Anda di halaman 1dari 51

MOUNTAINEERING &

CLIMBING
Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung SAGA
MOUNTAINEERING
Arti Mountaineering

Mountaineer

Mountain
Mountaineering adalah segala sesuatu yang berkegiatan di gunung, dalam arti luas
berarti suatu perjalanan yang meliputi perjalanan dari hill walking hingga pendakian
ke puncak-puncak gunung yang sulit.
Klasifikasi Mountaineering
Menurut bentuk kegiatan dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering dapat dibagi
sebagai berikut :
• Hill Walking / Fell Walking
Perjalanan ke gunung biasa melewati serangkaian hutan dan perbukitan berbekal kompas
atau peta dan survival.
• Scrambing
Pendakian pada tebing-tebing batu yang tidak begitu terjal. Kadang tangan digunakan
untuk keseimbangan dan mempermudah pergerakan. Untuk pemula biasa dipasang tali
untuk pengaman.
• Climbing
Kegiatan yang membutuhkan penguasaan teknis pendakian, peralatan teknis diperlukan
untuk pengaman. Climbing ada 2 macam, yaitu :
1. Rock climbing (pendakian pada tebing batu)
2. Snow and ice climbing (pendakian pada es dan salju).
Klasifikasi Pendakian
Klasifikasi pendakian berdasarkan tingkat kesulitan medan yang dihadapi.
• Kelas 1 berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan yang khusus.
• Kelas 2 medan bertambah sedikit sulit sehingga diperlukan perlengkapan kaki
yang memadai dan penggunaan tangan sebagai pembantu.
• Kelas 3 medan semakin curam sehingga dibutuhkan teknik pendakian tertentu.
• Kelas 4 kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk jangkar.
• Kelas 5 rute yang dilalui sulit, namun peralatan teknis pendakian masih berfungsi
sebagai alat pengaman.
• Kelas 6 tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah rongga, atau gaya geser
yang diperlukan untuk memanjat. Untuk itu pendakian sepenuhnya bergantung
pada bantuan peralatan.
Klasifikasi pendakian berdasarkan semua faktor yang mempengaruhi selama
pendakian.
• Tingkat 1 Bagian yang menimbulkan kesukaran teknis dapat ditempuh dalam
beberapa jam.
• Tingkat 2 Bagian yang menimbulkan kesukaran teknis harus ditempuh dalam
setengah hari.
• Tingkat 3 Bagian yang menimbulkan kesukaran teknis harus ditempuh dalam
sehari penuh, kesulitan yang membutuhkan bantuan untuk bisa naik tidak
termasuk Grade 1,2 dan 3.
• Tingkat 4 Membutuhkan sehari penuh, medan tersulit dibawah kelas 5-7.
• Tingkat 5 membutuhkan waktu 11/2–21/2 hari. Medan tersulit dibawah kesulitan
5-8.
• Tingkat 6 biasanya membutuhkan waktu 2 hari atau lebih dengan banyak medan
yang sulit untuk free climbing maupun artificial climbing.
Klasifikasi pendakian untuk tebing terjal menurut Yosemit Decimal System
• 5.0 s/d 5.4 ada dua tumpuan untuk tangan dan dua untuk kaki dalam tiap gerakan. Pegangan
bertambah kecil sesuai dengan pertambahan angka.
• 5.5 s/d 5.6 tumpuan kedua tangan dan kaki ada, bagi yang sudah berpengalaman , tapi belum
tentu bagi pemula.
• 5.7 gerakan kehilangan 1 pegangan tangan/pijakan kaki.
• 5.8 gerakan kehilangan 2 tumpuan dari keempat tumpuan/hanya kehilangan 1, tapi cukup
berat.
• 5.9 gerakan ini hanya mempunyai satu tumpuan yang pasti bisa untuk kaki atau tangan.
• 5.10 tidak ada tumpuan untuk kaki dan tangan.
• 5.11 setelah pemeriksaan yang menyeluruh dan disimpulkan gerakan ini tidak memungkinkan,
meskipun ada beberapa orang yang mampu melakukan. Karena tidak ada pegangan dipeluk
dengan kedua belah tangan.
• 5.12 permukaannya licin seperti gelas dan vertikal, belum pernah ada orang yang naik
meskipun sedikit orang mengaku pernah melakukannya.
• 5.13 sama dengan 5.12 tapi letaknya dibawah overhang.
Gaya Pendakian
• Himalaya Style (berkembang pada pendakian Himalaya)
Sistem pendakian biasanya dalam rute panjang sehingga dibutuhkan waktu yang
lama untuk mencapai tujuan/puncak. Biasanya terdiri dari beberapa base camp/fly
camp sehingga dengan beberapa/satu orang dari seluruh tim mencapai puncak
