Anda di halaman 1dari 20

The Role of Turnera subulata and

Cosmos sulphureus Flowers


in the Life of Anagrus nilaparvatae
(Hymenoptera: Mymaridae)
Wiwik Sugiharti, Y. Andi Trisyono, Edhi
Martono & Witjaksono

Olivia Mutiara L
(15/ 383452/
PN/14283)
Refrensi Jurnal
PENDAHULUAN

Sumber: https://www.inaturalist.org/taxa/205266-
Nilaparvata-lugens

Hama Utama di
pertanaman Padi
Kerusakan dapat mencapai
90% (Liu et al., 2012) Sumber: http://www.cpsskerala.in
/OPC/pages/riceDiseasetungro.jsp
Anagrus nilaparvatae
Tingkat parasitasi A. nilaparvatae
Pada telur N. Lugens berkisar 15,7 -
35,7% dengan rata-rata 24,9%
(Yaherwandi & Syam, 2007).

Tingkat parasitasi A. nilaparvatae dapat


mencapai 40 - 60% hingga 77,8%
selama awal musim tanam padi (Cheng
et al., 2003)

Rentan
Sumber: http://www.pestnet.org/portals/32/Images/Insects/8769- terhadap
EggParaIndon/Anagrus1.png
pestisida
1.
Peningkatan peran parasitoid
sebagai Agens Pengendalian 2.
Hayati ditingkatkan dan REKAYASA EKOLOGI

dipertahankan
3.

REFUGIA
Cosmos sulphureus
*mewakili tanaman semusim

Turnera subulata
*mewakili tanaman tahunan
TUJUAN

Menilai efek dari Turnera subulata dan Cosmos


sulphureus pada kemampuan parasitasi dari A. nilaparvatae
meliputi: (1) Tingkat parasitasi, (2) Kemunculnya parasitoid,
(3) Panjangnya umur dan (4) Fekunditas dari keturunan A.
nilaparvatae

MANFAAT
Turnera subulata dan Cosmos sulphureus dapat digunakan
petani secara luas sebagai refugia pada Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah.
BAHAN DAN
METODE

1.
Pembiakan Massal (Rearing) Nilaparvata lugens

Populasi N. lugens dikumpulkan dari Dilakukan pembiakan massal di rumah


sawah di Desa Ngestiharjo, Kecamatan kaca Perlindungan Tanaman, Fakultas
Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta Pertanian, Universitas Gadjah Mada
(UGM). N. lugens diberikan pakan padi
dengan varietas Ciherang

2.
Pembiakan Massal (Rearing) Anagrus nilaparvatae

Populasi awal A. nilaparvatae diperoleh


dengan jebakan (trapping) di sawah yang Varietas padi yang digunakan
terletak di Desa Tanjungharjo, Kecamatan adalah Ciherang (berusia satu
Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, bulan)
Yogyakarta pada bulan November 2016.
BAHAN DAN
METODE
Tanaman padi ditanam dalam pot plastik dengan diameter 14 cm (atas) dan 11 cm
(bawah), dan 12 cm.

Pot ditutupi dengan tabung plasik (50 cm, diameter 10 cm) terbuat mika plastik
dan puncak-puncak tabung ditutupi dengan kasa kapas.

Pot yang terdapat 50 ekor betina N. lugens diinkubasi selama tiga hari untuk oviposisi.

Tanaman padi yang terdapat telur dari lugens N. dipindahkan ke tanaman padi satu bulan
dan ditempatkan secara acak.

Selanjutnya, daun dan akar tanaman dipotong dan disisakan hanya batang. Potongan akhir
setiap batang dibungkus dengan kertas tisu dibasahi dengan air. Batang dimasukkan dalam
cangkir plastik dengan 8 cm (atas), 5,5 cm di bagian bawah, dan 12 cm.

