIKASI PASIEN
PETUGAS HARUS MELAKUKAN IDENTIFIKASI PASIEN SAAT:

1. pemberian obat
2. pemberian darah / produk
darah
3. pengambilan darah dan
spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis
4. Sebelum memberikan
pengobatan
5. Sebelum memberikan
tindakan
SASARAN 2:
MENINGKATKAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF

FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN MENYUSUN


PENDEKATAN AGAR KOMUNIKASI DI ANTARA PARA
PETUGAS PEMBERI PERAWATAN SEMAKIN EFEKTIF.

SBAR (SITUATION, BACKGROUND, ASSESSMENT,


RECOMMENDATION) DAN TBK (TULIS BACA KONFIRMASI)
YANG DILAKUKAN PADA SKP- 2
1. PERINTAH LISAN DAN YANG MELALUI TELEPON ATAUPUN HASIL
PEMERIKSAAN DITULISKAN SECARA LENGKAP OLEH PENERIMA PERINTAH
ATAU HASIL PEMERIKSAAN TERSEBUT.
2. PERINTAH LISAN DAN MELALUI TELPON ATAU HASIL PEMERIKSAAN
SECARA LENGKAP DIBACAKAN KEMBALI OLEH PENERIMA PERINTAH ATAU
HASIL PEMERIKSAAN TERSEBUT.
3. PERINTAH ATAU HASIL PEMERIKSAAN DIKONFIRMASI OLEH INDIVIDU
YANG MEMBERI PERINTAH ATAU HASIL PEMERIKSAAN TERSEBUT
4. KEBIJAKAN DAN PROSEDUR MENDUKUNG PRAKTEK YANG KONSISTEN
DALAM MELAKUKAN VERIFIKASI TERHADAP AKURASI DARI KOMUNIKASI
LISAN MELALUI TELEPON.
SASARAN 3:
MENINGKATKAN KEAMANAN OBAT-OBATAN
YANG HARUS DIWASPADAI

FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN


MENGEMBANGKAN PENDEKATAN UNTUK
MEMPERBAIKI KEAMANAN OBAT-OBATAN YANG
HARUS DIWASPADAI.
• Obat yg Perlu diwaspadai : obat yang sering menyebabkan KTD
atau kejadian sentinel
• Obat yg Perlu diwaspadai :
1. NORUM/ LASA.
2. Elektrolit konsentrat
• Kesalahan bisa terjadi:
• Secara tidak sengaja
• Bila perawat tidak mendapatkan orientasi sebelum
ditugaskan
• Pada keadaan gawat darurat
LASA (LOOK ALIKE SOUND ALIKE)
NORUM ( NAMA OBAT RUPA MIRIP)
• hidraALAzine  hidrOXYzine
• ceREBYx
 ceLEBRex
• vinBLASTine
• chlorproPAMIDE  vinCRIStine
• glipiZIde  chlorproMAZINE
• DAUNOrubicine  glYBURIde
 dOXOrubicine

Tulis yang berbeda dengan huruf KAPITAL


Elektrolit Konsentrat :

1.Kalium Klorida 2meq/Ml


Atau Yang Lebih Pekat

2.Kalium Fosfat, Natrium


Klorida Lebih Pekat Dari
0.9%

3.Magnesium Sulfat =50%


Atau Lebih Pekat
ELEKTROLIT KONSENTRATE

• Cairan ini bisa mengakibatkan KTD/sentinel


event bila tak disiapkan dan dikelola dengan
baik
• Terpenting :
• Ketersediaan
• Akses
• Resep
• Pemesanan
• Persiapan
• Distribusi
• Label
• Verifikasi
• Administrasi dan pemantauan
TINGKATKAN KEAMANAN UNTUK PEMBERIAN
OBAT

LASA / NORUM

CHECK BACK

5 BENAR

JANGAN GUNAKAN
SINGKATAN
YANG DILAKUKAN PADA SKP- 3
1. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses
identifikasi, lokasi, pemberian label, dan penyimpanan obat-obat yang
perlu diwaspadai
2. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan
3. Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika
dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah
pemberian yang tidak sengaja di area tersebut, bila diperkenankan
kebijakan.
4. Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit pelayanan pasien harus
diberi label yang jelas, dan disimpan pada area yang dibatasi ketat
(restricted).
SASARAN 4:
MEMASTIKAN LOKASI PEMBEDAHAN YANG BENAR, PROSEDUR
YANG BENAR, PEMBEDAHAN PADA PASIEN YANG BENAR