pendakian dianggap berhasil.
• Alpine Style
Sistem pendakian ini mempunyai tujuan bahwa semua pendaki harus sampai
dipuncak dan baru pendakian dianggap berhasil. Umumnya lebih cepat karena
para pendaki tidak perlu lagi ke base camp.
CLIMBING
Klasifikasi Climbing
Klasifikasi Climbing Berdasarkan Alat
• Free Soloing
Bagian dari free climbing dimana pendaki melakukan pendakian sendiri dan
menanggung/ melakukan resiko yang dihadapi.
• Free Climbing
Pengaman yang baik adalah diri sendiri.
• Artificial Climbing (Jalan batu/jalur batu)
Terdapat bantuan peralatan tambahan (paku tebing bor). Peralatan digunakan
karena dalam pendakian sering dihadapi medan yang kurang/ tidak memberi
tumpuan peluang gerak yang memadai.
Teknik Dasar Rock Climbing
1. Teknik Memanjat
Proses memanjat merupakan gabungan dari berbagai kegiatan dasar yaitu :
• Mengamati , mengenal medan dan menentukan lintasan yang akan dilalui baik
secara keseluruhan maupun selangkah demi selangkah.
• Memikirkan teknik yang akan digunakan secara keseluruhan maupun langkah
demi langkah.
• Mempersiapkan peralatan yang diperlukan.
• Gerakan memanjat yang sesuai dengan lintasan dan teknik yang telah
direncanakan.
• Penyimpanan energi / istirahat.
2. Gerakan Dasar Memanjat
• Berat badan sebaikanya terkonsentrasikan pada kaki
• Tidak menjangkau terlalu jauh sehingga berat badan masih terkonsentrasi pada
bidang tumpuan
• Menyilangkan kaki kadang kadang menghilangkan keseimbangan, selain sulit
dilakukan
• Gerakan yang terlalu cepat dan tergesa gesa bisa berbahaya sebab ketangkasan
dan kecepatan bergerak adalah hasil latihan yang teratur dan terarah bukan dari
ketergesaan. Sebelum berpindah pada tumpuan yang baru hendaknya selalu
diperiksa atau dicoba terlebih dahulu kuat atau tidaknya menahan beban.
Alat – alat Climbing
Dalam pendakian sering kali terdapat medan yang kurang memberikan tumpuan
dan peluang gerak yang memadai. Untuk ini diperlukan peralatan pembantu yang
berfungsi sebagai pengaman maupun untuk mendapatkan tempat bertumpu.
1. Piton
Berfungsi sebagai pasak, penggunaannya adalah diselipkan pada
celah dengan bantuan batu. Pemilihan piton yang akan dipasang
harus disesuaikan dengan bentuk celah, piton hendaknya dipasang
pada crack atau celah yang menyempit ke samping sehingga dapat
kuat terpasang.
2. Chocks
Berfungsi seperti piton,
pemasangannya disisipkan pada celah
yang menyempit kebawah. Sebelum
dipergunakan harus dicoba terlebih
dahulu kekuatannya dengan jalan
ditarik kebawah dan kedepan.
3. Tali
Fungsi utama tali dalam pendakian adalah sebagai pengaman
apabila jatuh (belaying). Tali ini dipasang sepanjang pengaman
yang telah kita pasang. Biasanya yang digunakan adalah tali
yang memiliki tingkat kelenturan atau biasa disebutdynamic
rope. Secara umun tali di bagi menjadi dua macam yaitu :
• Static adalah tali yang mempunyai daya lentur 6% – 9%,
digunakan untuk tali fixed rope yang digunakan untuk
ascending atau descending. Standart yang digunakan adalah
10,5 mm.
• Dynamic adalah tali yang mempunyai daya lentur hingga 25%,
digunakan sebagai tali utama yang menghubungkan pemanjat
dengan pengaman pada titik tertinggi.
4. Helm
Helm pendakian Terbuat dari bahan yang lebih lunak, dipakai sebagai pengaman
apabila terbentur benda keras.
5. Hardness
Semacam sabuk yang dipakai setiap pendaki, tali pendakian dipasang pada
hardness tersebut, ada yang dilengkapi dengan rak untuk menyusun chocks atau
peralatan lainnya.
6. Karabiner
Karabiner merupakan sebuah cincin yang berbentuk oval
atau seperti huruf D dan mempunyai gate yang berfungsi
hampir sama dengan peniti. Terbuat dari alumunium
alloy dan mempunyai kekuatan antara 1500 – 3500 kg.
Ada dua jenis karabiner yaitu :
• Karabiner screw gate
• Karabiner nonscrew/snap gate
7. Sling
Biasanya terbuat dari tubular webbing, terditri dari tiga tipe :
• Standard, panjang 10 feet/3,3 meter, lebar 2,5 cm, dibentuk menjadi sebuah loop