Setiap cangkir plastik batang padi kemudian ditempatkan di dalam sebuah tabung
plastik (8 cm diameter, 25 cm). Tabung plastik ditutup dengan kapas kasa di atas. Yang
baru muncul A. nilaparvatae dipindahkan dan dipelihara di Laboratorium
menggunakan prosedur yang telah ada (Meilin et al., 2012) pada varietas padi
Ciherang.
3.
Bunga dari Turnera subulata dan Cosmos sulphureus

T. subulata dan C. sulphureus diperoleh dari Banyumas, Jawa Tengah. Penanaman


T. subulata dengan stek dan C. sulphureus disebarkan dengan menabur benih yang
telah dikeringkan pada polybag 30 × 30 cm. Bunga di mekar penuh digunakan
selanjutnya pengujian.

4.
Efek dari T. subulata dan C. sulphureus yang telah terparasitasi dari
A.nilaparvatae

Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan: bunga
T. subulata dan C. sulphureus, madu, dan kontrol (tanpa bunga dan tidak ada madu).
Tanaman padi yang digunakan adalah berusia dua minggu varietas Ciherang. 10 bibit padi
ditempatkan di gelas plastik (6,5 cm atas diameter, 4,5 cm diameter bawah, 4,5 cm).
Ditempatkan di dalam sebuah tabung plastik (diameter 8 cm, 23 cm) dan tanaman
dipertahankan kesegaran mereka dengan menambahkan air ke dalam cangkir.

20 ekor N.lugens betina yang dirilis dalam tabung plastik selama dua hari untuk oviposisi
ketika dewasa kemudian dihilangkan.

Salah satu bunga T. subulata atau C. sulphureus ditempatkan ke setiap cangkir dalam
tabung plastik.

Perlakuan madu digunakan larutan madu 10% (Madu Murni Nusantara) yang dioleskan
pada dinding tabung plastik. Madu dan kontrol menjadi perlakuan yang digunakan dengan
tidak adanya bunga.

Lima A. nilaparvatae ekor betina dipindahkan ke masing-masing tabung plastik untuk


empat perlakuan yang berbeda.

Bunga-bunga diganti setiap hari sampai semua parasitoid mati. Selanjutnya, bibit padi
dihilangkan dan akar dibungkus dengan tisu dari 5 × 5 cm, dibasahi dengan air dan
dibungkus dalam aluminium foil di luar dan ditempatkan ke dalam tabung reaksi, dan
ditutup dengan kasa kapas. Setiap perlakuan diulang 6 kali
Pengamatan dilakukan setiap hari dengan menghitung
jumlah yang baru muncul A. nilaparvatae dan nimfa N. lugens.

Setelah tiga hari berturut-turut tanpa munculnya apapun, bibit padi


dibedah untuk mencatat jumlah telur yang terparasit tapi tidak menetas
(belum menetas namun terparasit telur) dan jumlah telur yang sehat
(tidak terparasit) tapi tidak menetas.

Tingkat parasitasi dihitung dengan membagi jumlah kemunculan dan mortalitas


parasitoid dalam inang (host) oleh jumlah telur yang belum menetas, nimfa N. lugens
dan A. nilaparvatae yang baru muncul.

Analisis Variance (ANOVA) dilakukan dengan menggunakan SAS


9.3, dan dilanjutkan dengan LSD ( P < 0,05) ketika terjadinya
perbedaan yang signifikan (Gomez & Gomez, 1995).
5.
Efek dari Turnera subulata dan Cosmos sulphureus
pada Progeni dari Anagrus nilaparvatae

Penelitian sebelumnya dirancang untuk menentukan


dampak langsung dari peran bunga T. subulata dan C.
sulphureus pada A. nilaparvatae ( F0). Penelitian ini
merupakan kelanjutan dari yang sebelumnya untuk
mengatasi pertanyaan apakah imago dewasa (induk) dari A.
nilaparvatae apabila diberikan pakan dengan bunga-bunga
akan dihasilkan keturunan yang lebih baik (F 1)
dibandingkan parasitoid unfed.