Fasilitas pelayanan Kesehatan mengembangkan suatu pendekatan untuk


memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien operasi.
YANG DILAKUKAN PADA SKP- 4
1. Fasilitas pelayanan kesehatan menggunakan suatu checklist atau proses
lain untuk memverifikasi saat preoperasi tepat lokasi, tepat prosedur,
dan tepat pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan
tersedia, tepat, dan fungsional.
2. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur
“sebelum insisi/time-out” tepat sebelum dimulainya suatu
prosedur/tindakan pembedahan.
3. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung keseragaman
proses untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat
pasien, termasuk prosedur medis dan tindakan pengobatan gigi/dental
yang dilaksanakan di luar kamar operasi.
SASARAN 5:
MENGURANGI RISIKO INFEKSI
AKIBAT PERAWATAN KESEHATAN

Fasilitas pelayanan Kesehatan mengembangkan suatu pendekatan untuk


mengurangi risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.
Reduksi risiko infeksi nosokomial

Sediakan diarea kerja


Efektif dan efisien ALCOHOL HAND
RUB/GEL
YANG DILAKUKAN PADA SKP- 5
1. Fasilitas pelayanan Kesehatan mengadopsi atau mengadaptasi
pedoman hand hygiene terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima
secara umum (al.dari WHO Patient Safety).
2. Fasilitas pelayanan Kesehatan menerapkan program hand hygiene yang
efektif.
3. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan
pengurangan secara berkelanjutan risiko infeksi yang terkait pelayanan
kesehatan
SASARAN 6 :
MENGURANGI RISIKO CEDERA PASIEN
AKIBAT TERJATUH
.

Fasilitas pelayanan kesehatan mengembangkan


suatu pendekatan untuk mengurangi risiko
pasien dari cedera karena jatuh
YANG DILAKUKAN PADA SKP- 6
1. Fasilitas pelayanan kesehatan menerapkan proses
asesmen awal risiko pasien jatuh dan melakukan
asesmen ulang terhadap pasien bila diindikasikan terjadi
perubahan kondisi atau pengobatan.
2. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko
jatuh bagi mereka yang pada hasil asesmen dianggap
berisiko
• AGAR KE-ENAM SASARAN KESELAMATAN PASIEN
TERSEBUT DAPAT DICAPAI MAKA PERLU DILAKUKAN
KEGIATAN-KEGIATAN YANG NYATA UNTUK MENCAPAI
SASARAN-SASARAN TERSEBUT,
• DILAKUKAN MONITOR SECARA PERIODIK DENGAN
MENGGUNAKAN INDIKATOR-INDIKATOR YANG JELAS DAN
TERUKUR.
• INDIKATOR-INDIKATOR TERSEBUT PERLU DISUSUN OLEH
TIAP-TIAP FASYANKES DAN DISESUAIKAN DENGAN KONDISI
SARANA DAN PRASARANA YANG ADA.
SASARAN KESELAMATAN PASIEN (SKP) 51

6
No Sasaran keselamatan pasien Indikator (contoh)
1 Identifikasi pasien dengan benar Kepatuhan memasang gelang identitas
Kepatuhan melakukan identifikasi pasien pada saat memberikan
obat/tindakan

2 Komunikasi efektif dalam pelayanan Kepatuhan pelaksanaan SBAR (situation, background, assessment,
recommendation) dan TBK (tulis baca konfirmasi)
3 Keamanan obat yang perlu diwaspadai Penataan obat LASA dan High Alert di apotik dan gudang obat.
Kepatuhan melakukan telaah resep dan telaah pemberian obat

4 Memastikan lokasi pembedahan yang benar, Kepatuhan penandaan sisi operasi, compliance rate pada prosedur-
prosedur yang benar, pembedahan pada prosedur kritis
pasien yang benar

5 Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan Kepatuhan melakukan hand hygiene


kesehatan
6 Mengurangi risiko cedera pasien akibat Kepatuhan melakukan asesmen jatuh pada pasien rawat inap dan
terjatuh rawat jalan
Kepatuhan pemasangan gelang pasien dengan risiko jatuh
PELAPORAN INSIDEN 53

verifikasi
PETUGAS YANG
MENGETAHUI
investigasi
Lapor 2x24
jam
Derajat
TIM insiden
KESELAMATAN
PASIEN
Analisis penyebab
insiden dengan RCA

Rekomendasi KEPALA
Keselamatan Pasien PUSKESMAS

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 04/09/19


TE
RI
MA
KA
SI
H