dan dihubungkan dengan simpul.
• Prusik sling, terbuat dari bahan goldline 0,5 inch atau nylon 3/8 inch
• Hero loop, sling pendek dari nylon. Panjang antara 20-27 inch.
8. Ascender
Peralatan yg digunakan untuk meniti
tali ke atas dan secara otomatis akan
mengunci bila dibebani. Jenis yang
digunakan biasanya jumar dan croll.
9. Descender
Peralatan yg digunakan untuk meniti tali kebawah serta mengamankan leader
disaat membuat jalur. Berikut adalah jenis – jenis descender.
• Figure of Eight
• Autostop
• Grigri
• Shunt
Figure of eight
Autostop
Grigri
Shunt
10. Stirrup (Tangga)
Terdapat 2 jenis yaitu :
• Sling stirrup
• Metal rang strirup, terbuat dari logam dan dihubungkan dengan tali.
Tali - temali
Pengetahuan Tali-Temali Simpul yang baik adalah :
• Mudah dibuat.
• Tepat dan cepat dikuasai.
• Kuat dan aman.
• Mudah untuk dibuka.
Simpul – simpul yang digunakan dalam pemanjatan
1. Simpul 8 Ganda
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang
dihubungkan dengan tubuh atau harnest. Toleransi 55% – 59%.
2. Simpul 8 Tunggal
Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama
yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest apabila carabiner tidak
ada Toleransi 55% – 59%.
3. Simpul Pangkal
Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed
rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang
sebesar 45%.
4. Simpul Jangkar
Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed
rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang
sebesar 45%.
5. Simpul Kambing (Bowline Knot)
Untuk pengaman utama dalam
penambatan atau pengaman
utama yang dihubungkan dengan
penambat atau harnest. Toleransi
52%.
6. Simpul Kupu – kupu (Butterfly Knot)
Untuk membuat ditengah atau diantara lintasan horizon. Bisa juga digunakan untuk
menghindari tali yang sudah friksi. Toleransi terhadap kekuatan tali 50%.
7. Simpul Nelayan (Fisherman Knot)
Untuk menyambung 2 tali yang
sama besarnya dan bersifat licin.
Toleransi 41% – 50%
8. Simpul Frusik
Simpul yang digunakan dalam teknik Frusiking SRT
9. Simpul Pita
Untuk menyambung tali yang sejenis,
yang sifatnya licin atau berbentuk pipih
(umumnya digunakan untuk
menyambung Webbing).
10. Simpul Italy
Untuk repeling jika tidak ada figure eight atau grigri. Toleransi terhadap kekuatan
tali akan berkurang 45%.
11. Simpul Tarik
Untuk mengikatkan tali pengikat
binatang pada tiang dan mudah
dilepaskan lagi juga untuk turun ke
jurang atau dari atas pohon
12. Simpul Anyam
Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam
keadaan kering.
13. Simpul Anyam Berganda
Gunanya untuk menyambung dua
utas tali yang ukurannya tidak sama
besar yang basah dan atau tidak licin.
Climbing Call
Merupakan aba-aba pendakian, digunakan agar ada kerjasama yang baik antara leader dengan belayer.
Aba-aba pendakian meliputi :

 Climb : Pemanjat menginstrusi kepada Pembilay bahwa pemanjat siap memanjat.

 Climbing : Pembilay memberitahukan kepada pemanjat bahwa dia siap mengamankan pemanjat.

 On Belay : Pemanjat menginstrusi kepada pembilay bahwa pemanjat memulai memanjat.

 Belay On : Pembilay memberitahukan kepada pemanjat bahwa dia telah mengamankan pemanjat.

 Pull : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikencangkan.

 Slack : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikendorkan.

 Rock : Pemanjat Memberitahukan kepada orang yang berada dibawah bahwa ada batuan tebing yang
jatuh.

 Top : Pemanjat Memberitahukan bahwa dia telah sampai pada puncak.

 Belay of : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa dia tidak membutuhkan lagi pengamanan.

 Of Belay : Pembilay Menginstrusi kepada pemanjat bahwa dia tidak mengamankan lagi.
Belaying
Pada prinsipnya belaying dilakukan oleh belayer dengan memperhatikan arah gaya
yang akan bekerja apabila pendaki jatuh. Anchor harus berada dibelakang belayer,
sehingga belayer tidak terangkat keatas atau tertarik kebawah pada saat pendaki
terjatuh.