Anda di halaman 1dari 17

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN

IBU TENTANG IMUNISASI DASAR


DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI
DASAR BAYI USIA 0-15 BULAN DI DESA
SAUKANG KEC. SINJAI TIMUR KAB.
SINJAI 2019
dr. A. Indira Kesuma Putri
LATAR BELAKANG
• Imunisasi merupakan pemberian kekebalan pada bayi dan anak terhadap
berbagai penyakit, sehingga bayi dan anak tumbuh dalam keadaan sehat
(hidayat, 2008). Penyakit infeksi atau menular dapat dicegah dengan
imunisasi (Achmadi, 2006).
• Cakupan imunisasi di wilayah Asia Tenggara baru mencapai 52%.
Cakupan imunisasi anak di negara-negara anggota WHO (World Health
Organization) telah mencapai 90%, diperkirakan 85% dari bayi
diseluruh dunia telah mendapat imunisasi dan masih terdapat 19,3% juta
bayi dan anak-anak belum sepenuhnya mendapatkan vaksinasi dan tetap
beresiko terkena penyakit (WHO Global Immunization Data, 2011).
• Cakupan imunisasi yang rendah di Asia Tenggara dapat disebabkan oleh
banyak faktor. Kemungkinan faktor yang berhubungan dengan
rendahnya cakupan imunisasi disebabkan oleh faktor usia, pendidikan,
penghasilan, ketersediaan waktu ibu (Reza, 2006), sedangkan menurut
Ranuh (2008) faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan imunisasi
adalah pengetahuan dan kesadaran ibu.
RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN
Rumusan masalah
•Apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar
dengan kelengkapan imunisasi dasar bayi usia 0-15 bln di Desa Saukang?

Tujuan Penelitian
• a. Untuk mengetahui data demografi ibu (usia ibu, jumlah anak, pendidikan,
pekerjaan) di Desa Saukang
• b. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar pada
bayi di desa Saukang
• c. Untuk mengetahui kelengkapan imunisasi dasar pada bayi usia ≥ 10 – 15
bulan di Desa Saukang
• d. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang
imunisasi dasar dengan kelengkapan imunisasi dasar bayi usia 0-15 bln di Desa
Saukang
MANFAAT PENELITIAN
• Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman yang nyata kepada
Penulis dalam melakukan penelitian di bidang upaya kesehatan
masyarakat terkait dengan masalah imunisasi.
• Dapat memberikan gambaran bagi Puskesmas Kampala tentang tingkat
pengetahuan ibu terhadap imunisasi dasar lengkap sehingga termotivasi
untuk memberikan pelayanan yang optimal serta sebagai informasi dasar
bagi program promosi kesehatan dan data dasar dalam pengembangan
program imunisasi Puskesmas.
IMUNISASI DASAR

Demam tifoid atau thypus abdominalis merupakan penyakit infeksi akut


pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi
(Zulkoni, 2011)
METODE PENELITIAN
Desain • Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif
korelasi dengan pendekatan cross sectional
penelitian

Tempat dan • Tempat : Desa Saukang, Kec. Sinjai Timur, Kab. Sinjai
• Waktu : Maret- April 2019
waktu penelitian

• Populasi: Populasi kasus adalah ibu yang ada di


Desa Saukang yang memiliki bayi usia 0-15
Populasi dan bulan.
• Pengambilan sampel: metode simple random sampling
Sampel (Rumus Slovin), hasilnya sampel sebanyak 62
koresponden yang terdiri dari 31 responden kasus dan 31
responden kontrol.
Metode • Data primer
pengumpulan • Instrumen : kuesioner

Pengolahan dan • Analisis univariat dan bivariat


analisis
KUESIONER
Karakteristik Responden HASIL PENELITIAN
UMUR
N %
(tahun)
5-13
14-23
24-33
34-43
44-53
>53
Total 100,0

JENIS
N %
KELAMIN
Perempuan
Laki-laki
Total 100,0
PENDIDIKAN N %

TK
SD
SMP
SMA
Perguruan
Tinggi
Tidak Sekolah
Total 100,0

PEKERJAAN N %
Siswa
Mahasiswa
Petani
IRT
Pegawai
Tidak
Total 100,0
Analisa Univariat
Kebiasaan
mencuci tangan N %
sebelum makan
Kurang baik
Baik
Total 100,0

Kebiasaan
mencuci tangan N %
setelah BAB
Kurang baik
Baik
Total 100,0
Kebiasaan
mencuci bahan
N %
makanan mentah
langsung konsumsi
Kurang baik
Baik
Total 100,0

Kebiasaan makan
N %
di luar rumah
Kurang baik
Baik
Total 100,0
Analisa Bivariat
KETERBATASAN PENELITIAN

• Keterbatasan sampel
• Keterbatasan waktu
• Adanya penilaian responden yang tidak maksimal
KESIMPULAN DAN SARAN
• Bagi masyarakat diharapkan dapat memperhatikan dan meningkatkan kesadaran tentang
personal hygiene untuk mencegah penularan penyakit demam tifoid.
• Bagi Puskesmas Kampala dapat menjadi bahan masukan untuk menambah program
kesehatan khususnya penyakit demam tifoid sehingga dapat menurunkan angka kesakitan
serta penularannya.
• Bagi Profesi Tenaga Kesehatan dapat menjadi bahan masukan pemberian konseling atau
penyuluhan sehingga dapat meningkatkan higiene perorangan dan mengurangi risiko
penularan penyakit demam tifoid
• Bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan meneliti variabel yang
berbeda misalnya tentang sanitasi lingkungan untuk lebih mengetahui faktor lain yang
berhubungan dengan kejadian demam tifoid.
THANK YOU