Desain penelitian ini adalah mirip dengan yang


sebelumnya. A. nilaparvatae muncul dari semua
perlakuan yang digunakan sesuai dengan perlakuan
masing-masing. Diharapkan bahwa jika pemberian
bunga memiliki sesuatu yang baik untuk induknya,
akan menguntungkan progeni yang telah dipengaruhi
oleh kehidupan indukan mereka.
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.
Efek dari Turnera subulata dan Cosmos sulphureus
pada Parasitasi dari Anagrus nilaparvatae

Penambahan T. subulata dan C. sulphureus bunga atau madu tidak berpengaruh


pada tingkat parasitasi A. nilaparvatae pada telur N. lugens (Gambar 1).
Jumlah A. nilaparvatae yang tidak menetas dari telur N. lugens pada
parasitoid yang tidak diberi pakan adalah 37,4% dibandingkan dengan
parasitoid yang diberi pakan bunga atau madu yang berkisar 8,19−15,67%.
Kemunculan A. nilaparvatae dengan perlakuan T. subulata dan C. sulphureus
mulai pada hari ke-11 dan berakhir hari ke-15 setelah infestasi. Namun,
munculnya parasitoid dari perlakuan kontrol dan madu terjadi satu hari
setelah mereka makan dengan bunga dan berakhir pada saat yang sama.

Puncak munculnya A. nilaparvatae terjadi hari ke-12 dan Hari ke-13 (Gambar 3).
Ini sesuai dengan penelitian Haryati (2016) melaporkan bahwa A. nilaparvatae
makan dengan madu mulai muncul di hari ke 12 dan hari ke 14.
2.
Efek dari Turnera subulata dan Cosmos sulphureus
pada keturunan Anagrus nilaparvatae

Penambahan bunga atau madu untuk induk parasitoid tidak berpengaruh pada
panjangnya umur keturunan A. nilarpavatae. Namun, secara signifikan
meningkatkan jumlah parasitoid yang dihasilkan oleh keturunan (Tabel 1).
Di sisi lain, bunga C. sulphureus dikonsumsi oleh indukan orang
tua (F0) menghasilkan keturunan (F 1) yang memiliki fekunditas
lebih tinggi daripada yang tidak diberikan pakan.

Hasil ini mengkonfirmasi bahwa sumber makanan dari bunga


(serbuk sari dan nektar), yang mengandung gula, protein, asam
amino, dan lipid, dapat meningkatkan fekunditas parasitoid,
seperti A. nilaparvatae (Baggen & Gurr, 1998; English-Loeb et
al., 2003; Vattala et al., 2006; Sivinski et al., 2011; Zhu et al.,
2013).

Setiap tanaman berbunga memiliki


variabilitas dalam ness attractive- dan
kesesuaian untuk spesies
parasitoid tertentu (Farrell, 2013).

Sumber:
https://www.prota4u.org/database/protav8.
asp?&g=pe&p=Cosmos+sulphureus+Cav.
KESIMPULAN

Kehadiran dari bunga T. subulata dan C. sulphureus meningkatkan daya


tetas A. nilaparvatae dari telur N. lugens namun tidak mempengaruhi
tingkat parasitasi.

Bunga C. sulphureus secara signifikan mampu meningkatkan


jumlah keturunan yang dihasilkan oleh A. nilaparvatae. Ini
menunjukkan bahwa jenis pakan induk parasitoid menentukan
kebugaran keturunannya.

Peningkatan penetasan dan fekunditas dari keturunan yang dihasilkan


oleh induk A. nilaparvatae yang diberi pakan bunga T. subulata dan C.
sulphureus akan berkontribusi pada peningkatan populasi parasitoid
sehingga dapat mengendalikan serangan N. lugens di pertanaman padi
dengan lebih baik.